Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 10)


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi. Abil,


Estu dan Hagia masih tertidur pulas. Sedangkan Dian baru saja


terbangun, dan sedang menuju kamar mandi yang berada di luar. Setelah


buang air kecil serta membasuh wajah, Dian pun berderap keluar dari


sana.


Tapi ketika Dian baru saja keluar dari


kamar mandi dan hendak melangkah menuju rumah singgah kembali, tetiba


saja ada suara seorang laki-laki menyapanya dengan berkata, “Hari ini


sepertinya akan menjadi hari yang indah.” Ucap laki-laki yang sedang


berdiri di belakang Dian. Yang mana ketika Dian menoleh, ternyata orang


itu adalah sang kakek. Seorang kakek tua yang sosoknya Dian takuti,


karena senyumnya yang mengerikan. Lalu sang kakek pun melanjutkan, “Cah


ayu, bisa minta tolong sebentar ndak?”


Dian yang memiliki sifat baik dan tidak enakan kepada orang lain pun menjadi


bimbang atas permintaan sang kakek barusan. Di satu sisi, hati kecil


Dian merasa enggan berurusan dengan kakek ini lagi. Tapi di sisi lain,


ia merasa tak mampu menolak permintaannya pula. Karena merasa ragu, Dian


pun bertanya, “Ba-bantuin apa ya mbah?” ucapnya dengan maksud mencari


tahu lebih dulu apa yang sedang diinginkan oleh sang kakek. Jika nanti


harus masuk ke rumahnya lagi, Dian telah berikrar akan menolak


permintaannya.


Lalu dengan nada yang mengayun, sang kakek pun meminta, “Tolongin mbah. Tolong sapu halaman rumah mbah


biar bersih. Boleh ndak?”


Ternyata sang kakek hanya meminta Dian untuk menyapu halaman rumahnya saja. Merasa sanggup


melakukannya, akhirnya Dian menerima tawaran dari sang kakek. Mereka


berdua pun mulai berjalan menuju kediaman sang kakek yang jaraknya agak


lumayan, jika merunut dari rumah singgah dimana Dian tinggal.


Saat ini, Dian telah sampai di rumah sang kakek. Mereka berdua kini berada


di halaman depan rumah. Tanpa ada obrolan yang keluar, Dian mengambil


sapu lidi di sana lalu mulai menyapu-nyapu.


Memang benar, halaman rumah sang kakek terlihat berantakan saat ini. Dedaunan


gugur nan basah bekas hujan kemarin, mengotori halaman rumahnya di


sejauh mata memandang. Dan dengan cekatan, Dian mulai menyapu dedaunan


itu lalu mengumpulkannya di satu sisi.


Di sela-sela saat Dian menyapu, sang kakek yang sedang berdiri bungkuk


mulai membuka suara. Seakan sedang mengamati Dian, sang kakek pun mulai


bercerita dengan bertutur, “Cah ayu, desa ini itu seharusnya tidak bisa


dilihat oleh orang luar seperti kalian sama sekali.” Kalimat pembuka


sang kakek barusan akhirnya memecah keheningan diantara keduanya.


Lalu Dian pun menjawab, “Iya mbah. Aku pertama kali nyari desa ini juga gak


ketemu-ketemu. Kata Pak Tomo, desa ini lokasinya terlalu di pelosok.


Jadi orang-orang luar pada gak tahu.”


Mendengar jawaban Dian barusan, dengan cepat sang kakek langsung menimpal, “Cah


ayu, kamu jangan percaya sama Pak Adanu, Pak Tomo sama Pak Bimo. Mereka


itu pembohong. Kalau kamu percaya sama mereka, kamu nanti akan celaka.”


Sontak, perkataan sang kakek barusan membuat Dian langsung berhenti menyapu dan


bertanya-tanya dalam hati. Dian memang berpikir ada yang sedang di


sembunyikan dari desa kepada para mahasiswa termasuk dirinya, tapi Dian


sendiri tidak tahu itu apa. Jadi mendengar perkataan sang kakek barusan,


Dian berpikir ini adalah kesempatannya untuk bertanya lebih jauh. Lalu


Dian pun kembali bertanya, “Maksudnya… pembohong apa mbah?”


Sang kakek pun menjelaskan, “Mereka ingin menyembunyikan semua rahasia yang


ada di desa kepada kalian. Supaya kalian menurut. Salah satunya ketika


kalian dibohongi dengan berita, kalau wanita yang dulu mengamuk membawa


golok sebagai orang gila. Wanita itu ndak gila. Wanita itu memang ingin


membunuh bayi tetangganya yang masih di dalam kandungan. Karena jika ada


yang lahir, maka ada yang mati. Wanita itu takut kalau suaminya yang


terkena ‘Sukma Purnama’ akan mati.”


Masih tidak begitu mengerti apa maksud perkataan sang kakek barusan, Dian kembali menimpal, “Ma-maksudnya… apa ya mbah?”


Lalu sang kakek menegaskan, “Warga di desa ini tidak pernah bertambah


satupun selama puluhan tahun. Jumlahnya selalu sama. Jika ada yang


lahir, maka akan ada yang mati. Jika ada bayi yang lahir, maka yang


terkena ‘Sukma Purnama’ pasti akan ada yang mati.” Tutur sang kakek


dengan sorot mata yang dalam. Lalu sang kakek pun kembali melanjutkan,


“Rasa takut kehilangan itu juga, yang akhirnya membuat beberapa warga


mulai memotong jari mereka lalu menggantungnya di depan pintu rumah.


Dengan maksud, untuk menangkal agar anggota keluarga yang sedang

__ADS_1


mengalami ‘Sukma Purnama’ tidak mati saat ada bayi yang lahir. Tapi


ternyata itu cuma tahayul. Karena siapapun yang terkena ‘Sukma Purnama’


tidak bisa sembuh, dan pasti akan mati. Tapi baru kemarin mbah melihat,


banyak orang mati, tapi tidak ada satupun yang lahir. Pasti, kutukan di


desa ini semakin jahat.”


Kini Dian mengernyitkan dahinya kala mendengar ucapan sang kakek barusan. Lagi-lagi, sang kakek


mengucapkan kata ‘Kutukan’ kepadanya. Penasaran dengan maksud ‘Kutukan’


tersebut, Dian kembali bertanya, “Dari kemarin, mbah selalu bilang


kutukan. Maksudnya kutukan itu apa ya mbah? Apa delapan belas warga yang


kemarin meninggal juga karena kutukan mbah?”


Dengan sorot mata yang lebih dalam, sang kakek mulai bercerita, “Kamu benar


cah ayu. Delapan belas warga desa kemarin, semuanya sedang mengalami


‘Sukma Purnama’. Lalu mereka mati perlahan karena kutukan yang


menyelimuti desa ini. Setelah ada warga desa yang mati, kami yang masih


hidup, harus segera menguburkan mayatnya. Karena jika ndak, kulit sang


jenazah akan mulai meleleh, lalu bau busuknya akan tercium sampai ke


seluruh desa. Dan semua kesialan yang menimpa desa ini, adalah ulah kami


sendiri, yang telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Yang


akhirnya membuat desa ini dikutuk. Dan sekarang, kami harus menanggung


semua kesalahan. Sejujurnya, kami ingin pergi dari desa. Tapi kutukan


itu ternyata sudah memenjarakan kami semua di sini. Membuat kami semua


akhirnya tidak bisa keluar desa.”


Dian pun mulai mengheran atas apa yang diucapkan oleh sang kakek barusan. Kalau benar


demikian, lalu mengapa Pak Tomo serta 2 warga yang lain dulu bisa keluar


desa mencari mereka? Tanpa berlama-lama, Dian pun menanyakan hal itu


dengan berucap, “Tapi dulu, Pak Tomo sama warga desa yang lain kok, bisa


keluar desa mbah? Pas ngejemput kami yang nyasar.”


Sang kakek pun menjawab, “Warga yang keluar desa cuma punya waktu satu


minggu berada di luar. Lebih dari itu, kulitnya akan mulai meleleh.


Tidak bisa disembuhkan. Satu-satunya jalan untuk sembuh adalah


kematian.” Benar, apa yang diucapkan sang kakek barusan adalah benar.


Karena 21 tahun yang lalu, dengan mata kepalanya sendiri, sang kakek


melihat banyak warga yang berbondong-bondong kabur dari desa. Tapi


seminggu kemudian, warga yang kabur itu banyak yang kembali lagi dengan


kondisi mengerikan. Yaitu, kulit mereka semua yang meleleh dan


warga pelarian kala itu. Dan sejak kejadian tersebut, tidak ada lagi


satupun warga yang berani kabur meninggalkan desa.


Lalu sang kakek kembali menlanjutkan kalimatnya dengan berkata, “Jika kami


kabur dari sini, kulit kami akan meleleh, kesakitan lalu mati. Tapi


jiika kami tetap tinggal di sini, kami semua akan mati kelaparan, karena


tanah desa ini yang telah dibinasakan kesuburannya oleh kutukan. Tolong


bantu kami cah ayu. Kami tidak bisa kabur. Satu-satunya jalan kami


untuk bertahan hidup adalah bertahan di sini. Jadi tolong bantu kami


untuk menyuburkan tanah desa ini lagi.” mohon sang kakek kepada Dian


sembari menggamit pergelangan tangannya.


Dian pun mencoba menenangkan sang kakek yang ekspresinya seakan histeris itu


dengan berkata, “Iya mbah. Ini kami lagi mencoba. Doakan kami semoga


berhasil.” Ucap Dian sembari menggenggam balik tangan sang kakek lalu


mengusapnya pelan.


Dengan wajah sedih, sang kakek kembali berkata, “Mbah sudah hidup selama 70 tahun. Pertama kali


datang, tanah ini dulu sangat subur. Lalu 23 tahun yang lalu, kami


melakukan kesalahan, hingga tanah ini menjadi tandus. Setahun kemudian,


mbah terkena ‘Sukma Purnama’. Harusnya siapapun yang terkena ‘Sukma


Purnama’ tidak akan pernah sembuh. Seharusnya mbah sudah mati. Tapi,


keajaiban muncul kepada mbah. Setelah 17 tahun mengalami ‘Sukma Purnama’


mbah kembali bangun dari tidur panjang yang mengerikan.” Ucap sang


kakek barusan dengan jujur. Karena ketika ia mengalami ‘Sukma Purnama’,


sang kakek merasa sedang disiksa dalam tidur panjangnya. Kemudian sang


kakek pun kembali melanjutkan, “Saat mbah bangun, mbah mendapat wahyu.


Kepada seluruh warga desa, mbah menyuruh mereka melakukan rencana ‘Getih


Mawar’. Yaitu, membawa orang dari luar desa, lalu menjadikannya sebagai


persembahan. ‘Getih Mawar’ adalah ritual untuk menekan kutukan yang


membelenggu kami.”


Mendengar penjelasan sang kakek barusan, sontak Dian langsung mengerjap. Dian tahu benar perihal


‘Getih Mawar’ yang sedang dibicarakan oleh sang kakek, karena saat ia


mau masuk ke dalam desa, Dian dan teman-temannya yang lain diharuskan


melakukan ‘Getih Mawar’ dengan menyayat jari lalu menumpahkan darah

__ADS_1


mereka di atas bunga mawar. Tapi dulu, Pak Tomo mengatakan bahwa ‘Getih


Mawar’ adalah sebuah adat, bukan ritual. Jadi dengan perasaan yang


bingung, disertai detak jantung yang mulai berdebar, Dian mencoba


melempar pertanyaan lagi kepada sang kakek dengan berkata, “Jadi…


ge-getih mawar itu apa mbah? Kok tadi mbah bilang, ritual untuk…


persembahan?” tanya Dian dengan intonasi gelisah. Tubuhnya pun kini


seakan menggigil saat mengatakan kalimat barusan.


Lalu dengan tenang, sang kakek pun menjawab, “Sebenarnya, rahasia yang ada


di desa kami, ndak boleh disebarkan kepada orang luar. Getih mawar pun


adalah ritual yang seharusnya ndak boleh mbah katakan kepada orang luar


seperti kalian.”


Bukannya menenangkan, jawaban dari sang kakek barusan malah menambah kecemasan di dalam benak Dian.


Dan sekali lagi, Dian pun kembali bertanya, “Te-terus… ke-kenapa mbah…


ceritain itu semua… ke aku?” ucapnya dengan detak jantung yang semakin


berdebar.


Lalu sang kakek pun menjawab, “Karena kalian sudah ditandai dengan getih mawar. Dan sebentar lagi, kalian


semua akan kami tumbalkan.”


Mendengar ucapan sang kakek barusan, tetiba saja Dian merasa lemas di sekujur tubuh.


Jawaban sang kakek barusan membuatnya seperti tersambar petir. Detak


jantung Dian seakan berhenti karenanya. Bukan hanya bulu kuduknya yang


bergidik, jawaban sang kakek juga membuat Dian mulai berlari menjauhinya


dengan langkah yang terhuyung-huyung.


Dan kala Dian mulai berlari membelakangi sang kakek, sang kakek pun berkata,


“Terima kasih sudah datang ke desa kami. Dengan menumbalkan kalian,


pasti desa kami bisa sejahtera lagi.” Tutupnya mengakhiri kalimat


sembari berseringai mengerikan.


Rasa takut yang saat ini menyelimuti Dian sudah sampai di ubun-ubun. Dengan raut wajah


yang begitu ketakutan hingga membuatnya ingin menangis, Dian terus


berlari menuju rumah singgah. Dengan tekad yang kuat, Dian akan


meyakinkan Abil, Estu dan Hagia untuk kabur dari desa itu dengan segera.


Namun sesampainya Dian di rumah singgah, Dian tidak dapat menemukan


keberadaan Abil, Estu dan Hagia. Dian terlambat. Ketiga temannya kini


telah menghilang. Mencoba menyembunyikan ketakutannya dari warga, Dian


pun perlahan mulai berjalan menjauhi desa. Ia berniat ingin melarikan


diri sendiri, lalu memberitahukan kejadian ini kepada polisi atau


meminta tolong kepada siapapun saat ia sudah berada di luar nanti.


Tapi tatkala Dian sudah berhasil keluar dari pemukiman, tetiba saja Pak Tomo


muncul dari balik pohon lalu berkata, “Mbak Dian mau kemana?” ucapnya


sembari tersenyum hangat.


Dipergoki Pak Tomo, Dian pun tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya dengan baik. Namun


berniat mengelabuhi Pak Tomo, Dian pun bertutur, “Sa-sa-saya… la-lagi


nyari… temen-temen saya pak.” Ucap Dian dengan penuh kebohongan.


Lalu Pak Tomo pun menyanggah, “Oh, kalau teman-teman mbak saat ini sedang


berkumpul di rumah Pak Bimo. Mereka lagi sarapan. Mari mbak, kita ke


sana. Mbak pasti sudah lapar juga kan?” ucap Pak Tomo pula dengan penuh


kebohongan.


Dian pun kalau Pak Tomo saat ini sedang berbohong. Karena saat Dian melewati rumah Pak Bimo tadi, ia


melihat ruang tamu rumah itu kosong. Tempat dimana biasanya mereka


sarapan pagi, saat ini terlihat kosong. Tahu dengan apa yang sudah


direncakanan oleh Pak Tomo sekaligus warga desa, Dian berpura-pura


mengikuti perintah Pak Tomo untuk kembali. Tapi tatkala Pak Tomo


berjalan di depannya, Dian yang mengekor di belakang mulai memelankan


langkah. Lalu dengan ancang-ancang yang kuat, tetiba saja Dian berbalik


arah dan mulai berlari cepat. Pak Tomo yang menyadari itu pun langsung


berlari mengejar Dian tanpa ampun.


Hingga akhirnya, Dian pun tertangkap.


Dengan kekuatan penuh, Pak Tomo mencoba membekuk Dian yang saat ini sedang


meronta, menangis dan berteriak meminta ampunan kepadanya. Tapi tanpa


belas kasih, Pak Tomo terus membekuk sembari mencekik Dian, lalu


membawanya menuju rumah sang sepuh.


Dan dengan tertangkapnya Dian, maka Abil, Estu, Hagia dan Dian sendiri… kini telah


mendekati ajal mereka. Sedari awal, KKN di desa ini sama saja menjemput


kematian mereka sendiri. Dan inilah waktunya. Waktu yang akan membawa


para mahasiswa itu… menuju kematian.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2