
Ini adalah hari ke enam. Sudah 6 hari para mahasiswa tinggal di desa untuk menjalani program KKN mereka.
Saat ini Abil, Estu, Hagia dan Dian sedang mengerjakan agenda proker mereka
di sebuah lahan kosong. Lahan luas yang suasana disekitarnya terasa
sunyi.
Sejauh mata memandang, hanya ada
hamparan tanah kosong yang terisi oleh pepohonan di sisi-sisinya, serta
suara semilir angin berhembus, selayaknya membelai lembut tubuh mereka
yang penuh keringat. Tanpa hadirnya para mahasiswa itu di sana, niscaya,
tempat itu akan terlihat seperti tanah kematian.
Biasanya, para mahasiswa ini akan ditemani oleh Pak Tomo atau Pak Bimo saat
mengerjakan proker. Tapi kali ini, tidak ada satu pun warga desa yang
memantau. Kendati demikian, tanpa adanya yang mengawasi mereka
sekalipun, Abil dan yang lain tetap akan mengejar progres sesuai agenda
hari ini.
Di saat sesi pengerjaan, Dian tetiba
saja meminta izin kepada teman-temannya untuk pergi ke toilet. Tentu
Dian dipersilahkan untuk pergi. Dan dengan gestur seperti orang yang
sudah terlampau kebelet, ia menarik Hagia untuk ikut menemani. Lalu
mereka berdua pun mulai mencari tempat untuk buang air kecil.
Selepas perginya Dian dan Hagia, tersisalah Abil dan Estu di sana. Di sela-sela
keduanya yang sedang bekerja, Abil mulai curhat tentang apa yang sedang
ia resahkan di dalam hatinya kini. Dengan berkata jujur, Abil pun
bertutur, "Coy, pas mulai tinggal di sini, kok gw jadi kangen orang tua
gw ya?" ternyata hal itulah yang sedang Abil resahkan saat ini.
Akhir-akhir ini, seperti ada sebuah sentuhan yang menyentuh isi di dalam kalbu
Abil. Keresahan tentang dirinya yang belum bisa mengabari keluarga di
Jakarta, ataupun tentang rasa rindunya yang tiba-tiba muncul belakangan
ini kepada kedua orangtuanya. Di dalam relung hati, Abil takut ibu dan
ayahnya sedang mengkhawatirkan kondisinya saat ini, dan juga sebaliknya,
tentang Abil yang khawatir dengan kondisi kedua orangtuanya di sana,
apalagi Abil tahu bahwa ibunya memiliki penyakit menahun.
Mendengar curhatan Abil barusan, Estu tak mampu berkata. Ia hanya menyiratkan sebuah senyuman di wajah.
Lalu seakan ingin tahu apakah Estu merasakan hal yang sama seperti dirinya,
Abil balik bertanya kepada Estu dengan berkata, "Kalo lu sendiri gimana?
Kangen gak sama keluarga lu?" tutur Abil dengan intonasi tenang.
Estu yang sedang ditanyai pun langsung menjawab dengan berkata, "Gw udah gak
punya keluarga. Gw cuma sendirian." Senyum Estu pun merekah di akhir
kalimat.
Meski mereka berdua sudah berteman
beberapa tahun terakhir, sejujurnya Abil tidak tahu betul latar belakang
Estu yang sebenarnya. Abil tidak pernah mencari tahu bahkan peduli.
Abil pikir, Estu sama seperti dirinya yang kuliah di luar kota dan jauh
dari orang tua. Tapi ternyata tidak. Jadi jawaban Estu barusan membuat
Abil mengerjap sesaat. Tapi seakan masih tak percaya, Abil pun kembali
bertanya, "Serius lu? Lu udah gak punya siapa-siapa lagi? Sebatang kara
aja gitu?"
Dan sekali lagi, Estu pun menegaskan
dengan berkata, "Ya... gw cuma punya nenek. Tapi sekarang... dia udah
gak ada." Benar, bahwa satu-satunya keluarga yang dimiliki Estu hanyalah
neneknya seorang. Dan benar pula, bahwa neneknya sudah meninggal dunia
kini.
Mendengar fakta barusan, Abil tetiba saja
berubah menjadi melankolis. Abil memberitahu Estu bahwa ia tidak perlu
khawatir. Abil mengatakan bahwa Estu boleh menganggap dirinya kini
__ADS_1
sebagai saudara. Dan lebih jauh lagi, Abil mengatakan kepada Estu untuk
meminta bantuannya jika sedang dalam masalah mulai dari sekarang.
Lalu mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan sembari menunggu Hagia dan Dian kembali.
Pindah ke lokasi dimana Hagia dan Dian berada saat ini.
Kedua perempuan itu kini masih mencari-cari lokasi untuk buang air kecil.
Hingga detik ini, Dian masih menahan rasa kebeletnya karena belum
menemukan ruang tertutup. Bahkan keduanya sempat berdebat tentang ini
selama di jalan tadi. Hagia menyuruh Dian untuk terus menahan rasa
kebeletnya hingga sampai di desa. Tapi sayangnya, Dian berkata kalau ia
sudah tidak kuat menahannya lagi. Dian merasa mustahil bisa menahannya
lebih lama, apalagi harus kembali ke desa yang jaraknya masih cukup
jauh. Karena itu, Dian berpikir mencari ruangan tertutup adalah jawaban
terbaik. Yang terpenting saat ini bagi Dian adalah mencari tempat yang
bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan luas saat buang air kecil.
Dan setelah menyusuri jalan sembari memantau sekitar, dengan samar, Dian
melihat ada sebuah bilik kecil di ujung sana. Tanpa pikir panjang,
keduanya mulai berlari dengan saling menuntun menuju bilik usang
tersebut.
Setelah sampai, Dian mencoba membuka
pintu bilik, lalu mengintipnya sembari mengucap permisi. Dipastikan
aman, Dian pun masuk ke dalam, lalu menutupnya kembali. Sedangkan Hagia
berjaga-jaga di luar.
Bilik yang Dian masuki berukuran 2x2 meter. Yang mana di dalamnya sendiri tidak berisi apapun.
Hanya terlihat beberapa tulang yang ukurannya kecil dan pendek di sana.
Yang Dian pikir itu adalah tulang hewan. Lalu dengan mengucap permisi,
Dian mulai buang air kecil.
Sembari menunggu Dian selesai, Hagia yang berada di luar mencoba menyapu pandangannya ke
berbagai arah. Kemudian dengan samar, Hagia melihat ada sosok laki-laki
ke dalam hutan yang lebih rimbun. Takut terjadi hal buruk kepada anak
itu, insting Hagia pun aktif. Lalu mulai mengikuti kemana mereka pergi
tanpa pikir panjang.
Dengan langkah berhati-hati, Hagia terus mengikuti mereka dari kejauhan. Menyusuri
hutan semakin lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, Hagia melihat ada
sebuah bangunan yang berdiri di tengah-tengah hutan di ujung sana.
Laki-laki yang membawa anak perempuan itu pun mengarah menuju bangunan
tersebut. Insting Hagia yang ingin menyelamatkan sang anak ikut
membawanya ke sana pula.
Masih fokus mengintai Laki-laki dan anak perempuan itu dari belakang, namun tetiba saja Hagia
terkejut ketika ia kehilangan jejak mereka saat keduanya mendekati
bangunan. Sosok laki-laki dan anak perempuan tadi seperti memudar
perlahan lalu kemudian hilang tanpa jejak di dekat bangunan tersebut.
Dengan mengernyitkan dahi, Hagia mulai terheran. Lalu mulai
menengok-nengok ke sekeliling beberapa kali. Selain pepohonan yang
menjulang tinggi dan desir angin yang berhembus kencang, Hagia tidak
dapat menemukan siapapun di sana melainkan dirinya sendiri. Lalu dengan
langkah berhati-hati, Hagia mulai mendekati bangunan kuno itu perlahan.
Saat ini, bangunan kuno itu sudah berada tepat di hadapan Hagia. Masih heran
dengan hilangnya jejak laki-laki dan anak perempuan tadi, Hagia
berpikir untuk membuka pintu bangunan kuno di hadapannya. Dengan
perasaan yang was-was, Hagia mulai merangkahkan tangan kanannya menuju
gagang pintu.
Semilir angin di tengah hutan
mengusap lembut tubuh Hagia, seakan ingin membantu mendinginkan tubuhnya
yang memanas karena aliran darah yang mengalir lebih cepat. Saat ini,
__ADS_1
Hagia telah sepenuhnya menggenggam gagang pintu bangunan kuno itu. Namun
tanpa ia sadari, was-was dihatinya membuat kedua telapak tangannya
menjadi basah, serta membuat detak jantungnya berdebar tak karuan.
Dengan memberanikan diri, Hagia mulai menarik gagang pintu itu dengan
perlahan. Hingga kemudian, "Mbak Hagia ada perlu apa di sini?" Ucap Pak
Bimo barusan, yang hampir saja membuat Hagia terkena serangan jantung.
Merasa kebingungan, Hagia langsung menjelaskan dengan berkata, "Ta-tadi
saya... nge-ngeliat ada laki-laki nyiksa anak kecil. Terus di bawa ke
sini." Ucapnya dengan terbata-bata.
Namun dengan tenang Pak Bimo menegaskan, "Bangunan ini namanya punden. Dalamnya itu
berisi makam leluhur yang kami hormati. Ini bangunan keramat. Jadi ndak
mungkin ada orang yang mau macam-macam di punden ini. Mbak Hagia mungkin
salah lihat."
Tapi Hagia merasa kekeh. Ia pun
mencoba menyangkal dengan menimpal, "Enggak kok pak. Saya serius. Tadi
saya liat ada laki-laki sama anak kecil masuk sini." Ucap Hagia dengan
berpegang teguh pada pendiriannya.
Namun sekali lagi, Pak Bimo kembali menegaskan, "Udah mbak. Mbak itu cuma lagi
halusinasi. Lagi pula semua warga desa tau kalau punden ini tidak boleh
dimasuki sembarang orang, hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk.
Kalau maksa masuk, bisa-bisa nanti kena sial. Mbak mau kena sial?" Tutur
Pak Bimo dengan intonasi yang lebih tegas. Lalu ia pun kembali
melanjutkan dengan berkata, "Mbak Hagia sebaiknya kembali. Tadi saya
diminta Mbak Dian untuk mencari Mbak yang katanya hilang."
Tidak mau menciptakan masalah, akhirnya Hagia mau mendengarkan perkataan Pak
Bimo, Hagia akhirnya menurut. Lalu kembali menemui Dian di dekat Bilik
dengan perasaan yang masih bertanya-tanya.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Awan gelap yang membentang di
langit luas pun seakan sudah siap menjatuhkan air hujan tanpa ampun.
Tapi untung saja agenda proker para mahasiswa hari ini telah selesai,
selesai tepat waktu sebelum hujan mengguyur deras sebentar lagi.
Abil, Estu dan Hagia masih berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk
beres-beres. Sedangkan Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk
menyelamatkan berkas-berkas dan beberapa perangkat penting sebelum hujan
turun mengguyur. Ya, dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan
lebih banyak, Dian yang bertubuh mungil diberikan keringanan dengan
hanya membawa berkas-berkas dan beberapa perangkat kecil saja.
Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras. Tapi
untung saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa
meneduh di salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu, bahwa
rumah yang saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik seorang
kakek tua dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya berharap
dalam hati, semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan menemuinya.
Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan, tetiba saja pintu rumah
tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit pintu yang berbunyi
membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan perasaan yang was-was. Tak
lama berselang, Dian melihat seseeorang keluar dari rumah itu dengan
jalan yang tertatih. Dan benar, sosok tersebut adalah sang kakek tua
yang Dian harap tidak bertemu dengannya.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw