
Tangerang 2009. Tahun ini, akan menjadi tahun
terbaik yang pernah dirasakan oleh Andini. Setelah dinyatakan lulus
sekolah beberapa waktu lalu, kebahagiaannya pun kini semakin bertambah,
kala ia mendapat sebuah kabar bahwa dirinya, telah dinyatakan lulus
ujian beasiswa perguruan tinggi. Ya, berita baik itu telah mengukuhkan,
bahwa Andini menjadi salah satu pelajar yang mendapat beasiswa untuk
belajar di perguruan tinggi negeri. Sebuah kampus dengan nama mentereng
yang berada di Jawa tengah.
Sorak sorai penuh suka cita tentu terpancar jelas dari wajah Andini menyambut berita
barusan. Bahkan yang terlihat senang bukan hanya dirinya seorang. Ayah,
ibu dan adiknya pun, turut bergembira atas kabar baik tersebut.
Meski kampus yang Andini tuju berada di luar kota, meski nantinya harus
tinggal jauh dari orang tua, tapi inilah yang Andini impikan. Mimpi
besarnya semenjak masih sekolah dulu telah menjadi kenyataan. Mendapat
beasiswa di kampus favortinya itu telah menjadi kenyataan kini. Dengan
meneruskan pendidikan di kampus tersebut, Andini berharap masa depannya
akan bersinar terang di masa depan nanti.
Berita kelulusan tadi juga menyematkan beberapa syarat yang harus dipenuhi
oleh mahasiswa yang diterima, termasuk Andini. Dan tidak ingin
berlarut-larut dalam kegembiraan, Andini pun langsung bergegas
mempersiapkan beberapa hal yang diminta. Dengan bergerak cepat, Andini
mulai mengurus beberapa hal dengan segera.
Setelah beres mengurus banyak hal beberapa hari terakhir, kini PR terbesar bagi
Andini hanya tersisa satu, yaitu mencari tempat tinggal di kota
perantauan. Karena Andini akan kuliah di luar kota, maka ia pun harus
mencari tempat tinggal sebelum jadwal perkuliahan nanti dimulai. Ibu
Andini adalah orang yang paling mengkhawatirkan perihal ini. Karena
itulah, sang ibu berinisiatif menyuruh Andini berangkat lebih awal, guna
mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan selama berkuliah di sana,
termasuk tempat tinggal. Beliau pun memutuskan akan menemani Andini
selama beberapa hari di sana, setidaknya, sampai ia benar-benar yakin
bahwa segala kebutuhan putrinya telah tercukupi.
Singkat cerita, hari ini adalah waktu dimana Andini akan pergi ke luar kota,
menuju kampus dimana ia akan berkuliah, sekaligus mencari tempat tinggal
di sana. Andini pun akan ditemani oleh sang ibu dan adiknya yang masih
kecil sampai ke kota tersebut selama beberapa hari. Mereka pun kini
sudah berada di terminal dengan membawa 3 gembolan tas. Hanya tinggal
menunggu bis saja yang akan mengantar mereka datang.
Beberapa saat kemudian, bis yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Sang
ayah yang hanya bisa mengantar Andini sampai di terminal ini pun
berkata, "Maafin ayah ya. Ayah gak bisa ikut antar kamu sampai ke sana."
Ucap sang ayah sembari mengusap pelan kepala Andini. Ya, ayah Andini
adalah pegawai pabrik biasa. Pekerjaannya itu membuat beliau akhirnya
tidak bisa mengantar Andini, melainkan hanya sampai di terminal ini
saja. Jadi dengan berat hati, sang ayah meminta maaf kepada putrinya
itu.
Tentu Andini memaklumi. Lalu, setelah berpamitan dengan sang ayah, Andini, ibunya dan sang adik mulai berderap
masuk ke dalam bis. Beberapa saat kemudian, pintu bis pun ditutup, lalu
mobil pun mulai melaju. Menyisakan sang ayah di luar sana yg
melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kepada Andini. Hingga
akhirnya, wajah dan lambaian tangan sang ayah benar-benar hilang dari
pandangan.
@ @ @ @ @
Setelah melakukan perjalanan beberapa belas jam, akhirnya bis sampai di pull
terminal tujuan. Setelah mesin bis dimatikan, para penumpang mulai
berderap turun, termasuk Andini, ibunya dan sang adik. Ya, Andini telah
sampai di kota tujuan kini.
Ketika turun, mereka melempar pandangan ke berbagai arah. Ini adalah tempat yang asing bagi
mereka. Jadi setelah melirik-lirik sekitar, Andini pun memutuskan untuk
bertanya kepada seseorang di sana. Yang Andini tanyakan kepada orang
tersebut tentu adalah lokasi kampus yang sedang ia tuju. Dan setelah
mendapat pencerahan dari orang itu, akhirnya mereka bertiga pun
menghampiri sebuah mobil angkutan di sana. Mobil angkutan inilah yang
nantinya akan membawa Andini sampai ke lokasi kampus itu berada.
Sekitar 30 berlalu, akhirnya mobil angkutan itu pun berhenti. Sang kernet
mengatakan kepada Andini bahwa ia sudah sampai di tujuan. Lalu mereka
pun turun.
Dan benar, terlihat sebuah bangunan
kokoh dengan logo kampus di hadapan mereka. Ya, Andini, ibunya dan sang
adik telah sampai di depan kampus tersebut. Mereka bertiga telah sampai
di lokasi tujuan dengan selamat.
Tapi hari sudah menjelang sore kini. Tanpa ada keraguan, ibu Andini pun langsung
__ADS_1
berinistif mencari tempat tinggal untuk putrinya terlebih dahulu. Dengan
berjalan kaki, mereka mulai bertanya dari satu kos ke tempat kos lain.
Hingga tak terasa, waktu petang pun telah datang. Langit mulai meredup saat
ini. Beberapa menit lagi, malam pasti akan membentang. Namun, setelah
berjam-jam mencari, mereka masih belum menemukan tempat tinggal yang
cocok. Setiap tempat tinggal yang mereka datangi selalu mematok harga
yang tinggi. Sedangkan keluarga Andini sendiri sebenarnya bukanlah
keluarga yang berada. Karena alasan itulah, hingga detik ini mereka
belum dapat tempat tinggal.
Tapi saat Maghrib menjelang, beruntung bagi mereka. Karena akhirnya, langkah kaki Andini,
ibunya dan sang adik, membawa mereka ke sebuah dusun yang menyewakan
tempat tinggal dengan harga terjangkau. Ya, memang jaraknya agak jauh
dari kampus dimana nanti Andini kuliah. Tapi mengerti situasi keuangan
keluarga, Andini dengan tegas mengatakan kepada ibunya untuk tidak perlu
khawatir soal itu. Dengan tegas, Andini bilang kepada ibunya bahwa ia
siap tinggal di sana.
Dan akhirnya telah diputuskan, bahwa Andini… akan tinggal di rumah petakan tersebut.
Tempat tinggal itu sendiri berukuran 5x6 meter. Dengan harga sewa 200 ribu per
bulan, rasanya lebih dari sekedar sepadan dengan apa yang didapatkan.
Meski jika dilihat dengan baik, kondisi bangunan memang terlihat sudah
usang. Seperti sudah tidak lagi ditempati selama berbulan-bulan, atau
bahkan bertahun-tahun. Cat tembok yang mengelupas, sawang api yang
berada di setiap sudut, dan juga debu yang hinggap dimana-mana. Tapi
mengingat bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk diutamakan, yaitu
beasiswa di kampus idaman, Andini akan menerima tantangan tinggal di
rumah ini.
Dan satu hal lagi yang harus digaris
bawahi, bahwa toilet tidak berada di dalam rumah. Melainkan berada di
luar rumah, sebuah sumur yang dipakai berbarengan dengan nenek si
pemilik kontrakan beserta keluarganya. Jadi nanti jika Andini ingin
pergi ke kamar mandi, ia harus pergi keluar, dan juga memakainya
bergantian dengan keluarga si nenek. Dan tambahan lain, bahwa suasana
lingkungan di sana memanglah sepi.
Setelah membayar uang sewa satu bulan, Andini dan sang ibu mulai bersih-bersih
rumah, dengan meminjam sapu dan sebagainya kepada si nenek. Mereka pun
diberi makanan oleh si nenek setelah selesai bersih-bersih. Lalu mereka
berisitirahat setelahnya. Dan untuk hari esok, ibu andini telah berniat
Jadwal kuliah akan dimulai 2 hari lagi. Sang ibu pun sudah memastikan bahwa
apa yang dibutuhkan anaknya telah tercukupi. Tempat tinggal, kebutuhan
pokok, alat rumah tangga dan sebagainya telah tercukupi. Jadi di hari
ini, dengan berat hati, ibunda Andini pun berpamitan kepada putrinya.
Ya, sang ibu akan melepas putrinya tinggal sendirian di kota perantauan
hari ini.
Lalu setelah bis yang akan ditumpangi
oleh sang ibu dan sang adik datang, nasehat ibunya kini berubah menjadi
tangis air mata. Setelah mencium Andini berulang-ulang, sang ibu dan
sang adik mulai berderap memasuki bis yang akan mengantar mereka kembali
ke kota.
Bis pun mulai melaju perlahan. Hingga
akhirnya, lambaian tangan ibu dan adiknya dari dalam mobil tidak bisa
lagi dilihat oleh Andini dari luar. Mobil yang membawa orang terkasihnya
telah melaju jauh.
Ya. Dengan pulangnya sang ibu dan sang adik, kini Andini akan memulai hidupnya sendirian kini.
@ @ @ @ @
Sudah sepuluh hari Andini sah menjadi seorang mahasiswi. Bahkan jadwal kuliah
hari ini yang padat, membuatnya harus pulang ketika malam menjelang.
Lalu dengan jarak tempat tinggalnya yang agak lumayan jauh, akhirnya
Andini pun sampai di rumah saat malam benar-benar sudah membentang.
Sesampainya Andini di kontrakan, ia bergegas bersih-bersih badan agar tidak
kemalaman. Tapi karena kamar mandi di sana sedang dipakai orang, Andini
pun harus menunggu terlebih dahulu.
Dan selepas mandi, Andini pun membuka nasi bungkus yang ia beli tadi saat pulang.
Setelah selesai makan, kini Andini mulai membaca buku. Dengan semangat
membara, ia pun terus belajar hingga larut malam tiba.
Hingga tak terasa, kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Andini yang
sudah merasa cukup dengan belajarnya pun mulai mencari posisi untuk
merebahkan tubuhnya. Dengan rasa lelahnya hari ini, Andini mencoba
memejamkan mata. Lalu saat ia mulai mengosongkan pikiran untuk mencoba
tidur, dengan samar, Andini mendengar suara kupyakan air dari belakang
kontrakannya. Ya, Andini seperti mendengar seseorang sedang mencuci
pakaian di belakang kontrakannya.
Suara samar itupun membuat Andini kembali membuka matanya lagi dan mulai berpikir.
__ADS_1
Di dalam kesendiriannya, Andini pun bergumam, "Perasaan, di belakang
rumah ini gak ada apa apa deh. Cuma pohon pohon aja. Lagian, kok nyuci
malem-malem begini sih?" Gumamnya heran.
Tapi menganggapnya angin lalu, Andini pun kembali memejamkan mata. Hingga akhirnya, ia pun benar-benar tertidur pulas.
Keesokan malamnya pun datang.
Sama seperti hari kemarin, Andini masih belajar dengan tekun di sana. Bahkan
kini waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dan ia masih belajar
dengan semangat. Mengulas materi apa yang ia dapatkan di kampus tadi.
Lalu dalam keheningan malam, masih berkonsentrasi membaca buku, dengan
samar, Andini kembali mendengar suara orang yang sedang membasuh pakaian
di belakang kontrakannya.
Sebenarnya Andini heran dengan suara itu. Karena dulu saat mengecek belakang kontrakan,
sejauh mata memandang, Andini tidak melihat ada satupun rumah warga di
sana, hanya ada pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Kalaupun ada
hal lain, itu adalah parit yang memang mengalir air di dalamnya. Jadi
jika tengah malam seperti ini ada suara orang yang sedang mencuci, jelas
akan menimbulkan pertanyaan di benak Andini.
Tapi saat pagi tadi, saat Andini menanyakan perihal ini, ia dinasehati oleh
sang nenek untuk tidak perlu terlalu memikirkannya. Jadi di hari kedua
ini, Andini mencoba mengabaikan suara tersebut lagi.
Dan selama 2 Minggu berturut-turut kemudian, suara yang seperti mencuci
pakaian itu terus saja mengganggu Andini di setiap malamnya. Bahkan
suaranya sendiri barulah akan hilang kala adzan subuh berkumandang.
Awalnya Andini memang acuh dengan suara itu. Tapi selama 3 hari terakhir,
tidurnya justru menjadi terganggu karena suara tersebut yang terdengar
semakin kencang. Bahkan saking mengganggunya suara tersebut, Andini
pernah menggedor tembok kontrakannya, dengan maksud menyuruh seseorang
yang sedang menyuci di sana untuk berhenti, atau setidaknya memelankan
suaranya. Tapi alih-alih berhenti, suara berisik itu justru semakin
terdengar jelas di setiap malam. Yang pada akhirnya, membuat Andini
menjadi tak nyaman.
Dan malam ini pun, hal itu terjadi lagi.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Andini yang
masih belajar menjadi hilang konsentrasi kala suara tersebut mulai
terdengar lagi. Tentu Andini sudah merasa jengkel dengan suara gaduh
tersebut. Lalu dalam rasa jengahnya, di saat bersamaan, Andini pun
merasa ingin buang air kecil kini. Rasa kebeletnya sudah sampai di
ujung. Yang membuatnya langsung bergegas menuju kamar mandi yang berada
di luar.
Setelah selesai buang air kecil, Andini
pun terbesit akan satu hal, yaitu suara gaduh mencuci pakaian yang
selama ini mengganggu istirahat malamnya. Jadi selepas keluar dari kamar
mandi, alih-alih langsung masuk ke dalam rumah, dengan rasa penasaran
disertai rasa jengkel, ia malah berjalan menuju arah belakang
kontrakannya. Ya, Andini berniat mengecek asal suara tersebut. Dan jika
ia menemukan seseorang di sana, ia akan berniat menegurnya.
Di dalam penerangan sekitar yang redup, Andini terus melangkahkan kaki.
Suara seseorang yang sedang mencuci pun terdengar semakin nyaring di
telinganya kini. Lalu sekiranya tersisa beberapa langkah, Andini mulai
melihat seseorang di sana dengan sekilas. Dan ketika ia mencoba berjalan
semakin mendekat, ia mulai melihat sosok perempuan dengan rambut
panjang nan kusam di depannya. Orang tersebut terlihat sedang mencuci
sesuatu di dalam parit yang mengalir air. Sesuatu yang panjang dan
terlihat merah. Andini yang sedang menelaah apa yang sedang dilihatnya
pun tidak bisa berkata-kata, lidahnya sekan menjadi kelu untuk berucap.
Lalu saat Andini berdiri mematung memperhatikan sosok tersebut, sosok
perempuan itu pun ikut menengok ke arahnya. Wajah seramnya menyambut
Andini dengan bengis. Mereka pun sempat saling menatap sesaat. Hingga
akhirnya, Andini pun lari terbirit-birit menuju rumah si nenek pemilik
kontrakan.
Ya. Apa yang dilihat oleh Andini
barusan adalah wewe. Dan di keesokan harinya, Andini pun jatuh sakit.
Orang tua Andini pun datang menjenguk di keesokan harinya lagi. Dan
setelah kejadian itu, Andini serta orangtuanya pun memutuskan untuk
pindah dan mencari tempat tinggal yang baru.
END.
## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)
## Sekali lagi terima kasih banyak :)
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1