
Malam telah tiba. Hujan pun masih merintik kecil di
luar. Tapi sang sepuh bertuah untuk menguburkan delapan belas mayat
para warga dengan segera. Tidak peduli kondisi yang sedang gerimis, atau
pun dengan langit yang sudah gelap sekalipun.
Lalu, ke 18 mayat itu mulai dibawa satu persatu menuju pemakaman.
Abil dan Estu diminta sang sepuh untuk membantu mengangkat para mayat. Yang
secara bergiliran, diminta pula untuk menggali kubur bersama para warga.
Sedangkan Hagia dan Dian, saat ini keduanya diminta oleh Pak Tomo untuk
menjaga beberapa bayi, kala keluarga sang bayi ikut mengantar jasad
orang terkasih mereka menuju pemakaman.
Menuju tempat dimana Dian dan Hagia saat ini berada.
Baik Dian dan Hagia saat ini, keduanya berada di rumah warga yang berbeda.
Masing-masing dari mereka menjaga seorang bayi dari keluarga yang
berbeda. Meski berbeda rumah, tapi Hagia dan Dian terkejut akan hal yang
sama, yaitu melihat bayi-bayi di sana, yang ditemani burung hantu di
sampingnya. Seakan burung hantu itu sedang mengawasi para bayi di dalam
rumah. Meski aneh dan janggal, tapi Hagia dan Dian diminta untuk tidak
mengusir burung hantu tersebut. Pertanyaan keduanya mengenai kejanggalan
ini pun tak digubris, jadi Hagia dan Dian mulai menjaga para bayi
dengan perasaan bertanya-tanya.
Menuju dimana saat ini Hagia berada.
Posisi Hagia sekarang berada di dalam sebuah kamar. Bayi yang sedang Hagia
jaga kurang lebih berusia 7 bulan, seorang bayi yang mungil dan kurus.
Bayi itupun saat ini dalam kondisi tertidur pulas.
Saat menjaga sang bayi, Hagia ikut merebahkan tubuhnya persis di samping
sang bayi, mencoba mengabaikan burung hantu yang berada di sebrangnya.
Lalu tatkala Hagia sedang menatap sang bayi, tetiba saja obor di dalam
kamar itu mati. Yang membuat Hagia langsung menggerutu dengan berkata,
"Dih, kok mati sih? Perasaan gak ada angin deh. Obornya juga kan baru
dinyalain barusan." Lalu mulai melangkah pelan sembari meraba sekitar
untuk mencari obor pengganti.
Di dalam kegelapan rumah, dengan hati-hati Hagia melangkahkan kaki. Dan mulai berjalan keluar kamar menuju ruang depan.
Kini Hagia sedang memegang obor yang baru diambilnya dari ruang tamu. Lalu
berderap kembali menuju kamar dimana sang bayi berada. Sesampainya ia di
kamar, Hagia melangkah pelan ke arah sebuah ambalan dinding, dengan
maksud ingin menancapkan obor itu di sana. Namun tatkala ketika Hagia
ingin menancapkan obor itu, tetiba saja sang bayi terbangun dan mulai
merengek. Sontak Hagia menoleh cepat ke arah sang bayi, dan di saat yang
sama, obor yang sedang dipegang Hagia mati, kala ia menengok barusan.
Obor yang mati membuat Hagia kembali menggerutu, dan mulai menyalahkan
angin, meski Hagia sendiri tahu bahwa tidak ada angin yang sedang
berhembus di sana. Dan benar, prasangka Hagia mengenai obor yang mati
karena angin adalah salah. Karena saat Hagia menoleh tadi, obor itu
mati… karena ditiup oleh pocong.
Di tempat lain. Dimana saat ini Dian berada.
Kini Dian sedang menjaga bayi di sebuah rumah sembari duduk meringkuk. Dian
pun sedang menahan tangisnya demi membuat sang bayi tidak terbangun di
sana. Meski mencoba sekuat hati untuk tidak menangis, tapi tetes air
mata Dian mulai membasahi pipi. Tetes air mata, yang keluar dari
tangisnya yang tanpa bersuara.
Sembari duduk meringkuk, Dian mulai membatin. Dari lubuk hatinya yang terdalam, jujur
Dian merasa lelah tinggal di desa ini dengan segala kejanggalan yang
membuatnya menjadi paranoid dan gelisah. Membuat Dian merasa ingin
pulang ke rumah orangtuanya di Bandung saat ini juga. Selama KKN,
__ADS_1
hidupnya kini seperti terancam dimana pun ia berada. Ketakutan serta
lelah batin itulah yang pada akhirnya membuat Dian menjadi berurai air
mata saat ini.
Terlalu banyak air mata yang
tumpah, Dian pun membuka kacamatanya untuk menyeka air mata. Ia
memejamkan matanya beberapa kali lalu membukanya lagi. Hingga kemudian,
Dian mengambil nafas panjang, dan memejamkan matanya lebih lama. Lalu
saat ia membuka mata, dengan sangat samar, Dian melihat, seperti ada
seseorang di ujung sana yang berdiri sembari bersedekap. Kacamatanya
yang sedang ia lepas, membuat penglihatannya kini menjadi kurang. Lalu
dengan menyipitkan mata, ia melihat sosok itu seperti sedang melompat
dengan sangat samar. Tidak jelas apa yang sedang di lihatnya, lalu Dian
pun memakai kacamatanya lagi. Dan saat kacamatanya kembali dipakai, ia
tidak melihat ada apa-apa di ujung sana.
Tapi, untung saja Dian tidak melepas kacamatanya lagi barusan. Karena jika
demikian, maka ia akan melihat… wajah sesosok pocong… yang sedang
bertatapan dengannya kini.
Ditempat lain. Menuju lokasi dimana Abil dan Estu berada saat ini.
Kini waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Akhirnya semua mayat telah
berhasil dikuburkan dengan sempurna. Dengan bantuan seluruh laki-laki
yang ada di desa, termasuk Abil dan Estu, akhirnya ke delapan belas
jenazah itu dapat dimakamkan dengan segera.
Setelah selesai dengan prosesi pemakaman, semua laki-laki desa, kembali menuju
rumah mereka masing-masing. Tak terkecuali Abil dan Estu, yang menuju
rumah singgah mereka.
Tapi saat di perjalanan pulang, Abil sempat mengatakan isi hatinya kepada Estu dengan bertutur,
“Lu ngerasa gak? Kalo warga desa… kayak ngeliatin kita sinis?”
Estu yang sedang ditanyai pun menjawab, “Iya. Tatapan mereka semua sinis.”
Apa yang dirasakan Abil dan Estu memanglah benar. Asumsi mereka mengenai
berlangsung adalah benar. Bahkan Abil sempat melihat sang sepuh, Pak
Tomo dan Pak Bimo, sering berbisik sembari melihat ke arahnya tadi. Abil
sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka bertiga bicarakan, tapi Abil
merasa, kalau mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.
Setelah jauh berjalan, akhirnya Abil dan Estu sampai juga di rumah singgah,
dengan baju dan celana yang begitu kotor oleh tanah. Tanpa mengucap
permisi, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah singgah, yang dimana
Dian dan Hagia, sedang tertidur di kamar mereka.
Setelah bersih-bersih badan sekaligus berganti pakaian, Abil dan Estu mulai
mengambil posisi untuk merebahkan tubuh. Dengan rasa lelah hari ini yang
teramat sangat, tak membutuhkan waktu lama, mereka berdua pun tertidur
pulas. Dan mulai terlarut di dalam mimpi.
“Bangunlah. Datanglah. Abdikanlah. Bersekutulah denganku. Niscaya, aku akan
memberikan keselamatan untukmu, dan juga semua yang engkau inginkan,
wahai anak manusia.” Seketika, Estu langsung terbangun dari tidurnya.
Petuah yang datang dari dalam mimpi barusan, bukan hanya sekedar membangunkan
Estu dari tidur lelapnya, tapi juga membuat seluruh tubuhnya menjadi
kaku dalam waktu sesaat. Mimpi barusan seperti terasa nyata. Bisikannya
terasa nyata. Bahkan sosok yang berbisik itu terasa nyata pula
keberadaannya. Tanpa berlama-lama, Estu pun bergegas. Bergegas menuju
sebuah lokasi yang muncul dalam mimpinya barusan.
Ya, menuju sebuah bangunan kuno yang pernah Hagia temui kemarin. Sebuah
tempat keramat, yang tersembunyi sebuah rahasia besar di baliknya.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Langit pun masih
menurunkan gerimisnya di luar. Seakan ada yang terus berbisik kepadanya,
__ADS_1
Estu terus melaju, menuju lokasi dimana bangunan kuno tersebut berada.
Menyusuri hutan di dalam kegelapan, yang hanya bertemankan sebuah obor
di tangannya. Dan pada akhirnya, Estu berhasil menemukan lokasi bangunan
kuno itu berada. Ya, berkat suara bisikan yang terus menuntunnya, Estu
telah berdiri di hadapan bangunan kuno yang disebut ‘Punden’ itu.
Ditengah malam buta nan gerimis, Estu mulai memasuki punden dengan langkah berhati-hati.
Bangunan kuno yang bernama ‘Punden’ itu memiliki ukuran yang cukup luas. Dan
saat Estu berjalan memasuki punden lebih dalam, kala obornya mulai
menyinari seisi ruang dengan cahayanya yang berwarna oranye, dengan
samar Estu melihat sesosok perempuan di ujung sana. Seorang perempuan
dewasa berambut panjang dengan tubuh yang terikat, mata yang tertutup
serta mulut yang tersumpal.
Estu yang melihat jelas perempuan itu sedang dipasung, berniat untuk membuka penutup
matanya serta mulutnya yang tersumpal. Tapi tatkala ia ingin melakukan
itu, bisikan suara muncul kembali di telinganya dengan berseraya,
“Galilah tanah. Ambilah tulang belulang yang engkau lihat. Lalu bacalah
ayat dengan menyempurnakannya di atas namaku.”
Meski dapat mendengar bisikan itu dengan jelas, tapi Estu belum mengerti
benar apa maksud dari perkataannya. Tapi satu hal yang Estu tahu, bahwa
sosok yang berbisik kepadanya barusan, meminta agar ia menggali tanah
saat ini juga. Tanpa pikir panjang, Estu mencari apapun yang ada di sana
dan mulai menggali tanah. Menggali lebih dalam. Dan lebih dalam lagi.
Hingga akhirnya, Estu menemukan tulang belulang, dan sebuah manuskrip
kuno yang tertulis ‘Naraka Paksa’. Atau yang bermakna ‘Sayap Neraka’.
Setelah menemukan tulang belulang serta membaca manuskrip itu, kini Estu baru
memahami maksud dari suara bisikan tadi. Dan seperti apa yang sebelumnya
diminta kepadanya, Estu menyatukan tulang belulang untuk memulai sebuah
ritual terlarang. Dengan mengitari obornya di atas tulang belulang,
Estu mulai melafalkan kalimat dengan berseraya, “Di atas tanah ini, ku
janjikan darah jiwa kepadamu. Mata ini menjadi milikmu. Mulut ini
menjadi milikmu. Telinga ini menjadi milikmu. Kaki tangan ini menjadi
milikmu. Ku janjikan mencelakai anak manusia untukmu. Ku ikrarkan engkau
sebagai raja di atas segala nama. Tiada lagi penangguhan untukku di
hari kemudian. Dengan seluruh nafas yang berhembus, ku abdikan darah ini
kepadamu.” Sayat jari telunjuk Estu untuk menyempurnakan ritual
terlarang itu.
Kini, darahnya mulai menetes di
atas tulang belulang. Sesaat kemudian, suara petir menghujam keras,
membersamainya dengan suara meronta-ronta dari perempuan yang sedang
dipasung di sana. Lalu, hujan pun kembali turun mengguyur deras.
Setelah melakukan semua ritual yang dibisikan kepadanya, kini bisikan gaib itu
benar-benar telah berhenti. Lalu Estu bersegera ke rumah singgah kembali
dengan membawa seluruh tulang belulang dan juga manuskrip itu.
Ya. Estu adalah seorang pangabdi iblis. Dengan ditambah ritual terlarang
barusan yang dilakukannya, niscaya, Estu telah semakin dekat dengan
tujuan besarnya. Meski di dalam manuskrip tadi mengatakan, bahwa ritual
yang sesungguhnya akan benar-benar terjadi, apabila semua tulang
belulang sudah lengkap. Karena itu, misi Estu kini hanyalah satu, yaitu
menemukan dimana letak tengkorak kepala tulang itu berada. Tengkorak
kepala, dari sang ketua sekte terdahulu yang dihabisi oleh warga desa
dengan keji.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw