
Setelah melakukan
perjalanan selama 5 jam serta bertanya kesana kemari, akhirnya mereka
sampai di lokasi pegunungan. Jika melihat sekitar, kurang lebih lokasi
dimana mereka ada saat ini sama persis seperti ancang-ancang yang
digambarkan di secarik kertas pemberian salah satu perwakilan warga desa
Abimantrana dulu. Ya, mereka saat ini telah sampai di Hutan
Abimantrana.
Tapi ketika memandang ke sekeliling, mereka hanya melihat hutan disekitar.
Bahkan jalan setapak yang mereka pijak hingga ke ujung sana terlihat
kotor oleh dedaunan, yang menandakan bahwa lokasi itu jarang dilalui
oleh orang-orang. Dan memang benar, tempat dimana mereka berada sekarang
terlihat sangat sepi dan hening. Jangankan lalu lalang kendaraan,
mencari masyarakat sekitar yang lewat saja tidak ada.
Merasa salah alamat, Abil dan yang lain memutuskan untuk berbalik arah dan mencari lokasi lain.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Abil dan yang lain sudah bertanya
kesana kemari mencari letak desa Abimantrana selama 3 jam, namun usaha
itu berakhir nihil.
Setiap kali mereka bertanya kepada warga sekitar atau siapapun yang mereka
temui, orang-orang itu menjawab dengan jawaban yang sama. Bahwa di sana
tidak ada desa yang bernama Abimantrana. Desa Abimantrana tidak pernah
ada. Kalaupun ada jawaban yang lain, mereka akan diarahkan menuju Hutan
Abimantrana lagi, hutan yang memiliki atmosfer senyap. Serta hutan yang
dianggap tabu untuk dimasuki oleh warga sekitar.
Melihat kenyataan yang tidak sesuai harapan, teman-teman Abil mulai memprotes.
Terutama Hagia, yang memang dekat dengan Abil sedari SMP. Karena merasa
dibohongi, Hagia menggerutu di sepanjang jalan.
Abil juga merasa bersalah karena tidak melakukan survey lokasi terlebih
dahulu sebelumnya. Ia percaya begitu saja kepada denah yang ditulis di
secarik kertas itu tanpa memikirkan medan perjalanannya terlebih dahulu.
Alih-alih memastikan lokasi KKN serinci mungkin, Abil justru disibukkan
dengan mempertanyakan masalah apa saja yang sedang terjadi di desa itu.
Dengan maksud menggali informasi untuk dijadikan proposal nantinya.
Karena kenaifannya tersebut, maka inilah akibatnya.
Merasa patah arang, Abil meminta sang supir untuk melipir sebentar ke warung
kecil dipinggir jalan. Abil berniat rehat sejenak di sana. Setelah
memarkirkan mobil, Abil dan yang lain berbondong-bondong turun lalu
menghampiri warung.
Kehadiran mereka disambut baik oleh sang pemilik warung yang seorang wanita
berusia agak senja. Setelah tahu pesanan apa yang diinginkan oleh Abil
serta yang lain, sang pemilik warung mulai membuatkan teh manis hangat
juga menyiapkan beberapa porsi makanan berat.
Disela-sela saat menyiapkan pesanan, sang pemilik warung mencoba beramah tamah,
dengan bertanya apa gerangan yang membuat Abil dan yang lain datang ke
desa mereka. Karena dengan memakai almamater kampus, memarkirkan mobil
serta membawa gembolan tas, tentu pemilik warung yakin kalau Abil dan
yang lain memiliki tujuan.
Lalu dengan intonasi yang ramah pula, Abil menjawab pertanyaan ibu pemilik
warung itu dengan mengatakan, bahwa mereka adalah mahasiswa yang sedang
mencari lokasi KKN. Dan jawaban tersebut sepertinya langsung bisa
dipahami oleh beliau.
Saat pemilik warung mulai mengantarkan pesanan mereka satu persatu, Abil pun
bertanya kepada beliau dengan bertutur, "Bu maaf, ibu tau gak lokasi
desa Abimantrana?"
Tentu kali ini Abil berharap lebih, berharap kalau beliau akan menjawab
pertanyaannya dengan jawaban yang menyenangkan. Tapi sama seperti
__ADS_1
orang-orang sebelumnya, beliau juga menggelengkan kepala. Dengan
intonasi yang rendah, beliau menjawab, "Maaf mas, setahu ibu, di sini
gak ada desa yang namanya Abimantrana. Paling adanya hutan Abimantrana."
Lagi, Abil dan yang lain dibuat kecewa.
"Tuh kan, kayaknya elu tuh salah deh. Mungkin elu salah nulis alamat, atau
mungkin desa Abimantrana adanya bukan di sini. Masa kita mau KKN di
hutan?" Timpal Hagia barusan dengan nada bicara yang ketus kepada Abil.
Jika dilihat-lihat, sepertinya Hagia adalah orang yang paling jengkel
saat ini. Sedangkan Abil yang menjadi bulan-bulanan, telah meminta maaf
sekali lagi lalu mencoba membela diri.
Melihat perdebatan diantara mereka, pemilik warung lalu meneruskan dengan
berkata, "Tapi seinget ibu ya, sekitar 2 tahun yang lalu juga ada
mahasiswa kayak kalian nyari desa Abimantrana. Tapi waktu itu jumlahnya 5
orang."
Mendengar cerita barusan, Abil langsung menimpal, "Nah, terus mereka ketemu desanya gak Bu?"
Beliau pun menjawab, "Ya sama kayak kalian, ibu jawab desa Abimantrana itu gak
ada. Abis itu, ibu gak tau mereka pergi kemana." Tutur beliau dengan
meyakinkan, hingga membuat wajah para mahasiswa itu kembali kecewa.
Termasuk ibu si pemilik warung, Abil dan teman-temannya kini sudah bertanya ke
lebih dari 20 orang. Menanyai mereka dengan pertanyaan yang sama. Tapi
dengan kompak, orang-orang yang mereka tanyai menegaskan, bahwa desa
Abimantrana itu memang tidak ada.
Mungkin kenyataan itu menyakitkan bagi para mahasiswa yang akan KKN ini,
terutama bagi Abil. Kendati kenyataannya demikian, Abil percaya kalau
masih ada harapan untuk menemukan desa itu. Karenanya, Abil bertanya
sekali kepada beliau. Kali ini dengan nada lirih, Abil berkata, "Bu,
serius desa itu gak ada?"
Sama seperti Abil yang kekeh, Beliau pun sekali lagi menegaskan dengan
jawab beliau dengan tegas. Lalu beliau pun melanjutkan kalimatnya dengan
bertutur, "Tapi kata leluhur ibu, dulu katanya deket sini emang ada
desa yang namanya Abimantrana. Tapi katanya. Karena ibu yang udah setua
ini aja, gak pernah nemu desa itu. Paling itu cuma mitos. Cuma cerita
leluhur."
Mendengar penjelasan ibu si pemilik warung barusan, membuat Hagia merasa semakin
jengah dengan Abil. Dengan intonasi menyindir, Hagia pun berceletuk,
"Abil Abil. Niat KKN gak sih lu? Desanya aja gak ada. Apa jangan-jangan
desanya itu desa gaib? Mau beresin masalah apa di sana? Pertanian? Lu
pikir, setan jual beli sayur kol?"
Untungnya Abil bisa membaca situasi. Alih-alih membela diri dengan ngotot, Abil
justru tidak membalas ejekan Hagia. Abil tahu, semua teman-temannya
sudah lelah dan kecewa. Jadi Abil tidak ingin bertingkah yang nantinya
bisa memperkeruh suasana. Karenanya, ia memilih untuk diam.
Setelah menghabiskan santapan yang mereka pesan, Abil mengambil dompet di saku
celananya, merogoh beberapa lembar uang kertas, lalu membayar semua
tagihan. Pemilik warung yang tidak memiliki kembalian pun meminta
sedikit waktu untuk menukarkan uang receh. Abil dan yang lain pun
menunggu.
Sembari menunggu pemilik warung kembali, tidak ada sedikitpun suara celoteh di
sana. Abil, Estu, Hagia dan Dian tidak saling bicara. Masing-masing dari
mereka terdiam, membuat suasana di sana menjadi hening dan agak
canggung. Tapi apa yang mereka ekspresikan saat ini rasanya adalah hal
normal. Karena mau bagaimanapun, saat ini mereka semua sedang diselimuti
oleh rasa kecewa.
Setelah susah payah membuat proposal, mempersiapkan segala hal, melakukan
perjalanan yang cukup jauh, lalu mencari lokasi KKN selama berjam-jam,
__ADS_1
namun pada akhirnya semua usaha itu berakhir nihil. Jujur, asa di dalam
benak mereka mulai memudar. Apalagi Abil. Bukan hanya patah semangat, ia
juga harus menanggung malu kepada temannya juga pihak kampus, jika
rencana KKN-nya ini sampai gagal.
Dan saat mereka semua termenung dengan tatap mata yang kosong, datanglah 3
sosok laki-laki yang bertelanjang kaki menghampiri mereka. 3 sosok
laki-laki itu berpakaian lusuh, penampilan mereka pun terlihat lusuh
pula.
Tapi siapa sangka, kehadiran salah seorang dari 3 laki-laki itu justru membuat
wajah Abil menjadi sumringah. Asa di dalam benak Abil yang sebelumnya
memudar, kini langsung berkobar kembali. Seketika mengubah wajah
murungnya, menjadi senyuman yang merekah. Sembari tersenyum, Abil pun
langsung berucap, "Pak Tomo, ya?"
Benar. Salah satu dari ketiga orang itu bernama, Pak Tomo. Seorang pria paruh
baya yang satu pupil matanya terlihat memutih. Dan dengan ramah, Pak
tomo pun menyapa, "Mas... Abil kan?"
Lalu dengan lugas, Abil menjawab pertanyaan Pak Tomo dengan anggukan yang antusias.
Lantas, siapakah orang-orang ini?
Pak Tomo sendiri adalah orang yang pernah datang ke kosan dimana Abil
tinggal. Pada mulanya, Pak Tomo datang sebagai tamu pemilik kost waktu
itu. Bahkan Abil sendiri pernah melihatnya sedang mengobrol dengan si
pemilik hunian di beranda. Pak Tomo juga terlihat lebih rapih
penampilannya kala itu. Hingga di suatu hari, Abil mendapat kesempatan
berbicara dengan Pak Tomo atas saran dari si pemilik kost. Abil yang
sering mencurahkan kegelisahannya perihal KKN ke ibu kost, nyatanya
berita itu langsung di sampaikan kepada Pak Tomo. Lalu di hari kemudian,
Pak Tomo menawari Abil untuk KKN di desanya. Abil yang sedang
uring-uringan pun menganggap bahwa Pak Tomo adalah jawaban atas segala
harapannya. Jadi tanpa pikir panjang, Abil menyetujui tawaran tersebut
dan mulai mencari anggota KKN.
Dan pada akhirnya, mereka semua bertemu di momen ini.
Dengan raut wajah heran, Pak Tomo kembali melanjutkan kalimatnya dengan
bertanya, "Kemana aja loh mas? Padahal saya daritadi udah nunggu di
titik kita ketemuan."
Dengan terkekeh pelan sembari meminta maaf, Abil pun menjelaskan dengan
berkata, "Tadi saya udah sampai di sana pak. Di depan hutan Abimantrana
kan? Cuma karena saya kira salah alamat, jadi saya sama yang lain
nyari-nyari lokasi lagi."
Mendengar alasan Abil, 3 sosok laki-laki itupun saling melihat satu sama lain.
Tapi pada akhirnya, mereka memaklumi kesalahpahaman tersebut. Lalu Pak
Tomo pun mengajak mereka menuju desa. "Mas Abil, mari saya antar ke desa
Abimantrana. Takut keburu malam."
Dengan segera, Abil menyuruh teman-temannya untuk bergegas. Estu, Hagia dan
Dian hanya menuruti perintahnya sembari bertanya-tanya di dalam hati.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil satu persatu.
Abil tentu masih ingat dengan ibu pemilik warung yang belum kembali. Tapi
Abil mengikhlaskan uang kembalian 37 ribunya yang belum dikembalikan
tersebut. Abil menghiraukannya dan memilih untuk bergegas menuju desa
tujuan dengan segera.
Dan dengan menumpang di satu mobil yang sama, mereka semua kini menuju Desa Abimantrana.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1