
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi. Abil,
Estu dan Hagia masih tertidur pulas. Sedangkan Dian baru saja
terbangun, dan sedang menuju kamar mandi yang berada di luar. Setelah
buang air kecil serta membasuh wajah, Dian pun berderap keluar dari
sana.
Tapi ketika Dian baru saja keluar dari
kamar mandi dan hendak melangkah menuju rumah singgah kembali, tetiba
saja ada suara seorang laki-laki menyapanya dengan berkata, “Hari ini
sepertinya akan menjadi hari yang indah.” Ucap laki-laki yang sedang
berdiri di belakang Dian. Yang mana ketika Dian menoleh, ternyata orang
itu adalah sang kakek. Seorang kakek tua yang sosoknya Dian takuti,
karena senyumnya yang mengerikan. Lalu sang kakek pun melanjutkan, “Cah
ayu, bisa minta tolong sebentar ndak?”
Dian yang memiliki sifat baik dan tidak enakan kepada orang lain pun menjadi
bimbang atas permintaan sang kakek barusan. Di satu sisi, hati kecil
Dian merasa enggan berurusan dengan kakek ini lagi. Tapi di sisi lain,
ia merasa tak mampu menolak permintaannya pula. Karena merasa ragu, Dian
pun bertanya, “Ba-bantuin apa ya mbah?” ucapnya dengan maksud mencari
tahu lebih dulu apa yang sedang diinginkan oleh sang kakek. Jika nanti
harus masuk ke rumahnya lagi, Dian telah berikrar akan menolak
permintaannya.
Lalu dengan nada yang mengayun, sang kakek pun meminta, “Tolongin mbah. Tolong sapu halaman rumah mbah
biar bersih. Boleh ndak?”
Ternyata sang kakek hanya meminta Dian untuk menyapu halaman rumahnya saja. Merasa sanggup
melakukannya, akhirnya Dian menerima tawaran dari sang kakek. Mereka
berdua pun mulai berjalan menuju kediaman sang kakek yang jaraknya agak
lumayan, jika merunut dari rumah singgah dimana Dian tinggal.
Saat ini, Dian telah sampai di rumah sang kakek. Mereka berdua kini berada
di halaman depan rumah. Tanpa ada obrolan yang keluar, Dian mengambil
sapu lidi di sana lalu mulai menyapu-nyapu.
Memang benar, halaman rumah sang kakek terlihat berantakan saat ini. Dedaunan
gugur nan basah bekas hujan kemarin, mengotori halaman rumahnya di
sejauh mata memandang. Dan dengan cekatan, Dian mulai menyapu dedaunan
itu lalu mengumpulkannya di satu sisi.
Di sela-sela saat Dian menyapu, sang kakek yang sedang berdiri bungkuk
mulai membuka suara. Seakan sedang mengamati Dian, sang kakek pun mulai
bercerita dengan bertutur, “Cah ayu, desa ini itu seharusnya tidak bisa
dilihat oleh orang luar seperti kalian sama sekali.” Kalimat pembuka
sang kakek barusan akhirnya memecah keheningan diantara keduanya.
Lalu Dian pun menjawab, “Iya mbah. Aku pertama kali nyari desa ini juga gak
ketemu-ketemu. Kata Pak Tomo, desa ini lokasinya terlalu di pelosok.
Jadi orang-orang luar pada gak tahu.”
Mendengar jawaban Dian barusan, dengan cepat sang kakek langsung menimpal, “Cah
ayu, kamu jangan percaya sama Pak Adanu, Pak Tomo sama Pak Bimo. Mereka
itu pembohong. Kalau kamu percaya sama mereka, kamu nanti akan celaka.”
Sontak, perkataan sang kakek barusan membuat Dian langsung berhenti menyapu dan
bertanya-tanya dalam hati. Dian memang berpikir ada yang sedang di
sembunyikan dari desa kepada para mahasiswa termasuk dirinya, tapi Dian
sendiri tidak tahu itu apa. Jadi mendengar perkataan sang kakek barusan,
Dian berpikir ini adalah kesempatannya untuk bertanya lebih jauh. Lalu
Dian pun kembali bertanya, “Maksudnya… pembohong apa mbah?”
Sang kakek pun menjelaskan, “Mereka ingin menyembunyikan semua rahasia yang
ada di desa kepada kalian. Supaya kalian menurut. Salah satunya ketika
kalian dibohongi dengan berita, kalau wanita yang dulu mengamuk membawa
golok sebagai orang gila. Wanita itu ndak gila. Wanita itu memang ingin
membunuh bayi tetangganya yang masih di dalam kandungan. Karena jika ada
yang lahir, maka ada yang mati. Wanita itu takut kalau suaminya yang
terkena ‘Sukma Purnama’ akan mati.”
Masih tidak begitu mengerti apa maksud perkataan sang kakek barusan, Dian kembali menimpal, “Ma-maksudnya… apa ya mbah?”
Lalu sang kakek menegaskan, “Warga di desa ini tidak pernah bertambah
satupun selama puluhan tahun. Jumlahnya selalu sama. Jika ada yang
lahir, maka akan ada yang mati. Jika ada bayi yang lahir, maka yang
terkena ‘Sukma Purnama’ pasti akan ada yang mati.” Tutur sang kakek
dengan sorot mata yang dalam. Lalu sang kakek pun kembali melanjutkan,
“Rasa takut kehilangan itu juga, yang akhirnya membuat beberapa warga
mulai memotong jari mereka lalu menggantungnya di depan pintu rumah.
Dengan maksud, untuk menangkal agar anggota keluarga yang sedang
__ADS_1
mengalami ‘Sukma Purnama’ tidak mati saat ada bayi yang lahir. Tapi
ternyata itu cuma tahayul. Karena siapapun yang terkena ‘Sukma Purnama’
tidak bisa sembuh, dan pasti akan mati. Tapi baru kemarin mbah melihat,
banyak orang mati, tapi tidak ada satupun yang lahir. Pasti, kutukan di
desa ini semakin jahat.”
Kini Dian mengernyitkan dahinya kala mendengar ucapan sang kakek barusan. Lagi-lagi, sang kakek
mengucapkan kata ‘Kutukan’ kepadanya. Penasaran dengan maksud ‘Kutukan’
tersebut, Dian kembali bertanya, “Dari kemarin, mbah selalu bilang
kutukan. Maksudnya kutukan itu apa ya mbah? Apa delapan belas warga yang
kemarin meninggal juga karena kutukan mbah?”
Dengan sorot mata yang lebih dalam, sang kakek mulai bercerita, “Kamu benar
cah ayu. Delapan belas warga desa kemarin, semuanya sedang mengalami
‘Sukma Purnama’. Lalu mereka mati perlahan karena kutukan yang
menyelimuti desa ini. Setelah ada warga desa yang mati, kami yang masih
hidup, harus segera menguburkan mayatnya. Karena jika ndak, kulit sang
jenazah akan mulai meleleh, lalu bau busuknya akan tercium sampai ke
seluruh desa. Dan semua kesialan yang menimpa desa ini, adalah ulah kami
sendiri, yang telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Yang
akhirnya membuat desa ini dikutuk. Dan sekarang, kami harus menanggung
semua kesalahan. Sejujurnya, kami ingin pergi dari desa. Tapi kutukan
itu ternyata sudah memenjarakan kami semua di sini. Membuat kami semua
akhirnya tidak bisa keluar desa.”
Dian pun mulai mengheran atas apa yang diucapkan oleh sang kakek barusan. Kalau benar
demikian, lalu mengapa Pak Tomo serta 2 warga yang lain dulu bisa keluar
desa mencari mereka? Tanpa berlama-lama, Dian pun menanyakan hal itu
dengan berucap, “Tapi dulu, Pak Tomo sama warga desa yang lain kok, bisa
keluar desa mbah? Pas ngejemput kami yang nyasar.”
Sang kakek pun menjawab, “Warga yang keluar desa cuma punya waktu satu
minggu berada di luar. Lebih dari itu, kulitnya akan mulai meleleh.
Tidak bisa disembuhkan. Satu-satunya jalan untuk sembuh adalah
kematian.” Benar, apa yang diucapkan sang kakek barusan adalah benar.
Karena 21 tahun yang lalu, dengan mata kepalanya sendiri, sang kakek
melihat banyak warga yang berbondong-bondong kabur dari desa. Tapi
seminggu kemudian, warga yang kabur itu banyak yang kembali lagi dengan
kondisi mengerikan. Yaitu, kulit mereka semua yang meleleh dan
warga pelarian kala itu. Dan sejak kejadian tersebut, tidak ada lagi
satupun warga yang berani kabur meninggalkan desa.
Lalu sang kakek kembali menlanjutkan kalimatnya dengan berkata, “Jika kami
kabur dari sini, kulit kami akan meleleh, kesakitan lalu mati. Tapi
jiika kami tetap tinggal di sini, kami semua akan mati kelaparan, karena
tanah desa ini yang telah dibinasakan kesuburannya oleh kutukan. Tolong
bantu kami cah ayu. Kami tidak bisa kabur. Satu-satunya jalan kami
untuk bertahan hidup adalah bertahan di sini. Jadi tolong bantu kami
untuk menyuburkan tanah desa ini lagi.” mohon sang kakek kepada Dian
sembari menggamit pergelangan tangannya.
Dian pun mencoba menenangkan sang kakek yang ekspresinya seakan histeris itu
dengan berkata, “Iya mbah. Ini kami lagi mencoba. Doakan kami semoga
berhasil.” Ucap Dian sembari menggenggam balik tangan sang kakek lalu
mengusapnya pelan.
Dengan wajah sedih, sang kakek kembali berkata, “Mbah sudah hidup selama 70 tahun. Pertama kali
datang, tanah ini dulu sangat subur. Lalu 23 tahun yang lalu, kami
melakukan kesalahan, hingga tanah ini menjadi tandus. Setahun kemudian,
mbah terkena ‘Sukma Purnama’. Harusnya siapapun yang terkena ‘Sukma
Purnama’ tidak akan pernah sembuh. Seharusnya mbah sudah mati. Tapi,
keajaiban muncul kepada mbah. Setelah 17 tahun mengalami ‘Sukma Purnama’
mbah kembali bangun dari tidur panjang yang mengerikan.” Ucap sang
kakek barusan dengan jujur. Karena ketika ia mengalami ‘Sukma Purnama’,
sang kakek merasa sedang disiksa dalam tidur panjangnya. Kemudian sang
kakek pun kembali melanjutkan, “Saat mbah bangun, mbah mendapat wahyu.
Kepada seluruh warga desa, mbah menyuruh mereka melakukan rencana ‘Getih
Mawar’. Yaitu, membawa orang dari luar desa, lalu menjadikannya sebagai
persembahan. ‘Getih Mawar’ adalah ritual untuk menekan kutukan yang
membelenggu kami.”
Mendengar penjelasan sang kakek barusan, sontak Dian langsung mengerjap. Dian tahu benar perihal
‘Getih Mawar’ yang sedang dibicarakan oleh sang kakek, karena saat ia
mau masuk ke dalam desa, Dian dan teman-temannya yang lain diharuskan
melakukan ‘Getih Mawar’ dengan menyayat jari lalu menumpahkan darah
__ADS_1
mereka di atas bunga mawar. Tapi dulu, Pak Tomo mengatakan bahwa ‘Getih
Mawar’ adalah sebuah adat, bukan ritual. Jadi dengan perasaan yang
bingung, disertai detak jantung yang mulai berdebar, Dian mencoba
melempar pertanyaan lagi kepada sang kakek dengan berkata, “Jadi…
ge-getih mawar itu apa mbah? Kok tadi mbah bilang, ritual untuk…
persembahan?” tanya Dian dengan intonasi gelisah. Tubuhnya pun kini
seakan menggigil saat mengatakan kalimat barusan.
Lalu dengan tenang, sang kakek pun menjawab, “Sebenarnya, rahasia yang ada
di desa kami, ndak boleh disebarkan kepada orang luar. Getih mawar pun
adalah ritual yang seharusnya ndak boleh mbah katakan kepada orang luar
seperti kalian.”
Bukannya menenangkan, jawaban dari sang kakek barusan malah menambah kecemasan di dalam benak Dian.
Dan sekali lagi, Dian pun kembali bertanya, “Te-terus… ke-kenapa mbah…
ceritain itu semua… ke aku?” ucapnya dengan detak jantung yang semakin
berdebar.
Lalu sang kakek pun menjawab, “Karena kalian sudah ditandai dengan getih mawar. Dan sebentar lagi, kalian
semua akan kami tumbalkan.”
Mendengar ucapan sang kakek barusan, tetiba saja Dian merasa lemas di sekujur tubuh.
Jawaban sang kakek barusan membuatnya seperti tersambar petir. Detak
jantung Dian seakan berhenti karenanya. Bukan hanya bulu kuduknya yang
bergidik, jawaban sang kakek juga membuat Dian mulai berlari menjauhinya
dengan langkah yang terhuyung-huyung.
Dan kala Dian mulai berlari membelakangi sang kakek, sang kakek pun berkata,
“Terima kasih sudah datang ke desa kami. Dengan menumbalkan kalian,
pasti desa kami bisa sejahtera lagi.” Tutupnya mengakhiri kalimat
sembari berseringai mengerikan.
Rasa takut yang saat ini menyelimuti Dian sudah sampai di ubun-ubun. Dengan raut wajah
yang begitu ketakutan hingga membuatnya ingin menangis, Dian terus
berlari menuju rumah singgah. Dengan tekad yang kuat, Dian akan
meyakinkan Abil, Estu dan Hagia untuk kabur dari desa itu dengan segera.
Namun sesampainya Dian di rumah singgah, Dian tidak dapat menemukan
keberadaan Abil, Estu dan Hagia. Dian terlambat. Ketiga temannya kini
telah menghilang. Mencoba menyembunyikan ketakutannya dari warga, Dian
pun perlahan mulai berjalan menjauhi desa. Ia berniat ingin melarikan
diri sendiri, lalu memberitahukan kejadian ini kepada polisi atau
meminta tolong kepada siapapun saat ia sudah berada di luar nanti.
Tapi tatkala Dian sudah berhasil keluar dari pemukiman, tetiba saja Pak Tomo
muncul dari balik pohon lalu berkata, “Mbak Dian mau kemana?” ucapnya
sembari tersenyum hangat.
Dipergoki Pak Tomo, Dian pun tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya dengan baik. Namun
berniat mengelabuhi Pak Tomo, Dian pun bertutur, “Sa-sa-saya… la-lagi
nyari… temen-temen saya pak.” Ucap Dian dengan penuh kebohongan.
Lalu Pak Tomo pun menyanggah, “Oh, kalau teman-teman mbak saat ini sedang
berkumpul di rumah Pak Bimo. Mereka lagi sarapan. Mari mbak, kita ke
sana. Mbak pasti sudah lapar juga kan?” ucap Pak Tomo pula dengan penuh
kebohongan.
Dian pun kalau Pak Tomo saat ini sedang berbohong. Karena saat Dian melewati rumah Pak Bimo tadi, ia
melihat ruang tamu rumah itu kosong. Tempat dimana biasanya mereka
sarapan pagi, saat ini terlihat kosong. Tahu dengan apa yang sudah
direncakanan oleh Pak Tomo sekaligus warga desa, Dian berpura-pura
mengikuti perintah Pak Tomo untuk kembali. Tapi tatkala Pak Tomo
berjalan di depannya, Dian yang mengekor di belakang mulai memelankan
langkah. Lalu dengan ancang-ancang yang kuat, tetiba saja Dian berbalik
arah dan mulai berlari cepat. Pak Tomo yang menyadari itu pun langsung
berlari mengejar Dian tanpa ampun.
Hingga akhirnya, Dian pun tertangkap.
Dengan kekuatan penuh, Pak Tomo mencoba membekuk Dian yang saat ini sedang
meronta, menangis dan berteriak meminta ampunan kepadanya. Tapi tanpa
belas kasih, Pak Tomo terus membekuk sembari mencekik Dian, lalu
membawanya menuju rumah sang sepuh.
Dan dengan tertangkapnya Dian, maka Abil, Estu, Hagia dan Dian sendiri… kini telah
mendekati ajal mereka. Sedari awal, KKN di desa ini sama saja menjemput
kematian mereka sendiri. Dan inilah waktunya. Waktu yang akan membawa
para mahasiswa itu… menuju kematian.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw