Thread Horror

Thread Horror
Bab 10 : Ditemenin Mayat


__ADS_3

Lebaran idul Fitri sudah lewat 5 hari yang lalu. Sekarang waktunya


untuk berpamitan dengan kampung halaman. Pamit dengan orang tua, pamit


dengan teman lama, juga pamit dengan saudara lainnya. Meski terasa


berat, mau tidak mau harus di lalui. Karena 2 hari lagi, aktivitas


normal sehari-hari mulai berjalan seperti biasa. Yaitu, bekerja di


perantauan.


Setelah berpamitan dengan keluarga sembari meneteskan


air mata, Bima langsung memacu motornya dan mulai meninggalkan kampung


halaman.


Bima yang sudah berada di jalan utama membelokan


motornya masuk ke gang sisi kanan. Bima hendak melipir sebentar untuk


menjemput teman seperantauannya yang kebetulan masih satu kampung. Teman


Bima ini bekerja di perusahaan yang sama dengannya, bahkan di


departemen yang sama. Dan namanya adalah Dimas. Teman dekatnya sedari


mereka SMP.


Bima sudah sampai di depan rumah Dimas. Bima pun


melihat Dimas sedang berpamitan dengan keluarganya. Tanpa pikir panjang,


Bima pun turun dari motor dan ikut bersalaman.


Dimas dan sekeluarga tentu sudah mengenal Bima sejak lama. Bahkan keluarga Dimas


sudah menganggap Bima seperti sanak saudara mereka sendiri. Bima


diterima dengan baik di sana. Karena itulah, keluarga Dimas memberi


kepercayaan kepada Bima untuk menjaga anak mereka Dimas di perantauan.


Bima yang mendengar keinginan orangtua Dimas pun tersenyum. Ia juga


mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir, karena Dimas akan ia jaga


seperti menjaga dirinya sendiri.


Mendengar kalimat hangat yang


keluar dari bibir Bima, orang tua Dimas pun menjadi lega. Lalu mereka


saling memeluk dan bersalaman yang terkahir kali. Hingga akhirnya, Bima


dan Dimas pun mulai menghilang dari pandangan mereka.


Bima dan Dimas hari ini sama-sama akan pulang ke rumah perantauan yang berada di


kota. Karena itu, ini adalah hari yang berat untuk dijalani bagi


keduanya. Dengan menahan rasa sedih di dalam hati, Bima dan Dimas pun


telah sama-sama berhasil berpamitan dengan keluarga di kampung halaman.


Dan berdoa, semoga masih ada kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga


lagi di hari esok.


Meski Bima dan Dimas berasal dari kampung yang


sama, dan juga merantau di lokasi yang sama, tapi keduanya memilih mudik


menggunakan motor masing-masing. Keduanya lebih menyukai cara itu. Dan


setelah memacu kendaraan sejauh 20 KM, Bima pun melipir ke SPBU untuk


mengisi bensin. Dimas pun mengekor di belakang untuk mengisi bensin


pula.


Setelah selesai, mereka berdua melanjutkan perjalanan.


Saat di jalan, Bima berada di posisi yang paling depan. Sedangkan Dimas,


posisinya mengekor di belakang motor Bima. Sebenarnya tidak ada alasan


khusus. Hanya saja Dimas itu kalau bawa motor suka ngebut. Sedangkan


Bima adalah pemotor yang santai. Jadi karena itulah Dimas menyuruh Bima


untuk berjalan di depannya, dengan maksud agar Bima tidak ketinggalan.


Karena jika Dimas yang memimpin, pasti Bima saat ini sudah jauh


ketinggalan di belakang.


Setelah sekiranya perjalanan susah sampai


80 KM, motor Dimas tetiba saja agak terasa oleng. Ia langsung menyalip


Bima di depannya untuk mengajaknya berhenti melipir sebentar. Setelah


dicek, ternyata motor Dimas mengalami bocor ban di bagian depan.


Kondisi saat ini masih siang, meski di sekitarnya tidak terlihat ada yang


membuka jasa tambal ban, rasanya cukup mudah menemukan tamban ban jika


masih siang begini. Jadi tanpa rasa panik berlebihan, Dimas dan Bima


tetap memacu lurus sepeda motor mereka dengan pelan sembari melirik ke


sekitar.


Sekitar 500 meter kemudian, Dimas akhirnya melihat ada


yang membuka jasa tambal ban. Ia pun langsung menghampirinya dengan


diikuti Bima yang mengekor di belakang.


Setelah selesai diperbaiki, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sama seperti


sebelumnya, Bima memimpin perjalanan di garis depan.


Sekiranya sudah mencapai 160 KM perjalanan, masing-masing dari mereka mulai merasa


kelaparan. Dengan sedikit menimbang-nimbang, akhirnya mereka memutuskan


untuk melipir ke sebuah warteg di pinggir jalan. Dan waktu kini sudah


berganti ke sore hari.

__ADS_1


Bima dan Dimas memilih lauk yang tidak


terlalu mewah. Tidak ada daging-dagingan di atas piring mereka. Hanya


masakan sayur, telur dan gorengan saja. Tapi itu bahkan sudah lebih dari


cukup bagi mereka berdua yang memiliki sosok sederhana. Dengan lahap,


keduanya pun mulai menikmati santapan.


Tak ada sisa satupun nasi di masing-masing piring. Baik Bima dan Dimas benar-benar menghabiskan


santapan mereka tanpa tersisa. Diimbangi dengan es teh manis, kini rasa


lapar mereka sudah hilang tak berbekas.


Meski masalah perut sudah


teratasi, tapi dibanding langsung melanjutkan perjalanan, Bima dan Dimas


sepakat memilih istirahat sejenak terlebih dahulu di pelataran ruko


kosong yang berada persis di samping warteg. Mereka ingin meregangkan


tubuh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh.


1 jam telah berlalu. Bima dan Dimas sudah bersiap untuk kembali


melanjutkan perjalanan. Masing-masing dari mereka telah kembali


menggendong tas ransel lalu menyalakan motor. Rasa letih pun kini telah


berkurang. Sekiranya jam 5 sore, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Singkat cerita, kini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dengan kondisi


tubuh yang sudah tidak lagi fit karena kelelahan, keduanya memutuskan


untuk kembali istirahat. Kini mereka melipir ke sebuah pom bensin.


Mengisi bensin sekaligus beristirahat di sana.


Jika menilik rute perjalanan mereka, kemungkinan besar keduanya akan sampai ke tujuan


sekitar 3 jam lagi. Tentu itu waktu yang masih sangat lama. Karena itu,


mereka memilih untuk mengambil istirahat yang terakhir di pom bensin


ini.


Setelah isi bensin, mereka pun memarkirkan motor di depan


pelataran pom. Lalu mereka masuk ke dalam pelataran untuk rebahan. Tapi


Dimas yang sudah merasa kembali lapar, terbangun untuk membeli bakso


yang tidak jauh dari sana. Sedangkan Bima, ia mulai mencoba memejamkan


mata untuk tidur sejenak.


Sekiranya sudah jam setengah 12 malam,


Dimas membangunkan Bima untuk kembali bersiap. Dimas merasa istirahat


kali ini sudah cukup. Dimas ingin sekali segera sampai ke tujuan. Ia


tidak ingin menghabiskan banyak waktu di sini lebih lama. Karena itu,


Dimas terus mencoba membangunkan Bima dengan menepuk kakinya beberapa


Bima yang sudah terbangun pun mulai bersiap-siap. Tapi ia


meminta sedikit waktu kepada Dimas untuk mengisi perut. Lalu Bima


mendatangi tukang bakso di sana dan memesan satu porsi untuk dirinya


sendiri. Dan setelah selesai menyantap, mereka pun kembali memacu motor


untuk menyelesaikan perjalanan yang tersisa.


Butuh waktu sekitar 3


jam lagi untuk sampai ke tujuan. Saat ini waktu pun sudah menunjukkan


pukul tengah malam. Bima dan Dimas masih mengendarai motor mereka,


mengisi keheningan malam bersama para pemudik lainnya. Seakan-akan


mereka sedang berkonvoi bersama untuk mengisi malam yang panjang.


Dan saat akan melewati persimpangan jalan yang agak membelok, dari kejauhan


Bima melihat bahwa lampu hijau di ujung sana sebentar lagi akan habis.


Karena merasa enggan menunggu, tetiba saja Bima langsung menancap gas


sekencang mungkin untuk menghindari lampu merah. Di detik-detik terakhir


saat lampu sudah menguning, Bima berhasil melewati persimpangan jalan


yang agak menikung tersebut. Lalu kembali berjalan dengan kecepatan


normal setelahnya.


Sesaat setelah melewati persimpangan, Bima pun


melirik ke kaca spion kanannya. Di belakangnya terlihat Dimas yang masih


mengekor. Bima pikir Dimas tidak akan sempat menerobos lampu merah


tadi. Tapi ternyata, Dimas pun berhasil melewatinya. Lalu mereka


meneruskan perjalanan yang kini tersisa 2 jam lagi.


Bima baru saja melewati sebuah tugu dalam kota. Itu adalah tugu yang terasa tak lagi


asing di mata Bima. Bima sudah mengenali jalan yang kini ia lalui. Jika


dari jarak ini, mungkin hanya butuh waktu sekitar 1 jam lagi untuk


sampai ke kontrakan. Dan saat Bima melihat lagi ke spion, masih ada


Dimas yang mengekor di belakangnya.


Berhubung sedikit lagi sampai,


Bima merasa enggan melipir sebentar untuk beristirahat. Bima sudah


mengenali jalan yang sedang ia lewati. Itu artinya sedikit lagi ia akan


sampai di tujuan. Apalagi, sudah terlihat sebuah mall di ujung sana.


Dari titik ini, butuh waktu sekitar 30 menit lagi untuk sampai di

__ADS_1


kontrakan. Jadi daripada beristirahat, lebih baik bablas saja sampai


kontrakan. Toh, Dimas yang masih ada di belakang pun tidak memprotes.


