Thread Horror

Thread Horror
Bab 3 : Mas Ayunin Dek (PART2)


__ADS_3

Saat sampai di rumah, anak kedua mereka langsung menghampiri. Namanya


adalah Indah, usianya masih 6 tahun. Selama mencari Beno, Indah berada


di rumah dan dititipkan kepada tetangga. Indah belum begitu mengerti


dengan apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ia tahu kalau ibunya sedang


menangis saat ini.


Pak Sudono terus meminta kepada warga sekitar


untuk menghubungi kolega mereka yang berada di luar kampung. Meminta


untuk menanyakan serta mencari tahu perihal Beno. Siapa tahu ada yang


mengetahui keberadaanya. Sementara istrinya, hanya bisa terus berdoa dan


berharap agar anaknya diberi perlindungan.


Hingga kurang lebih sejam kemudian, orang dari luar kampung datang ke rumah pak Sudono


dengan membawa sepeda motor. Ia tampak membonceng seseorang. Dan lalu ia


pun berhenti persis di depan rumah pak Sudono. Dimana pak Sudono dan


istrinya, masih terlihat siaga di depan pintu rumah.


Dan benar saja, orang luar kampung tersebut memang memboncengi Beno anak mereka.


Pak Sudono dan istri tidak tahu siapa orang itu, tapi mereka langsung


bertanya kepada orang tersebut. Sedangkan Beno langsung meluyur masuk


rumah.


Dari apa yang dipertanyakan pak Sudono kepada orang


tersebut, bisa ditangkap sebuah kesimpulan, bahwa Beno menginap di rumah


temannya selama ini dengan sebuah alasan ringan. Kalau dirinya, Beno,


hanya sedang ingin menginap saja. Dan orang yang mengantar Beno adalah


ayah dari teman Beno tersebut. Dan beliau sudah meminta maaf kepada pak


Sudono maupun istrinya tentang peristiwa ini, beliau tidak tahu kalau


Beno kabur dari rumah. Dan baik pak Sudono dan istrinya pun justru


berterima kasih karena sudah mengantar Beno pulang. Lalu, beliau pun


pamit pulang.


Setelah masalah selesai, warga sekitar kembali ke rumah masing masing. Pak Sudono dan istri pun masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rumah mereka. Dan tentu, yang terjadi berikutnya adalah sebuah masalah besar.


Ibu Beno merasa bersyukur ketika tahu kalau


anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Tapi untuk pak Sudono sendiri, ia


justru naik pitam ketika menemui Beno di dalam kamar, beliau pun tahu


bahwa saat ini Beno hanya sedang berpura-pura tidur di atas kasur.


Dengan cepat, ia langsung menghampiri Beno dengan emosi dan membentak


beberapa kali.


Pak Sudono merasa perilaku Beno sudah membuatnya


malu. Semua tetangga tahu, bahkan sampai ke luar kampung pun tahu.


Amarahnya kepada Beno perihal sepeda motor saja belum mereda, kini Beno


malah menambah amarah ayahnya dengan masalah baru. Hingga dengan emosi


yang sudah begitu memuncak, pak Sudono merangsak ke arah Beno, lalu


mencekiknya. Dan kali ini, Beno tidak lagi melawan. Ia hanya diam saja.


Bahkan saat kedua tangan ayahnya mencekik, Beno tidak melakukan


perlawanan sedikitpun. Seakan dirinya pasrah dengan hukuman yang akan


diterimanya. Untung saja ibunya berada di sana. Dengan suara menangis,


sang ibu mampu melerai perilaku ayahnya yang sudah kesetanan.


Pak Sudono yang sedang kalut, dipeluk oleh istrinya beberapa kali. Dengan


maksud, agar mencegah pak Sudono mendekati Beno. Meski begitu, pak


Sudono tetap saja tidak bisa meredakan amarahnya. Amarahnya terus


meledak-ledak. Meski dihalang oleh istrinya mendekati Beno, Pak Sudono


terus saja tanpa henti memaki anaknya dengan kata-kata. Menghujani Beno


dengan kalimat yang menyakitkan. Hingga pada akhirnya, Pak Sudono pun


berkata, "Kalau tahu gedenya bakal begini, mending gak usah lahir

__ADS_1


sekalian." pak Sudono memaki dengan suara lantang, sembari menunjuk


Beno, anaknya yang sudah membuatnya begitu kecewa.


Mendengar ucapan Pak Sudono, sang istri menangis histeris. Ia tak menyangka bahwa


suaminya akan tega mengucapkan itu. Dan lebih jauh, ia tak menyangka


bahwa janjinya kepada Beno justru malah membawa keluarganya ke dalam


malapetaka.


Indah yang sebelumnya sudah tertidur, tetiba saja


terbangun. Ia menghampiri mereka. Berdiri dari kejauhan, sembari memeluk


erat boneka kecilnya. Indah tidak mengerti malapetaka apa yang sedang


menyelimuti keluarganya. Yang ia tahu, kakaknya sedang dimarahi


habis-habisan oleh ayahnya. Dan ibunya, yang terlihat sedang berusaha


setengah mati mencoba menenangkan ayahnya. Dan dirinya sendiri, yang


mulai meneteskan air mata karena merasa takut.


Sepertinya, unek-unek pak Sudono telah habis. Tak ada lagi kata makian yang keluar


dari bibirnya. Setelah puas menumpahkan semua amarah, kini pak Sudono


beranjak ke tempat lain. Menyisakan Beno, ibunya dan Indah di sana.


Masih mencoba menahan tangisannya, sang ibu mendekati Beno perlahan. Ekspresi


Beno sendiri tidak terlihat, karena ia menghadap ke arah tembok. Namun


sang ibu meyakini, Beno juga merasa sedih saat ini. Ia meyakini itu.


Karenanya, tidak seperti cara suaminya, ia memilih untuk lebih tenang


saat menghadapi Beno anaknya.


Sepanjang yang ibunya tahu, Beno


memang anak yang keras kepala. Saat ia menginginkan sesuatu, maka hal


itu harus dikabulkan. Karena jika tidak, Beno akan merajuk. Meski sudah


besar, sepertinya sifat buruknya yang satu itu belum bisa hilang. Tapi


sang ibu tahu, bahwa Beno juga adalah anak yang baik.


apa yang dilihatnya, boneka kecilnya pun masih ia peluk dengan erat.


Sedangkan sang ibu, mulai memberitahu perihal apa yang terjadi kepada


Beno. Ia mulai bercerita bahwa panen bulan ini gagal. Karena itu ibunya


pun meminta maaf, jika janjinya kepada Beno belum bisa ditepati. Tapi


ibunya tetap berjanji, jika musim panen berhasil, Beno akan tetap


dibelikan sepeda motor. Ibunya hanya meminta agar Beno bisa lebih sabar


sedikit lagi. Dan ibunya pun meminta kepada Beno untuk memaafkan


ayahnya. Mungkin ayahnya menjadi seperti itu karena sedang merasa


kesulitan. Hingga tak bisa mengontrol emosi.


Beno sendiri tidak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan bahasa isyarat seperti mengangguk


pun tidak. Benar-benar tidak ada jawaban apapun darinya. Meski begitu,


ibunya mengerti posisi Beno saat ini. Ia memaklumi jika Beno tidak mau


menggubris. Lagi pula, jika Beno mau mendengar ceritanya saja, bagi sang


ibu itu sudah lebih dari cukup. Ini adalah pertengkaran yang hebat.


Jelas akan membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula.


Keesokan harinya pun tiba. Ini adalah minggu pagi. Namun seperti biasa, pak


Sudono dan istri harus tetap keluar untuk menggarap sawah. Tidak ada


hari libur bagi mereka.


Sebelum berangkat menggarap sawah, tentu


sang ibu sudah pasti menyiapkan sarapan terlebih dahulu di rumah.


Mengingat tadi malam terjadi pertengkaran hebat, ia berinisiatif untuk


membuatkan sarapan favorit Beno dan ayahnya. Keduanya memiliki makanan


favorit yang sama, yakni tahu, tempe dan telur bacem. Berharap hari ini


keduanya bisa saling memaafkan dan seperti sedia kala, atau bahkan lebih


baik.

__ADS_1


Tapi saat sarapan bersama, Beno tidak hadir di sana. Meski


sang ibu sudah mencoba sekuat hati, Beno tetap merasa enggan. Alhasil,


sarapan kali ini hanya dihadiri pak Sudono, sang ibu dan Indah saja.


Setelah selesai sarapan, Pak Sudono dan istrinya berangkat ke sawah. Tapi hari


ini, Indah mendapat sebuah tugas kecil dari ibunya, yaitu membangunkan


kakaknya dan menyuruhnya untuk sarapan.


Indah yang masih berusia 6


tahun menganggap itu adalah sebuah misi yang besar. Karena itulah,


dirinya terus mencoba membangunkan Beno tanpa lelah. Dan akhirnya, Beno


pun terbangun.


Jujur saja, Beno tidak tidur nyenyak malam ini.


Bahkan sebenarnya, tanpa perlu dibangunkan sekalipun, Beno sudah bangun


sedari pagi buta tadi. Ia memikirkan satu hal yang terus saja tanpa


henti mengiang di kepalanya.


Beno tahu kalau kedua orang tuanya


sudah pergi. Karena itu, ia beranjak dari atas kasurnya yang sudah


lapuk. Lalu ia pun berkata kepada adik kecilnya, "Indah, kita main yuk."


Ajak Beno dengan intonasi yang bersahabat.


Indah yang mengerti maksud dari perkataan kakaknya pun mengangguk. Meski ia sendiri tidak


tahu permainan apa yang akan kakaknya mainkan. Indah hanya melihat


kakaknya menjadi sibuk sendiri mencari sesuatu. Hingga akhirnya, Indah


melihat kakaknya membawa sebuah kain, lalu mengikatnya ke wuwungan rumah


yang cukup tinggi.


Indah melihat kakaknya berdiri di atas sebuah


kursi. Indah juga melihat kakaknya memasukan kepalanya ke simpul kain


tersebut. Indah pun melihat kakaknya berdiri di sana sambil tersenyum


kepadanya. Lalu kakaknya pun berkata :


"Dek, ayunin mas dong."


Indah yang masih belum mengerti apa-apa, mengiyakan permintaan kakaknya


tersebut. Ia sedikit mendorong Beno ke belekang. Meski pelan, dorongan


itu sudah cukup membuat Beno kehilangan pijakan. Seketika, kain yang


menggantung tersebut langsung menjerat leher Beno dengan kuat. Dalam


beberapa saat, tubuh Beno seperti mengejang tak karuan. Matanya melotot,


serta mulutnya yang terbuka lebar di saat yang sama. Kemudian terdengar


suara pekikan pilu darinya.


Indah tidah tahu kakaknya sedang


melakukan apa. Tapi ketika kakaknya sudah tak lagi bergerak, Indah


mencoba memanggil nama kakaknya beberapa kali. Nada suaranya semakin


mengencang memanggil nama kakaknya. Semakin mengencang. Dan semakin


mengencang. Hingga terasa pilu saat Indah meneriakan nama kakaknya


sembari menangis.


Tak lama berselang, beberapa tetangga mencoba


masuk ke dalam rumah pak Sudono. Dan mereka semua melihat sebuah


kenyataan yang memilukan.


Bahwa Beno...


Sudah mati bunuh diri


END.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2