Thread Horror

Thread Horror
Bab 6 : Demit Ijo


__ADS_3

Kisah ini menceritakan seorang perempuan muda berusia 24 tahun. Sebut saja namanya Dini.


Hari ini Dini sangat sibuk dengan berbagai macam urusan. Karena 3 hari ke


depan, dirinya akan menikah. Sebab itu, ia bahkan sampai meminta cuti


selama 2 hari kepada perusahaan untuk mengurus segala persiapan


pernikahannya.


Bagi Dini, pernikahannya nanti harus menjadi hal


yang istimewa. Bahkan jika memungkinkan, Dini berharap semuanya akan


berjalan dengan sempurna. Tentu ini hal yang wajar. Jangankan untuk


Dini, bahkan semua perempuan di dunia pun, jelas ingin hari


pernikahannya berjalan sempurna. Karena hari itu adalah hari yang


spesial. Sebuah hari dimana, mereka akan menjadi ratu sejagad di.


Dini akan menikah dengan rekan se-kantornya. Karena itu juga, Dini sudah


siap jika ia harus dipindah-tugaskan ke departemen yang lain nantinya.


Sebelumnya memutuskan untuk menikah, sebenarnya Dini dan calon suaminya belum


begitu lama mengenal. Mungkin hanya sekitar 6 bulan. Tapi Dini menjadi


yakin untuk dipersunting karena baginya, Calon suaminya ini, yang


bernama Zian adalah sosok pria yang mandiri dan bertanggung jawab di


matanya. Karena hal itu, Dini pun menerima niat baik Zian untuk


menikahinya.


Tapi sebelum sampai di jenjang ini, Dini pernah


menjalin sebuah hubungan dengan seorang laki-laki. Dini dan Laki-laki


ini malah sudah menjalin hubungan selama 5 tahun. Bahkan Dini sudah


hampir menikah dengan laki-laki tersebut. Laki-laki ini bahkan sudah


memberi seserahan kepada Dini saat mereka melakukan prosesi lamaran.


Tapi sekiranya tinggal 4 bulan lagi sebelum menikah, Laki-laki itu


menghilang bak ditelan bumi.


Pada awalnya, chat Dini kepadanya


tidak dibalas. Dini yang mencoba meneleponnya pun tidak pernah diangkat.


Saat di datangi ke kediamannya pun, selalu tidak ada orang di sana.


Beberapa hari hal itu terus berlanjut. Hingga akhirnya, Laki-laki itu


benar-benar tidak bisa lagi dihubungi. Dini awalnya sangat khawatir,


karena itu ia mencoba untuk mendatangi rumah orang tuanya. Tapi hal


mengejutkan pun terjadi, orangtua laki-laki itu pun tidak bersedia


menemui Dini. Alhasil, hari pernikahan mereka tidak pernah terjadi.


Dini sangat merasa kecewa dan sedih. Tapi kedua orangtuanya justru


menasehati Dini untuk bersyukur. Kedua orangtuanya justru bersyukur


dengan kejadian ini, dalam artian mereka bersyukur anak mereka diberikan


keselamatan dan dijauhkan dari orang-orang yang berperangai buruk.


Andaikata anak mereka jadi menikah dengan laki-laki yang tidak


bertanggung jawab itu, pastilah hidup anak mereka nantinya akan hancur.


Begitulah kira-kira pemikiran orangtua Dini.


Mungkin sulit bagi Dini untuk menyanggupi keadaan dengan ikhlas. Tapi lambat laun, Dini


mulai bisa menata kembali perasaannya yang hancur untuk menyambut sosok


yang baru, yang bisa tulus mencintainya. Dan sudah jelas, buah kesabaran


dini, telah mempertemukannya dengan Zian, sosok yang mampu mencintainya


dengan tulus.


Singkat cerita, semua persiapan pernikahan pun


sudah selesai. Hari ini adalah hari dimana Dini akan melakukan resepsi


pernikahan. Jujur, dirinya bahkan tidak bisa tidur malam tadi. Tapi


setelah berusaha keras, akhirnya ia dapat terlelap juga. Meski hanya


beberapa saat saja.


Sudah sedari pagi buta tadi, Dini sudah dirias


oleh penata rias pilihannya. Kini Dini sudah tampil anggun dengan gaun


putih pernikahan. Henna ditangannya pun sudah terlukis indah di sana.


Semuanya berjalan sempurna sampai saat ini. Sesi ijab kabul pun hanya


perlu menghitung beberapa puluh menit lagi. Dini tahu ini adalah acara


yang sangat sakral. Mungkin karena itu, ia malah menjadi demam panggung.


Seluruh tubuhnya merasa dingin karena cemas.


Di saat dirinya yang


sudah senggang, Dini pun meminta untuk diambilkan ponselnya. Lalu ia


membuka ponselnya dan mulai melihat-lihat. Kemudian Dini pun membuka


sebuah aplikasi chatting. Dan ia melihat sebuah nomor tak dikenal


mengiriminya sebuah pesan. Kurang lebih isi pesannya sendiri seperti ini


:


"Batalin pernikahannya. Klo nggak rasain sendiri nanti."


Dini yang membaca pesan itu pun terkejut. Ia tak tahu siapa si pengirim


pesan tersebut. Akunnya pun tidak memiliki foto profil. Dini hanya bisa

__ADS_1


mengira-ngira sembari was-was. Tapi karena sesi ijab kabul sebentar lagi


akan dimulai, Dini memutuskan untuk tidak memberitahu perihal pesan


misterius itu kepada siapapun. Dini merasa, cukup dirinya saja yang


perlu tahu pesan itu, karena ia tidak mau membuat orang lain merasa


khawatir. Ini adalah hari bahagia. Jadi harus dirayakan dengan bahagia.


Sesi ijab kabul hampir di mulai. Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di


satu titik yang sama. Berkumpul untuk menyaksikan sebuat momen penting


yang akan dilalui Dini dan Zian. Namun belum sempat memulai acara, salah


seorang anggota keluarga mulai bertingkah aneh. Ia adalah saudara dekat


dari keluarga Dini, perempuan yang sudah berusia 37 tahun.


Pada awalnya, ia terlihat biasa saja sama seperti yang lain. Tingkahnya pun


mulai menjadi aneh tatkala ia mulai tersenyum kecil. Terus begitu


beberapa saat sampai senyumannya menjadi terlihat mengerikan. Tak sampai


di situ, setelah tersenyum lebar, perempuan itu pun mulai mengamuk. Di


kala dirinya mengamuk, ia juga berceloteh banyak hal. Salah satunya


adalah meminta agar pernikahan ini dibatalkan. Tapi kejadian itu tak


berlangsung begitu lama. Perempuan itu langsung disadarkan oleh salah


seorang dari pihak keluarga Dini. Kemudian perempuan itu dibawa ke kamar


rias sementara dan sesi ijab kabul pun ditunda beberapa menit.


Tapi pada akhirnya, sesi ijab kabul pun berjalan lancar sampai selesai. Dini


dan Zian pun kini sudah sah menjadi seorang suami istri. Lalu sekitar


pukul 11 siang, acara resepsi pernikahan akhirnya dimulai. Para tamu


undangan mulai berdatangan. Satu demi satu. Hingga tanpa terasa gedung


itu sudah disesaki oleh banyak orang.


Sekiranya jam 7 malam,


Resepsi pernikahan pun usai. Seakan menjadi aksi penutup acara


pernikahan, Hujan pun mulai mengguyur deras di luar. Semuanya berjalan


lancar. Secara keseluruhan, acaran pernikahan Dini dan Zian sudah


berjalan sukses. Jadi kini saatnya, bagi mereka berdua menempuh hidup


baru.


