Thread Horror

Thread Horror
Bab 9 : Teddy Bear (Part 1)


__ADS_3

"Gw tuh kepengen banget ziarah ke makam mantan. Tapi sayang, mantan gw belom mati."


Namanya adalah Gio. Saat ini Gio sedang menonton sebuah acara stand up comedy


di televisi sembari tertawa terbahak-bahak. Dia adalah anak laki-laki


berusia 17 tahun yang sangat menyukai dunia komedi. Gio juga berharap


suatu saat nanti, dirinya bisa mewujudkan cita-citanya sebagai seorang


komedian.


Cita-citanya untuk menjadi komedian terbilang mulia.


Karena dari lubuk hatinya yang paling dalam, Gio ingin membuat orang


lain tertawa.


Bahkan ia sering menghayal, jika suatu hari nanti,


ia akan mengisi acara komedi di sebuah panggung besar. Dimana saat ia


tampil, tirai merah besar akan menyibak lalu gemuruh penonton akan


menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah. Dan bukan hanya dilihat


oleh segelintir orang, tapi Gio ingin penampilannya bisa disaksikan oleh


seluruh dunia.


Ada sebuah alasan dasar, mengapa Gio ingin menjadi


seorang komedian. Gio berpikir, dunia ini hanya berisi kekejaman. Yang


nantinya akan melahirkan kesedihan dan kesakitan. Dan siklus itu akan


terus berputar tanpa henti. Membuat manusia akhirnya menjadi bersedih


hati. Jadi di kala seseorang bersedih, hanya lelucon-lah yang bisa


menyembuhkan luka. Meski menyakitkan, dunia akan tetap baik-baik saja


jika ada lelucon di dalamnya. Karena itulah, Gio ingin menjadi seorang


komedian. Yang bisa memberikan senyuman, kepada mereka yang sedang


terpuruk.


Gio yang saat ini sedang menonton acara stand up comedy,


sontak langsung terkejut kala ayahnya tetiba saja langsung mematikan


TV. Lalu sang ayah menendang-nendang Gio pelan, dengan maksud


menyuruhnya untuk mencuci piring.


Gio tidak bisa melawan, ia hanya


bisa menuruti semua yang diperintahkan oleh sang ayah. Meski dengan


berat hati, Gio bergegas mencuci piring tanpa protes.


Saat sang ayah sedang asyik berbalas pesan dengan pacar barunya, terdengar suara


piring pecah dari dapur. Sang ayah langsung menghampiri Gio yang sedang


berada di sana.


Dan benar, suara piring pecah itu adalah ulah Gio.


Gio sendiri terlihat sedang merapikan pecahan piring. Gio juga


sesungguhnya tidak sengaja memecahkannya, tangannya terpeleset saat


memegang piring basah itu, lalu terlepas dari genggaman dan akhirnya


jatuh.


Tapi, siapa yang peduli dengan hal tersebut. Alih-alih


mencoba mengerti, sang ayah langsung menendang lengan Gio yang sedang


memegang beling sembari berkata, "Goblok. Dasar anak tolol." Sang ayah


memaki dengan buas.


Sekali lagi, Gio tidak bisa melawan ayahnya.


Dirinya hanya bisa bilang 'Maaf' sembari menahan sakit telapak tangannya


yang berdarah. Lalu membereskan semuanya sendirian hingga selesai.


Jujur, kehidupan Gio memang kejam. Gio sudah menjadi anak Piatu sejak lama.


Ibunya telah meninggal kala Gio masih kecil. Saat ini Gio pun tinggal


berdua oleh ayah kandungnya yang seorang pemabuk dan ringan tangan. Dan


satu hal lagi... Gio juga memiliki sedikit 'Keterlambatan Dalam


Berpikir'.

__ADS_1


Kemampuan berpikir Gio cenderung lambat. Gio juga tidak


begitu pandai merespon situasi di sekitarnya. Ia juga tidak begitu baik


dalam menyampaikan apa yang dirinya maksud. Karena keterbatasannya


tersebut, Gio dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang di


sekitarnya menyebutnya sebagai orang 'Aneh'. Walaupun sebenarnya, Gio


tetaplah anak yang normal. Hanya saja memang Gio membutuhkan waktu lebih


lama untuk mencerna situasi di sekitarnya. Dan Gio pun, adalah anak


yang baik.


Setelah berhasil membalut lukanya dengan susah payah


sendirian, Gio pergi ke kamarnya. Lalu mengambil kalung dengan taklik


yang berupa seekor beruang. Dan ia menamainya Teddy.


Seperti biasa, saat Gio merasa sedih, ia akan mencari kalung beruangnya lalu


mengajaknya bicara. Kali ini, Gio bertanya kepada si beruang, "Sekarang,


harus gimana aku?" Tentu, apa yang dilakukan Gio barusan tak lazim. Dan


sudah jelas, kalung berungnya takkan mampu untuk menjawab.


Setelah mengajak si beruang berbicara, kini Gio membuka lemari bukunya. Ia


mengambil sebuah buku catatan dan pulpen. Lalu menuliskan sebait


kalimat. Kurang lebih apa yang ditulis Gio seperti ini : 'Kalian bakal


gimana kalo misal piring kalian pecah? Kalo aku sih, bakal nendang anak


itu sampai berdarah. Haha.'


Dan untuk apa Gio menuliskan sebait kalimat itu? Tentu, itu adalah materi stand up comedy miliknya.


Keesokan paginya.


Hari ini, Gio sudah berada di kelas. Dengan pakaian seragam yang lusuh dan


tampilan yang agak berantakan, Gio sedang terduduk manis di bangkunya.


Posisinya berada di meja paling depan, persis berhadapan dengan meja


guru. Dan Gio, hanya duduk sendirian di sana.


Saat ini, Gio baru masuk kelas 1 SMA. Tahun ini adalah tahun pertamanya di sana. Sudah


detik ini, tak ada satupun dari teman sekelasnya yang ingin berteman


dengan Gio.


Alih-alih berteman dengan Gio, apalagi membantunya


yang memiliki sedikit pemikiran yang lambat, yang ada justru siswa


preman di kelasnya beserta komplotannya malah membuli Gio setiap hari.


Dan luar biasanya, tak ada yang mau menolong. Atau setidaknya,


melaporkannya kepada guru.


Dan hal tercela seperti itu pun terjadi


lagi hari ini. Pentolan dikelasnya tetiba saja menghampiri Gio.


Berpura-pura duduk di sebelahnya lalu mengusap-usap punggung Gio.


Terlihat akrab dan baik. Tapi apa yang sebenarnya terjadi adalah, siswa


preman itu sedang melumuri baju Gio dengan coklat menggunakan isi roti.


Setelah puas, ia pun berderap pergi, lalu tertawa terbahak-bahak bersama


komplotannya. Gio sendiri tidak tahu akan hal itu. Kalaupun tahu


rasanya juga percuma... karena Gio tidak akan berani melawan.


Hidup Gio memang seperti diremuk oleh kemalangan. Tak ada teman, selalu


dirundung, dan tak ada yang mau menolong. Itulah hal yang harus ia lalui


di setiap harinya. Apalagi saat Gio pulang ke rumah, masih ada ayahnya


yang siap bersikap kejam kepadanya. Seakan-akan, hidup Gio memang


seperti di desain untuk menderita hingga akhir. Karena itulah, Gio


menyukai dunia komedi. Dan berharap lelucon lucu yang ia dengar, bisa


menyembuhkan luka di dalam hatinya.


Setelah jam sekolah usai, Gio


kembali pulang ke rumah. Ia pulang dengan memakai seragam yang sangat

__ADS_1


kotor di bagian belakang. Kini Gio sudah menyadari hal tersebut, karena


tadi pas di kelas, seorang guru memarahinya karena itu.


Kini Gio yang sedikit lagi sampai di rumah, sedang merangkai kata-kata. Ia


mencoba mencari alasan jika nanti ayahnya marah. Dan Gio pun, menemukan


sebuah alasan yang apik.


Gio membuka pintu rumah. Lalu saat ia


melongokan kepala, Gio melihat ayahnya sedang bersenda gurau di depan


ponsel. Dengan berjalan hati-hati, Gio mulai memasuki rumah. Gio


berjalan mengendap-endap, dengan maksud, agar ayahnya tidak tahu kalau


seragamnya kotor.


Tapi apalah daya, sang ayah akhirnya tetap tahu.


Sang ayah melihat dengan jelas seragam Gio yang kotor saat ia berjalan


mengendap-endap masuk kamar. Tanpa basa-basi, sang ayah langsung


melempar pemantik ke arah Gio, dan pemantik itu mendarat tepat di


kepalanya. Lalu sang ayah pun berkata, "Woy tolol. Baju lu kenapa


kotor?"


Untung Gio sudah menyiapkan alasan yang bagus tadi. Lalu


ia pun menjawab pertanyaan sang ayah dengan berkata, "Di sekolah... aku


nyenggol yang lagi makan roti." Tegas Gio dengan kalimat yang sudah ia


hafal sedari tadi.


Mendengar jawaban Gio yang tak masuk akal,


nyatanya sang ayah tidak begitu terlihat marah. Ia hanya melemparkan


bungkus rokok kosong kepada Gio sembari memakinya sekali lagi dengan


kata 'Tolol'.


Meski nyatanya perilaku sang ayah barusan kasar,


tapi bagi Gio perilaku ayahnya barusan terkesan baik. Karena perilaku


kasar di mata Gio adalah, jika ayahnya sampai memukul, menendangnya


sekeras mungkin, lalu meludahinya. Karena itu, Gio merasa senang, karena


kali ini ayahnya hanya melemparkan bungkus rokok dan hanya memakinya


pelan. Meski jika dilihat dari sisi lain, yang membuat ayah Gio menjadi


tidak agresif adalah, karena sang ayah sadar, yang nantinya mencuci


semua pakaian di rumah adalah Gio seorang.


Malam pun tiba.


Seperti biasa, jika sudah jam segini, Gio akan memantengi TV untuk menunggu


acara stand up comedy dimulai. Kali ini Gio sudah mencuci piring dan


menyelesaikan banyak tugas rumah. Karena Gio ingin acara nonton TV-nya


kali ini tidak lagi diganggu seperti kemarin.


Dan acara stand up comedy pun, dimulai.


"Kenalin, nama gw pecel. Gw tinggal di Bekasi. Dan gw bangga jadi orang Bekasi.


Lu tau gak kenapa? Karena Bekasi itu kota sejarah. Gak percaya? Lu tau


Hitler kan? Hitler mati di Garut itu berita bohong. Hitler itu matinya


ya di Bekasi. Mati gara-gara kepanasan."


Ketika menonton stand up


comedy seperti saat ini, Gio merasa kembali hidup. Terlepas dari naskah


komedinya yang lucu atau tidak, Gio akan selalu tertawa terbahak-bahak.


Anggap saja itu adalah bentuk rasa hormat darinya untuk sang komedian.


Dan jika acaranya telah berakhir, Gio akan terbangun dari mimpi dan


kembali merasa hampa.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2