
Sudah 3 hari
berturut-turut Dila selalu mengalami kesurupan. Ini adalah hari keempat.
Dan jika mengilas balik ke belakang, hari ini adalah hari dimana akan
terjadi peristiwa besar bagi keluarga Pak Adi, setidaknya itulah berita
yang disampaikan sang sepuh pada 4 hari yang lalu. Ini adalah hari yang
di maksud. Dan semoga saja, perkataannya hanyalah sebuah kekeliruan.
Sedikit lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Pak Adi dan sekeluarga sudah
berkumpul di ruang tengah, termasuk Dila. Mereka semua saling berjaga
dan berdoa, dengan maksud agar Dila tidak kerasukan lagi.
Lalu, adzan Maghrib pun berkumandang.
Dila masih terlihat baik-baik saja. Belum ada tanda-tanda hal ganjil. Meski
begitu, Pak Adi dan yang lain masih tetap bersiaga. Masih terus
melantunkan ayat-ayat suci di samping Dila, sembari bergiliran
sembahyang.
Kini, adzan isya telah berkumandang.
Pak Adi dan yang lain merasa bersyukur hari ini. Biasanya setelah adzan
Maghrib, Dila akan langsung dirasuki oleh makhluk gaib. Tapi untuk hari
ini, Dila masih dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan ketika adzan isya
berkumandang, Dila masih terlihat sangat baik. Wajah Dila kini bahkan
terlihat lebih cerah. Sangat berbeda dibanding 3 hari terakhir. Dengan
begini, sepertinya teror keluarga mereka telah berakhir.
Melihat kondisi keluarga yang membaik, Pak Adi dan kedua anak laki-lakinya
sudah bersiap untuk pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Selesai
bersiap, mereka bertiga pun pergi.
Singkat
cerita, Pak Adi dan kedua anaknya sudah selesai sholat berjamaah di
masjid, dan kini sedang berjalan pulang menuju rumah.
Di samping kanan rumah Pak Adi adalah sebuah lahan kosong. Luasnya memang
tidak terlalu besar. Tapi di lahan kosong itu terdapat sebuah pohon
jambu yang berdaun rimbun. Pohon jambu itu berdiri persis di samping
rumah Pak Adi. Dan Pak Adi yang sehabis sholat dari mesjid pun akan
melewatinya.
Saat ingin melewati pohon jambu itu, Pak Adi melihat ada sebuah sinar merah
menyala di dalam rimbunan pohon tersebut. Pak Adi tidak tahu itu apa, ia
berpikir itu adalah mata seekor binatang. Tanpa mempermasalahkannya,
Pak Adi dan kedua anaknya melewati pohon itu begitu saja.
Tibalah Pak Adi dan kedua anak laki-lakinya di rumah. Saat masuk ke dalam, Pak
Adi melihat Dila sedang makan bubur. Setelah selesai memakan buburnya,
Dila menaruh mangkok tersebut tidak jauh dari hadapannya. Lalu kembali
berbincang bersama keluarga, termasuk Pak Adi dan kedua adik
laki-lakinya yang baru pulang dari masjid.
Di kala mereka sekeluarga berbincang, tetiba saja mereka dikagetkan dengan
sebuah sendok yang memutar dengan sendirinya. Sendok yang memutar itu
adalah sendok yang berada di dalam mangkok bekas bubur yang tadi Dila
makan.
Tentu ini adalah kejadian ganjil. Mereka semua melihat hal yang sama. Dan sendok
itu terus beputar sendiri hingga beberapa detik. Tapi tatkala sendok itu
akhirnya berhenti secara mendadak disertai mangkoknya yang pecah, Dila
langsung berteriak histeris.
Setelah Dila kerasukan, kini Bu Yuni pun tetiba saja menangis. Pada awalnya,
Pak Adi mengira istrinya menangis sedih karena merasa cobaan ini tidak
ada habisnya. Tapi ternyata ia salah. Bu Yuni menangis bukan karena itu,
tapi beliau menangis karena dirinya juga sedang kerasukan. Kini Dila
dan Bu Yuni secara bersamaan sedang dirasuki.
Mereka berdua berteriak lalu menangis tanpa ada hentinya. Alhasil, membuat warga berbondong datang untuk melihat.
Sang anak pertama, yang bernama Risa, langsung memanggil sang Ustadz lagi.
Ini adalah hari keempat berturut Risa memanggil sang Ustadz.
Setelah sesampainya sang Ustadz datang, beliau langsung mencoba menangani
keduanya yang sedang kerasukan. Dibantu oleh seorang warga lain yang
juga memang bisa menangani, mereka berupaya menyadarkan Dila dan Bu
Yuni.
Tapi sang Ustadz merasa aneh. Sejauh pengalamannya, biasanya saat seseorang
kerasukan, ketika jin yang merasuk berhasil dikeluarkan, maka biasanya
fenomena kesurupan pun akan selesai. Artinya, hanya cukup sekali
menetralisir, lalu kemudian beres. Tapi kasus keluarga Pak Adi sangat
berbeda.
Dila dan Bu Yuni yang sudah berhasil mereka netralisir dan kembali sadar, akan
kembali di rasuki oleh jin yang berbeda. Tiap kali jin yang sudah
berhasil mereka keluarkan, akan berganti dengan jin yang lainnya.
Setiap jin yang masuk, akan mengekspresikan cara yang berbeda-beda. Bahkan
suara Dila dan Bu Yuni bisa ikut berubah-ubah. Terkadang suara
nenek-nenek. Terkadang suara seorang pria yang menggelegar. Terkadang
suarang erangan hewan. Dan terkadang mereka tidak bersuara melainkan
hanya tersenyum mengerikan sembari memainkan rambut. Hal itu terus
berlanjut seperti tak ada habisnya.
Mengingat cara biasa tidak berpengaruh, sang Ustadz pun meminta sebuah wadah. Pak
Adi langsung memberikannya sebuah botol. Tanpa berlama-lama, sang
Ustadz langsung memindahkan jin yang merasuki Dila dan Bu Yuni ke dalam
botol itu lalu menutupnya. Ketika jin lain masuk, sang Ustadz pun
melakukan hal yang sama lagi. Memindahkannya ke dalam botol. Dan terus
berlanjut seperti itu. Dengan maksud, agar jin yang sudah keluar tidak
bisa lagi merasuk ke dalam tubuh Dila dan Bu Yuni. Sang Ustadz berniat
memenjarakan mereka.
__ADS_1
Setelah melakukan beberapa pemindahan, akhirnya botol pun habis. Kini sang
Ustadz meminta sebuah wadah yang bisa diikat. Lalu Risa memberinya
plastik. Sama seperti sebelumnya, sang Ustadz memindahkan jin ke dalam
plastik lalu mengikatnya.
Sang Ustadz pun mulai kewalahan. Entah sudah berapa banyak jin yang ia
keluarkan lalu ia pindahkan ke dalam wadah. Namun setelah jin yang
merasuk berhasil ia penjarakan, Dila dan Bu Yuni akan kembali kerasukan
dalam waktu hitungan detik. Entah kapan hal mengerikan ini akan
berakhir. Bahkan secara sudut pandang sang Ustadz pribadi, beliau merasa
hawa di rumah Pak Adi saat ini terasa begitu mencekik, karena begitu
pekatnya energi negatif yang mengelilingi seisi rumah. Beliau hanya
terus berdoa, agar Allah membantunya menolong Pak Adi dan sekeluarga.
Beliau juga berharap, semoga cahaya-Nya akan terus melindungi keluarga
Pak Adi sampai akhir.
Mungkin dari sekitar pukul setengah 9 malam tadi sang Ustadz melakukan
pembersihan. Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dila dan
Bu Yuni masih saja terus-menerus kerasukan. Sang Ustadz khawatir jika
Sukma mereka akan terjebak, atau setidaknya, sang Ustadz takut keduanya
akan kehabisan energi. Tentu itu adalah hal yang berbahaya. Karena
itulah beliau mencoba berusaha sekuat hati dan tenaga untuk menolong
mereka sebelum terlambat.
Kini waktu sudah menunjukan pukul setengah 1 malam. Dila dan Bu Yuni masih
belum bisa diobati. Keduanya masih terus kerasukan. Bahkan saat ini,
sudah begitu banyak wadah berisi jin di sana yang entah sudah berapa
banyak.
Saat ini,
raga Dila dan Bu Yuni pun sudah kelihatan tak berdaya. Rasanya semakin
mengkhawatirkan. Demi menjaga ketahanan tubuh keduanya, ketika mereka
sadar sesaat, sang Ustadz langsung memberikan teh manis hangat kepada
Dila dan Bu Yuni. Sebelum akhirnya, mereka akan kembali kerasukan. Dan
sekali lagi, hanya cahaya sang ilahi-lah yang mampu melindungi mereka
hingga akhir.
Lalu Risa mencoba memberitakan kejadian ganjil ini kepada sanak saudara. Risa
bermaksud mencari tahu bagaimana cara menyelesaikan teror ini kepada
mereka. Risa berharap ada salah satu atau dua sanak saudara yang bisa
mengakhiri perkara. Kendati demikian, ternyata memberitahukan kejadian
ini kepada saudara dekat pun tak tak membuahkan hasil apapun. Saran dari
sanak saudara tidak ada yang berhasil menghentikan teror teluh keji
ini. Juga para warga yang berada di TKP pun tidak bisa berbuat banyak.
Melihat kejadian ganjil yang tidak ada habisnya, Pak Adi mencoba mengambil
tidakan. Beliau pun langsung bergegas menemui sang sepuh di rumahnya.
Pak Adi tak mengajak siapapun. Ia pergi sendirian ke rumah sang sepuh
dengan mengendarai sepeda motor. Pak Adi berharap, semoga dengan menemui
berharap, semoga sang sepuh bisa menjadi perantara untuk menyelesaikan
teror ini.
Singkat cerita, sang sepuh kini sudah ada di rumah Pak Adi. Sama seperti sang
Ustadz, sang sepuh juga merasakan jika rumah Pak Adi terasa begitu
sesak. Bahkan kala sang sepuh melihatnya dengan mata batin, beliau
melihat rumah Pak Adi saat ini seakan sedang diselimuti oleh entitas
gelap. Dan sang sepuh pun tahu, jika tak segera diakhiri... teror ini
akan memakan korban.
Sang sepuh kini sudah berhadapan dengan Dila dan Bu Yuni yang masih
kerasukan. Dengan meminta bantuan orang-orang yang ada di sana, sang
sepuh langsung memberikan petuahnya. Sang sepuh meminta orang-orang di
sana untuk memutar posisi tidur Dila dan Bu Yuni untuk tidak sejajar
dengan wuwung rumah. Dan benar, langit-langit rumah Pak Adi memang belum
di plafon. Hal tersebut membuat wuwung rumah Pak Adi memang menjadi
terlihat. Dan benar pula, bahwa Dila dan Bu Yuni saat ini posisinya
berada sejajar dengan wuwung rumah. Dan hal tersebut harus disudahi,
karena jika terus tidur sejajar dengan wuwung rumah, itu artinya sama
saja membukakan pintu untuk para makhluk gaib, lalu seakan
mempersilahkan mereka untuk masuk. Jadi tidak akan ada habisnya.
Dengan bantuan beberapa orang, posisi Dila dan Bu Yuni akhirnya telah berubah.
Keduanya kini telah berputar arah 90 derajat dari wuwung rumah. Setelah
itu sang sepuh pun memberikan petuahnya lagi. Kini beliau meminta Pak
Adi dan Risa untuk duduk persis di masing-masing kaki Bu Yuni yang
sedang berbaring. Lalu sang sepuh menyuruh mereka masing-masing untuk
mengigit jempol kaki Bu Yuni. Pak Adi dan Risa pun melakukannya,
disertai sang sepuh dan sang Ustadz yang melantunkan ayat-ayat suci
bersama untuk mengeluarkan jin yang merasuk.
Saat ini Bu Yuni yang kerasukan sedang dibaringkan dengan ditahan oleh
banyak orang, dengan maksud agar membuatnya tidak mengamuk saat
dinetralisir. Pak Adi dan Risa juga masih terus menggigit jempol kaki Bu
Yuni. Di sela-sela momen itu, sang sepuh juga menyuruh Pak Adi dan Risa
untuk menggigitnya lebih keras demi untuk menyadarkan kembali jiwa Bu
Yuni. Dimana sang Ustadz dan sang sepuh sendiri masih melantunkan
ayat-ayat suci. Hingga beberapa saat kemudian, Bu Yuni akhirnya sadar.
Dan benar, Bu Yuni berhenti kerasukan. Dengan kondisi terengah-engah, Bu
Yuni pun diberi minum oleh sang sepuh.
Bu Yuni kini sudah sembuh. Target berikutnya adalah Dila, yang saat ini
sedang kerasukan nenek-nenek. Sama seperti Bu Yuni tadi, Dila pun akan
melalui proses pembersihan yang sama. Namun kini, yang harus mengigit
jempol kakinya adalah kedua adik laki-lakinya, yaitu Rian dan Cahya.
__ADS_1
Lalu, proses pembersihan pun dimulai.
Kini, baik Dila dan Bu Yuni sudah kembali sehat. Keduanya berhasil dikeluarakan dari tepian jurang.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul setengah 2 dini hari. Semua warga yang
sebelumnya menyaksikan kini sudah kembali pulang ke rumahnya
masing-masing. Setelah merapihkan botol dan plastik berisi makhluk gaib
ke dalam sebuah kantung besar, Pak Adi dan sang Ustadz kemudian menuju
sebuah kali besar untuk membuangnya di sana. Bahkan jika bisa, harusnya
dibuang ke laut. Tapi karena di wilayah Pak Adi tinggal tidak ada laut,
maka cukup dibuang ke kali saja. Itu adalah permintaan sang sepuh
sendiri, bahkan sang Ustadz juga. Dan bagi yang bisa melihat makhluk
gaib, isi di dalam botol dan plastik itu, terlihat seperti ada asap di
dalamnya.
Sembari menunggu Pak Adi pulang, sang sepuh lalu mulai bercerita banyak hal
kepada Bu Yuni dan anak-anaknya. Dengan wajah serius, sang sepuh pun
berkata, "Barusan itu teror teluh. Mereka kepengen, ada salah satu dari
kalian yang mati."
Mendengar berita itu, Bu Yuni dan sekeluarga merasa bersyukur untuk kesempatan
hidup yang masih diberikan. Meski di sisi lain, mereka juga merasa syok
di saat yang sama.
Dan perihal teror teluh itu, sejujurnya ini bukanlah kali pertama keluarga
Pak Adi dicelakai seperti hari ini. Bahkan saat mereka masih berjualan
di pinggir jalan waktu dulu, mereka juga sudah acap kali mengalami hal
yang sama. Bahkan setelah pindah lokasi berjualan, nyatanya itu tak
menjamin hal apapun. Mereka masih diteror. Dan hari ini adalah puncak
teror teluh tersebut. Caranya adalah, dengan memagari rumah Pak Adi
dengan sesosok jin kuat nan jahat. Lalu jin itu menyuruh bawahannya
untuk merasuk ke dalam tubuh anggota keluarga Pak Adi tanpa henti, demi
untuk membuat jiwanya lelah. Jika akhirnya jiwa itu gugur, maka tamatlah
orang tersebut. Dan jika bisa, orang itu adalah Bu Yuni. Sang nahkoda
usaha.
Hari pun berganti. Setelah kejadian di hari itu, Bu Yuni telah berkopromi dengan
Pak Adi suaminya. Lalu secara sepakat, keduanya memutuskan untuk pindah
rumah. Banyak faktor yang membuat mereka memustuskan demikian. Salah
satu faktor terbesar adalah, bahwa lingkungan yang mereka tinggali,
tidaklah sehat. Mereka tinggal dengan dikelilingi oleh orang-orang yang
berperangai buruk. Penuh rasa iri. Hati yang dipenuhi oleh kebencian.
Yang pada akhirnya membawa keluarga mereka ke dalam bahaya.
Tentu tidak ada yang salah dari membuka usaha. Tentu juga tidak salah jika
Pak Adi dan Bu Yuni memilih dunia kuliner sebagai pilihan usahanya.
Tentu juga tidak salah jika mereka memiliki banyak pelanggan. Tentu juga
tidak salah jika Pak Adi dan Bu Yuni bersaing dengan secara kompetitif.
Tapi yang salah adalah mereka-mereka yang merasa tersaingi namun tidak
mau bercermin. Alih-alih memperbaiki diri dengan cara mengubah kualitas
produk menjadi lebih baik, justru mereka malah memilih jalan pintas yang
tercela. Dan orang-orang yang sudah buta hati seperti ini, sampai
kapanpun hanya bisa mencelakai orang lain disekitarnya. Karena itulah,
Pak Adi dan Bu Yuni memutuskan untuk pindah rumah. Selama 8 tahun mereka
tinggal, inilah akhirnya.
Setelah beberapa waktu mencoba terus menawarkan rumah, akhirnya ada seseorang
yang mau membeli rumah mereka. Calon pembeli itu sudah berniat membeli
rumah Pak Adi untuk dijadikan kontrakan nantinya. Dan calon pembeli itu
adalah seorang pengusaha limbah. Di awal-awal, memang terjadi negosiasi
yang alot diantara mereka. Tapi pada akhirnya, orang itu membeli rumah
Pak Adi. Hingga kemudian, Pak Adi dan sekeluarga pun pindah.
Bu Yuni pun mengeluarkan dana sekian rupiah untuk disumbangkan, untuk
disedekahkan. Beliau bermaksud, agar rumah yang ia jual menjadi pilihan
terbaik dan membawa berkah. Juga bentuk rasa syukurnya karena telah
diselamatkan oleh sang maha kuasa dari niat jahat orang-orang yang
tercela. Beliau juga berharap, di rumah berikutnya, semoga dirinya dan
sekeluarga di tempatkan di sebuah lingkungan yang orang-orang di
dalamnya memiliki perangai yang baik.
Rumah Pak Adi kini sudah kosong. Pemilik barunya juga baru akan merombak
rumah itu sekitar 3 bulan lagi. Jadi sampai hari itu tiba, rumah ini
akan menjadi rumah kosong tak berpenghuni. Ya, harusnya seperti itu.
Tapi setelah Pak Adi pindah, beberapa dari tetangganya di sana mengabari Pak
Adi kalau rumah itu seperti masih ada penghuninya. Jika sudah kelewat
tengah malam, rumah itu terdengar berisik di dalamnya. Ada suara seperti
bola yang dibenturkan ke dinding. Ada suara grasak-grusuk seperti
seseorang yang sedang mengamuk. Sering pula terdengar suara seorang
wanita sedang menangis dari dalam sana. Dan beberapa hari terakhir,
terdengar suara seperti ledakan beberapa kali. Tapi Pak Adi tidak
menanggapinya berlebihan. Pak Adi tak mau ambil pusing. Baginya, yang
sudah berlalu biarlah berlalu.
Hingga beberapa waktu berlalu selepas Pak Adi dan sekeluarga pindah, satu per
satu orang yang mencelakai mereka dulu pun tewas. Mereka adalah yang
juga berjualan seperti Pak Adi dan Bu Yuni dulu. Mereka adalah
orang-orang yang telah meneror teluh kepada Pak Adi dan sekeluarga
selama ini. Mereka pun tewas, karena peliharaan mereka telah kembali
kepada majikannya, yaitu diri mereka sendiri.
END.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw