
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Awan
gelap yang membentang di langit luas pun seakan sudah siap menjatuhkan
air hujan tanpa ampun. Tapi untung saja agenda proker para mahasiswa
hari ini telah selesai, selesai tepat waktu sebelum hujan mengguyur
deras sebentar lagi.
Abil, Estu dan Hagia masih
berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk beres-beres. Sedangkan
Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk menyelamatkan berkas-berkas
dan beberapa perangkat penting sebelum hujan turun mengguyur. Ya,
dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan lebih banyak, Dian yang
bertubuh mungil diberikan keringanan dengan hanya membawa berkas-berkas
dan beberapa perangkat kecil saja.
Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras. Tapi untung
saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa meneduh di
salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu, bahwa rumah yang
saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik seorang kakek tua
dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya berharap dalam hati,
semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan menemuinya.
Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan, tetiba saja pintu rumah
tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit pintu yang berbunyi
membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan perasaan yang was-was. Tak
lama berselang, Dian melihat seseeorang keluar dari rumah itu dengan
jalan yang tertatih. Dan benar, sosok tersebut adalah sang kakek tua
yang Dian harap tidak bertemu dengannya.
Melihat Dian yang sedang meneduh di teras rumahnya, sang kakek itupun menyapa
Dian dengan berkata, "Bisa tolong mbah sebentar ndak?" Ucap sang kakek
meminta tolong.
Dian yang sebelumnya takut
dengan kakek itupun, kini mau tidak mau harus menggubris permintaannya.
Dian akan merasa bersalah jika menolak permintaan warga desa. Lalu
dengan perasaan agak takut, Dian pun menjawab, "Mi-minta tolong... a-apa
Mbah?"
Dengan intonasi mengayun, sang kakek kembali berkata, "Tolong Mbah buatin bubur. Boleh ndak?"
Merasa mampu membantunya, Dian pun menerima permintaan kakek tua itu. Lalu masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dapur rumah, sang kakek meminta Dian untuk menumbuk nasi hingga
membuatnya menjadi halus seperti bubur. Tentu itu bukanlah permintaan
yang sulit. Tapi yang membuat Dian bingung adalah, bahwa langseng nasi
yang ditunjukkan oleh si kakek ternyata sudah kosong. Tidak ada nasi di
dalam sana, bahkan langsengnya saja sudah dipenuhi belatung dan juga
berbau busuk karena tidak pernah di cuci. Dian pun langsung bertanya
kepada si kakek dengan berkata, "Maaf Mbah, nasinya habis. Apa mau saya
buatin dulu?" ucap Dian dengan perasaan yang masih was-was.
Mendengar saran dari Dian, lalu sang kakek meneruskan, "Kalau gitu ambil dulu
berasnya di pendaringan itu." Tunjuknya ke arah sebuah wadah yang
terbuat dari anyaman bambu yang berukuran sedang.
Dian pun menuruti apa yang dikatakan oleh sang kakek, Dian mulai berderap
menuju pendaringan. Tapi saat Dian membuka tutup pendaringan di sana
untuk mengambil beras, ia melihat isi di dalam pendaringan ternyata
sudah kosong pula, lalu Dian pun berkata, "Maaf Mbah, berasnya juga
habis."
Mendengar sanggahan dari Dian, tanpa
rasa jijik, sang kakek mulai mengambil belatung dari dalam langseng lalu
memindahkannya ke sebuah piring yang terbuat dari kayu. Dian hanya
mampu memasang wajah meringis ketika melihat kelakuan lansia tersebut.
Kemudian sang kakek pun menyuruh Dian untuk menumbuknya dengan bertutur,
"Tolong tumbukin sampai halus. Biar jadi bubur." Ucapnya dengan maksud
agar Dian mau menumbuk belatung-belatung itu hingga hancur.
Seketika Dian pun langsung terkejut. Ia juga langsung menyanggah permintaan sang
kakek dengan berucap, "Maaf Mbah, saya gak mampu. Saya gak kuat
ngelakuinnya. Lagian Mbah, itu kan belatung. Jangan dimakan Mbah, nanti
sakit." Ujar Dian dengan memasang wajah meringis.
Sang kakek pun menyanggah ucapan Dian tadi dengan bercerita, "Ini desa
miskin, ndak ada makanan di desa ini. Tanahnya tandus. Ndak bisa buat
bertani. Ndak ada yang bisa dimakan. Jadi ndak apa-apa. Makan belatung
saja, daripada kelaparan." Tuturnya sembari menumbuk belatung-belatung
yang berada di atas piring kayu tersebut.
Kalimat yang keluar dari bibir sang kakek barusan, seketika langsung membuat
Dian membatin. Dian mulai merasa heran dan bertanya-tanya. Apanya yang
desa miskin? Apanya pula yang membuat warga kelaparan? Apalagi sampai
__ADS_1
harus memakan belatung dari sisa nasi yang membusuk. Karena selama 6
hari Dian tinggal di sana, ia selalu tercukupi dengan segala kebutuhan
makanan. Tidak pernah Dian merasa kelaparan selama 6 hari tinggal di
desa. Karenanya, Dian berpikir bahwa desa ini terjadi kesenjangan.
Tapi jika demikian, lalu kenapa pula tiap warga desa yang mereka temui
semuanya terlihat begitu kurus? Bahkan Pak Tomo dan Pak Bimo saja yang
selalu ada makanan di rumah mereka pun terlihat kurus? Ditambah semua
warga yang tidak pernah mau keluar desa meski hanya sesekali. Mereka
semua hanya mengandalkan apa yang ada di desa meski sudah kekurangan.
Setelah mencoba menelaah perkataan sang kakek itu dengan baik, Dian mulai
mendapat sebuah asumsi. Jika perkataan kakek tadi itu benar, berarti
selama ini makanan yang Dian dan teman-temannya makan adalah hidangan
yang memang dengan sengaja di persiapkan untuk mereka. Untuk membuat
seolah-olah desa itu kondisinya sedang baik-baik saja. Jika benar
demikian, lantas untuk apa sang sepuh, Pak Tomo dan Pak Bimo melakukan
hal tersebut?
Saat Dian membatin, sang kakek
masih menumbuk belatung-belatung itu dengan merata. Setelah selesai,
sang kakek pun berkata kepada Dian, "Ndak apa-apa walau belatung. Karena
saudara-saudara Mbah pasti sudah lapar." Kemudian membawa hidangan itu
menuju sebuah kamar. Sang kakek pun mengajak Dian dengan berkata, "Ayo
sini, tolong suapin saudara-saudara Mbah."
Hati kecil Dian sejujurnya sudah berteriak meminta pulang. Tapi di saat yang
sama, ia tidak bisa menolak permintaan warga desa, karena takut
dilaporkan lalu berimbas kepada program KKN mereka. Sebab itulah, Dian
pun memilih menurut. Lalu mulai mengekor di belakang sang kakek menuju
sebuah kamar.
Namun saat Dian masuk ke dalam
kamar tersebut, ia terkejut setengah mati kala melihat 3 orang lansia di
sana sedang terbaring dengan mata mendelik, pupil mata yang memutih
serta tubuh yang mengejang di setiap detiknya. Sontak, apa yang Dian
lihat langsung membuatnya terkesiap dahsyat.
Tapi dengan tenang, sang kakek berkata kepada Dian dengan menegaskan,
"Saudara-saudara mbah sedang mengalami 'Sukma Purnama'. Mereka yang
sudah menginjak 40 tahun atau lebih akan mengalami ini. Para penduduk
pasti akan mengalami ini nanti."
Dengan lantang, sang kakek pun berkata, "Kutukan."
Sekali lagi, dengan wajah heran, Dian kembali melempar pertanyaan, "Kutukan? Ku-kutukan apa Mbah?"
Lalu sang kakek menatap Dian dengan sorot mata yang dalam, sembari bertuah,
"Sebentar lagi, awan hitam akan menyelimuti desa ini. Saudara-saudara
mbah dan warga lain, akan menjadi tawanan berikutnya.” Tuturnya dengan
wajah serius. Lalu ia pun kembali melanjutkan kalimatnya kepada Dian
dengan berkata, “Kemari, tolong suapin saudara-saudara mbah untuk yang
terkahir kali." Seringainya mengakhiri kalimat.
Dian pun mulai bergidik di sekujur tubuh saat melihat senyuman sang kakek
yang terlihat mengerikan. Tak sampai di situ, sang kakek pun mulai
menyuapi saudaranya dengan belatung, yang membuat Dian mual
sejadi-jadinya dan langsung berlari keluar. Tanpa pikir panjang lagi,
Dian menerabas hujan untuk kembali ke rumah singgah.
@ @ @ @ @
Waktu saat ini sudah menunujukan pukul 5 sore lebih. Kondisi desa sudah mulai
gelap hingga harus menyalakan obor untuk menerangi rumah. Hujan sendiri
masih mengguyur deras di luar, dengan awan gelap yang terus menyelimuti
langit desa. Tapi Abil, Estu, Hagia dan Dian sudah berkumpul di dalam
rumah singgah sekarang. Hujan yang tak kunjung berhenti, membuat mereka
tak ada pilihan lain selain menerabasnya. Lalu membuat pakaian mereka
basah kuyup saat sampai.
Sesampainya di rumah singgah, secara bergantian, Abil, Estu dan Hagia memakai kamar mandi
yang berada di luar untuk bersih-bersih badan sekaligus berganti
pakaian. Tapi Abil dan Hagia sudah selesai melakukannya beberapa saat
yang lalu. Hanya tinggal Estu saja yang belum, dan ia masih berada di
kamar mandi saat ini.
Saat ini, Abil sedang berada di kamarnya, sedang duduk dan melihat-lihat lemba kerja. Lalu
saat Abil ingin mengambil posisi rebahan, secara tak sengaja kakinya
menyenggol tas milik Estu, hingga membuat tas itu pun jatuh. Kala Abil
hendak membenarkan posisi tas tersebut kembali, ia pun tak sengaja
melihat resleting bagian belakang tas terbuka. Dan dengan samar, Abil
seperti melihat banyak potongan kain putih di dalam sana.
Keingintahuan Abil pun bergelora. Abil kemudian merogoh benda tersebut dari dalam tas
__ADS_1
Estu, lalu melihat potongan kain-kain putih yang sudah kotor oleh
tanah. Tapi belum sempat menerka benda tersebut sepenuhnya, Estu pun
datang. Ia memergoki Abil sedang merogoh isi tasnya.
Abil pun seketika langsung salah tingkah. Tapi dengan wajah penasaran, Abil
mencoba memberanikan diri bertanya kepada Estu, “Coy, itu yang ada… di
dalem tas lu apaan? Kok kayak… kain kafan gitu?” tanya abil dengan
perasaan grogi.
Tapi Estu dengan santai menjawabnya dengan berkata, “Iya. Itu emang kain kafan. Itu tali pocong.”
Melihat Estu yang mengatakan kalimat barusan dengan santai, membuat Abil tak
percaya. Lalu Abil kembali melempar pertanyaan kepada Estu lagi, “Serius
lu? Seriusan ini gw.” Ucap Abil dengan wajah penuh keheranan.
Tapi alih-alih menjawab pertanyaan Abil barusan, Estu malah terlihat
melekukan bibirnya. Estu hanya menyeringai menjawab pertanyaan tersebut.
Yang kemudian membuat Abil pun berceletuk, “Dih, malah nyengir.
Bercanda mulu lu ah.” Tambah abil dengan menggelengkan kepala serta
senyum ketus.
Tak selang beberapa lama, lalu
Hagia datang ke kamar Abil dan Estu dengan tingkah yang tergesa-gesa.
Raut wajahnya juga terlihat cemas saat ini. Kepada Abil dan Estu, Hagia
pun berkata, “Dian… tingkahnya aneh sekarang.” Lapor Hagia dengan ikut
menunjuk posisi kamarnya dimana Dian berada. Kemudian mereka bertiga
langsung menemui Dian segera.
Saat ditemui, Dian belum berganti pakaian. Bahkan baju yang sedang Dian pakai masihlah
agak basah karena menerabas hujan tadi. Raut wajahnya pun pucat seperti
sedang ketakutan sekarang. Dian benar-benar terlihat janggal saat ini.
Karena itulah, Abil dan Hagia mulai bertanya kepada Dian mengenai apa
yang sedang terjadi kepadanya. Dan saat mereka bertanya, Dian pun
berkata, "Kita harus pulang." Ucapnya dengan posisi duduk meringkuk.
Tentu perkataannya barusan langsung memantik pertanyaan dari Abil dan Hagia.
Dicecar banyak pertanyaan, Dian pun mulai menjelaskan, "Kalian sadarkan,
warga desa di sini itu pada keliatan kurus? Kalian juga sadarkan selama
ini kita selalu diusir kalo mau bertamu ke rumah warga? Kalian juga
sadarkan sama adat desa yang selalu janggal? Kalian tau kenapa? Karena
desa ini nyembunyiin sesuatu dari kita. Ada sesuatu yang berbahaya dari
desa ini, yang bisa aja bikin kita celaka. Jadi lebih baik kita pulang.
Kita gak bisa tinggal lebih lama di desa ini. Karena desa ini… adalah
desa terkut--" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tetiba saja petir
menyambar keras dari langit. Di saat yang sama, obor di dalam rumah
singgah mereka pun mati.
Sontak, kejadian itu membuat Abil dan yang lain terkejut. Terutama Dian, yang kini membuatnya
semakin meringkuk dan mulai menangis.
Namun seakan belum cukup sampai di sana, tak berselang lama dari suara petir
yang menyambar, terdengar suara teriakan keras dari seorang perempuan
setelahnya. Suara teriakannya seperti seseorang yang sedang di siksa
dengan begitu pedih. Sumber suaranya sendiri tidak jauh dari rumah
singgah mereka berada. Hanya sekitar 3 rumah dari sana.
Dan seakan masih belum cukup, kemudian suara teriakan keras lainnya ikut
terdengar dari dalam rumah-rumah warga yang lain, seakan teriakan pilu
di sana seperti saling menyahut. Hingga membuat suasana di desa itu kini
berubah drastis menjadi mencekam.
Suara-suara teriakan itu membuat Abil dan yang lain menjadi kebingungan sekaligus
mulai ngeri. Khususnya dengan Dian yang menangis sembari menutup rapat
kedua telinganya. Dan secara sadar, Dian mulai paham dengan perkataan
sang kakek tua tadi yang ia temui, mengenai ‘Awan hitam yang akan
menyelimuti desa’. Pasti inilah yang sedang kakek itu maksud.
Sekiranya sudah 10 menit telah berlalu. Suara jeritan belasan orang di desa itu
masih terus menggema ke seluruh penjuru, seakan ikut menemani suara
deras hujan dan guntur di sana yang sama kuatnya. Hingga kemudian,
dengan perlahan suara jeritan mereka mulai memelan, lalu kemudian
hilang. Menyisakan suara hujan dan guntur sebagai pengiring atas suara
jerit mereka yang memudar.
Tapi setelah suara jeritan mereka berakhir, suara berikutnya pun datang. Yaitu, suara isak
tangis keluarga masing-masing yang pecah ke seluruh penjuru desa.
Sesaatkemudian, berita yang mengejutkan pun sampai kepada Abil dan yang lain.
Mereka dikabari, bahwa 18 warga desa… telah meninggal dunia. Termasuk, 3
lansia yang merupakan saudara sang kakek tua yang tadi Dian temui.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw