
3 bulan yang lalu, setelah Abil ditumbalkan untuk
ritual Nandur Manungsa, kesejahteraan desa kembali stabil beberapa
Minggu setelahnya. Semua hasil pertanian dapat dipanen dengan sempurna.
Tidak ada kelaparan sama sekali di sana. Semuanya hidup bahagia. Senyum
dan tawa para warga pun merekah ke seluruh penjuru desa. Seakan, desa
Abimantrana bukanlah sebuah desa terkutuk.
Namun, setelah berjalan 3 bulan, kondisi desa kembali binasa kini. Terjadi
kelaparan dimana-mana. Tanah yang tak lagi subur serta panen yang
membusuk, membuat senyum dan tawa para warga menjadi sulit ditemui. Para
warga hanya mampu menyiratkan raut wajah sedih nan pilu. Setelah efek
ritual ‘Nandur Manungsa’ mulai menurun, seluruh desa mulai kembali
merasakan kesengsaraan.
Karena itulah, para petinggi desa mulai memikirkan rencana penting saat ini.
Sang sepuh, Pak Bimo, Pak Tomo dan beberapa warga sedang berkumpul di dalam
sebuah ruangan. Di dalam rumah sang sepuh, yang juga tempat dimana Estu
sedang dikurung.
Pembicaraan kali ini telah menghasilkan sebuah kesepakatan bersama. Bahwa Estu, akan ditumbalkan
minggu depan. Dan sebelum Estu dihabisi, Pak Bimo diminta untuk pergi
keluar desa untuk mencari tumbal baru. Lalu, pertemuan pun ditutup.
Saat ini, Pak Bimo langsung menyiapkan beberapa hal setelah pertemuan tadi
berakhir. Karena di hari ini juga, ia akan pergi keluar Desa untuk
mencari tumbal baru.
Pak Bimo pun akan pergi sendirian tanpa ditemani satupun warga. Pak Tomo sudah tidak mungkin
lagi pergi keluar desa menemaninya. 2 warga lain yang sebelumnya sudah
dimandatkan untuk pergi keluar bersama Pak Bimo pun, kini justru
mengalami 'Sukma Purnama'. Jadi mau tidak mau, Pak Bimo akan pergi
keluar desa sendirian. Dan ia tahu, bahwa ini adalah sebuah tugas yang
berat. Tapi Pak Bimo akan mencoba semaksimal mungkin menghadapi masalah
ini sendirian demi desa.
Saat menyiapkan beberapa hal, sang sepuh pun bertanya kepada Pak Bimo dengan berkata, "Bimo, kamu tahu kan harus pergi kemana?"
Mendengar ucapan ayahnya, Pak Bimo pun menjawab dengan intonasi pelan dengan
berkata, "Ya Kanjeng. Saya tahu harus pergi kemana. Semoga saja mbak
Melati sudah dapat mahasiswa lain yang bisa kita ajak ke sini." Ucap Pak
Bimo dengan santun.
Lalu, siapakah mbak Melati yang baru saja Pak Bimo maksud?
Ya. Mbak Melati adalah si pemilik hunian dimana Abil ngekos dulu. Dia
adalah pemilik kos, serta orang yang menyarankan Abil untuk KKN di desa
Abimantrana dulu. Di balik layar, dirinya juga ambil bagian atas
tewasnya Abil, Hagia dan Dian. Ada masa lalu yang membuat Mbak Melati
memiliki hubungan dengan Warga desa Abimantrana. Dan saat ini, Pak Bimo
akan pergi ke kota untuk menemuinya, persis seperti apa yang saat Pak
Tomo lakukan dulu.
Setelah mempersiapkan semua
hal yang dibutuhkan, Pak Bimo pun berpamitan dengan ayahnya, istrinya yg
sedang mengandung, dan juga beberapa warga desa yang berada di sana.
Misinya bukanlah hal mudah, karena dalam 7 hari, ia harus membawa calon
tumbal baru. Dan dengan langkah tegar, Pak Bimo pun mulai pergi
meninggalkan desa.
@ @ @ @ @
Singkat cerita, 4 hari pun telah berlalu semenjak kepergian Pak Bimo keluar
desa. Dan saat ini, kekacauan sedang terjadi di dalam desa Abimantrana.
Pagi tadi, angin besar menghantam desa berulang-ulang hingga membuat
beberapa rumah porak poranda. Awan hitam legam di atas langit pun sedang
menyelimuti desa di sore hari kini. Petir yang menyambar-nyambar dan
terpaan angin kuat, terus menghujani desa tanpa henti. Membuat para
warga menjadi ngeri karenanya.
Lalu di saat-saat seperti ini terjadi, sang sepuh pun berkata kepada Pak Tomo
yang sedang berada di hadapannya, “Saya mendapat bisikan barusan. Bahwa
malam nanti, saya harus menumbalkan Estu.”
Agak sedikit terkejut dengan ucapan sang sepuh, Pak Tomo pun menimpal, “Maaf
kanjeng. Tapi bulan purnama akan datang sekitar 3 hari lagi. Apa ndak
terlalu cepat menumbalkan Estu malam ini? Maaf kalau saya lancang.”
Tutur Pak Bimo dengan kerendahan hati.
Lalu sang sepuh pun menjawab, “Ya. Memang seharusnya Estu ditumbalkan 3 hari lagi
saat bulan purnama tiba. Tapi saya memiliki firasat, bahwa
menumbalkannya lebih cepat akan mendatangkan kebaikan untuk desa kita.
Bisikan yang datang kepada saya pun berbicara demikian. Bencana angin
dan petir yang kita lihat saat ini, adalah pertanda bahwa kutukan si
keparat itu mulai merusak. Kita ndak bisa menunggu lebih lama lagi. Jadi
sebelum terlambat, saya akan melawannya dengan ilmu yang saya punya.
Jangan pikir, bahwa saya akan kalah dengan kutukan sialan ini.” tegas
sang sepuh di hadapan Pak Tomo.
__ADS_1
Dan sesuai janjinya, sang sepuh akan menumbalkan Estu malam ini juga. Meski bulan
purnama belum tiba. Meski harus melanggar beberapa aturan jua.
Saat ini, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Angin yang berhembus
kencang masih menerpa desa di luar, membersamainya dengan suara guntur
yang menghujam beberapa kali. Tapi itu tidak memengaruhi sama sekali
dengan apa yang sudah sang sepuh janjikan tadi sore. Kini waktu yang
telah sang sepuh janjikan telah tiba. Waktu untuk menumbalkan Estu telah
tiba. Dan dengan semua ritual sakral yang sudah ia lakukan, sang sepuh
pun mulai berderap memasuki ruangan dimana Estu dikurung kini.
Sesampainya sang sepuh di sana, ia melihat Estu dalam kondisi yang miris.
Kondisinya memprihatinkan. Bahkan wajah pucat dan bibirnya yang kering
seakan menjadi simbol bahwa Estu benar-benar sudah mencapai batasnya.
Setelah berhadapan dengan Estu, sang sepuh pun berkata kepadanya dengan
berucap, “Cah bagus, maaf kalau terlalu tiba-tiba. Tapi malam ini, kamu
akan saya tumbalkan untuk ritual ‘Nandur Manungsa’. Saya harus cepat,
karena jika ndak, bisa-bisa desa ini akan binasa.” Ucap sang sepuh
dengan meyeringai mengahiri kalimat.
Tanpa berlama-lama, dengan kedua tangannya sendiri, sang sepuh membangunkan
Estu yang lemas tak berdaya, lalu menyeretnya menuju halaman belakang
rumah dengan kasar.
Sesampainya sang sepuh dan
Estu di belakang rumah, mereka sudah ditunggu oleh Mulan, menantu sang
sepuh. Lalu Estu pun dipaksa untuk duduk bersimpuh di atas tanah.
Sama seperti saat menumbalkan Dian, Hagia dan Abil, sang sepuh menyiramkan
air sakral yang sudah ia jampi-jampi ke tubuh Estu secara perlahan, dari
kepalanya berulang-ulang, hingga akhirnya tubuh estu pun basah dengan
sempurna. Lalu dengan merogoh saku pakainnya, sang sepuh pun
mengeluarkan keris keramat. Sembari mengacungkan keris itu, sang sepuh
pun berkata kepada Estu, “Cah bagus, kamu adalah mahasiswa terakhir yang
tersisa. Semua temanmu sudah pada mati. Malam ini, kamu pun akan
bernasib sama, mati di tangan saya, mati demi menyelamatkan desa
terkutuk ini. Tapi jangan bersedih cah bagus, karena kematian kamu, akan
kami kenang selamanya di sini.” Seringai sang sepuh mengakhiri.
Lalu setelah mengucapkan kalimat perpisahan, sang sepuh pun mulai menyayat
tangan Estu perlahan. Sedikit demi sedikit, darah segar mulai mengalir
keluar dari tubuhnya. Dan menantunya di sana mulai menampung darah segar
itu dengan sebuah wadah.
Tapi tak lama berselang dari sayatan pertama tadi, terdengar suara beberapa barang
serta barang-barang lain ikut berjatuhan dalam sekejap mata. Setelah
meminta izin, Mulan pun dengan cekatan masuk ke dalam rumah untuk
mengecek apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
Lalu sesaat kemudian, terdengar suara teriakan melengking dari dalam rumah.
Mulan baru saja berteriak begitu keras. Dari sudut yang sempit dan
cahaya sekitar yang redup, sang sepuh pun melihat Mulan mulai berjalan
mundur perlahan dengan gestur yang begitu ketakutan. Hingga kemudian…
sang sepuh pun jatuh terduduk, karena terkejut ketika melihat banyak
pocong yang mulai menghampiri mereka dari dalam rumah.
Mulan yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya tumbang karena pingsan. Lalu sang
sepuh pun hanya mampu berderap mundur menjauhi Estu yang mulai
dikerumuni oleh banyak pocong.
Lalu saat sang sepuh mengesot mundur, ia merasa menabrak sesuatu dari arah belakang.
Sang sepuh pun merasa ada cairan yang jatuh menetes dari atas. Dan saat
ia mendongakan wajah ke atas… ia melihat wajah pocong menyeramkan sedang
menatapnya dengan menjatuhkan air liur.
Sempat bertatapan sesaat dengan pocong itu, sang sepuh pun langsung kerasukan
setelahnya. Ia mulai duduk tegap, tangan bersedekap, kepala yang
menunduk dan mulai mengangguk-angguk. Hal mengerikan itu terus terjadi
beberapa saat. Hingga tak lama kemudian, sang sepuh pun mulai sesak
nafas… lalu mati dengan pupil mata yang memutih. Ya. Pocong-pocong itu
adalah peliharaan milik Estu. Mereka keluar saat sang sepuh menyakitinya
dengan sayatan barusan. Mereka keluar, untuk menolong majikannya yang
hampir dibunuh.
Estu yang dikerumuni oleh banyak
pocong pun, mulai berdiri dengan kesanggupannya yang tersisa. Estu
menghampiri sang sepuh yang sudah tewas di sana, lalu ia membungkukan
tubuhnya perlahan untuk mengambil keris yang sedang dipegang oleh mayat
sang sepuh. Setelah dapat, ia mulai mengikis tali buritan yang mengikat
kedua kakinya. Setelah berhasil, dengan susah payah, Estu akhirnya dapat
melepas kedua tangannya yang terikat pula.
Sesuai dengan misi terakhirnya, dengan langkah tertatih, Estu mulai
menggeledah isi rumah sang sepuh dari satu sudut ke sudut lain, demi
menemukan kepala tengkorak ketua sekte desa terdahulu, yang dimana
__ADS_1
rohnya, sudah melakukan kontrak dengan Estu waktu itu.
Karena penerangan di sana hanya bermodalkan cahaya oranye dari obor, Estu
merasa kesulitan menggeledah seisi rumah. Namun, beberapa lama mencari,
akhirnya ia berhasil menemukan dimana lokasi tengkorak kepala itu
berada. Ya, Estu baru saja berhasil mendapatkan tengkorak itu di dalam
lemari kayu yang berada di kamar sang sepuh.
Lalu dengan terhuyung-huyung, Estu berjalan menuju rumah singgahnya yang
dulu ia tinggali untuk mengambil kain berisi tulang belulang beserta
kitab ‘Naraka Paksa’. Dengan menambahkan tengkorak kepala, Estu berpikir
bahwa ritual yang sebenarnya akan benar-benar tercipta. Tapi tahu bahwa
akan ada beberapa warga yang melihatnya jika lewat pintu depan, Estu
pun memilih jalan memutar lewat pintu belakang.
Namun pada akhirnya, Estu berhasil mendapat kain berisi tulang-belulang,
beserta kitab itu dari dalam tasnya. Lalu masih di dalam rumah
singgahnya, Estu pun mulai melakukan sebuah ritual dengan mengikuti apa
yang tertulis di dalam kitab iblis itu.
Obor yang berada di sana seperti terhembus beberapa saat kala Estu membaca
mantra. Hingga kemudian, ada sebuah bisikan yang datang kepadanya dengan
berseraya, “Wahai anak manusia. Datangilah sebuah pohon beringin besar
yang berada di belakang desa. Tanamlah seluruh tulang-belulang yang ada
di hadapanmu dibawahnya. Lalu bacalah ayat kebangkitan untukku. Niscaya,
aku akan memberikanmu keselamatan dan apa yang engkau angankan.” Tutup
suara bisikan itu berseraya.
Mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh bisikan tadi, dengan mengendap berhati-hati,
Estu mulai berjalan memutar menyusuri hutan menuju dimana pohon beringin
besar yang di maksud itu berada. Menyusuri hutan, hanya ditemani sebuah
obor kecil di tangan kanannya.
Sesampainya Estu di pohon beringin besar itu, ia mulai sedikit mengambil ancang-ancang.
Dengan menggali sedikit tanah, Estu pun mulai mengubur tulang belulang,
termasuk tengkorak kepala ketua sekte itu ke dalam tanah. Setelah
selesai, ia mulai duduk bersila. Kitab iblis pun mulai terbuka. Dengan
kesungguhan hati, Estu pun mulai membaca mantra.
“Kehinaan yang bersinar dan berselimut api. Kegelapan yang memakan rembulan di
seluruh alam. Tiada kebaikan melainkan hanya dosa darah yang
membelenggu. Rapuh hati akan menyambut kematian dengan tenang.
Jeritannya akan menembus ke dalam neraka nan menyala-nyala. Dendam dan
seluruh dosa adalah perhiasan. Malam ini khianat akan bertasbih membalas
dendam. Tiada yang mampu mengupayakan kesucian di atasmu. Ini adalah
janji milikmu. Bangkitlah. Sayap Neraka.” Ucap Estu dengan penuh
khidmat. Lalu ia mengigit jemarinya. Tetes darahnya pun ia arahkan ke
atas tanah yang terkubur tulang belulang tadi.
Lalu dalam waktu sekejap, angin mulai berhembus kencang di sekitar Estu.
Serpihan tanah di sana pun mulai bergetar hebat, seakan getarannya
seperti menarik menyambut kedatangan seseorang. Lalu tak lama kemudian,
terdengar suara gemuruh petir yang menyambar. Suara guntur dan kilatan
cahaya yang maha dahsyat baru saja terjadi. Dan tak lama berselang,
suara jerit ratusan orang mulai terdengar secara bersamaan.
Seluruh warga desa secara serempak mulai menjerit keras, jeritan saling
menyahut yang membuat situasi di desa itu menjadi mencekam kini. Bahkan
Pak Tomo yang saat ini sedang berjalan menuju rumah sang sepuh pun,
tetiba saja tersungkur dan menjerit keras. Mulan yang sebelumnya pingsan
pun, kini menjerit dengan lengkingan yang keras pula. Dan ratusan warga
lain pun mengalami hal yang sama.
Kala seluruh warga desa menjerit keras, pendengaran mereka pun mulai berdengung
hebat. Lalu sesaat kemudian, pupil mata warga desa mulai memutih secara
perlahan. Ya. Ritual yang baru saja Estu lakukan, telah membuat seluruh
warga desa menjadi tuli dan buta.
Dalam kondisi warga yang masih berteriak keras di sana, Estu kembali mendapat sebuah
bisikan yang berseraya, “Wahai anak manusia. Ambilah tanah yang berada
di bawah kakimu. Mandikanlah seseorang yang ingin engkau bangkitkan
dengan itu. Bergegaslah.”
Ya, meski tidak pernah menceritakan apa tujuan Estu yang sebenarnya, sosok gaib yang berbisik
tadi sudah tahu benar apa yang sedang Estu rencakan. Yaitu,
membangkitkan neneknya yang sudah mati. Sosok gaib itu mampu melihat ke
dalam isi hati Estu. Bahkan sejak awal kedatangan Estu ke desa ini,
sosok gaib itu tahu, bahwa Estu adalah seorang pengabdi setan. Karena
itulah, sosok gaib itu mendatangi Estu untuk memintainya bantuan. Yaitu,
membangkitkan kembali dirinya yang telah mati dibunuh oleh warga desa.
Yang juga berarti, akan membunuh seluruh warga desa yang berada di sana.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw