
Senja mulai membentang di langit. Penghujung hari
hampir tiba. 7 orang di sana terus menyusuri hutan yang berselimut kabut
dengan hati-hati. Selangkah demi selangkah. Langkah berirama yang
meninggalkan jejak kaki di jalan setapak.
Sembari terus menyusuri hutan, beberapa diantara mereka membuka suara untuk
memecah keheningan. Adalah Abil yang bertanya kepada Pak Tomo dengan
kalimat, “Pak, emangnya buat masuk desa harus lewat jalan ini? Gak ada
jalan lain?” bukan maksud memprotes, pertanyaan Abil barusan hanya
sekedar keingintahuannya semata.
Tanpa berlama-lama, Pak Tomo langsung menjawab, “Iya mas. Cuma ini jalan
satu-satunya. Kalau mau keluar masuk desa ya cuma ini jalannya. Selain
jalan ini, ndak ada jalan lain. Semuanya jurang.”
Mendengar fakta barusan, Abil merespons dengan mengangguk-anggukan kepala.
Dengan maksud ingin membuat suasana mencair, Abil kini lebih sering melempar
pertanyaan kepada Pak Tomo maupun kedua rekan Pak Tomo yang lain selama
di perjalanan. Memang hanya sebatas pertanyaan basa-basi semata. Tapi
dengan percakapan diantara mereka, Abil berharap bisa menjalin ikatan
yang lebih kuat dengan ketiga orang itu. Dan di sepanjang perjalanan
yang tersisa, sepertinya mereka mulai bisa akrab satu sama lain.
Setelah sekian jauh menyusuri hutan, kini di ujung sana sudah terlihat gapura
dengan disain sederhana yang akan menyambut kedatangan mereka. Sesaat
lagi, mereka akan sampai di depan gerbang desa.
Ketika semakin mendekati gapura yang terlihat kusam dan kuno itu, Abil, Estu,
Hagia dan Dian melihat pemakaman yang tidak jauh dari sana. Pemakaman
terbengkalai yang seakan-akan tidak pernah lagi ada orang yang mau
menziarahinya. Pemakaman yang justru terlihat mengerikan dengan
banyaknya tanaman liar yang menyelimuti.
Gapura yang kusam, kuno dan sedikit rusak. Lalu pemakaman terbengkalai yang
membuat bulu kuduk merinding saat melihatnya. Juga hutan lebat yang
berkabut, serta panorama yang sedang terbungkus oleh langit petang yang
cahayanya kian memudar. Tentu suasana saat ini membuat ke-empat
mahasiswa itu merasakan hawa berbeda. Tempat dimana mereka berpijak
kini, seakan membuat mereka merasa berada di alam lain.
Tapi, suasana mencekam ternyata belumlah selesai. Sesaat mereka sampai di
dekat gapura, Pak Tomo menyuruh para mahasiswa itu untuk berhenti.
Dengan menghormati permintaannya, Abil, Estu, Hagia dan Dian pun
menuruti. Kini ke empat mahasiswa itu sedang berdiri di dekat kumpulan
bunga mawar yang tumbuh liar di sana. Dan di kala mereka berempat
berdiri mematung, Pak Tomo mengeluarkan sebilah pisau kecil dari
sakunya, lalu berkata, “Sekarang, lukai jari kalian. Lalu teteskan darah
kalian ke atas bunga mawar ini.” Titah Pak Tomo sembari menyodorkan
__ADS_1
pisau kecil.
Sontak, kalimat Pak Tomo barusan
membuat para mahasiswa ini mengernyitkan dahi. Tanpa mampu berkata-kata,
Abil, Estu, Hagia dan Dian hanya bisa melirik satu sama lain dengan
raut wajah keheranan. Mereka heran dengan permintaan Pak Tomo yang
janggal. Dan jelas, banyak hal yang sedang terlintas di benak mereka
untuk ditanyakan.
Tapi belum sempat ada yang
memprotes atau sekedar mengajukan pertanyaan, Pak Tomo kembali berkata,
“Ayo mas, mbak, ndak apa-apa. Ini cuma adat desa aja. Kalo ada orang
luar mau masuk desa, memang seperti ini adatnya.”
Tak yakin dengan adat yang dianggapnya nyeleneh tersebut, Dian langsung
melempar pertanyaan kepada Pak Tomo dengan berkata, “Kalau boleh tau,
fungsinya buat apa ya pak?” Tanya Dian dengan wajah yang heran.
Pak Tomo pun langsung menjelaskan, “Ini adalah warisan leluhur kami.
Leluhur kami menyebutnya getih mawar. Leluhur kami bilang, adat ini
berguna buat memberikan perlindungan kepada orang luar yang mau masuk ke
desa.”
Jawaban Pak Tomo barusan masih dianggap
kurang logis. Dengan cepat, kini Hagia gantian menimpal dengan bertanya,
“Jadi maksudnya, desa Abimantrana itu berbahaya gitu pak?”
Pertanyaan Hagia barusan membuat Pak Tomo sedikit mengerjap. Tapi dengan tenang,
Maksudnya begini mbak. Getih mawar itu semacam adat supaya energi di
desa kami menyelimuti kalian. Supaya leluhur kami mengenal kalian.
Supaya kalian bisa betah. Maklum mbak, namanya juga desa pelosok. Pasti
banyak adat kami yang aneh bagi orang luar.” Tutur Pak Tomo sembari
tertawa kecil. Lalu Pak Tomo pun melanjutkan seraya berkata, “Getih
mawar ini harus kalian jalani kalau mau masuk desa. Kalau kalian ndak
sanggup, saya persilahkan untuk pulang.” Tegas Pak Tomo mengakhirinya
kalimatnya.
Setelah Pak Tomo menjabarkan dengan
jelas adat yang bernama Getih mawar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian
meminta waktu sebentar kepada Pak Tomo. Mereka meperdebatkan soal ini
secara internal. Hagia dan Dian jelas enggan untuk melakukannya, meski
itu sebuah adat sekalipun. Dan perdebatan ini akhirnya membuat Abil
sendiri merasa bimbang. Abil merasa enggan menjalankan adat, tapi di
sisi lain, mau tidak mau mereka harus melakukannya agar rencana KKN ini
berjalan lancar. Dengan meminta sedikit waktu lebih kepada Pak Tomo,
mereka terus memperdebatkan hal ini.
Tapi saat Abil, Hagia dan Dian berdebat, tetiba saja mereka melihat Estu
melangkahkan kakinya, maju menghampiri Pak Tomo. Lalu Estu meminta pisau
__ADS_1
itu dari Pak Tomo dan mulai melukai ujung jari kelingking kirinya.
Kemudian, bunga mawar di sana mulai basah dengan tetes darah yang jatuh
dari jari kelingking Estu.
Apa yang dilakukan Estu barusan jelas membuat Abil, Hagia dan Dian terkejut. Mereka yang
sebelumnya berdebat, kini tidak bisa berkata-kata. Mereka heran dengan
tingkah Estu yang dengan santai mau melakukan adat janggal itu.
Tapi setelah Estu melakukan adat Getih mawar, pikiran Abil kini tidak lagi
menjadi bimbang. Tidak peduli dengan sanggahan Hagia dan Dian, kini Abil
mulai melangkahkan kakinya menghampiri Estu. Abil meminta pisau kecil
itu darinya, lalu mulai menyayat jari kelingking kirinya dengan cepat.
Kini, darah Abil mulai menetes membasahi bunga-bunga mawar di sana.
Abil yang baru saja melakukan Getih mawar mulai mencoba menasehati Hagia dan
Dian agar mau melakukannya juga. Ada sedikit gesekan yang terjadi. Tapi
dengan terus membujuk mereka berulang-ulang, akhirnya Hagia pun
mengalah. Asumsi logis yang keluar dari mulut Abil membuat Hagia
akhirnya luluh. Kini, Hagia siap melakukan Getih mawar.
Tapi saat hagia ingin melangkah menghampiri Abil, pergelangan tangannya
sempat ditahan oleh Dian. Dian menggenggam tangan Hagia dengan cukup
kuat. Secara simbolis, Dian bermaksud menghentikan Hagia. Dian ingin
Hagia tidak melakukan Getih mawar. Bahkan dari lubuk hatinya yang paling
dalam, Dian berharap semua temannya mau memikirkan rencana KKN ini
ulang. Raut wajahnya yang meringis semakin menyiratkan bahwa Dian sedang
ketakutan.
Mengerti maksud Dian, Hagia balik menggenggam tangannya. Hagia mencoba menenangkan teman baiknya itu
sembari berkata, "Gapapa. Lo tenang aja. Ini cuma adat doang kok. Lagian
kita udah di sini. Gak mungkin kan kita batalin KKN nya." Tutur Hagia
dengan lembut.
Getih mawar adalah adat yang mau tidak mau harus dilakukan agar bisa memasuki desa. Meski dari lubuk
hatinya yang paling dalam, jujur Dian merasa tak sanggup menjalani adat
itu. Tapi demi teman-temannya, Dian berusaha termotivasi agar bisa
mengalahkan dirinya sendiri.
Setelah meminta waktu beberapa saat, Dian pun menarik nafas panjang lalu membuka
matanya. Meski sorot matanya menyiratkan bahwa ia merasa enggan, tapi
pada akhirnya Dian pun menurut. Kini, Hagia dan Dian mulai menyayat
ujung jari mereka secara bergantian. Tetes darah keduanya mulai jatuh
basahi bunga-bunga mawar di sana.
Dan setelah menjalani getih mawar, para mahasiswa itu pun, mulai memasuki desa.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw