Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 15)


__ADS_3

Beberapa puluh tahun silam. Mengilas balik masa lalu. Saat dimana, Desa Abimantrana pertama kali terbentuk.


Dahulu kala, para pelarian penganut partai komunis yang ingin dihabisi


pemerintah, mulai lari kocar-kacir ke berbagai pelosok daerah. Dari


sekian banyaknya para pelarian yang ingin menyelamatkan diri, beberapa


puluh orang berbondong-bondong datang ke dalam sebuah pegunungan. Ya.


Mereka bersembunyi ke dalam hutan Abimantrana. Salah satu diantarnya


adalah sang sepuh, dan juga sang kakek yang sering berbicara kepada


Dian.


Saat mereka masuk ke dalam hutan


Abimantrana untuk bersembunyi, mereka bertemu seseorang yang bernama


Damar. Seorang pria yang mulai memasuki usia senja. Pertemuan diantara


mereka itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya desa Abimantrana.


Pak Damar yang melihat para pelarian ini sedang mencari tempat


persembunyian pun, berinisiatif untuk mengajak mereka semua tinggal di


kediamannya yang berada di dalam hutan. Dengan tangan terbuka, Pak Damar


beserta istri dan ketiga anak perempuannya, mempersilahkan mereka untuk


tinggal di sana. Meski ada satu syarat yang harus para pelarian ini


lakukan, yaitu berikrar menjadi anggota sekte yang di ketuai oleh Pak


Damar sendiri. Ya. Pak Damar dan sekeluarga adalah penganut sekte sesat


yang tinggal di dalam hutan.


Merasa tak masalah dengan syarat tersebut, akhirnya para pelarian pun mulai membangun


koloni baru di dalam hutan itu, bersama Pak Damar beserta keluarganya.


Hari demi hari dilalui bersama. Melakukan aktivitas normal warga desa pada


umumnya bersama-sama selama bertahun-tahun. Lalu, di selingi dengan


aktivitas ritual-ritual aneh yang diperintahkan oleh Pak Damar selaku


ketua sekte dan juga kepada desa. Tapi, tak ada satupun yang memprotes


hal tersebut. Karena setiap apa yang diinginkan oleh warga, Pak Damar


selaku ketua sekte pasti mampu mengabulkan permintaan apapun dari


mereka.


Awalnya, mereka semua hidup rukun dan


damai dengan kondisi desa yang sejahtera. Bahkan para pelarian ini mulai


melupakan bahwa mereka pernah akan dihabisi oleh pemerintah. Hingga di


suatu hari, Pak Damar meminta seseorang dari warganya untuk menumbalkan


jari-jemarinya. Lalu warga lain dengan menumbalkan satu lengannya. Lalu


satu bola matanya. Hingga bahkan, ada seorang warga yang diminta untuk


menumbalkan anak mereka sendiri.


Lantas, kenapa Pak Damar melakukan hal demikian?


Pak Damar memang mampu mengabulkan apapun yang diminta oleh warga. Hasil


panen yang melimpah. Kesembuhan dari penyakit. Meminta momongan. Bahkan


sampai menghidupkan kembali mereka yang sudah mati, meski sebenarnya


yang terjadi, iblis lah yang sedang menunggangi jasad mayat itu, dan


membuatnya seakan hidup kembali. Pak Damar mampu melakukan itu semua.


Tapi sebagai gantinya, ia akan meminta tumbal yang setimpal dengan apa


yang ia berikan.


Jika meminta kesembuhan dari


penyakit, Pak Damar hanya akan meminta jari-jemari orang tersebut untuk


bayarannya. Jika meminta kesejahteraan, Pak Damar akan meminta satu


lengan orang tersebut untuk bayarannya. Dan semakin besar permintaannya,


maka akan semakin dahsyat harga yang harus dibayar. Dan secara luar


biasa, Pak Damar tidak memberitahukan perihal ini lebih awal. Saat seisi


desa sudah makmur dan sejahtera, barulah Pak Damar menagih bayarannya.


Tentu, kala itu warga tidak ada yang mau menuruti permintaan Pak Damar.


Memotong jari, memotong lengan, mencungkil bola mata, apalagi sampai


menumbalkan anak, tentu tidak ada satupun warga yang mau melakukan itu.


Tapi apa mau dikata, Pak Damar sudah menuruti semua permintaan, kini ia


menagih bayarannya.


Tapi karena tidak ada satupun warga yang mau membayarnya, tak membutuhkan waktu lama, Desa itu


mulai binasa secara perlahan. Banyak dari warga yang mulai jatuh sakit.


Salah satunya adalah yang mengalami hal seperti ‘Sukma Purnama’. Yaitu,


mata mendelik dengan pupil yang memutih, mulut menganga, namun kondisi


tubuh seperti koma.


Dan bukan hanya sampai di situ, hasil panen pun mulai binasa. Apa-apa saja yang ditanam, hasilnya


hanya akan membusuk. Di momen ini, mulailah terjadi kelaparan. Semua


warga desa mengalami kepahitan kala itu. Dan jika ada orang yang masih


hidup dengan sejahtera, itu adalah Pak Damar sendiri selaku ketua sekte


dan juga keluarganya.


Menumbalkan anggota tubuh apalagi sampai anak sendiri tentu mustahil dilakukan. Berdiam diri dalam


keadaan sempit seperti waktu itupun rasanya terlalu menyakitkan. Bahkan


jika ingin kabur dari desa, Pak Damar tidak akan segan membinasakan


orang tersebut dengan membuat kulitnya meleleh. Pernah ada satu keluarga


yang melakukan itu, lalu dengan ajian keramatnya yang bersumber dari


kitab ‘Naraka Paksa’, semua keluarga itu mati secara menyakitkan dengan


kulit yang meleleh.


Merasa terpenjara, sang sepuh kala itu yang masih muda, mulai mengompor-ngompori warga untuk


melakukan kudeta, atau lebih tepatnya… membunuh Pak Damar.

__ADS_1


Dengan skenario matang, akhirnya Pak Damar pun dapat ditangkap oleh warga.


Lalu ia dibawa dan diikat di pohon beringin raksasa yang berada di


belakang desa. Ia dihajar. Dipukul habis-habisan. Yang warga inginkan


kala itu hanyalah satu hal, yaitu agar Pak Damar mensejahterakan kembali


kondisi desa. Paling tidak, warga meminta agar mereka bisa bebas pergi


dari desa.


Tapi alih-alih menuruti permintaan warga, Pak Damar justru menyumpahi semua warga desa. Yang pada akhirnya,


membuat warga menjadi geram. Lalu jemari Pak Damar pun mereka potong


satu persatu. Kedua bola mata Pak Damar pun dicungkil hingga membuatnya


buta. Menganggap bahwa jika Pak Damar mati akan memusnahkan kesengsaraan


desa, sang sepuh kala itu menghunuskan tombaknya ke perut Pak Damar


beberapa kali, hingga membuatnya jatuh dalam keadaan sekarat.


Lalu sebelum kematiannya tiba, Pak Damar yang juga selaku ketua sekte pun


mengutuk mereka semua dengan berseraya, “Hidup dan mati kalian semua


kini ada di tanganku. Akan ku buat hidup kalian menderita. Akan ku kutuk


desa ini sampai binasa. Tidak ada satupun dari kalian yang bisa pergi


dari desa ini, melainkan kematian yang akan mendatangi kalian. Tidak ada


yang bisa menyelamatkan kalian semua yang berada di sini. Aku, sang


sayap neraka, telah mengutuk kalian hingga datangnya kematian yang


membinasakan.” Lalu sang sepuh saat itu pun langsung menghunus tombaknya


ke leher Pak Damar hingga tembus ke belakang, yang membuat Pak Damar


pun akhirnya tewas. Sementara Pak Damar yang tewas, istri dan ketiga


anak perempuannya disekap dan mulai diperlakukan selayaknya budak oleh


seluruh warga.


Pada awalnya, kutukan Pak Damar kala itu terkesan seperti omong kosong. Hingga akhirnya, dendam


kesumatnya untuk mencelakai seluruh warga desa mulai terasa setahun


kemudian.


Kesuburan desa mulai binasa. Terjadi


kelaparan berkepanjangan. Dalam kondisi yang sempit, beberapa warga


mencoba kabur dari desa. Awalnya baik-baik saja, hingga di hari


kedelapan, kulit mereka mulai meleleh seperti terbakar. Berpikir bahwa


kembali ke desa akan menyembuhkan mereka, sang sepuh kala itu justru


membunuh mereka semua sesampainya mereka di sana. Dan sejak saat itu,


tidak ada lagi yang berani kabur dari desa.


Kutukan Pak Damar sang ketua sekte seakan menciptakan kabut tebal di


depan gerbang masuk desa. Tidak ada satupun orang dari luar yang bisa


memasuki desa karenanya. Mereka semua akan dibuat bingung dan kembali


lagi ke titik awal, yaitu gapura desa. Seakan jalan menuju Desa


keluar, tidak ada jalan masuk. Warga desa benar-benar terpenjara di sana


seumur hidup. Hanya kematian yang akan menunggu mereka dengan pedih.


Dalam kondisi desa yang sempit, tetiba saja di suatu malam, sang sepuh


bermimpi. Seakan mendapat wahyu dalam mimpinya, sang sepuh pun


diberitahu bagaimana cara menekan kutukan tersebut. Yaitu, dengan cara


‘Nandur Manungsa’. Sebuah ritual menguliti keturunan Pak Damar. Menabur


darah mereka ke seluruh penjuru desa lalu menanam jasadnya ke dalam


tanah di dekat pohon beringin, dimana waktu itu ia dibunuh.


Nandur Manungsa adalah sebuah bentuk perlawanan dari warga desa terhadap


kutukan Pak Damar sang ketua sekte. Dengan menumbalkan keturunanya,


warga desa seakan tak gentar terhadap kutukan tersebut. Dan benar, desa


kembali menjadi subur setelah melakukan ritual itu.


Dengan adanya ritual Nandur Manungsa, dibangunlah sebuah tempat yang cukup


besar untuk menampung keturunan Pak Damar sang ketua sekte. Bangunan itu


disebut ‘Punden’. Di dalam bangunan itu, istri serta anak-anak Pak


Damar, dipasung dan diperkosa untuk melahirkan keturunan.


Jika nanti terlahir anak laki-laki, jika memang dibutuhkan, maka anak itu


akan langsung dikuliti hidup-hidup lalu ditanam. Jika tidak terlalu


dibutuhkan, maka anak itu akan dibiarkan hidup sampai akhirnya waktu


untuk dikuliti tiba.


Dan jika terlahir anak perempuan, ia akan dibiarkan terus hidup untuk melahirkan banyak anak.


Saat dirasa cukup, barulah ia akan dikuliti hidup-hidup. Dan selama


bertahun-tahun, ritual ini terus berlanjut.


Sampai akhirnya, tinggal satu keturunan saja yang tersisa kini. Bahkan satu


keturunan Pak Damar yang tersisa kini pun, tidak bisa hamil. Yaitu,


perempuan yang bernama ‘Mutih’. Yang di waktu kini, dirinya sedang di


pasung di dalam punden.


Sang sepuh pun menjadi dilema. Sejujurnya, ia ingin menumbalkan Mutih dengan segera. Tapi di


lain sisi, jika Mutih ditumbalkan, maka ritual ‘Nandur Manungsa’ tidak


akan bisa dilakukan kembali. Yang juga artinya, menumbalkan Mutih sama


saja dengan bunuh diri. Tapi dengan tidak adanya ritual ‘Nandur


Manungsa’, kesuburan tanah di desa mereka kembali binasa. Dilema itu


akhirnya, membuat hidup mereka kala itu benar-benar menjadi sengsara.


Dan ternyata, kutukan Pak Damar sang ketua sekte bukan hanya sampai


berhenti di sana. Warga yang usianya menginjak 40 tahun, akan jatuh


sakit. Diawal-awal, mereka menjadi tuli dan buta. Lalu mereka akan


mengalami ‘Sukma Purnama’ beberapa hari setelahnya. Sebuah penyakit,

__ADS_1


yang seakan membuat penderitaan mereka semakin menjadi-jadi. Dan tidak


ada satupun yang akan selamat ketika sudah jatuh sakit seperti itu,


selain kematian yang akan datang kepadanya.


Hingga keajaiban akhirnya muncul. Dimana seorang kakek akhirnya terbangun


setelah 17 tahun lamanya mengalami ‘Sukma Purnama’. Ya, dia adalah kakek


yang sering mengajak Dian bicara.


Dalam tidur panjangnya, sang kakek mendapat ilham untuk melakukan rencana ‘Getih


Mawar’. Sebuah ritual sakral yang bisa menyelamatkan desa dari


kebinasaan. Dimana ‘Getih Mawar’ sendiri adalah sebuah rencana dengan


membawa tumbal dari luar untuk dijadikan persembahan. Ritual inilah yang


membawa Abil, Estu, Hagia, Dian dan 5 mahasiswa sebelum mereka,


akhirnya masuk ke desa terkutuk ini.


Tapi dengan kehadiran Estu di sana, rasanya, kebinasaan desa ini telah sampai di


ujung nadi. Ya. Kedatangan Estu ke tanah jahanam ini, akhirnya membawa


desa terkutuk ini… menuju kebinasaan.


Kembali lagi ke waktu kini.


Setelah selesai melakukan ritual terlarang tadi, Estu mulai meninggalkan desa


dengan langkah tertatih. Di segala penjuru, ia melihat pemandangan


mengerikan yang sama. Dengan mata kepalanya sendiri, Estu melihat warga


desa tersungkur sembari berteriak keras tanpa henti. Tapi, tidak peduli


dengan apa yang sedang dilihatnya, Estu terus menyusuri jalan


meninggalkan desa.


Hingga tak terasa, saat ini, Estu sudah sampai di gapura desa. Inilah gerbang masuk dan keluar dari


desa Abimantrana. Dan saat Estu ingin meneruskan perjalanan, terdengar


samar suara tangisan bayi di sana. Ya, Mutih baru saja melahirkan.


Perempuan yang dianggap mandul itu baru saja melahirkan. Estu memang


mendengar tangisan seorang bayi. Tapi, ia tidak peduli dengan itu. Dan


meluyur pergi begitu saja meninggalkan desa terkutuk yang telah binasa


di belakangnya.


Lalu seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Estu, hujan pun mulai mengguyur deras.


Hujan deras yang akan turun… hingga 3 hari lamanya.


@ @ @ @ @


“Kejadian mengerikan baru saja terjadi di dalam hutan Abimantrana. Telah


ditemukan sebuah danau berisi ratusan mayat yang mengapung. Polisi pun


menemukan identitas seorang mahasiswa yang hilang beberapa bulan


terakhir di lokasi kejadian. Lalu, tragedi apa yang sebenarnya terjadi


di tempat ini? Mengapa mayat-mayat itu mati dalam keadaan mata mendelik


serta pupil yang memutih? Ditambah, kulit mereka seakan meleleh karena


terbakar pula. Kejadian janggal dan mengerikan ini memang belum bisa


dipastikan, karena polisi pun belum bisa memberikan keterangannya saat


ini. Tapi mari kita coba telusuri lebih jauh dengan bertanya kepada


seorang warga yang—”


Dengan wajah serius, Estu terus menonton berita yang sedang tayang di layar televisi.


Saat ini, hutan Abimantrana sedang di datangi oleh banyak kalangan. Berita


tentang danau berisi ratusan mayat yang dikabarkan oleh banyak media,


telah menjadi berita nasional yang mengundang banyak perhatian.


Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan Abimantrana?


Sesaat setelah Estu pergi meninggalkan desa 5 hari yang lalu, hujan mulai


mengguyur deras ke seluruh penjuru desa. Hujan deras selama 3 hari


berturut-turut itupun, akhirnya menenggelamkan desa Abimantrana beserta


seluruh isinya. Kecuali, Pak Bimo seorang. Saat ia kembali, Pak Bimo


melihat desanya sudah tenggelam menjadi danau. Dan ia pergi entah kemana


setelahnya.


Lalu, berita mengerikan ini mencuat


setelah ada seorang petani yang tak sengaja memasuki hutan Abimantrana,


dan melihat sebuah danau yang berisi ratusan mayat di dalamnya. Sontak,


berita yang keluar dari mulutnya seketika langsung menyambar cepat dari


mulut ke mulut, hingga tersiar menjadi berita nasional kini. Persis,


seperti tayangan berita yang sedang Estu nikmati barusan.


Masih asyik menonton berita, tetiba saja ada suara lantang yang memanggil. “Estu… Estu.”


Estu yang sedang enak menonton pun, tetiba saja menjadi terganggu karenanya.


Lalu orang itu menghampiri Estu dan kembali berkata, “Estu, ada orang


yang mencari kamu. Sana temui.” Ucap nenek Estu sembari tersenyum.


Ya. Nenek Estu yang sebelumnya terbujur kaku menjadi mayat, kini telah


hidup kembali. Tanah yang Estu bawa dari desa Abimantrana, telah


membangkitkan neneknya kembali.


Lalu dengan langkah tegap, Estu mulai berjalan keluar rumah menemui orang yang neneknya maksud.


Dan setelah tahu siapa yang menemuinya, Estu pun… mulai tersenyum lebar.


TAMAT.


## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)


## Sekali lagi terima kasih banyak :)


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2