
Lebaran idul Fitri sudah lewat 5 hari yang lalu. Sekarang waktunya
untuk berpamitan dengan kampung halaman. Pamit dengan orang tua, pamit
dengan teman lama, juga pamit dengan saudara lainnya. Meski terasa
berat, mau tidak mau harus di lalui. Karena 2 hari lagi, aktivitas
normal sehari-hari mulai berjalan seperti biasa. Yaitu, bekerja di
perantauan.
Setelah berpamitan dengan keluarga sembari meneteskan
air mata, Bima langsung memacu motornya dan mulai meninggalkan kampung
halaman.
Bima yang sudah berada di jalan utama membelokan
motornya masuk ke gang sisi kanan. Bima hendak melipir sebentar untuk
menjemput teman seperantauannya yang kebetulan masih satu kampung. Teman
Bima ini bekerja di perusahaan yang sama dengannya, bahkan di
departemen yang sama. Dan namanya adalah Dimas. Teman dekatnya sedari
mereka SMP.
Bima sudah sampai di depan rumah Dimas. Bima pun
melihat Dimas sedang berpamitan dengan keluarganya. Tanpa pikir panjang,
Bima pun turun dari motor dan ikut bersalaman.
Dimas dan sekeluarga tentu sudah mengenal Bima sejak lama. Bahkan keluarga Dimas
sudah menganggap Bima seperti sanak saudara mereka sendiri. Bima
diterima dengan baik di sana. Karena itulah, keluarga Dimas memberi
kepercayaan kepada Bima untuk menjaga anak mereka Dimas di perantauan.
Bima yang mendengar keinginan orangtua Dimas pun tersenyum. Ia juga
mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir, karena Dimas akan ia jaga
seperti menjaga dirinya sendiri.
Mendengar kalimat hangat yang
keluar dari bibir Bima, orang tua Dimas pun menjadi lega. Lalu mereka
saling memeluk dan bersalaman yang terkahir kali. Hingga akhirnya, Bima
dan Dimas pun mulai menghilang dari pandangan mereka.
Bima dan Dimas hari ini sama-sama akan pulang ke rumah perantauan yang berada di
kota. Karena itu, ini adalah hari yang berat untuk dijalani bagi
keduanya. Dengan menahan rasa sedih di dalam hati, Bima dan Dimas pun
telah sama-sama berhasil berpamitan dengan keluarga di kampung halaman.
Dan berdoa, semoga masih ada kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga
lagi di hari esok.
Meski Bima dan Dimas berasal dari kampung yang
sama, dan juga merantau di lokasi yang sama, tapi keduanya memilih mudik
menggunakan motor masing-masing. Keduanya lebih menyukai cara itu. Dan
setelah memacu kendaraan sejauh 20 KM, Bima pun melipir ke SPBU untuk
mengisi bensin. Dimas pun mengekor di belakang untuk mengisi bensin
pula.
Setelah selesai, mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Saat di jalan, Bima berada di posisi yang paling depan. Sedangkan Dimas,
posisinya mengekor di belakang motor Bima. Sebenarnya tidak ada alasan
khusus. Hanya saja Dimas itu kalau bawa motor suka ngebut. Sedangkan
Bima adalah pemotor yang santai. Jadi karena itulah Dimas menyuruh Bima
untuk berjalan di depannya, dengan maksud agar Bima tidak ketinggalan.
Karena jika Dimas yang memimpin, pasti Bima saat ini sudah jauh
ketinggalan di belakang.
Setelah sekiranya perjalanan susah sampai
80 KM, motor Dimas tetiba saja agak terasa oleng. Ia langsung menyalip
Bima di depannya untuk mengajaknya berhenti melipir sebentar. Setelah
dicek, ternyata motor Dimas mengalami bocor ban di bagian depan.
Kondisi saat ini masih siang, meski di sekitarnya tidak terlihat ada yang
membuka jasa tambal ban, rasanya cukup mudah menemukan tamban ban jika
masih siang begini. Jadi tanpa rasa panik berlebihan, Dimas dan Bima
tetap memacu lurus sepeda motor mereka dengan pelan sembari melirik ke
sekitar.
Sekitar 500 meter kemudian, Dimas akhirnya melihat ada
yang membuka jasa tambal ban. Ia pun langsung menghampirinya dengan
diikuti Bima yang mengekor di belakang.
Setelah selesai diperbaiki, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sama seperti
sebelumnya, Bima memimpin perjalanan di garis depan.
Sekiranya sudah mencapai 160 KM perjalanan, masing-masing dari mereka mulai merasa
kelaparan. Dengan sedikit menimbang-nimbang, akhirnya mereka memutuskan
untuk melipir ke sebuah warteg di pinggir jalan. Dan waktu kini sudah
berganti ke sore hari.
__ADS_1
Bima dan Dimas memilih lauk yang tidak
terlalu mewah. Tidak ada daging-dagingan di atas piring mereka. Hanya
masakan sayur, telur dan gorengan saja. Tapi itu bahkan sudah lebih dari
cukup bagi mereka berdua yang memiliki sosok sederhana. Dengan lahap,
keduanya pun mulai menikmati santapan.
Tak ada sisa satupun nasi di masing-masing piring. Baik Bima dan Dimas benar-benar menghabiskan
santapan mereka tanpa tersisa. Diimbangi dengan es teh manis, kini rasa
lapar mereka sudah hilang tak berbekas.
Meski masalah perut sudah
teratasi, tapi dibanding langsung melanjutkan perjalanan, Bima dan Dimas
sepakat memilih istirahat sejenak terlebih dahulu di pelataran ruko
kosong yang berada persis di samping warteg. Mereka ingin meregangkan
tubuh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh.
1 jam telah berlalu. Bima dan Dimas sudah bersiap untuk kembali
melanjutkan perjalanan. Masing-masing dari mereka telah kembali
menggendong tas ransel lalu menyalakan motor. Rasa letih pun kini telah
berkurang. Sekiranya jam 5 sore, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Singkat cerita, kini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dengan kondisi
tubuh yang sudah tidak lagi fit karena kelelahan, keduanya memutuskan
untuk kembali istirahat. Kini mereka melipir ke sebuah pom bensin.
Mengisi bensin sekaligus beristirahat di sana.
Jika menilik rute perjalanan mereka, kemungkinan besar keduanya akan sampai ke tujuan
sekitar 3 jam lagi. Tentu itu waktu yang masih sangat lama. Karena itu,
mereka memilih untuk mengambil istirahat yang terakhir di pom bensin
ini.
Setelah isi bensin, mereka pun memarkirkan motor di depan
pelataran pom. Lalu mereka masuk ke dalam pelataran untuk rebahan. Tapi
Dimas yang sudah merasa kembali lapar, terbangun untuk membeli bakso
yang tidak jauh dari sana. Sedangkan Bima, ia mulai mencoba memejamkan
mata untuk tidur sejenak.
Sekiranya sudah jam setengah 12 malam,
Dimas membangunkan Bima untuk kembali bersiap. Dimas merasa istirahat
kali ini sudah cukup. Dimas ingin sekali segera sampai ke tujuan. Ia
tidak ingin menghabiskan banyak waktu di sini lebih lama. Karena itu,
Dimas terus mencoba membangunkan Bima dengan menepuk kakinya beberapa
Bima yang sudah terbangun pun mulai bersiap-siap. Tapi ia
meminta sedikit waktu kepada Dimas untuk mengisi perut. Lalu Bima
mendatangi tukang bakso di sana dan memesan satu porsi untuk dirinya
sendiri. Dan setelah selesai menyantap, mereka pun kembali memacu motor
untuk menyelesaikan perjalanan yang tersisa.
Butuh waktu sekitar 3
jam lagi untuk sampai ke tujuan. Saat ini waktu pun sudah menunjukkan
pukul tengah malam. Bima dan Dimas masih mengendarai motor mereka,
mengisi keheningan malam bersama para pemudik lainnya. Seakan-akan
mereka sedang berkonvoi bersama untuk mengisi malam yang panjang.
Dan saat akan melewati persimpangan jalan yang agak membelok, dari kejauhan
Bima melihat bahwa lampu hijau di ujung sana sebentar lagi akan habis.
Karena merasa enggan menunggu, tetiba saja Bima langsung menancap gas
sekencang mungkin untuk menghindari lampu merah. Di detik-detik terakhir
saat lampu sudah menguning, Bima berhasil melewati persimpangan jalan
yang agak menikung tersebut. Lalu kembali berjalan dengan kecepatan
normal setelahnya.
Sesaat setelah melewati persimpangan, Bima pun
melirik ke kaca spion kanannya. Di belakangnya terlihat Dimas yang masih
mengekor. Bima pikir Dimas tidak akan sempat menerobos lampu merah
tadi. Tapi ternyata, Dimas pun berhasil melewatinya. Lalu mereka
meneruskan perjalanan yang kini tersisa 2 jam lagi.
Bima baru saja melewati sebuah tugu dalam kota. Itu adalah tugu yang terasa tak lagi
asing di mata Bima. Bima sudah mengenali jalan yang kini ia lalui. Jika
dari jarak ini, mungkin hanya butuh waktu sekitar 1 jam lagi untuk
sampai ke kontrakan. Dan saat Bima melihat lagi ke spion, masih ada
Dimas yang mengekor di belakangnya.
Berhubung sedikit lagi sampai,
Bima merasa enggan melipir sebentar untuk beristirahat. Bima sudah
mengenali jalan yang sedang ia lewati. Itu artinya sedikit lagi ia akan
sampai di tujuan. Apalagi, sudah terlihat sebuah mall di ujung sana.
Dari titik ini, butuh waktu sekitar 30 menit lagi untuk sampai di
__ADS_1
kontrakan. Jadi daripada beristirahat, lebih baik bablas saja sampai
kontrakan. Toh, Dimas yang masih ada di belakang pun tidak memprotes.
Bima kini ada di persimpangan terakhir sebelum sampai kontrakan. Dari titik
ini, kira-kira hanya butuh waktu 10 menit lagi untuk sampai di tempat
tujuan. Bima pun sedang menunggu lampu merah di sana. Kondisi jalan juga
masih terlihat ramai ketika ia menyapu pandangannya ke sekeliling.
Meski dini hari, rasanya normal, karena ini adalah momentum arus balik.
Tapi di titik ini, saat Bima melihat ke kaca spion kiri dan kanannya, ia
tidak melihat Dimas di belakangnya. Saat Bima menoleh ke arah belakang
pun, ia tak menemukan Dimas di manapun. Bima berpikir, mungkin Dimas
berada diantara mobil-mobil yang menghalangi. Jadi biarkan saja. Lalu
memacu motornya kala lampu hijau telah menyala.
Kini, Bima sudah ada di depan kontrakannya. Bima sudah sampai dengan selamat di tujuan.
Lalu ia turun dari motor dan melepas tas ransel yang ia gendong. Bima
tidak langsung membuka pintu kontrakan, dengan rasa lelah, Bima malah
duduk di pelataran depan kontrakannya. Ia mencoba meregangkan tubuh,
berusaha menghilangkan rasa pegal di tubuhnya. Sembari menunggu Dimas
yang sepertinya sebentar lagi akan sampai.
Tapi setelah 10 menit menunggu sembari bermain ponsel, ternyata Dimas tak kunjung datang. Bima
merasa heran, apa yang membuat Dimas menjadi terlambat. Padahal jika
dibandingkan dengan dirinya, tentu Dimas harusnya yang malah lebih cepat
sampai, karena Dimas adalah tipikal pemotor ngebut. Tapi kini Dimas tak
kunjung datang.
Merasa khawatir, Bima mulai mengirim pesan kepada
Dimas. Ia takut Dimas mengalami bocor ban atau semacamnya, yang
akhirnya membuat dirinya tak kunjung datang.
Satu kali, dua kali, tiga kali. Pesan yang Bima kirim ke Dimas tak kunjung ada balasan.
Bahkan dibaca saja tidak. Bima berpikir, apakah mungkin Dimas tertinggal
jauh di belakang karena motornya mengalami masalah? Tapi Bima juga
merasa heran, jika memang demikian, tapi kenapa setiap ia menoleh ke
kaca spion Dimas selalu ada di belakangnya?
Setelah pesannya tidak kunjung dibalas, Bima pun akhirnya menelepon Dimas.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ada yang menjawab panggilannya. Lalu
Bima pun berkata, "Woy cuy. Dimana lu? Kok gak sampe-sampe?"
Bukannya mendengar jawaban dari suara Dimas, Bima justru mendengar suara bising
di ujung telepon. Seperti suara campur aduk orang yang saling mengobrol.
Setelah menunggu beberapa saat, barulah ada suara seseorang yang
menjawab pertanyaan Bima. Lalu orang itupun berkata, "Maaf pak, atas
nama keluarganya mas Dimas Nugraha?" Tanya orang tersebut di ujung
telepon.
Tanpa banyak basa-basi, Bima pun menjawabnya dengan kata
'Iya'. Mendengar jawaban Bima, lalu orang tersebut pun meneruskan, "Mas
Dimas Nugraha meninggal kecelakaan pak. Sekarang jenazahnya ada di rumah
sakit. Tolong ke sini. Saya sebutin alamatnya."
Mendengar berita
itu, sontak Bima langsung merasa lemas di sekujur tubuh. Lalu ia pun
mencatat alamat yang dikatakan orang tersebut. Dan ketika Bima menelaah
alamatnya, jujur ia tak tahu lokasi itu dimana. Terasa asing baginya.
Tanpa pikir panjang, Bima langsung memasukan alamatnya ke dalam google maps.
Lalu ia pun menemukan, bahwa alamat rumah sakit tersebut berada sekitar 3
jam perjalanan dari kontrakannya. Terlampau jauh. Dan jika memang benar
begitu, lalu Dimas yang selama ini ia lihat di spion itu siapa?
Belum sempat membuka kontrakan, Bima menggendong tas ranselnya lagi dan langsung memacu motornya lebih cepat.
Bima kini telah sampai di lokasi. Rumah sakit yang di maksud pun ternyata
tidak jauh dari persimpangan lampu merah yang agak membelok. Dan Bima
masih mengingat jelas, bahwa persimpangan lampu merah itu adalah
persimpangan yang sebelumnya ia terobos beberapa jam yang lalu. Dan kala
Bima memasuki rumah sakit sekaligus meminta konfirmasi, ia ditunjukkan
seseorang yang sudah terbujur kaku. Dan benar, bahwa Dimas sudah
meninggal.
Setelah bertanya lebih jauh, ternyata benar, bahwa
Dimas meninggal kecelakaan di persimpangan itu, ketika ia hendak,
menerobos lampu merah.
END.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw