Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 14)


__ADS_3

3 bulan yang lalu, setelah Abil ditumbalkan untuk


ritual Nandur Manungsa, kesejahteraan desa kembali stabil beberapa


Minggu setelahnya. Semua hasil pertanian dapat dipanen dengan sempurna.


Tidak ada kelaparan sama sekali di sana. Semuanya hidup bahagia. Senyum


dan tawa para warga pun merekah ke seluruh penjuru desa. Seakan, desa


Abimantrana bukanlah sebuah desa terkutuk.


Namun, setelah berjalan 3 bulan, kondisi desa kembali binasa kini. Terjadi


kelaparan dimana-mana. Tanah yang tak lagi subur serta panen yang


membusuk, membuat senyum dan tawa para warga menjadi sulit ditemui. Para


warga hanya mampu menyiratkan raut wajah sedih nan pilu. Setelah efek


ritual ‘Nandur Manungsa’ mulai menurun, seluruh desa mulai kembali


merasakan kesengsaraan.


Karena itulah, para petinggi desa mulai memikirkan rencana penting saat ini.


Sang sepuh, Pak Bimo, Pak Tomo dan beberapa warga sedang berkumpul di dalam


sebuah ruangan. Di dalam rumah sang sepuh, yang juga tempat dimana Estu


sedang dikurung.


Pembicaraan kali ini telah menghasilkan sebuah kesepakatan bersama. Bahwa Estu, akan ditumbalkan


minggu depan. Dan sebelum Estu dihabisi, Pak Bimo diminta untuk pergi


keluar desa untuk mencari tumbal baru. Lalu, pertemuan pun ditutup.


Saat ini, Pak Bimo langsung menyiapkan beberapa hal setelah pertemuan tadi


berakhir. Karena di hari ini juga, ia akan pergi keluar Desa untuk


mencari tumbal baru.


Pak Bimo pun akan pergi sendirian tanpa ditemani satupun warga. Pak Tomo sudah tidak mungkin


lagi pergi keluar desa menemaninya. 2 warga lain yang sebelumnya sudah


dimandatkan untuk pergi keluar bersama Pak Bimo pun, kini justru


mengalami 'Sukma Purnama'. Jadi mau tidak mau, Pak Bimo akan pergi


keluar desa sendirian. Dan ia tahu, bahwa ini adalah sebuah tugas yang


berat. Tapi Pak Bimo akan mencoba semaksimal mungkin menghadapi masalah


ini sendirian demi desa.


Saat menyiapkan beberapa hal, sang sepuh pun bertanya kepada Pak Bimo dengan berkata, "Bimo, kamu tahu kan harus pergi kemana?"


Mendengar ucapan ayahnya, Pak Bimo pun menjawab dengan intonasi pelan dengan


berkata, "Ya Kanjeng. Saya tahu harus pergi kemana. Semoga saja mbak


Melati sudah dapat mahasiswa lain yang bisa kita ajak ke sini." Ucap Pak


Bimo dengan santun.


Lalu, siapakah mbak Melati yang baru saja Pak Bimo maksud?


Ya. Mbak Melati adalah si pemilik hunian dimana Abil ngekos dulu. Dia


adalah pemilik kos, serta orang yang menyarankan Abil untuk KKN di desa


Abimantrana dulu. Di balik layar, dirinya juga ambil bagian atas


tewasnya Abil, Hagia dan Dian. Ada masa lalu yang membuat Mbak Melati


memiliki hubungan dengan Warga desa Abimantrana. Dan saat ini, Pak Bimo


akan pergi ke kota untuk menemuinya, persis seperti apa yang saat Pak


Tomo lakukan dulu.


Setelah mempersiapkan semua


hal yang dibutuhkan, Pak Bimo pun berpamitan dengan ayahnya, istrinya yg


sedang mengandung, dan juga beberapa warga desa yang berada di sana.


Misinya bukanlah hal mudah, karena dalam 7 hari, ia harus membawa calon


tumbal baru. Dan dengan langkah tegar, Pak Bimo pun mulai pergi


meninggalkan desa.


@ @ @ @ @


Singkat cerita, 4 hari pun telah berlalu semenjak kepergian Pak Bimo keluar


desa. Dan saat ini, kekacauan sedang terjadi di dalam desa Abimantrana.


Pagi tadi, angin besar menghantam desa berulang-ulang hingga membuat


beberapa rumah porak poranda. Awan hitam legam di atas langit pun sedang


menyelimuti desa di sore hari kini. Petir yang menyambar-nyambar dan


terpaan angin kuat, terus menghujani desa tanpa henti. Membuat para


warga menjadi ngeri karenanya.


Lalu di saat-saat seperti ini terjadi, sang sepuh pun berkata kepada Pak Tomo


yang sedang berada di hadapannya, “Saya mendapat bisikan barusan. Bahwa


malam nanti, saya harus menumbalkan Estu.”


Agak sedikit terkejut dengan ucapan sang sepuh, Pak Tomo pun menimpal, “Maaf


kanjeng. Tapi bulan purnama akan datang sekitar 3 hari lagi. Apa ndak


terlalu cepat menumbalkan Estu malam ini? Maaf kalau saya lancang.”


Tutur Pak Bimo dengan kerendahan hati.


Lalu sang sepuh pun menjawab, “Ya. Memang seharusnya Estu ditumbalkan 3 hari lagi


saat bulan purnama tiba. Tapi saya memiliki firasat, bahwa


menumbalkannya lebih cepat akan mendatangkan kebaikan untuk desa kita.


Bisikan yang datang kepada saya pun berbicara demikian. Bencana angin


dan petir yang kita lihat saat ini, adalah pertanda bahwa kutukan si


keparat itu mulai merusak. Kita ndak bisa menunggu lebih lama lagi. Jadi


sebelum terlambat, saya akan melawannya dengan ilmu yang saya punya.


Jangan pikir, bahwa saya akan kalah dengan kutukan sialan ini.” tegas


sang sepuh di hadapan Pak Tomo.

__ADS_1


Dan sesuai janjinya, sang sepuh akan menumbalkan Estu malam ini juga. Meski bulan


purnama belum tiba. Meski harus melanggar beberapa aturan jua.


Saat ini, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Angin yang berhembus


kencang masih menerpa desa di luar, membersamainya dengan suara guntur


yang menghujam beberapa kali. Tapi itu tidak memengaruhi sama sekali


dengan apa yang sudah sang sepuh janjikan tadi sore. Kini waktu yang


telah sang sepuh janjikan telah tiba. Waktu untuk menumbalkan Estu telah


tiba. Dan dengan semua ritual sakral yang sudah ia lakukan, sang sepuh


pun mulai berderap memasuki ruangan dimana Estu dikurung kini.


Sesampainya sang sepuh di sana, ia melihat Estu dalam kondisi yang miris.


Kondisinya memprihatinkan. Bahkan wajah pucat dan bibirnya yang kering


seakan menjadi simbol bahwa Estu benar-benar sudah mencapai batasnya.


Setelah berhadapan dengan Estu, sang sepuh pun berkata kepadanya dengan


berucap, “Cah bagus, maaf kalau terlalu tiba-tiba. Tapi malam ini, kamu


akan saya tumbalkan untuk ritual ‘Nandur Manungsa’. Saya harus cepat,


karena jika ndak, bisa-bisa desa ini akan binasa.” Ucap sang sepuh


dengan meyeringai mengahiri kalimat.


Tanpa berlama-lama, dengan kedua tangannya sendiri, sang sepuh membangunkan


Estu yang lemas tak berdaya, lalu menyeretnya menuju halaman belakang


rumah dengan kasar.


Sesampainya sang sepuh dan


Estu di belakang rumah, mereka sudah ditunggu oleh Mulan, menantu sang


sepuh. Lalu Estu pun dipaksa untuk duduk bersimpuh di atas tanah.


Sama seperti saat menumbalkan Dian, Hagia dan Abil, sang sepuh menyiramkan


air sakral yang sudah ia jampi-jampi ke tubuh Estu secara perlahan, dari


kepalanya berulang-ulang, hingga akhirnya tubuh estu pun basah dengan


sempurna. Lalu dengan merogoh saku pakainnya, sang sepuh pun


mengeluarkan keris keramat. Sembari mengacungkan keris itu, sang sepuh


pun berkata kepada Estu, “Cah bagus, kamu adalah mahasiswa terakhir yang


tersisa. Semua temanmu sudah pada mati. Malam ini, kamu pun akan


bernasib sama, mati di tangan saya, mati demi menyelamatkan desa


terkutuk ini. Tapi jangan bersedih cah bagus, karena kematian kamu, akan


kami kenang selamanya di sini.” Seringai sang sepuh mengakhiri.


Lalu setelah mengucapkan kalimat perpisahan, sang sepuh pun mulai menyayat


tangan Estu perlahan. Sedikit demi sedikit, darah segar mulai mengalir


keluar dari tubuhnya. Dan menantunya di sana mulai menampung darah segar


itu dengan sebuah wadah.


Tapi tak lama berselang dari sayatan pertama tadi, terdengar suara beberapa barang


serta barang-barang lain ikut berjatuhan dalam sekejap mata. Setelah


meminta izin, Mulan pun dengan cekatan masuk ke dalam rumah untuk


mengecek apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.


Lalu sesaat kemudian, terdengar suara teriakan melengking dari dalam rumah.


Mulan baru saja berteriak begitu keras. Dari sudut yang sempit dan


cahaya sekitar yang redup, sang sepuh pun melihat Mulan mulai berjalan


mundur perlahan dengan gestur yang begitu ketakutan. Hingga kemudian…


sang sepuh pun jatuh terduduk, karena terkejut ketika melihat banyak


pocong yang mulai menghampiri mereka dari dalam rumah.


Mulan yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya tumbang karena pingsan. Lalu sang


sepuh pun hanya mampu berderap mundur menjauhi Estu yang mulai


dikerumuni oleh banyak pocong.


Lalu saat sang sepuh mengesot mundur, ia merasa menabrak sesuatu dari arah belakang.


Sang sepuh pun merasa ada cairan yang jatuh menetes dari atas. Dan saat


ia mendongakan wajah ke atas… ia melihat wajah pocong menyeramkan sedang


menatapnya dengan menjatuhkan air liur.


Sempat bertatapan sesaat dengan pocong itu, sang sepuh pun langsung kerasukan


setelahnya. Ia mulai duduk tegap, tangan bersedekap, kepala yang


menunduk dan mulai mengangguk-angguk. Hal mengerikan itu terus terjadi


beberapa saat. Hingga tak lama kemudian, sang sepuh pun mulai sesak


nafas… lalu mati dengan pupil mata yang memutih. Ya. Pocong-pocong itu


adalah peliharaan milik Estu. Mereka keluar saat sang sepuh menyakitinya


dengan sayatan barusan. Mereka keluar, untuk menolong majikannya yang


hampir dibunuh.


Estu yang dikerumuni oleh banyak


pocong pun, mulai berdiri dengan kesanggupannya yang tersisa. Estu


menghampiri sang sepuh yang sudah tewas di sana, lalu ia membungkukan


tubuhnya perlahan untuk mengambil keris yang sedang dipegang oleh mayat


sang sepuh. Setelah dapat, ia mulai mengikis tali buritan yang mengikat


kedua kakinya. Setelah berhasil, dengan susah payah, Estu akhirnya dapat


melepas kedua tangannya yang terikat pula.


Sesuai dengan misi terakhirnya, dengan langkah tertatih, Estu mulai


menggeledah isi rumah sang sepuh dari satu sudut ke sudut lain, demi


menemukan kepala tengkorak ketua sekte desa terdahulu, yang dimana

__ADS_1


rohnya, sudah melakukan kontrak dengan Estu waktu itu.


Karena penerangan di sana hanya bermodalkan cahaya oranye dari obor, Estu


merasa kesulitan menggeledah seisi rumah. Namun, beberapa lama mencari,


akhirnya ia berhasil menemukan dimana lokasi tengkorak kepala itu


berada. Ya, Estu baru saja berhasil mendapatkan tengkorak itu di dalam


lemari kayu yang berada di kamar sang sepuh.


Lalu dengan terhuyung-huyung, Estu berjalan menuju rumah singgahnya yang


dulu ia tinggali untuk mengambil kain berisi tulang belulang beserta


kitab ‘Naraka Paksa’. Dengan menambahkan tengkorak kepala, Estu berpikir


bahwa ritual yang sebenarnya akan benar-benar tercipta. Tapi tahu bahwa


akan ada beberapa warga yang melihatnya jika lewat pintu depan, Estu


pun memilih jalan memutar lewat pintu belakang.


Namun pada akhirnya, Estu berhasil mendapat kain berisi tulang-belulang,


beserta kitab itu dari dalam tasnya. Lalu masih di dalam rumah


singgahnya, Estu pun mulai melakukan sebuah ritual dengan mengikuti apa


yang tertulis di dalam kitab iblis itu.


Obor yang berada di sana seperti terhembus beberapa saat kala Estu membaca


mantra. Hingga kemudian, ada sebuah bisikan yang datang kepadanya dengan


berseraya, “Wahai anak manusia. Datangilah sebuah pohon beringin besar


yang berada di belakang desa. Tanamlah seluruh tulang-belulang yang ada


di hadapanmu dibawahnya. Lalu bacalah ayat kebangkitan untukku. Niscaya,


aku akan memberikanmu keselamatan dan apa yang engkau angankan.” Tutup


suara bisikan itu berseraya.


Mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh bisikan tadi, dengan mengendap berhati-hati,


Estu mulai berjalan memutar menyusuri hutan menuju dimana pohon beringin


besar yang di maksud itu berada. Menyusuri hutan, hanya ditemani sebuah


obor kecil di tangan kanannya.


Sesampainya Estu di pohon beringin besar itu, ia mulai sedikit mengambil ancang-ancang.


Dengan menggali sedikit tanah, Estu pun mulai mengubur tulang belulang,


termasuk tengkorak kepala ketua sekte itu ke dalam tanah. Setelah


selesai, ia mulai duduk bersila. Kitab iblis pun mulai terbuka. Dengan


kesungguhan hati, Estu pun mulai membaca mantra.


“Kehinaan yang bersinar dan berselimut api. Kegelapan yang memakan rembulan di


seluruh alam. Tiada kebaikan melainkan hanya dosa darah yang


membelenggu. Rapuh hati akan menyambut kematian dengan tenang.


Jeritannya akan menembus ke dalam neraka nan menyala-nyala. Dendam dan


seluruh dosa adalah perhiasan. Malam ini khianat akan bertasbih membalas


dendam. Tiada yang mampu mengupayakan kesucian di atasmu. Ini adalah


janji milikmu. Bangkitlah. Sayap Neraka.” Ucap Estu dengan penuh


khidmat. Lalu ia mengigit jemarinya. Tetes darahnya pun ia arahkan ke


atas tanah yang terkubur tulang belulang tadi.


Lalu dalam waktu sekejap, angin mulai berhembus kencang di sekitar Estu.


Serpihan tanah di sana pun mulai bergetar hebat, seakan getarannya


seperti menarik menyambut kedatangan seseorang. Lalu tak lama kemudian,


terdengar suara gemuruh petir yang menyambar. Suara guntur dan kilatan


cahaya yang maha dahsyat baru saja terjadi. Dan tak lama berselang,


suara jerit ratusan orang mulai terdengar secara bersamaan.


Seluruh warga desa secara serempak mulai menjerit keras, jeritan saling


menyahut yang membuat situasi di desa itu menjadi mencekam kini. Bahkan


Pak Tomo yang saat ini sedang berjalan menuju rumah sang sepuh pun,


tetiba saja tersungkur dan menjerit keras. Mulan yang sebelumnya pingsan


pun, kini menjerit dengan lengkingan yang keras pula. Dan ratusan warga


lain pun mengalami hal yang sama.


Kala seluruh warga desa menjerit keras, pendengaran mereka pun mulai berdengung


hebat. Lalu sesaat kemudian, pupil mata warga desa mulai memutih secara


perlahan. Ya. Ritual yang baru saja Estu lakukan, telah membuat seluruh


warga desa menjadi tuli dan buta.


Dalam kondisi warga yang masih berteriak keras di sana, Estu kembali mendapat sebuah


bisikan yang berseraya, “Wahai anak manusia. Ambilah tanah yang berada


di bawah kakimu. Mandikanlah seseorang yang ingin engkau bangkitkan


dengan itu. Bergegaslah.”


Ya, meski tidak pernah menceritakan apa tujuan Estu yang sebenarnya, sosok gaib yang berbisik


tadi sudah tahu benar apa yang sedang Estu rencakan. Yaitu,


membangkitkan neneknya yang sudah mati. Sosok gaib itu mampu melihat ke


dalam isi hati Estu. Bahkan sejak awal kedatangan Estu ke desa ini,


sosok gaib itu tahu, bahwa Estu adalah seorang pengabdi setan. Karena


itulah, sosok gaib itu mendatangi Estu untuk memintainya bantuan. Yaitu,


membangkitkan kembali dirinya yang telah mati dibunuh oleh warga desa.


Yang juga berarti, akan membunuh seluruh warga desa yang berada di sana.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2