Thread Horror

Thread Horror
Bab 5 : Ditumbalin Bapak (PART 2)


__ADS_3

Rijal sudah siap untuk berangkat. Ia hanya perlu mengunci pintu


kontrakannya saja lalu pergi. Tapi tatkala Rijal ingin mengunci pintu,


tetiba saja ia merasa sesak nafas. Rijal tidak bisa bernafas hingga


membuat matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar, tangan kanannya


memegangi lehernya dan tubuhnya yang seakan mengejang. Sekilas, Rijal


seperti ingin dicabut nyawanya.


Bersyukur bahwa Rijal adalah orang


yang taat. Dikala terhimpit seperti itu, Rijal refleks menyebut nama


Tuhan. Lalu kemudian tanpa Rijal sadari, ada seseorang yang membantunya.


Orang itu adalah seorang Kyai yang sudah berusia senja.


Dalam beberapa saat, Rijal pun dapat kembali bernafas. Meski masih tersengal,


Rijal mencoba mengatur nasfasnya sembari mengucap istighfar. Kyai yang


mendampinginya pun mencoba membantu mengarahkan Rijal. Tentu Rijal pun


sudah mengucapkan terimakasih kepada beliau.


Lalu sesaat kemudian


setelah keadaan membaik, terdengar suara gelas pecah dari dalam


kontrakan Rijal. Baik Rijal maupun pak Kyai juga mendengarnya dengan


sangat jelas. Tanpa pikir panjang, Rijal membuka pintu. Dan benar, gelas


kaca di sana sudah pecah.


Rijal tahu benar itu adalah gelas kaca


yang tadi ia pakai untuk minum. Rijal juga ingat gelas kaca itu ia taruh


di atas lantai sebelum berangkat. Meski pecah tiba-tiba, bagi Rijal


pribadi, hal ini adalah sesuatu yang wajar. Rijal berpikir, mungkin ada


tikus yang menabrak gelas itu hingga jatuh lalu pecah. Ya, setidaknya


itulah isi di dalam benak Rijal. Tapi, ternyata tidak untuk sang Kyai.


Saat melihat kontrakan Rijal, sang Kyai menarik nafas sejenak. Lalu


menjentik tasbihnya sembari mengucap do'a do'a. Kemudian sang Kyai pun


berkata, "Mas, ikut saya sebentar ya." Ajak sang Kyai kepada Rijal


dengan santun.


Rijal pun mengiyakan, meski dirinya sempat bertanya


ingin pergi kemana. Tapi tatkala sang Kyai menjawab ingin mengajak


Rijal ke pondok miliknya, Rijal pun menurut.


Sesampainya di pondok, Rijal duduk berhadapan dengan sang Kyai. Kemudian sang Kyai pun


bertanya, "Mas, Mas ini sebelumnya mau pergi kemana?" tanya sang Kyai


membuka percakapan.


Lalu Rijal pun menjawab, "Saya mau pulang ke


rumah pak. Mau nengokin bapak saya. Udah lama gak ketemu." Jawab Rijal


dengan ramah.


Tak sampai banyak basa-basi, sang Kyai pun langsung berkata, "Mas, kamu itu udah diincar. Hati-hati. Perbanyak dzikir."


Mendengar perkataan sang Kyai, Rijal pun mulai mengheran. Apa yang dimaksud


dengan diincar? Untuk hal apa dirinya harus berhati-hati?


Tentu sang Kyai pun tahu jika Rijal akan bertanya-tanya. Namun dengan santun,


sang Kyai pun mulai bercerita kepada Rijal. Bahwa saat ia melihat kamar


Rijal tadi, sang Kyai melihat sosok gaib berbentuk ular besar berwarna


hitam legam. Karena itulah, tadi sang Kyai menarik nafas dan melantunkan


do'a agar diberi perlindungan.


Tak sampai di situ, sang Kyai pun


bercerita, bahwa Rijal adalah orang yang beruntung, karena masih dijaga


serta diberikan perlindungan oleh Allah hingga detik ini. Andaikata


tidak, mungkin Rijal sudah tidak ada sekarang.


Rijal tak percaya bahwa apa yang dialaminya adalah hal mistis. Ia tak menyangka ini


menjadi hal yang serius. Rijal tak habis pikir, bahwa nyawanya sedang


diincar, karena Rijal merasa tak memiliki musuh. Tapi sekali lagi, sang


Kyai berkata benar. Beliau tak mengada-ada. Ada seseorang yang berniat


jahat kepada Rijal.


Kemudian, Rijal pun sempat bertanya kepada


sang Kyai. Rijal ingin tahu, jika ada yang berniat jahat kepadanya, lalu


siapakah orang tersebut? Tapi sayang, sang Kyai enggan untuk menjawab.


Lagipula, beliau memang tidak tahu siapa pelakunya. Beliau justru


mengajarkan Rijal agar tidak berburuk sangka kepada orang lain. Beliau


berkata kepada Rijal untuk tidak meracuni hati dan pikirannya dengan


sebuah prasangka.


Mendengar jawaban sang Kyai, Rijal mencoba


menerka. Bukan perihal siapa yang menjahatinya, tapi dengan siapakah


dirinya berbuat jahat. Dan sama seperti sebelumnya, Rijal merasa tidak


pernah memiliki musuh.


Kemudian mereka terus melakukan

__ADS_1


pembicaraan. Di sela-sela pembicaraan, sang Kyai pun berkata, "Kamu


jangan kemana-mana. Menginap saja di sini dulu. Dalam 3 hari, ular itu


akan kembali ke pemiliknya. Barulah kamu boleh pulang. Ini demi kebaikan


kamu."


Mendengar ucapan sang Kyai, Rijal merasa bimbang. Di satu


sisi, ia ingin menemui ayahnya. Tapi di sisi lain, ia mulai sadar bahwa


apa yang dikatakan sang Kyai mungkin benar.


Tadi malam, dirinya yang memuntahkan banyak rambut pasti adalah serangkaian skenario yang


sama, sama-sama untuk mencelakainya. Termasuk dirinya yang sesak nafas


tiba-tiba tadi, dan juga gelas yang pecah. Semua itu adalah sinyal bahwa


dirinya dalam bahaya. Rijal mulai menyadari itu. Meski dirinya sendiri,


tak tahu harus berbuat apa.


Tahu raut wajah Rijal yang bimbang,


sang Kyai pun kembali berkata, "Jangan khawatir, kamu aman di pondok


ini. Tidak ada yang direpotkan. Tidak ada yang disusahkan. Setelah 3


hari, kamu boleh pulang." Ucap beliau menenangkan.


Setelah Rijal berpikir beberapa saat, akhirnya ia menuruti nasehat sang Kyai. Ia akan


tinggal di pondok selama 3 hari. Tentu itu artinya, Rijal harus meminta 1


hari libur tambahan kepada bosnya. Namun dengan bantuan sang Kyai,


Rijal pun mendapat izin. Rijal juga mengirim pesan ke ayahnya akan


mengunjunginya dalam waktu dekat. Tapi seperti biasa, tidak ada balasan.


Dan setelah semuanya, Rijal pun tinggal di pondok itu.


Ini adalah hari ketiga Rijal menginap di pondok. Ini adalah hari terakhir dirinya menginap di sini.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rijal dan yang lain, termasuk


sang Kyai, masih berkumpul di dalam pondok. Tentu mereka sedang


membicarakan hal bermanfaat. Hingga akhirnya, obrolan mereka terganggu


oleh suara gemerisik. Suara itu berasal dari atas atap. Mereka semua


tidak tahu itu suara apa, tapi sang Kyai langsung menyuruh mereka


melantunkan doa doa.


Peristiwa tersebut terus berlanjut sampai


beberapa saat. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara seperti ledakan


dari atas atap. Setelah suara ledakan itu, suara gemerisik pun ikut


berhenti. Di saat inilah, sang Kyai berkata kepada Rijal, "Mas, kamu itu


ingin ditumbalkan. Tapi sekarang kamu aman. Besok sudah boleh pulang."


Sang Kyai berucap dengan perasaan lega.


dirinya selamat. Tapi di sisi lain, Rijal juga sedih, karena ada yang


tak suka kepadanya hingga ingin menumbalkannya. Hingga Rijal pun


berharap, semoga hal seperti ini tidak lagi menimpah dirinya.


Keesokan paginya pun datang. Rijal yang sudah kembali bekerja sedang melayani


banyak permintaan para pembeli. Ada yang memintanya untuk menyerut


kelapa, ada yang memintanya untuk mengambilkan barang, juga permintaan


yang lain.


Tapi saat Rijal sibuk bekerja, tetiba saja ponsel yang


berada di saku celananya berdering. Rijal pun menyempatkan dirinya


untuk mengecek. Lalu ia tahu, bahwa itu adalah panggilan dari nomor


telepon ayahnya.


Dalam sekejap, Rijal menjadi sumringah. Mengapa


tidak, selama ini pesannya tidak pernah dibalas oleh sang ayah. Bahkan


ketika Rijal mencoba menelepon, sang ayah pun tak mau mengangkatnya.


Bahkan sang ayah tidak pernah sekalipun mengabarinya. Sedangkan Rijal,


sudah begitu rindu dengan sang ayah. Rijal rindu ingin bertemu. Atau


setidaknya, bisa mendengar suaranya. Jadi saat Rijal tahu ayahnya


menelepon, ia menjadi begitu senang.


Meski sedang ramai pembeli, tanpa pikir panjang Rijal langsung menjawab telepon dari sang ayah.


Rijal yang sebelumnya tersenyum lebar, tiba-tiba saja langsung tak bergeming.


Rijal seperti langsung membeku di tempat. Bagai disambar petir, Rijal


langsung merasa lemas di sekujur tubuhnya. Tanpa Rijal sadari, matanya


pun mulai berkaca-kaca.


Rijal yang berharap dapat berbicara


dengan sang ayah, justru dirinya malah mendengar sebuah kabar buruk dari


tetangganya yang sedang berbicara di ujung telepon sana. Rijal


diberitahukan, bahwa ayahnya, telah meninggal.


Rijal langsung tak


karuan. Ia langsung memberitakan hal ini kepada bosnya. Setelah


diizinkan, Rijal langsung lekas berangkat menuju rumah duka.


Sedikit mengilas balik beberapa bulan kebelakang.


Saat Rijal kabur dari rumah, sesungguhnya sang ibu tiri tahu hal tersebut.

__ADS_1


Tapi ia justru merasa senang jika Rijal pergi. Lalu membiarkannya pergi


dan berpura-pura tidak tahu. Saat itu sang ayah masih bekerja. Dan


setelah Rijal pergi, semua masih dalam keadaan baik-baik saja.


Tapi seminggu setelah Rijal pergi, sang ayah dipecat oleh perusahaannya


secara tidak hormat. Sang ayah ketahuan menyelundupkan beberapa kwintal


bahan baku perusahaan secara ilegal. Sang ayah bekerja sama dengan


beberapa sekuriti perusahaan untuk melancarkan aksinya. Tapi pada


akhirnya, praktek ilegalnya berujung kandas.


Sang ayah memang tak


sampai dipenjarakan. Namun ia dipecat secara tidak hormat dan tidak


berhak mendapat tunjangan apapun. Setelah kejadian itu, keluarga ini pun


bangkrut.


Dalam keadaannya yang sempit, sang ayah mulai merasa


stress. Dirinya yang sudah berumur 40 tahun lebih, jelas sulit untuk


mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi, saat masih bekerja, posisinya


hanyalah karyawan biasa. Ia juga tidak memiliki kemampuan khusus


tertentu. Uang tabungan pun kini sudah mau habis. Dan sekelumit


masalahnya semakin bertambah, saat sang ayah memiliki istri yang hanya


bisa menuntut, serta ketiga anak sambungnya yang memiliki perangai buruk


yang sama.


Hingga di suatu hari, istri barunya menyuruh sang ayah


untuk melakukan sebuah pesugihan. Istri barunya tidak mau hidup


melarat. Istri barunya juga tidak mau menunggu lama lagi lebih dari ini.


Tapi istri barunya juga tidak mau berusaha membantunya. Istri barunya


hanya menginginkan hidup enak dengan hal instan. Istri barunya hanya


bisa menuntut.


Seakan sudah kehilangan akal, sang ayah pun malah


mengiyakan keinginan istri barunya itu untuk melakukan pesugihan. Sang


ayah mendatangi juru kunci sebuah tempat. Kemudian sang ayah melakukan


sebuah ritual di sana. Akhirnya, ia pun bersekutu.


Tak lama dari itu, keluarga ini seakan bangkit kembali. Ekonomi keluarga ini kembali


stabil. Hingga 3 bulan kemudian, sang ayah pun, diminta untuk memberikan


tumbal pertamanya.


Melakukan pesugihan sama saja dengan bunuh


diri. Sang ayah tidak bisa lari. Sampai kapanpun ia tidak bisa melarikan


diri. Pilihannya hanya satu, sang ayah harus mengorbankan nyawa orang


lain, atau mengorbankan dirinya sendiri. Pesugihan adalah misi bunuh


diri. Di awal sang ayah tidak tahu perihal ini. Tapi karena sudah


terlanjur bersekutu, sang ayah kini harus memilih.


Lalu sang ayah pun kembali stress. Ia tidak tahu siapa yang harus dikorbankan. Sampai


akhirnya, sang istri menyuruhnya untuk menumbalkan Rijal, anak


kandungnya.


Mungkin terasa mustahil bagi seorang ayah menumbalkan


anak kandungnya. Tapi sayang, itulah yang terjadi. Sang ayah


menyodorkan nama Rijal untuk ditumbalkan.


Keputusan itu tidak lepas dari pengaruh istri barunya. Sedari awal, istri barunya juga


melakukan praktek dukun tanpa sepengetahuan sang ayah. Tujuannya adalah


agar sang ayah membenci Rijal, anak kandungnya sendiri. Dan hal itu


berhasil. Sang ayah yang kini membenci Rijal, berani untuk menumbalkan


anaknya sendiri.


Meski Rijal sudah dijadikan tumbal, tapi ternyata


takdir berkata lain. Belum waktunya bagi Rijal untuk mati. Rijal adalah


orang yang taat. Tentu dirinya akan dinaungi oleh cahaya keselamatan


dari sang maha pencipta. Sehingga membuat, niatan buruk itu malah


kembali kepada tuannya.


Karena tidak bisa mencelakai Rijal,


justru niat buruk itu malah dikembalikan lagi kepada ayahnya. Dan


akhirnya, sang ayah pun tewas. Tewas dalam keadaan yang


seburuk-buruknya.


Kemudian sang ayah dimakamkan di samping


mendiang istri pertamanya. Rijal hadir di sana dengan air mata dan doa


yang terus mengalir tanpa henti.


Dan untuk sang istri barunya, tak lama kemudian ia mengalami stroke.


END.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2