Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 8)


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Awan


gelap yang membentang di langit luas pun seakan sudah siap menjatuhkan


air hujan tanpa ampun. Tapi untung saja agenda proker para mahasiswa


hari ini telah selesai, selesai tepat waktu sebelum hujan mengguyur


deras sebentar lagi.


Abil, Estu dan Hagia masih


berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk beres-beres. Sedangkan


Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk menyelamatkan berkas-berkas


dan beberapa perangkat penting sebelum hujan turun mengguyur. Ya,


dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan lebih banyak, Dian yang


bertubuh mungil diberikan keringanan dengan hanya membawa berkas-berkas


dan beberapa perangkat kecil saja.


Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras. Tapi untung


saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa meneduh di


salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu, bahwa rumah yang


saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik seorang kakek tua


dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya berharap dalam hati,


semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan menemuinya.


Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan, tetiba saja pintu rumah


tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit pintu yang berbunyi


membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan perasaan yang was-was. Tak


lama berselang, Dian melihat seseeorang keluar dari rumah itu dengan


jalan yang tertatih. Dan benar, sosok tersebut adalah sang kakek tua


yang Dian harap tidak bertemu dengannya.


Melihat Dian yang sedang meneduh di teras rumahnya, sang kakek itupun menyapa


Dian dengan berkata, "Bisa tolong mbah sebentar ndak?" Ucap sang kakek


meminta tolong.


Dian yang sebelumnya takut


dengan kakek itupun, kini mau tidak mau harus menggubris permintaannya.


Dian akan merasa bersalah jika menolak permintaan warga desa. Lalu


dengan perasaan agak takut, Dian pun menjawab, "Mi-minta tolong... a-apa


Mbah?"


Dengan intonasi mengayun, sang kakek kembali berkata, "Tolong Mbah buatin bubur. Boleh ndak?"


Merasa mampu membantunya, Dian pun menerima permintaan kakek tua itu. Lalu masuk ke dalam rumahnya.


Sesampainya di dapur rumah, sang kakek meminta Dian untuk menumbuk nasi hingga


membuatnya menjadi halus seperti bubur. Tentu itu bukanlah permintaan


yang sulit. Tapi yang membuat Dian bingung adalah, bahwa langseng nasi


yang ditunjukkan oleh si kakek ternyata sudah kosong. Tidak ada nasi di


dalam sana, bahkan langsengnya saja sudah dipenuhi belatung dan juga


berbau busuk karena tidak pernah di cuci. Dian pun langsung bertanya


kepada si kakek dengan berkata, "Maaf Mbah, nasinya habis. Apa mau saya


buatin dulu?" ucap Dian dengan perasaan yang masih was-was.


Mendengar saran dari Dian, lalu sang kakek meneruskan, "Kalau gitu ambil dulu


berasnya di pendaringan itu." Tunjuknya ke arah sebuah wadah yang


terbuat dari anyaman bambu yang berukuran sedang.


Dian pun menuruti apa yang dikatakan oleh sang kakek, Dian mulai berderap


menuju pendaringan. Tapi saat Dian membuka tutup pendaringan di sana


untuk mengambil beras, ia melihat isi di dalam pendaringan ternyata


sudah kosong pula, lalu Dian pun berkata, "Maaf Mbah, berasnya juga


habis."


Mendengar sanggahan dari Dian, tanpa


rasa jijik, sang kakek mulai mengambil belatung dari dalam langseng lalu


memindahkannya ke sebuah piring yang terbuat dari kayu. Dian hanya


mampu memasang wajah meringis ketika melihat kelakuan lansia tersebut.


Kemudian sang kakek pun menyuruh Dian untuk menumbuknya dengan bertutur,


"Tolong tumbukin sampai halus. Biar jadi bubur." Ucapnya dengan maksud


agar Dian mau menumbuk belatung-belatung itu hingga hancur.


Seketika Dian pun langsung terkejut. Ia juga langsung menyanggah permintaan sang


kakek dengan berucap, "Maaf Mbah, saya gak mampu. Saya gak kuat


ngelakuinnya. Lagian Mbah, itu kan belatung. Jangan dimakan Mbah, nanti


sakit." Ujar Dian dengan memasang wajah meringis.


Sang kakek pun menyanggah ucapan Dian tadi dengan bercerita, "Ini desa


miskin, ndak ada makanan di desa ini. Tanahnya tandus. Ndak bisa buat


bertani. Ndak ada yang bisa dimakan. Jadi ndak apa-apa. Makan belatung


saja, daripada kelaparan." Tuturnya sembari menumbuk belatung-belatung


yang berada di atas piring kayu tersebut.


Kalimat yang keluar dari bibir sang kakek barusan, seketika langsung membuat


Dian membatin. Dian mulai merasa heran dan bertanya-tanya. Apanya yang


desa miskin? Apanya pula yang membuat warga kelaparan? Apalagi sampai

__ADS_1


harus memakan belatung dari sisa nasi yang membusuk. Karena selama 6


hari Dian tinggal di sana, ia selalu tercukupi dengan segala kebutuhan


makanan. Tidak pernah Dian merasa kelaparan selama 6 hari tinggal di


desa. Karenanya, Dian berpikir bahwa desa ini terjadi kesenjangan.


Tapi jika demikian, lalu kenapa pula tiap warga desa yang mereka temui


semuanya terlihat begitu kurus? Bahkan Pak Tomo dan Pak Bimo saja yang


selalu ada makanan di rumah mereka pun terlihat kurus? Ditambah semua


warga yang tidak pernah mau keluar desa meski hanya sesekali. Mereka


semua hanya mengandalkan apa yang ada di desa meski sudah kekurangan.


Setelah mencoba menelaah perkataan sang kakek itu dengan baik, Dian mulai


mendapat sebuah asumsi. Jika perkataan kakek tadi itu benar, berarti


selama ini makanan yang Dian dan teman-temannya makan adalah hidangan


yang memang dengan sengaja di persiapkan untuk mereka. Untuk membuat


seolah-olah desa itu kondisinya sedang baik-baik saja. Jika benar


demikian, lantas untuk apa sang sepuh, Pak Tomo dan Pak Bimo melakukan


hal tersebut?


Saat Dian membatin, sang kakek


masih menumbuk belatung-belatung itu dengan merata. Setelah selesai,


sang kakek pun berkata kepada Dian, "Ndak apa-apa walau belatung. Karena


saudara-saudara Mbah pasti sudah lapar." Kemudian membawa hidangan itu


menuju sebuah kamar. Sang kakek pun mengajak Dian dengan berkata, "Ayo


sini, tolong suapin saudara-saudara Mbah."


Hati kecil Dian sejujurnya sudah berteriak meminta pulang. Tapi di saat yang


sama, ia tidak bisa menolak permintaan warga desa, karena takut


dilaporkan lalu berimbas kepada program KKN mereka. Sebab itulah, Dian


pun memilih menurut. Lalu mulai mengekor di belakang sang kakek menuju


sebuah kamar.


Namun saat Dian masuk ke dalam


kamar tersebut, ia terkejut setengah mati kala melihat 3 orang lansia di


sana sedang terbaring dengan mata mendelik, pupil mata yang memutih


serta tubuh yang mengejang di setiap detiknya. Sontak, apa yang Dian


lihat langsung membuatnya terkesiap dahsyat.


Tapi dengan tenang, sang kakek berkata kepada Dian dengan menegaskan,


"Saudara-saudara mbah sedang mengalami 'Sukma Purnama'. Mereka yang


sudah menginjak 40 tahun atau lebih akan mengalami ini. Para penduduk


pasti akan mengalami ini nanti."


Dengan lantang, sang kakek pun berkata, "Kutukan."


Sekali lagi, dengan wajah heran, Dian kembali melempar pertanyaan, "Kutukan? Ku-kutukan apa Mbah?"


Lalu sang kakek menatap Dian dengan sorot mata yang dalam, sembari bertuah,


"Sebentar lagi, awan hitam akan menyelimuti desa ini. Saudara-saudara


mbah dan warga lain, akan menjadi tawanan berikutnya.” Tuturnya dengan


wajah serius. Lalu ia pun kembali melanjutkan kalimatnya kepada Dian


dengan berkata, “Kemari, tolong suapin saudara-saudara mbah untuk yang


terkahir kali." Seringainya mengakhiri kalimat.


Dian pun mulai bergidik di sekujur tubuh saat melihat senyuman sang kakek


yang terlihat mengerikan. Tak sampai di situ, sang kakek pun mulai


menyuapi saudaranya dengan belatung, yang membuat Dian mual


sejadi-jadinya dan langsung berlari keluar. Tanpa pikir panjang lagi,


Dian menerabas hujan untuk kembali ke rumah singgah.


@ @ @ @ @


Waktu saat ini sudah menunujukan pukul 5 sore lebih. Kondisi desa sudah mulai


gelap hingga harus menyalakan obor untuk menerangi rumah. Hujan sendiri


masih mengguyur deras di luar, dengan awan gelap yang terus menyelimuti


langit desa. Tapi Abil, Estu, Hagia dan Dian sudah berkumpul di dalam


rumah singgah sekarang. Hujan yang tak kunjung berhenti, membuat mereka


tak ada pilihan lain selain menerabasnya. Lalu membuat pakaian mereka


basah kuyup saat sampai.


Sesampainya di rumah singgah, secara bergantian, Abil, Estu dan Hagia memakai kamar mandi


yang berada di luar untuk bersih-bersih badan sekaligus berganti


pakaian. Tapi Abil dan Hagia sudah selesai melakukannya beberapa saat


yang lalu. Hanya tinggal Estu saja yang belum, dan ia masih berada di


kamar mandi saat ini.


Saat ini, Abil sedang berada di kamarnya, sedang duduk dan melihat-lihat lemba kerja. Lalu


saat Abil ingin mengambil posisi rebahan, secara tak sengaja kakinya


menyenggol tas milik Estu, hingga membuat tas itu pun jatuh. Kala Abil


hendak membenarkan posisi tas tersebut kembali, ia pun tak sengaja


melihat resleting bagian belakang tas terbuka. Dan dengan samar, Abil


seperti melihat banyak potongan kain putih di dalam sana.


Keingintahuan Abil pun bergelora. Abil kemudian merogoh benda tersebut dari dalam tas

__ADS_1


Estu, lalu melihat potongan kain-kain putih yang sudah kotor oleh


tanah. Tapi belum sempat menerka benda tersebut sepenuhnya, Estu pun


datang. Ia memergoki Abil sedang merogoh isi tasnya.


Abil pun seketika langsung salah tingkah. Tapi dengan wajah penasaran, Abil


mencoba memberanikan diri bertanya kepada Estu, “Coy, itu yang ada… di


dalem tas lu apaan? Kok kayak… kain kafan gitu?” tanya abil dengan


perasaan grogi.


Tapi Estu dengan santai menjawabnya dengan berkata, “Iya. Itu emang kain kafan. Itu tali pocong.”


Melihat Estu yang mengatakan kalimat barusan dengan santai, membuat Abil tak


percaya. Lalu Abil kembali melempar pertanyaan kepada Estu lagi, “Serius


lu? Seriusan ini gw.” Ucap Abil dengan wajah penuh keheranan.


Tapi alih-alih menjawab pertanyaan Abil barusan, Estu malah terlihat


melekukan bibirnya. Estu hanya menyeringai menjawab pertanyaan tersebut.


Yang kemudian membuat Abil pun berceletuk, “Dih, malah nyengir.


Bercanda mulu lu ah.” Tambah abil dengan menggelengkan kepala serta


senyum ketus.


Tak selang beberapa lama, lalu


Hagia datang ke kamar Abil dan Estu dengan tingkah yang tergesa-gesa.


Raut wajahnya juga terlihat cemas saat ini. Kepada Abil dan Estu, Hagia


pun berkata, “Dian… tingkahnya aneh sekarang.” Lapor Hagia dengan ikut


menunjuk posisi kamarnya dimana Dian berada. Kemudian mereka bertiga


langsung menemui Dian segera.


Saat ditemui, Dian belum berganti pakaian. Bahkan baju yang sedang Dian pakai masihlah


agak basah karena menerabas hujan tadi. Raut wajahnya pun pucat seperti


sedang ketakutan sekarang. Dian benar-benar terlihat janggal saat ini.


Karena itulah, Abil dan Hagia mulai bertanya kepada Dian mengenai apa


yang sedang terjadi kepadanya. Dan saat mereka bertanya, Dian pun


berkata, "Kita harus pulang." Ucapnya dengan posisi duduk meringkuk.


Tentu perkataannya barusan langsung memantik pertanyaan dari Abil dan Hagia.


Dicecar banyak pertanyaan, Dian pun mulai menjelaskan, "Kalian sadarkan,


warga desa di sini itu pada keliatan kurus? Kalian juga sadarkan selama


ini kita selalu diusir kalo mau bertamu ke rumah warga? Kalian juga


sadarkan sama adat desa yang selalu janggal? Kalian tau kenapa? Karena


desa ini nyembunyiin sesuatu dari kita. Ada sesuatu yang berbahaya dari


desa ini, yang bisa aja bikin kita celaka. Jadi lebih baik kita pulang.


Kita gak bisa tinggal lebih lama di desa ini. Karena desa ini… adalah


desa terkut--" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tetiba saja petir


menyambar keras dari langit. Di saat yang sama, obor di dalam rumah


singgah mereka pun mati.


Sontak, kejadian itu membuat Abil dan yang lain terkejut. Terutama Dian, yang kini membuatnya


semakin meringkuk dan mulai menangis.


Namun seakan belum cukup sampai di sana, tak berselang lama dari suara petir


yang menyambar, terdengar suara teriakan keras dari seorang perempuan


setelahnya. Suara teriakannya seperti seseorang yang sedang di siksa


dengan begitu pedih. Sumber suaranya sendiri tidak jauh dari rumah


singgah mereka berada. Hanya sekitar 3 rumah dari sana.


Dan seakan masih belum cukup, kemudian suara teriakan keras lainnya ikut


terdengar dari dalam rumah-rumah warga yang lain, seakan teriakan pilu


di sana seperti saling menyahut. Hingga membuat suasana di desa itu kini


berubah drastis menjadi mencekam.


Suara-suara teriakan itu membuat Abil dan yang lain menjadi kebingungan sekaligus


mulai ngeri. Khususnya dengan Dian yang menangis sembari menutup rapat


kedua telinganya. Dan secara sadar, Dian mulai paham dengan perkataan


sang kakek tua tadi yang ia temui, mengenai ‘Awan hitam yang akan


menyelimuti desa’. Pasti inilah yang sedang kakek itu maksud.


Sekiranya sudah 10 menit telah berlalu. Suara jeritan belasan orang di desa itu


masih terus menggema ke seluruh penjuru, seakan ikut menemani suara


deras hujan dan guntur di sana yang sama kuatnya. Hingga kemudian,


dengan perlahan suara jeritan mereka mulai memelan, lalu kemudian


hilang. Menyisakan suara hujan dan guntur sebagai pengiring atas suara


jerit mereka yang memudar.


Tapi setelah suara jeritan mereka berakhir, suara berikutnya pun datang. Yaitu, suara isak


tangis keluarga masing-masing yang pecah ke seluruh penjuru desa.


Sesaatkemudian, berita yang mengejutkan pun sampai kepada Abil dan yang lain.


Mereka dikabari, bahwa 18 warga desa… telah meninggal dunia. Termasuk, 3


lansia yang merupakan saudara sang kakek tua yang tadi Dian temui.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2