
Hari ini aku libur, sehingga waktu rebahan ku dirumah akan lebih lama. Ah nyaman sekali kasur ini. Rasanya aku tidak ingin beranjak dari sini. Ku lama-lamakan berada dikamar.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu kamarku, “Masuk!”, kataku. Kulihat Yogi, kakak sepupuku itu masuk ke dalam, “Didi temenin gue jalan yuk, lu libur kan hari ini?” ajaknya padaku seraya menarik selimutku.
“Males ah, gue capek. Pengen rebahan aja di kasur” tolakku menarik selimut kembali.
“Ayo lah Di, masa iya lu tega ngebiarin kakak sepupu lu ini pergi sendirian, nanti kalo gue di godain tante-tante gimana? Lagian gue di sini kan mau cari hiburan, bukannya mau jagain rumah lu gini” ucapnya wajah cemberut. Lama-lama aku tak tega melihatnya.
“Baiklah. Demi sepupuku yang ganteng ini, diriku rela meninggalkan tempat nyamanku ini” jawab ku menunjuk kasur dan segera bangun untuk bersiap.
“Makasih Diana cantik”, teriak Yogi meninggalkan kamar ku. Padahal pelan saja aku sudah mendengarnya.
Sekitar lima belas menit aku selesai dengan ritual mandi dan segala macem. Aku keluar kamar dengan setelan kaos lengan pendek bergaris dan celana jeans panjang warna hitam, tak lupa dengan sneaker dan tas slempangku. Kulihat Yogi sedang duduk santai di depan tv.
__ADS_1
“Ayo woi, jadi gak si? Malah santai disini”, kataku menggerutu karena melihat Yogi yang belum bersiap sedangkan aku tadi sajak sudah buru-buru takut ngebuat orang lain nunggu.
“Udah siap?” tanyanya melirik ke arahku. Aku mengangguk, “Oke aku gati baju dulu” katanya.
Sedang menunggu Yogi, aku duduk di teras rumah. Aku melihat Pak Rendi sedang membuang sampah, kemudian dia beralih menatap kearahku. Aku sedikit menunduk dan tersenyum ke arahnya. Dia membalas senyumku, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah. Kan aku jadi baper liatnya senyum manisnya itu, apalagi sekarang Pak Rendi terlihat sangat tampan dengan pakaian santai seperti itu.
Saat sedang asik mengingat senyum Mas Dosen ganteng, Yogi datang menghancurkan khayalanku. “Yuk” ajaknya sambil menggandeng tanganku. Aku terkejut, “Aih mengagetkan saja” jawabku sedikit kesal. Yogi keluar dengan memakai jaket army dan celana jeans hitam panjang sepertiku, ah orang lain yang melihat pasti akan mengira bahwa kami ini pacaran.
“Salah siapa malah ngelamun” belanya. Aku diam saja dan mengikuti. Entah aku akan dibawa kemana, aku tidak tahu.
Sekita tiga puluh menit, kami sampai di salah satu Mall di Jakarta. “Ngapain kesini?” tanyaku heran. Pasalnya, si Yogi ini tidak suka pergi ke Mall, biasanya dia lebih suka nongkrong di cafe.
“Mau beli baju, gue cuma bawa baju dikit kemarin. Trus pengen jalan-jalan juga” jawabnya setelah menutup pintu mobil. Aku hanya ber-Oh ria saja.
“Bantuin gue pilih baju ya, nanti gue beliin buat lu juga deh”. Mataku berbinar, “Baik baget sepupuku ini. Oke boss” jawabku cepat.
__ADS_1
Yogi sudah mendapatkan apa yang dicari, seperti katanya tadi. “Sekarang giliranku, kamu kan yang bayar?” kataku padanya.
“Iya adik sepupuku, terserah kamu mau apa. Aku yang traktir. Tapi inget, jangan yang mahal”. “Siap boss” jawabku.
Saat asik melihat-lihat, tiba-tiba mataku tertuju pada dress cantik warna putih di depan sana yang keliatannya si agak mahal. Aku menggandeng tangan Yogi dan berlari kesana. “Aku mau ini”, tunjukku pada dress tersebut.
Yogi meliriknya, “Yaudah ambil gih”. Aku senang, “Tapi bayarnya bagi dua ya” lanjutnya. Aku sedikit terkejut, kan aku cuma bawa uang pas.
“Kamu itu beneran baik apa cuma iseng sih?” tanyaku kesal. “Hahahahaa.. becanda kali, ah sensi amat lu. Gitu aja panik” jawabnya. Aku hanya mendengus, kemudian berjalan ke arah mbak-mbak pelayan untuk membungkus dress tersebut. Aku tidak peduli dengan Yogi yang masih tertawa disana.
Setelah selesai urusan dress, yang tentu saja di bayar tunai oleh Mas Yogi, kakak sepupuku yang ganteng itu. Kami berjalan untuk mencari tempat istirahat, aku berjalan dengan bergelayut pada lengan Yogi. Karena ini sudah menjadi kebiasaan ku saat jalan bersamanya. Banyak remaja putri yang curi-curi pandang ke arah Yogi, aku tersenyum senang saat melihatnya kesal karena risih denga tatapan remaja-remaja itu.
Ditengah langkah, aku bertemu dengan seseorang yang tadi pagi sudah membuat ku baper karena senyumnya. Iya, dia adalah Pak Rendi. Sepertinya dia sedang menemani ibunya, terbukti dengan adanya perempuan paruh baya yag masih cantik di sampingnya. Saat kami sudah dekat, aku berniat menyapa. Namun belum sempat aku berkata, dia sudah memalingkan wajahnya da pura-pura tidak melihatku.
“Ada apa dengannya?” pikirku dalam batin. “Ah terserahlah, mungkin dia memang tidak melihatku” lanjutku akhirnya.
__ADS_1