Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 4)


__ADS_3

Senja mulai membentang di langit. Penghujung hari


hampir tiba. 7 orang di sana terus menyusuri hutan yang berselimut kabut


dengan hati-hati. Selangkah demi selangkah. Langkah berirama yang


meninggalkan jejak kaki di jalan setapak.


Sembari terus menyusuri hutan, beberapa diantara mereka membuka suara untuk


memecah keheningan. Adalah Abil yang bertanya kepada Pak Tomo dengan


kalimat, “Pak, emangnya buat masuk desa harus lewat jalan ini? Gak ada


jalan lain?” bukan maksud memprotes, pertanyaan Abil barusan hanya


sekedar keingintahuannya semata.


Tanpa berlama-lama, Pak Tomo langsung menjawab, “Iya mas. Cuma ini jalan


satu-satunya. Kalau mau keluar masuk desa ya cuma ini jalannya. Selain


jalan ini, ndak ada jalan lain. Semuanya jurang.”


Mendengar fakta barusan, Abil merespons dengan mengangguk-anggukan kepala.


Dengan maksud ingin membuat suasana mencair, Abil kini lebih sering melempar


pertanyaan kepada Pak Tomo maupun kedua rekan Pak Tomo yang lain selama


di perjalanan. Memang hanya sebatas pertanyaan basa-basi semata. Tapi


dengan percakapan diantara mereka, Abil berharap bisa menjalin ikatan


yang lebih kuat dengan ketiga orang itu. Dan di sepanjang perjalanan


yang tersisa, sepertinya mereka mulai bisa akrab satu sama lain.


Setelah sekian jauh menyusuri hutan, kini di ujung sana sudah terlihat gapura


dengan disain sederhana yang akan menyambut kedatangan mereka. Sesaat


lagi, mereka akan sampai di depan gerbang desa.


Ketika semakin mendekati gapura yang terlihat kusam dan kuno itu, Abil, Estu,


Hagia dan Dian melihat pemakaman yang tidak jauh dari sana. Pemakaman


terbengkalai yang seakan-akan tidak pernah lagi ada orang yang mau


menziarahinya. Pemakaman yang justru terlihat mengerikan dengan


banyaknya tanaman liar yang menyelimuti.


Gapura yang kusam, kuno dan sedikit rusak. Lalu pemakaman terbengkalai yang


membuat bulu kuduk merinding saat melihatnya. Juga hutan lebat yang


berkabut, serta panorama yang sedang terbungkus oleh langit petang yang


cahayanya kian memudar. Tentu suasana saat ini membuat ke-empat


mahasiswa itu merasakan hawa berbeda. Tempat dimana mereka berpijak


kini, seakan membuat mereka merasa berada di alam lain.


Tapi, suasana mencekam ternyata belumlah selesai. Sesaat mereka sampai di


dekat gapura, Pak Tomo menyuruh para mahasiswa itu untuk berhenti.


Dengan menghormati permintaannya, Abil, Estu, Hagia dan Dian pun


menuruti. Kini ke empat mahasiswa itu sedang berdiri di dekat kumpulan


bunga mawar yang tumbuh liar di sana. Dan di kala mereka berempat


berdiri mematung, Pak Tomo mengeluarkan sebilah pisau kecil dari


sakunya, lalu berkata, “Sekarang, lukai jari kalian. Lalu teteskan darah


kalian ke atas bunga mawar ini.” Titah Pak Tomo sembari menyodorkan

__ADS_1


pisau kecil.


Sontak, kalimat Pak Tomo barusan


membuat para mahasiswa ini mengernyitkan dahi. Tanpa mampu berkata-kata,


Abil, Estu, Hagia dan Dian hanya bisa melirik satu sama lain dengan


raut wajah keheranan. Mereka heran dengan permintaan Pak Tomo yang


janggal. Dan jelas, banyak hal yang sedang terlintas di benak mereka


untuk ditanyakan.


Tapi belum sempat ada yang


memprotes atau sekedar mengajukan pertanyaan, Pak Tomo kembali berkata,


“Ayo mas, mbak, ndak apa-apa. Ini cuma adat desa aja. Kalo ada orang


luar mau masuk desa, memang seperti ini adatnya.”


Tak yakin dengan adat yang dianggapnya nyeleneh tersebut, Dian langsung


melempar pertanyaan kepada Pak Tomo dengan berkata, “Kalau boleh tau,


fungsinya buat apa ya pak?” Tanya Dian dengan wajah yang heran.


Pak Tomo pun langsung menjelaskan, “Ini adalah warisan leluhur kami.


Leluhur kami menyebutnya getih mawar. Leluhur kami bilang, adat ini


berguna buat memberikan perlindungan kepada orang luar yang mau masuk ke


desa.”


Jawaban Pak Tomo barusan masih dianggap


kurang logis. Dengan cepat, kini Hagia gantian menimpal dengan bertanya,


“Jadi maksudnya, desa Abimantrana itu berbahaya gitu pak?”


Pertanyaan Hagia barusan membuat Pak Tomo sedikit mengerjap. Tapi dengan tenang,


Maksudnya begini mbak. Getih mawar itu semacam adat supaya energi di


desa kami menyelimuti kalian. Supaya leluhur kami mengenal kalian.


Supaya kalian bisa betah. Maklum mbak, namanya juga desa pelosok. Pasti


banyak adat kami yang aneh bagi orang luar.” Tutur Pak Tomo sembari


tertawa kecil. Lalu Pak Tomo pun melanjutkan seraya berkata, “Getih


mawar ini harus kalian jalani kalau mau masuk desa. Kalau kalian ndak


sanggup, saya persilahkan untuk pulang.” Tegas Pak Tomo mengakhirinya


kalimatnya.


Setelah Pak Tomo menjabarkan dengan


jelas adat yang bernama Getih mawar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian


meminta waktu sebentar kepada Pak Tomo. Mereka meperdebatkan soal ini


secara internal. Hagia dan Dian jelas enggan untuk melakukannya, meski


itu sebuah adat sekalipun. Dan perdebatan ini akhirnya membuat Abil


sendiri merasa bimbang. Abil merasa enggan menjalankan adat, tapi di


sisi lain, mau tidak mau mereka harus melakukannya agar rencana KKN ini


berjalan lancar. Dengan meminta sedikit waktu lebih kepada Pak Tomo,


mereka terus memperdebatkan hal ini.


Tapi saat Abil, Hagia dan Dian berdebat, tetiba saja mereka melihat Estu


melangkahkan kakinya, maju menghampiri Pak Tomo. Lalu Estu meminta pisau

__ADS_1


itu dari Pak Tomo dan mulai melukai ujung jari kelingking kirinya.


Kemudian, bunga mawar di sana mulai basah dengan tetes darah yang jatuh


dari jari kelingking Estu.


Apa yang dilakukan Estu barusan jelas membuat Abil, Hagia dan Dian terkejut. Mereka yang


sebelumnya berdebat, kini tidak bisa berkata-kata. Mereka heran dengan


tingkah Estu yang dengan santai mau melakukan adat janggal itu.


Tapi setelah Estu melakukan adat Getih mawar, pikiran Abil kini tidak lagi


menjadi bimbang. Tidak peduli dengan sanggahan Hagia dan Dian, kini Abil


mulai melangkahkan kakinya menghampiri Estu. Abil meminta pisau kecil


itu darinya, lalu mulai menyayat jari kelingking kirinya dengan cepat.


Kini, darah Abil mulai menetes membasahi bunga-bunga mawar di sana.


Abil yang baru saja melakukan Getih mawar mulai mencoba menasehati Hagia dan


Dian agar mau melakukannya juga. Ada sedikit gesekan yang terjadi. Tapi


dengan terus membujuk mereka berulang-ulang, akhirnya Hagia pun


mengalah. Asumsi logis yang keluar dari mulut Abil membuat Hagia


akhirnya luluh. Kini, Hagia siap melakukan Getih mawar.


Tapi saat hagia ingin melangkah menghampiri Abil, pergelangan tangannya


sempat ditahan oleh Dian. Dian menggenggam tangan Hagia dengan cukup


kuat. Secara simbolis, Dian bermaksud menghentikan Hagia. Dian ingin


Hagia tidak melakukan Getih mawar. Bahkan dari lubuk hatinya yang paling


dalam, Dian berharap semua temannya mau memikirkan rencana KKN ini


ulang. Raut wajahnya yang meringis semakin menyiratkan bahwa Dian sedang


ketakutan.


Mengerti maksud Dian, Hagia balik menggenggam tangannya. Hagia mencoba menenangkan teman baiknya itu


sembari berkata, "Gapapa. Lo tenang aja. Ini cuma adat doang kok. Lagian


kita udah di sini. Gak mungkin kan kita batalin KKN nya." Tutur Hagia


dengan lembut.


Getih mawar adalah adat yang mau tidak mau harus dilakukan agar bisa memasuki desa. Meski dari lubuk


hatinya yang paling dalam, jujur Dian merasa tak sanggup menjalani adat


itu. Tapi demi teman-temannya, Dian berusaha termotivasi agar bisa


mengalahkan dirinya sendiri.


Setelah meminta waktu beberapa saat, Dian pun menarik nafas panjang lalu membuka


matanya. Meski sorot matanya menyiratkan bahwa ia merasa enggan, tapi


pada akhirnya Dian pun menurut. Kini, Hagia dan Dian mulai menyayat


ujung jari mereka secara bergantian. Tetes darah keduanya mulai jatuh


basahi bunga-bunga mawar di sana.


Dan setelah menjalani getih mawar, para mahasiswa itu pun, mulai memasuki desa.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2