Thread Horror

Thread Horror
Bab 8 : Teman Ronda


__ADS_3

Tinggalah seorang laki-laki berusia paruh baya di suatu kampung pedalaman. Namanya adalah Parjo.


Hari ini kebetulan jadwal Parjo meronda. Parjo akan bertugas meronda bersama


3 orang lainnya. Karena kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam,


Parjo pun sudah bersiap untuk pergi meronda.


Jarak antara rumahnya


dengan pos ronda sedikit lumayan. Untuk sampai di pos ronda, Parjo


harus melewati banyak pepohonan yang menjulang tinggi. Salah satunya


adalah pohon beringin yang dekat dengan kali, dan juga pohon bambu yang


dekat dengan sebuah lapangan kecil. Dari sana, Parjo masih harus


berjalan lurus sekitar 200 meter lagi, barulah ia akan sampai di pos


ronda.


Saat berjalan menuju pos, Parjo melihat ke sekeliling.


Rasanya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Terasa sepi. Sangat


sepi. Tapi bagi Parjo ini hal yang wajar. Memangnya mau mengharapkan hal


apa? Ini sudah jam 11 malam lebih. Ini juga di sebuah kampung


pedalaman. Hal inilah yang akan didapatinya ketika saat keluar tengah


malam. Apalagi, hujan mengguyur deras tadi. Dan rintik kecil hujannya


masih mengguyur saat ini. Menambah suasana malam menjadi terasa lebih


hening. Tapi Parjo bersikap cuek dan terus melanjutkan perjalanannya.


Parjo yang meneruskan perjalanannya kini akan melewati pohon beringin dekat


kali. Sembari memasukan kedua tangannya ke saku celana, Parjo pun


melihat ke sekeliling. Ia tak menemukan apa-apa. Rumah-rumah warga


disekitar sudah terkunci rapat. Tak ada satupun warga yang bisa ia temui


di sana. Hanya ada sebuah pohon beringin besar, dimana daun rimbunnya


seperti menari diterpa angin malam. Juga sebuah kali di bawah jembatan


yang airnya mengalir deras karena sehabis hujan.


Lalu Parjo meneruskan langkahnya. Kini ia akan melewati pohon-pohon bambu dekat


lapangan kecil. Sembari merogoh pemantik disaku celananya, Parjo pun


menyalakan rokok. Dengan santai ia melewati pepohonan bambu di sana


sambil melepus rokoknya. Parjo juga tak menemukan apa-apa di sini. Hanya


ada dirinya sendiri yang meninggalkan jejak kaki di jalan setapak.


Kalaupun ada hal lain, itu adalah suara jangkrik yang berasal dari


sela-sela pohon bambu. Juga suara kodok yang saling bersahut dari arah


lapangan rumput di seberangnya.


Kurang lebih hanya itulah yang bisa Parjo temukan di sepanjang jalan. Sampai akhirnya, Parjo pun sampai di pos ronda.


Parjo yang sudah sampai di pos ronda pun menggelengkan kepala. Ia melihat pos


ronda masih dalam keadaan sepi, semua rekan Rondanya belum ada yang


datang. Dibilang kecewa, Parjo memang agak kecewa. Tapi, mau bagaimana


lagi? Parjo hanya perlu menunggu di pos hingga rekan rondanya yang lain


datang nanti.


Karena merasa sepi, Parjo berinistif untuk

__ADS_1


menyalakan radio yang ada di pos ronda. Radionya sendiri di simpan di


dalam ruangan kecil. Dimana kunci ruangannya diselipkan di salah satu


bagian pos ronda. Parjo sendiri tahu dimana letak kuncinya berada, ia


lekas mengambilnya. Lalu membuka ruangan kecil di sana dan mengambil


radio. Kemudian, Parjo pun menyalakan radio tersebut.


Suasana di sekitar Parjo kini tidak terlalu hening, ada suara radio yang menyala di


dekatnya. Parjo terus mencoba memutar penala radio dan berhenti ketika


mendapat siaran tembang Jawa. Kini radio itu melantunkan tembang Jawa.


Parjo masih duduk sendirian di pos ronda. Ia pun ikut bernyanyi bersama


dengan suara radio yang menemaninya. Membuat suara rintik kecil hujan di


sana menjadi terdengar samar. Dan hal itu terus berlanjut sampai


beberapa saat. Hingga akhirnya, salah seorang teman rondanya pun datang.


Parjo tahu kalau rekannya yang datang adalah Darmo, meski temannya itu masih


berada di ujung jalan sana, yang muncul dari kegelapan malam. Postur


tubuhnya agak gempal, punya rambut cepak dan cara jalan yang khas.


Itulah yang membuat Parjo mengenali Darmo meski dari kejauhan. Dan Darmo


pun lambat laun berjalan semakin mendekat.


"Ketiduran mas?" Tanya Parjo sambil bercanda ketika Darmo akhirnya sampai di pos.


Sejauh ini, Parjo cukup mengenali sosok Darmo dengan baik. Jadi kalau ada satu


hal yang mengganjal yang dirasakan Parjo, itu adalah sosok Darmo yang


hari ini rasanya terlihat agak pucat. Entahlah, Parjo tahu kalau Darmo


adalah pekerja keras, mungkin Darmo hanya kelelahan dan kurang tidur.


jadwal ronda, masih ada 2 orang lagi yang belum datang. Karena itu,


Parjo memilih untuk tetap di pos ronda sampai dua yang lainnya datang


nanti. Apalagi kini suasana bisa lebih mencair karena ada Darmo yang


menemaninya. Parjo pun mulai mengajak Darmo mengobrol. Dan masih


ditemani suara radio yang menembangkan lagu Jawa.


Di sela-sela obrolan, Parjo pun berceletuk, "Mas, kamu takut setan nggak?" Tanya


Parjo bercanda. Pertanyaan barusan juga tetiba saja muncul di kepala


Parjo, saat ia merasa Darmo terlihat seperti setan karena wajahnya yang


pucat dan tanpa ekspresi.


Darmo yang duduk berhadapan dengan Parjo pun tidak menanggapinya dengan berlebihan. Darmo hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Sebenarnya Parjo merasa aneh sedari tadi. Darmo yang ia kenal rasanya jauh lebih


atraktif. Tapi malam ini, rasanya Darmo terlalu kalem. Bahkan temannya


itu selama ini hanya mengangguk atau menggeleng saat ditanya. Karena


itu, Parjo pun penasaran dan bertanya lagi, "Kamu lagi sakit mas?" Tanya


Parjo pada Darmo.


Sekali lagi, Darmo hanya menggelengkan


kepalanya. Parjo pun merasa aneh dengan tingkahnya itu. Parjo mulai


merasa ada yang janggal dengan gelagat Darmo, apalagi ditambah wajahnya


yang pucat dan tanpa ekspresi. Tapi untuk mengakali suasana, Parjo

__ADS_1


merogoh bungkus rokok dan mengambil pemantik dari sakunya. Lalu Parjo


mulai melepus rokoknya beberapa kali.


Suasana menjadi hening


sesaat. Tak ada obrolan yang keluar dari keduanya. Baik Parjo atau Darmo


masing-masing terdiam. Hingga akhirnya, Darmo memecah keheningan dengan


bertanya, "Parjo, kamu takut nggak sama pocong?" tanya Darmo dengan


wajah pucatnya.


Parjo yang sedang duduk bersila terdiam sesaat. Ia


mencoba memikirkan sesuatu. Lalu Parjo pun menjawab, "Kalau misal saya


bilang nggak takut gimana?"


Mendengar jawaban itu, Darmo hanya menggeleng tanpa ekspresi.


Lalu Parjo pun meneruskan, "Terus, kalau saya bilang takut gimana?" Tanya Parjo kepada Darmo yang sedang menatapnya dingin.


Mendengar ucapan Parjo barusan, Darmo kini tersenyum menyeringai dengan wajah pucatnya.


Parjo sepertinya sudah mulai menyadari sesuatu. Ia mulai memahami hal janggal


yang terjadi pada sosok Darmo. Untuk memastikan kebenarannya, Parjo


bertanya kembali, "Mas, besok aku mau pinjami kamu pancingan. Mau


nggak?" Tanya Parjo kepada Darmo yang sedari tadi menatapnya tanpa


berkedip.


Ada alasan dasar kenapa Parjo menanyakan hal barusan.


Parjo tahu kalau Darmo itu suka sekali memancing. Bahkan kala Darmo


hendak memancing, ia akan menemui Parjo, lalu meminjam pancingan Parjo


dengan paksa. Tapi Parjo selalu menolak karena pancingan miliknya bagus


dan mahal. Jadi seharusnya, tawarannya barusan akan membuat Darmo


menjadi sumringah.


Parjo yang menunggu jawaban Darmo mulai agak


sedikit merinding, kala hujan mulai turun lebih deras, ditambah dengan


tembang Jawa dari radio yang telah berganti lagu. Dan Parjo pun dibuat


lebih bergidik lagi, kala Darmo... menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Parjo tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Darmo yang sedang ia hadapi


kini bukanlah sosok Darmo yang asli. Pantas saja sedari tadi tingkahnya


janggal. Merasa cukup, Parjo pun langsung berdiri dan pamit pulang.


Saat Parjo sudah beranjak berjalan membelakangi pos, Darmo yang ia


tinggalkan di pos ronda pun, memanggilnya dengan intonasi pelan, "Parjo,


korek api mu ketinggalan."


Parjo yang sadar namanya dipanggil,


mencoba menoleh perlahan ke arah belakang. Saat wajahnya menoleh, Parjo


pun langsung lari terbirit-birit ketakutan. Karena, sosok Darmo yang


sedari tadi menemaninya, kini berubah menjadi pocong.


END.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2