Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 3)


__ADS_3

Abil duduk di baris


depan, duduk persis di sebelah supir. Estu, Dian dan Hagia duduk sejajar


di bagian tengah mobil. Sedangkan Pak Tomo dan 2 rekannya duduk di


bagian belakang. Dengan kecepatan sedang, sang supir melajukan mobilnya,


menyusuri jalan di sana yang berlikuk dan menukik.


Lantas, mau kemanakah mereka pergi?


Jelas, mereka semua akan melakukan perjalanan menuju Desa Abimantrana. Sebuah desa, yang sebenarnya tidak pernah ada.


Saat di perjalanan menuju desa, masih berada di dalam mobil, Hagia bertanya


kepada abil dengan berbisik pelan, "Kata orang-orang, Desa Abimantrana


kan katanya gak ada? Kok ini kita malah ke sana?" Tanya Hagia kepada


Abil dengan suara pelan namun ketus.


Sebenarnya pertanyaan tersebut adalah milik Dian, lalu ia sampaikan kepada Hagia,


yang kemudian diteruskan kepada Abil. Dan rasanya lumrah jika kedua


mahasiswi itu menjadi khawatir. Karena yang keduanya tahu, tiap-tiap


orang yang mereka tanyai sebelumnya dengan kompak menegaskan, bahwa Desa


Abimantrana memanglah tidak pernah ada. Jadi jika memang demikian,


lantas... mau dibawa pergi kemanakah mereka kini?


Tapi berbeda dengan Hagia dan Dian, Abil justru merasa sumringah. Bahkan


Abil menegaskan kepada Hagia untuk tidak perlu khawatir. Abil mencoba


menenangkan Hagia dengan mengutarakan asumsinya, bahwa Desa Abimantrana


mungkin adalah desa yang benar-benar berada di pelosok, sehingga


keberadaannya sendiri tidak diketahui oleh umum. Abil pun menambahkan


kalau dirinya, Hagia, Estu dan Dian akan sangat berjasa jika bisa


memajukan desa itu di akhir cerita nanti. Ditambah, Desa Abimantrana


juga merupakan rekomendasi dari ibu pemilik kost dimana Abil tinggal,


yang terkenal dengan keramahan serta kedermawanannya. Jadi dengan semua


asumsinya barusan, Abil ingin Hagia berhenti khawatir dan percaya saja


kepada dirinya.


Hagia yang baru saja mendengar pencerahan dari Abil, pemikirannya mulai


terbuka. Penjelasan Abil yang logis membuatnya merasa lebih tenang. Lalu


Hagia meneruskan wejangan itu kepada Dian dengan bisikan yang pelan.


Kedua perempuan itupun kini diam menurut.


Sedangkan untuk Estu sendiri, saat ini tubuhnya sedang menyandar ke belakang,


matanya terpejam, serta kedua lengannya yang saling melipat bersedekap.


Selain Abil, rasanya Estu juga menikmati perjalanan ini.


Sekiranya perjalanan telah menempuh 5 kilometer, mereka mulai memasuki kawasan


hutan liar. Pemandangan yang mereka lihat di sekeliling hanya berisi


pohon-pohon menjulang tinggi yang mengisi sisi jalan. Suasana pun telah


berubah menjadi senyap. Hampir tidak bisa ditemukan lalu lalang


kendaraan ataupun warga setempat saat memandang keluar. Dengan mengikuti


arahan Pak Tomo, Abil dan yang lain kembali lagi ke lokasi asal dimana


pertama kali mereka sampai, yaitu Hutan Abimantrana.


Masih mengikuti arahan dari Pak Tomo, mobil yang mereka tumpangi mulai


memasuki Hutan Abimantrana. Masuk lebih jauh. Dan semakin menjauh.

__ADS_1


Menyusuri hutan yang mulai berkabut di setiap penjurunya.


Merasa heran dengan jalur desanya yang masuk ke dalam hutan, yang bahkan


hutannya sendiri menurut warga tabu untuk di masuki, Hagia memberanikan


diri bertanya kepada 3 laki-laki asing yang berada di belakangnya dengan


berkata, "Pak, ini bener, lokasi desanya masuk ke dalam hutan begini?"


Dari ketiga laki-laki itu, Pak Tomo sebagai perwakilan pun menjawab, "Aneh


ya mbak? Tapi gimana, kita semua dari lahir sampai setua ini tinggalnya


di sini. Jadi ndak ada pilihan. Tapi tenang aja mbak, mbak ndak perlu


khawatir. Meski di dalam hutan, desa kami aman kok. Kami yang jamin


keselamatan mbak sama teman mbak yang lain sampai KKN-nya selesai."


Tutur Pak Tomo menjelaskan sekaligus menenangkan Hagia.


Tak sampai di situ, Abil juga ikut mengutarakan wejangannya kepada Hagia.


Lalu diikuti sedikit cerita dari 2 rekan Pak Tomo tentang desa mereka


yang bersahaja. Yang pada akhirnya membuat Hagia lagi-lagi merasa


tenang. Dian yang mendengar percakapan mereka juga mulai menurunkan rasa


kekhawatirannya. Sedangkan Estu, ia masih dalam kondisi tertidur.


Setelah berhasil mensirnakan semua pertanyaan yang mengganjal, mobil mereka terus melaju lurus memasuki hutan semakin dalam.


Dari sinilah diketahui, bahwa hutan abimantrana adalah gerbang masuk menuju desa.


@ @ @ @ @


Setelah cukup jauh melintasi pedalaman hutan, jalan setapak di sana akhirnya


telah sampai di ujung. Di titik ini, terlihat jelas bahwa medan jalan


sudah tidak bisa lagi dilewati oleh kendaraan, apalagi mobil yang


ukurannya memang besar.


Dengan bertitah untuk turun dari mobil, Pak Tomo juga menjelaskan kepada Abil


kaki. Abil dan yang lain pun tidak bisa mengelak, karena dengan mata


kepala mereka sendiri, terlihat jelas bahwa rute perjalanan berikutnya


adalah pilar-pilar pohon tinggi yang diselimuti rerumputan liar, yang


tidak mungkin lagi mobil bisa melewatinya.


Di momentum itu, Abil sempat berkata kepada Pak Tomo, mengapa tidak


dijemput oleh warga desa menggunakan sepeda motor saja? Tapi sayang,


dengan lugas Pak Tomo mengatakan, bahwa tidak ada satupun warga di


desanya yang memiliki sepeda motor. Pak Tomo berharap Abil dan yang lain


bisa memaklumi hal tersebut.


Sepakat untuk tidak mempermasalahkannya, Abil dan yang lain pun setuju menuruti


titah Pak Tomo. Lalu mulai keluar dari mobil satu persatu.


Sesaat sebelum Abil turun dari mobil, sang supir sempat menahan Abil dengan


berkata, "Mas Abil, mas yakin mau KKN di tengah hutan kayak begini? Saya


pikir mending batalin aja mas. Sabar aja nunggu rekomendasi dari


kampus, atau nyari lokasi lain aja lagi."


Tentu ada alasan kuat mengapa sang supir berkata demikian. Karena mau


bagaimana pun, lokasi dimana mereka berpijak saat ini memanglah terlihat


tidak meyakinkan, hingga akan melahirkan perasaan khawatir. Dan


sebenarnya bukan hanya sang supir yang merasakan itu.


Dian pun merasakan hal yang sama. Suasana hutan yang sedang dilihatnya kini

__ADS_1


menciptakan rasa khawatir tersendiri di dalam hatinya. Tapi Dian yang


seorang pemalu tidak bisa mengungkapkan perasaannya begitu saja. Apalagi


sampai menolak rencana KKN Abil saat ini. Karena meski tidak begitu


mengenal Abil, Dian tahu bahwa Abil adalah orang baik, karena sudah mau


menerimanya ikut gabung dan membiayai semua pengeluarannya selama KKN.


Dengan alasan itu, Dian tak sampai hati sanggup memprotes. Apalagi


tetiba saja bilang ingin keluar dari kelompok, yang nantinya malah


merusak rencana KKN mereka. Jadi dibanding menggerutu, Dian memilih


untuk menguatkan hati dan meneguhkan diri.


Menceritakan ketakutannya kepada Hagia teman dekatnya juga takkan membantu. Mungkin


di awal Hagia adalah orang yang paling banyak memprotes dan menggerutu.


Tapi setelah berada di dalam hutan dengan segala rintangannya, Hagia


justru terlihat bersemangat. Rasanya wajar, karena Hagia adalah


perempuan pencinta hiking. Jadi alih-alih menganggap bahwa saat ini


dirinya sedang menuju tempat KKN, mungkin Hagia malah merasa sedang


refreshing saat ini.


Apalagi ditambah, dengan wejangan yang datang bertubi-tubi dari Abil, Pak Tomo


serta 2 rekan Pak Tomo yang lain, yang akhirnya membuat benak Hagia


menjadi tenang. Jadi pilihan Dian memanglah hanya satu, menguatkan hati


dan meneguhkan diri.


Dan untuk Estu, ia baru saja dibangunkan dari tidurnya. Setelah keluar dari


mobil, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibirnya. Estu adalah


laki-laki pendiam. Mungkin sifat itulah yang membuat dirinya tidak


banyak memprotes. Dan jujur, Estu tidak sedang memikirkan apapun.


Sedangkan untuk Abil sendiri, jelas ia tidak akan menyerah dengan keadaan. Meski


melihat kenyataan bahwa desa yang akan ia sambangi berlokasi di tempat


tak lazim, tetap saja KKN kali ini adalah rencana miliknya. Abil tidak


mau membatalkannya lalu menanggung malu. Karena harga dirinya yang


tinggi itulah, dengan wajah penuh keyakinan, Abil menegaskan kepada


supirnya untuk tidak perlu khawatir.


Setelah menasbihkan diri akan menyelesaikan tugas KKN hingga tuntas, Abil pun


keluar dari mobil. Wajah tegarnya disambut oleh Estu, Hagia, Dian, Pak


Tomo serta 2 rekannya yang sudah berada di luar. Semua gembolan juga


telah dikeluarkan. Setelah dipastikan tidak ada perlengkapan yang


tertinggal, Abil dan yang lain berpamitan kepada sang supir dengan


mengucapkan terima kasih. Tapi sebelum mengakhiri pertemuan, sekali


lagi, Abil mengatakan kepada supirnya untuk tidak perlu khawatir. Abil


menegaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Lalu kemudian sang supir membalikan arah mobil dan kembali pulang. Sedangkan


Abil dan yang lain, melanjutkan perjalanan mereka menuju desa dengan


berjalan kaki.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2