Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 6)


__ADS_3

Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah


sang sepuh, mereka semua mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara


teriakan disertai tangisan yang membuat terkejut siapapun yang ada di


sana. Dengan berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat


perkara, tak terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.


Saat Abil dan yang lain keluar, dengan jelas mereka melihat seorang wanita


sedang mengacungkan sebuah senjata tajam di depan rumah seorang warga.


Secara membabi buta wanita itu mengayunkan senjata tajam itu


berkali-kali ke pintu atau dinding rumah yang diincarnya sembari


menangis dan berteriak keras.


Langsung gerak cepat, sang sepuh, Pak Bimo dan Pak Tomo mulai mendekati wanita itu.


Mereka mencoba terus membujuk sang wanita untuk berhenti dengan


menuturkan kalimat-kalimat yang menyejukkan.


Di saat kejadian itu berlangsung, secara spontan Dian melempar pertanyaan


dengan berkata, “Eh? Itu kenapa?” tanya Dian cepat, meski tak jelas


siapa yang sedang ia tanyakan.


Lalu tetiba saja terdengar suara menyahut dari arah belakangnya dengan berkata, “Ada yang


lahir, pasti akan ada yang mati.” Dan suara barusan membuat Dian


langsung terkesiap. Dian pun langsung menoleh ke arah belakangnya dan


menemukan seorang kakek tua. Dan secara jelas, Dian mengingat wajahnya.


Kakek ini adalah orang yang memberikan senyuman kepada Dian saat ia


sedang berkeliling desa tadi. Seorang kakek tua dengan senyuman yang


mengerikan. Lalu sang kakek melanjutkan kalimatnya dengan berkata,


“Perempuan itu ingin membunuh wanita hamil yang ada di dalam rumah itu.”


Merasa terkejut dengan ucapannya, Dian akhirnya membalas dengan bertanya,


“Alasannya… kenapa mbah?” tanya Dian dengan perasan berhati-hati.


Kakek tua itu pun menjawab, “Wanita di dalam rumah itu akan melahirkan hari


ini. Menjelang malam nanti, akan ada yang mati.” Tuturnya dengan


menambahkan kembali senyuman mengerikannya di akhir kalimat.


Melihat senyuman kakek tua itu yang terlihat mengerikan, membuat Dian


memalingkan wajah dengan cepat. Ia pun masih belum mengerti apa maksud


dari perkataannya.


Sang sepuh saat ini masih


mencoba membujuk sang wanita mengamuk itu untuk berhenti. Tatkala


kalimat hangatnya terus melantun, tetiba saja wanita itu menjatuhkan


sajamnya dan mulai menangis pilu. Sang sepuh pun langsung menghampiri


dan membawanya ke rumah untuk ditenangkan. Dan dengan ini, kejadian


tersebut dianggap telah selesai. Semua warga kembali pulang ke rumahnya


masing-masing. Abil dan yang lain pun kembali ke rumah singgah mereka,


dengan diberitahu oleh Pak Tomo, bahwa wanita barusan adalah orang gila


yang sering mengamuk. Mereka diminta untuk tidak memikirkannya dan harus


waspada saat bertemu wanita itu nantinya. Abil, Estu dan Hagia langsung


percaya begitu saja. Sedangkan untuk Dian, ia sudah mulai menaruh rasa


curiga.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 2 siang. Dan benar apa kata kakek tua


yang ditemui oleh Dian pagi ini, baru saja, ada seorang perempuan yang

__ADS_1


melahirkan. Dan itu adalah perempuan yang tadi pagi hampir saja mati


dibunuh oleh wanita yang membawa sajam.


Tahu tentang kabar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian langsung menuju rumah


bahagia untuk memberikan selamat. Tapi alih-alih niatan mereka diterima


dengan baik, suami dari perempuan itu malah mengusir mereka dengan


menutup pintu.


Merasa tersinggung, Hagia pun


dengan ketus berceletuk saat di jalan pulang dengan mengumpat, “Dih?


Orang-orang di desa ini pada kenapa si? Pada aneh banget tau gak!” tutur


kesal Hagia dengan melampiaskannya kepada teman. Dan pada kenyataannya


memang benar seperti itu. Bukan hanya mereka yang diusir dari sana,


bahkan tidak ada satupun warga yang terlihat mendatangi rumah bahagia


meski hanya untuk mengucapkan selamat.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan benar apa kata kakek tua yang


ditemui oleh Dian pagi ini, baru saja, ada seseorang yang meninggal


dunia. Dan itu adalah suami dari wanita yang pagi ini mengamuk membawa


sajam.


Dengan menangis histeris, sang istri


mengantar kepulangan suaminya menuju pemakaman. Abil, Estu, Hagia dan


Dian ikut mengantar jenazah menuju peristirahatan terakhirnya, yaitu


pemakaman yang berada di dekat gapura desa.


Sesampainya di sana, jenazah pun langsung begitu saja dikuburkan tanpa adanya


cara-cara atau syarat tertentu. Bahkan sang jenazah langsung dikuburkan


menggunakan pakaian terakhir yang ia pakai. Menguburkannya pun hanya


asal menimbun. Setelahnya, kuburan baru itu hanya ditancapkan sebuah


mengantar dan menguburkan, para pelawat pun pulang. Meninggalkan istri


almarhum sendirian di sana yang terus menangis histeris.


Kini hari telah berganti malam. Kira-kira saat ini waktu sudah menunjukkan


pukul 10 malam. Saat ini Abil masih berada di rumah sang sepuh,


mengobrol dengan Pak Tomo dan sang sepuh itu sendiri di sana. Sedangkan


Estu, Hagia dan Dian sudah kembali ke rumah singgah dari beberapa jam


yang lalu.


Setelah bercakap-cakap cukup lama,


akhirnya obrolan mereka berakhir, dibarengi dengan rasa kantuk Abil yang


mulai menjalar. Dengan sopan, Abil berpamitan kepada sang sepuh dan Pak


Tomo. Lalu mulai berjalan pulang sendirian di kegelapan malam, yang


hanya bertemankan sebuah obor ditangannya.


Setelah melangkah cukup jauh, kini Abil sudah bisa melihat rumah singgahnya di


ujung sana. Kini abil hanya perlu melewati pohon yang tergelantung


sebuah ayunan. Sekiranya hampir melewati pohon itu, ayunan yang


menggantung di sana tetiba saja bergerak sendiri. Suasana yang gelap


membuat pandangan Abil menjadi samar. Lalu dengan maksud memastikan,


Abil memajukan obor yang ia pegang, dan menemukan… bahwa ayunan itu


memang sedang mengayun dengan sendirinya.


Abil mengira ayunan itu digerakkan oleh angin, karena angin di sekitarnya


saat ini memang sedang berhembus kencang. Tapi ternyata Abil salah.


Ayunan itu mulai mengayun semakin kencang dengan sendirinya. Abil yang

__ADS_1


telah mengerti kejanggalan ini langsung bergegas. Dan saat ia ingin


melewati ayunan, tetiba saja ayunan itu seperti membeku di sudut


kemiringan, seakan-akan ada yang sedang menahannya untuk tidak bergerak


dalam posisi miring. Seketika, Abil pun langsung lari masuk menuju


rumah.


Dan untung saja Abil tidak bisa melihat


makhluk halus. Karena jika bisa, ia akan melihat sesosok pocong yang


sedang memainkan ayunan.


@ @ @ @ @


Keesokan hari pun tiba. Ketika Abil, Estu, Hagia dan Dian terbangun pagi ini,


mereka dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang mengerikan di salah


satu sudut desa. Dengan mata kepala mereka sendiri, Abil, Estu, Hagia


dan Dian, melihat seseorang telah mati gantung diri di sebuah pohon


beringin belakang desa, lokasi yang kemarin mereka jelajahi saat


berkeliling.


Saat Abil dan yang lain datang,


lokasi tempat kejadian perkara sudah ramai oleh warga. Mereka semua


melihat satu pemandangan yang sama, yaitu sesosok perempuan yang telah


mati gantung diri. Ya, dia adalah wanita yang kemarin mengamuk membawa


sajam, yang di sore harinya sang suami meninggal dunia. Dan saat ini,


jasadnya mulai di evakuasi.


Melihat kejadian mengerikan itu, spontan Hagia yang berada di dekat teman-temannya


langsung berceletuk, “Kasian. Itukan ibu-ibu yang kemarin ngamuk kan ya?


Terus sorenya suaminya meninggal. Pasti berat si rasanya ditinggal sama


keluarga. Tapi kenapa harus bunuh diri?” ucap Hagia dengan iba. Meski


tak jelas siapa yang sedang ia ajak bicara.


Tapi tetiba saja ada salah seorang warga menyahuti ucapan Hagia dengan


berceletuk, “Di sini bunuh diri sudah biasa mbak. Kalau kalian mau


gantung diri juga silahkan.” Ucap perempuan tersebut dengan ketus.


Hagia yang jengah mendengar celetukan perempuan tadi langsung mengajak Abil,


Estu dan Dian untuk kembali ke rumah singgah. Di perjalanan pulang,


dengan kesal Hagia langsung mengumpat di hadapan teman-temannya dengan


berkata, “Gila kali tuh orang. Mati bunuh diri dianggap biasa aja,” muka


judes Hagia saat ini seakan sudah tidak bisa lagi dibendung saat


mengatakan kalimat barusan. Lalu Hagia kembali melanjutkan umpatannya


dengan berkata, “Kemarin kita di usir. Terus ada orang ngamuk bawa


golok. Nyari desa ini juga susahnya minta ampun. Udah gitu adanya di


dalem hutan. Belum lagi pas kita mau masuk desa, harus jalanin adat


getih mawar. Ada jari manusia juga di pajang depan pintu. Ngubur orang


mati asal nimbun doang. Sekarang ada orang mati bunuh diri pada biasa


aja. Kayaknya tuh, desa ini emang sakit.” Protes Hagia seakan sedang


bersumpah serapah.


Tapi, apa yang dikatakan Hagia barusan adalah benar. Mengatakan bahwa desa ini ‘Sakit’ adalah


benar. Karena Desa Abimantrana, memanglah sebuah desa terkutuk.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2