
Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah
sang sepuh, mereka semua mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara
teriakan disertai tangisan yang membuat terkejut siapapun yang ada di
sana. Dengan berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat
perkara, tak terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.
Saat Abil dan yang lain keluar, dengan jelas mereka melihat seorang wanita
sedang mengacungkan sebuah senjata tajam di depan rumah seorang warga.
Secara membabi buta wanita itu mengayunkan senjata tajam itu
berkali-kali ke pintu atau dinding rumah yang diincarnya sembari
menangis dan berteriak keras.
Langsung gerak cepat, sang sepuh, Pak Bimo dan Pak Tomo mulai mendekati wanita itu.
Mereka mencoba terus membujuk sang wanita untuk berhenti dengan
menuturkan kalimat-kalimat yang menyejukkan.
Di saat kejadian itu berlangsung, secara spontan Dian melempar pertanyaan
dengan berkata, “Eh? Itu kenapa?” tanya Dian cepat, meski tak jelas
siapa yang sedang ia tanyakan.
Lalu tetiba saja terdengar suara menyahut dari arah belakangnya dengan berkata, “Ada yang
lahir, pasti akan ada yang mati.” Dan suara barusan membuat Dian
langsung terkesiap. Dian pun langsung menoleh ke arah belakangnya dan
menemukan seorang kakek tua. Dan secara jelas, Dian mengingat wajahnya.
Kakek ini adalah orang yang memberikan senyuman kepada Dian saat ia
sedang berkeliling desa tadi. Seorang kakek tua dengan senyuman yang
mengerikan. Lalu sang kakek melanjutkan kalimatnya dengan berkata,
“Perempuan itu ingin membunuh wanita hamil yang ada di dalam rumah itu.”
Merasa terkejut dengan ucapannya, Dian akhirnya membalas dengan bertanya,
“Alasannya… kenapa mbah?” tanya Dian dengan perasan berhati-hati.
Kakek tua itu pun menjawab, “Wanita di dalam rumah itu akan melahirkan hari
ini. Menjelang malam nanti, akan ada yang mati.” Tuturnya dengan
menambahkan kembali senyuman mengerikannya di akhir kalimat.
Melihat senyuman kakek tua itu yang terlihat mengerikan, membuat Dian
memalingkan wajah dengan cepat. Ia pun masih belum mengerti apa maksud
dari perkataannya.
Sang sepuh saat ini masih
mencoba membujuk sang wanita mengamuk itu untuk berhenti. Tatkala
kalimat hangatnya terus melantun, tetiba saja wanita itu menjatuhkan
sajamnya dan mulai menangis pilu. Sang sepuh pun langsung menghampiri
dan membawanya ke rumah untuk ditenangkan. Dan dengan ini, kejadian
tersebut dianggap telah selesai. Semua warga kembali pulang ke rumahnya
masing-masing. Abil dan yang lain pun kembali ke rumah singgah mereka,
dengan diberitahu oleh Pak Tomo, bahwa wanita barusan adalah orang gila
yang sering mengamuk. Mereka diminta untuk tidak memikirkannya dan harus
waspada saat bertemu wanita itu nantinya. Abil, Estu dan Hagia langsung
percaya begitu saja. Sedangkan untuk Dian, ia sudah mulai menaruh rasa
curiga.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 2 siang. Dan benar apa kata kakek tua
yang ditemui oleh Dian pagi ini, baru saja, ada seorang perempuan yang
__ADS_1
melahirkan. Dan itu adalah perempuan yang tadi pagi hampir saja mati
dibunuh oleh wanita yang membawa sajam.
Tahu tentang kabar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian langsung menuju rumah
bahagia untuk memberikan selamat. Tapi alih-alih niatan mereka diterima
dengan baik, suami dari perempuan itu malah mengusir mereka dengan
menutup pintu.
Merasa tersinggung, Hagia pun
dengan ketus berceletuk saat di jalan pulang dengan mengumpat, “Dih?
Orang-orang di desa ini pada kenapa si? Pada aneh banget tau gak!” tutur
kesal Hagia dengan melampiaskannya kepada teman. Dan pada kenyataannya
memang benar seperti itu. Bukan hanya mereka yang diusir dari sana,
bahkan tidak ada satupun warga yang terlihat mendatangi rumah bahagia
meski hanya untuk mengucapkan selamat.
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan benar apa kata kakek tua yang
ditemui oleh Dian pagi ini, baru saja, ada seseorang yang meninggal
dunia. Dan itu adalah suami dari wanita yang pagi ini mengamuk membawa
sajam.
Dengan menangis histeris, sang istri
mengantar kepulangan suaminya menuju pemakaman. Abil, Estu, Hagia dan
Dian ikut mengantar jenazah menuju peristirahatan terakhirnya, yaitu
pemakaman yang berada di dekat gapura desa.
Sesampainya di sana, jenazah pun langsung begitu saja dikuburkan tanpa adanya
cara-cara atau syarat tertentu. Bahkan sang jenazah langsung dikuburkan
menggunakan pakaian terakhir yang ia pakai. Menguburkannya pun hanya
asal menimbun. Setelahnya, kuburan baru itu hanya ditancapkan sebuah
mengantar dan menguburkan, para pelawat pun pulang. Meninggalkan istri
almarhum sendirian di sana yang terus menangis histeris.
Kini hari telah berganti malam. Kira-kira saat ini waktu sudah menunjukkan
pukul 10 malam. Saat ini Abil masih berada di rumah sang sepuh,
mengobrol dengan Pak Tomo dan sang sepuh itu sendiri di sana. Sedangkan
Estu, Hagia dan Dian sudah kembali ke rumah singgah dari beberapa jam
yang lalu.
Setelah bercakap-cakap cukup lama,
akhirnya obrolan mereka berakhir, dibarengi dengan rasa kantuk Abil yang
mulai menjalar. Dengan sopan, Abil berpamitan kepada sang sepuh dan Pak
Tomo. Lalu mulai berjalan pulang sendirian di kegelapan malam, yang
hanya bertemankan sebuah obor ditangannya.
Setelah melangkah cukup jauh, kini Abil sudah bisa melihat rumah singgahnya di
ujung sana. Kini abil hanya perlu melewati pohon yang tergelantung
sebuah ayunan. Sekiranya hampir melewati pohon itu, ayunan yang
menggantung di sana tetiba saja bergerak sendiri. Suasana yang gelap
membuat pandangan Abil menjadi samar. Lalu dengan maksud memastikan,
Abil memajukan obor yang ia pegang, dan menemukan… bahwa ayunan itu
memang sedang mengayun dengan sendirinya.
Abil mengira ayunan itu digerakkan oleh angin, karena angin di sekitarnya
saat ini memang sedang berhembus kencang. Tapi ternyata Abil salah.
Ayunan itu mulai mengayun semakin kencang dengan sendirinya. Abil yang
__ADS_1
telah mengerti kejanggalan ini langsung bergegas. Dan saat ia ingin
melewati ayunan, tetiba saja ayunan itu seperti membeku di sudut
kemiringan, seakan-akan ada yang sedang menahannya untuk tidak bergerak
dalam posisi miring. Seketika, Abil pun langsung lari masuk menuju
rumah.
Dan untung saja Abil tidak bisa melihat
makhluk halus. Karena jika bisa, ia akan melihat sesosok pocong yang
sedang memainkan ayunan.
@ @ @ @ @
Keesokan hari pun tiba. Ketika Abil, Estu, Hagia dan Dian terbangun pagi ini,
mereka dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang mengerikan di salah
satu sudut desa. Dengan mata kepala mereka sendiri, Abil, Estu, Hagia
dan Dian, melihat seseorang telah mati gantung diri di sebuah pohon
beringin belakang desa, lokasi yang kemarin mereka jelajahi saat
berkeliling.
Saat Abil dan yang lain datang,
lokasi tempat kejadian perkara sudah ramai oleh warga. Mereka semua
melihat satu pemandangan yang sama, yaitu sesosok perempuan yang telah
mati gantung diri. Ya, dia adalah wanita yang kemarin mengamuk membawa
sajam, yang di sore harinya sang suami meninggal dunia. Dan saat ini,
jasadnya mulai di evakuasi.
Melihat kejadian mengerikan itu, spontan Hagia yang berada di dekat teman-temannya
langsung berceletuk, “Kasian. Itukan ibu-ibu yang kemarin ngamuk kan ya?
Terus sorenya suaminya meninggal. Pasti berat si rasanya ditinggal sama
keluarga. Tapi kenapa harus bunuh diri?” ucap Hagia dengan iba. Meski
tak jelas siapa yang sedang ia ajak bicara.
Tapi tetiba saja ada salah seorang warga menyahuti ucapan Hagia dengan
berceletuk, “Di sini bunuh diri sudah biasa mbak. Kalau kalian mau
gantung diri juga silahkan.” Ucap perempuan tersebut dengan ketus.
Hagia yang jengah mendengar celetukan perempuan tadi langsung mengajak Abil,
Estu dan Dian untuk kembali ke rumah singgah. Di perjalanan pulang,
dengan kesal Hagia langsung mengumpat di hadapan teman-temannya dengan
berkata, “Gila kali tuh orang. Mati bunuh diri dianggap biasa aja,” muka
judes Hagia saat ini seakan sudah tidak bisa lagi dibendung saat
mengatakan kalimat barusan. Lalu Hagia kembali melanjutkan umpatannya
dengan berkata, “Kemarin kita di usir. Terus ada orang ngamuk bawa
golok. Nyari desa ini juga susahnya minta ampun. Udah gitu adanya di
dalem hutan. Belum lagi pas kita mau masuk desa, harus jalanin adat
getih mawar. Ada jari manusia juga di pajang depan pintu. Ngubur orang
mati asal nimbun doang. Sekarang ada orang mati bunuh diri pada biasa
aja. Kayaknya tuh, desa ini emang sakit.” Protes Hagia seakan sedang
bersumpah serapah.
Tapi, apa yang dikatakan Hagia barusan adalah benar. Mengatakan bahwa desa ini ‘Sakit’ adalah
benar. Karena Desa Abimantrana, memanglah sebuah desa terkutuk.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw