Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 1)


__ADS_3

Jawa Timur, 2003.


Pagi ini,


warga desa sekitar telah dikejutkan dengan kejadian yang mengerikan.


Dengan raut wajah heran dibalut perasaan ngeri, para warga mulai


bergidik di sekujur tubuh. Sejauh mata memandang, pamakaman umum yang


berada di desa mereka telah berlubang dimana-mana. Kuburan-kuburan di


sana terlihat dalam kondisi yang berantakan. Dan bukan hanya sampai


disitu, peristiwa kelam itupun menjadi semakin mengerikan, kala warga


melihat jasad para mayat yang telah hilang dari liang kuburnya.


Dalam


sekejap, berita ganjil sekaligus mengerikan itu dengan cepat menyebar


dari mulut ke mulut hingga keluar desa. Warga desa memang tidak tahu


siapa pelakunya. Tapi yang pasti, mereka tahu, jika perbuatan tersebut


dilakukan oleh seseorang yang telah bersekutu dengan iblis.


@ @ @ @ @


Jawa Tengah, 2004.


Kehidupan


kampus berjalan normal seperti biasa. Lalu lalang para mahasiswa serta


celoteh mereka menciptakan suara gema tersendiri di dalam gedung. Suara


yang saling bersahut itu membumbung lantang ke seluruh penjuru lobi


kampus. Membuat seisi ruang menjadi terdengar hingar bingar di sana.


Sama seperti mahasiswa lain, Abil dan Estu mengambil bagian mereka untuk


duduk di salah satu sisi lobi kampus lalu bercakap-cakap.


Tapi apa yang Abil dan Estu bicarakan mengarah ke sesuatu yang lebih serius,


atau malah benar-benar hal yang terlampau darurat. Hingga membuat


ekspresi wajah mereka pun terlihat lebih dingin.


Dengan raut wajah yang serius, Abil berkata, "Gw baru aja dapet tempat buat


KKN. Lu mau ikut gak?" tanya Abil pada Estu yang duduk di hadapannya.


Estu yang sedang ditanyai mencoba menelaah sesaat. Ada beberapa hal yang


tetiba saja terlintas di dalam benaknya. Setelah memilah kata, Estu pun


balik bertanya, "Lu yakin, mau nyari tempat KKN sendiri? Pihak kampus


bakal lepas tangan kalo gitu nanti." Imbuh Estu dengan nada bicara yang


terdengar sedikit ketus.


Abil dan Estu adalah 2


mahasiswa yang seharusnya sudah melakukan KKN dari jauh-jauh hari. Tapi


mereka berdua sampai detik ini belum dapat rekomendasi dari pihak kampus


terkait hal tersebut. Mereka selalu gagal mendapat rekomendasi kampus.


Sebenarnya ada alasan kuat mengapa kampus seakan bersikap acuh kepada keduanya.


Mungkin di mata kampus, baik Abil dan Estu terlihat seperti mahasiswa


yang tidak kompeten, atau bahkan sudah dicap sebagai mahasiswa


ugal-ugalan. Yang sering bolos, jarang mengumpulkan tugas, nilai indeks


yang jeblok dan juga acapkali mengulang mata kuliah. Kalah kompetitif


dibanding mahasiswa yang lain. Jadi alih-alih memberi kesempatan


terlebih dahulu kepada Abil dan Estu, pihak kampus justru lebih memilih


merekomendasikan anak didiknya yang lain untuk KKN terlebih dahulu.


Meski dirasa pilih kasih, tentu pihak kampus telah memikirkan hal itu


secara matang.


Dari sisi Abil sendiri, meski


sadar bahwa dirinya memang mahasiswa yang tidak kompeten, ia merasa


bahwa kampus tetap saja tidak pantas memperlakukannya demikian. Abil


merasa pihak kampus curang karena hanya merekomendasikan mahasiswa yang


memiliki reputasi baik. Karena itu, Abil berinisiatif mencari tempat KKN


sendiri dan tidak mau bergantung pada pihak kampus. Jadi Abil sudah


membulatkan tekad, bahwa dirinya akan mencari tempat KKN secara mandiri.


Dan sepertinya, Abil sudah mendapat tempat KKN-nya sendiri saat ini.


Tentu, Abil nanti harus melaporkan niatnya ini terlebih dahulu ke pihak


terkait. Meski nanti peluangnya besar untuk diberi izin, tapi sebagai


gantinya, Abil tidak akan mendapat bantuan apapun dari pihak kampus,


karena tempat dimana dirinya KKN nanti tidak bekerja sama dan bukan dari


rekomendasi instansi. Jadi untuk biaya operasional atau apapun itu,


Abil harus menanggungnya sendiri.


Tapi, siapa takut? Karena Abil sadar bahwa dirinya adalah anak orang kaya, ia merasa

__ADS_1


tak gentar sama sekali perihal biaya. Kalau cuma soal uang, itu bukan


masalah pelik. Abil hanya perlu meminta kepada orangtuanya yang berada


di Jakarta, lalu masalah pun selesai.


Yang terpenting saat ini bagi Abil adalah membuktikan kepada kampus kalau


dirinya juga bisa unjuk gigi tanpa rekomendasi. Terutama kepada dosen


wali kelasnya yang benar-benar sudah seperti memandang dirinya rendah.


Abil ingin menunjukkan bahwa ia pun bisa KKN tanpa perlu mengemis kepada


mereka. Abil ingin membungkam mulut mereka dengan menunjukan nilai


kompetensi yang ada di dalam diri.


Ya, harga diri Abil memang tinggi. Meski pada kenyataanya, Abil memanglah


mahasiswa koboy yang lebih sering menggunakan kesempatan kuliah hanya


untuk bermain-main.


Tapi untuk kasus KKN kali


ini, Abil benar-benar ingin menjalaninya dengan serius. Karena itu, Abil


berharap Estu mau ikut gabung dengannya dan menyelesaikan KKN ini


bersama-sama.


Abil yang sedari tadi menjelaskan panjang lebar niatannya pun kini terdiam. Ia menunggu jawaban dari Estu dengan penuh harap.


Di sisi Estu, ada sekilas pertanyaan yang tetiba saja muncul dalam benak.


Masih dengan raut wajah serius, Estu kembali bertanya, "Dimana lokasi


KKN-nya?"


Tanpa basa-basi, Abil pun menjawab,


"Masih di satu provinsi. Cuma emang butuh waktu 4 sampai 5 jam dari sini


ke sana. Tapi lu tenang aja, ntar biaya operasional semuanya gw yang


nanggung. Oke?"


Meski beban biaya menjadi


hilang, nyatanya Estu terlihat biasa saja. Alih-alih senang, Estu malah


kembali bertanya, "Lu dapet darimana tempat KKN?"


Sambil merogoh isi dompet, Abil menjawab, "Gw dapet dari ibu kost. Terus ibu


kost dapet info dari tamunya. Nih alamat desanya." Jawab Abil sembari


menyodorkan secarik kertas.


Sempat mengernyitkan dahi, Estu lagi-lagi bertanya, "Cuma alamat? Gak ada nomor kontaknya?"


Mendengar pertanyaan Estu, Abil langsung meyakinkan, "Namanya juga di desa


pedalaman bos. Mana ada teknologi. Udah lu tenang aja, semuanya gw yang


kemarin di kost. Santai, lu tinggal duduk manis aja." Ucap Abil dengan


menepuk pundak Estu beberapa kali.


Melihat upaya, antusias dan kepercayaan diri Abil yang begitu tinggi, akhirnya


Estu pun mulai sedikit luluh. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di


benaknya. Dengan niat memastikan, Estu kembali melempar pertanyaan,


"Tapi aturan kampus, KKN itu minimal 4 orang. Ditambah minimal harus ada


2 fakultas yang kerja sama. Dua orangnya lagi gimana?"


Dengan santai Abil mengatakan bahwa ia akan membujuk temannya di fakultas


sebelah untuk ikut gabung. Meski tak ada jaminan jika nanti rencananya


akan berjalan lancar, tapi Abil menegaskan kepada Estu bahwa kali ini ia


akan berusaha keras menyelesaikan masalah KKN dengan caranya sendiri.


Abil tidak meminta apapun, ia hanya ingin mendapat dukungan dari


orang-orang di sekelilingnya. Termasuk Estu yang sudah Abil anggap


sebagai sohib terbaiknya.


Dengan menaruh rasa hormat kepada Abil atas rencananya, akhirnya Estu setuju untuk ikut


gabung KKN. Dan diminta untuk menunggu kabar baik selanjutnya yang akan


datang nanti.


@ @ @ @ @


Sekiranya dua hari telah berlalu, hari ini Abil menemui Estu dengan membawa kabar


baik. Sembari memasang wajah gembira, Abil pun berkata, “Temen gw mau


ikut gabung. Akhirnya kita jadi KKN.” Ucap Abil yang tidak bisa


membendung rasa senangnya.


Apa yang Abil katakan


barusan adalah benar. Kemarin sore, temannya dari fakultas sebelah


berhasil ia rayu untuk ikut gabung KKN. Namanya adalah Hagia, mahasiswi


pecinta hiking.


Dengan sedikit mengiming-imingi


akan mendanainya pergi hiking, Abil berhasil membujuk Hagia untuk


gabung ke dalam kelompoknya. Tentu, Hagia akan didanai setelah

__ADS_1


menyelesaikan tugas KKN nanti. Dan anggap saja, itu adalah hadiah dari


Abil untuk Hagia yang sudah mau membantu tugas kuliahnya.


Bahkan bukan hanya Hagia, Abil mendapat bonus tambahan anggota lain yang


bernama Dian, mahasiswi berkacamata yang merupakan teman baik Hagia. Dan


dengan begini, maka kelompok KKN Abil pun telah sempurna.


Setelah selesai jam kuliah, Abil, Estu, Hagia dan Dian langsung bertemu di lobi


kampus. Mereka saling berkenalan dan langsung bertukar pikiran untuk


membuat proposal. Proposal yang nantinya akan disodorkan ke pihak kampus


untuk disetujui terlebih dahulu sebelum KKN.


Tentu proposal mereka berpeluang besar untuk disetujui. Tapi tanpa


menganggapnya enteng, mereka berempat ingin membuat proposal yang


benar-benar memuaskan. Setelah 3 hari berdiskusi, akhirnya proposal


mereka pun jadi.


Tanpa menunda-nunda, mereka berempat langsung mengajukan proposal kepada pihak kampus.


Meski ada sedikit adu argumen disertai beberapa catatan, tapi pada akhirnya


proposal mereka telah disetujui pihak kampus. Dan sekali lagi, pihak


kampus menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan uang


operasional sepeserpun kepada kelompok Abil, karena mereka KKN bukan


berdasarkan rekomendasi langsung dari instansi. Pihak kampus hanya akan


memberikan beberapa pengarahan semata.


Abil dan yang lain pun sepakat dengan aturan itu tanpa ada perdebatan sama


sekali. Meski di belakang layar, Abil telah menjanjikan kepada


kelompoknya bahwa ialah yang akan menanggung semua biaya operasional


sampai KKN berakhir nanti.


Setelah melakukan kesepakatan bersama, kini waktu KKN mereka telah ditentukan.


Hari ini adalah hari dimana Abil dan kelompoknya akan melakukan perjalanan


menuju desa Abimantrana, lokasi desa dimana mereka akan melakukan KKN.


Dengan memakai almamater kampus, baik Abil, Estu, Hagia dan Dian, mereka semua


saat ini sudah berkumpul di beranda kost dimana Abil tinggal. Mereka


berempat sudah bersiap untuk berangkat. Hanya tinggal menunggu


transportasi yang akan mengantar mereka datang, yaitu mobil pribadi


milik keluarga Abil. Sebenarnya, mobilnya sendiri sudah datang langsung


dari Jakarta kemarin siang. Namun, saat ini sedang dipakai oleh sang


supir untuk pergi keluar sebentar.


Sembari menunggu mobil yang akan mengantar mereka datang, mereka berempat saling


bercengkrama, bercakap-cakap membicarakan hal yang acak, hingga


menciptakan suara gelak tawa yang menggema di beranda kost beberapa


kali.


Di saat perbincangan hangat itu terjadi,


Abil menyelipkan kisah dengan bercerita tentang mimpinya semalam yang


terasa begitu menyeramkan. Dengan wajah serius, Abil bercerita, "Gw tau


itu cuma mimpi. Tapi asli kerasa nyata banget. Malah pas gw bangun, gw


sampe nangis coy." Tutur Abil tanpa kebohongan.


Memang benar, bahwa tadi malam Abil memimpikan hal menakutkan nan kejam.


Mimpinya seperti ada seseorang yang menyiksanya, menyeretnya ke ruangan


gelap, lalu menghabisinya di sana. Dan benar pula, bahwa Abil menangis


setelah terbangun dari mimpi itu.


Tapi sebagaimana respon umum mengenai mimpi, ketiga temannya tidak terlalu


menanggapinya berlebihan. Mereka mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi,


dimana alur ceritanya memang sering tidak jelas dan kacau balau. Karena


itu, Abil diminta untuk tidak terlalu memikirkannya.


Lalu setelah beberapa waktu, akhirnya mobil yang mereka tunggu pun datang.


Mobilnya sendiri berwarna hitam elegan yang diisi oleh satu orang supir


saja. Dan saat pintu mobil dibuka, sudah ada beberapa perlengkapan untuk


kebutuhan KKN Abil di sana. Jadi meski orangtua Abil tidak ikut


mengantar, mereka tetap mendukung dan menyiapkan segala kebutuhan Abil


dari jauh, dengan menyuruh sang supir membelikan apa yang sedang Abil


butuhkan.


Setelah mengecek barang-barang dan yakin tidak ada yang ketinggalan, akhirnya mereka pun berangkat menuju tempat KKN.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2