Bima kini ada di persimpangan terakhir sebelum sampai kontrakan. Dari titik


ini, kira-kira hanya butuh waktu 10 menit lagi untuk sampai di tempat


tujuan. Bima pun sedang menunggu lampu merah di sana. Kondisi jalan juga


masih terlihat ramai ketika ia menyapu pandangannya ke sekeliling.


Meski dini hari, rasanya normal, karena ini adalah momentum arus balik.


Tapi di titik ini, saat Bima melihat ke kaca spion kiri dan kanannya, ia


tidak melihat Dimas di belakangnya. Saat Bima menoleh ke arah belakang


pun, ia tak menemukan Dimas di manapun. Bima berpikir, mungkin Dimas


berada diantara mobil-mobil yang menghalangi. Jadi biarkan saja. Lalu


memacu motornya kala lampu hijau telah menyala.


Kini, Bima sudah ada di depan kontrakannya. Bima sudah sampai dengan selamat di tujuan.


Lalu ia turun dari motor dan melepas tas ransel yang ia gendong. Bima


tidak langsung membuka pintu kontrakan, dengan rasa lelah, Bima malah


duduk di pelataran depan kontrakannya. Ia mencoba meregangkan tubuh,


berusaha menghilangkan rasa pegal di tubuhnya. Sembari menunggu Dimas


yang sepertinya sebentar lagi akan sampai.


Tapi setelah 10 menit menunggu sembari bermain ponsel, ternyata Dimas tak kunjung datang. Bima


merasa heran, apa yang membuat Dimas menjadi terlambat. Padahal jika


dibandingkan dengan dirinya, tentu Dimas harusnya yang malah lebih cepat


sampai, karena Dimas adalah tipikal pemotor ngebut. Tapi kini Dimas tak


kunjung datang.


Merasa khawatir, Bima mulai mengirim pesan kepada


Dimas. Ia takut Dimas mengalami bocor ban atau semacamnya, yang


akhirnya membuat dirinya tak kunjung datang.


Satu kali, dua kali, tiga kali. Pesan yang Bima kirim ke Dimas tak kunjung ada balasan.


Bahkan dibaca saja tidak. Bima berpikir, apakah mungkin Dimas tertinggal


jauh di belakang karena motornya mengalami masalah? Tapi Bima juga


merasa heran, jika memang demikian, tapi kenapa setiap ia menoleh ke


kaca spion Dimas selalu ada di belakangnya?


Setelah pesannya tidak kunjung dibalas, Bima pun akhirnya menelepon Dimas.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ada yang menjawab panggilannya. Lalu


Bima pun berkata, "Woy cuy. Dimana lu? Kok gak sampe-sampe?"


Bukannya mendengar jawaban dari suara Dimas, Bima justru mendengar suara bising


di ujung telepon. Seperti suara campur aduk orang yang saling mengobrol.


Setelah menunggu beberapa saat, barulah ada suara seseorang yang


menjawab pertanyaan Bima. Lalu orang itupun berkata, "Maaf pak, atas


nama keluarganya mas Dimas Nugraha?" Tanya orang tersebut di ujung


telepon.


Tanpa banyak basa-basi, Bima pun menjawabnya dengan kata


'Iya'. Mendengar jawaban Bima, lalu orang tersebut pun meneruskan, "Mas


Dimas Nugraha meninggal kecelakaan pak. Sekarang jenazahnya ada di rumah


sakit. Tolong ke sini. Saya sebutin alamatnya."


Mendengar berita


itu, sontak Bima langsung merasa lemas di sekujur tubuh. Lalu ia pun


mencatat alamat yang dikatakan orang tersebut. Dan ketika Bima menelaah


alamatnya, jujur ia tak tahu lokasi itu dimana. Terasa asing baginya.


Tanpa pikir panjang, Bima langsung memasukan alamatnya ke dalam google maps.


Lalu ia pun menemukan, bahwa alamat rumah sakit tersebut berada sekitar 3


jam perjalanan dari kontrakannya. Terlampau jauh. Dan jika memang benar


begitu, lalu Dimas yang selama ini ia lihat di spion itu siapa?


Belum sempat membuka kontrakan, Bima menggendong tas ranselnya lagi dan langsung memacu motornya lebih cepat.


Bima kini telah sampai di lokasi. Rumah sakit yang di maksud pun ternyata


tidak jauh dari persimpangan lampu merah yang agak membelok. Dan Bima


masih mengingat jelas, bahwa persimpangan lampu merah itu adalah


persimpangan yang sebelumnya ia terobos beberapa jam yang lalu. Dan kala


Bima memasuki rumah sakit sekaligus meminta konfirmasi, ia ditunjukkan


seseorang yang sudah terbujur kaku. Dan benar, bahwa Dimas sudah


meninggal.


Setelah bertanya lebih jauh, ternyata benar, bahwa


Dimas meninggal kecelakaan di persimpangan itu, ketika ia hendak,


menerobos lampu merah.


END.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2