
Bekasi. 2008. Tinggalah di sana sebuah keluarga. Sebut saja keluarga
Pak Adi. Pak Adi adalah seorang karyawan pabrik. Beliau dan istrinya
memiliki 4 orang anak. Anak pertamanya sedang melanjutkan studi ke
sekolah tinggi pendidikan. Dan 3 anak lainnya masih bersekolah di
berbagai jenjang. Sedangkan istri pak Adi yang bernama Yuni, adalah
seorang ibu rumah tangga pada umumnya.
Saat ini pak Adi dan istri
dalam masa-masa yang sulit. Karena di momen yang sama, semua anaknya
sedang bersekolah dan butuh biaya lebih. Pak Adi dan istri juga harus
punya uang ekstra lagi untuk membayar hutang. Sedangkan gaji pak Adi
sendiri sebagai karyawan pabrik, dirasa kurang untuk menutupi semua
biaya yang harus dikeluarkan dalam sebulan. Lebih besar pasak daripada
tiang. Di lain sisi, pak Adi dan istrinya juga tidak memiliki tabungan,
atau usaha lain yang bisa menghasilkan uang. Rasanya benar-benar buntu.
Tapi pak Adi bersyukur, karena himpitan ekonomi yang saat ini sedang ia
rasakan akhirnya menemui sebuah jalan keluar. Tanpa pikir panjang, Yuni
istrinya, langsung memutar otak untuk mengeluarkan keluarga ini dari
masalah himpitan ekonomi. Yakni, dengan cara berwirausaha.
Di saat sudah memiliki ide untuk berwirausaha, masalah pertama pun muncul.
Pak Adi dan istrinya yang berniat membuka usaha, bingung harus berjualan
dimana. Rumah mereka berada di dalam sebuah gang. Memaksa berjualan di
depan rumah juga rasanya tak akan laku, karena aksesnya yang berada di
dalam, jauh dari lalu lalang banyak orang. Tapi sekali lagi, karena
sedari awal niat keduanya baik, sama-sama ingin menafkahi keluarga,
akhirnya Pak Adi dan istri diberi kemudahan.
Salah seorang tetangga menawarkan mereka untuk berujualan di lahan miliknya. Posisinya
strategis, sangat strategis. Berada di pinggir jalan utama. Dimana
semua orang akan melewati jalan itu saat beraktivitas. Melihat peluang
besar di depan mata, Pak Adi dan Bu Yuni langsung mengambil kesempatan
tersebut. Akhirnya, mereka pun mulai berwirausaha.
Bu Yuni adalah seorang perempuan yang mahir dalam memasak. Jadi ketika dirinya memiliki
kesempatan untuk berjualan, Bu Yuni langsung tahu apa yang harus ia
jual. Dari sekian banyak peluang usaha kuliner, Bu Yuni memilih untuk
berjualan sarapan pagi. Seperti, Nasi Uduk, Nasi Kuning, Lontong Sayur
dan Juga Ketoprak.
Dan untuk perihal biaya sewa lahan, jujur
saja, tetangganya itu tidak meminta uang sewa. Karena Bu Yuni sudah
kenal dekat dengan sang tetangga, karena itulah sang tetangga tidak
meminta uang sewa. Tapi karena bu Yuni adalah tipikel orang yang bisa
menghargai kebaikan orang lain, maka ia sudah berjanji kepada
tetangganya untuk membayar sewa sekian rupiah dalam setiap bulan. Meski
tetangganya telah menolak, bu Yuni tetap berjanji akan membayar uang
sewa tersebut.
Hari pertama berjualan pun dimulai. Ini adalah hari
pertama, jadi tidak perlu banyak mengharapkan apa-apa. Dan pada
kenyataannya juga sama seperti itu. Dagangan Pak Adi dan Bu Yuni
istrinya, sepi pembeli di hari ini. Rasanya normal, karena mereka baru
berjualan. Cita rasa masakan yang dimasak oleh bu Yuni sebenarnya terasa
lezat. Jadi asal mau tekun berjualan, dagangan mereka pasti akan ramai
pembeli di suatu hari nanti.
Minggu ini Pak Adi masuk shift siang.
Jadi beliau bisa ikut membantu istrinya berjualan. Lalu sekiranya jam
setengah 12 siang, mereka pun menutup dagangan, dengan dibantu anak
pertama mereka yang sedang tidak ada jadwal kuliah, juga dibantu oleh
anak terakhir mereka yang baru kelas 2 SD. Sedangkan 2 yang lainnya
masih bersekolah.
Setelah menutup dagangan, Pak Adi beristirahat
sejenak. Tapi nanti, sekitar pukul setengah 2 siang, ia akan
bersiap-siap untuk berangkat kerja. Dan rutinitas seperti ini terus
mereka lakukan secara konsisten hingga setahun kemudian.
Setahun telah berlalu. Pak Adi dan Bu Yuni serta sekeluarga berhasil memetik
buah dari kerja keras mereka selama setahun ini. Mereka yang mengawali
usaha dengan sepi pembeli, kini di setiap paginya, gerobak mereka bahkan
tidak kelihatan karena tertutup oleh begitu banyaknya pelanggan. Usaha
mereka laris manis. Mereka sekeluarga telah memetik hasil yang luar
biasa.
Usaha Pak Adi dan Bu Yuni sedang berada dipuncak. Kini
mereka tidak lagi merasa khawatir tentang ekonomi, setidaknya mereka
punya usaha lain yang bisa menghasilkan uang selain mengandalkan gaji
pak Adi. Tidak seperti tahun lalu yang terhimpit ekonomi, kini asal
mereka mau capek, mereka bisa menghasilkan uang untuk mencukupi semua
biaya bulanan. Pak Adi dan Bu Yuni pun, berhasil menjungkir-balikan
keadaan.
__ADS_1
Tapi jika diibaratkan sebuah pohon, semakin ia menjulang
tinggi, maka akan semakin kencang angin yang akan menerpanya. Begitu
pula yang terjadi pada keluarga Pak Adi.
Sebulan terakhir ini, tiap-tiap anggota keluarga sakit secara bergiliran. Ketika satu sakit,
yang lainnya sehat. Saat yang sakit sudah sembuh, satu yang lainnya akan
jatuh sakit. Hal itu terus mengulang selama sebulan terakhir. Tapi, Pak
Adi dan Bu Yuni mencoba berpikir wajar. Karena itu, mereka terus
melanjutkan usaha mereka hingga 4 bulan berikutnya.
Dan setelah 4 bulan berlalu, untuk hari ini, cobaan yang menerpa keluarga Pak Adi
menjadi jauh lebih parah. Ketiga anak mereka, jatuh sakit secara
bersamaan.
Ketiganya mengalami gejala yang sama, yaitu demam.
Semuanya merasakan hal yang sama, merasa menggigil, tidak enak makan,
badan lemas, badan terasa nyeri dan juga wajah yang pucat. Seperti
kebanyakan orangtua pada umumnya, Pak Adi dan Bu Yuni juga mulai
khawatir terhadap kondisi anak-anak mereka. Karena itu, Pak Adi dan Bu
Yuni langsung bergegas membawa anak mereka ke rumah sakit.
Dengan kejadian ini, usaha mereka akhirnya ditutup sementara. Pak Adi dan Bu
Yuni memutuskan untuk tidak berjualan sampai waktu yang tidak
ditentukan. Mereka berdua menunggu anak-anak mereka sembuh terlebih
dahulu. Jika sudah lagi memungkinkan, barulah mereka akan kembali
berjualan. Gerobak yang mereka parkirkan di pinggir jalan pun sudah
tertulis tanda 'LIBUR' dengan ukuran yang cukup besar.
Setelah berobat ke dokter, Pak Adi dan Bu Yuni berharap ketiga anaknya dapat
segera sembuh. Tentu itu adalah harapan yang mulia. Tapi alih-alih
ketiga anaknya sembuh, Bu Yuni justru ikutan jatuh sakit. Kini sudah 4
anggota keluarga yang meringis kesakitan. Hanya Pak Adi dan anak
pertamanya yang masih dalam kondisi sehat. Entah apa yang terjadi. Ingin
berpikir wajar, tapi terasa tak wajar. Ingin berpikir rasional, tapi
terasa tak masuk akal. Apalagi rasa sakit yang dirasakan oleh Bu Yuni,
membuat kejadian yang dialami keluarga ini menjadi lebih runyam.
Jika ketiga anaknya sakit dengan gejala demam, Bu Yuni berbeda sendiri.
Beliau justru merasa sakit karena perutnya seperti ditusuk-tusuk oleh
sesuatu dari dalam. Rasanya bukan lagi seperti ingin merintih, melainkan
ingin berteriak. Pak Adi dan anak pertamanya hanya bisa kebingungan.
Tapi setelah mendapat rekomendasi perusahaan, Pak Adi langsung membawa
istrinya ke Rumah Sakit untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.
Saat ini Pak Adi sedang duduk di dalam koridor rumah sakit. Beliau menunggu
menunggu, Pak Adi akhirnya mendapat kabar dari sang dokter.
Saat menemui sang dokter, Pak Adi menunjukan wajah yang begitu cemas.
Sedangkan sang dokter rasanya terlihat begitu santai. Lalu sang dokter
pun menjelaskan, bahwa Bu Yuni, dalam keadaan baik-baik saja. Tidak
mengalami sesuatu apapun yang menjangkiti dirinya. Bu Yuni dinyatakan
sehat wal afiat. Sang dokter hanya menjelaskan, bahwa Bu Yuni hanya
mengalami keram perut semata. Karena itu, saat menebus obat, Bu Yuni
hanya diberikan obat maag dan sejenisnya. Lalu mereka pun pulang.
Dua hari kemudian. Ketiga anak mereka sedikit membaik, walau tidak lebih
baik. Sedangkan kondisi bu Yuni sama sekali tidak ada perubahan. Beliau
masih merintih karena kesakitan dibagian perutnya. Perutnya masih terasa
seperti ditusuk-tusuk oleh sesuatu dari dalam. Obat dari dokter pun
tidak berefek sama sekali. Setelah dititik ini, Bu Yuni akhirnya meminta
sang suami untuk membawanya ke orang pintar. Seseorang yang bisa
mengatasi gangguan-gangguan mistis.
Di hari yang sama, Pak Adi langsung membawa istrinya ke orang pintar tersebut sesuai permintaan.
Lokasinya berada di kecamatan seberang. Tidak begitu butuh waktu lama
untuk sampai ke sana. Lalu Pak Adi membawa istrinya menggunakan sepeda
motor ke lokasi.
Pak Adi dan Bu Yuni kini sudah bertemu dengan
sang cenayang, seorang wanita yang sudah berusia senja. Bu Yuni diminta
oleh sesepuh itu untuk masuk ke dalam kamar praktiknya. Pak Adi juga
ikut menemani sang istri.
Sebagai informasi, cenayang yang sudah
sepuh ini bukanlah seseorang yang menggunakan kemampuannya hanya untuk
menghasilkan uang dan uang. Beliau adalah sesepuh yang menggunakan
kemampuannya memang untuk hal baik, memang untuk membantu mengobati
banyak orang. Beliau tidak meminta uang jasa tertentu kepada orang-orang
yang sudah ia bantu, kalaupun ada, itu adalah bentuk rasa terima kasih
mereka kepada beliau, dan itupun seikhlasnya saja. Bahkan beliau
mengajarkan, jika nanti pasiennya sembuh, kesembuhan itu bukan datang
dari dirinya, melainkan dari sang khalik, karena segala kesembuhan
hanyalah milik Allah sang pemilik semesta alam. Dan dirinya hanyalah
perantara semata.
Di saat sesi penyembuhan, sang sepuh
__ADS_1
menyentuhkan telur ayam matang yang masih bercangkang ke sekujur tubuh
Bu Yuni. Dari kepala hingga kakinya. Lebih intens terutama di bagian
perutnya yang selalu ia keluhkan karena sakit. Setelah cukup, lalu sang
sepuh membuka telur tersebut perlahan. Kemudian terlihatlah sebuah
potongan silet karat dan juga seutas tali merah panjang dari dalam
telur. Dan secara ajaib, rasa sakit Bu Yuni mulai menghilang perlahan.
Pak Adi dan Bu Yuni yang sedang menyaksikan dan merasakan kejadian tersebut
hanya bisa melongo. Ternyata sakit yang dialami Bu Yuni adalah sihir.
Meski tak tahu siapa pelakunya, Pak Adi dan Bu Yuni merasa perbuatan
sihir ini keterlaluan. Padahal keduanya sama-sama tidak pernah mencari
masalah sedikitpun dengan orang lain. Tapi kenapa orang tersebut tega
melakukan ini?
Di saat keduanya merasa heran, sang sepuh pun
mencoba bertanya perihal apa saja yang mereka lakukan akhir-akhir ini.
Beliau ingin mengulik sebab perkara dan kebenarannya. Karena sang sepuh
berterus terang kepada Pak Andi dan Bu Yuni dengan mengatakan bahwa
mereka telah dikerjai. Sihir ini adalah kiriman dari mereka yang merasa
iri.
Lalu pak Andi dan Bu Yuni mengatakan hal yg selaras, bahwa
mereka sedang berjualan saat ini, dan jualannya pun laris manis. Lalu Bu
Yuni bertanya kepada sang sepuh tentang satu hal. Jika berita tadi
benar, sakit itu adalah kiriman, lantas siapa yang melakukannya? Siapa
yg iri kepada mereka hingga berbuat tega seperti ini?
Lalu sang sepuh pun mencoba mengulas. Beliau tidak bisa mengatakannya dengan
pasti, tapi apa yang dirinya lihat dari mata batinnya, sang pelaku
adalah orang yang dekat dengan mereka. Bahkan sangat dekat dengan
mereka.
Mendengar itu, Pak Adi dan Bu Yuni mencoba menerka. Jujur
mereka tidak ingin berburuk sangka. Tapi di sisi lain, kejadian ini
jelas membuat keluarga mereka dalam bahaya. Karena itu, mereka ingin
tahu pelakunya, dengan maksud agar bisa memproteksi diri dan menjaga
jarak dengan mereka yang memiliki perangai buruk dan niat yang jahat.
Lalu sang sepuh pun mencoba mengulas lebih jauh lagi. Hingga akhirnya sang
sepuh pun berkata, "Ini orangnya perempuan. Badannya gemuk. Agak tua.
Rumahnya di pinggir jalan." imbuh sang sepuh sembari menutup matanya.
Dengan ciri-ciri yang sudah disebutkan tadi, akhirnya sang pelaku pun sudah
mengarah jelas ke satu orang. Tanpa perlu lagi menerka, sang pelaku
telah diketahui identitasnya. Pelaku itu adalah tetangga bu Yuni
sendiri. Si pemilik lahan yang menawarinya untuk berjualan secara
cuma-cuma.
Dari sinipun akhirnya dijelaskan oleh sang sepuh arti
dari potongan silet dan tali merah tadi. Potongan silet sendiri berarti
si pelaku tidak suka dan ingin mencelakainya. Sedangkan tali merah
sendiri bermaksud bahwa si pelaku ingin membelenggu jiwa si korban.
Keduanya memiliki makna yg sama-sama berbahaya. Dan jika dibiarkan,
bukan tak mungkin akan berakibat fatal.
Dari sana, akhirnya mereka
berbicara panjang lebar. Tapi poin satu yang penting, sang sepuh
menyuruh Pak Adi dan Bu Yuni untuk memindahkan lokasi usahanya. Jika
ingin terus melanjutkan usaha, jangan lagi berjualan di sana. Karena
sebenarnya kenapa mereka dikerjai adalah, karena tetangga Bu Yuni yang
memiliki lahan tersebut, menjadi iri karena melihat dagangan Bu Yuni
yang laris. Sang tetangga mencelakainya karena ia ingin Bu Yuni berhenti
dagang, lalu kemudian ia yang akan membuka usahanya sendiri di sana.
Rasanya mulai menjadi logis kenapa beberapa waktu ke belakang, saat mereka
ingin membuka warung, mereka sering melihat jalan setapak di sana selalu
dalam keadaan basah. Bahkan sesekali ada pecahan telur busuk yang
berlumur di sana. Juga suami sang tetangga yang lebih sering merokok
lalu melepuskan asapnya ke kaca gerobak. Awalnya mereka memilih acuh
karena tidak mau berburuk sangka. Tapi setelah kejadian ini, mereka tahu
siapa orang yang harus mereka jauhi demi keselamatan sekeluarga.
Meski sudah dicelakai oleh tetangganya, baik Pak Adi dan Bu Yuni tidak
sedikitpun mau membalas mereka dengan keburukan. Bagi keduanya, asal
mereka bisa sehat kembali itu sudah lebih dari cukup. Biarkanlah yang di
atas saja yang akan membalas perbuatan keji tetangganya itu. Karena Pak
Adi dan Bu Yuni percaya, bahwa Allah itu tidak tidur. Hukum karma akan
berlaku suatu saat nanti.
Setelah semuanya, Pak Adi dan Bu Yuni pamit untuk pulang.
Selepas berkunjung dari sang sepuh, kondisi keluarga Pak Adi kian membaik. Satu persatu
mulai sehat dan mulai bisa beraktivitas normal lagi.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw