The Way I Miss You(TWIMY)

The Way I Miss You(TWIMY)
TWIMY KE 29


__ADS_3

"Kamu masih marah?" aku bertanya padanya yang sedang asik bermain ponsel selepas makan tadi. Dia Diana Farasdiswary, perempuan kecil yang sejak kemarin telah menjadi istriku.


Setelah pulang dari kampus tadi dia mendiamkan bahkan mengabaikanku. Nasib menikah dengan mahasiswa ya begini, harus lebih bersabar. Padahal sebelumnya aku tidaj pernah mengalah pada siapapun, mengingat diriku adalah anak tunggal. Namun bersama Diana hidupku berubah.


Aku mendekat dan duduk bersandar di pundaknya.


"Apasih Mas. Berat tauk" tolaknya. Aku tahu dia sedang kesal padaku karena aku tidak memberitahunya bahwa hari ini kampus libur. Dia yang sudah jauh-jauh sampai kampus harus balik lagi karena tidak ada kegiatan perkuliahan hari ini.


Melihatnya merajuk seperti ini entah bagaimana bisa terasa menyenangkan. Dia semakin terlihat lucu.


"Maafin dong sayang" rayuku padanya. Berharap dia akan luluh padaku. Namun sepertinya usaha ku sia-sia karena dia masih tetap fokus pada ponselnya.


"Yang"


"Sayang"


"Diana ku sayang"


Berulang kali aku memanggilnya namun dia tidak merespon atau bahkan menyahut sekalipun. Lama-lama aku kesal sendiri dibuatnya.


Cup


Dia menegang saat aku mencium pipinya kilat. Dia akhirnya menatapku, "Kamu apa-apaan sih" protesnya.


Aku terkekeh, "Mau lagi enggak?" tawarku padanya karena ku lihat kedua pipinya yang merona setelah aku menciumnya barusan.


"Enggak" elaknya berusaha menutupi kegugupannya. Padahal sangat kentara sekali kalau dia sekarang sedang duduk. Bukan hanya dia, akupun merasakan gugup sama sepertinya. Jantungku juga berdebar lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


"Maafin aku atau aku cium kamu lagi" dia melotot menatap ku.


"Minta maaf macam apa mengancam seperti itu" balasnya.


"Ya minta maaf macam ini lah" jawabku sambil mengecup pipinya sekali lagi.


"Cukup !" teriaknya makin kesal.


"Berani cium lagi aku bilangin ayah ya" ancamnya. Aku hanya terkekeh mendengarnya. Bukankah kami sudah menikah sekarang, ayah dan ibu pasti akan tertawa jika dia mengadukan kelakuanku barusan.


"Coba aja. Siapa takut" tantangku.


"Kok kamu ngeselin sih Mas"


"Gapapa. Yang penting aku ganteng"


Mungkin tawaku terlalu kencang sampai-sampai ibu menghampiri ke depan.


"Yaammpun...Dasar pengantin baru seru banget kayaknya. Sampai menarik perhatian ibu loh." kata mertuaku itu.


"Ibu kepo ya" jawabku.


"Apaan sih Bu. Enggak ada yang seru kok" jawab istriku itu. Aku langsung beralih menatapnya seolah berkata kamu inibkenapa sih.


"Dia sedang merajuk Bu" bisikku pada Ibu Mertuaku itu, beliau mengangguk.


"Diana kamu jangan seperti itu dong. Kamu sudah menikah. Belajarlah bersikap dewasa. Jangan sedikit-sedikit merajuk. Kamu likir kamu masih anak kecil?"

__ADS_1


Eeh kenapa ibu jadi memarahi Diana begitu. Aku jadi tidak tega melihatnya.


"Bukan salah Diana kok Bu. Tadi Rendi yang buat dia kesal. Wajar kok Bu dia marah begini sama Rendi"


"Apanya yang wajar? Ibu perhatikan dari tadu pagi kalian bertengkar terus. Kalian baru nikah kemarin lho"


Waduh ibu jadi marah-marah begini kan.


"Ibu, bukannya bertengkar kecil dalam sebuah rumah tangga itu wajar. Itu yang jadi bumbu supaya rumah tangga lebih harmonis kan. Bukannya ibu sendiri yang bilang"


Kali ini istriku yang menjawab. Wah aku tidak menyangka dia memiliki pemikiran seperti itu. Aku salut padanya. Ku lirik dia dan tersenyum seolah berkata kamu keren. Namun suasana menjadi canggung antara kami dan ibu.


"Ada apa ini. Kok sepi begini?"


"Iya Yah. Lagi dengerin ibu tausiyah soalnya" jawab istriku lirih namun aku bisa mendengarnya. Aku mencubit tangannya kemudian dia mengaduh, "Kamu gak boleh begitu" ucapku padanya.


"Ada apa to Bu. Sudah ayo kita kebelakang, buatkan Ayah kopi saja" ajak Ayah kepada Ibu. Kemudian Ibu menurut dan pergi ke dapur.


"Kamu sih"


"Ya kamu yang mulai"


"Kamu duluan" dia tetap saja keras kepala. "Iya iya aku yang salah. Maafin aku ya sayangku" ucapku.


Kemudian kami berbincang dan bercanda setelah itu. Seakan kekesalan Diana tadi sirna begitu saja.


"Kamu mau kemana?" tanyaku saat melihatnya bangkit.

__ADS_1


"Capek. Mau baca buku saja di kamar sambil tiduran. Ikut?" aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang seperti anak kucing yang patuh pada pemiliknya.


__ADS_2