
Rijal sudah siap untuk berangkat. Ia hanya perlu mengunci pintu
kontrakannya saja lalu pergi. Tapi tatkala Rijal ingin mengunci pintu,
tetiba saja ia merasa sesak nafas. Rijal tidak bisa bernafas hingga
membuat matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar, tangan kanannya
memegangi lehernya dan tubuhnya yang seakan mengejang. Sekilas, Rijal
seperti ingin dicabut nyawanya.
Bersyukur bahwa Rijal adalah orang
yang taat. Dikala terhimpit seperti itu, Rijal refleks menyebut nama
Tuhan. Lalu kemudian tanpa Rijal sadari, ada seseorang yang membantunya.
Orang itu adalah seorang Kyai yang sudah berusia senja.
Dalam beberapa saat, Rijal pun dapat kembali bernafas. Meski masih tersengal,
Rijal mencoba mengatur nasfasnya sembari mengucap istighfar. Kyai yang
mendampinginya pun mencoba membantu mengarahkan Rijal. Tentu Rijal pun
sudah mengucapkan terimakasih kepada beliau.
Lalu sesaat kemudian
setelah keadaan membaik, terdengar suara gelas pecah dari dalam
kontrakan Rijal. Baik Rijal maupun pak Kyai juga mendengarnya dengan
sangat jelas. Tanpa pikir panjang, Rijal membuka pintu. Dan benar, gelas
kaca di sana sudah pecah.
Rijal tahu benar itu adalah gelas kaca
yang tadi ia pakai untuk minum. Rijal juga ingat gelas kaca itu ia taruh
di atas lantai sebelum berangkat. Meski pecah tiba-tiba, bagi Rijal
pribadi, hal ini adalah sesuatu yang wajar. Rijal berpikir, mungkin ada
tikus yang menabrak gelas itu hingga jatuh lalu pecah. Ya, setidaknya
itulah isi di dalam benak Rijal. Tapi, ternyata tidak untuk sang Kyai.
Saat melihat kontrakan Rijal, sang Kyai menarik nafas sejenak. Lalu
menjentik tasbihnya sembari mengucap do'a do'a. Kemudian sang Kyai pun
berkata, "Mas, ikut saya sebentar ya." Ajak sang Kyai kepada Rijal
dengan santun.
Rijal pun mengiyakan, meski dirinya sempat bertanya
ingin pergi kemana. Tapi tatkala sang Kyai menjawab ingin mengajak
Rijal ke pondok miliknya, Rijal pun menurut.
Sesampainya di pondok, Rijal duduk berhadapan dengan sang Kyai. Kemudian sang Kyai pun
bertanya, "Mas, Mas ini sebelumnya mau pergi kemana?" tanya sang Kyai
membuka percakapan.
Lalu Rijal pun menjawab, "Saya mau pulang ke
rumah pak. Mau nengokin bapak saya. Udah lama gak ketemu." Jawab Rijal
dengan ramah.
Tak sampai banyak basa-basi, sang Kyai pun langsung berkata, "Mas, kamu itu udah diincar. Hati-hati. Perbanyak dzikir."
Mendengar perkataan sang Kyai, Rijal pun mulai mengheran. Apa yang dimaksud
dengan diincar? Untuk hal apa dirinya harus berhati-hati?
Tentu sang Kyai pun tahu jika Rijal akan bertanya-tanya. Namun dengan santun,
sang Kyai pun mulai bercerita kepada Rijal. Bahwa saat ia melihat kamar
Rijal tadi, sang Kyai melihat sosok gaib berbentuk ular besar berwarna
hitam legam. Karena itulah, tadi sang Kyai menarik nafas dan melantunkan
do'a agar diberi perlindungan.
Tak sampai di situ, sang Kyai pun
bercerita, bahwa Rijal adalah orang yang beruntung, karena masih dijaga
serta diberikan perlindungan oleh Allah hingga detik ini. Andaikata
tidak, mungkin Rijal sudah tidak ada sekarang.
Rijal tak percaya bahwa apa yang dialaminya adalah hal mistis. Ia tak menyangka ini
menjadi hal yang serius. Rijal tak habis pikir, bahwa nyawanya sedang
diincar, karena Rijal merasa tak memiliki musuh. Tapi sekali lagi, sang
Kyai berkata benar. Beliau tak mengada-ada. Ada seseorang yang berniat
jahat kepada Rijal.
Kemudian, Rijal pun sempat bertanya kepada
sang Kyai. Rijal ingin tahu, jika ada yang berniat jahat kepadanya, lalu
siapakah orang tersebut? Tapi sayang, sang Kyai enggan untuk menjawab.
Lagipula, beliau memang tidak tahu siapa pelakunya. Beliau justru
mengajarkan Rijal agar tidak berburuk sangka kepada orang lain. Beliau
berkata kepada Rijal untuk tidak meracuni hati dan pikirannya dengan
sebuah prasangka.
Mendengar jawaban sang Kyai, Rijal mencoba
menerka. Bukan perihal siapa yang menjahatinya, tapi dengan siapakah
dirinya berbuat jahat. Dan sama seperti sebelumnya, Rijal merasa tidak
pernah memiliki musuh.
Kemudian mereka terus melakukan
__ADS_1
pembicaraan. Di sela-sela pembicaraan, sang Kyai pun berkata, "Kamu
jangan kemana-mana. Menginap saja di sini dulu. Dalam 3 hari, ular itu
akan kembali ke pemiliknya. Barulah kamu boleh pulang. Ini demi kebaikan
kamu."
Mendengar ucapan sang Kyai, Rijal merasa bimbang. Di satu
sisi, ia ingin menemui ayahnya. Tapi di sisi lain, ia mulai sadar bahwa
apa yang dikatakan sang Kyai mungkin benar.
Tadi malam, dirinya yang memuntahkan banyak rambut pasti adalah serangkaian skenario yang
sama, sama-sama untuk mencelakainya. Termasuk dirinya yang sesak nafas
tiba-tiba tadi, dan juga gelas yang pecah. Semua itu adalah sinyal bahwa
dirinya dalam bahaya. Rijal mulai menyadari itu. Meski dirinya sendiri,
tak tahu harus berbuat apa.
Tahu raut wajah Rijal yang bimbang,
sang Kyai pun kembali berkata, "Jangan khawatir, kamu aman di pondok
ini. Tidak ada yang direpotkan. Tidak ada yang disusahkan. Setelah 3
hari, kamu boleh pulang." Ucap beliau menenangkan.
Setelah Rijal berpikir beberapa saat, akhirnya ia menuruti nasehat sang Kyai. Ia akan
tinggal di pondok selama 3 hari. Tentu itu artinya, Rijal harus meminta 1
hari libur tambahan kepada bosnya. Namun dengan bantuan sang Kyai,
Rijal pun mendapat izin. Rijal juga mengirim pesan ke ayahnya akan
mengunjunginya dalam waktu dekat. Tapi seperti biasa, tidak ada balasan.
Dan setelah semuanya, Rijal pun tinggal di pondok itu.
Ini adalah hari ketiga Rijal menginap di pondok. Ini adalah hari terakhir dirinya menginap di sini.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rijal dan yang lain, termasuk
sang Kyai, masih berkumpul di dalam pondok. Tentu mereka sedang
membicarakan hal bermanfaat. Hingga akhirnya, obrolan mereka terganggu
oleh suara gemerisik. Suara itu berasal dari atas atap. Mereka semua
tidak tahu itu suara apa, tapi sang Kyai langsung menyuruh mereka
melantunkan doa doa.
Peristiwa tersebut terus berlanjut sampai
beberapa saat. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara seperti ledakan
dari atas atap. Setelah suara ledakan itu, suara gemerisik pun ikut
berhenti. Di saat inilah, sang Kyai berkata kepada Rijal, "Mas, kamu itu
ingin ditumbalkan. Tapi sekarang kamu aman. Besok sudah boleh pulang."
Sang Kyai berucap dengan perasaan lega.
dirinya selamat. Tapi di sisi lain, Rijal juga sedih, karena ada yang
tak suka kepadanya hingga ingin menumbalkannya. Hingga Rijal pun
berharap, semoga hal seperti ini tidak lagi menimpah dirinya.
Keesokan paginya pun datang. Rijal yang sudah kembali bekerja sedang melayani
banyak permintaan para pembeli. Ada yang memintanya untuk menyerut
kelapa, ada yang memintanya untuk mengambilkan barang, juga permintaan
yang lain.
Tapi saat Rijal sibuk bekerja, tetiba saja ponsel yang
berada di saku celananya berdering. Rijal pun menyempatkan dirinya
untuk mengecek. Lalu ia tahu, bahwa itu adalah panggilan dari nomor
telepon ayahnya.
Dalam sekejap, Rijal menjadi sumringah. Mengapa
tidak, selama ini pesannya tidak pernah dibalas oleh sang ayah. Bahkan
ketika Rijal mencoba menelepon, sang ayah pun tak mau mengangkatnya.
Bahkan sang ayah tidak pernah sekalipun mengabarinya. Sedangkan Rijal,
sudah begitu rindu dengan sang ayah. Rijal rindu ingin bertemu. Atau
setidaknya, bisa mendengar suaranya. Jadi saat Rijal tahu ayahnya
menelepon, ia menjadi begitu senang.
Meski sedang ramai pembeli, tanpa pikir panjang Rijal langsung menjawab telepon dari sang ayah.
Rijal yang sebelumnya tersenyum lebar, tiba-tiba saja langsung tak bergeming.
Rijal seperti langsung membeku di tempat. Bagai disambar petir, Rijal
langsung merasa lemas di sekujur tubuhnya. Tanpa Rijal sadari, matanya
pun mulai berkaca-kaca.
Rijal yang berharap dapat berbicara
dengan sang ayah, justru dirinya malah mendengar sebuah kabar buruk dari
tetangganya yang sedang berbicara di ujung telepon sana. Rijal
diberitahukan, bahwa ayahnya, telah meninggal.
Rijal langsung tak
karuan. Ia langsung memberitakan hal ini kepada bosnya. Setelah
diizinkan, Rijal langsung lekas berangkat menuju rumah duka.
Sedikit mengilas balik beberapa bulan kebelakang.
Saat Rijal kabur dari rumah, sesungguhnya sang ibu tiri tahu hal tersebut.
__ADS_1
Tapi ia justru merasa senang jika Rijal pergi. Lalu membiarkannya pergi
dan berpura-pura tidak tahu. Saat itu sang ayah masih bekerja. Dan
setelah Rijal pergi, semua masih dalam keadaan baik-baik saja.
Tapi seminggu setelah Rijal pergi, sang ayah dipecat oleh perusahaannya
secara tidak hormat. Sang ayah ketahuan menyelundupkan beberapa kwintal
bahan baku perusahaan secara ilegal. Sang ayah bekerja sama dengan
beberapa sekuriti perusahaan untuk melancarkan aksinya. Tapi pada
akhirnya, praktek ilegalnya berujung kandas.
Sang ayah memang tak
sampai dipenjarakan. Namun ia dipecat secara tidak hormat dan tidak
berhak mendapat tunjangan apapun. Setelah kejadian itu, keluarga ini pun
bangkrut.
Dalam keadaannya yang sempit, sang ayah mulai merasa
stress. Dirinya yang sudah berumur 40 tahun lebih, jelas sulit untuk
mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi, saat masih bekerja, posisinya
hanyalah karyawan biasa. Ia juga tidak memiliki kemampuan khusus
tertentu. Uang tabungan pun kini sudah mau habis. Dan sekelumit
masalahnya semakin bertambah, saat sang ayah memiliki istri yang hanya
bisa menuntut, serta ketiga anak sambungnya yang memiliki perangai buruk
yang sama.
Hingga di suatu hari, istri barunya menyuruh sang ayah
untuk melakukan sebuah pesugihan. Istri barunya tidak mau hidup
melarat. Istri barunya juga tidak mau menunggu lama lagi lebih dari ini.
Tapi istri barunya juga tidak mau berusaha membantunya. Istri barunya
hanya menginginkan hidup enak dengan hal instan. Istri barunya hanya
bisa menuntut.
Seakan sudah kehilangan akal, sang ayah pun malah
mengiyakan keinginan istri barunya itu untuk melakukan pesugihan. Sang
ayah mendatangi juru kunci sebuah tempat. Kemudian sang ayah melakukan
sebuah ritual di sana. Akhirnya, ia pun bersekutu.
Tak lama dari itu, keluarga ini seakan bangkit kembali. Ekonomi keluarga ini kembali
stabil. Hingga 3 bulan kemudian, sang ayah pun, diminta untuk memberikan
tumbal pertamanya.
Melakukan pesugihan sama saja dengan bunuh
diri. Sang ayah tidak bisa lari. Sampai kapanpun ia tidak bisa melarikan
diri. Pilihannya hanya satu, sang ayah harus mengorbankan nyawa orang
lain, atau mengorbankan dirinya sendiri. Pesugihan adalah misi bunuh
diri. Di awal sang ayah tidak tahu perihal ini. Tapi karena sudah
terlanjur bersekutu, sang ayah kini harus memilih.
Lalu sang ayah pun kembali stress. Ia tidak tahu siapa yang harus dikorbankan. Sampai
akhirnya, sang istri menyuruhnya untuk menumbalkan Rijal, anak
kandungnya.
Mungkin terasa mustahil bagi seorang ayah menumbalkan
anak kandungnya. Tapi sayang, itulah yang terjadi. Sang ayah
menyodorkan nama Rijal untuk ditumbalkan.
Keputusan itu tidak lepas dari pengaruh istri barunya. Sedari awal, istri barunya juga
melakukan praktek dukun tanpa sepengetahuan sang ayah. Tujuannya adalah
agar sang ayah membenci Rijal, anak kandungnya sendiri. Dan hal itu
berhasil. Sang ayah yang kini membenci Rijal, berani untuk menumbalkan
anaknya sendiri.
Meski Rijal sudah dijadikan tumbal, tapi ternyata
takdir berkata lain. Belum waktunya bagi Rijal untuk mati. Rijal adalah
orang yang taat. Tentu dirinya akan dinaungi oleh cahaya keselamatan
dari sang maha pencipta. Sehingga membuat, niatan buruk itu malah
kembali kepada tuannya.
Karena tidak bisa mencelakai Rijal,
justru niat buruk itu malah dikembalikan lagi kepada ayahnya. Dan
akhirnya, sang ayah pun tewas. Tewas dalam keadaan yang
seburuk-buruknya.
Kemudian sang ayah dimakamkan di samping
mendiang istri pertamanya. Rijal hadir di sana dengan air mata dan doa
yang terus mengalir tanpa henti.
Dan untuk sang istri barunya, tak lama kemudian ia mengalami stroke.
END.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw