
Singkat cerita, kini
semester genap telah dimulai. Catatan sekolah di semester ganjil kemarin
begitu buruk untuk Gio. Bukan hanya tentang nilainya yang anjlok,
kehidupan sekolahnya pun sangat menyedihkan. Selama 1 semester berjalan,
Gio tak memiliki teman. Yang ada hanya perundungan di setiap harinya.
Bahkan tak ada yang mau menolong. Jadi semoga saja, semester baru ini
akan menjadi awal yang baik untuk Gio.
Tapi, rasanya itu mustahil.
Baru saja mengawali semester baru, Gio kini sudah dikepung oleh
pentolan-pentolan kelas saat pulang. Ada sekitar 4 orang yang sedang
mengepung Gio di lahan kosong belakang sekolah saat ini. Ke empat orang
itu ingin mengerjai Gio. Kalau bisa, bahkan mereka ingin membuat Gio
menangis. Tapi alih-alih menangis, Gio justru melempar guyon ke mereka
dengan berkata, "Tahu gak barang paling murah di dunia? Itu kalian.
Haha."
Mendengar ejekan dari Gio, sontak ke empat pentolan itu malah semakin bergairah
untuk merundungnya. Dengan menamparnya lebih keras, menjenggut rambutnya
hingga membuat Gio meringis, dan juga membenturkan beberapa kali kepala
Gio ke tembok.
Dan bodoh bagi Gio, dirinya malah melawan ke empat orang itu dengan melempar
guyon lagi. Dengan sedikit tertawa, Gio pun berkata, "Binatang paling
jelek di dunia tahu gak? Kalian lagi. Haha."
Alhasil, tubuh Gio pun menjadi sasaran empuk bagi mereka. Bahkan mereka
merundung Gio jauh lebih parah lagi. Bukan hanya sekedar memukulinya,
tapi kini mereka mengambil tanah lalu memasukkannya ke dalam mulut Gio.
Menutup mulut dan hidungnya rapat, hingga akhirnya Gio menelan tanah
tersebut. Dan di akhir perundungan, mereka berempat mengencingi Gio
bersama-sama. Gio yang telah ditinggal sendirian pun bergumam, "Tau gak
cara berantem yang keren? Kencingin lawanmu. Haha."
Dan keberuntungan lagi-lagi tidak memihak kepada Gio. Tak ada satupun orang
di sana yang memergoki perbuatan tercela ke empat siswa preman itu. Gio
yang malang. Dengan meneteskan air mata, Gio pun mulai tertawa
terbahak-bahak. Lalu ia mengambil kalung beruang di tasnya dan mulai
mengajaknya bicara. Gio pun bergumam, "Sekarang harus gimana?" Tapi
seperti biasa, kalung berungnya itu tak menjawab apapun.
Lalu Gio pun pulang ke rumah, dengan tampilan yang compang-camping.
Malam ini, Gio dilarang sang ayah untuk keluar dari kamar. Dengan mata
nanarnya, sang ayah tadi sore menyuruh Gio untuk tetap di dalam kamar.
Apa Gio dipasung karena telah membuat kesalahan? Alasannya bukan itu.
Malam ini, pacar baru sang ayah akan datang ke rumah. Ia tak mau jika
pacar barunya tahu kalau dirinya sudah memiliki seorang anak, apalagi
anak seperti Gio. Sang ayah takut, jika pacar barunya akan hilang rasa
ketika tahu latar belakangnya. Karena itulah, sang ayah mengancam Gio
untuk tidak keluar kamar, sampai pacar barunya pulang nanti.
Pacar baru sang ayah pun tiba. Kini pacar baru sang ayah sudah berada di
dalam rumah. Saat ini mereka sedang bersenda gurau. Membicarakan hal
yang tak penting. Lalu di selingi dengan sebuah tawa keras.
Pacar barunya adalah seorang hostes. Sang ayah bertemu dengannya di sebuah
kelab malam, saat ia mabuk 2 bulan yang lalu. Setelah itu, hubungan
mereka mulai intens.
Meski hobinya adalah mabuk, berjudi, dan sering datang ke kelab malam, Ayah
Gio sendiri sebenarnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Kalaupun ada,
sang ayah biasanya akan dipekerjakan sebagai pembersih kaca gedung
pencakar langit. Gajinya memang besar, tapi statusnya itu hanyalah
sebatas karyawan cadangan. Jika lagi dibutuhkan, sang ayah mendapat
pekerjaan. Jika tidak, dia akan menganggur, lalu menghabiskan uang yang
ia punya bersama temannya yang lain. Tapi karena kali ini ia sudah punya
pacar, maka waktu dan uangnya kini ia habiskan untuk pacar barunya.
Selagi sang ayah dan pacar barunya sedang bersenda gurau, Gio sendiri masih
berada di dalam kamar. Sejujurnya, Gio ingin pergi ke luar untuk
menonton TV. Karena acara stand up comedy harusnya sudah dimulai
sekarang. Tapi Gio tidak bisa keluar begitu saja, karena pintu kamarnya
telah dikunci oleh sang ayah.
Gio juga masih ingat betul ancaman sang ayah tadi sore. Tapi, siapa yg
__ADS_1
peduli. Dengan hasrat yang begitu menggebu, Gio membuka kaca jendela
kamar, dan merangsak keluar lewat sana. Gio sudah tahu konsekuensinya,
jika melanggar ancaman sang ayah. Tapi baginya, acara stand up comedy
lebih dari segalanya.
Gio yang berhasil keluar kamar, langsung berlari cepat menuju ruang tengah. Ia tidak ingin kelewatan acara kesayangannya.
Gio melewati pintu depan, lalu meluyur begitu saja melewati sang ayah dan
pacar barunya yang sedang bermesraan. Dan kemudian, menyalakan televisi.
Acara kesayangannya telah dimulai. Dengan duduk meringkuk, Gio tertawa
terbahak-bahak mendengar lelucon di TV. Sedangkan ayahnya, bingung
bagaimana harus menjelaskan kepada pacar barunya siapa anak yang sedang
tertawa itu.
Jujur, sang ayah langsung merasa dendam kesumat kepada Gio anaknya.
Keinginannya untuk memukul dan menendang Gio sudah sampai ke ubun-ubun.
Tapi karena pacarnya saat ini ada di sana, ia harus bisa menahan diri.
Ia tidak boleh bersikap kasar di depannya. Ia harus terlihat seperti
sosok yang sempurna.
Tapi, meski sudah dijelaskan panjang lebar, pacar barunya tidak percaya
kepada sang ayah. Bahkan pacarnya tidak mau mendengar apapun lagi dari
sang ayah. Pacarnya kecewa. Karena ia sudah percaya kalau sang ayah
adalah seorang duda tanpa anak. Apalagi sang ayah berjanji menikahinya
di akhir tahun nanti. Dengan keberadaan Gio di sana, menunjukkan kalau
sang ayah telah berbohong. Mereka pun bertengkar. Lalu pacar barunya pun
pergi.
Selepas pacarnya pergi, sang ayah langsung menghampiri Gio yang sedang tertawa
terbahak-bahak. Tanpa ampun, ia langsung menendang Gio hingga
tersungkur. Gio yang sudah tumbang pun mendapat tendangan dan pukulan
yang keras tanpa henti. Setelah puas, sang ayah pun meludahi Gio lalu
membawanya keluar rumah.
Gio yang sudah babak belur pun hanya bisa tersungkur lemas di pelataran
rumah. Nafasnya pun seperti terasa sesak karena siksaan tadi. Dan dalam
kondisinya yang menyedihkan, sang ayah mengunci pintu rumah. Membiarkan
Gio berada di luar sendirian dengan rasa sakit.
Setelah 2 jam berlalu, hujan pun turun deras. Gio masih berada di luar. Kini ia
tidak bisa merangsak masuk rumah. Semua akses masuk sudah diblokir sang
ayah, termasuk jendela yang berada di kamarnya.
Tapi saat Gio meringkuk kesakitan dan kedinginan, pintu rumahnya tetiba saja
terbuka. Ayahnya membukakan pintu itu untuk Gio, sembari berkata, "Woy
tolol. Masuk. Kalo lu mati, ntar gw gak punya pelampiasan."
Melihat ayahnya membukakan pintu, Gio pun masuk ke dalam rumah. Ia pun langsung
menuju kamarnya untuk mengambil si kalung beruang. Sekali lagi, Gio
mengajak kalung beruangnya yang bernama Teddy itu berbicara. Dengan
wajah senang Gio pun berkata, "Klo sekarang harus gimana?"
Tapi mau sampai kapanpun, apa yang Gio lakukan adalah hal sia-sia. Karena
kalung beruangnya, tidak akan pernah bisa menjawab rasa sakitnya.
Di hari berikutnya. Gio tahu tentang kabar acara stand up comedy antar
komunitas yang akan dilaksanakan di kotanya. Ternyata jaraknya juga
tidak terlalu jauh dari tempat dimana ia tinggal. Sekitar 30 menit
perjalanan dengan menaiki kendaraan umum untuk sampai ke lokasi. Dan
telah diumumkan, bahwa acara itu akan dilaksanakan malam ini.
Gio yang tahu kabar itu pun langsung sumringah. Tanpa pikir panjang, ia
langsung membuat sebuah naskah komedi, berharap dirinya punya kesempatan
untuk tampil perdana di sana. Dan telah diputuskan pula, bahwa Gio akan
nekat pergi ke sana meski tidak dapat izin dari sang ayah.
Malam ini, acara stand up comedy antar komunitas akan dimulai. Sebuah cafe
yang cukup luas pun telah dipenuhi para anggota yang berbaur dengan para
pelanggan, termasuk Gio yang sudah berada di sana.
Suara riuh saling bersahutan. Tentu adalah mereka para anggota dari komunitas
masing-masing yang saling menyapa. Mereka terlihat antusias untuk
mengisi acara, meski sebenarnya ini bukanlah acara resmi layaknya sebuah
kompetisi. Ini hanya acara silaturahmi ke sesama komunitas semata.
Lebih jauh lagi, ini adalah salah satu cara untuk membuat dunia stand up
comedy bertahan. Dan Gio, sangat bergairah bisa berada di sana, meski
ia bukan anggota dari komunitas manapun.
MC acara telah memasuki panggung kecil di sana. Berdiri di depan mic,
__ADS_1
dimana semua mata menuju ke arahnya kini. Tanpa basa-basi panjang lebar,
sang MC pun membuka acara.
Sudah 3 jam acara itu berjalan. Selama 3 jam, tiap-tiap anggota komunitas
saling unjuk gigi membawakan naskah komedi mereka. Tampil lepas dan
berhasil membuat siapapun yang berada di sana menjadi ikut tertawa.
Hingga di satu momen, sang MC menawarkan kepada para pelanggan serta
karyawan yang ada di kafe untuk ber-stand up comedy. Adakah dari mereka
yang bukan anggota komunitas yang ingin tampil? Dan tanpa berlama-lama,
Gio pun mengacungkan tangan, tanda bahwa dirinya siap tampil. Lalu sang
MC pun memberikan kesempatan kepada Gio.
Tanpa canggung, Gio langsung berderap ke arah panggung. Meninggalkan tempat
dimana ia duduk sedari tadi yang tanpa teman. Lalu ia menaiki sedikit
anak tangga, dan berakhir di tengah panggung. Kini Gio sudah berada di
atas panggung. Dengan disertai semua mata yang tertuju padanya.
Akhirnya, Gio tahu bagaimana sensasinya menjadi seorang komedian.
Dengan sedikit melirik kertas catatan, Gio pun memulai aksinya. Kalimat komedi
pertamanya pun terucap, "Nama aku Gio. Aku tinggal di dalam rumah.
Nanti klo mati, aku tinggal di kuburan. Haha."
"Aku mau cerita. Aku pernah punya pengalaman menarik. Aku pernah dateng ke indomaret, terus menarik pintunya."
"Oh iya, aku masih sekolah. Dan sekolah itu gak enak. Makanya aku suka nabur mecin di sana, biar jadi enak."
"Oh iya. Dulu aku pernah ngeliat hape jatoh di jalan. Klo kalian ngeliat
hape jatoh di jalan kalian bakal ngapain? Klo aku sih, bakal bantuin dia
bangun. Haha."
"Terus, kalian pernah gak ikut pramuka? Pengalaman terburuk kalian apa? Klo aku pernah disuruh makan bubur pake nasi."
Gio masih terus mencoba menyampaikan materi. Materi yang belum ia sampaikan
pun masih cukup banyak. Namun belum sempat melanjutkan materi, ada
seorang pelanggan yang jengah dengan lelucon yang dibuat oleh Gio. Lalu
pelanggan itu pun berceletuk lantang, "Kagak lucu woy, garing lu."
Mendengar maksud pelanggan itu, Gio pun menimpalinya dengan berkata, "Di sini ada
yang tau orang paling jelek? Iya, itu orang tadi. Haha."
Tahu bahwa Gio sedang mengejeknya, sang pelanggan pun secara spontan
melempar Gio dengan makanan ringan beberapa kali. Tentu, aksi tersebut
dilihat oleh banyak orang.
Merasa bisa dijadikan bahan candaan, Gio pun mereaksi perbuatan sang pelanggan
dengan kembali menimpalinya dengan berceletuk, "Buat temen-temen, gak
boleh buang makanan. Apalagi orang miskin. Haha."
Merasa lebih tersindir, sang pelanggan spontan melempar gelas kaca ke arah
Gio. Gelas kaca itupun mendarat tepat di lengan Gio yang sedang
melindungi wajahnya. Sontak, kejadian itu membuat suasana di sana
berubah menjadi tegang.
Gio yang tidak bisa membaca situasi pun malah mencoba merangkai kata untuk
menjadikan peristiwa barusan menjadi lelucon. Sempat berpikir sejenak,
Gio pun kembali berceletuk, "Apa yang bakal kalian lakuin klo gelas
kalian pecah? Klo aku sih bakal nendang anak itu sampai berdarah. Haha."
Menganggap apa yang barusan Gio katakan sebagai hinaan, sang pelanggan langsung
merangsak naik ke atas panggung dan memukuli Gio.
Seketika suasana di sana menjadi tak karuan. Acara stand up comedy kini telah
berubah menjadi ajang adu jotos. Hingga membuat orang-orang yang ada di
sana langsung mencoba memisahkan keduanya.
Sang pelanggan masih mencoba merangsak meski telah dihadang. Sedangkan Gio
yang sedang dijauhkan malah berpikir untuk menjadikan hal ini sebagai
lelucon lagi. Sembari dipegangi beberapa orang, Gio pun melempar
lelucon, "Tau gak biar berantemnya jadi keren? Kencingin lawanmu. Haha."
Butuh waktu untuk menenangkan keduanya. Salah satu caranya adalah menjauhkan
mereka sejauh mungkin. Karena itu, kini Gio telah di suruh pulang. Salah
satu orang memboncengi Gio sampai ke jalan besar lalu menuruninya di
sana. Tapi karena Gio pulang telat, maka angkutan umum tidak akan ada
yang lewat lagi. Dengan terpaksa, Gio harus berjalan kaki untuk sampai
rumah. Dan harus pasang badan jika ayahnya marah nanti.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1