
Kisah ini, akan menjadi cerita yang takkan pernah terlupa bagi mereka yang ditinggalkan. Tentang Aryan, yang harus melewati hidup penuh naas, hanya karena sebuah kesalahan kecil.
Tahun 2013, Tembung, Deli Serdang.
Aryan dan beberapa kawannya sedang berkumpul di beranda rumah seorang teman. Minggu pagi ini, mereka berlima punya rencana berpergian ke daerah atas untuk mengisi hari libur. Tujuan mereka adalah tempat wisata perkebunan yang ada di Berastagi.
"Udah ayo berangkat sekarang. Keburu siang." Ucap Aryan barusan kepada teman-temannya yang terus menunda waktu keberangkatan.
Lalu seorang laki-laki bernama Agam, langsung menyanggah ucapan Aryan tadi dengan menimpal, "Ya sabar. Nunggu cewek gw bales dulu. Takutnya dia mau ikut."
Ada satu hal yang tidak begitu Aryan sukai dari temannya yang bernama Agam ini. Di mata Aryan, Agam terlalu bucin. Padahal di awal, mereka berniat jalan-jalan hanya dengan tongkrongan satu geng, tapi sekarang, tetiba saja Agam mengajak pacarnya untuk ikut serta. Di dalam rasa jengahnya, Aryan pun kembali berkata, "Kalo mau ikut buruan. Jangan kelamaan mikir. Kalo gak kita tinggal." Ucapnya agak ketus.
Dan setelah 10 menit menunggu, pacar Agam memutuskan untuk ikut. Aryan pun, mulai memacu motornya perlahan, mengekor di belakang motor Agam menuju rumah sang kekasih temannya itu.
Sesampainya di sana, mereka pun harus dibuat menunggu lagi. Mungkin sampai sekitar 40 menit. Setelah selesai mandi dan merias wajah, barulah pacar Agam berjalan keluar menemui semuanya.
Dengan suara pelan, Aryan pun bergumam, "Ngerusak suasana aja. Mana jadi kesiangan pula berangkatnya." Tentu ia mengatakan hal barusan untuk dirinya sendiri.
Dan saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat 13, barulah mereka berenam melaju beriringan menuju Berastagi.
Kini waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang. Setelah melakukan perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya Aryan dan semuanya sudah sampai di tempat tujuan, lokasi wisata dengan panorama perbukitan yang ada di Berastagi.
Setelah memarkirkan motor dan masuk ke dalam tempat wisata, Aryan berinisiatif mengajak sahabatnya untuk langsung berkeliling. Tak ada satupun yang menyanggah sarannya. Di bawah langit biru yang membentang sejuk, mereka mulai menyusuri jalan dengan wajah sumringah.
Panorama perbukitan jelas menjajakan banyak hal indah kepada mereka. Sejauh mata memandang, mereka disuguhi oleh pepohonan Pinus yang berdiri kokoh di banyak sudut. Belum lagi pemandangan indah gunung Sinabung dari kejauhan, dimana siluetnya terlihat seperti sebuah maha karya yang indah. Perkebunan jeruk nan subur pun tak lupa menghadirkan cerita tersendiri yang menyenangkan. Semuanya terasa sempurna di sini. Penat kehidupan yang seakan tak henti mencedarai pikiran, mulai memudar perlahan oleh nuansa yang membuat mereka terkesima. Pekerjaan sehari-hari yang membuat dunia tidak lagi terasa menyenangkan, seketika hilang dengan sajian indah alam yang mereka lihat saat ini.
Lalu setelah berkeliling cukup lama, mengitari banyak spot dengan semangat, mereka memutuskan untuk mengambil posisi di sebuah bukit dekat perkebunan jeruk. Di sana, mereka mulai terduduk di atas tanah, dengan gestur nafas yang agak tersengal karena lelah. Perkebunan jeruk yang membentang luas dihadapan, tentu menjadi satu-satunya hal yang bisa mereka pandangi saat ini. Aryan dan yang lain pun memulai obrolan santai di sana. Berbicara banyak hal berdasarkan apa yang melintas di kepala. Hingga kemudian, tetiba saja Aryan berdiri dan merangkahkan tangan kanannya ke depan. Setelah melirik ke sekitar, ia pun dengan cepat memetik 2 buah jeruk yang ada di sana diam-diam.
"Woy. Jangan ambil sembarangan. Kacau lu." Ucap Agam barusan memprotes.
Alih-alih sadar dengan perbuatannya, Aryan justru mengelak dengan berkata, "Ya ampun. Jeruk segitu banyak, masa cuma gw ambil 2 aja gak boleh. Pelit amat." Tukasnya sembari merobek jeruk yang ia pegang. Aryan pun sempat menawari buah itu kepada teman-temannya. Tapi, tak ada satupun yang mau menerima. Dan dengan senang hati, Aryan mulai memakan jeruk jeruk itu dengan lahap sendirian.
"Benar-benar nih anak. Ngambil makanan sembarangan aja. Sakit perut baru tahu rasa lu." Untuk yang kedua kalinya, Agam memprotes.
Ya, tapi rasanya percuma. Protesnya sama sekali tidak di dengar. Alih-alih merasa bersalah, Aryan justru terus memasukan butir jeruk ke dalam mulut, dan terus mengunyahnya dengan wajah yang santai. Tabiat Aryan memang kurang lebih seperti ini, suka menyepelekan sesuatu. Karena teman-temannya tahu akan sifatnya yang begini, mereka pun memilih untuk acuh. Membiarkan Aryan bersikap semaunya sendiri.
Dan perihal jeruk yang tadi diambil oleh Aryan, bahwasanya jeruk-jeruk itu memang diperjualbelikan. Perkebunan jeruk yang ada di sana memang sengaja dihadirkan, sekalian untuk di dagangkan, dengan cara memetiknya secara langsung dari pohon. Tapi harus membayar setelahnya. Tapi apa yang baru saja Aryan lakukan adalah sebuah pelanggaran. Alih-alih membayar 2 jeruk yang barusan dipetik, ia malah meluyur begitu saja kala mereka memutuskan untuk melanjutkan berkeliling. Lalu pulang ke rumah setelahnya, dengan meninggalkan sebuah dosa di sana.
Keesokkan paginya, Aryan mulai mengeluhkan perutnya yang sakit. Bahkan saking melilitnya, Aryan pun terpaksa izin kerja hari ini. Ia tak tahu sebab apa yang membuat kondisinya menjadi demikian. Secara sepihak, Aryan mulai menyalahkan kopi yang tadi ia minum sebelum sarapan.
Kepada Aryan yang masih merintih kesakitan, ibunya pun berkata, "Kalau rasa sakitnya parah, mending ke rumah sakit aja yuk." Ucap sang ibu penuh khawatir.
__ADS_1
Menolak saran ibunya, Aryan pun menjawab, "Jangan dulu lah Mak. Biarin aja dulu. Paling melilit biasa. Minum obat maag juga nanti paling sembuh. Kayaknya maag aku lagi kambuh." Tutur Aryan dengan wajah meringis.
Setuju dengan pemikiran Aryan barusan, sang ibu mulai berjalan ke belakang mencari kotak obat. Laci kecil khusus obat pun mulai di buka satu persatu, hingga didapatlah strip obat maag yang dicari. Dengan langkah agak tergesa, sang ibu kembali ke ruang depan menemui Aryan lalu menyodorkan obat tersebut.
Dengan lihai, Aryan mengeluarkan satu tablet obat dan mulai mengunyahnya. Tak lupa pula ia meneguk air putih yang sudah disediakan oleh sang ibu. Lalu berderap ke dalam kamar untuk membaringkan tubuh. Dengan wajah meringis menahan sakit, Aryan pun mencoba beristirahat.
Tapi kala langit sore telah membentang luas, rasa sakit di perut Aryan tak kunjung sembuh jua. Kepada orangtuanya, Aryan pun berkata, "Aku ini kenapa sih Mak? Kok dari tadi pagi perut aku sakit terus?"
Ibunya jelas hanya bisa panik melihat sang anak yang terus meringkuk menahan sakit. Dalam rasa kebingungannya, sang ibu pun berkata, "Pak, bawa Aryan ke dokter sekarang." Tegasnya kepada sang suami, yang baru pulang bekerja sekitar 20 menit yang lalu.
Tanpa ada ba-bi-bu lagi, sekiranya pukul 5 sore, Aryan segera dibawa ke rumah sakit. Dengan meminjam mobil tetangga, mereka bergegas menuju rumah sakit umum.
Sesampainya di rumah sakit, Aryan langsung dimasukkan ke ruang UGD karena melihat kondisinya yang buruk. Setelah melakukan pendataan dan segala macam, Aryan yang sedang terbaring meringkuk di atas kasur pun mulai ditangani.
Setelah dilakukan banyak pengecekan dan dicecar beberapa pertanyaan, Aryan mulai diberi obat khusus lambung. Kepada Aryan dan orangtuanya, salah seorang dokter di sana berkata bahwa kemungkinan, Aryan mengalami tukak lambung yang cukup akut. Dan hal ini dibenarkan pula oleh orang tua Aryan yang menjawab bahwa anak mereka, memang suka telat makan dan hobi merokok dan ngopi.
Sebagai jalan keluar untuk penyembuhan, Aryan pun langsung diberikan obat tukak lambung, dan diminta untuk tetap di sana selama beberapa waktu, untuk memastikan obat itu ampuh menyembuhkan rasa nyerinya. Dan benar, sekitar satu jam, rasa nyeri di perut Aryan mulai menghilang. Aryan yang sebelumnya terus-terusan meringkuk, kini mulai bisa menegapkan tubuhnya kembali. Setelah yakin sudah baikan, Aryan dan orangtuanya pun pulang ke rumah dengan membawa resep dokter yang harus dihabiskan oleh Aryan.
Memang saat ini, kondisi Aryan sudah kembali pulih. Diagnosa dokter yang mengatakan bahwa ia mengalami tukak lambung mungkin saja benar. Tapi dari sini, hal-hal tak terduga yang akan dialami Aryan pun mulai berdatangan.
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Aryan yang kondisinya mulai membaik, menjadi terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Setelah selesai, ia pun kembali menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur. Tapi tatkala ia mencoba memejamkan mata, tetiba saja mulai terdengar suara gemuruh dari atas atap.
Merasa sudah kelewat batas, Aryan pun akhirnya turun tangan. Dengan rasa jengah, ia mulai keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumah. Ditengah-tengah kesunyian malam, ia berjalan keluar untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi di atas sana, binatang apa yang mengganggu tidur malamnya. Tapi percuma, sekeras apapun Aryan mendongakkan kepala, ia tak menemukan apapun di atap rumah. Kondisinya normal. Segala prasangka yang ada di benaknya tadi sama sekali tidak terbukti. Merasa cukup, Aryan pun berpikir menyudahinya, lalu bersiap untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Hingga kemudian, di bawah langit malam yang gelap, saat hendak berjalan masuk ke beranda rumah, Aryan melihat bayangan dirinya sendiri yang bentuknya mulai berubah jadi aneh. Bayangan dirinya yang terefleksi di jalan, terlihat menjadi gempal, besar dan tinggi. Sesaat, Aryan pun menjadi bingung karenanya. Lalu saat ia mulai membatin untuk menerka kejadian itu, tetiba saja bayangan di hadapannya seperti tumbuh menjadi lebih besar lagi. Tahu bahwa ada yang tidak beres, seketika Aryan langsung masuk ke dalam rumah segera. Setelah mengunci pintu, ia pun bergegas menuju kamar adik satu-satunya. Malam ini, ia akan tidur berdua bersama adik lelakinya.
Dan kala keesokan paginya datang, Aryan mulai menceritakan semua yang ia alami tadi malam kepada keluarga. Mulai dari suara gemuruh di atap, bayangannya yang terlihat menyeramkan, hingga mimpi buruknya semalam yang seperti dicekik oleh sosok makhluk hitam besar. Tapi, tak ada satupun keluarganya yang percaya. Perihal gemuruh di atap semalam pun, ayah, ibu dan adiknya tidak mendengarnya sama sekali. Tapi dengan intonasi menggebu, Aryan kekeh meyakinkan kepada mereka, bahwa berita yang ia sampaikan adalah benar.
Tapi alih-alih percaya, sang ibu pun berkata, "Iya-iya mamak percaya. Yaudah, siap-siap sana, sebentar lagi berangkat kerja kan?" Ucapnya sembari mengunyah pisang goreng. Sadar bahwa ucapannya dianggap berita bualan, Aryan akhrnya memilih diam. Dan lekas meninggalkan tempat duduk untuk bersiap-siap.
Kondisinya yang sudah membaik hari ini, membuat Aryan harus kembali bekerja. Setelah selesai melakukan persiapan seperti biasa, Aryan pun pamit. Ia mulai memacu motornya dengan kecepatan sedang, sembari membatin dalam hati, menaruh curiga dengan apa yang ia alami tadi malam.
Singkat cerita, sepulang bekerja, Aryan kembali mengadu kepada keluarga perihal apa yang tadi ia alami di pabrik. Kepada keluarganya, Aryan pun berkata, "Aku serius. Tadi pas kerja, pas lagi angkat papan, aku ngeliat bayangan itu lagi. Bayangannya sama kayak tadi malam. Besar tinggi."
Tapi sekali lagi, berita yang disampaikan Aryan barusan dijawab dengan kalimat yang seadanya. Sang ibu pun malah berucap, "Yaudah biarin aja. Sekarang, mending kamu mandi dulu. Abis itu makan. Jangan sampai telat. Kamu gak mau kan ngerasain sakit kayak kemarin lagi?"
Aryan pun sadar bahwa ucapannya lagi-lagi diabaikan. Merasa cukup, ia bergegas berdiri, masuk ke dalam kamar, mengambil baju dari dalam lemari, dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun mandi dalam keadaan yang agak jengkel.
Saat di pabrik tadi, kala ia memberitakan hal serupa kepada rekan kerja, mereka pun hanya membalas dengan jawaban yang seadanya pula. Aryan sendiri sebenarnya tidak marah atau kesal akan hal itu, bahkan ia sendiri jurtru kebingungan karenanya. Tapi, jika setiap orang yang ia ceritakan tidak serius menanggapi, tentu Aryan pun menjadi jengkel. Sebenarnya ia hanya ingin tahu pendapat orang lain perihal apa yang ia alami. Jika memang nyata, apa yang sebenarnya ia lihat? Jika tidak, kenapa pula ia mengalaminya?
Lalu dalam dirinya yang masih membatin, tetiba saja Aryan terkejut karena suatu hal. Saat ini dirinya sedang keramas, ia terkejut kala menyadari tekstur rambut yang ia keramasi terasa berbeda ditangannya. Dan saat mengecek, telapak tangannya sudah dipenuhi oleh banyak rambut. Tapi Aryan sadar, bahwa rambut tersebut bukanlah rambut miliknya. Ia berambut pendek, sementara rambut yang ada ditangannya saat ini, jauh lebih panjang dari rambutnya sendiri.
__ADS_1
Merasa kacau, Aryan pun bergegas membasuh rambut dan tubuhnya dengan segera, lalu keluar dari kamar mandi dengan wajah panik.
Kepada keluarganya, Aryan pun langsung berkata, "Aku ngalamin hal aneh lagi. Tadi pas aku keramas, rambut aku jadi panjang-panjang. Kalo gak percaya, sini aku kasih unjuk." Tegas Aryan memberitakan hal tadi kepada seluruh anggota keluarga. Ia pun langsung mengajak mereka ke dalam kamar mandi untuk diperlihatkan rambut-rambut tadi yang seharusnya masih ada di sana.
Tapi ketika semua sudah ada di lokasi perkara, Aryan tidak dapat menemukan rambut-rambut tadi. Seketika sang ayah langsung berceletuk, "Kamu itu kenapa sih? Abis sakit jadi aneh-aneh aja.”
Aryan pun langsung menimpal, “Ta-tadi… semua rambutnya ada kok di bawah. Ta-tapi… kok bisa ilang tiba-tiba?” tuturnya kebingungan, setelah mendapati rambut-rambut itu tetiba saja menghilang dari lantai.
Melihat tingkah laku anaknya yang mulai aneh, sang ayah pun kembali berkata, “Udahlah, kamu itu paling cuma halusinasi gara-gara efek sakit kemarin. Udah makan dulu, abis itu diminum obatnya.” Ucap sang ayah, lalu berderap pelan menuju ruang tengah untuk kembali menonton TV. Begitu pula yang dilakukan sang ibu dan sang adik, yang akhirnya meninggalkan Aryan sendirian di dalam kamar mandi.
Kini, waktu sudah menunjukan pukul 1 malam. Secara 2 malam beruntun, Aryan mengalami hal ganjil yang sama. Suara gemuruh di atap, kini mulai terdengar nyaring di telinga, membuat Aryan akhirnya terbangun dari tidur.
Sadar bahwa suara gemuruh ini berasal dari sesuatu yang tak wajar, Aryan pun mencari akal untuk membuktikan kebenarannya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan keluar kamar, dan masuk ke dalam kamar adik laki-lakinya yang berada di samping. Setelah membuka pintu kamar adiknya yang tidak terkunci, Aryan pun lekas membangunkan sang adik, memberitahunya bahwa suara gemuruh itu datang lagi. Ya, meski sudah berada di kamar yang berbeda, Aryan masih mendengar jelas suara gemuruh itu saat ini.
Tapi sayang, sang adik justru menepak tangan Aryan, yang dianggap malah mengganggu tidur lelapnya. Sang adik tidak mau dengar, ia tidak peduli dengan ketakutan Aryan saat ini. Alih-alih bangun dari tidurnya, sang adik justru melempar tubuhnya ke arah lain, ke samping tembok sembari mendengus marah kepada Aryan. Lalu, kembali tertidur lelap.
Merasa percuma, akhirnya Aryan keluar dari kamar sang adik. Suara gemuruh pun masih terdengar nyaring ditelinganya. Lalu dengan penasaran, Aryan mulai melangkahkan kaki menuju ruang depan. Ia hendak mengecek apa yang sedang terjadi di luar sana. Tapi, berbeda dengan kemarin, kali ini Aryan enggan untuk membuka pintu, ia tidak mau keluar rumah. Ia hanya ingin mengeceknya lewat jendela, hanya sekedar mengintip keluar rumah dari bali jendela.
Saat sudah berada tepat di depan jendela rumah, dengan keberanian yang seadanya, Aryan mulai menyibak gorden jendela dengan pelan. Sedikit demi sedikit, gorden mulai terbuka. Lalu ia pun memajukan sedikit kepalanya, mengintip keluar rumah untuk mencari tahu, bahwa mungkin saja ada sesuatu di luar sana.
Dan saat Aryan sudah berhasil mengintip keluar, tubuhnya pun tetiba saja merinding bukan main. Alangkah terkejutnya ia, kala melihat sebuah kaki yang berwarna gelap, dipenuhi dengan rambut, serta posturnya yang menjulang tinggi ke atas, sedang berdiri di depan rumahnya. Meski tidak melihat wujudnya secara utuh, meski baru hanya melihat kakinya semata, tapi Aryan langsung lari kocar-kacir menuju kamar sang adik. Dengan yakin, Aryan tahu, bahwa makhluk yang baru saja ia lihat pastilah Begu Ganjang. Dan benar, bahwa apa yang Aryan lihat barusan, memanglah sosok gaib bernama Begu Ganjang.
Lantas… apa yang membuat Aryan diteror oleh sosok mengerikan tersebut?
BERSAMBUNG
\===============================
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
\===============================
## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis.
## Tolong di vote ya manteman :)
__ADS_1