Thread Horror

Thread Horror
Bab 7 : Teror Teluh (Part 2)


__ADS_3

Selepas berkunjung dari sang sepuh, kondisi keluarga Pak Adi kian


membaik. Satu per satu mulai sehat dan mulai bisa beraktivitas normal


lagi. Meski kondisi kesehatan sekeluarga membaik, Pak Adi dan Bu Yuni


tetap memutuskan untuk tidak berjualan. Mereka berdua ingin meyakinkan


diri untuk memastikan langkah terbaik untuk ke depannya. Tapi pada


akhirnya, mengingat keselamatan keluarga yang menjadi pertaruhan, Pak


Adi dan Bu Yuni memilih untuk berhenti berjualan. Setidaknya, mereka


tidak akan berjualan di lahan miliki tetangganya lagi. Mereka akan


pindah lokasi jualan.


Pak Adi dan Bu Yuni merasa itu adalah


keputusan yang bijak. Toh, ini untuk keselamatan keluarga. Meski mereka


juga merasa heran, kenapa tetangganya sampai tega melakukan itu.


Padahal, tetangganya sendiri yang menawarkan. Lebih jauh lagi, Pak Adi


dan Bu Yuni juga selalu membayar uang sewa lahan setiap bulannya, yang


bahkan sang tetangga menolaknya di awal-awal. Jikalau pun sang tetangga


ingin berjualan, padahal ia hanya perlu berterus terang saja, Pak Adi


dan Bu Yuni juga merasa tidak keberatan jika memang harus angkat kaki


dari sana. Pak Adi dan Bu Yuni adalah orang baik, karena itu, sudah


sedari awal mereka sadar jika lahan itu bukanlah miliknya dan akan rela


jika harus pergi. Keduanya hanya menyayangkan hal itu.


Tapi yasudah. Kenyataan sudah berjalan demikian, tak ada lagi hal yang perlu


disesali. Dibandingkan menyesalinya, alangkah lebih bijak jika


menggunakan waktu yang ada untuk menata hal baru, itulah hal yang Pak


Adi dan Bu Yuni pikirkan saat ini. Dan setelah meyakinkan diri, akhirnya


mereka memutuskan untuk kembali berjualan di depan rumah mereka saja.


Pak Adi dan Bu Yuni menjual gerobak mereka, lalu menggantinya dengan sebuah


etalase besar. Lalu mereka juga memesan sebuah meja berukuran besar


sebagai dudukan etalase itu nantinya. Kemudian mereka membeli sebuah


kursi plastik dan juga sebuah bale berukuran sedang. Lantas, kenapa


mereka merombak begitu banyak hal?


Bu Yuni ingin mengubah konsep


wirausahanya. Memang masih dalam bentuk usaha kuliner, tapi beliau tidak


mau berjualan nasi uduk dan kawanannya lagi. Beliau ingin mengganti


konsep usahanya menjadi sebuah warteg. Karena itulah beliau mengganti


gerobaknya dengan sebuah etalase besar, agar muat lebih banyak makanan


yang bisa dipajang. Bale dan kursi tentu adalah untuk pelanggan yang


ingin makan di sana nantinya.


Bu Yuni tidak asal mengganti konsep


usahanya begitu saja. Beliau benar-benar telah berpikir panjang demi


sampai di titik ini. Beliau berpikir, karena lingkungan tempat


tinggalnya di penuhi oleh banyak kontrakan-kontrakan, berjualan lauk


matang adalah peluang terbaik untuk di dagangkan. Beliau yakin bahwa


usahanya kali ini juga akan membuahkan hasil. Meski nanti dirinya


berjualan bukan di pinggir jalan utama lagi, meski nanti dirinya


berjualan hanya di sebuah gang, namun dengan penuh keyakinan, Bu Yuni


yakin usahanya akan berkembang seiring berjalannya waktu. Kemampuan


masaknya mumpuni, makanan yang ia hasilkan pun terasa lezat, ditambah


dengan dirinya yang berhasil menggaet banyak pelanggan saat berjualan


sebelumnya. Asal sabar dan konsisten, beliau yakin usahanya kali ini


juga akan berkembang.


Setelah semua persiapan siap, Pak Adi dan Bu


Yuni langsung pergi ke pasar untuk membeli bahan. Selepasnya, mereka


sekeluarga langsung menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk diolah


menjadi makanan.


Mengupas, mengiris, menggoreng, menumbuk,


merebus juga hal lainnya mereka lakukan dengan kerja sama. Dan Bu Yuni


Sebagai juru masaknya, mulai memasak makanan satu persatu.


Meski tidur malam ini sangat kurang, tapi di pagi harinya mereka sudah siap membuka warung makan sederhana mereka.


Ini adalah hari pertama lagi. Mereka memulai usaha lagi dari nol.


Memulainya di lokasi yang tidak begitu menguntungkan. Dan sama seperti


sebelumnya, tidak perlu mengharapkan banyak hal di hari pertama. Tapi


sepertinya, kali ini hal itu salah.


Warung makan sederhana miliki


Pak Adi dan Bu Yuni sudah terlihat agak ramai meski ini adalah hari


pertama. Mungkin ada imbas dari jualan mereka sebelumnya, sehingga sudah


banyak orang tahu, asal itu Bu Yuni yang berjualan, apapun masakannya


pasti terasa lezat. Sepertinya jualan Bu Yuni sebelumnya telah berhasil


memberikan kesan tersendiri di hati para pelanggan. Hingga itu membuat


usahanya kini lebih mudah mendapatkan pelanggan.


Tapi tetap saja seperti kebanyakan wirausahawan baru, pasang surut tetap dialami Pak Adi


dan Bu Yuni dalam menjalankan usaha. Hingga akhirnya setelah beberapa


periode mendatang, usaha mereka pun kembali laris. Meski kini hanya


berjualan di gang sempit, usaha miliki Pak Adi dan Bu Yuni sudah


berkembang dengan pesat.


Setiap pagi, dagangan mereka akan


dipenuhi oleh orang yang akan sarapan sebelum berangkat kerja dan


sekolah. Saat siang siang, dagangan mereka akan dipadati oleh para


karyawan pabrik yang istirahat makan siang. Saat sore, dagangan mereka


akan di sesaki oleh mereka yang baru pulang bekerja. Belum lagi saat


malam, dimana banyak orang kontrakan yang akan memesan mie rebus atau


kopi.


Dengan melihat apa yang terjadi, jelas usaha milik Pak Adi


dan Bu Yuni terasa sangat melelahkan. Tapi hasil yang didapat pun


sepadan dengan rasa lelahnya. Tapi kembali ke hukum alam di awal, ketika


sebuah pohon tumbuh menjulang tinggi, maka akan angin yang menerpanya


pun akan semakin kencang menerjang. Hal yang sama kembali menerpa


keluarga Pak Adi dan Bu Yuni.


3 bulan pertama mereka berjualan,


semuanya masih terasa baik-baik saja. Di periode ini, pelanggan mereka

__ADS_1


sudah terlihat namun masih dalam batas biasa saja.


6 bulan pertama mereka berjualan, semua juga masih dalam keadaan baik-baik saja. Di


periode ini sudah banyak orang yang mulai tahu warung makan milik Pak


Adi dan Bu Yuni. Pelanggan mereka mulai lebih banyak.


10 bulan pertama mereka berjualan. Pelanggan datang kian lebih banyak. Dari sinilah, dimulai teror-teror kecil.


Satu tahun pertama mereka berjualan. Jumlah omzet menembus rekor baru. Itu


artinya jelas mereka mendapat lebih banyak pelanggan. Mulai dari sini,


teror-teror mulai terasa lebih intens dirasakan oleh keluarga Pak Adi


dan Bu Yuni. Di saat-saat inilah mereka mulai jatuh sakit secara


bergantian, sama seperti sebelumnya, saat mereka berjualan di pinggir


jalan. Tapi Pak Adi dan Bu Yuni tidak mau berburuk sangka, mereka


berpikir yang wajar-wajar saja. Karena memang lumrah jika manusia jatuh


sakit. Mungkin karena salah makan. Atau mungkin juga karena kecapekan.


Pak Adi dan Bu Yuni mencoba berpikir logis.


Satu setengah tahun


setelah mereka dagang. Hal yang terasa mustahil di awal justru menjadi


kenyataan. Usaha Pak Adi dan Bu Yuni sudah mencapai level baru. Tapi di


saat yang sama, teror-teror juga mulai terasa lebih kacau. Bahkan


pernah, masakan yang baru saja jadi, tetiba saja langsung basi dalam


sekejap. Sehingga tidak bisa lagi dijual dan terpaksa dibuang. Sulit


diterima nalar.


Bahkan pernah juga, saat ingin membuka warung, di


bawah kolong meja etalase mereka sudah dipenuhi oleh belatung tanpa


alasan. Atau rumah mereka yang dimasuki beberapa ular.


Yang paling sering adalah mencium bau kemenyan saat tengah malam. Biasanya Bu Yuni


dan sekeluarga tidur jam 1 dini hari. Karena begitu sering, mereka


bahkan hafal betul bau kemenyan itu seperti apa. Apalagi jika sudah


memasuki malam Jumat, bukan hanya bau kemenyan yang menyerbak, tapi juga


suara kicau burung yang terus berbunyi di atas rumah mereka. Jujur, di


periode ini, hidup mereka mulai merasa tak nyaman. Tapi mengingat begitu


banyak kewajiban yang harus Pak Adi dan Bu Yuni penuhi, mereka tidak


mau menyerah sedikitpun. Mereka terus melanjutkan usaha mereka tanpa


gentar. Senjata mereka hanya satu melawan teror-teror itu, berserah diri


kepada sang khalik.


2 tahun setelah dagang. Ini adalah waktu saat


ini. Dimana warung makan sederhana Pak Adi dan Bu Yuni sudah berkembang


dengan sangat pesat. Baik pagi, siang, sore dan malam, pelanggan mereka


seakan tidak ada habisnya. Teror-teror yang mereka rasakan juga kini


terasa lebih keji lagi. Terutama kepada Bu Yuni. Seakan teror itu adalah


sebuah simbolisasi agar mereka menutup usaha dengan segera.


Dan pada kenyataanya memang benar seperti itu. Saat kembali menemui sang


sepuh, beliau juga mengatakan bahwa banyak yang tidak menyukai usaha


milik Pak Adi dan Bu Yuni. Teror datang dari berbagai arah. Dengan


adanya warung makan milik Pak Adi dan Bu Yuni, warung makan lainnya


menjadi kehilangan banyak pelanggan. Para pelanggan pindah ke lain hati.


Alhasil, omzet mereka menjadi turun. Imbasnya adalah keuntungan mereka


Dan alih-alih bersaing dengan kompetitif seperti


yang dilakukan oleh Pak Adi dan Bu Yuni, pemilik usaha lain justru


bersaing dengan cara yang tidak sehat, ingin menang dengan cara yang


instan, meski licik itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Mungkin jalan


pikiran mereka seperti ini, siapapun yang mengganggu, maka harus


dihancurkan.


Padahal Pak Adi dan Bu Yuni berjualan secara jujur.


Mereka kompetitif. Dengan cara membuat kualitas rasa masakan mereka jauh


lebih enak dibanding yang lain. Alih-alih melakukan hal yang serupa,


yaitu mengecek rasa masakan kompetitor, lalu memperbaiki rasa masakan


buatan sendiri, para kompetitor justru ingin mengambil jalan pintas,


yaitu dengan mengahancurkan usaha milik Pak Adi dan Bu Yuni.


Kurang lebih begitulah berita yang bisa mereka dapatkan ketika mendatangi sang


sepuh kali ini. Tapi sekali lagi, baik Pak Adi dan Bu Yuni tidak ingin


membalas mereka dengan keburukan. Pak Adi dan Bu Yuni legowo. Keduanya


hanya ingin kesembuhan dan keselamatan saja. Biarkan hukum karma dari


sang pencipta yang membalas mereka yang berperangai buruk.


Setelah usai berobat, keluarga ini pun kembali seperti sedia kala. Hari


lusanya, Pak Adi dan Bu Yuni kembali membuka usahanya setelah libur


selama seminggu karena sakit.


Baru dapat sehari jualan, keesokan


harinya teror sudah kembali datang. Kini lidah Bu Yuni tidak bisa


merasakan apapun. Apapun yang masuk ke dalam mulutnya terasa sangat


hambar. Bahkan saat ia mencicipi garam, Bu Yuni tidak bisa merasakan


rasa asin sama sekali. Beliau pun mencoba menelepon sang sepuh.


Dari sana, Bu Yuni disuruh untuk memakan cabe rawit mentah sampai lidahnya terasa pedas.


Pada awalnya Bu Yuni merasa tidak percaya. Apa benar ini adalah cara


menyembuhkannya? Tapi tanpa banyak protes, beliau pun menuruti saran


dari sang sepuh. Satu persatu cabai rawit ia makan. Meski itu adalah


cabai rawit, Bu Yuni dibuat heran karena mulutnya tidak sama sekali


merasa pedas. Padahal ia sudah memakan sebanyak 10 cabai rawit.


Mengingat nasehat sang sepuh untuk memakan cabai hingga mulutnya terasa


pedas, Bu Yuni terus melanjutkan hingga cabai ke 20.


Sekiranya sudah memakan 23 cabai rawit, barulah beliau merasakan pedas di


mulutnya. Setelah menunggu beberapa saat, Bu Yuni sudah kembali bisa


merasakan cita rasa masakan. Dan anehnya, perut Bu Yuni sama sekali


tidak merasakan efek samping dari memakan cabai sebanyak itu.


Teror ini jelas untuk mengacaukan cita rasa masakan Bu Yuni. Dengan membuat


lidah beliau mati rasa, pastilah rasa masakannya akan menjadi tidak enak


nanti. Pelanggan pun menjadi kecewa. Lalu pergi.


Tapi teror di hari ini dapat diatasi. Warung pun tetap buka di keesokan harinya. Dan terus buka sampai beberapa hari kemudian.


Tapi, baru dapat 5 hari berjualan, Pak Adi dan sekeluarga kembali lagi jatuh


sakit. Kini, sudah seminggu terakhir Pak Adi dan Bu Yuni juga tidak

__ADS_1


berjualan. Bukan hanya satu orang, bahkan semua anggota keluarga jatuh


sakit. Yang terparah adalah Bu Yuni. Beliau bahkan tidak bisa


menggerakkan lengan kanannya sama sekali. Digerakkan sedikit saja


langsung terasa begitu nyeri. Entahlah cobaan apalagi kini.


Setelah menahan nyeri beberapa hari, Bu Yuni pergi ke rumah sakit bersama


suaminya. Tapi seperti biasa, sang dokter mengatakan bahwa Bu Yuni dalam


keadaan sehat wal Afiat. Tidak ada hal ganjil di dalam tubuhnya.


Berakhir nihil, mereka berdua kembali mendatangi sang sepuh. Seperti peristiwa


lalu, sang sepuh mengobati Bu Yuni dengan metode yang sama. Lalu


menemukan beberapa jarum pentul di dalam telur itu. Dan dengan keteguhan


hati yang sama, Pak Adi dan Bu Yuni tidak ingin membalas keburukan ini


dengan keburukan lain. Mereka ikhlas. Biarkan hukum karma yang membalas


mereka-mereka yang jahat nantinya.


Tapi dipertemuan kali ini, sang sepuh memperingatkan tentang sebuah kejadian besar yang akan


menimpah keluarga Pak Adi. Dengan raut wajah serius, sang sepuh pun


berkata, "3 hari lagi. Rumah mu akan ramai." Ucap sang sepuh


memperingatkan.


Saat bertanya lebih jauh, sang sepuh tidak bisa


menjabarkan perihal apa yang akan terjadi. Beliau hanya melihat dalam


mata batinnya bahwa 3 hari lagi, sebuah kejadian besar akan menyelimuti


keluarga Pak Adi. Karena itu, sang sepuh hanya bisa memperingatkan agar


mereka berhati-hati. Lalu Pak Adi dan Bu Yuni pun pulang.


Masih di hari yang sama. Kini sudah menjelang Maghrib. Mereka sekeluarga


berkumpul di dalam rumah. Hanya anak kedua mereka saja yang seorang diri


berada di dalam kamar. Pak Adi dan keluarganya yang berkumpul pun tak


melakukan pembicaraan khusus atau semacamnya. Kalau pun ada, itu Bu


Yuni. Itupun beliau hanya meminta kepada keluarganya untuk lebih banyak


berdoa saat ini. Lebih mendekatkan diri lagi kepada sang pencipta. Lalu


tak lama berselang, adzan Maghrib pun berkumandang.


Beberapa saat setelah adzan berkumandang, anak kedua mereka yang berada sendirian di


dalam kamar pun tetiba saja mulai berteriak histeris.


Mereka semua yang sedang berada di ruang tengah langsung panik dan bergegas menuju kamar.


Mereka pun melihat sang anak kedua, yang bernama Dila, teriak begitu


ketakutan. Di sela-sela momen itu, Dila juga bilang ada sosok hitam


besar berbulu dan bertaring di pojokan kamarnya. Sosok seram itu sedang


menatapnya dengan mata merah menyala. Tapi nyatanya selain Dila, tak ada


seorang pun yang bisa melihat sosok menyeramkan itu. Hanya Dila seorang


yang bisa melihatnya.


Bu Yuni pun langsung melantunkan ayat-ayat


suci dengan maksud membuat sosok gaib itu pergi. Lambat laun, Dila pun


berhenti histeris.


Kini, Dila yang sudah terdiam lalu meringkukan


tubuhnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya ke bawah, dengan menjadikan


kedua dengkulnya sebagai tumpuan. Dan sesaat kemudian, Dila pun


berteriak keras.


Kini Dila menjadi kerasukan. Ia kesurupan. Entah


sosok gaib apa yang merasukinya. Dila terus berteriak kencang, mulutnya


terbuka lebar. Tangannya mengepal kuat. Tapi di saat yang sama, ia


menitihkan air mata.


Dalam beberapa saat, hal mengerikan itu


terus berlanjut. Satu keluarga ini pun menjadi panik. Pak Adi dan Bu


Yuni mencoba menenangkan Dila sembari membaca ayat suci. Anak pertama


mereka mencoba memanggil seorang Ustadz. Karena teriakan yang begitu


menggelegar, warga sekitar rumah pun mulai berdatangan.


Lalu seorang Ustadz datang ke rumah. Beliau langsung bertindak cepat


menyadarkan Dila yang sedang kesurupan. Beliau membaca ayat-ayat suci


sembari menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Dila. Lambat laun,


Dila pun kembali sadar. Ia diberi minum perlahan. Lalu dibaringkan di


atas kasurnya.


Di momen ini, sang Ustadz menjelaskan bahwa apa


yang barusan dialami oleh Dila, perempuan berusia 17 tahun itu adalah


sebuah kiriman. Sama seperti nasehat yang diberikan oleh sang sepuh,


sang Ustadz juga mengatakan hal yang sama, bahwa mereka harus


berhati-hati.


Pak Adi dan Bu Yuni mulai bercerita banyak hal


kepada sang Ustadz perihal teror yang mereka alami beberapa waktu


belakangan ini. Dari segi pandangan sang Ustadz sendiri, ia juga percaya


akan hal itu. Karena di mata sang Ustadz, atmosfer rumah Pak Adi terasa


sangat berbeda. Terasa dingin dan senyap. Seakan sudah dikelilingi oleh


banyak hal jahat di sekitarnya yang sudah siap untuk mencelakai mereka.


Di akhir pertemuan, sang Ustadz sekali lagi memberikan nasehat


kepada mereka untuk lebih waspada. Lebih berserah diri. Lebih yakin


bahwa sang khalik akan membantu keluarga mereka dari cobaan ini. Pak Adi


sekeluarga pun berterimakasih atas nasehat tersebut juga bantuan yang


sudah sang Ustadz berikan. Lalu mereka saling mengakhiri dengan mengucap


salam.


Namun setelah kejadian hari ini, Dila selalu menjadi


kesurupan di setiap harinya. Setelah adzan maghrib berkumandang, Dila


pasti selalu kerasukan makhluk gaib setelahnya. Seakan-akan mahkluk gaib


tersebut sudah direncanakan untuk melakukan itu sejak awal. Entah apa


tujuan si pengirim. Mungkin bisa jadi ingin membuat Dila menjadi gila.


Atau mungkin ini bentuk protes agar mereka menutup usaha. Entahlah mana


yang benar, tidak ada yang bisa menerka niat jahat di dalam hati


seseorang. Tapi yang pasti, keluarga Pak Adi terasa seperti kacau


sekarang.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2