
Sedikit hal mengenai apa yang akan diceritakan di dalam kisah ini. Bahwa kita sebagai manusia, hidup berdampingan dengan dunia gaib yang tak kasat mata. Meski tidak bisa melihat keberadaan mereka karena berbeda alam, tapi alangkah lebih bijak jika kita tetap menghormati mereka sebagaimana kita yang ingin dihormati oleh orang lain. Saat memasuki tempat-tempat yang biasanya mereka bersemayam, ucapkanlah salam atau permisi. Jangan sampai melakukan hal ceroboh yang nantinya malah akan merugikan diri kita sendiri. Seperti di dalam kisah ini, yang akan menceritakan seorang pria paruh baya yang mengalami hal mistis karena telah bertindak sembrono di sebuah pekarangan rumah kosong.
Namanya adalah Pak Toro. Usianya saat ini sudah menginjak 52 tahun. Ia tinggal di sebuah kampung yang berada di Sleman, Jogjakarta. Pak Toro yang bekerja sebagai buruh pasar, diminta untuk ikut mengambil suplai sayur dan rempah-rempah dari Boyolali dengan ikut menaiki truk engkel milik seorang juragan di sana. Sedari jam 7 pagi tadi, Pak Toro terus disibukkan dengan tugas angkut-mengangkut barang. Mulai dari mengangkut cabai, bawang putih, bawang merah, lengkuas dan belasan jenis sayur rempah lainnya.
Sementara anak sang juragan yang bernegosiasi dalam pembelian barang, Pak Toro terus hilir mudik mengangkut barang-barang yang sudah sah dibeli. Baju kaos usang berwarna krem yang kini ia pakai pun, sudah begitu kotor dengan bercak tanah yang menempel di sekujur pakaian. Keringat tentu mengalir deras membasuh kulit kusamnya pula. Dan setelah semua barang yang terdaftar berhasil dibeli dan dimasukan ke dalam mobil, sang anak juragan mulai memacu mobilnya untuk kembali ke Sleman, bersama dengan Pak Toro yang menumpang di sampingnya.
Sesampainya kembali di Sleman, tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saat ini, Pak Toro sedang berada di gudang sayur milik sang juragan. Jika di Boyolali tadi Pak Toro bertugas untuk menaikkan barang ke atas mobil, kini Pak Toro memiliki tugas untuk menurunkan barang dari mobil ke dalam gudang. Dengan dibantu satu buruh pasar lain, mereka berdua mulai menurunkan barang-barang satu persatu.
Sekiranya sudah jam 4 sore, pekerjaan Pak Toro akhirnya selesai. Setelah menerima upahnya, Pak Toro mengambil waktu sebentar untuk istirahat sembari mengobrol-ngobrol di sana. Hanya sebuah obrolan ringan di penghujung hari, sebuah percakapan ngalor-ngidul yang mengisi suasana petang. Dan setelah setengah jam berlalu, Pak Toro pun berpamitan kepada siapapun yang ada di sana. Lalu ia mulai menggowes sepeda ontel tua miliknya menuju rumah dengan santai.
Pekerjaan mencari nafkah hari ini sudah selesai, setidaknya Pak Toro beranggapan demikian. Tapi saat ia menggowes sepedanya dengan santai, terbesitlah satu hal yang melintas dalam benaknya. Pak Toro pun bergumam pelan dengan berkata, “Owalah, lupa aku. Tadi pagi belum ngasih makan wedus aku.” Ya, meski tugas mencari nafkah hari ini sudah selesai, tapi Pak toro masih punya satu pekerjaan lain yang belum ia tuntaskan, yaitu mencari rumput untuk pakan ternak kambing miliknya. Pak Toro yakin, 2 kambing miliknya saat ini pasti belum diberi makan.
Pagi tadi Pak Toro bangun kesiangan. Tanpa melakukan persiapan apapun, hanya cuci muka dan menyisir rambut, Pak Toro langsung bergegas menggowes sepedanya menuju pasar dengan tergesa-gesa. Ia takut dengan pepatah yang mengatakan ‘Jangan Terlambat. Nanti Rezekimu Bisa Dipatuk Ayam’. Ia takut rezeki untuknya diambil orang lain karena kesiangan. Sebagai buruh pasar, nasib Pak Toro memang bertaruh dengan waktu. Karena itulah, tanpa persiapan apapun, Pak Toro langsung bergegas menuju pasar. Dan sebagai gantinya, Pak Toro pun jadi kelupaan memberi makan 2 kambingnya pagi ini.
Dan setelah mengingat hal itu, Pak Toro pun mulai mengayuh sepedanya lebih cepat lagi.
15 menit kemudian, Pak Toro akhirnya sampai di rumah. Ia pun melihat istrinya sedang menyapu di beranda. Kepada istrinya, Pak Toro pun berkata, "Kambing udah dikasih makan?" Tanya beliau yang masih berada di atas sepeda.
Berhenti menyapu sejenak, sang istri pun menjawab, "Belum mas."
Mendengar jawaban istrinya barusan, Pak Toro pun memarkirkan sepedanya sejenak. Lalu ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil arit dan sebuah Bronjong, atau tas yang biasanya dipakai untuk membawa barang barang dengan meletakkannya di bagian belakang jok sepeda atau motor.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Pak Toro kembali berjalan keluar. Ia menghampiri sepedanya lagi dan mulai menaikinya. Setelah siap, Pak Toro pun berkata kepada istrinya dengan berucap, "Bu, aku mau cari suket dulu." Ucap Pak Toro pamit untuk mencari rumput buat kambing peliharaan. Sang istri hanya membalas dengan berkata hati-hati. Lalu dengan satu gerakan awal, sepeda Ontel tua itupun mulai melaju lagi.
Di bawah langit petang yang kira-kira berada pada pukul 5, Pak Toro terus mengayuh sepedanya sembari melirik-lirik sekitar. Ia berniat untuk mencari rumput di daerah yang dekat-dekat saja. Raganya terasa begitu lelah karena beban kerja seharian ini yang lebih. Dengan mengarit di tempat yang dekat, Pak Toro pikir tugasnya akan cepat selesai dengan segera.
Sebagai informasi, biasanya Pak Toro akan mengayuh sepedanya sejauh 2 km untuk mencari suket atau rerumputan untuk hewan ternak. Di tempat itu, sejauh mata memandang, rerumputan liar memang bertebaran dimana-mana, rumputnya pun dapat diarit sesuka hati pula. Di hari-hari biasa, memang Pak Toro akan pergi ke sana untuk mengarit. Tapi untuk hari ini, Pak Toro merasa enggan melakukan itu. Ia sudah keburu jengah memikirkan lokasinya saja yang sudah jauh. Tekadnya kini sudah bulat, bahwa ia akan mencari rumput sekedarnya dan di tempat yang ala kadarnya pula.
__ADS_1
Lalu saat melirik-lirik sekitar sembari mengayuh sepeda, Pak Toro melihat sebuah pekarangan cukup luas dengan rerumputan liar yang tumbuh subur di sana. Tapi jika dilihat dengan seksama, ada rumah kosong berukuran cukup besar yang berdiri di sampingnya. Penampakan rumah kosong itupun cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri saat memandangnya.
Tapi seakan sudah kehilangan rasa takut, Pak Toro justru melipir memasuki pekarangan rumah itu. Dan saat ia ingin memarkirkan sepedanya di pinggiran tembok, Pak Toro pun melihat jelas ada 3 kuburan yang bersemayam di sana. Sepertinya, kuburan di sana merupakan sebuah makam keluarga. Jadi setelah rumah itu tak berpenghuni lagi, makam keluarga itupun menjadi terbengkalai sekarang.
Rumah kosong yang bersanding dengan makam keluarga, normalnya siapapun akan menghindari lokasi itu. Tapi seakan tak peduli dengan itu semua, Pak Toro justru memilih untuk pantang mundur. Dan setelah memarkirkan sepedanya di sana, Pak Toro pun mulai mengeluarkan arit. Lalu tanpa basa-basi seperti mengucapkan salam atau sekedar permisi, Pak Toro mulai memotong rerumputan di sana dengan cekatan.
Satu jumput, belasan jumput, bahkan puluhan jumput, Pak Toro terus mengarit rerumputan liar di sana dengan telaten. Bahkan tanpa rasa takut, Pak Toro melangkahi kuburan di sana berkali-kali. Hilir mudik ke setiap sudut membabat rumput yang masih bisa di arit.
Bahkan bukan cuma hanya itu, Pak Toro pun dengan santainya mengarit rumput dengan menduduki sebuah makam. Seakan tidak takut atau merasa bersalah, Pak Toro terus bersikap demikian. Hingga akhirnya, tas bronjong itupun kini sudah terpenuhi oleh rerumputan liar yang barusan ia babat.
Merasa cukup, akhirnya Pak Toro pun memustuskan untuk pulang.
Setelah yakin bahwa tas bronjongnya tidak miring dan berat sebelah, Pak Toro mulai mengangkat kakinya menaiki sepeda. Setelah duduk, ia sempat melirik lagi ke belakang memastikan barang bawaannya aman. Lalu dengan menitik beratkan ancang-ancang di kakinya, Pak Toro mulai mengayuh sepedanya dengan santai.
Di dalam perjalan pulang, pak Toro pun bergumam dalam hati dengan berbisik, "Untung di rumah kosong itu banyak rumput. Jadi gak perlu jauh-jauh aku nyari suket. Gak perlu capek-capek." Ucapnya lega dalam hati. Ia pun terus mengayuh santai sepedanya di bawah langit senja, yang mana malam akan membentang sebentar lagi.
Seharusnya, saat ini Pak Toro sudah sampai di rumah sejak 30 menit lebih yang lalu. Menilik jarak rumahnya ke rumah kosong tadi, seharusnya Pak Toro hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja untuk pulang. Tapi setelah satu jam berlalu, Pak Toro tidak kunjung sampai-sampai ke rumahnya.
Di bawah langit malam yang sudah membentang kini, Pak Toro masih terus mengayuh sepedanya dengan cucuran keringat yang mengalir deras. Bahkan anehnya, selama di perjalanan pulang, Pak Toro tidak melihat satupun warga yang melintas di sana. Lampu penerangan rumah-rumah warga memang menyala seiring datangnya malam. Tapi ia baru menyadari kini, bahwa selama ia menggowes sepedanya, tidak ada satupun warga yang terlihat melintas di sana.
Tentu Pak Toro menjadi bingung karenanya. Padahal saat berangkat tadi, ia sadar bahwa masih banyak orang yang lalu lalang. Tapi saat pulang, kenapa kampung halamannya seperti kota mati sekarang?
Dan lagi, ia merasa kenapa pula perjalanannya menuju rumah tak sampai-sampai kini? Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal, jarak ke rumahnya cukuplah dekat.
Hingga akhirnya, 1 jam berikutnya pun berlalu.
Saat ini waktu kurang lebih menunjukkan pukul 7 malam. Pak Toro masih mengayuh sepedanya dengan lemas. Dirinya yang seakan seperti kesasar pun, akhirnya melihat seseorang di ujung sana sedang berjalan. Siluet orang itu pun datang bersamaan dengan suara kumandang adzan yang mulai terdengar.
__ADS_1
Dapat mendengar suara adzan dan melihat seseorang di sana, Pak Toro pun tetiba saja merasa bahagia di dalam hati. Dengan segera, ia pun mulai bergegas menghampiri sosok itu yang masih jauh di ujung. Dan saat Pak Toro mulai dekat, akhirnya ia tahu kalau sosok itu adalah anaknya sendiri.
Kepada ayahnya, sang anak pun berkata, "Kemana aja toh pak'e? Udah malem gini kok belum pulang-pulang? Bapak nyari rumput dimana? Kok lama emen?" Ucap putra Pak Toro satu-satunya ini, yang baru pulang bekerja dengan khawatir. Ia mulai berkeliling kala sang ibu menyuruhnya mencari keberadaan Pak Toro yang tak kunjung pulang tadi.
Lalu dengan perasaan bingung, Pak Toro pun menjawab dengan berkata, "Bapak juga gak ngerti. Padahal bapak ngarit rumput deket kok. Tapi pas pulang, kenapa bapak malah gak sampai-sampai?" Ucapnya dengan sesekali menengok ke belakang.
Dan ada satu keanehan lain yang terjadi kini. Saat Pak Toro sudah bertemu dengan anaknya, secara perlahan, situasi di sekitar Pak Toro mulai ramai orang yang lalu lalang. Pengendara sepeda motor pun mulai melintas acap kali sekarang. Entah apa yang sebenarnya terjadi kepada Pak Toro barusan. Masih merasa bingung, Pak Toro pun mulai beranjak dari sana dengan ditemani anaknya menuju rumah.
Lalu sesampainya di rumah, Pak Toro memberitakan apa yang baru saja ia alami kepada sang istri. Menjelaskan semua hal dengan serinci mungkin. Termasuk saat ia melipir ke pekarangan rumah kosong untuk mengarit rumput. Termasuk pula saat ia melangkahi dan menduduki makam. Tak lupa juga ia bercerita bahwa dirinya tidak mengucapkan salam saat melakukan itu semua. Dan kepada Pak Toro, sang istri pun menasehatinya dengan berseraya, "Lain kali, kalau mau masuk ke tempat-tempat kayak gitu, ucap salam dulu pak, seenggaknya bilang permisi. Bapak juga gak boleh langkahin kuburan, apalagi duduk di atas kuburannya, pamali. Apa yang bapak alami tadi, pasti karena itu. Lain kali jangan sembrono pak. Eling." Ucap istrinya barusan panjang lebar menasehati.
Pak Toro tidak bisa melakukan apapun selain mendengarkan. Apa yang istrinya ucapkan barusan rasanya memang benar. Dengan kejadian mistis yang ia alami tadi, akhirnya Pak Toro menjadi sadar bahwa ia tidak bisa bersikap seenaknya saja. Ada alam lain yang tercipta bersandingan dengan alam manusia. Ada makhluk tak kasat mata yang hidup berdampingan dengan manusia. Kejadian hari ini menyadarkan Pak Toro, bahwa selayaknya ia sebagai manusia yang ingin dihormati, maka dirinya pun harus bisa menghormati keberadaan yang lainnya dengan baik.
TAMAT.
\===============================
## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)
## Sekali lagi terima kasih banyak :)
\===============================
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw