
Beberapa puluh tahun silam. Mengilas balik masa lalu. Saat dimana, Desa Abimantrana pertama kali terbentuk.
Dahulu kala, para pelarian penganut partai komunis yang ingin dihabisi
pemerintah, mulai lari kocar-kacir ke berbagai pelosok daerah. Dari
sekian banyaknya para pelarian yang ingin menyelamatkan diri, beberapa
puluh orang berbondong-bondong datang ke dalam sebuah pegunungan. Ya.
Mereka bersembunyi ke dalam hutan Abimantrana. Salah satu diantarnya
adalah sang sepuh, dan juga sang kakek yang sering berbicara kepada
Dian.
Saat mereka masuk ke dalam hutan
Abimantrana untuk bersembunyi, mereka bertemu seseorang yang bernama
Damar. Seorang pria yang mulai memasuki usia senja. Pertemuan diantara
mereka itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya desa Abimantrana.
Pak Damar yang melihat para pelarian ini sedang mencari tempat
persembunyian pun, berinisiatif untuk mengajak mereka semua tinggal di
kediamannya yang berada di dalam hutan. Dengan tangan terbuka, Pak Damar
beserta istri dan ketiga anak perempuannya, mempersilahkan mereka untuk
tinggal di sana. Meski ada satu syarat yang harus para pelarian ini
lakukan, yaitu berikrar menjadi anggota sekte yang di ketuai oleh Pak
Damar sendiri. Ya. Pak Damar dan sekeluarga adalah penganut sekte sesat
yang tinggal di dalam hutan.
Merasa tak masalah dengan syarat tersebut, akhirnya para pelarian pun mulai membangun
koloni baru di dalam hutan itu, bersama Pak Damar beserta keluarganya.
Hari demi hari dilalui bersama. Melakukan aktivitas normal warga desa pada
umumnya bersama-sama selama bertahun-tahun. Lalu, di selingi dengan
aktivitas ritual-ritual aneh yang diperintahkan oleh Pak Damar selaku
ketua sekte dan juga kepada desa. Tapi, tak ada satupun yang memprotes
hal tersebut. Karena setiap apa yang diinginkan oleh warga, Pak Damar
selaku ketua sekte pasti mampu mengabulkan permintaan apapun dari
mereka.
Awalnya, mereka semua hidup rukun dan
damai dengan kondisi desa yang sejahtera. Bahkan para pelarian ini mulai
melupakan bahwa mereka pernah akan dihabisi oleh pemerintah. Hingga di
suatu hari, Pak Damar meminta seseorang dari warganya untuk menumbalkan
jari-jemarinya. Lalu warga lain dengan menumbalkan satu lengannya. Lalu
satu bola matanya. Hingga bahkan, ada seorang warga yang diminta untuk
menumbalkan anak mereka sendiri.
Lantas, kenapa Pak Damar melakukan hal demikian?
Pak Damar memang mampu mengabulkan apapun yang diminta oleh warga. Hasil
panen yang melimpah. Kesembuhan dari penyakit. Meminta momongan. Bahkan
sampai menghidupkan kembali mereka yang sudah mati, meski sebenarnya
yang terjadi, iblis lah yang sedang menunggangi jasad mayat itu, dan
membuatnya seakan hidup kembali. Pak Damar mampu melakukan itu semua.
Tapi sebagai gantinya, ia akan meminta tumbal yang setimpal dengan apa
yang ia berikan.
Jika meminta kesembuhan dari
penyakit, Pak Damar hanya akan meminta jari-jemari orang tersebut untuk
bayarannya. Jika meminta kesejahteraan, Pak Damar akan meminta satu
lengan orang tersebut untuk bayarannya. Dan semakin besar permintaannya,
maka akan semakin dahsyat harga yang harus dibayar. Dan secara luar
biasa, Pak Damar tidak memberitahukan perihal ini lebih awal. Saat seisi
desa sudah makmur dan sejahtera, barulah Pak Damar menagih bayarannya.
Tentu, kala itu warga tidak ada yang mau menuruti permintaan Pak Damar.
Memotong jari, memotong lengan, mencungkil bola mata, apalagi sampai
menumbalkan anak, tentu tidak ada satupun warga yang mau melakukan itu.
Tapi apa mau dikata, Pak Damar sudah menuruti semua permintaan, kini ia
menagih bayarannya.
Tapi karena tidak ada satupun warga yang mau membayarnya, tak membutuhkan waktu lama, Desa itu
mulai binasa secara perlahan. Banyak dari warga yang mulai jatuh sakit.
Salah satunya adalah yang mengalami hal seperti ‘Sukma Purnama’. Yaitu,
mata mendelik dengan pupil yang memutih, mulut menganga, namun kondisi
tubuh seperti koma.
Dan bukan hanya sampai di situ, hasil panen pun mulai binasa. Apa-apa saja yang ditanam, hasilnya
hanya akan membusuk. Di momen ini, mulailah terjadi kelaparan. Semua
warga desa mengalami kepahitan kala itu. Dan jika ada orang yang masih
hidup dengan sejahtera, itu adalah Pak Damar sendiri selaku ketua sekte
dan juga keluarganya.
Menumbalkan anggota tubuh apalagi sampai anak sendiri tentu mustahil dilakukan. Berdiam diri dalam
keadaan sempit seperti waktu itupun rasanya terlalu menyakitkan. Bahkan
jika ingin kabur dari desa, Pak Damar tidak akan segan membinasakan
orang tersebut dengan membuat kulitnya meleleh. Pernah ada satu keluarga
yang melakukan itu, lalu dengan ajian keramatnya yang bersumber dari
kitab ‘Naraka Paksa’, semua keluarga itu mati secara menyakitkan dengan
kulit yang meleleh.
Merasa terpenjara, sang sepuh kala itu yang masih muda, mulai mengompor-ngompori warga untuk
melakukan kudeta, atau lebih tepatnya… membunuh Pak Damar.
__ADS_1
Dengan skenario matang, akhirnya Pak Damar pun dapat ditangkap oleh warga.
Lalu ia dibawa dan diikat di pohon beringin raksasa yang berada di
belakang desa. Ia dihajar. Dipukul habis-habisan. Yang warga inginkan
kala itu hanyalah satu hal, yaitu agar Pak Damar mensejahterakan kembali
kondisi desa. Paling tidak, warga meminta agar mereka bisa bebas pergi
dari desa.
Tapi alih-alih menuruti permintaan warga, Pak Damar justru menyumpahi semua warga desa. Yang pada akhirnya,
membuat warga menjadi geram. Lalu jemari Pak Damar pun mereka potong
satu persatu. Kedua bola mata Pak Damar pun dicungkil hingga membuatnya
buta. Menganggap bahwa jika Pak Damar mati akan memusnahkan kesengsaraan
desa, sang sepuh kala itu menghunuskan tombaknya ke perut Pak Damar
beberapa kali, hingga membuatnya jatuh dalam keadaan sekarat.
Lalu sebelum kematiannya tiba, Pak Damar yang juga selaku ketua sekte pun
mengutuk mereka semua dengan berseraya, “Hidup dan mati kalian semua
kini ada di tanganku. Akan ku buat hidup kalian menderita. Akan ku kutuk
desa ini sampai binasa. Tidak ada satupun dari kalian yang bisa pergi
dari desa ini, melainkan kematian yang akan mendatangi kalian. Tidak ada
yang bisa menyelamatkan kalian semua yang berada di sini. Aku, sang
sayap neraka, telah mengutuk kalian hingga datangnya kematian yang
membinasakan.” Lalu sang sepuh saat itu pun langsung menghunus tombaknya
ke leher Pak Damar hingga tembus ke belakang, yang membuat Pak Damar
pun akhirnya tewas. Sementara Pak Damar yang tewas, istri dan ketiga
anak perempuannya disekap dan mulai diperlakukan selayaknya budak oleh
seluruh warga.
Pada awalnya, kutukan Pak Damar kala itu terkesan seperti omong kosong. Hingga akhirnya, dendam
kesumatnya untuk mencelakai seluruh warga desa mulai terasa setahun
kemudian.
Kesuburan desa mulai binasa. Terjadi
kelaparan berkepanjangan. Dalam kondisi yang sempit, beberapa warga
mencoba kabur dari desa. Awalnya baik-baik saja, hingga di hari
kedelapan, kulit mereka mulai meleleh seperti terbakar. Berpikir bahwa
kembali ke desa akan menyembuhkan mereka, sang sepuh kala itu justru
membunuh mereka semua sesampainya mereka di sana. Dan sejak saat itu,
tidak ada lagi yang berani kabur dari desa.
Kutukan Pak Damar sang ketua sekte seakan menciptakan kabut tebal di
depan gerbang masuk desa. Tidak ada satupun orang dari luar yang bisa
memasuki desa karenanya. Mereka semua akan dibuat bingung dan kembali
lagi ke titik awal, yaitu gapura desa. Seakan jalan menuju Desa
keluar, tidak ada jalan masuk. Warga desa benar-benar terpenjara di sana
seumur hidup. Hanya kematian yang akan menunggu mereka dengan pedih.
Dalam kondisi desa yang sempit, tetiba saja di suatu malam, sang sepuh
bermimpi. Seakan mendapat wahyu dalam mimpinya, sang sepuh pun
diberitahu bagaimana cara menekan kutukan tersebut. Yaitu, dengan cara
‘Nandur Manungsa’. Sebuah ritual menguliti keturunan Pak Damar. Menabur
darah mereka ke seluruh penjuru desa lalu menanam jasadnya ke dalam
tanah di dekat pohon beringin, dimana waktu itu ia dibunuh.
Nandur Manungsa adalah sebuah bentuk perlawanan dari warga desa terhadap
kutukan Pak Damar sang ketua sekte. Dengan menumbalkan keturunanya,
warga desa seakan tak gentar terhadap kutukan tersebut. Dan benar, desa
kembali menjadi subur setelah melakukan ritual itu.
Dengan adanya ritual Nandur Manungsa, dibangunlah sebuah tempat yang cukup
besar untuk menampung keturunan Pak Damar sang ketua sekte. Bangunan itu
disebut ‘Punden’. Di dalam bangunan itu, istri serta anak-anak Pak
Damar, dipasung dan diperkosa untuk melahirkan keturunan.
Jika nanti terlahir anak laki-laki, jika memang dibutuhkan, maka anak itu
akan langsung dikuliti hidup-hidup lalu ditanam. Jika tidak terlalu
dibutuhkan, maka anak itu akan dibiarkan hidup sampai akhirnya waktu
untuk dikuliti tiba.
Dan jika terlahir anak perempuan, ia akan dibiarkan terus hidup untuk melahirkan banyak anak.
Saat dirasa cukup, barulah ia akan dikuliti hidup-hidup. Dan selama
bertahun-tahun, ritual ini terus berlanjut.
Sampai akhirnya, tinggal satu keturunan saja yang tersisa kini. Bahkan satu
keturunan Pak Damar yang tersisa kini pun, tidak bisa hamil. Yaitu,
perempuan yang bernama ‘Mutih’. Yang di waktu kini, dirinya sedang di
pasung di dalam punden.
Sang sepuh pun menjadi dilema. Sejujurnya, ia ingin menumbalkan Mutih dengan segera. Tapi di
lain sisi, jika Mutih ditumbalkan, maka ritual ‘Nandur Manungsa’ tidak
akan bisa dilakukan kembali. Yang juga artinya, menumbalkan Mutih sama
saja dengan bunuh diri. Tapi dengan tidak adanya ritual ‘Nandur
Manungsa’, kesuburan tanah di desa mereka kembali binasa. Dilema itu
akhirnya, membuat hidup mereka kala itu benar-benar menjadi sengsara.
Dan ternyata, kutukan Pak Damar sang ketua sekte bukan hanya sampai
berhenti di sana. Warga yang usianya menginjak 40 tahun, akan jatuh
sakit. Diawal-awal, mereka menjadi tuli dan buta. Lalu mereka akan
mengalami ‘Sukma Purnama’ beberapa hari setelahnya. Sebuah penyakit,
__ADS_1
yang seakan membuat penderitaan mereka semakin menjadi-jadi. Dan tidak
ada satupun yang akan selamat ketika sudah jatuh sakit seperti itu,
selain kematian yang akan datang kepadanya.
Hingga keajaiban akhirnya muncul. Dimana seorang kakek akhirnya terbangun
setelah 17 tahun lamanya mengalami ‘Sukma Purnama’. Ya, dia adalah kakek
yang sering mengajak Dian bicara.
Dalam tidur panjangnya, sang kakek mendapat ilham untuk melakukan rencana ‘Getih
Mawar’. Sebuah ritual sakral yang bisa menyelamatkan desa dari
kebinasaan. Dimana ‘Getih Mawar’ sendiri adalah sebuah rencana dengan
membawa tumbal dari luar untuk dijadikan persembahan. Ritual inilah yang
membawa Abil, Estu, Hagia, Dian dan 5 mahasiswa sebelum mereka,
akhirnya masuk ke desa terkutuk ini.
Tapi dengan kehadiran Estu di sana, rasanya, kebinasaan desa ini telah sampai di
ujung nadi. Ya. Kedatangan Estu ke tanah jahanam ini, akhirnya membawa
desa terkutuk ini… menuju kebinasaan.
Kembali lagi ke waktu kini.
Setelah selesai melakukan ritual terlarang tadi, Estu mulai meninggalkan desa
dengan langkah tertatih. Di segala penjuru, ia melihat pemandangan
mengerikan yang sama. Dengan mata kepalanya sendiri, Estu melihat warga
desa tersungkur sembari berteriak keras tanpa henti. Tapi, tidak peduli
dengan apa yang sedang dilihatnya, Estu terus menyusuri jalan
meninggalkan desa.
Hingga tak terasa, saat ini, Estu sudah sampai di gapura desa. Inilah gerbang masuk dan keluar dari
desa Abimantrana. Dan saat Estu ingin meneruskan perjalanan, terdengar
samar suara tangisan bayi di sana. Ya, Mutih baru saja melahirkan.
Perempuan yang dianggap mandul itu baru saja melahirkan. Estu memang
mendengar tangisan seorang bayi. Tapi, ia tidak peduli dengan itu. Dan
meluyur pergi begitu saja meninggalkan desa terkutuk yang telah binasa
di belakangnya.
Lalu seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Estu, hujan pun mulai mengguyur deras.
Hujan deras yang akan turun… hingga 3 hari lamanya.
@ @ @ @ @
“Kejadian mengerikan baru saja terjadi di dalam hutan Abimantrana. Telah
ditemukan sebuah danau berisi ratusan mayat yang mengapung. Polisi pun
menemukan identitas seorang mahasiswa yang hilang beberapa bulan
terakhir di lokasi kejadian. Lalu, tragedi apa yang sebenarnya terjadi
di tempat ini? Mengapa mayat-mayat itu mati dalam keadaan mata mendelik
serta pupil yang memutih? Ditambah, kulit mereka seakan meleleh karena
terbakar pula. Kejadian janggal dan mengerikan ini memang belum bisa
dipastikan, karena polisi pun belum bisa memberikan keterangannya saat
ini. Tapi mari kita coba telusuri lebih jauh dengan bertanya kepada
seorang warga yang—”
Dengan wajah serius, Estu terus menonton berita yang sedang tayang di layar televisi.
Saat ini, hutan Abimantrana sedang di datangi oleh banyak kalangan. Berita
tentang danau berisi ratusan mayat yang dikabarkan oleh banyak media,
telah menjadi berita nasional yang mengundang banyak perhatian.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan Abimantrana?
Sesaat setelah Estu pergi meninggalkan desa 5 hari yang lalu, hujan mulai
mengguyur deras ke seluruh penjuru desa. Hujan deras selama 3 hari
berturut-turut itupun, akhirnya menenggelamkan desa Abimantrana beserta
seluruh isinya. Kecuali, Pak Bimo seorang. Saat ia kembali, Pak Bimo
melihat desanya sudah tenggelam menjadi danau. Dan ia pergi entah kemana
setelahnya.
Lalu, berita mengerikan ini mencuat
setelah ada seorang petani yang tak sengaja memasuki hutan Abimantrana,
dan melihat sebuah danau yang berisi ratusan mayat di dalamnya. Sontak,
berita yang keluar dari mulutnya seketika langsung menyambar cepat dari
mulut ke mulut, hingga tersiar menjadi berita nasional kini. Persis,
seperti tayangan berita yang sedang Estu nikmati barusan.
Masih asyik menonton berita, tetiba saja ada suara lantang yang memanggil. “Estu… Estu.”
Estu yang sedang enak menonton pun, tetiba saja menjadi terganggu karenanya.
Lalu orang itu menghampiri Estu dan kembali berkata, “Estu, ada orang
yang mencari kamu. Sana temui.” Ucap nenek Estu sembari tersenyum.
Ya. Nenek Estu yang sebelumnya terbujur kaku menjadi mayat, kini telah
hidup kembali. Tanah yang Estu bawa dari desa Abimantrana, telah
membangkitkan neneknya kembali.
Lalu dengan langkah tegap, Estu mulai berjalan keluar rumah menemui orang yang neneknya maksud.
Dan setelah tahu siapa yang menemuinya, Estu pun… mulai tersenyum lebar.
TAMAT.
## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)
## Sekali lagi terima kasih banyak :)
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1