
Selepas berkunjung dari sang sepuh, kondisi keluarga Pak Adi kian
membaik. Satu per satu mulai sehat dan mulai bisa beraktivitas normal
lagi. Meski kondisi kesehatan sekeluarga membaik, Pak Adi dan Bu Yuni
tetap memutuskan untuk tidak berjualan. Mereka berdua ingin meyakinkan
diri untuk memastikan langkah terbaik untuk ke depannya. Tapi pada
akhirnya, mengingat keselamatan keluarga yang menjadi pertaruhan, Pak
Adi dan Bu Yuni memilih untuk berhenti berjualan. Setidaknya, mereka
tidak akan berjualan di lahan miliki tetangganya lagi. Mereka akan
pindah lokasi jualan.
Pak Adi dan Bu Yuni merasa itu adalah
keputusan yang bijak. Toh, ini untuk keselamatan keluarga. Meski mereka
juga merasa heran, kenapa tetangganya sampai tega melakukan itu.
Padahal, tetangganya sendiri yang menawarkan. Lebih jauh lagi, Pak Adi
dan Bu Yuni juga selalu membayar uang sewa lahan setiap bulannya, yang
bahkan sang tetangga menolaknya di awal-awal. Jikalau pun sang tetangga
ingin berjualan, padahal ia hanya perlu berterus terang saja, Pak Adi
dan Bu Yuni juga merasa tidak keberatan jika memang harus angkat kaki
dari sana. Pak Adi dan Bu Yuni adalah orang baik, karena itu, sudah
sedari awal mereka sadar jika lahan itu bukanlah miliknya dan akan rela
jika harus pergi. Keduanya hanya menyayangkan hal itu.
Tapi yasudah. Kenyataan sudah berjalan demikian, tak ada lagi hal yang perlu
disesali. Dibandingkan menyesalinya, alangkah lebih bijak jika
menggunakan waktu yang ada untuk menata hal baru, itulah hal yang Pak
Adi dan Bu Yuni pikirkan saat ini. Dan setelah meyakinkan diri, akhirnya
mereka memutuskan untuk kembali berjualan di depan rumah mereka saja.
Pak Adi dan Bu Yuni menjual gerobak mereka, lalu menggantinya dengan sebuah
etalase besar. Lalu mereka juga memesan sebuah meja berukuran besar
sebagai dudukan etalase itu nantinya. Kemudian mereka membeli sebuah
kursi plastik dan juga sebuah bale berukuran sedang. Lantas, kenapa
mereka merombak begitu banyak hal?
Bu Yuni ingin mengubah konsep
wirausahanya. Memang masih dalam bentuk usaha kuliner, tapi beliau tidak
mau berjualan nasi uduk dan kawanannya lagi. Beliau ingin mengganti
konsep usahanya menjadi sebuah warteg. Karena itulah beliau mengganti
gerobaknya dengan sebuah etalase besar, agar muat lebih banyak makanan
yang bisa dipajang. Bale dan kursi tentu adalah untuk pelanggan yang
ingin makan di sana nantinya.
Bu Yuni tidak asal mengganti konsep
usahanya begitu saja. Beliau benar-benar telah berpikir panjang demi
sampai di titik ini. Beliau berpikir, karena lingkungan tempat
tinggalnya di penuhi oleh banyak kontrakan-kontrakan, berjualan lauk
matang adalah peluang terbaik untuk di dagangkan. Beliau yakin bahwa
usahanya kali ini juga akan membuahkan hasil. Meski nanti dirinya
berjualan bukan di pinggir jalan utama lagi, meski nanti dirinya
berjualan hanya di sebuah gang, namun dengan penuh keyakinan, Bu Yuni
yakin usahanya akan berkembang seiring berjalannya waktu. Kemampuan
masaknya mumpuni, makanan yang ia hasilkan pun terasa lezat, ditambah
dengan dirinya yang berhasil menggaet banyak pelanggan saat berjualan
sebelumnya. Asal sabar dan konsisten, beliau yakin usahanya kali ini
juga akan berkembang.
Setelah semua persiapan siap, Pak Adi dan Bu
Yuni langsung pergi ke pasar untuk membeli bahan. Selepasnya, mereka
sekeluarga langsung menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk diolah
menjadi makanan.
Mengupas, mengiris, menggoreng, menumbuk,
merebus juga hal lainnya mereka lakukan dengan kerja sama. Dan Bu Yuni
Sebagai juru masaknya, mulai memasak makanan satu persatu.
Meski tidur malam ini sangat kurang, tapi di pagi harinya mereka sudah siap membuka warung makan sederhana mereka.
Ini adalah hari pertama lagi. Mereka memulai usaha lagi dari nol.
Memulainya di lokasi yang tidak begitu menguntungkan. Dan sama seperti
sebelumnya, tidak perlu mengharapkan banyak hal di hari pertama. Tapi
sepertinya, kali ini hal itu salah.
Warung makan sederhana miliki
Pak Adi dan Bu Yuni sudah terlihat agak ramai meski ini adalah hari
pertama. Mungkin ada imbas dari jualan mereka sebelumnya, sehingga sudah
banyak orang tahu, asal itu Bu Yuni yang berjualan, apapun masakannya
pasti terasa lezat. Sepertinya jualan Bu Yuni sebelumnya telah berhasil
memberikan kesan tersendiri di hati para pelanggan. Hingga itu membuat
usahanya kini lebih mudah mendapatkan pelanggan.
Tapi tetap saja seperti kebanyakan wirausahawan baru, pasang surut tetap dialami Pak Adi
dan Bu Yuni dalam menjalankan usaha. Hingga akhirnya setelah beberapa
periode mendatang, usaha mereka pun kembali laris. Meski kini hanya
berjualan di gang sempit, usaha miliki Pak Adi dan Bu Yuni sudah
berkembang dengan pesat.
Setiap pagi, dagangan mereka akan
dipenuhi oleh orang yang akan sarapan sebelum berangkat kerja dan
sekolah. Saat siang siang, dagangan mereka akan dipadati oleh para
karyawan pabrik yang istirahat makan siang. Saat sore, dagangan mereka
akan di sesaki oleh mereka yang baru pulang bekerja. Belum lagi saat
malam, dimana banyak orang kontrakan yang akan memesan mie rebus atau
kopi.
Dengan melihat apa yang terjadi, jelas usaha milik Pak Adi
dan Bu Yuni terasa sangat melelahkan. Tapi hasil yang didapat pun
sepadan dengan rasa lelahnya. Tapi kembali ke hukum alam di awal, ketika
sebuah pohon tumbuh menjulang tinggi, maka akan angin yang menerpanya
pun akan semakin kencang menerjang. Hal yang sama kembali menerpa
keluarga Pak Adi dan Bu Yuni.
3 bulan pertama mereka berjualan,
semuanya masih terasa baik-baik saja. Di periode ini, pelanggan mereka
__ADS_1
sudah terlihat namun masih dalam batas biasa saja.
6 bulan pertama mereka berjualan, semua juga masih dalam keadaan baik-baik saja. Di
periode ini sudah banyak orang yang mulai tahu warung makan milik Pak
Adi dan Bu Yuni. Pelanggan mereka mulai lebih banyak.
10 bulan pertama mereka berjualan. Pelanggan datang kian lebih banyak. Dari sinilah, dimulai teror-teror kecil.
Satu tahun pertama mereka berjualan. Jumlah omzet menembus rekor baru. Itu
artinya jelas mereka mendapat lebih banyak pelanggan. Mulai dari sini,
teror-teror mulai terasa lebih intens dirasakan oleh keluarga Pak Adi
dan Bu Yuni. Di saat-saat inilah mereka mulai jatuh sakit secara
bergantian, sama seperti sebelumnya, saat mereka berjualan di pinggir
jalan. Tapi Pak Adi dan Bu Yuni tidak mau berburuk sangka, mereka
berpikir yang wajar-wajar saja. Karena memang lumrah jika manusia jatuh
sakit. Mungkin karena salah makan. Atau mungkin juga karena kecapekan.
Pak Adi dan Bu Yuni mencoba berpikir logis.
Satu setengah tahun
setelah mereka dagang. Hal yang terasa mustahil di awal justru menjadi
kenyataan. Usaha Pak Adi dan Bu Yuni sudah mencapai level baru. Tapi di
saat yang sama, teror-teror juga mulai terasa lebih kacau. Bahkan
pernah, masakan yang baru saja jadi, tetiba saja langsung basi dalam
sekejap. Sehingga tidak bisa lagi dijual dan terpaksa dibuang. Sulit
diterima nalar.
Bahkan pernah juga, saat ingin membuka warung, di
bawah kolong meja etalase mereka sudah dipenuhi oleh belatung tanpa
alasan. Atau rumah mereka yang dimasuki beberapa ular.
Yang paling sering adalah mencium bau kemenyan saat tengah malam. Biasanya Bu Yuni
dan sekeluarga tidur jam 1 dini hari. Karena begitu sering, mereka
bahkan hafal betul bau kemenyan itu seperti apa. Apalagi jika sudah
memasuki malam Jumat, bukan hanya bau kemenyan yang menyerbak, tapi juga
suara kicau burung yang terus berbunyi di atas rumah mereka. Jujur, di
periode ini, hidup mereka mulai merasa tak nyaman. Tapi mengingat begitu
banyak kewajiban yang harus Pak Adi dan Bu Yuni penuhi, mereka tidak
mau menyerah sedikitpun. Mereka terus melanjutkan usaha mereka tanpa
gentar. Senjata mereka hanya satu melawan teror-teror itu, berserah diri
kepada sang khalik.
2 tahun setelah dagang. Ini adalah waktu saat
ini. Dimana warung makan sederhana Pak Adi dan Bu Yuni sudah berkembang
dengan sangat pesat. Baik pagi, siang, sore dan malam, pelanggan mereka
seakan tidak ada habisnya. Teror-teror yang mereka rasakan juga kini
terasa lebih keji lagi. Terutama kepada Bu Yuni. Seakan teror itu adalah
sebuah simbolisasi agar mereka menutup usaha dengan segera.
Dan pada kenyataanya memang benar seperti itu. Saat kembali menemui sang
sepuh, beliau juga mengatakan bahwa banyak yang tidak menyukai usaha
milik Pak Adi dan Bu Yuni. Teror datang dari berbagai arah. Dengan
adanya warung makan milik Pak Adi dan Bu Yuni, warung makan lainnya
menjadi kehilangan banyak pelanggan. Para pelanggan pindah ke lain hati.
Alhasil, omzet mereka menjadi turun. Imbasnya adalah keuntungan mereka
Dan alih-alih bersaing dengan kompetitif seperti
yang dilakukan oleh Pak Adi dan Bu Yuni, pemilik usaha lain justru
bersaing dengan cara yang tidak sehat, ingin menang dengan cara yang
instan, meski licik itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Mungkin jalan
pikiran mereka seperti ini, siapapun yang mengganggu, maka harus
dihancurkan.
Padahal Pak Adi dan Bu Yuni berjualan secara jujur.
Mereka kompetitif. Dengan cara membuat kualitas rasa masakan mereka jauh
lebih enak dibanding yang lain. Alih-alih melakukan hal yang serupa,
yaitu mengecek rasa masakan kompetitor, lalu memperbaiki rasa masakan
buatan sendiri, para kompetitor justru ingin mengambil jalan pintas,
yaitu dengan mengahancurkan usaha milik Pak Adi dan Bu Yuni.
Kurang lebih begitulah berita yang bisa mereka dapatkan ketika mendatangi sang
sepuh kali ini. Tapi sekali lagi, baik Pak Adi dan Bu Yuni tidak ingin
membalas mereka dengan keburukan. Pak Adi dan Bu Yuni legowo. Keduanya
hanya ingin kesembuhan dan keselamatan saja. Biarkan hukum karma dari
sang pencipta yang membalas mereka yang berperangai buruk.
Setelah usai berobat, keluarga ini pun kembali seperti sedia kala. Hari
lusanya, Pak Adi dan Bu Yuni kembali membuka usahanya setelah libur
selama seminggu karena sakit.
Baru dapat sehari jualan, keesokan
harinya teror sudah kembali datang. Kini lidah Bu Yuni tidak bisa
merasakan apapun. Apapun yang masuk ke dalam mulutnya terasa sangat
hambar. Bahkan saat ia mencicipi garam, Bu Yuni tidak bisa merasakan
rasa asin sama sekali. Beliau pun mencoba menelepon sang sepuh.
Dari sana, Bu Yuni disuruh untuk memakan cabe rawit mentah sampai lidahnya terasa pedas.
Pada awalnya Bu Yuni merasa tidak percaya. Apa benar ini adalah cara
menyembuhkannya? Tapi tanpa banyak protes, beliau pun menuruti saran
dari sang sepuh. Satu persatu cabai rawit ia makan. Meski itu adalah
cabai rawit, Bu Yuni dibuat heran karena mulutnya tidak sama sekali
merasa pedas. Padahal ia sudah memakan sebanyak 10 cabai rawit.
Mengingat nasehat sang sepuh untuk memakan cabai hingga mulutnya terasa
pedas, Bu Yuni terus melanjutkan hingga cabai ke 20.
Sekiranya sudah memakan 23 cabai rawit, barulah beliau merasakan pedas di
mulutnya. Setelah menunggu beberapa saat, Bu Yuni sudah kembali bisa
merasakan cita rasa masakan. Dan anehnya, perut Bu Yuni sama sekali
tidak merasakan efek samping dari memakan cabai sebanyak itu.
Teror ini jelas untuk mengacaukan cita rasa masakan Bu Yuni. Dengan membuat
lidah beliau mati rasa, pastilah rasa masakannya akan menjadi tidak enak
nanti. Pelanggan pun menjadi kecewa. Lalu pergi.
Tapi teror di hari ini dapat diatasi. Warung pun tetap buka di keesokan harinya. Dan terus buka sampai beberapa hari kemudian.
Tapi, baru dapat 5 hari berjualan, Pak Adi dan sekeluarga kembali lagi jatuh
sakit. Kini, sudah seminggu terakhir Pak Adi dan Bu Yuni juga tidak
__ADS_1
berjualan. Bukan hanya satu orang, bahkan semua anggota keluarga jatuh
sakit. Yang terparah adalah Bu Yuni. Beliau bahkan tidak bisa
menggerakkan lengan kanannya sama sekali. Digerakkan sedikit saja
langsung terasa begitu nyeri. Entahlah cobaan apalagi kini.
Setelah menahan nyeri beberapa hari, Bu Yuni pergi ke rumah sakit bersama
suaminya. Tapi seperti biasa, sang dokter mengatakan bahwa Bu Yuni dalam
keadaan sehat wal Afiat. Tidak ada hal ganjil di dalam tubuhnya.
Berakhir nihil, mereka berdua kembali mendatangi sang sepuh. Seperti peristiwa
lalu, sang sepuh mengobati Bu Yuni dengan metode yang sama. Lalu
menemukan beberapa jarum pentul di dalam telur itu. Dan dengan keteguhan
hati yang sama, Pak Adi dan Bu Yuni tidak ingin membalas keburukan ini
dengan keburukan lain. Mereka ikhlas. Biarkan hukum karma yang membalas
mereka-mereka yang jahat nantinya.
Tapi dipertemuan kali ini, sang sepuh memperingatkan tentang sebuah kejadian besar yang akan
menimpah keluarga Pak Adi. Dengan raut wajah serius, sang sepuh pun
berkata, "3 hari lagi. Rumah mu akan ramai." Ucap sang sepuh
memperingatkan.
Saat bertanya lebih jauh, sang sepuh tidak bisa
menjabarkan perihal apa yang akan terjadi. Beliau hanya melihat dalam
mata batinnya bahwa 3 hari lagi, sebuah kejadian besar akan menyelimuti
keluarga Pak Adi. Karena itu, sang sepuh hanya bisa memperingatkan agar
mereka berhati-hati. Lalu Pak Adi dan Bu Yuni pun pulang.
Masih di hari yang sama. Kini sudah menjelang Maghrib. Mereka sekeluarga
berkumpul di dalam rumah. Hanya anak kedua mereka saja yang seorang diri
berada di dalam kamar. Pak Adi dan keluarganya yang berkumpul pun tak
melakukan pembicaraan khusus atau semacamnya. Kalau pun ada, itu Bu
Yuni. Itupun beliau hanya meminta kepada keluarganya untuk lebih banyak
berdoa saat ini. Lebih mendekatkan diri lagi kepada sang pencipta. Lalu
tak lama berselang, adzan Maghrib pun berkumandang.
Beberapa saat setelah adzan berkumandang, anak kedua mereka yang berada sendirian di
dalam kamar pun tetiba saja mulai berteriak histeris.
Mereka semua yang sedang berada di ruang tengah langsung panik dan bergegas menuju kamar.
Mereka pun melihat sang anak kedua, yang bernama Dila, teriak begitu
ketakutan. Di sela-sela momen itu, Dila juga bilang ada sosok hitam
besar berbulu dan bertaring di pojokan kamarnya. Sosok seram itu sedang
menatapnya dengan mata merah menyala. Tapi nyatanya selain Dila, tak ada
seorang pun yang bisa melihat sosok menyeramkan itu. Hanya Dila seorang
yang bisa melihatnya.
Bu Yuni pun langsung melantunkan ayat-ayat
suci dengan maksud membuat sosok gaib itu pergi. Lambat laun, Dila pun
berhenti histeris.
Kini, Dila yang sudah terdiam lalu meringkukan
tubuhnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya ke bawah, dengan menjadikan
kedua dengkulnya sebagai tumpuan. Dan sesaat kemudian, Dila pun
berteriak keras.
Kini Dila menjadi kerasukan. Ia kesurupan. Entah
sosok gaib apa yang merasukinya. Dila terus berteriak kencang, mulutnya
terbuka lebar. Tangannya mengepal kuat. Tapi di saat yang sama, ia
menitihkan air mata.
Dalam beberapa saat, hal mengerikan itu
terus berlanjut. Satu keluarga ini pun menjadi panik. Pak Adi dan Bu
Yuni mencoba menenangkan Dila sembari membaca ayat suci. Anak pertama
mereka mencoba memanggil seorang Ustadz. Karena teriakan yang begitu
menggelegar, warga sekitar rumah pun mulai berdatangan.
Lalu seorang Ustadz datang ke rumah. Beliau langsung bertindak cepat
menyadarkan Dila yang sedang kesurupan. Beliau membaca ayat-ayat suci
sembari menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Dila. Lambat laun,
Dila pun kembali sadar. Ia diberi minum perlahan. Lalu dibaringkan di
atas kasurnya.
Di momen ini, sang Ustadz menjelaskan bahwa apa
yang barusan dialami oleh Dila, perempuan berusia 17 tahun itu adalah
sebuah kiriman. Sama seperti nasehat yang diberikan oleh sang sepuh,
sang Ustadz juga mengatakan hal yang sama, bahwa mereka harus
berhati-hati.
Pak Adi dan Bu Yuni mulai bercerita banyak hal
kepada sang Ustadz perihal teror yang mereka alami beberapa waktu
belakangan ini. Dari segi pandangan sang Ustadz sendiri, ia juga percaya
akan hal itu. Karena di mata sang Ustadz, atmosfer rumah Pak Adi terasa
sangat berbeda. Terasa dingin dan senyap. Seakan sudah dikelilingi oleh
banyak hal jahat di sekitarnya yang sudah siap untuk mencelakai mereka.
Di akhir pertemuan, sang Ustadz sekali lagi memberikan nasehat
kepada mereka untuk lebih waspada. Lebih berserah diri. Lebih yakin
bahwa sang khalik akan membantu keluarga mereka dari cobaan ini. Pak Adi
sekeluarga pun berterimakasih atas nasehat tersebut juga bantuan yang
sudah sang Ustadz berikan. Lalu mereka saling mengakhiri dengan mengucap
salam.
Namun setelah kejadian hari ini, Dila selalu menjadi
kesurupan di setiap harinya. Setelah adzan maghrib berkumandang, Dila
pasti selalu kerasukan makhluk gaib setelahnya. Seakan-akan mahkluk gaib
tersebut sudah direncanakan untuk melakukan itu sejak awal. Entah apa
tujuan si pengirim. Mungkin bisa jadi ingin membuat Dila menjadi gila.
Atau mungkin ini bentuk protes agar mereka menutup usaha. Entahlah mana
yang benar, tidak ada yang bisa menerka niat jahat di dalam hati
seseorang. Tapi yang pasti, keluarga Pak Adi terasa seperti kacau
sekarang.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw