
Sudah 1 bulan berlalu semenjak Hagia tewas bunuh
diri. Dan secara total, sudah 4 bulan lebih para mahasiswa KKN itu
tinggal di desa Abimantrana, yang tak pernah sekalipun mengabari
keluarga di rumah.
Bahkan, seharusnya 2 bulan
lalu mereka sudah kembali pulang karena tugas KKN yang sudah selesai.
Tapi kini mereka tak kunjung kembali. Yang pada akhirnya, membuat
masing-masing dari keluarga mereka mulai khawatir. Tak terkecuali,
keluarga dari pihak Abil.
Baru saja, orangtua
Abil sampai di kampus dimana Abil kuliah. Dengan perasaan penuh khawatir
dan bertanya-tanya, ayah serta ibu Abil mulai berjalan masuk ke dalam
gedung kampus dengan tergesa-gesa.
Lalu, untuk apa mereka datang ke sana? Jelas, orangtua Abil ingin mencecar pihak
kampus karena anak mereka yang tidak kunjung pulang.
Sesampainya orangtua Abil di ruang sekretariat, dengan langkah tergesa disertai
wajah gelisah, keduanya mulai berhadapan dengan beberapa aparatur
kampus. Sedikit terjadi kekacauan sesaat di sana karena ayah Abil yang
sedang emosi. Lalu pada akhirnya, seorang pria bernama Setyo, yang juga
termasuk salah satu petinggi kampus yang kebetulan berada di sana
bersedia berdiskusi dengan kedua orangtua Abil.
Setelah masing-masing dari mereka duduk, ayah Abil pun langsung memprotes
dengan berkata, “Program KKN-nya kan cuma 2 3 bulan, tapi ini sudah 4
bulan loh Pak. Anak saya gak ada kabar sama sekali. Tanggung jawab
kampus kemana?” ucap ayah abil barusan dengan emosi.
Lalu pihak kampus yang diwakili oleh Pak Setyo pun menjawab, “Ya, saya paham
kalau bapak marah. Saya memaklumi itu. Tapi kami pun dari pihak kampus
sedang terus mencoba menelusuri dimana anak bapak serta 3 mahasiswa lain
saat ini berada. Sudah seminggu terakhir kami mengutus beberapa orang
mencari letak desa dimana mereka KKN.”
Bukannya merasa tenang mendengar jawaban dari Pak Setyo tadi, Ayah Abil justru
malah semakin mengheran dengan jawaban itu. Lalu beliau pun menimpal,
“Bahkan kampus aja sampai gak tau letak desanya? Jadi pas anak saya
kemarin pergi KKN, pihak kampus gak ada yang dampingin? Lepas tangan aja
kalian?” ucap ayah Abil semakin emosi.
Lalu Pak Setyo mencoba menenangkan dengan bertutur, “Iya… kami meminta maaf
sebesar-besarnya soal itu. Tapi kami pasti akan berusaha semaksimal
mungkin mencari anak bapak dan ibu.” Tuturnya dengan intonasi dan gestur
yang tenang.
Tapi sudah pasti, apapun yang dikatakan oleh Pak Setyo selaku perwakilan kampus, tidak akan membuat
orangtua Abil menjadi tenang. Mereka memang terus berbicara panjang
lebar setelahnya. Tapi pada akhirnya, pertemuan kedua pihak tidak
menghasilkan apapun. Pak Setyo selaku perwakilan kampus hanya berkata
kepada orang tua Abil untuk sabar, sabar dan sabar. Sementara, ayah Abil
menginkan kejelasan dimana dan bagaimana kondisi anak mereka saat ini.
Pertemuan ini hanya sia-sia, tidak lebih dari membuat orang tua Abil
malah semakin emosi.
Tapi, wajar jika keduanya melampiaskan amarah mereka saat ini kepada pihak kampus. Karena mau
bagaimanapun, Abil adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di sana.
Bahkan KKN sendiri adalah program kampus yang wajib dilaksanakan. Jadi
setelah mendengar ucapan pihak kampus tadi yang seakan lalai dalam
mengurusi KKN mahasiswa, rasanya amarah kedua orangtua Abil menjadi
wajar karenanya.
Dan sebenarnya, bukan hanya orangtua Abil yang datang ke kampus untuk memprotes perihal ini. Di
hari-hari sebelumnya, orangtua Hagia dan Dian pun pernah melakukan hal
yang serupa. Tapi sama, pada akhirnya, pihak kampus hanya menjawab
dengan cara yang sama seperti apa yang mereka lakukan saat ini. Hanya
berkata, sabar, sabar dan sabar.
Merasa tak puas dengan tindakan pihak kampus yang dirasa lambat, orangtua Abil yang
__ADS_1
baru saja keluar dari gedung langsung menelepon beberapa rekanannya yang
bekerja di kepolisian. Ayah Abil dengan tegas meminta relasinya untuk
mencarikan putranya yang kini hilang tanpa kabar.
Lalu beberapa saat kemudian, orang tua Abil pun diminta untuk datang ke kantor polisi dimana rekannya bekerja.
Saat sampai di kantor polisi, ayah Abil langsung bertatap muka dengan ketua
polsek yang juga rekanannya. Setelah pembicaraan panjang lebar terjadi,
sang kapolsek pun mulai meminta beberapa polisi di sana untuk bersiap.
Di hari ini juga, mereka akan mulai melakukan pencarian lokasi dimana
Abil dan yang lain kini berada.
Satu mobil polisi yang disertai 4 aparat siap mengawal. Dengan dipandu oleh supir
pribadi keluarga Abil yang pernah mengantarkan Abil KKN dulu, mereka
mulai berangkat menuju Desa Abimantrana.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah melakukan perjalanan
sejauh 5 jam, akhirnya orang tua Abil beserta para polisi telah sampai
di depan hutan Abimantrana.
Masih di dalam mobil, supir pribadi keluarga Abil yang bernama Pak Ahmad pun berkata
kepada kedua orang tua Abil, “Pak, bu, dulu saya saat mengantar mas Abil
KKN, kita semua lewat sini. Kita harus masuk ke dalam hutannya dulu.”
Ayah abil pun langsung menyahut, “Masuk ke dalam hutan? Serius kamu?”
Sang supir pun langsung menjawab, “Iya pak. Kita memang sempet nyasar waktu
itu. Tapi pas mas Abil minta istirahat di warung yang kita lewatin tadi,
ada 3 orang yang nyamperin mas Abil di sana. Katanya dia warga desa
Abimantrana. Momennya kebetulan banget, jadi kita ikutin apa yang orang
itu bilang. Dan kita semua dibawa masuk ke dalam hutan. Saya masih inget
banget kok pak.” Ucap sang supir menjelaskan.
Sempat melipir sebentar untuk saling berkomunikasi satu sama lain, orang tua
abil dan para polisi akhirnya memutuskan untuk memasuki hutan.
Sekitar 10 menit menyusuri hutan, akhirnya mereka semua sampai di titik dimana
dulu Abil dan yang lain diturunkan. Ya. Di dalam hutan Abimantrana yang
Dan terlihat jelas bahwa di sekitar mereka saat ini adalah pilar-pilar pohon tinggi, yang sudah tak mungkin
lagi bagi kendaraan roda 4 untuk memasukinya.
Setelah memberhentikan laju mobil, lalu mereka semua turun dari mobil masing-masing.
Sesaat setelah turun, mereka semua melihat ke sekeliling, menyapu pandangan ke
seluruh sisi hutan. Tak lama kemudian, salah seorang anggota polisi
berkata, "Pak, Mas Abil sama teman-temannya benar KKN di sini? Kayaknya
gak mungkin ada desa di dalam hutan ini. Apalagi masih harus masuk ke
dalamnya lagi." Ucap heran polisi tersebut.
Lalu Pak Ahmad sang supir pun mencoba menjelaskan dengan menjawab, "Pas
pertama kali ke sini dulu juga saya udah bilang ke mas Abil buat batalin
KKN-nya. Karena saya juga ngerasa gak mungkin ada desa di dalam hutan
kayak begini. Tapi bener kok pak, dulu saya nganter sampai sini. Mas
Abil sama yang lain jalan kaki masuk ke hutan."
Pak polisi pun kembali bertanya, "Mereka gak dijemput sama motor? Benar-benar jalan kaki?"
Sekali lagi, Pak Ahmad pun menjawab, "Iya. Gak ada kendaraan yang jemput
mereka. Mereka semua jalan kaki masuk ke dalam hutan." Ucap sang supir
mengakhiri.
Melihat kondisi hutan serta
penjelasan Pak Ahmad barusan, para polisi meminta waktu sesaat kepada
orang tua Abil untuk berdiskusi, mencari langkah terbaik untuk mengambil
tindakan. Lalu tak lama berselang, para polisi itu memutuskan untuk
mulai menyusuri hutan secara menyeluruh. Dari satu titik, lalu ke titik
lain.
Hingga tak terasa, akhirnya malam pun tiba.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Penelusuran para polisi itu
di sana tidak membuahkan hasil sama sekali. Alih-alih mendapat berita
baik, para polisi itu justru mengalami peristiwa aneh saat menyusuri
hutan tadi.
Mereka semua sempat melihat gapura
__ADS_1
kuno yang rapuh dan rusak di beberapa sisi. Ya. Itu adalah gapura
selamat datang yang akan ditemui saat ingin memasuki desa Abimantrana.
Para polisi itu berhasil menemukan gerbang desanya.
Tapi saat mereka mencoba melangkah lebih jauh, para polisi itu dibuat
kebingungan karena mereka justru kembali menuju gapura itu lagi.
Beberapa kali mencoba, hasilnya pun tetaplah sama, mereka akan kembali
menuju gapura itu lagi. Seakan mereka hanya berjalan memutar saja.
Lantas, mengapa para polisi itu tidak bisa menemukan pemukiman desa? Ya. Karena
para polisi itu tidak melakukan Getih Mawar. Karena itulah, mereka akan
kembali lagi ke titik awal. Jadi jika ingin menemui desa itu, mereka
harus melakukan Getih Mawar terlebih dahulu. Meski itu juga berarti,
mereka tidak akan pernah bisa lagi keluar dari desa Abimantrana, sama
seperti saat Hagia ingin kabur dulu.
Dan andai saja jika ada keajaiban datang kepada para polisi itu saat ini, andai
mereka bisa memasuki desa Abimantrana malam ini, mereka hanya akan
melihat sebuah kejadian mengerikan di sana. Yaitu, melihat Abil yang
baru saja mati dieksekusi.
Ya. Baru saja Abil mati dibunuh oleh sang sepuh. Tubuhnya di sayat-sayat dengan keji. Darah
yang keluar dari tubuhnya ditampung di sebuah wadah, benar-benar
perilaku yang tak manusiawi.
Sebelum kematiannya, Abil seperti melihat kilasan mimpinya beberapa bulan lalu,
lebih tepatnya, satu hari sebelum ia pergi KKN dulu. Ya. Mimpi buruk
Abil dulu akhirnya menjadi kenyataan. Sebuah mimpi buruk dimana dirinya
diseret ke dalam ruangan gelap lalu dieksekusi mati... akhirnya telah
menjadi kenyataan kini.
Selesai mengesekusi Abil, menaburkan darahnya ke penjuru desa, lalu menguburkan mayatnya,
sang sepuh pun berkata kepada Pak Bimo anaknya dengan bertutur,
"Gara-gara perempuan bernama Hagia itu memilih mati bunuh diri, akhirnya
kita jadi kehilangan satu tumbal. Kematian perempuan itu ndak lagi jadi
sakral, mayatnya ndak bisa kita pakai untuk ritual 'Nandur Manungsa'.
Kita jadi terpaksa menumbalkan Abil lebih cepat karena ulahnya. Dan
sekarang, kita hanya punya satu tumbal tersisa, yaitu Estu. Jadi Bimo,
saya ingin besok kamu mulai merencanakan mencari tumbal lain secepatnya.
3 bulan bukanlah waktu yang lama. Jadi saya mau, sebelum Estu nanti
ditumbalkan, kamu sudah dapat tumbal lain untuk berjaga-jaga. Dan sama
satu hal lagi, bagaimana keadaan si wanita sialan itu? Apa dia sudah
hamil?"
Mendengar pertanyaan barusan, Pak Bimo
pun langsung menyahutinya dengan berkata, "Soal calon tumbal baru, saya
akan berusaha menemukannya sebelum Estu ditumbalkan. Tapi kalau soal
Mutih... maaf kanjeng, wanita itu belum juga hamil." Ucap pak Bimo agak
sedikit kelu. Ia takut ayahnya marah jika tahu bahwa Mutih sampai saat
ini belum juga hamil.
Lalu dengan wajah dingin, sang sepuh kembali berkata, "Jika wanita sialan itu belum juga bisa
memberikan penerus, maka kita akan selalu dibayang-bayangi kelaparan dan
kematian. Ndak ada tumbal terbaik selain menumbalkan darah terkutuk
mereka. Satu nyawa mereka setara 2 tahun kesejahteraan desa ini. Darah
dan daging mahasiswa yang kita punya sebenarnya ndak sebanding dengan
darah dan daging wanita sialan itu. Jadi buat wanita itu hamil
secepatnya. Kita butuh keturunannya untuk ditumbalkan." Tutup sang sepuh
mengakhiri percakapan. Ia pun mulai berjalan meninggalkan Pak Bimo di
sana.
Ya. Setelah tewasnya Abil barusan, dengan begini, hanya tersisa satu mahasiswa lagi yang bisa ditumbalkan. Yaitu, Estu.
Seorang mahasiswa... dan juga seorang pengabdi setan.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1