Di awal-awal pernikahan, mereka berdua terlihat seperti


pasangan suami istri kebanyakan. Penuh bahagia. Mereka banyak


menghabiskan waktu bersama. Melakukan banyak kegiatan bersama. Makan di


luar, pergi nonton, mendatangi tempat wisata serta kegiatan lainnya.


Setiap momen bahagia itu kemudian Dini abadikan ke dalam sebuah foto.


Hingga akhirnya, seminggu berselang, kejanggalan aneh mulai terjadi di


dalam keluarga kecil mereka.


Rasanya beberapa hari terakhir, Dini


merasa hidupnya sedang diteror oleh sesuatu yang tak terlihat. Mulai


dari Dini yang sering melihat sosok sekelebat hitam. Mendengar suara


bisikan yang mengganggu. Mendengar suara bising di atas rumahnya.


Tidurnya yang selalu mengalami mimpi buruk. Bahkan Dini pernah melihat


bantal tidurnya jatuh sendiri dari atas kasur, seperti ditarik oleh


sesuatu. Tapi anehnya, kejanggalan itu tidak dirasakan oleh sang suami.


Seakan teror tersebut memang sengaja ditunjukkan untuk dirinya saja.


Kira-kira sekarang sudah pukul setengah 12 malam. Zian sang suami sudah tertidur


pulas. Sedangkan Dini sendiri masih terjaga sembari melihat foto-foto di


galeri ponselnya. Tanpa Dini sadari, ia mulai menggaruk tubuhnya


perlahan. Lengannya, lalu kakinya, lalu lehernya dan terus mengulang


seperti itu. Awalnya Dini masih belum sadar, tapi sekitar 30 menit


kemudian, barulah ia sadar ketika dirinya merasa gatal-gatal di sekujur


tubuh.


Kini Dini menggaruk tubuhnya lebih kuat dan kencang.


Semakin kencang dan semakin lebih kencang. Sampai membuat kulit tubuhnya


pun menjadi merah karena kukunya sendiri.


Ia mencoba membangunkan sang suami. Lalu suaminya pun bangun. Dini langsung


menceritakan tentang seluruh tubuhnya yang kini gatal-gatal kepada Zian.


Zian pun hanya bisa merasa heran ketika melihat istrinya tidak


berhenti menggaruk. Malahan, sang suami disuruh ikut menggaruki punggung


Dini. Meski sudah cukup lama, gatal-gatal yang dirasakan Dini tidak


menghilang sedikitpun. Justru ia menyuruh suaminya untuk menggaruk lebih


kencang lagi. Bahkan Dini menggaruk dirinya sendiri sampai kulitnya


luka.


Melihat istrinya yang sudah kelewatan, Zian langsung


menghentikan Dini. Zian mencoba menahan kedua tangan Dini untuk tidak


lagi menggaruk, karena jika diteruskan jelas itu akan melukai dirinya


sendiri.

__ADS_1


Tapi hal yang berikutnya terjadi malah memperkeruh


suasana. Setelah badanya gatal-gatal, kini Dini merasa kulitnya menjadi


panas semua. Entahlah, mungkin efek dari garukan yang terlalu lama. Atau


mungkin disebabkan dari sesuatu yang tak kasat mata.


Ketika sekujur tubuhnya merasa gatal dan panas di saat yang sama, Dini pun


mulai panik lalu kemudian ingin menangis. Ia tak mengerti apa yang


sebenarnya terjadi kepada dirinya sendiri. Padahal tadi, ia masih dalam


keadaan baik-baik saja. Sang suami pun tidak bisa berbuat banyak.


Melihat istrinya yang seperti itu, Zian pun malah kebingungan. Ia hanya


terlintas satu hal, yaitu mengguntingi kuku istrinya. Agar kuku-kukunya


tidak membuat luka yang semakin parah. Karena jujur, Dini masih


merangsak untuk menggaruk.


Saat Zian mencoba menenangkan istrinya


sembari mengguntinginya kuku, tetiba saja Dini berteriak histeris. Kini


tangisannya pun terdengar lebih keras. Belum sempat Zian bertanya ada


apa, Dini pun berkata, "Mas, kulit aku berubah jadi ijo." Ucap Dini


barusan dengan histeris.


Zian pun mengheran setengah mati. Apanya


yang hijau? Karena di mata Zian, Dini istrinya masih tampil dengan


keadaan yang normal. Tapi mungkin tidak di mata Dini. Ia terus-terusan


histeris karena melihat tubuhnya menjadi hijau.


Kehabisan akal, akhirnya Zian menghubungi orang tua Dini. Kebetulan, mereka berdua


tinggal tidak begitu jauh dengan orang tua Dini. Zian menelepon mereka


dengan maksud untuk meminta bantuan.


Beberapa menit berselang,


suara sepeda motor terdengar dari depan rumah. Orangtua Dini pun tiba


membawa sapu aren. Mereka langsung bergegas menemui Dini di dalam kamar.


Sama seperti Zian, orangtua Dini juga ikut mengheran dengan apa yang


terjadi kepada Dini. Tentang Dini yang gatal-gatal dan tanpa henti


menggaruk. Tentang Dini yang merasa tubuhnya panas. Apalagi tentang Dini


yang masih histeris karena melihat tubuhnya menjadi hijau. Tapi sama


seperti Zian, Di mata orang tuanya, Dini terlihat sangat normal.


Kemudian ibunda Dini memukulkan sapu aren ke tubuh Dini beberapa kali. Sekali.


Dua kali. Tiga kali. Dan terus mengulanginya. Beliau juga serta


memukulkan sapu aren itu ke kasur di sekitar Dini berada. Beliau juga


meminta semuanya untuk melantunkan doa doa tanpa henti, termasuk Dini.


Ibunda Dini sendiri bukanlah seorang cenayang. Tapi ia percaya, jika


Allah akan selalu melindungi hambanya yang percaya kepada-Nya.


Tak begitu lama, terdengarlah suara mengganggu dari depan rumah. Zian dan


ayah Dini langsung bergegas menuju sumber suara. Dan alangkah


terkejutnya mereka, saat melihat sesosok laki-laki hijau bertubuh besar


yang dipenuhi bulu di beranda rumah. Ini bukan salah lihat. Meski


penerangan tidak begitu terang, mereka tidak salah lihat. Karena


keduanya sama-sama melihat sosok seram yang sama. Tapi sosok itu


menghilang begitu saja tanpa jejak.


Kala Zian dan ayah Dini


kembali ke kamar, Zian pun kembali terkejut. Ia melihat, kuku-kuku Dini


yang ia potongi tadi, terlihat menjadi hijau. Kali ini bukan hanya Dini


saja yang melihatnya, baik Zian dan kedua orangtuanya pun melihat hal


yang sama. Kini mereka percaya, bahwa perkataan Dini sebelumnya adalah


benar. Lambat laun, Dini mulai kembali ke kondisi normal.


Setelah kejadian itu, diminta oleh orangtuanya untuk tidak terlalu mengekspos


kesehariannya di media sosial. Orangtua dini pun meminta agar Dini


mengganti nomor lamanya dengan yang baru. Dini dan suami diminta untuk


ibadah lebih taat. Bahkan Dini diminta untuk tinggal sementara di rumah


orangtuanya lagi, setidaknya sampai teror yang dirasakannya menghilang.


Dini pun tidak mengeyel. Ia menaati perintah kedua orangtuanya. Dini tahu


ini demi keselamatannya, terlebih, ia tahu ini demi keselamatan rumah


tangganya. Jadi ia pun menurut.


Beberapa hari setelahnya, teror


masih dirasakan oleh Dini. Tapi teror itu mulai melemah intensitasnya.


Semakin melemah dan semakin bertambah lemah. Hingga akhirnya, Dini tidak


lagi merasakan teror tersebut, lalu ia pun kembali pulang ke rumahnya.


END.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2