
Tinggalah seorang laki-laki berusia paruh baya di suatu kampung pedalaman. Namanya adalah Parjo.
Hari ini kebetulan jadwal Parjo meronda. Parjo akan bertugas meronda bersama
3 orang lainnya. Karena kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam,
Parjo pun sudah bersiap untuk pergi meronda.
Jarak antara rumahnya
dengan pos ronda sedikit lumayan. Untuk sampai di pos ronda, Parjo
harus melewati banyak pepohonan yang menjulang tinggi. Salah satunya
adalah pohon beringin yang dekat dengan kali, dan juga pohon bambu yang
dekat dengan sebuah lapangan kecil. Dari sana, Parjo masih harus
berjalan lurus sekitar 200 meter lagi, barulah ia akan sampai di pos
ronda.
Saat berjalan menuju pos, Parjo melihat ke sekeliling.
Rasanya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Terasa sepi. Sangat
sepi. Tapi bagi Parjo ini hal yang wajar. Memangnya mau mengharapkan hal
apa? Ini sudah jam 11 malam lebih. Ini juga di sebuah kampung
pedalaman. Hal inilah yang akan didapatinya ketika saat keluar tengah
malam. Apalagi, hujan mengguyur deras tadi. Dan rintik kecil hujannya
masih mengguyur saat ini. Menambah suasana malam menjadi terasa lebih
hening. Tapi Parjo bersikap cuek dan terus melanjutkan perjalanannya.
Parjo yang meneruskan perjalanannya kini akan melewati pohon beringin dekat
kali. Sembari memasukan kedua tangannya ke saku celana, Parjo pun
melihat ke sekeliling. Ia tak menemukan apa-apa. Rumah-rumah warga
disekitar sudah terkunci rapat. Tak ada satupun warga yang bisa ia temui
di sana. Hanya ada sebuah pohon beringin besar, dimana daun rimbunnya
seperti menari diterpa angin malam. Juga sebuah kali di bawah jembatan
yang airnya mengalir deras karena sehabis hujan.
Lalu Parjo meneruskan langkahnya. Kini ia akan melewati pohon-pohon bambu dekat
lapangan kecil. Sembari merogoh pemantik disaku celananya, Parjo pun
menyalakan rokok. Dengan santai ia melewati pepohonan bambu di sana
sambil melepus rokoknya. Parjo juga tak menemukan apa-apa di sini. Hanya
ada dirinya sendiri yang meninggalkan jejak kaki di jalan setapak.
Kalaupun ada hal lain, itu adalah suara jangkrik yang berasal dari
sela-sela pohon bambu. Juga suara kodok yang saling bersahut dari arah
lapangan rumput di seberangnya.
Kurang lebih hanya itulah yang bisa Parjo temukan di sepanjang jalan. Sampai akhirnya, Parjo pun sampai di pos ronda.
Parjo yang sudah sampai di pos ronda pun menggelengkan kepala. Ia melihat pos
ronda masih dalam keadaan sepi, semua rekan Rondanya belum ada yang
datang. Dibilang kecewa, Parjo memang agak kecewa. Tapi, mau bagaimana
lagi? Parjo hanya perlu menunggu di pos hingga rekan rondanya yang lain
datang nanti.
Karena merasa sepi, Parjo berinistif untuk
__ADS_1
menyalakan radio yang ada di pos ronda. Radionya sendiri di simpan di
dalam ruangan kecil. Dimana kunci ruangannya diselipkan di salah satu
bagian pos ronda. Parjo sendiri tahu dimana letak kuncinya berada, ia
lekas mengambilnya. Lalu membuka ruangan kecil di sana dan mengambil
radio. Kemudian, Parjo pun menyalakan radio tersebut.
Suasana di sekitar Parjo kini tidak terlalu hening, ada suara radio yang menyala di
dekatnya. Parjo terus mencoba memutar penala radio dan berhenti ketika
mendapat siaran tembang Jawa. Kini radio itu melantunkan tembang Jawa.
Parjo masih duduk sendirian di pos ronda. Ia pun ikut bernyanyi bersama
dengan suara radio yang menemaninya. Membuat suara rintik kecil hujan di
sana menjadi terdengar samar. Dan hal itu terus berlanjut sampai
beberapa saat. Hingga akhirnya, salah seorang teman rondanya pun datang.
Parjo tahu kalau rekannya yang datang adalah Darmo, meski temannya itu masih
berada di ujung jalan sana, yang muncul dari kegelapan malam. Postur
tubuhnya agak gempal, punya rambut cepak dan cara jalan yang khas.
Itulah yang membuat Parjo mengenali Darmo meski dari kejauhan. Dan Darmo
pun lambat laun berjalan semakin mendekat.
"Ketiduran mas?" Tanya Parjo sambil bercanda ketika Darmo akhirnya sampai di pos.
Sejauh ini, Parjo cukup mengenali sosok Darmo dengan baik. Jadi kalau ada satu
hal yang mengganjal yang dirasakan Parjo, itu adalah sosok Darmo yang
hari ini rasanya terlihat agak pucat. Entahlah, Parjo tahu kalau Darmo
adalah pekerja keras, mungkin Darmo hanya kelelahan dan kurang tidur.
jadwal ronda, masih ada 2 orang lagi yang belum datang. Karena itu,
Parjo memilih untuk tetap di pos ronda sampai dua yang lainnya datang
nanti. Apalagi kini suasana bisa lebih mencair karena ada Darmo yang
menemaninya. Parjo pun mulai mengajak Darmo mengobrol. Dan masih
ditemani suara radio yang menembangkan lagu Jawa.
Di sela-sela obrolan, Parjo pun berceletuk, "Mas, kamu takut setan nggak?" Tanya
Parjo bercanda. Pertanyaan barusan juga tetiba saja muncul di kepala
Parjo, saat ia merasa Darmo terlihat seperti setan karena wajahnya yang
pucat dan tanpa ekspresi.
Darmo yang duduk berhadapan dengan Parjo pun tidak menanggapinya dengan berlebihan. Darmo hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Sebenarnya Parjo merasa aneh sedari tadi. Darmo yang ia kenal rasanya jauh lebih
atraktif. Tapi malam ini, rasanya Darmo terlalu kalem. Bahkan temannya
itu selama ini hanya mengangguk atau menggeleng saat ditanya. Karena
itu, Parjo pun penasaran dan bertanya lagi, "Kamu lagi sakit mas?" Tanya
Parjo pada Darmo.
Sekali lagi, Darmo hanya menggelengkan
kepalanya. Parjo pun merasa aneh dengan tingkahnya itu. Parjo mulai
merasa ada yang janggal dengan gelagat Darmo, apalagi ditambah wajahnya
yang pucat dan tanpa ekspresi. Tapi untuk mengakali suasana, Parjo
__ADS_1
merogoh bungkus rokok dan mengambil pemantik dari sakunya. Lalu Parjo
mulai melepus rokoknya beberapa kali.
Suasana menjadi hening
sesaat. Tak ada obrolan yang keluar dari keduanya. Baik Parjo atau Darmo
masing-masing terdiam. Hingga akhirnya, Darmo memecah keheningan dengan
bertanya, "Parjo, kamu takut nggak sama pocong?" tanya Darmo dengan
wajah pucatnya.
Parjo yang sedang duduk bersila terdiam sesaat. Ia
mencoba memikirkan sesuatu. Lalu Parjo pun menjawab, "Kalau misal saya
bilang nggak takut gimana?"
Mendengar jawaban itu, Darmo hanya menggeleng tanpa ekspresi.
Lalu Parjo pun meneruskan, "Terus, kalau saya bilang takut gimana?" Tanya Parjo kepada Darmo yang sedang menatapnya dingin.
Mendengar ucapan Parjo barusan, Darmo kini tersenyum menyeringai dengan wajah pucatnya.
Parjo sepertinya sudah mulai menyadari sesuatu. Ia mulai memahami hal janggal
yang terjadi pada sosok Darmo. Untuk memastikan kebenarannya, Parjo
bertanya kembali, "Mas, besok aku mau pinjami kamu pancingan. Mau
nggak?" Tanya Parjo kepada Darmo yang sedari tadi menatapnya tanpa
berkedip.
Ada alasan dasar kenapa Parjo menanyakan hal barusan.
Parjo tahu kalau Darmo itu suka sekali memancing. Bahkan kala Darmo
hendak memancing, ia akan menemui Parjo, lalu meminjam pancingan Parjo
dengan paksa. Tapi Parjo selalu menolak karena pancingan miliknya bagus
dan mahal. Jadi seharusnya, tawarannya barusan akan membuat Darmo
menjadi sumringah.
Parjo yang menunggu jawaban Darmo mulai agak
sedikit merinding, kala hujan mulai turun lebih deras, ditambah dengan
tembang Jawa dari radio yang telah berganti lagu. Dan Parjo pun dibuat
lebih bergidik lagi, kala Darmo... menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Parjo tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Darmo yang sedang ia hadapi
kini bukanlah sosok Darmo yang asli. Pantas saja sedari tadi tingkahnya
janggal. Merasa cukup, Parjo pun langsung berdiri dan pamit pulang.
Saat Parjo sudah beranjak berjalan membelakangi pos, Darmo yang ia
tinggalkan di pos ronda pun, memanggilnya dengan intonasi pelan, "Parjo,
korek api mu ketinggalan."
Parjo yang sadar namanya dipanggil,
mencoba menoleh perlahan ke arah belakang. Saat wajahnya menoleh, Parjo
pun langsung lari terbirit-birit ketakutan. Karena, sosok Darmo yang
sedari tadi menemaninya, kini berubah menjadi pocong.
END.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw