
Jawa Timur, 2003.
Pagi ini,
warga desa sekitar telah dikejutkan dengan kejadian yang mengerikan.
Dengan raut wajah heran dibalut perasaan ngeri, para warga mulai
bergidik di sekujur tubuh. Sejauh mata memandang, pamakaman umum yang
berada di desa mereka telah berlubang dimana-mana. Kuburan-kuburan di
sana terlihat dalam kondisi yang berantakan. Dan bukan hanya sampai
disitu, peristiwa kelam itupun menjadi semakin mengerikan, kala warga
melihat jasad para mayat yang telah hilang dari liang kuburnya.
Dalam
sekejap, berita ganjil sekaligus mengerikan itu dengan cepat menyebar
dari mulut ke mulut hingga keluar desa. Warga desa memang tidak tahu
siapa pelakunya. Tapi yang pasti, mereka tahu, jika perbuatan tersebut
dilakukan oleh seseorang yang telah bersekutu dengan iblis.
@ @ @ @ @
Jawa Tengah, 2004.
Kehidupan
kampus berjalan normal seperti biasa. Lalu lalang para mahasiswa serta
celoteh mereka menciptakan suara gema tersendiri di dalam gedung. Suara
yang saling bersahut itu membumbung lantang ke seluruh penjuru lobi
kampus. Membuat seisi ruang menjadi terdengar hingar bingar di sana.
Sama seperti mahasiswa lain, Abil dan Estu mengambil bagian mereka untuk
duduk di salah satu sisi lobi kampus lalu bercakap-cakap.
Tapi apa yang Abil dan Estu bicarakan mengarah ke sesuatu yang lebih serius,
atau malah benar-benar hal yang terlampau darurat. Hingga membuat
ekspresi wajah mereka pun terlihat lebih dingin.
Dengan raut wajah yang serius, Abil berkata, "Gw baru aja dapet tempat buat
KKN. Lu mau ikut gak?" tanya Abil pada Estu yang duduk di hadapannya.
Estu yang sedang ditanyai mencoba menelaah sesaat. Ada beberapa hal yang
tetiba saja terlintas di dalam benaknya. Setelah memilah kata, Estu pun
balik bertanya, "Lu yakin, mau nyari tempat KKN sendiri? Pihak kampus
bakal lepas tangan kalo gitu nanti." Imbuh Estu dengan nada bicara yang
terdengar sedikit ketus.
Abil dan Estu adalah 2
mahasiswa yang seharusnya sudah melakukan KKN dari jauh-jauh hari. Tapi
mereka berdua sampai detik ini belum dapat rekomendasi dari pihak kampus
terkait hal tersebut. Mereka selalu gagal mendapat rekomendasi kampus.
Sebenarnya ada alasan kuat mengapa kampus seakan bersikap acuh kepada keduanya.
Mungkin di mata kampus, baik Abil dan Estu terlihat seperti mahasiswa
yang tidak kompeten, atau bahkan sudah dicap sebagai mahasiswa
ugal-ugalan. Yang sering bolos, jarang mengumpulkan tugas, nilai indeks
yang jeblok dan juga acapkali mengulang mata kuliah. Kalah kompetitif
dibanding mahasiswa yang lain. Jadi alih-alih memberi kesempatan
terlebih dahulu kepada Abil dan Estu, pihak kampus justru lebih memilih
merekomendasikan anak didiknya yang lain untuk KKN terlebih dahulu.
Meski dirasa pilih kasih, tentu pihak kampus telah memikirkan hal itu
secara matang.
Dari sisi Abil sendiri, meski
sadar bahwa dirinya memang mahasiswa yang tidak kompeten, ia merasa
bahwa kampus tetap saja tidak pantas memperlakukannya demikian. Abil
merasa pihak kampus curang karena hanya merekomendasikan mahasiswa yang
memiliki reputasi baik. Karena itu, Abil berinisiatif mencari tempat KKN
sendiri dan tidak mau bergantung pada pihak kampus. Jadi Abil sudah
membulatkan tekad, bahwa dirinya akan mencari tempat KKN secara mandiri.
Dan sepertinya, Abil sudah mendapat tempat KKN-nya sendiri saat ini.
Tentu, Abil nanti harus melaporkan niatnya ini terlebih dahulu ke pihak
terkait. Meski nanti peluangnya besar untuk diberi izin, tapi sebagai
gantinya, Abil tidak akan mendapat bantuan apapun dari pihak kampus,
karena tempat dimana dirinya KKN nanti tidak bekerja sama dan bukan dari
rekomendasi instansi. Jadi untuk biaya operasional atau apapun itu,
Abil harus menanggungnya sendiri.
Tapi, siapa takut? Karena Abil sadar bahwa dirinya adalah anak orang kaya, ia merasa
__ADS_1
tak gentar sama sekali perihal biaya. Kalau cuma soal uang, itu bukan
masalah pelik. Abil hanya perlu meminta kepada orangtuanya yang berada
di Jakarta, lalu masalah pun selesai.
Yang terpenting saat ini bagi Abil adalah membuktikan kepada kampus kalau
dirinya juga bisa unjuk gigi tanpa rekomendasi. Terutama kepada dosen
wali kelasnya yang benar-benar sudah seperti memandang dirinya rendah.
Abil ingin menunjukkan bahwa ia pun bisa KKN tanpa perlu mengemis kepada
mereka. Abil ingin membungkam mulut mereka dengan menunjukan nilai
kompetensi yang ada di dalam diri.
Ya, harga diri Abil memang tinggi. Meski pada kenyataanya, Abil memanglah
mahasiswa koboy yang lebih sering menggunakan kesempatan kuliah hanya
untuk bermain-main.
Tapi untuk kasus KKN kali
ini, Abil benar-benar ingin menjalaninya dengan serius. Karena itu, Abil
berharap Estu mau ikut gabung dengannya dan menyelesaikan KKN ini
bersama-sama.
Abil yang sedari tadi menjelaskan panjang lebar niatannya pun kini terdiam. Ia menunggu jawaban dari Estu dengan penuh harap.
Di sisi Estu, ada sekilas pertanyaan yang tetiba saja muncul dalam benak.
Masih dengan raut wajah serius, Estu kembali bertanya, "Dimana lokasi
KKN-nya?"
Tanpa basa-basi, Abil pun menjawab,
"Masih di satu provinsi. Cuma emang butuh waktu 4 sampai 5 jam dari sini
ke sana. Tapi lu tenang aja, ntar biaya operasional semuanya gw yang
nanggung. Oke?"
Meski beban biaya menjadi
hilang, nyatanya Estu terlihat biasa saja. Alih-alih senang, Estu malah
kembali bertanya, "Lu dapet darimana tempat KKN?"
Sambil merogoh isi dompet, Abil menjawab, "Gw dapet dari ibu kost. Terus ibu
kost dapet info dari tamunya. Nih alamat desanya." Jawab Abil sembari
menyodorkan secarik kertas.
Sempat mengernyitkan dahi, Estu lagi-lagi bertanya, "Cuma alamat? Gak ada nomor kontaknya?"
Mendengar pertanyaan Estu, Abil langsung meyakinkan, "Namanya juga di desa
pedalaman bos. Mana ada teknologi. Udah lu tenang aja, semuanya gw yang
kemarin di kost. Santai, lu tinggal duduk manis aja." Ucap Abil dengan
menepuk pundak Estu beberapa kali.
Melihat upaya, antusias dan kepercayaan diri Abil yang begitu tinggi, akhirnya
Estu pun mulai sedikit luluh. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di
benaknya. Dengan niat memastikan, Estu kembali melempar pertanyaan,
"Tapi aturan kampus, KKN itu minimal 4 orang. Ditambah minimal harus ada
2 fakultas yang kerja sama. Dua orangnya lagi gimana?"
Dengan santai Abil mengatakan bahwa ia akan membujuk temannya di fakultas
sebelah untuk ikut gabung. Meski tak ada jaminan jika nanti rencananya
akan berjalan lancar, tapi Abil menegaskan kepada Estu bahwa kali ini ia
akan berusaha keras menyelesaikan masalah KKN dengan caranya sendiri.
Abil tidak meminta apapun, ia hanya ingin mendapat dukungan dari
orang-orang di sekelilingnya. Termasuk Estu yang sudah Abil anggap
sebagai sohib terbaiknya.
Dengan menaruh rasa hormat kepada Abil atas rencananya, akhirnya Estu setuju untuk ikut
gabung KKN. Dan diminta untuk menunggu kabar baik selanjutnya yang akan
datang nanti.
@ @ @ @ @
Sekiranya dua hari telah berlalu, hari ini Abil menemui Estu dengan membawa kabar
baik. Sembari memasang wajah gembira, Abil pun berkata, “Temen gw mau
ikut gabung. Akhirnya kita jadi KKN.” Ucap Abil yang tidak bisa
membendung rasa senangnya.
Apa yang Abil katakan
barusan adalah benar. Kemarin sore, temannya dari fakultas sebelah
berhasil ia rayu untuk ikut gabung KKN. Namanya adalah Hagia, mahasiswi
pecinta hiking.
Dengan sedikit mengiming-imingi
akan mendanainya pergi hiking, Abil berhasil membujuk Hagia untuk
gabung ke dalam kelompoknya. Tentu, Hagia akan didanai setelah
__ADS_1
menyelesaikan tugas KKN nanti. Dan anggap saja, itu adalah hadiah dari
Abil untuk Hagia yang sudah mau membantu tugas kuliahnya.
Bahkan bukan hanya Hagia, Abil mendapat bonus tambahan anggota lain yang
bernama Dian, mahasiswi berkacamata yang merupakan teman baik Hagia. Dan
dengan begini, maka kelompok KKN Abil pun telah sempurna.
Setelah selesai jam kuliah, Abil, Estu, Hagia dan Dian langsung bertemu di lobi
kampus. Mereka saling berkenalan dan langsung bertukar pikiran untuk
membuat proposal. Proposal yang nantinya akan disodorkan ke pihak kampus
untuk disetujui terlebih dahulu sebelum KKN.
Tentu proposal mereka berpeluang besar untuk disetujui. Tapi tanpa
menganggapnya enteng, mereka berempat ingin membuat proposal yang
benar-benar memuaskan. Setelah 3 hari berdiskusi, akhirnya proposal
mereka pun jadi.
Tanpa menunda-nunda, mereka berempat langsung mengajukan proposal kepada pihak kampus.
Meski ada sedikit adu argumen disertai beberapa catatan, tapi pada akhirnya
proposal mereka telah disetujui pihak kampus. Dan sekali lagi, pihak
kampus menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan uang
operasional sepeserpun kepada kelompok Abil, karena mereka KKN bukan
berdasarkan rekomendasi langsung dari instansi. Pihak kampus hanya akan
memberikan beberapa pengarahan semata.
Abil dan yang lain pun sepakat dengan aturan itu tanpa ada perdebatan sama
sekali. Meski di belakang layar, Abil telah menjanjikan kepada
kelompoknya bahwa ialah yang akan menanggung semua biaya operasional
sampai KKN berakhir nanti.
Setelah melakukan kesepakatan bersama, kini waktu KKN mereka telah ditentukan.
Hari ini adalah hari dimana Abil dan kelompoknya akan melakukan perjalanan
menuju desa Abimantrana, lokasi desa dimana mereka akan melakukan KKN.
Dengan memakai almamater kampus, baik Abil, Estu, Hagia dan Dian, mereka semua
saat ini sudah berkumpul di beranda kost dimana Abil tinggal. Mereka
berempat sudah bersiap untuk berangkat. Hanya tinggal menunggu
transportasi yang akan mengantar mereka datang, yaitu mobil pribadi
milik keluarga Abil. Sebenarnya, mobilnya sendiri sudah datang langsung
dari Jakarta kemarin siang. Namun, saat ini sedang dipakai oleh sang
supir untuk pergi keluar sebentar.
Sembari menunggu mobil yang akan mengantar mereka datang, mereka berempat saling
bercengkrama, bercakap-cakap membicarakan hal yang acak, hingga
menciptakan suara gelak tawa yang menggema di beranda kost beberapa
kali.
Di saat perbincangan hangat itu terjadi,
Abil menyelipkan kisah dengan bercerita tentang mimpinya semalam yang
terasa begitu menyeramkan. Dengan wajah serius, Abil bercerita, "Gw tau
itu cuma mimpi. Tapi asli kerasa nyata banget. Malah pas gw bangun, gw
sampe nangis coy." Tutur Abil tanpa kebohongan.
Memang benar, bahwa tadi malam Abil memimpikan hal menakutkan nan kejam.
Mimpinya seperti ada seseorang yang menyiksanya, menyeretnya ke ruangan
gelap, lalu menghabisinya di sana. Dan benar pula, bahwa Abil menangis
setelah terbangun dari mimpi itu.
Tapi sebagaimana respon umum mengenai mimpi, ketiga temannya tidak terlalu
menanggapinya berlebihan. Mereka mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi,
dimana alur ceritanya memang sering tidak jelas dan kacau balau. Karena
itu, Abil diminta untuk tidak terlalu memikirkannya.
Lalu setelah beberapa waktu, akhirnya mobil yang mereka tunggu pun datang.
Mobilnya sendiri berwarna hitam elegan yang diisi oleh satu orang supir
saja. Dan saat pintu mobil dibuka, sudah ada beberapa perlengkapan untuk
kebutuhan KKN Abil di sana. Jadi meski orangtua Abil tidak ikut
mengantar, mereka tetap mendukung dan menyiapkan segala kebutuhan Abil
dari jauh, dengan menyuruh sang supir membelikan apa yang sedang Abil
butuhkan.
Setelah mengecek barang-barang dan yakin tidak ada yang ketinggalan, akhirnya mereka pun berangkat menuju tempat KKN.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw