Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 7)


__ADS_3

Ini adalah hari ke enam. Sudah 6 hari para mahasiswa tinggal di desa untuk menjalani program KKN mereka.


Saat ini Abil, Estu, Hagia dan Dian sedang mengerjakan agenda proker mereka


di sebuah lahan kosong. Lahan luas yang suasana disekitarnya terasa


sunyi.


Sejauh mata memandang, hanya ada


hamparan tanah kosong yang terisi oleh pepohonan di sisi-sisinya, serta


suara semilir angin berhembus, selayaknya membelai lembut tubuh mereka


yang penuh keringat. Tanpa hadirnya para mahasiswa itu di sana, niscaya,


tempat itu akan terlihat seperti tanah kematian.


Biasanya, para mahasiswa ini akan ditemani oleh Pak Tomo atau Pak Bimo saat


mengerjakan proker. Tapi kali ini, tidak ada satu pun warga desa yang


memantau. Kendati demikian, tanpa adanya yang mengawasi mereka


sekalipun, Abil dan yang lain tetap akan mengejar progres sesuai agenda


hari ini.


Di saat sesi pengerjaan, Dian tetiba


saja meminta izin kepada teman-temannya untuk pergi ke toilet. Tentu


Dian dipersilahkan untuk pergi. Dan dengan gestur seperti orang yang


sudah terlampau kebelet, ia menarik Hagia untuk ikut menemani. Lalu


mereka berdua pun mulai mencari tempat untuk buang air kecil.


Selepas perginya Dian dan Hagia, tersisalah Abil dan Estu di sana. Di sela-sela


keduanya yang sedang bekerja, Abil mulai curhat tentang apa yang sedang


ia resahkan di dalam hatinya kini. Dengan berkata jujur, Abil pun


bertutur, "Coy, pas mulai tinggal di sini, kok gw jadi kangen orang tua


gw ya?" ternyata hal itulah yang sedang Abil resahkan saat ini.


Akhir-akhir ini, seperti ada sebuah sentuhan yang menyentuh isi di dalam kalbu


Abil. Keresahan tentang dirinya yang belum bisa mengabari keluarga di


Jakarta, ataupun tentang rasa rindunya yang tiba-tiba muncul belakangan


ini kepada kedua orangtuanya. Di dalam relung hati, Abil takut ibu dan


ayahnya sedang mengkhawatirkan kondisinya saat ini, dan juga sebaliknya,


tentang Abil yang khawatir dengan kondisi kedua orangtuanya di sana,


apalagi Abil tahu bahwa ibunya memiliki penyakit menahun.


Mendengar curhatan Abil barusan, Estu tak mampu berkata. Ia hanya menyiratkan sebuah senyuman di wajah.


Lalu seakan ingin tahu apakah Estu merasakan hal yang sama seperti dirinya,


Abil balik bertanya kepada Estu dengan berkata, "Kalo lu sendiri gimana?


Kangen gak sama keluarga lu?" tutur Abil dengan intonasi tenang.


Estu yang sedang ditanyai pun langsung menjawab dengan berkata, "Gw udah gak


punya keluarga. Gw cuma sendirian." Senyum Estu pun merekah di akhir


kalimat.


Meski mereka berdua sudah berteman


beberapa tahun terakhir, sejujurnya Abil tidak tahu betul latar belakang


Estu yang sebenarnya. Abil tidak pernah mencari tahu bahkan peduli.


Abil pikir, Estu sama seperti dirinya yang kuliah di luar kota dan jauh


dari orang tua. Tapi ternyata tidak. Jadi jawaban Estu barusan membuat


Abil mengerjap sesaat. Tapi seakan masih tak percaya, Abil pun kembali


bertanya, "Serius lu? Lu udah gak punya siapa-siapa lagi? Sebatang kara


aja gitu?"


Dan sekali lagi, Estu pun menegaskan


dengan berkata, "Ya... gw cuma punya nenek. Tapi sekarang... dia udah


gak ada." Benar, bahwa satu-satunya keluarga yang dimiliki Estu hanyalah


neneknya seorang. Dan benar pula, bahwa neneknya sudah meninggal dunia


kini.


Mendengar fakta barusan, Abil tetiba saja


berubah menjadi melankolis. Abil memberitahu Estu bahwa ia tidak perlu


khawatir. Abil mengatakan bahwa Estu boleh menganggap dirinya kini

__ADS_1


sebagai saudara. Dan lebih jauh lagi, Abil mengatakan kepada Estu untuk


meminta bantuannya jika sedang dalam masalah mulai dari sekarang.


Lalu mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan sembari menunggu Hagia dan Dian kembali.


Pindah ke lokasi dimana Hagia dan Dian berada saat ini.


Kedua perempuan itu kini masih mencari-cari lokasi untuk buang air kecil.


Hingga detik ini, Dian masih menahan rasa kebeletnya karena belum


menemukan ruang tertutup. Bahkan keduanya sempat berdebat tentang ini


selama di jalan tadi. Hagia menyuruh Dian untuk terus menahan rasa


kebeletnya hingga sampai di desa. Tapi sayangnya, Dian berkata kalau ia


sudah tidak kuat menahannya lagi. Dian merasa mustahil bisa menahannya


lebih lama, apalagi harus kembali ke desa yang jaraknya masih cukup


jauh. Karena itu, Dian berpikir mencari ruangan tertutup adalah jawaban


terbaik. Yang terpenting saat ini bagi Dian adalah mencari tempat yang


bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan luas saat buang air kecil.


Dan setelah menyusuri jalan sembari memantau sekitar, dengan samar, Dian


melihat ada sebuah bilik kecil di ujung sana. Tanpa pikir panjang,


keduanya mulai berlari dengan saling menuntun menuju bilik usang


tersebut.


Setelah sampai, Dian mencoba membuka


pintu bilik, lalu mengintipnya sembari mengucap permisi. Dipastikan


aman, Dian pun masuk ke dalam, lalu menutupnya kembali. Sedangkan Hagia


berjaga-jaga di luar.


Bilik yang Dian masuki berukuran 2x2 meter. Yang mana di dalamnya sendiri tidak berisi apapun.


Hanya terlihat beberapa tulang yang ukurannya kecil dan pendek di sana.


Yang Dian pikir itu adalah tulang hewan. Lalu dengan mengucap permisi,


Dian mulai buang air kecil.


Sembari menunggu Dian selesai, Hagia yang berada di luar mencoba menyapu pandangannya ke


berbagai arah. Kemudian dengan samar, Hagia melihat ada sosok laki-laki


ke dalam hutan yang lebih rimbun. Takut terjadi hal buruk kepada anak


itu, insting Hagia pun aktif. Lalu mulai mengikuti kemana mereka pergi


tanpa pikir panjang.


Dengan langkah berhati-hati, Hagia terus mengikuti mereka dari kejauhan. Menyusuri


hutan semakin lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, Hagia melihat ada


sebuah bangunan yang berdiri di tengah-tengah hutan di ujung sana.


Laki-laki yang membawa anak perempuan itu pun mengarah menuju bangunan


tersebut. Insting Hagia yang ingin menyelamatkan sang anak ikut


membawanya ke sana pula.


Masih fokus mengintai Laki-laki dan anak perempuan itu dari belakang, namun tetiba saja Hagia


terkejut ketika ia kehilangan jejak mereka saat keduanya mendekati


bangunan. Sosok laki-laki dan anak perempuan tadi seperti memudar


perlahan lalu kemudian hilang tanpa jejak di dekat bangunan tersebut.


Dengan mengernyitkan dahi, Hagia mulai terheran. Lalu mulai


menengok-nengok ke sekeliling beberapa kali. Selain pepohonan yang


menjulang tinggi dan desir angin yang berhembus kencang, Hagia tidak


dapat menemukan siapapun di sana melainkan dirinya sendiri. Lalu dengan


langkah berhati-hati, Hagia mulai mendekati bangunan kuno itu perlahan.


Saat ini, bangunan kuno itu sudah berada tepat di hadapan Hagia. Masih heran


dengan hilangnya jejak laki-laki dan anak perempuan tadi, Hagia


berpikir untuk membuka pintu bangunan kuno di hadapannya. Dengan


perasaan yang was-was, Hagia mulai merangkahkan tangan kanannya menuju


gagang pintu.


Semilir angin di tengah hutan


mengusap lembut tubuh Hagia, seakan ingin membantu mendinginkan tubuhnya


yang memanas karena aliran darah yang mengalir lebih cepat. Saat ini,

__ADS_1


Hagia telah sepenuhnya menggenggam gagang pintu bangunan kuno itu. Namun


tanpa ia sadari, was-was dihatinya membuat kedua telapak tangannya


menjadi basah, serta membuat detak jantungnya berdebar tak karuan.


Dengan memberanikan diri, Hagia mulai menarik gagang pintu itu dengan


perlahan. Hingga kemudian, "Mbak Hagia ada perlu apa di sini?" Ucap Pak


Bimo barusan, yang hampir saja membuat Hagia terkena serangan jantung.


Merasa kebingungan, Hagia langsung menjelaskan dengan berkata, "Ta-tadi


saya... nge-ngeliat ada laki-laki nyiksa anak kecil. Terus di bawa ke


sini." Ucapnya dengan terbata-bata.


Namun dengan tenang Pak Bimo menegaskan, "Bangunan ini namanya punden. Dalamnya itu


berisi makam leluhur yang kami hormati. Ini bangunan keramat. Jadi ndak


mungkin ada orang yang mau macam-macam di punden ini. Mbak Hagia mungkin


salah lihat."


Tapi Hagia merasa kekeh. Ia pun


mencoba menyangkal dengan menimpal, "Enggak kok pak. Saya serius. Tadi


saya liat ada laki-laki sama anak kecil masuk sini." Ucap Hagia dengan


berpegang teguh pada pendiriannya.


Namun sekali lagi, Pak Bimo kembali menegaskan, "Udah mbak. Mbak itu cuma lagi


halusinasi. Lagi pula semua warga desa tau kalau punden ini tidak boleh


dimasuki sembarang orang, hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk.


Kalau maksa masuk, bisa-bisa nanti kena sial. Mbak mau kena sial?" Tutur


Pak Bimo dengan intonasi yang lebih tegas. Lalu ia pun kembali


melanjutkan dengan berkata, "Mbak Hagia sebaiknya kembali. Tadi saya


diminta Mbak Dian untuk mencari Mbak yang katanya hilang."


Tidak mau menciptakan masalah, akhirnya Hagia mau mendengarkan perkataan Pak


Bimo, Hagia akhirnya menurut. Lalu kembali menemui Dian di dekat Bilik


dengan perasaan yang masih bertanya-tanya.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Awan gelap yang membentang di


langit luas pun seakan sudah siap menjatuhkan air hujan tanpa ampun.


Tapi untung saja agenda proker para mahasiswa hari ini telah selesai,


selesai tepat waktu sebelum hujan mengguyur deras sebentar lagi.


Abil, Estu dan Hagia masih berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk


beres-beres. Sedangkan Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk


menyelamatkan berkas-berkas dan beberapa perangkat penting sebelum hujan


turun mengguyur. Ya, dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan


lebih banyak, Dian yang bertubuh mungil diberikan keringanan dengan


hanya membawa berkas-berkas dan beberapa perangkat kecil saja.


Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras. Tapi


untung saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa


meneduh di salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu, bahwa


rumah yang saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik seorang


kakek tua dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya berharap


dalam hati, semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan menemuinya.


Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan, tetiba saja pintu rumah


tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit pintu yang berbunyi


membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan perasaan yang was-was. Tak


lama berselang, Dian melihat seseeorang keluar dari rumah itu dengan


jalan yang tertatih. Dan benar, sosok tersebut adalah sang kakek tua


yang Dian harap tidak bertemu dengannya.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2