Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 2)


__ADS_3

Setelah melakukan


perjalanan selama 5 jam serta bertanya kesana kemari, akhirnya mereka


sampai di lokasi pegunungan. Jika melihat sekitar, kurang lebih lokasi


dimana mereka ada saat ini sama persis seperti ancang-ancang yang


digambarkan di secarik kertas pemberian salah satu perwakilan warga desa


Abimantrana dulu. Ya, mereka saat ini telah sampai di Hutan


Abimantrana.


Tapi ketika memandang ke sekeliling, mereka hanya melihat hutan disekitar.


Bahkan jalan setapak yang mereka pijak hingga ke ujung sana terlihat


kotor oleh dedaunan, yang menandakan bahwa lokasi itu jarang dilalui


oleh orang-orang. Dan memang benar, tempat dimana mereka berada sekarang


terlihat sangat sepi dan hening. Jangankan lalu lalang kendaraan,


mencari masyarakat sekitar yang lewat saja tidak ada.


Merasa salah alamat, Abil dan yang lain memutuskan untuk berbalik arah dan mencari lokasi lain.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Abil dan yang lain sudah bertanya


kesana kemari mencari letak desa Abimantrana selama 3 jam, namun usaha


itu berakhir nihil.


Setiap kali mereka bertanya kepada warga sekitar atau siapapun yang mereka


temui, orang-orang itu menjawab dengan jawaban yang sama. Bahwa di sana


tidak ada desa yang bernama Abimantrana. Desa Abimantrana tidak pernah


ada. Kalaupun ada jawaban yang lain, mereka akan diarahkan menuju Hutan


Abimantrana lagi, hutan yang memiliki atmosfer senyap. Serta hutan yang


dianggap tabu untuk dimasuki oleh warga sekitar.


Melihat kenyataan yang tidak sesuai harapan, teman-teman Abil mulai memprotes.


Terutama Hagia, yang memang dekat dengan Abil sedari SMP. Karena merasa


dibohongi, Hagia menggerutu di sepanjang jalan.


Abil juga merasa bersalah karena tidak melakukan survey lokasi terlebih


dahulu sebelumnya. Ia percaya begitu saja kepada denah yang ditulis di


secarik kertas itu tanpa memikirkan medan perjalanannya terlebih dahulu.


Alih-alih memastikan lokasi KKN serinci mungkin, Abil justru disibukkan


dengan mempertanyakan masalah apa saja yang sedang terjadi di desa itu.


Dengan maksud menggali informasi untuk dijadikan proposal nantinya.


Karena kenaifannya tersebut, maka inilah akibatnya.


Merasa patah arang, Abil meminta sang supir untuk melipir sebentar ke warung


kecil dipinggir jalan. Abil berniat rehat sejenak di sana. Setelah


memarkirkan mobil, Abil dan yang lain berbondong-bondong turun lalu


menghampiri warung.


Kehadiran mereka disambut baik oleh sang pemilik warung yang seorang wanita


berusia agak senja. Setelah tahu pesanan apa yang diinginkan oleh Abil


serta yang lain, sang pemilik warung mulai membuatkan teh manis hangat


juga menyiapkan beberapa porsi makanan berat.


Disela-sela saat menyiapkan pesanan, sang pemilik warung mencoba beramah tamah,


dengan bertanya apa gerangan yang membuat Abil dan yang lain datang ke


desa mereka. Karena dengan memakai almamater kampus, memarkirkan mobil


serta membawa gembolan tas, tentu pemilik warung yakin kalau Abil dan


yang lain memiliki tujuan.


Lalu dengan intonasi yang ramah pula, Abil menjawab pertanyaan ibu pemilik


warung itu dengan mengatakan, bahwa mereka adalah mahasiswa yang sedang


mencari lokasi KKN. Dan jawaban tersebut sepertinya langsung bisa


dipahami oleh beliau.


Saat pemilik warung mulai mengantarkan pesanan mereka satu persatu, Abil pun


bertanya kepada beliau dengan bertutur, "Bu maaf, ibu tau gak lokasi


desa Abimantrana?"


Tentu kali ini Abil berharap lebih, berharap kalau beliau akan menjawab


pertanyaannya dengan jawaban yang menyenangkan. Tapi sama seperti

__ADS_1


orang-orang sebelumnya, beliau juga menggelengkan kepala. Dengan


intonasi yang rendah, beliau menjawab, "Maaf mas, setahu ibu, di sini


gak ada desa yang namanya Abimantrana. Paling adanya hutan Abimantrana."


Lagi, Abil dan yang lain dibuat kecewa.


"Tuh kan, kayaknya elu tuh salah deh. Mungkin elu salah nulis alamat, atau


mungkin desa Abimantrana adanya bukan di sini. Masa kita mau KKN di


hutan?" Timpal Hagia barusan dengan nada bicara yang ketus kepada Abil.


Jika dilihat-lihat, sepertinya Hagia adalah orang yang paling jengkel


saat ini. Sedangkan Abil yang menjadi bulan-bulanan, telah meminta maaf


sekali lagi lalu mencoba membela diri.


Melihat perdebatan diantara mereka, pemilik warung lalu meneruskan dengan


berkata, "Tapi seinget ibu ya, sekitar 2 tahun yang lalu juga ada


mahasiswa kayak kalian nyari desa Abimantrana. Tapi waktu itu jumlahnya 5


orang."


Mendengar cerita barusan, Abil langsung menimpal, "Nah, terus mereka ketemu desanya gak Bu?"


Beliau pun menjawab, "Ya sama kayak kalian, ibu jawab desa Abimantrana itu gak


ada. Abis itu, ibu gak tau mereka pergi kemana." Tutur beliau dengan


meyakinkan, hingga membuat wajah para mahasiswa itu kembali kecewa.


Termasuk ibu si pemilik warung, Abil dan teman-temannya kini sudah bertanya ke


lebih dari 20 orang. Menanyai mereka dengan pertanyaan yang sama. Tapi


dengan kompak, orang-orang yang mereka tanyai menegaskan, bahwa desa


Abimantrana itu memang tidak ada.


Mungkin kenyataan itu menyakitkan bagi para mahasiswa yang akan KKN ini,


terutama bagi Abil. Kendati kenyataannya demikian, Abil percaya kalau


masih ada harapan untuk menemukan desa itu. Karenanya, Abil bertanya


sekali kepada beliau. Kali ini dengan nada lirih, Abil berkata, "Bu,


serius desa itu gak ada?"


Sama seperti Abil yang kekeh, Beliau pun sekali lagi menegaskan dengan


jawab beliau dengan tegas. Lalu beliau pun melanjutkan kalimatnya dengan


bertutur, "Tapi kata leluhur ibu, dulu katanya deket sini emang ada


desa yang namanya Abimantrana. Tapi katanya. Karena ibu yang udah setua


ini aja, gak pernah nemu desa itu. Paling itu cuma mitos. Cuma cerita


leluhur."


Mendengar penjelasan ibu si pemilik warung barusan, membuat Hagia merasa semakin


jengah dengan Abil. Dengan intonasi menyindir, Hagia pun berceletuk,


"Abil Abil. Niat KKN gak sih lu? Desanya aja gak ada. Apa jangan-jangan


desanya itu desa gaib? Mau beresin masalah apa di sana? Pertanian? Lu


pikir, setan jual beli sayur kol?"


Untungnya Abil bisa membaca situasi. Alih-alih membela diri dengan ngotot, Abil


justru tidak membalas ejekan Hagia. Abil tahu, semua teman-temannya


sudah lelah dan kecewa. Jadi Abil tidak ingin bertingkah yang nantinya


bisa memperkeruh suasana. Karenanya, ia memilih untuk diam.


Setelah menghabiskan santapan yang mereka pesan, Abil mengambil dompet di saku


celananya, merogoh beberapa lembar uang kertas, lalu membayar semua


tagihan. Pemilik warung yang tidak memiliki kembalian pun meminta


sedikit waktu untuk menukarkan uang receh. Abil dan yang lain pun


menunggu.


Sembari menunggu pemilik warung kembali, tidak ada sedikitpun suara celoteh di


sana. Abil, Estu, Hagia dan Dian tidak saling bicara. Masing-masing dari


mereka terdiam, membuat suasana di sana menjadi hening dan agak


canggung. Tapi apa yang mereka ekspresikan saat ini rasanya adalah hal


normal. Karena mau bagaimanapun, saat ini mereka semua sedang diselimuti


oleh rasa kecewa.


Setelah susah payah membuat proposal, mempersiapkan segala hal, melakukan


perjalanan yang cukup jauh, lalu mencari lokasi KKN selama berjam-jam,

__ADS_1


namun pada akhirnya semua usaha itu berakhir nihil. Jujur, asa di dalam


benak mereka mulai memudar. Apalagi Abil. Bukan hanya patah semangat, ia


juga harus menanggung malu kepada temannya juga pihak kampus, jika


rencana KKN-nya ini sampai gagal.


Dan saat mereka semua termenung dengan tatap mata yang kosong, datanglah 3


sosok laki-laki yang bertelanjang kaki menghampiri mereka. 3 sosok


laki-laki itu berpakaian lusuh, penampilan mereka pun terlihat lusuh


pula.


Tapi siapa sangka, kehadiran salah seorang dari 3 laki-laki itu justru membuat


wajah Abil menjadi sumringah. Asa di dalam benak Abil yang sebelumnya


memudar, kini langsung berkobar kembali. Seketika mengubah wajah


murungnya, menjadi senyuman yang merekah. Sembari tersenyum, Abil pun


langsung berucap, "Pak Tomo, ya?"


Benar. Salah satu dari ketiga orang itu bernama, Pak Tomo. Seorang pria paruh


baya yang satu pupil matanya terlihat memutih. Dan dengan ramah, Pak


tomo pun menyapa, "Mas... Abil kan?"


Lalu dengan lugas, Abil menjawab pertanyaan Pak Tomo dengan anggukan yang antusias.


Lantas, siapakah orang-orang ini?


Pak Tomo sendiri adalah orang yang pernah datang ke kosan dimana Abil


tinggal. Pada mulanya, Pak Tomo datang sebagai tamu pemilik kost waktu


itu. Bahkan Abil sendiri pernah melihatnya sedang mengobrol dengan si


pemilik hunian di beranda. Pak Tomo juga terlihat lebih rapih


penampilannya kala itu. Hingga di suatu hari, Abil mendapat kesempatan


berbicara dengan Pak Tomo atas saran dari si pemilik kost. Abil yang


sering mencurahkan kegelisahannya perihal KKN ke ibu kost, nyatanya


berita itu langsung di sampaikan kepada Pak Tomo. Lalu di hari kemudian,


Pak Tomo menawari Abil untuk KKN di desanya. Abil yang sedang


uring-uringan pun menganggap bahwa Pak Tomo adalah jawaban atas segala


harapannya. Jadi tanpa pikir panjang, Abil menyetujui tawaran tersebut


dan mulai mencari anggota KKN.


Dan pada akhirnya, mereka semua bertemu di momen ini.


Dengan raut wajah heran, Pak Tomo kembali melanjutkan kalimatnya dengan


bertanya, "Kemana aja loh mas? Padahal saya daritadi udah nunggu di


titik kita ketemuan."


Dengan terkekeh pelan sembari meminta maaf, Abil pun menjelaskan dengan


berkata, "Tadi saya udah sampai di sana pak. Di depan hutan Abimantrana


kan? Cuma karena saya kira salah alamat, jadi saya sama yang lain


nyari-nyari lokasi lagi."


Mendengar alasan Abil, 3 sosok laki-laki itupun saling melihat satu sama lain.


Tapi pada akhirnya, mereka memaklumi kesalahpahaman tersebut. Lalu Pak


Tomo pun mengajak mereka menuju desa. "Mas Abil, mari saya antar ke desa


Abimantrana. Takut keburu malam."


Dengan segera, Abil menyuruh teman-temannya untuk bergegas. Estu, Hagia dan


Dian hanya menuruti perintahnya sembari bertanya-tanya di dalam hati.


Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil satu persatu.


Abil tentu masih ingat dengan ibu pemilik warung yang belum kembali. Tapi


Abil mengikhlaskan uang kembalian 37 ribunya yang belum dikembalikan


tersebut. Abil menghiraukannya dan memilih untuk bergegas menuju desa


tujuan dengan segera.


Dan dengan menumpang di satu mobil yang sama, mereka semua kini menuju Desa Abimantrana.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2