Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 13)


__ADS_3

Sudah 1 bulan berlalu semenjak Hagia tewas bunuh


diri. Dan secara total, sudah 4 bulan lebih para mahasiswa KKN itu


tinggal di desa Abimantrana, yang tak pernah sekalipun mengabari


keluarga di rumah.


Bahkan, seharusnya 2 bulan


lalu mereka sudah kembali pulang karena tugas KKN yang sudah selesai.


Tapi kini mereka tak kunjung kembali. Yang pada akhirnya, membuat


masing-masing dari keluarga mereka mulai khawatir. Tak terkecuali,


keluarga dari pihak Abil.


Baru saja, orangtua


Abil sampai di kampus dimana Abil kuliah. Dengan perasaan penuh khawatir


dan bertanya-tanya, ayah serta ibu Abil mulai berjalan masuk ke dalam


gedung kampus dengan tergesa-gesa.


Lalu, untuk apa mereka datang ke sana? Jelas, orangtua Abil ingin mencecar pihak


kampus karena anak mereka yang tidak kunjung pulang.


Sesampainya orangtua Abil di ruang sekretariat, dengan langkah tergesa disertai


wajah gelisah, keduanya mulai berhadapan dengan beberapa aparatur


kampus. Sedikit terjadi kekacauan sesaat di sana karena ayah Abil yang


sedang emosi. Lalu pada akhirnya, seorang pria bernama Setyo, yang juga


termasuk salah satu petinggi kampus yang kebetulan berada di sana


bersedia berdiskusi dengan kedua orangtua Abil.


Setelah masing-masing dari mereka duduk, ayah Abil pun langsung memprotes


dengan berkata, “Program KKN-nya kan cuma 2 3 bulan, tapi ini sudah 4


bulan loh Pak. Anak saya gak ada kabar sama sekali. Tanggung jawab


kampus kemana?” ucap ayah abil barusan dengan emosi.


Lalu pihak kampus yang diwakili oleh Pak Setyo pun menjawab, “Ya, saya paham


kalau bapak marah. Saya memaklumi itu. Tapi kami pun dari pihak kampus


sedang terus mencoba menelusuri dimana anak bapak serta 3 mahasiswa lain


saat ini berada. Sudah seminggu terakhir kami mengutus beberapa orang


mencari letak desa dimana mereka KKN.”


Bukannya merasa tenang mendengar jawaban dari Pak Setyo tadi, Ayah Abil justru


malah semakin mengheran dengan jawaban itu. Lalu beliau pun menimpal,


“Bahkan kampus aja sampai gak tau letak desanya? Jadi pas anak saya


kemarin pergi KKN, pihak kampus gak ada yang dampingin? Lepas tangan aja


kalian?” ucap ayah Abil semakin emosi.


Lalu Pak Setyo mencoba menenangkan dengan bertutur, “Iya… kami meminta maaf


sebesar-besarnya soal itu. Tapi kami pasti akan berusaha semaksimal


mungkin mencari anak bapak dan ibu.” Tuturnya dengan intonasi dan gestur


yang tenang.


Tapi sudah pasti, apapun yang dikatakan oleh Pak Setyo selaku perwakilan kampus, tidak akan membuat


orangtua Abil menjadi tenang. Mereka memang terus berbicara panjang


lebar setelahnya. Tapi pada akhirnya, pertemuan kedua pihak tidak


menghasilkan apapun. Pak Setyo selaku perwakilan kampus hanya berkata


kepada orang tua Abil untuk sabar, sabar dan sabar. Sementara, ayah Abil


menginkan kejelasan dimana dan bagaimana kondisi anak mereka saat ini.


Pertemuan ini hanya sia-sia, tidak lebih dari membuat orang tua Abil


malah semakin emosi.


Tapi, wajar jika keduanya melampiaskan amarah mereka saat ini kepada pihak kampus. Karena mau


bagaimanapun, Abil adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di sana.


Bahkan KKN sendiri adalah program kampus yang wajib dilaksanakan. Jadi


setelah mendengar ucapan pihak kampus tadi yang seakan lalai dalam


mengurusi KKN mahasiswa, rasanya amarah kedua orangtua Abil menjadi


wajar karenanya.


Dan sebenarnya, bukan hanya orangtua Abil yang datang ke kampus untuk memprotes perihal ini. Di


hari-hari sebelumnya, orangtua Hagia dan Dian pun pernah melakukan hal


yang serupa. Tapi sama, pada akhirnya, pihak kampus hanya menjawab


dengan cara yang sama seperti apa yang mereka lakukan saat ini. Hanya


berkata, sabar, sabar dan sabar.


Merasa tak puas dengan tindakan pihak kampus yang dirasa lambat, orangtua Abil yang

__ADS_1


baru saja keluar dari gedung langsung menelepon beberapa rekanannya yang


bekerja di kepolisian. Ayah Abil dengan tegas meminta relasinya untuk


mencarikan putranya yang kini hilang tanpa kabar.


Lalu beberapa saat kemudian, orang tua Abil pun diminta untuk datang ke kantor polisi dimana rekannya bekerja.


Saat sampai di kantor polisi, ayah Abil langsung bertatap muka dengan ketua


polsek yang juga rekanannya. Setelah pembicaraan panjang lebar terjadi,


sang kapolsek pun mulai meminta beberapa polisi di sana untuk bersiap.


Di hari ini juga, mereka akan mulai melakukan pencarian lokasi dimana


Abil dan yang lain kini berada.


Satu mobil polisi yang disertai 4 aparat siap mengawal. Dengan dipandu oleh supir


pribadi keluarga Abil yang pernah mengantarkan Abil KKN dulu, mereka


mulai berangkat menuju Desa Abimantrana.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah melakukan perjalanan


sejauh 5 jam, akhirnya orang tua Abil beserta para polisi telah sampai


di depan hutan Abimantrana.


Masih di dalam mobil, supir pribadi keluarga Abil yang bernama Pak Ahmad pun berkata


kepada kedua orang tua Abil, “Pak, bu, dulu saya saat mengantar mas Abil


KKN, kita semua lewat sini. Kita harus masuk ke dalam hutannya dulu.”


Ayah abil pun langsung menyahut, “Masuk ke dalam hutan? Serius kamu?”


Sang supir pun langsung menjawab, “Iya pak. Kita memang sempet nyasar waktu


itu. Tapi pas mas Abil minta istirahat di warung yang kita lewatin tadi,


ada 3 orang yang nyamperin mas Abil di sana. Katanya dia warga desa


Abimantrana. Momennya kebetulan banget, jadi kita ikutin apa yang orang


itu bilang. Dan kita semua dibawa masuk ke dalam hutan. Saya masih inget


banget kok pak.” Ucap sang supir menjelaskan.


Sempat melipir sebentar untuk saling berkomunikasi satu sama lain, orang tua


abil dan para polisi akhirnya memutuskan untuk memasuki hutan.


Sekitar 10 menit menyusuri hutan, akhirnya mereka semua sampai di titik dimana


dulu Abil dan yang lain diturunkan. Ya. Di dalam hutan Abimantrana yang


Dan terlihat jelas bahwa di sekitar mereka saat ini adalah pilar-pilar pohon tinggi, yang sudah tak mungkin


lagi bagi kendaraan roda 4 untuk memasukinya.


Setelah memberhentikan laju mobil, lalu mereka semua turun dari mobil masing-masing.


Sesaat setelah turun, mereka semua melihat ke sekeliling, menyapu pandangan ke


seluruh sisi hutan. Tak lama kemudian, salah seorang anggota polisi


berkata, "Pak, Mas Abil sama teman-temannya benar KKN di sini? Kayaknya


gak mungkin ada desa di dalam hutan ini. Apalagi masih harus masuk ke


dalamnya lagi." Ucap heran polisi tersebut.


Lalu Pak Ahmad sang supir pun mencoba menjelaskan dengan menjawab, "Pas


pertama kali ke sini dulu juga saya udah bilang ke mas Abil buat batalin


KKN-nya. Karena saya juga ngerasa gak mungkin ada desa di dalam hutan


kayak begini. Tapi bener kok pak, dulu saya nganter sampai sini. Mas


Abil sama yang lain jalan kaki masuk ke hutan."


Pak polisi pun kembali bertanya, "Mereka gak dijemput sama motor? Benar-benar jalan kaki?"


Sekali lagi, Pak Ahmad pun menjawab, "Iya. Gak ada kendaraan yang jemput


mereka. Mereka semua jalan kaki masuk ke dalam hutan." Ucap sang supir


mengakhiri.


Melihat kondisi hutan serta


penjelasan Pak Ahmad barusan, para polisi meminta waktu sesaat kepada


orang tua Abil untuk berdiskusi, mencari langkah terbaik untuk mengambil


tindakan. Lalu tak lama berselang, para polisi itu memutuskan untuk


mulai menyusuri hutan secara menyeluruh. Dari satu titik, lalu ke titik


lain.


Hingga tak terasa, akhirnya malam pun tiba.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Penelusuran para polisi itu


di sana tidak membuahkan hasil sama sekali. Alih-alih mendapat berita


baik, para polisi itu justru mengalami peristiwa aneh saat menyusuri


hutan tadi.


Mereka semua sempat melihat gapura

__ADS_1


kuno yang rapuh dan rusak di beberapa sisi. Ya. Itu adalah gapura


selamat datang yang akan ditemui saat ingin memasuki desa Abimantrana.


Para polisi itu berhasil menemukan gerbang desanya.


Tapi saat mereka mencoba melangkah lebih jauh, para polisi itu dibuat


kebingungan karena mereka justru kembali menuju gapura itu lagi.


Beberapa kali mencoba, hasilnya pun tetaplah sama, mereka akan kembali


menuju gapura itu lagi. Seakan mereka hanya berjalan memutar saja.


Lantas, mengapa para polisi itu tidak bisa menemukan pemukiman desa? Ya. Karena


para polisi itu tidak melakukan Getih Mawar. Karena itulah, mereka akan


kembali lagi ke titik awal. Jadi jika ingin menemui desa itu, mereka


harus melakukan Getih Mawar terlebih dahulu. Meski itu juga berarti,


mereka tidak akan pernah bisa lagi keluar dari desa Abimantrana, sama


seperti saat Hagia ingin kabur dulu.


Dan andai saja jika ada keajaiban datang kepada para polisi itu saat ini, andai


mereka bisa memasuki desa Abimantrana malam ini, mereka hanya akan


melihat sebuah kejadian mengerikan di sana. Yaitu, melihat Abil yang


baru saja mati dieksekusi.


Ya. Baru saja Abil mati dibunuh oleh sang sepuh. Tubuhnya di sayat-sayat dengan keji. Darah


yang keluar dari tubuhnya ditampung di sebuah wadah, benar-benar


perilaku yang tak manusiawi.


Sebelum kematiannya, Abil seperti melihat kilasan mimpinya beberapa bulan lalu,


lebih tepatnya, satu hari sebelum ia pergi KKN dulu. Ya. Mimpi buruk


Abil dulu akhirnya menjadi kenyataan. Sebuah mimpi buruk dimana dirinya


diseret ke dalam ruangan gelap lalu dieksekusi mati... akhirnya telah


menjadi kenyataan kini.


Selesai mengesekusi Abil, menaburkan darahnya ke penjuru desa, lalu menguburkan mayatnya,


sang sepuh pun berkata kepada Pak Bimo anaknya dengan bertutur,


"Gara-gara perempuan bernama Hagia itu memilih mati bunuh diri, akhirnya


kita jadi kehilangan satu tumbal. Kematian perempuan itu ndak lagi jadi


sakral, mayatnya ndak bisa kita pakai untuk ritual 'Nandur Manungsa'.


Kita jadi terpaksa menumbalkan Abil lebih cepat karena ulahnya. Dan


sekarang, kita hanya punya satu tumbal tersisa, yaitu Estu. Jadi Bimo,


saya ingin besok kamu mulai merencanakan mencari tumbal lain secepatnya.


3 bulan bukanlah waktu yang lama. Jadi saya mau, sebelum Estu nanti


ditumbalkan, kamu sudah dapat tumbal lain untuk berjaga-jaga. Dan sama


satu hal lagi, bagaimana keadaan si wanita sialan itu? Apa dia sudah


hamil?"


Mendengar pertanyaan barusan, Pak Bimo


pun langsung menyahutinya dengan berkata, "Soal calon tumbal baru, saya


akan berusaha menemukannya sebelum Estu ditumbalkan. Tapi kalau soal


Mutih... maaf kanjeng, wanita itu belum juga hamil." Ucap pak Bimo agak


sedikit kelu. Ia takut ayahnya marah jika tahu bahwa Mutih sampai saat


ini belum juga hamil.


Lalu dengan wajah dingin, sang sepuh kembali berkata, "Jika wanita sialan itu belum juga bisa


memberikan penerus, maka kita akan selalu dibayang-bayangi kelaparan dan


kematian. Ndak ada tumbal terbaik selain menumbalkan darah terkutuk


mereka. Satu nyawa mereka setara 2 tahun kesejahteraan desa ini. Darah


dan daging mahasiswa yang kita punya sebenarnya ndak sebanding dengan


darah dan daging wanita sialan itu. Jadi buat wanita itu hamil


secepatnya. Kita butuh keturunannya untuk ditumbalkan." Tutup sang sepuh


mengakhiri percakapan. Ia pun mulai berjalan meninggalkan Pak Bimo di


sana.


Ya. Setelah tewasnya Abil barusan, dengan begini, hanya tersisa satu mahasiswa lagi yang bisa ditumbalkan. Yaitu, Estu.


Seorang mahasiswa... dan juga seorang pengabdi setan.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2