Thread Horror

Thread Horror
Bab 9 : Teddy Bear (Part 2)


__ADS_3

Singkat cerita, kini


semester genap telah dimulai. Catatan sekolah di semester ganjil kemarin


begitu buruk untuk Gio. Bukan hanya tentang nilainya yang anjlok,


kehidupan sekolahnya pun sangat menyedihkan. Selama 1 semester berjalan,


Gio tak memiliki teman. Yang ada hanya perundungan di setiap harinya.


Bahkan tak ada yang mau menolong. Jadi semoga saja, semester baru ini


akan menjadi awal yang baik untuk Gio.


Tapi, rasanya itu mustahil.


Baru saja mengawali semester baru, Gio kini sudah dikepung oleh


pentolan-pentolan kelas saat pulang. Ada sekitar 4 orang yang sedang


mengepung Gio di lahan kosong belakang sekolah saat ini. Ke empat orang


itu ingin mengerjai Gio. Kalau bisa, bahkan mereka ingin membuat Gio


menangis. Tapi alih-alih menangis, Gio justru melempar guyon ke mereka


dengan berkata, "Tahu gak barang paling murah di dunia? Itu kalian.


Haha."


Mendengar ejekan dari Gio, sontak ke empat pentolan itu malah semakin bergairah


untuk merundungnya. Dengan menamparnya lebih keras, menjenggut rambutnya


hingga membuat Gio meringis, dan juga membenturkan beberapa kali kepala


Gio ke tembok.


Dan bodoh bagi Gio, dirinya malah melawan ke empat orang itu dengan melempar


guyon lagi. Dengan sedikit tertawa, Gio pun berkata, "Binatang paling


jelek di dunia tahu gak? Kalian lagi. Haha."


Alhasil, tubuh Gio pun menjadi sasaran empuk bagi mereka. Bahkan mereka


merundung Gio jauh lebih parah lagi. Bukan hanya sekedar memukulinya,


tapi kini mereka mengambil tanah lalu memasukkannya ke dalam mulut Gio.


Menutup mulut dan hidungnya rapat, hingga akhirnya Gio menelan tanah


tersebut. Dan di akhir perundungan, mereka berempat mengencingi Gio


bersama-sama. Gio yang telah ditinggal sendirian pun bergumam, "Tau gak


cara berantem yang keren? Kencingin lawanmu. Haha."


Dan keberuntungan lagi-lagi tidak memihak kepada Gio. Tak ada satupun orang


di sana yang memergoki perbuatan tercela ke empat siswa preman itu. Gio


yang malang. Dengan meneteskan air mata, Gio pun mulai tertawa


terbahak-bahak. Lalu ia mengambil kalung beruang di tasnya dan mulai


mengajaknya bicara. Gio pun bergumam, "Sekarang harus gimana?" Tapi


seperti biasa, kalung berungnya itu tak menjawab apapun.


Lalu Gio pun pulang ke rumah, dengan tampilan yang compang-camping.


Malam ini, Gio dilarang sang ayah untuk keluar dari kamar. Dengan mata


nanarnya, sang ayah tadi sore menyuruh Gio untuk tetap di dalam kamar.


Apa Gio dipasung karena telah membuat kesalahan? Alasannya bukan itu.


Malam ini, pacar baru sang ayah akan datang ke rumah. Ia tak mau jika


pacar barunya tahu kalau dirinya sudah memiliki seorang anak, apalagi


anak seperti Gio. Sang ayah takut, jika pacar barunya akan hilang rasa


ketika tahu latar belakangnya. Karena itulah, sang ayah mengancam Gio


untuk tidak keluar kamar, sampai pacar barunya pulang nanti.


Pacar baru sang ayah pun tiba. Kini pacar baru sang ayah sudah berada di


dalam rumah. Saat ini mereka sedang bersenda gurau. Membicarakan hal


yang tak penting. Lalu di selingi dengan sebuah tawa keras.


Pacar barunya adalah seorang hostes. Sang ayah bertemu dengannya di sebuah


kelab malam, saat ia mabuk 2 bulan yang lalu. Setelah itu, hubungan


mereka mulai intens.


Meski hobinya adalah mabuk, berjudi, dan sering datang ke kelab malam, Ayah


Gio sendiri sebenarnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Kalaupun ada,


sang ayah biasanya akan dipekerjakan sebagai pembersih kaca gedung


pencakar langit. Gajinya memang besar, tapi statusnya itu hanyalah


sebatas karyawan cadangan. Jika lagi dibutuhkan, sang ayah mendapat


pekerjaan. Jika tidak, dia akan menganggur, lalu menghabiskan uang yang


ia punya bersama temannya yang lain. Tapi karena kali ini ia sudah punya


pacar, maka waktu dan uangnya kini ia habiskan untuk pacar barunya.


Selagi sang ayah dan pacar barunya sedang bersenda gurau, Gio sendiri masih


berada di dalam kamar. Sejujurnya, Gio ingin pergi ke luar untuk


menonton TV. Karena acara stand up comedy harusnya sudah dimulai


sekarang. Tapi Gio tidak bisa keluar begitu saja, karena pintu kamarnya


telah dikunci oleh sang ayah.


Gio juga masih ingat betul ancaman sang ayah tadi sore. Tapi, siapa yg

__ADS_1


peduli. Dengan hasrat yang begitu menggebu, Gio membuka kaca jendela


kamar, dan merangsak keluar lewat sana. Gio sudah tahu konsekuensinya,


jika melanggar ancaman sang ayah. Tapi baginya, acara stand up comedy


lebih dari segalanya.


Gio yang berhasil keluar kamar, langsung berlari cepat menuju ruang tengah. Ia tidak ingin kelewatan acara kesayangannya.


Gio melewati pintu depan, lalu meluyur begitu saja melewati sang ayah dan


pacar barunya yang sedang bermesraan. Dan kemudian, menyalakan televisi.


Acara kesayangannya telah dimulai. Dengan duduk meringkuk, Gio tertawa


terbahak-bahak mendengar lelucon di TV. Sedangkan ayahnya, bingung


bagaimana harus menjelaskan kepada pacar barunya siapa anak yang sedang


tertawa itu.


Jujur, sang ayah langsung merasa dendam kesumat kepada Gio anaknya.


Keinginannya untuk memukul dan menendang Gio sudah sampai ke ubun-ubun.


Tapi karena pacarnya saat ini ada di sana, ia harus bisa menahan diri.


Ia tidak boleh bersikap kasar di depannya. Ia harus terlihat seperti


sosok yang sempurna.


Tapi, meski sudah dijelaskan panjang lebar, pacar barunya tidak percaya


kepada sang ayah. Bahkan pacarnya tidak mau mendengar apapun lagi dari


sang ayah. Pacarnya kecewa. Karena ia sudah percaya kalau sang ayah


adalah seorang duda tanpa anak. Apalagi sang ayah berjanji menikahinya


di akhir tahun nanti. Dengan keberadaan Gio di sana, menunjukkan kalau


sang ayah telah berbohong. Mereka pun bertengkar. Lalu pacar barunya pun


pergi.


Selepas pacarnya pergi, sang ayah langsung menghampiri Gio yang sedang tertawa


terbahak-bahak. Tanpa ampun, ia langsung menendang Gio hingga


tersungkur. Gio yang sudah tumbang pun mendapat tendangan dan pukulan


yang keras tanpa henti. Setelah puas, sang ayah pun meludahi Gio lalu


membawanya keluar rumah.


Gio yang sudah babak belur pun hanya bisa tersungkur lemas di pelataran


rumah. Nafasnya pun seperti terasa sesak karena siksaan tadi. Dan dalam


kondisinya yang menyedihkan, sang ayah mengunci pintu rumah. Membiarkan


Gio berada di luar sendirian dengan rasa sakit.


Setelah 2 jam berlalu, hujan pun turun deras. Gio masih berada di luar. Kini ia


tidak bisa merangsak masuk rumah. Semua akses masuk sudah diblokir sang


ayah, termasuk jendela yang berada di kamarnya.


Tapi saat Gio meringkuk kesakitan dan kedinginan, pintu rumahnya tetiba saja


terbuka. Ayahnya membukakan pintu itu untuk Gio, sembari berkata, "Woy


tolol. Masuk. Kalo lu mati, ntar gw gak punya pelampiasan."


Melihat ayahnya membukakan pintu, Gio pun masuk ke dalam rumah. Ia pun langsung


menuju kamarnya untuk mengambil si kalung beruang. Sekali lagi, Gio


mengajak kalung beruangnya yang bernama Teddy itu berbicara. Dengan


wajah senang Gio pun berkata, "Klo sekarang harus gimana?"


Tapi mau sampai kapanpun, apa yang Gio lakukan adalah hal sia-sia. Karena


kalung beruangnya, tidak akan pernah bisa menjawab rasa sakitnya.


Di hari berikutnya. Gio tahu tentang kabar acara stand up comedy antar


komunitas yang akan dilaksanakan di kotanya. Ternyata jaraknya juga


tidak terlalu jauh dari tempat dimana ia tinggal. Sekitar 30 menit


perjalanan dengan menaiki kendaraan umum untuk sampai ke lokasi. Dan


telah diumumkan, bahwa acara itu akan dilaksanakan malam ini.


Gio yang tahu kabar itu pun langsung sumringah. Tanpa pikir panjang, ia


langsung membuat sebuah naskah komedi, berharap dirinya punya kesempatan


untuk tampil perdana di sana. Dan telah diputuskan pula, bahwa Gio akan


nekat pergi ke sana meski tidak dapat izin dari sang ayah.


Malam ini, acara stand up comedy antar komunitas akan dimulai. Sebuah cafe


yang cukup luas pun telah dipenuhi para anggota yang berbaur dengan para


pelanggan, termasuk Gio yang sudah berada di sana.


Suara riuh saling bersahutan. Tentu adalah mereka para anggota dari komunitas


masing-masing yang saling menyapa. Mereka terlihat antusias untuk


mengisi acara, meski sebenarnya ini bukanlah acara resmi layaknya sebuah


kompetisi. Ini hanya acara silaturahmi ke sesama komunitas semata.


Lebih jauh lagi, ini adalah salah satu cara untuk membuat dunia stand up


comedy bertahan. Dan Gio, sangat bergairah bisa berada di sana, meski


ia bukan anggota dari komunitas manapun.


MC acara telah memasuki panggung kecil di sana. Berdiri di depan mic,

__ADS_1


dimana semua mata menuju ke arahnya kini. Tanpa basa-basi panjang lebar,


sang MC pun membuka acara.


Sudah 3 jam acara itu berjalan. Selama 3 jam, tiap-tiap anggota komunitas


saling unjuk gigi membawakan naskah komedi mereka. Tampil lepas dan


berhasil membuat siapapun yang berada di sana menjadi ikut tertawa.


Hingga di satu momen, sang MC menawarkan kepada para pelanggan serta


karyawan yang ada di kafe untuk ber-stand up comedy. Adakah dari mereka


yang bukan anggota komunitas yang ingin tampil? Dan tanpa berlama-lama,


Gio pun mengacungkan tangan, tanda bahwa dirinya siap tampil. Lalu sang


MC pun memberikan kesempatan kepada Gio.


Tanpa canggung, Gio langsung berderap ke arah panggung. Meninggalkan tempat


dimana ia duduk sedari tadi yang tanpa teman. Lalu ia menaiki sedikit


anak tangga, dan berakhir di tengah panggung. Kini Gio sudah berada di


atas panggung. Dengan disertai semua mata yang tertuju padanya.


Akhirnya, Gio tahu bagaimana sensasinya menjadi seorang komedian.


Dengan sedikit melirik kertas catatan, Gio pun memulai aksinya. Kalimat komedi


pertamanya pun terucap, "Nama aku Gio. Aku tinggal di dalam rumah.


Nanti klo mati, aku tinggal di kuburan. Haha."


"Aku mau cerita. Aku pernah punya pengalaman menarik. Aku pernah dateng ke indomaret, terus menarik pintunya."


"Oh iya, aku masih sekolah. Dan sekolah itu gak enak. Makanya aku suka nabur mecin di sana, biar jadi enak."


"Oh iya. Dulu aku pernah ngeliat hape jatoh di jalan. Klo kalian ngeliat


hape jatoh di jalan kalian bakal ngapain? Klo aku sih, bakal bantuin dia


bangun. Haha."


"Terus, kalian pernah gak ikut pramuka? Pengalaman terburuk kalian apa? Klo aku pernah disuruh makan bubur pake nasi."


Gio masih terus mencoba menyampaikan materi. Materi yang belum ia sampaikan


pun masih cukup banyak. Namun belum sempat melanjutkan materi, ada


seorang pelanggan yang jengah dengan lelucon yang dibuat oleh Gio. Lalu


pelanggan itu pun berceletuk lantang, "Kagak lucu woy, garing lu."


Mendengar maksud pelanggan itu, Gio pun menimpalinya dengan berkata, "Di sini ada


yang tau orang paling jelek? Iya, itu orang tadi. Haha."


Tahu bahwa Gio sedang mengejeknya, sang pelanggan pun secara spontan


melempar Gio dengan makanan ringan beberapa kali. Tentu, aksi tersebut


dilihat oleh banyak orang.


Merasa bisa dijadikan bahan candaan, Gio pun mereaksi perbuatan sang pelanggan


dengan kembali menimpalinya dengan berceletuk, "Buat temen-temen, gak


boleh buang makanan. Apalagi orang miskin. Haha."


Merasa lebih tersindir, sang pelanggan spontan melempar gelas kaca ke arah


Gio. Gelas kaca itupun mendarat tepat di lengan Gio yang sedang


melindungi wajahnya. Sontak, kejadian itu membuat suasana di sana


berubah menjadi tegang.


Gio yang tidak bisa membaca situasi pun malah mencoba merangkai kata untuk


menjadikan peristiwa barusan menjadi lelucon. Sempat berpikir sejenak,


Gio pun kembali berceletuk, "Apa yang bakal kalian lakuin klo gelas


kalian pecah? Klo aku sih bakal nendang anak itu sampai berdarah. Haha."


Menganggap apa yang barusan Gio katakan sebagai hinaan, sang pelanggan langsung


merangsak naik ke atas panggung dan memukuli Gio.


Seketika suasana di sana menjadi tak karuan. Acara stand up comedy kini telah


berubah menjadi ajang adu jotos. Hingga membuat orang-orang yang ada di


sana langsung mencoba memisahkan keduanya.


Sang pelanggan masih mencoba merangsak meski telah dihadang. Sedangkan Gio


yang sedang dijauhkan malah berpikir untuk menjadikan hal ini sebagai


lelucon lagi. Sembari dipegangi beberapa orang, Gio pun melempar


lelucon, "Tau gak biar berantemnya jadi keren? Kencingin lawanmu. Haha."


Butuh waktu untuk menenangkan keduanya. Salah satu caranya adalah menjauhkan


mereka sejauh mungkin. Karena itu, kini Gio telah di suruh pulang. Salah


satu orang memboncengi Gio sampai ke jalan besar lalu menuruninya di


sana. Tapi karena Gio pulang telat, maka angkutan umum tidak akan ada


yang lewat lagi. Dengan terpaksa, Gio harus berjalan kaki untuk sampai


rumah. Dan harus pasang badan jika ayahnya marah nanti.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2