Thread Horror

Thread Horror
Bab 12 : Wewe Ngumbah Usus


__ADS_3

Tangerang 2009. Tahun ini, akan menjadi tahun


terbaik yang pernah dirasakan oleh Andini. Setelah dinyatakan lulus


sekolah beberapa waktu lalu, kebahagiaannya pun kini semakin bertambah,


kala ia mendapat sebuah kabar bahwa dirinya, telah dinyatakan lulus


ujian beasiswa perguruan tinggi. Ya, berita baik itu telah mengukuhkan,


bahwa Andini menjadi salah satu pelajar yang mendapat beasiswa untuk


belajar di perguruan tinggi negeri. Sebuah kampus dengan nama mentereng


yang berada di Jawa tengah.


Sorak sorai penuh suka cita tentu terpancar jelas dari wajah Andini menyambut berita


barusan. Bahkan yang terlihat senang bukan hanya dirinya seorang. Ayah,


ibu dan adiknya pun, turut bergembira atas kabar baik tersebut.


Meski kampus yang Andini tuju berada di luar kota, meski nantinya harus


tinggal jauh dari orang tua, tapi inilah yang Andini impikan. Mimpi


besarnya semenjak masih sekolah dulu telah menjadi kenyataan. Mendapat


beasiswa di kampus favortinya itu telah menjadi kenyataan kini. Dengan


meneruskan pendidikan di kampus tersebut, Andini berharap masa depannya


akan bersinar terang di masa depan nanti.


Berita kelulusan tadi juga menyematkan beberapa syarat yang harus dipenuhi


oleh mahasiswa yang diterima, termasuk Andini. Dan tidak ingin


berlarut-larut dalam kegembiraan, Andini pun langsung bergegas


mempersiapkan beberapa hal yang diminta. Dengan bergerak cepat, Andini


mulai mengurus beberapa hal dengan segera.


Setelah beres mengurus banyak hal beberapa hari terakhir, kini PR terbesar bagi


Andini hanya tersisa satu, yaitu mencari tempat tinggal di kota


perantauan. Karena Andini akan kuliah di luar kota, maka ia pun harus


mencari tempat tinggal sebelum jadwal perkuliahan nanti dimulai. Ibu


Andini adalah orang yang paling mengkhawatirkan perihal ini. Karena


itulah, sang ibu berinisiatif menyuruh Andini berangkat lebih awal, guna


mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan selama berkuliah di sana,


termasuk tempat tinggal. Beliau pun memutuskan akan menemani Andini


selama beberapa hari di sana, setidaknya, sampai ia benar-benar yakin


bahwa segala kebutuhan putrinya telah tercukupi.


Singkat cerita, hari ini adalah waktu dimana Andini akan pergi ke luar kota,


menuju kampus dimana ia akan berkuliah, sekaligus mencari tempat tinggal


di sana. Andini pun akan ditemani oleh sang ibu dan adiknya yang masih


kecil sampai ke kota tersebut selama beberapa hari. Mereka pun kini


sudah berada di terminal dengan membawa 3 gembolan tas. Hanya tinggal


menunggu bis saja yang akan mengantar mereka datang.


Beberapa saat kemudian, bis yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Sang


ayah yang hanya bisa mengantar Andini sampai di terminal ini pun


berkata, "Maafin ayah ya. Ayah gak bisa ikut antar kamu sampai ke sana."


Ucap sang ayah sembari mengusap pelan kepala Andini. Ya, ayah Andini


adalah pegawai pabrik biasa. Pekerjaannya itu membuat beliau akhirnya


tidak bisa mengantar Andini, melainkan hanya sampai di terminal ini


saja. Jadi dengan berat hati, sang ayah meminta maaf kepada putrinya


itu.


Tentu Andini memaklumi. Lalu, setelah berpamitan dengan sang ayah, Andini, ibunya dan sang adik mulai berderap


masuk ke dalam bis. Beberapa saat kemudian, pintu bis pun ditutup, lalu


mobil pun mulai melaju. Menyisakan sang ayah di luar sana yg


melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kepada Andini. Hingga


akhirnya, wajah dan lambaian tangan sang ayah benar-benar hilang dari


pandangan.


@ @ @ @ @


Setelah melakukan perjalanan beberapa belas jam, akhirnya bis sampai di pull


terminal tujuan. Setelah mesin bis dimatikan, para penumpang mulai


berderap turun, termasuk Andini, ibunya dan sang adik. Ya, Andini telah


sampai di kota tujuan kini.


Ketika turun, mereka melempar pandangan ke berbagai arah. Ini adalah tempat yang asing bagi


mereka. Jadi setelah melirik-lirik sekitar, Andini pun memutuskan untuk


bertanya kepada seseorang di sana. Yang Andini tanyakan kepada orang


tersebut tentu adalah lokasi kampus yang sedang ia tuju. Dan setelah


mendapat pencerahan dari orang itu, akhirnya mereka bertiga pun


menghampiri sebuah mobil angkutan di sana. Mobil angkutan inilah yang


nantinya akan membawa Andini sampai ke lokasi kampus itu berada.


Sekitar 30 berlalu, akhirnya mobil angkutan itu pun berhenti. Sang kernet


mengatakan kepada Andini bahwa ia sudah sampai di tujuan. Lalu mereka


pun turun.


Dan benar, terlihat sebuah bangunan


kokoh dengan logo kampus di hadapan mereka. Ya, Andini, ibunya dan sang


adik telah sampai di depan kampus tersebut. Mereka bertiga telah sampai


di lokasi tujuan dengan selamat.


Tapi hari sudah menjelang sore kini. Tanpa ada keraguan, ibu Andini pun langsung

__ADS_1


berinistif mencari tempat tinggal untuk putrinya terlebih dahulu. Dengan


berjalan kaki, mereka mulai bertanya dari satu kos ke tempat kos lain.


Hingga tak terasa, waktu petang pun telah datang. Langit mulai meredup saat


ini. Beberapa menit lagi, malam pasti akan membentang. Namun, setelah


berjam-jam mencari, mereka masih belum menemukan tempat tinggal yang


cocok. Setiap tempat tinggal yang mereka datangi selalu mematok harga


yang tinggi. Sedangkan keluarga Andini sendiri sebenarnya bukanlah


keluarga yang berada. Karena alasan itulah, hingga detik ini mereka


belum dapat tempat tinggal.


Tapi saat Maghrib menjelang, beruntung bagi mereka. Karena akhirnya, langkah kaki Andini,


ibunya dan sang adik, membawa mereka ke sebuah dusun yang menyewakan


tempat tinggal dengan harga terjangkau. Ya, memang jaraknya agak jauh


dari kampus dimana nanti Andini kuliah. Tapi mengerti situasi keuangan


keluarga, Andini dengan tegas mengatakan kepada ibunya untuk tidak perlu


khawatir soal itu. Dengan tegas, Andini bilang kepada ibunya bahwa ia


siap tinggal di sana.


Dan akhirnya telah diputuskan, bahwa Andini… akan tinggal di rumah petakan tersebut.


Tempat tinggal itu sendiri berukuran 5x6 meter. Dengan harga sewa 200 ribu per


bulan, rasanya lebih dari sekedar sepadan dengan apa yang didapatkan.


Meski jika dilihat dengan baik, kondisi bangunan memang terlihat sudah


usang. Seperti sudah tidak lagi ditempati selama berbulan-bulan, atau


bahkan bertahun-tahun. Cat tembok yang mengelupas, sawang api yang


berada di setiap sudut, dan juga debu yang hinggap dimana-mana. Tapi


mengingat bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk diutamakan, yaitu


beasiswa di kampus idaman, Andini akan menerima tantangan tinggal di


rumah ini.


Dan satu hal lagi yang harus digaris


bawahi, bahwa toilet tidak berada di dalam rumah. Melainkan berada di


luar rumah, sebuah sumur yang dipakai berbarengan dengan nenek si


pemilik kontrakan beserta keluarganya. Jadi nanti jika Andini ingin


pergi ke kamar mandi, ia harus pergi keluar, dan juga memakainya


bergantian dengan keluarga si nenek. Dan tambahan lain, bahwa suasana


lingkungan di sana memanglah sepi.


Setelah membayar uang sewa satu bulan, Andini dan sang ibu mulai bersih-bersih


rumah, dengan meminjam sapu dan sebagainya kepada si nenek. Mereka pun


diberi makanan oleh si nenek setelah selesai bersih-bersih. Lalu mereka


berisitirahat setelahnya. Dan untuk hari esok, ibu andini telah berniat


Jadwal kuliah akan dimulai 2 hari lagi. Sang ibu pun sudah memastikan bahwa


apa yang dibutuhkan anaknya telah tercukupi. Tempat tinggal, kebutuhan


pokok, alat rumah tangga dan sebagainya telah tercukupi. Jadi di hari


ini, dengan berat hati, ibunda Andini pun berpamitan kepada putrinya.


Ya, sang ibu akan melepas putrinya tinggal sendirian di kota perantauan


hari ini.


Lalu setelah bis yang akan ditumpangi


oleh sang ibu dan sang adik datang, nasehat ibunya kini berubah menjadi


tangis air mata. Setelah mencium Andini berulang-ulang, sang ibu dan


sang adik mulai berderap memasuki bis yang akan mengantar mereka kembali


ke kota.


Bis pun mulai melaju perlahan. Hingga


akhirnya, lambaian tangan ibu dan adiknya dari dalam mobil tidak bisa


lagi dilihat oleh Andini dari luar. Mobil yang membawa orang terkasihnya


telah melaju jauh.


Ya. Dengan pulangnya sang ibu dan sang adik, kini Andini akan memulai hidupnya sendirian kini.


@ @ @ @ @


Sudah sepuluh hari Andini sah menjadi seorang mahasiswi. Bahkan jadwal kuliah


hari ini yang padat, membuatnya harus pulang ketika malam menjelang.


Lalu dengan jarak tempat tinggalnya yang agak lumayan jauh, akhirnya


Andini pun sampai di rumah saat malam benar-benar sudah membentang.


Sesampainya Andini di kontrakan, ia bergegas bersih-bersih badan agar tidak


kemalaman. Tapi karena kamar mandi di sana sedang dipakai orang, Andini


pun harus menunggu terlebih dahulu.


Dan selepas mandi, Andini pun membuka nasi bungkus yang ia beli tadi saat pulang.


Setelah selesai makan, kini Andini mulai membaca buku. Dengan semangat


membara, ia pun terus belajar hingga larut malam tiba.


Hingga tak terasa, kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Andini yang


sudah merasa cukup dengan belajarnya pun mulai mencari posisi untuk


merebahkan tubuhnya. Dengan rasa lelahnya hari ini, Andini mencoba


memejamkan mata. Lalu saat ia mulai mengosongkan pikiran untuk mencoba


tidur, dengan samar, Andini mendengar suara kupyakan air dari belakang


kontrakannya. Ya, Andini seperti mendengar seseorang sedang mencuci


pakaian di belakang kontrakannya.


Suara samar itupun membuat Andini kembali membuka matanya lagi dan mulai berpikir.

__ADS_1


Di dalam kesendiriannya, Andini pun bergumam, "Perasaan, di belakang


rumah ini gak ada apa apa deh. Cuma pohon pohon aja. Lagian, kok nyuci


malem-malem begini sih?" Gumamnya heran.


Tapi menganggapnya angin lalu, Andini pun kembali memejamkan mata. Hingga akhirnya, ia pun benar-benar tertidur pulas.


Keesokan malamnya pun datang.


Sama seperti hari kemarin, Andini masih belajar dengan tekun di sana. Bahkan


kini waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dan ia masih belajar


dengan semangat. Mengulas materi apa yang ia dapatkan di kampus tadi.


Lalu dalam keheningan malam, masih berkonsentrasi membaca buku, dengan


samar, Andini kembali mendengar suara orang yang sedang membasuh pakaian


di belakang kontrakannya.


Sebenarnya Andini heran dengan suara itu. Karena dulu saat mengecek belakang kontrakan,


sejauh mata memandang, Andini tidak melihat ada satupun rumah warga di


sana, hanya ada pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Kalaupun ada


hal lain, itu adalah parit yang memang mengalir air di dalamnya. Jadi


jika tengah malam seperti ini ada suara orang yang sedang mencuci, jelas


akan menimbulkan pertanyaan di benak Andini.


Tapi saat pagi tadi, saat Andini menanyakan perihal ini, ia dinasehati oleh


sang nenek untuk tidak perlu terlalu memikirkannya. Jadi di hari kedua


ini, Andini mencoba mengabaikan suara tersebut lagi.


Dan selama 2 Minggu berturut-turut kemudian, suara yang seperti mencuci


pakaian itu terus saja mengganggu Andini di setiap malamnya. Bahkan


suaranya sendiri barulah akan hilang kala adzan subuh berkumandang.


Awalnya Andini memang acuh dengan suara itu. Tapi selama 3 hari terakhir,


tidurnya justru menjadi terganggu karena suara tersebut yang terdengar


semakin kencang. Bahkan saking mengganggunya suara tersebut, Andini


pernah menggedor tembok kontrakannya, dengan maksud menyuruh seseorang


yang sedang menyuci di sana untuk berhenti, atau setidaknya memelankan


suaranya. Tapi alih-alih berhenti, suara berisik itu justru semakin


terdengar jelas di setiap malam. Yang pada akhirnya, membuat Andini


menjadi tak nyaman.


Dan malam ini pun, hal itu terjadi lagi.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Andini yang


masih belajar menjadi hilang konsentrasi kala suara tersebut mulai


terdengar lagi. Tentu Andini sudah merasa jengkel dengan suara gaduh


tersebut. Lalu dalam rasa jengahnya, di saat bersamaan, Andini pun


merasa ingin buang air kecil kini. Rasa kebeletnya sudah sampai di


ujung. Yang membuatnya langsung bergegas menuju kamar mandi yang berada


di luar.


Setelah selesai buang air kecil, Andini


pun terbesit akan satu hal, yaitu suara gaduh mencuci pakaian yang


selama ini mengganggu istirahat malamnya. Jadi selepas keluar dari kamar


mandi, alih-alih langsung masuk ke dalam rumah, dengan rasa penasaran


disertai rasa jengkel, ia malah berjalan menuju arah belakang


kontrakannya. Ya, Andini berniat mengecek asal suara tersebut. Dan jika


ia menemukan seseorang di sana, ia akan berniat menegurnya.


Di dalam penerangan sekitar yang redup, Andini terus melangkahkan kaki.


Suara seseorang yang sedang mencuci pun terdengar semakin nyaring di


telinganya kini. Lalu sekiranya tersisa beberapa langkah, Andini mulai


melihat seseorang di sana dengan sekilas. Dan ketika ia mencoba berjalan


semakin mendekat, ia mulai melihat sosok perempuan dengan rambut


panjang nan kusam di depannya. Orang tersebut terlihat sedang mencuci


sesuatu di dalam parit yang mengalir air. Sesuatu yang panjang dan


terlihat merah. Andini yang sedang menelaah apa yang sedang dilihatnya


pun tidak bisa berkata-kata, lidahnya sekan menjadi kelu untuk berucap.


Lalu saat Andini berdiri mematung memperhatikan sosok tersebut, sosok


perempuan itu pun ikut menengok ke arahnya. Wajah seramnya menyambut


Andini dengan bengis. Mereka pun sempat saling menatap sesaat. Hingga


akhirnya, Andini pun lari terbirit-birit menuju rumah si nenek pemilik


kontrakan.


Ya. Apa yang dilihat oleh Andini


barusan adalah wewe. Dan di keesokan harinya, Andini pun jatuh sakit.


Orang tua Andini pun datang menjenguk di keesokan harinya lagi. Dan


setelah kejadian itu, Andini serta orangtuanya pun memutuskan untuk


pindah dan mencari tempat tinggal yang baru.


END.


## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)


## Sekali lagi terima kasih banyak :)


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2