
"Huft capeknya" keluh Diana setelah sampai di rumah dan merebahkan badan di atas kasurnya itu. Tangannya kemudian meraba-raba masuk dalam tas di sebelahnya.
Diambilnya handpone itu dengan gampang. Kemudian dia mencari kontak nama yang akhir-akhir ini lebih sering dia hubungi. Siapa lagi kalau bukan Rendi, suaminya.
Beberapa kali dia mendial nomor itu namun tidak kunjunga ada jawaban dari seberang sana. Hingga akhirnya hanya suara operator yang terdengar mengahiri panggilan itu.
"Nyebelin banget si. Udah di suruh pulang sendiri. Sekarang enggak bisa dihubungi. Pergi kemana si dia" omelnya sembari bangkit dari kasur kemudian menyambar handuk dan segera masuk kekamar mandi. Dia harus segera mendinginkan badan sekaligus kepalanya itu. Pasalnya sejak kelas terakhirnya tadi dia sudah dibuat uring-uringan karena memperoleh kelompok survey yang semuanya termasuk tidak bisa diandalkan alias hanya numpang nama. Ditambah sebelum pulang tadi, Rendi mengiriminya pesan whatsapp bahwa dia menyuruh Diana pulang duluan karena Rendi ada urusan mendadak katanya.
Alhasil, Diana pulang sendiri dengan diantar abang ojek online yang dia pesan melalui handpone canggihnya itu.
Tiga puluh menit berlalu, Diana keluar dari kamar mandi dengan ekspresi lebih segar dari sebelumnya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Rendi masuk menenteng plastik putih berisi sesuatu. Dia melihat Diana yang baru selesai mandi, Rendi tersenyum jahil sambil berjalan mendekati istrinya itu.
"Heeeumm .. wangi" ucapnya sambil memajukan kepalanya ke arah Diana.
"Stop !! Apaan si kamu" balas Diana yang risih karena ekspresi nakal dari Rendi.
"Kamu wangi banget. Pengen meluk deh"
__ADS_1
"Enggak-enggak. Kamu bau. Mandi sana" tolak Diana menarik plastik yang dipegang Rendi, "Apa ini Mas?" lanjutnya.
"Buka aja sendiri." jawabnya melenggang masuk kamar mandi. Sedangkan Diana hanya berdecak.
"Wah Kaktus" ucapnya girang. Gadis itu memang sangat menyukai tanaman hijau berdaun duri itu. Entah apa yang dia suka, padahal tanaman itu dapat melukai. Mengingat ada banyaknya duri tajam itu.
"Terima kasih Mas !" teriaknya di depan kamar mandi namun tidak ada sahutan dari dalam dan yang terdengar hanya gemercik air.
"Aah aku letakkan di sini saja dulu. Sekarang waktunya makan malam dan aku sudab lapar" ucapnya sambil meletakkan kaktus itu diatas meja kamarnya kemudian berlalu menuju dapur.
"Makanannya masih banyak. Lebih baik aku panaskan saja. Kan sayang kalo di buang" gumamnya sendiri karena Rendi masih di dalam kamar.
Lima belas menit berlalu, Diana telah selesai menyiapkan makanan di meja dan saat itu bertepatan dengan Rendi yang juga keluar dari kamarnya.
"Eh, eng.. enggak kok. Kata siapa" jawabnya sedikit gugup.
(Flashback on)
"Makan dulu ya Ren. Aku laper. Lagian kamu juga belum makan. Kita makan sama-sama" ajak seorang perempuan cantik berambut pendek itu.
"Tapi Na.. ."
__ADS_1
"Udah ayo, enggak baik nolak rezeki. Lagian Ibu juga sudah menunggu kita di sana" ucapnya menunjuk sebuah ruang makan yang mana di sana ada seorang wanita paruh baya dan seorang anak laki-laki remaja yang mungkin berusia 15 tahunan.
"Baik lah" ucapnya pasrah.
Maafkan aku Di. Aku sedikit terlambat pulangnya. Rendi
"Nah gitu dong" balas perempuan itu menarik pergelangan tangan Rendi. Dia adalah Hana, gadis cantik berdarah sunda. Dia adalah teman baik Rendi saat kuliah dulu. Hubungan mereka sangat dekat, bahkan mereka sempat di gosipkan berpacaran. Tapi tidak tahu bagaimana hubungan mereka sekarang, mengingat sekarang ini Rendi sudah menikah.
(Flashback off)
"Yaudah sini duduk" Diana menarik tangan Rendi gemas karena dari tadi dia hanya diam saja.
Setelah mengambilkan makanan untuk Rendi, sekarang Diana mengambil makanan untuknya sendiri dan mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.
Diana sudah selesai dengan makanannya, "Tumben kamu lama makannya Mas?" tanyanya heran karena melihat nasi di piring suaminya masih ada setengah. Rendi adalah type orang yang cepat dalam menyelesaikan makanannya, makanya Diana aneh melihatnya saat ini.
"Oh ini. Aku kenyang nih." balasnya.
"Yaudah sini gausah di habisin. Nanti perut kamu sakit kalo di paksain"
"Makasih sayang" balasnya memberikan piring kepada Rendi dan Diana menerima dengan tersenyum membuat Rendi semakin bersalah.
__ADS_1
Maafin aku lagi ya sayang. Aku udah bohong sama kamu. Rendi