
Cerita ini berlatar dari seorang pria paruh baya yg sudah memiliki keluarga.
Pria ini memiliki profesi sebagai seorang pelukis. Ia sudah menjadi
pelukis sejak lama. Di desanya ia juga sudah dikenal sebagai pelukis
ternama.
Belakangan ini ia juga sudah mulai merambah ke dunia online agar lukisannya bisa
dilihat oleh kalangan luas. Tanpa ia sangka, ternyata akun milikinya
banyak disukai oleh orang. Dan dari sanalah ia mulai mendapat banyak
pesanan dari online.
Salah satunya adalah orang yg memesan lukisan kepadanya dengan objek yang
acak. Seperti diminta untuk melukis gorden, kasur, lemari kayu dan juga
seorang wajah gadis kecil yang tanpa ekspresi. Baginya pribadi, pesanan
klien yang satu ini dirasa cukup aneh. Namun ia tidak peduli.
Ia pun mulai melukis berdasarkan pesanan klien tersebut. Sesuai
perjanjian, batas waktu hanya seminggu untuk menyelesaikan ke empat
lukisan tersebut.
Bagi dirinya pribadi waktu satu Minggu sudah cukup untuk menyelesaikan 4
lukisan. Karena dirinya adalah tipikel orang yg gila kerja dan
perfeksionis, sehingga ia akan sangat fokus saat melukis.
Lalu hari demi hari ia lewati, hingga 3 lukisan ia berhasil selesaikan dan
menyisakan satu lukisan terakhir, yaitu raut wajah seorang anak.
Singkat waktu, lukisan terakhir tersebut hampir selesai dan hanya perlu
sentuhan akhir. Namun saat ingin melakukan sentuhan akhir, pria tersebut
ingin ke kamar mandi. Saat ia sudah selesai dan ingin kembali
melanjutkan lukisan, ia melihat lukisan terakhir tersebut sudah banyak
bercak cat. Dan saat ia memperhatikan lebih jauh, terdapat sebuah bercak
tapak tangan anak kecil. Sepertinya ia menyadari siapa pelakunya.
Tak selang berapa lama, ia mendengar suara langkah berlari dari arah luar
menuju kamarnya dan istrinya. Tanpa pikir panjang ia menyadari itu
adalah anaknya dan langsung menghampiri ke kamar tersebut.
Saat ia sudah berada di depan pintu, ia melihat siluet anaknya. Yaitu gendis
__ADS_1
anak satu-satunya yg sudah berusia 7 tahun dari balik gorden.
Masih berada di depan pintu ia bertanya kepada gendis anaknya dengan intonasi
yang terdengar seperti marah. "Gendis, kamu nyoret-nyoret lukisan ayah?
Itu kan dikit lagi selesai. Dasar kurang ajar."
Gendis anaknya pun menjawab, "Ngga kok yah."
Namun sang ayah kaget, karena sumber suara anaknya justru berasal dari kamar sebelah bukan dari arah gorden.
Seketika sang ayah memalingkan wajah ke kamar sebelah dan mendapati gendis anaknya sedang merengkut di atas kasur.
Sang ayah langsung menghampiri gendis dengan emosi. Namun setelah melihat
raut wajah anaknya yg sedang merengkut ketakutan, Ia pun melupakan
sejenak tentang lukisan yg rusak. Dan langsung bertanya, "Kamu kenapa
gendis? Kok kayak ketakutan gitu? Kamu kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, gendis justru meminta tolong kepada
ayahnya untuk mengecek lemari yg menutup sendiri, sembari berkata, "Aku
ngeliat setan di dalam lemari itu."
Sang ayah pun menuruti permintaan gendis, sembari berkata, "Nak, setan tuh
ngga ada. Nih liat ayah buka lemarinya nih." Sang ayah pun membuka
Seketika ayah sangat terkejut saat melihat sosok yang berada di dalam lemari tsb.
"Gendis" ternyata sosok yg di dalam lemari tersebut adalah anaknya, si
gendis.
Sang ayah seketika langsung memalingkan wajah ke arah kasur, ia merasa heran
karena sosok gendis yg sebelumnya berada di atas kasur menghilang.
Sang ayah menoleh kembali ke arah gendis yg berada di dalam lemari. Ia
melihat anaknya sedang merengkutkan tubuhnya di dalam sana. Lalu sang
ayah bertanya, "Kamu ngapain di dalam lemari?" Dengan intonasi dan raut
wajah yg kebingungan.
Gendis pun menjabaw, "Ssssstt. Aku lagi main petak umpet. Tutup lagi yah pintunya, biar aku gak ketauan."
Mendengar ucapan gendis, sang ayah kembali bertanya, "Kamu main sama siapa?"
"Itu loh, sama temen aku. Tuh lagi ngumpet di kolong kasur." Jawab gendis dengan ceria.
Mendengar jawaban gendis, sang ayah pun mendekati kasur sembari merunduk
perlahan. Kemudian... ia melihat gendis sedang merengkut ketakutan di
__ADS_1
bawah sana. "Ayah aku takut. Makanya aku masuk kolong kasur." Ucap
gendis sembari menangis.
Tanpa pikir panjang sang ayah langsung menarik gendis dari bawah kasur. Lalu
membawanya duduk di atas kasur. Mereka berdua pun duduk bersebelahan.
Sang ayah mencoba menenangkan anaknya yg begitu terlihat ketakutan dan berkata, "Udh kamu tenang aja. Ada ayah di sini."
Di saat yg bersamaan hp milik ayah berdering. Ia pun mengeluarkannya dari
saku celana lalu menjawab panggilan. Ternyata itu adalah panggilan dari
istrinya.
"Cat minyak yg kamu minta gak ada yah. Gimana?" Ucap istrinya dari ujung telepon.
Siang tadi, saat ayah sedang melukis lukisan yg terakhir, ia menitip barang
kepada istrinya yg akan keluar untuk membeli kebutuhan pokok. Namun
sesuai perkataan istrinya, barang yg ia pesan tidak ada.
Istrinya pun melanjutkan, "Oh iya yah. Si gendis nangis nih mau dibeliin boneka.
Tapi harganya 120 ribu . Boleh gak yah kira-kira?" Tanya sang istri.
Sang ayah mengheran, "Gendis? Gendis di samping aku kok ini."
Istrinya membantah, "Ngaco kamu ah. Gendis tuh tadi lagi main sama temennya di
luar. Tapi ngeliat aku mau pergi, dia mau ikut. Jadi yaudah aku ajak.
Nah ini dia lagi nangis mau boneka. Boleh gak dibeliin?"
Dan benar, di ujung telepon tsb sang ayah pun mendengar suara gendis sedang menangis.
Tanpa menjawab pertanyaan sang istri, ayah hanya bisa diam terpaku. Ia pun mematikan telepon.
Dan situasi terasa mencekam saat sang ayah menoleh ke arah gendis yg berada di sampingnya.
Gendis yg duduk di sampingnya pun ikut menoleh ke arahnya. Raut wajahnya tanpa
ekspresi, sama persis seperti apa yang dilukis di lukisan terakhir yg
ia buat.
Saat mereka saling bertatapan, gendis pun sedikit tersenyum kepada sang ayah. Dan gendis berkata, "Ayah takut ya sama aku?
END
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/watch?v=DhR97o97rKs&t=161s
__ADS_1