Thread Horror

Thread Horror
Bab 16 : Andong Setan


__ADS_3

Kisah ini berasal dari seorang pria berusia 56 tahun. Sebut saja namanya Pak Surya. Dan latar belakang kisah mistis yang dialaminya sendiri, terjadi pada tahun 1980-an silam, di kampung halamannya, sebuah desa di kota klaten.


Pada waktu itu, Pak Surya yang masih berusia belia sedang menjemput temannya, yaitu Yatno untuk mengajaknya menonton sebuah wayang kulit di lapangan terbuka dekat kantor kecamatan. Kala itu, kabar tentang pagelaran wayang tersebut terdengar begitu santer di telinga warga, karena akan menghadirkan dalang ternama, yaitu ki nato sabdo. Hal itulah yang membuat warga sekitar bahkan dari luar desa begitu antusiasme menantikannya, tak terkecuali Pak Surya dan Yatno. Dengan mengetahui kalau dalang ki nato sabdo lah yang akan memainkan lakon, keduanya pun dibuat begitu sumringah karenanya. Dan malam akhir pekan inilah, acara tersebut akan diselenggarakan. Lalu setelah dapat izin dari orangtua Yatno, mereka berdua pun mulai berjalan santai menuju lokasi.


Jika menilik posisi keduanya berada sekarang, kira-kira masih sekitar 2 kilometer lagi agar mereka sampai di lokasi. Meski akan memakan waktu sampai berpuluh-puluh menit, alih-alih merasa terbebani, Pak Surya dan Yatno justru merasa sumringah saat ini, terlihat jelas dari raut wajah mereka yang berseri. Keduanya pun terus berjalan beriringan dengan warga lain yang juga ingin menonton pagelaran wayang tersebut. Jadi dengan beramai-ramai, mereka semua berjalan beriringan menuju lokasi yang sama.


Setelah berjalan jauh, setelah ratusan bahkan ribuan langkah, akhirnya Pak Surya dan Yatno sampai juga di lokasi tujuan. Ya, keduanya saat ini sudah sampai di lapangan terbuka dekat kantor kecamatan dimana pagelaran wayang itu diadakan.


Lokasi dimana saat ini Pak Surya dan Yatno berada terlihat begitu ramai. Sejauh mata memandang, tiap sudut area di sana telah disesaki oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Bahkan pak lurah setempat terlihat sedang duduk di kursi paling depan dekat dengan panggung. Belum lagi Pak RT, Pak RW serta juragan beras, yang Pak Surya dan Yatno kenal juga sedang berada di sana. Banyak orang penting setempat yang kini terlihat hadir di pagelaran wayang tersebut. Ditambah pula dengan banyaknya para pedagang, kemeriahan acara terasa menjadi lebih hingar bingar kini. Lalu, sekitar 30 menit kemudian, atau sekitar pukul 8 malam, acara wayang pun dimulai.


Dalang ki nato sabdo saat ini sedang membawakan lakon yang berjudul lahirnya parikesit


Dengan penuh antusiasme, baik Pak Surya, Yatno maupun warga lain, terus menikmati tontonan lakon yang sedang dimainkan oleh sang dalang.


Lakon yang berjudul lahirnya parikesit sendiri, menceritakan tentang kelahiran cucu pandawa sebagai keturunan raja hastina pura. yang sebenarnya memiliki pesan moral tentang seorang pemimpin yang adil, jujur, dan tegas. dari sifat yang tadi, negara menjadi gemah ripah lohjinawi atau yang artinya negara yang makmur dan bahagia rakyatnya


Dan selama berjam-jam, sang dalang terus memainkan lakon yang bisa membuat para penonton terkesima. Meski hanya duduk di alas seadanya, disertai dengan beberapa gigitan nyamuk, para penonton terus setia menyaksikan lakon wayang tersebut dengan terkesima.

__ADS_1


Hingga tak terasa, kini waktu sudah menunjukan pukul 1 malam. Meski sang dalang masih terus memainkan lakonnya, sebagian orang sudah pulang ke rumahnya satu persatu. Lalu dengan rasa kantuknya yang sudah di ujung mata, Yatno pun mengajak Pak Surya untuk pulang, ia berkata, "Sur, ayo kita pulang. Aku udah ngantuk." Ucap Yatno dengan melas.


Pak Surya sendiri sebenarnya tidak ingin pulang saat ini, ia masih ingin terus menyaksikan lakon wayang itu sampai habis. Apalagi, saat ini cerita sedang mengalir dengan seru-serunya. Tapi merasa tidak enak dengan Yatno sahabatnya, Pak Surya pun akhirnya mengindahkan permintaan Yatno. Dengan perasaan sedikit kecewa, Pak Surya pun berkata, "Yaudah, ayo kita pulang."


Lalu keduanya pun mulai melangkahkan kaki mereka dari hadapan panggung di sana. Selangkah demi selangkah. Perlahan tapi pasti, keduanya pun mulai meninggalkan keramaian. Suara gema pewayangan juga turut memudar perlahan di telinga mereka. Dan setelah jauh berjalan, akhirnya gema suara sang dalang benar-benar lenyap dari pendengaran Pak Surya dan Yatno.


Keduanya kini mulai berjalan memasuki area yang sepi dan gelap. Dengan minimnya penerangan jalan di sana, Pak Surya dan Yatno terus menyusuri jalan beriringan tanpa saling berbicara.


Hingga saat mereka ingin berjalan di sebuah jembatan yang terbuat dari kayu, terdengarlah sebuah suara gemerincing yang diikuti hentakan kaki seperti seekor binatang. Pada awalnya, suara itu terdengar samar, tapi lambat laun suara itupun mulai terdengar semakin nyaring di telinga.


Pak Surya dan Yatno yang berada di sana kini menjadi agak kebingungan. Keduanya pun kompak untuk berhenti berjalan, lalu menyapu pandangan ke sekitar. Saat mereka melihat ke sekeliling, keduanya tidak menemukan siapapun di sana selain diri mereka sendiri. Lalu dengan perasaan heran, Pak Surya pun berkata kepada Yatno dengan bertutur, "Kamu barusan denger suara itu kan? Tapi kok, ndak ada yang lewat ya? Sepi-sepi aja."


Sesuai dengan pernyataan Pak Surya dan Yatno barusan, di sekitar mereka saat ini memang tidak ada siapapun. Di ujung jembatan kayu tersebut, hanya ada Pak Surya dan Yanto yang sedang berdiri mematung sembari melihat ke sekeliling. Tapi suara gemerincing dan hentakan kaki itu masih berbunyi nyaring di sana, membersamainya dengan keheningan malam, yang akhirnya membuat Pak Surya dan Yatno pun menjadi paranoid saat ini.


Lalu dalam kondisi bingung serta takut tersebut, tetiba saja jembatan kayu yang mereka pijak saat ini mulai terasa bergetar. Seiring dengan getarannya, suara misterius tadi pun semakin nyaring terdengar di telinga mereka. Dan situasi seketika berubah menjadi lebih mencekam, kala keduanya melihat, bahwa jalan setapak di sepanjang jembatan benar-benar kosong saat ini, tidak ada siapapun yang sedang melewatinya. Dengan rasa takut, Pak Surya dan Yatno akhirnya memilih untuk putar balik dan bersembunyi di balik semak-semak.


Saat mereka bersembunyi, suara misterius itu akhirnya memudar perlahan. Lalu setelah suara itu benar-benar hilang, Yatno pun berkata kepada Pak Surya, "Sur, mau pulang, apa balik nonton wayang lagi? Pulangnya nanti aja kali ya kalau ada barengannya? Takut aku." Tutur Yatno mencurahkan apa yang sedang ia rasakan. Perkataannya barusan pun adalah sebuah saran agar mereka kembali ke tempat wayang, dimana saat acara wayang nanti selesai, pasti para tetangga pun akan pulang dengan melalui jalan yang sama. Dengan bergerombol, pasti rasanya jauh lebih aman. Kurang lebih, itulah yang dipikirkan oleh Yatno saat ini.

__ADS_1


Tapi mengingat jarak rumah mereka yang sedikit lagi sampai, akhirnya menciptakan idealisme tersendiri bagi Pak Surya. Lalu dengan lantang, Pak Surya pun menimpal ucapan Yatno barusan dengan berkata, "Lanjut aja. Ngapain balik lagi ke tempat wayang, jauh." Ucapnya dengan tegas. Yatno hanya bisa menurut. Lalu mereka pun berdiri, dan mulai kembali berjalan.


Lalu sekali lagi, saat ini, keduanya sedang berada di ujung jembatan kayu itu. Mereka akan mencoba melewati jalan setapak di sana sekali lagi. Dengan perasaan takut dan penuh hati-hati, keduanya mulai melangkahkan kaki sembari melihat ke sekeliling yang gelap dan sepi. Selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, Pak Surya dan Yatno berhasil melewati jembatan kayu tersebut. Suara misterius tadi pun tidak lagi terdengar. Ya, mereka pikir situasi sudah aman kini. Lalu meneruskan jalan pulang sembari membicarakan hal mistis yang baru saja mereka alami dengan seksama.


Hingga akhirnya, kini keduanya pun sampai di sebuah gang, jalan setapak sebelum masuk ke pelataran rumah Yatno berada. Tapi belum sempat masuk ke pelataran rumah, masih berdiri di ujung jalan, alangkah terkejutnya mereka kala melihat sebuah andong yang ditarik oleh kebo bule sedang jalan berputar-putar di pelataran rumah Yatno saat ini. Andong itupun tidak berjalan sendirian, melainkan ada seseorang yang sedang menungganginya, seseorang yang menggunakan pakaian khas adat laki-laki jawa.


Suara gemerincing serta hentakan kaki andong itu pun terasa sama dengan suara misterius yang tadi di dengar oleh Pak Surya dan Yatno saat di jembatan. Namun belum sempat mencerna apa yang mereka lihat saat ini, laki-laki yang menunggangi andong itu pun memberhentikan andongnya, lalu menoleh dengan tatapan mata tajam ke arah Pak Surya dan Yatno.


Sadar bahwa apa yang mereka alami saat ini adalah hal janggal, keduanya pun langsung lari terbirit-birit tanpa tujuan. Lalu setelah berlari cukup jauh, Pak Surya dan Yatno pun memutuskan untuk kembali lagi ke lapangan terbuka dimana acara pagelaran wayang sebelumnya digelar. Dan saat acara wayang telah selesai digelar, Pak Surya dan Yatno pun pulang ke rumah berbarengan dengan para tetangga yang lain.


END.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2