Thread Horror

Thread Horror
Bab 5 : Ditumbalin Bapak (PART 1)


__ADS_3

Namanya Rijal. Usianya


sudah menginjak 18 tahun. Ibu kandungnya telah meninggal setahun yang


lalu. Kemudian ayahnya memilih untuk menikah lagi dengan seorang janda


beranak 3. Dan akhirnya, keputusan ayahnya tersebut, membuat hidup Rijal


sangat terasa berbeda sekarang.


Hubungan rijal dengan keluarganya saat ini sangat buruk. Ibu tirinya begitu


galak kepadanya. Rijal sangat mengerti bahwa ibu tirinya tidak suka


kepadanya. Bahkan untuk porsi makan saja, ibu tirinya hanya menyisakan


sedikit makanan untuk Rijal. Tak terkadang, Rijal merasa sangat


kelaparan. Belum lagi Rijal yang harus menuruti semua perkataan ibu


tirinya untuk membereskan pekerjaan rumah. Ya, Rijal memang laki laki


yang sudah berusia 18 tahun. Tapi dia bukanlah tipikel anak pembangkang.


Dia anak baik dan kalem. Karena itu, ia merasa tak punya nyali untuk


melawan. Apalagi mengingat, orang dibalik ibu tirinya adalah ayahnya


yang kini sikapnya telah berubah.


Tapi mau bagaimana lagi, kini hidupnya memang seperti itu. Bahkan ayahnya


sendiri seakan tidak lagi peduli kepadanya. Ayahnya hanya mempedulikan


keluarga barunya saja. Justru Rijal, anaknya sendiri, yang bagaikan


orang lain di dalam rumah tersebut. Sang ayah tidak peduli jika Rijal


kelaparan. Sang ayah tidak peduli jika Rijal merasa diabaikan. Karena


mungkin baginya, Rijal kini tidaklah lagi berharga.


Namun, sekuat-kuatnya hati seseorang, lambat laun akan rapuh juga. Begitulah kira-kira yang sedang dirasakan oleh Rijal.


Belakangan ini, ia terus menguatkan niatnya untuk pergi dari rumah. Dari lubuk


hatinya yang paling dalam, jujur ia merasa tidak sanggup lagi tinggal


bersama mereka semua. Ia merasa diabaikan, dikucilkan dan disingkirkan.


Jadi Rijal merasa lebih baik pergi. Dan hari ini, niatnya tersebut


sepertinya akan terwujud.


Rijal baru saja mendapat sebuah kabar baik dari temannya yang berada di kota


sebelah. Yaitu, Rusdi, temannya yang sudah dapat pekerjaan di kota


sebelah. Rusdi mengabarkan, bahwa Rijal, diperbolehkan untuk bekerja di


sana, tempat yang sama dimana Rusdi bekerja. Bahkan Rusdi mengatakan,


bahwa rijal sudah bisa langsung bekerja mulai besok.


Ini adalah kesempatan emas bagi Rijal. Sedari lama, ia ingin pergi dari


rumah. Namun ia tidak tahu harus kemana. Bahkan pekerjaan saja tidak


punya. Jadi dengan tawaran ini, ia berharap bisa merebut kembali


kehidupan bahagianya.


Tentu Rijal sudah menerima tawaran tersebut. Rijal juga langsung mengemas


barang-barangnya ke dalam sebuah tas ransel. Isinya tidak lebih dari


pakaian. Setelah semuanya siap, ia pun mengendap-endap pergi. Pergi


tanpa pamit atau mengucap salam. Benar-benar pergi tanpa sepengetahuan


orang rumah.


Singkat cerita, Rijal kini sudah berada di kota sebelah. Sejujurnya, saat ia


kabur, Rijal hanya membawa uang 20 ribu saja. Dan itupun sebenarnya


tidak cukup untuk ongkos. Tapi beruntung bagi Rijal, ia memiliki teman


yang baik hati. Setelah melewati setengah perjalanan, Rijal pun dijemput


oleh Rusdi. Dan kini, mereka berdua bergegas menuju kios dimana Rijal


akan bekerja.


Sesaat kemudian, mereka pun sampai di kios tersebut. Kios itu dijadikan sebagai


tempat usaha jualan sayur. Rusdi pun langsung memperkenalkan Rijal


kepada bosnya.


Saat siang hari seperti ini, biasanya kios memang sepi pembeli. Karena


senggang, mereka pun mulai bercakap-cakap. Dalam percakapan tersebut,

__ADS_1


garis besar yang bisa ditangkap adalah, bahwa Rijal akan diberikan upah


100 ribu sehari. Itupun belum termasuk uang makan. Jam kerjanya dari


pagi sampai sore. Tanpa pikir panjang Rijal pun setuju. Namun tersisa


satu hal yang mengganjal, dimanakah Rijal harus tinggal? Ia jelas enggan


pulang ke rumah. Di sisi lain Rijal juga tidak memiliki uang untuk


bayar sewa tempat tinggal.


Rusdi sendiri masih tinggal dengan orang tua di rumah petakan yang sempit.


Dengan terus terang, Rusdi juga berkata bahwa Rijal tidak bisa tinggal


di rumahnya meski sementara.


Tapi kali ini keberuntungan memihak Rijal, bosnya yang tahu konflik yang


sedang Rijal alami menyodorkan sebuah tawaran. Bosnya mempersilahkan


Rijal untuk tinggal di kios. Dengan syarat, Rijal harus tahu aturan,


tidak boleh memasukan sembarang orang dan juga menjaga ruangan agar


selalu rapih.


Mendengar tawaran bosnya, Rijal langsung tersenyum senang. Ia tak percaya orang


yang baru mengenalnya langsung berbaik hati kepada dirinya. Tanpa ada


protes sedikitpun, Rijal langsung menerima tawaran tersebut.


Upah 100 ribu sehari, kerja dari pagi sampai sore, tinggal di dalam kios


dengan menaati peraturan. Rijal menganggap ini adalah hari baik


untuknya. Suasana hatinya langsung berubah drastis menjadi baik pula.


Bahkan ia tak segan langsung ikut membantu bekerja meski harusnya ia


bekerja mulai besok.


Pada dasarnya, Rijal adalah anak yang baik dan bisa menghormati orang lain.


Karena bosnya sudah bersikap baik kepadanya, maka Rijal pun ingin


membalasnya dengan sebaik-baik cara. Itulah pelajaran berharga yang


Rijal dapat dari mendiang ibunya. Dan sesungguhnya, mendiang ibunya


telah berhasil mendidik Rijal dan memetik buah kebaikan darinya.


Singkat cerita, 3 bulan sudah berlalu. Rijal masih bekerja di kios sayur. Yang


dengan satu karyawan lainnya, tentu juga dengan bosnya. Bahkan ia


berhasil menjadi pegawai yang dikenal baik oleh para pembeli. Rijal


benar-benar mewujudkan tekadnya memberikan yang terbaik untuk membalas


kebaikan Rusdi dan bosnya yang sudah memberinya kesempatan. Rijal kini


memberikan kesan yang baik kepada semua orang.


Rijal juga pandai mengelola upah yang diberikan kepadanya. Sehingga kini


Rijal tidak lagi perlu tinggal di kios, ia sudah memiliki penghasilan


untuk membayar sewa kontrakan. Bahkan, ia sedang menabung untuk membeli


sebuah sepeda motor bekas. Sekitar 3 sampai 4 bulan ke depan, rasanya


Rijal sudah mampu membelinya.


Rijal merasa hidupnya menjadi lebih baik kini. Meski sesekali, Rijal masih


suka kepikiran tentang ayahnya lalu kembali merasa sedih. Rasanya wajar,


karena mau bagaimanapun, Rijal tetap menganggapnya sebagai orang tua,


sosok yang ia sayangi.


Dan dalam beberapa hari terakhir, ia juga berpikir untuk pulang ke rumah.


Bukan untuk kembali tinggal di sana, melainkan hanya untuk menengok


ayahnya. Rijal ingin tahu kabar ayahnya. Meski sang ayah, tidak pernah


merasa cemas kepadanya.


Sang ayah tidak pernah sekalipun menghubungi Rijal. Bahkan ketika Rijal


mengirim pesan ke ayahnya, pesan itu tidak pernah dibalas oleh sang


ayah. Pernah ia mencoba menelepon sang ayah, tapi berakhir sama, ayahnya


tak mengangkat. Mungkin karena itulah, Rijal merasa khawatir dan ingin


tahu bagaimana kabar ayahnya sekarang. Jadi Rijal berniat, untuk


mengunjungi sang ayah saat bosnya memberikan hari libur nanti.

__ADS_1


Hari ini pun terlewati. Mereka semua sudah beberes dan sudah mencatat barang


apa saja yang habis. Tirai besi kios pun sudah membentang. Toko sayur


pun tutup. Kini waktunya bagi mereka pulang ke rumah masing-masing dan


bersantai setelah seharian capek bekerja. Dan sebelum mereka berpisah,


si bos memberikan sebuah pengumuman. Bahwa besok dan lusa, toko sayur


akan tutup. Itu artinya, para pegawai mendapatkan libur selama 2 hari.


Mendengar berita itu, tentu para pegawai terlihat sumringah semuanya, tak


terkecuali Rijal. Dengan adanya hari libur, para pegawai akhirnya bisa


melancarkan agenda mereka masing-masing, jika memang punya. Tapi untuk


Rijal sendiri, jelas ia sudah memiliki hal untuk dilakukan. Yaitu,


mengunjungi ayahnya.


Setelah memberikan pengumuman penting, si bos pun membubarkan. Lalu mereka


semua pulang ke rumah masing-masing dengan wajah senang.


Malam hari pun tiba. Sekarang sudah jam 12 malam. Rijal masih bersiaga karena


baru selesai bermain game di ponsel miliknya. Lalu ia menaruh ponselnya


di atas kasur dan berderap ke kamar mandi. Rijal bersuci, ia mengambil


wudhu. Setelah selesai, ia menggelar sajadahnya dan mulai sembahyang.


Dalam lantunan doa yang Rijal ucapkan, tetiba saja pundaknya terasa begitu


berat. Ia menjadi sedikit hilang fokus karenanya. Kemudian Rijal merasa


ada sesuatu yang menjalar di tubuhnya, lalu membuatnya terasa mual.


Rijal mulai tidak fokus. Dan rasa mual itu semakin menjadi, membuat


Rijal akhirnya berlari ke kamar mandi lalu memuntahkannya.


Pada awalnya, Rijal memuntahkan banyak cairan dari mulutnya. Terlihat


normal. Mungkin karena masuk angin atau semacamnya. Tapi saat berikutnya


datang, Rijal memuntahkan banyak rambut dari dalam mulutnya. Rambut


panjang kusut yang saling menggulung. Setelah rambut itu keluar, barulah


rasa mualnya mulai menghilang perlahan.


Rijal tak habis pikir, kenapa dirinya bisa sampai memuntahkan rambut sebanyak


itu. Tapi Rijal yang tak mau ambil pusing pun, tidak menggubrisnya. Ia


mencoba berpikir wajar. Lalu mengulangi sembahyang nya yang tadi belum


sempat selesai.


Keesokan paginya pun tiba. Ini adalah hari libur pertama. Rijal sudah berniat


untuk mengunjungi ayahnya hari ini. Ia juga sudah bersiap untuk pergi.


Rijal belum memiliki kendaraan pribadi. Karena itu, ia harus menaiki angkutan


umum jika ingin sampai. Tentu Rijal sendiri tak merasa keberatan,


justru dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa senang karena


ingin menengok ayahnya.


Sejak 3 bulan lalu ia kabur dari rumah. Sejak itu pula Rijal belum pulang ke


rumah lagi. Sejak itu pula ia tak mendengar kabar dari ayahnya. Pesan


yang Rijal kirim tidak pernah dibalas oleh sang ayah. Telepon darinya


pun tidak pernah diangkat oleh sang ayah. Dan ayahnya sendiri, tidak


pernah menghubunginya sekalipun. Jadi karena itu, Rijal sadar bahwa apa


yang dirinya rasakan kini adalah sebuah rasa rindu kepada sang ayah.


Rijal sudah siap untuk berangkat. Ia hanya perlu mengunci pintu kontrakannya


saja lalu pergi. Tapi tatkala Rijal ingin mengunci pintu, tetiba saja ia


merasa sesak nafas. Rijal tidak bisa bernafas hingga membuat matanya


membelalak. Mulutnya terbuka lebar, tangan kanannya memegangi lehernya


dan tubuhnya yang seakan mengejang. Sekilas, Rijal seperti ingin dicabut


nyawanya.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2