
"Gw tuh kepengen banget ziarah ke makam mantan. Tapi sayang, mantan gw belom mati."
Namanya adalah Gio. Saat ini Gio sedang menonton sebuah acara stand up comedy
di televisi sembari tertawa terbahak-bahak. Dia adalah anak laki-laki
berusia 17 tahun yang sangat menyukai dunia komedi. Gio juga berharap
suatu saat nanti, dirinya bisa mewujudkan cita-citanya sebagai seorang
komedian.
Cita-citanya untuk menjadi komedian terbilang mulia.
Karena dari lubuk hatinya yang paling dalam, Gio ingin membuat orang
lain tertawa.
Bahkan ia sering menghayal, jika suatu hari nanti,
ia akan mengisi acara komedi di sebuah panggung besar. Dimana saat ia
tampil, tirai merah besar akan menyibak lalu gemuruh penonton akan
menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah. Dan bukan hanya dilihat
oleh segelintir orang, tapi Gio ingin penampilannya bisa disaksikan oleh
seluruh dunia.
Ada sebuah alasan dasar, mengapa Gio ingin menjadi
seorang komedian. Gio berpikir, dunia ini hanya berisi kekejaman. Yang
nantinya akan melahirkan kesedihan dan kesakitan. Dan siklus itu akan
terus berputar tanpa henti. Membuat manusia akhirnya menjadi bersedih
hati. Jadi di kala seseorang bersedih, hanya lelucon-lah yang bisa
menyembuhkan luka. Meski menyakitkan, dunia akan tetap baik-baik saja
jika ada lelucon di dalamnya. Karena itulah, Gio ingin menjadi seorang
komedian. Yang bisa memberikan senyuman, kepada mereka yang sedang
terpuruk.
Gio yang saat ini sedang menonton acara stand up comedy,
sontak langsung terkejut kala ayahnya tetiba saja langsung mematikan
TV. Lalu sang ayah menendang-nendang Gio pelan, dengan maksud
menyuruhnya untuk mencuci piring.
Gio tidak bisa melawan, ia hanya
bisa menuruti semua yang diperintahkan oleh sang ayah. Meski dengan
berat hati, Gio bergegas mencuci piring tanpa protes.
Saat sang ayah sedang asyik berbalas pesan dengan pacar barunya, terdengar suara
piring pecah dari dapur. Sang ayah langsung menghampiri Gio yang sedang
berada di sana.
Dan benar, suara piring pecah itu adalah ulah Gio.
Gio sendiri terlihat sedang merapikan pecahan piring. Gio juga
sesungguhnya tidak sengaja memecahkannya, tangannya terpeleset saat
memegang piring basah itu, lalu terlepas dari genggaman dan akhirnya
jatuh.
Tapi, siapa yang peduli dengan hal tersebut. Alih-alih
mencoba mengerti, sang ayah langsung menendang lengan Gio yang sedang
memegang beling sembari berkata, "Goblok. Dasar anak tolol." Sang ayah
memaki dengan buas.
Sekali lagi, Gio tidak bisa melawan ayahnya.
Dirinya hanya bisa bilang 'Maaf' sembari menahan sakit telapak tangannya
yang berdarah. Lalu membereskan semuanya sendirian hingga selesai.
Jujur, kehidupan Gio memang kejam. Gio sudah menjadi anak Piatu sejak lama.
Ibunya telah meninggal kala Gio masih kecil. Saat ini Gio pun tinggal
berdua oleh ayah kandungnya yang seorang pemabuk dan ringan tangan. Dan
satu hal lagi... Gio juga memiliki sedikit 'Keterlambatan Dalam
Berpikir'.
__ADS_1
Kemampuan berpikir Gio cenderung lambat. Gio juga tidak
begitu pandai merespon situasi di sekitarnya. Ia juga tidak begitu baik
dalam menyampaikan apa yang dirinya maksud. Karena keterbatasannya
tersebut, Gio dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang di
sekitarnya menyebutnya sebagai orang 'Aneh'. Walaupun sebenarnya, Gio
tetaplah anak yang normal. Hanya saja memang Gio membutuhkan waktu lebih
lama untuk mencerna situasi di sekitarnya. Dan Gio pun, adalah anak
yang baik.
Setelah berhasil membalut lukanya dengan susah payah
sendirian, Gio pergi ke kamarnya. Lalu mengambil kalung dengan taklik
yang berupa seekor beruang. Dan ia menamainya Teddy.
Seperti biasa, saat Gio merasa sedih, ia akan mencari kalung beruangnya lalu
mengajaknya bicara. Kali ini, Gio bertanya kepada si beruang, "Sekarang,
harus gimana aku?" Tentu, apa yang dilakukan Gio barusan tak lazim. Dan
sudah jelas, kalung berungnya takkan mampu untuk menjawab.
Setelah mengajak si beruang berbicara, kini Gio membuka lemari bukunya. Ia
mengambil sebuah buku catatan dan pulpen. Lalu menuliskan sebait
kalimat. Kurang lebih apa yang ditulis Gio seperti ini : 'Kalian bakal
gimana kalo misal piring kalian pecah? Kalo aku sih, bakal nendang anak
itu sampai berdarah. Haha.'
Dan untuk apa Gio menuliskan sebait kalimat itu? Tentu, itu adalah materi stand up comedy miliknya.
Keesokan paginya.
Hari ini, Gio sudah berada di kelas. Dengan pakaian seragam yang lusuh dan
tampilan yang agak berantakan, Gio sedang terduduk manis di bangkunya.
Posisinya berada di meja paling depan, persis berhadapan dengan meja
guru. Dan Gio, hanya duduk sendirian di sana.
Saat ini, Gio baru masuk kelas 1 SMA. Tahun ini adalah tahun pertamanya di sana. Sudah
detik ini, tak ada satupun dari teman sekelasnya yang ingin berteman
dengan Gio.
Alih-alih berteman dengan Gio, apalagi membantunya
yang memiliki sedikit pemikiran yang lambat, yang ada justru siswa
preman di kelasnya beserta komplotannya malah membuli Gio setiap hari.
Dan luar biasanya, tak ada yang mau menolong. Atau setidaknya,
melaporkannya kepada guru.
Dan hal tercela seperti itu pun terjadi
lagi hari ini. Pentolan dikelasnya tetiba saja menghampiri Gio.
Berpura-pura duduk di sebelahnya lalu mengusap-usap punggung Gio.
Terlihat akrab dan baik. Tapi apa yang sebenarnya terjadi adalah, siswa
preman itu sedang melumuri baju Gio dengan coklat menggunakan isi roti.
Setelah puas, ia pun berderap pergi, lalu tertawa terbahak-bahak bersama
komplotannya. Gio sendiri tidak tahu akan hal itu. Kalaupun tahu
rasanya juga percuma... karena Gio tidak akan berani melawan.
Hidup Gio memang seperti diremuk oleh kemalangan. Tak ada teman, selalu
dirundung, dan tak ada yang mau menolong. Itulah hal yang harus ia lalui
di setiap harinya. Apalagi saat Gio pulang ke rumah, masih ada ayahnya
yang siap bersikap kejam kepadanya. Seakan-akan, hidup Gio memang
seperti di desain untuk menderita hingga akhir. Karena itulah, Gio
menyukai dunia komedi. Dan berharap lelucon lucu yang ia dengar, bisa
menyembuhkan luka di dalam hatinya.
Setelah jam sekolah usai, Gio
kembali pulang ke rumah. Ia pulang dengan memakai seragam yang sangat
__ADS_1
kotor di bagian belakang. Kini Gio sudah menyadari hal tersebut, karena
tadi pas di kelas, seorang guru memarahinya karena itu.
Kini Gio yang sedikit lagi sampai di rumah, sedang merangkai kata-kata. Ia
mencoba mencari alasan jika nanti ayahnya marah. Dan Gio pun, menemukan
sebuah alasan yang apik.
Gio membuka pintu rumah. Lalu saat ia
melongokan kepala, Gio melihat ayahnya sedang bersenda gurau di depan
ponsel. Dengan berjalan hati-hati, Gio mulai memasuki rumah. Gio
berjalan mengendap-endap, dengan maksud, agar ayahnya tidak tahu kalau
seragamnya kotor.
Tapi apalah daya, sang ayah akhirnya tetap tahu.
Sang ayah melihat dengan jelas seragam Gio yang kotor saat ia berjalan
mengendap-endap masuk kamar. Tanpa basa-basi, sang ayah langsung
melempar pemantik ke arah Gio, dan pemantik itu mendarat tepat di
kepalanya. Lalu sang ayah pun berkata, "Woy tolol. Baju lu kenapa
kotor?"
Untung Gio sudah menyiapkan alasan yang bagus tadi. Lalu
ia pun menjawab pertanyaan sang ayah dengan berkata, "Di sekolah... aku
nyenggol yang lagi makan roti." Tegas Gio dengan kalimat yang sudah ia
hafal sedari tadi.
Mendengar jawaban Gio yang tak masuk akal,
nyatanya sang ayah tidak begitu terlihat marah. Ia hanya melemparkan
bungkus rokok kosong kepada Gio sembari memakinya sekali lagi dengan
kata 'Tolol'.
Meski nyatanya perilaku sang ayah barusan kasar,
tapi bagi Gio perilaku ayahnya barusan terkesan baik. Karena perilaku
kasar di mata Gio adalah, jika ayahnya sampai memukul, menendangnya
sekeras mungkin, lalu meludahinya. Karena itu, Gio merasa senang, karena
kali ini ayahnya hanya melemparkan bungkus rokok dan hanya memakinya
pelan. Meski jika dilihat dari sisi lain, yang membuat ayah Gio menjadi
tidak agresif adalah, karena sang ayah sadar, yang nantinya mencuci
semua pakaian di rumah adalah Gio seorang.
Malam pun tiba.
Seperti biasa, jika sudah jam segini, Gio akan memantengi TV untuk menunggu
acara stand up comedy dimulai. Kali ini Gio sudah mencuci piring dan
menyelesaikan banyak tugas rumah. Karena Gio ingin acara nonton TV-nya
kali ini tidak lagi diganggu seperti kemarin.
Dan acara stand up comedy pun, dimulai.
"Kenalin, nama gw pecel. Gw tinggal di Bekasi. Dan gw bangga jadi orang Bekasi.
Lu tau gak kenapa? Karena Bekasi itu kota sejarah. Gak percaya? Lu tau
Hitler kan? Hitler mati di Garut itu berita bohong. Hitler itu matinya
ya di Bekasi. Mati gara-gara kepanasan."
Ketika menonton stand up
comedy seperti saat ini, Gio merasa kembali hidup. Terlepas dari naskah
komedinya yang lucu atau tidak, Gio akan selalu tertawa terbahak-bahak.
Anggap saja itu adalah bentuk rasa hormat darinya untuk sang komedian.
Dan jika acaranya telah berakhir, Gio akan terbangun dari mimpi dan
kembali merasa hampa.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw