
Abil, Estu, Hagia dan Dian, kini keempat mahasiswa
itu sudah berkumpul di dalam sebuah ruangan yang sama. Berkumpul dalam
keadaan tubuh yang terikat, mata yang tertutup, serta mulut yang
tersumpal. Mereka yang ditangkap kemarin oleh warga desa, kini
dikumpulkan di dalam rumah sang sepuh dengan keadaan yang memilukan.
Hagia dan Dian, kedua perempuan itu dengan jelas sedang meronta-ronta saat
ini. Andai saja mulut keduanya tidak disumpal dengan kain, pastilah
suara teriakan minta tolong mereka sudah menggema ke seisi rumah.
Abil pun demikian. Bahkan karena ia seorang laki-laki, dalam keadaan yang
sudah terikat kaki dan tangannya, Abil masih mampu merangsak melawan Pak
Bimo juga Pak Tomo di sana dengan gerakan yang membabi buta. Tapi
karena bentuk perlawanannya tersebut, baru saja ia di tumbangkan. Dengan
pukulan keras ke wajah serta perut, Abil baru saja tersungkur ke
lantai.
Sedangkan untuk Estu sendiri, laki-laki
itu hanya diam menyandarkan tubuhnya ke belakang. Seakan tidak peduli
dengan nyawanya yang terancam, Estu hanya berdiam diri di sana sembari
mendengarkan ketiga temannya yang meronta-meronta.
Setelah memukul wajah serta perut Abil barusan, Pak Tomo pun mengatakan sesuatu
kepada para mahasiswa itu dengan berkata, “Selama seminggu, kalian bisa
hidup enak di sini. Bisa makan sepuasnya, sampai tidak pernah merasakan
kelaparan sama sekali. Tapi asal kalian tahu, desa ini sebenarnya
adalah desa miskin. Jangankan bisa makan 3x sehari, bahkan kami sering
berpuasa karena tidak ada makanan. Semua makanan yang kami punya, kami
berikan untuk kalian. Jadi sekarang, kalian harus berbalas budi… dengan
mengorbankan nyawa kalian.” Ucap Pak Tomo dengan perasaan puasnya.
Tak lama berselang dari ucapan Pak Tomo barusan, sang sepuh menghampiri
ruangan dimana para mahasiswa itu berada. Dengan wajah dingin, sang
sepuh pun membuka penutup mata para mahasiswa, lalu berkata, “Malam
nanti, salah satu dari kalian akan kami tumbalkan. Berdiskusilah. Pilih
salah satu dari kalian yang harus lebih dulu mati.” Tutur sang sepuh
mengakhiri. Lalu ia menyuruh Pak Tomo juga Pak Bimo untuk membuka
penyumpal mulut para mahasiswa.
Dan seperti yang diduga, sesaat setelah penyumpal mulut mereka dibuka, suara
teriakan yang melengking, jeritan meminta tolong, ataupun kalimat caci
makian langsung menggema ke isi rumah. Bahkan dengan frekuensi suara
sekeras itu, rasanya warga yang berada di luar pun akan turut
mendengarnya pula.
Tapi jeritan mereka semua, tidak akan berlangsung lama. Karena hanya beberapa jam kemudian,
teriakan para mahasiswa itu pun mulai memudar perlahan. Memudar, seiring
dengan tubuh mereka yang sudah lelah tak berdaya.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Hari ini juga bertepatan
dengan bulan purnama. Dan waktu yang telah dijanjikan oleh sang sepuh
kepada para mahasiswa pun telah tiba.
Sang sepuh kembali menghampiri ruangan dimana para mahasiswa itu dikurung.
Saat ini, para mahasiswa pun telah kehabisan suara mereka pula karena
terus berteriak hampir di sepertiga hari. Lalu dengan raut wajah yang
dingin, sang sepuh berkata kepada mereka, “Bagaimana cah ayu, cah bagus?
Kalian sudah menentukan siapa yang harus lebih dulu ditumbalkan?” ucap
sang sepuh sembari melototi para mahasiswa itu satu per satu.
Tak ada jawaban yang keluar, Pak Tomo pun berkata kepada sang sepuh, “Maaf
kanjeng, rasanya percuma menyuruh mereka memilih. Lebih baik, kita ambil
salah satu saja langsung.”
Tidak setuju dengan saran Pak Tomo, sang sepuh pun menyuruhnya diam. Lalu sang sepuh berkata
kepada Pak Tomo dengan bertutur, “Salah satu dari mereka akan mati.
Kita ndak boleh memilih sepihak. Kita harus cari tahu siapa diantara
mereka yang sudah ikhlas mati hari ini.” Ucap sang sepuh bersahaja. Dan
jurur, ia hanya sedang bermain-main saat ini. Dan Pak Tomo pun tahu,
kalau sang sepuh hanya sedang menggoda keempat mahasiswa itu semata.
Karena Pak Tomo tahu, kalau sang sepuh senang bermain-main dengan
orang-orang yang akan ia bunuh.
Sembari menatapi wajah Abil, Estu, Hagia dan Dian, sang sepuh pun mulai mengajak mereka
bicara satu per satu. “Cah bagus, kamu sudah siap mati malam ini?”
ucapnya bertanya kepada Abil. Lalu sang sepuh pun kembali melanjutkan,
“Kalau kamu sudah siap mati hari ini, cah bagus?” ucapnya kepada Estu.
“Cah ayu, kamu sudah siap mati malam ini?” ucapnya barusan kepada Hagia.
Tapi, ketiga mahasiswa itu tidak berkomentar
sama sekali saat sang sepuh menanyai mereka. Abil, Estu dan Hagia, hanya
balik memandangnya dengan tatapan keji nan bengis. Seakan tatapan
mereka mengisyaratkan siap membunuh semua warga desa termasuk sang sepuh
sendiri andai mereka punya kesempatan untuk melawan.
__ADS_1
Lalu setelah selesai menanyai Abil, Estu dan Hagia, kini sang sepuh mulai
berderap menghampiri Dian dengan senyuman kecil. Setelah berhadapan
dengan Dian, sang sepuh pun berkata, “Kalau kamu sendiri cah ayu, kamu
sudah siap untuk mati malam ini?” tapi berbeda dengan gestur yang
ditunjukkan oleh Abil, Estu dan Hagia yang seakan melawan, Dian yang
sedang ditanyai kini justru mulai menangis pilu. Dan sang sepuh yang
melihat Dian menangis pun mulai tersenyum lebar. Seakan ia menyukai
ekspresi kesedihan Dian yang sebentar lagi akan mati ditangannya.
Sembari menatap Dian dalam, sang sepuh pun mulai membelai rambut Dian pelan.
Lalu mengusap wajah Dian dengan lembut setelahnya. Dian yang tidak bisa
melawan pun hanya bisa menangis dan menangis. Melihat Dian yang
diperlakukan demikian, Abil dan Hagia sontak langsung mencaci maki sang
sepuh dengan lantang.
Di sela-sela caci makian Abil juga Hagia kepadanya, kini sang sepuh pun telah memutuskan… akan
menjadikan Dian… sebagai orang pertama yang akan ia tumbalkan.
Tanpa bermain-main lagi dengan mangsanya, sang sepuh menyuruh Pak Tomo untuk
membawa dian menuju belakang rumah. Suara tangisan pilu serta mohon
ampunan yang keluar dari bibir Dian pun mulai menggema lantang di sana.
Dan dengan kepala mata mereka sendiri, Abil, Estu dan Hagia melihat
sosok Dian yang mulai berderap keluar ruangan dengan kondisi yang miris.
Ya. Inilah saat dimana, Abil, Estu dan Hagia… melihat wajah Dian untuk yang terakhir kali… sembari meneriakkan namanya.
@ @ @ @ @
Sesampainya di belakang rumah, Pak Tomo melepas cengkramannya dari Dian, membuat
Dian pun jatuh tersungkur di tanah. Lalu Mulan, menantu sang sepuh yang
sudah berada di sana bergegas membangunkan posisi Dian hingga membuatnya
menjadi terduduk.
Masih dengan kaki dan tangan yang terikat, Dian mulai disirami air kembang yang sudah dipersiapkan
oleh menantu sang sepuh di sana. Dengan menangis, meronta dan meminta
ampunan, air kembang yang sudah dijampi-jampi itu mulai membasahi tubuh
Dian yang tak berdaya dengan sempurna.
Lalu sang sepuh yang baru saja datang dari dalam, mulai menghampiri Dian,
lalu ia pun berkata, “Cah ayu, kamu harus ikhlas. Kematian kamu, darah
di dalam tubuh kamu, akan menyelamatkan desa ini dari kebinasaan. Jangan
menangis cah ayu. Kamu harus bangga. Karena di akhir hidup kamu, kamu
bisa menyelamatkan banyak nyawa di sini.” Ucap sang sepuh sembari
menyeka air mata Dian yang membasahi pipi.
Di dalam ketakutannya yang teramat sangat, Dian pun bertutur, “Mbah, Pak,
Bu… tolong lepasin saya sama temen-temen saya. Kami janji akan menolong
lalu meminta bantuan. Kami akan membawa banyak makanan dari luar ke desa
ini.” Ucap Dian dengan suara yang lirih.
Lalu dengan cepat sang sepuh pun berkata, “Dulu teman kamu yang bernama Abil
pernah mengeluh kepada saya. Teman kamu bingung karena semua makanan
yang ia bawa dari luar tetiba saja membusuk. Kamu tahu kenapa alasannya
cah ayu? Karena makanan dari luar akan cepat membusuk jika dibawa ke
desa ini. Bukan hanya itu, orang luar pun ndak akan pernah bisa masuk ke
desa ini. Mereka semua akan dibuat tersesat di dalam kabut. Kalaupun
bisa, mereka semua harus dituntun oleh kami sampai ke sini, lalu harus
melakukan getih mawar terlebih dahulu, agar mereka tidak mati cepat
karena tubuh yang mengering. Dan kami pun, ndak bisa keluar desa dengan
sembarang. Karena bisa-bisa kulit kami meleleh. Andaikan apa yang kamu
sarankan barusan bekerja, pastilah kami ndak akan menumbalkan kamu
sekarang, cah ayu.” Tegas sang sepuh barusan dengan penuh kebenaran.
Desa ini adalah tanah terkutuk nan jahanam. Jika ada yang berhasil
memasukinya, maka tidak akan ada lagi yang bisa pergi keluar.
Setelah mejelaskan panjang lebar kesalahan Dian barusan, sang sepuh pun
mengeluarkan sebilah keris berukuran kecil dari dalam bajunya. Keris
yang sedang sang sepuh genggam pun ia mainkan ke wajah Dian dengan
berirama. Menyentuh pipinya. Menyentuh dagunya. Menyentuh keningnya.
Hingga kemudian… keris itu bertengger di ujung nadi leher Dian. Melihat
ekspresi Dian yang begitu kalut, sang sepuh pun kembali berkata, “Cah
ayu, bilang ke saya. Kamu mau saya sayat di bagian tubuh mana yang lebih
dulu? Tangan kamu? Kaki kamu? Atau leher kamu?”
Dian yang melihat keris itu bertengger di lehernya, yang disertai dengan
ucapan bengis sang sepuh barusan, seakan membuat Dian merasa gila.
Tubuhnya langsung memanas, seakan darahnya mendidih bergolak-golak.
Detak jantungnya yang berdebar pun seakan membuat nafas Dian menjadi
terengah-engah. Lalu dengan satu gerakan yang kuat… Dian pun berteriak
keras. Satu teriakan lantang yang akan terdengar sampai jauh. Satu
teriakan yang akan sampai pula ke telinga Abil, Estu dan Hagia berada.
Mendengar teriakan Dian yang begitu melengking, membuat senyum lebar sang sepuh
pun merekah. Lalu dengan satu gerakan sayatan yang kuat, sang sepuh pun
langsung memotong lidah Dian cepat. Sayatan yang akhirnya memutus lidah
__ADS_1
Dian dalam sekejap mata. Darah segar pun mulai mengalir pelan dari mulut
dian yang sedang terpekik. Suara teriakan lantang lainnya pun mulai
menggema di udara. Suara yang menandakan bahwa Dian saat ini sedang
menjerit kesakitan atas siksaan yang pedih.
Ya. Dian mulai dieksekusi mati saat ini. Dan setelah lidahnya dipotong, sang
sepuh pun mulai melanjutkan sayatannya ke bagian tubuh Dian yang lain.
Hingga akhirnya… jerit Dian pun mulai memudar di udara perlahan. Yang
menandakan… bahwa Dian, telah tewas.
Dengan terus menyayat-nyayat tubuh Dian, Pak Tomo, Pak Bimo serta istrinya
mulai menadahi darah yang keluar dari tubuh Dian dengan cekatan. Membuat
wadah yang masing-masing mereka pegang mulai memerah terisi oleh darah.
Setelah banyak darah terkumpul, sang sepuh sekaligus warga, mulai menyirami
tanah desa dengan darah segar Dian. Ada yang pergi ke sisi barat. Ada
yang berlari ke sisi timur. Ada yang menuju sisi selatan. Dan juga ada
yang berbondong-bondong menuju sisi utara.
Lalu setelah selesai menyirami tanah desa dengan darah, kini jasad Dian
dibawa menuju pohon beringin besar yang letaknya berada di hutan
belakang desa.
Beberapa pria di sana terlihat
sedang menggali tanah, termasuk seorang kakek tua yang dimana Dian takut
kepadanya dulu. Dirasa cukup, jasad Dian pun dibuang ke dalam pusara.
Lalu mulai menimbunnya kembali dengan tanah.
Setelah 21 tahun hidup, inilah cerita akhir dari kehidupan Dian.
Setelah berhasil mengubur jasad Dian serta menabur darahnya ke seluruh penjuru
desa, dengan wajah sumringah, para warga mulai saling melempar senyuman.
Seakan-akan inilah penantian yang sedang mereka tunggu-tunggu.
Seakan-akan dahaga mereka telah terbasuh dengan sempurna di malam ini.
Ya.Semua warga desa memang telah menanti saat-saat ini tiba. Sebuah hari
dimana… ritual ‘Nandur Manungsa’ atau yang bermakna ‘Menanam Manusia’,
dapat kembali mereka lakukan setelah 8 bulan menanti. Dengan menumbalkan
Dian, akhirnya warga desa bisa bernafas lega kini.
Karena sebentar lagi, desa mereka akan kembali subur.
@ @ @ @ @
Satu bulan telah berlalu. Dan benar, saat ini, kondisi desa mulai membaik.
Para warga mulai bisa memetik hasil panen mereka pada bulan ini. Meski
dirasa belum maksimal, tapi setidaknya para warga tidak akan kelaparan
hingga ritual ‘Nandur Manungsa’ berikutnya datang. Yaitu, sekitar 3
bulan lagi.
Bahkan saat ini bukan hanya tanah
desa mereka yang kembali subur. Tapi para wanita dewasa yang ada di desa
pun mulai mengandung pula. Jika di total, ada sekitar 17 wanita yang
kini sedang mengandung. Termasuk, istri dari Pak Bimo yang juga menantu
sang sepuh.
Meski miris, tapi berita ini adalah
kabar baik bagi para warga desa. Tanah yang kembali subur, serta para
wanita yang kembali hamil, merupakan anugrah tersendiri bagi warga. Tak
terkecuali Pak Tomo. Ia pun saat ini berada di rumah sang sepuh untuk
mengabarkan kalau istrinya juga hamil. Di hadapan sang sepuh, Pak Tomo
pun berkata, “Kanjeng. Dengan menumbalkan mahasiswa bernama Dian
kemarin, sekarang desa kita kembali sejahtera. Ini benar-benar luar
biasa.” Ucapnya dengan begitu sumringah.
Tapi berbeda dengan Pak Tomo, raut wajah sang sepuh kini justru terlihat
dingin, seakan ia tidak setuju atas apa yang diucapkan oleh Pak Tomo
barusan. Dengan sorot mata yang dalam, sang sepuh pun bertutur, “Tomo,
kamu jangan terlalu senang. Menumbalkan orang dari luar hanya akan
menekan kutukan sebentar saja. 2 atau 3 bulan lagi, kesuburan di desa
ini pasti akan kembali binasa. Kita jangan berpangku kepada para
mahasiswa yang tersisa. Akan lebih baik, kalau wanita sialan yang ada di
dalam ‘Punden’ itu hamil dengan segera. Karena menumbalkan garis
keturunan langsung si keparat itu, efeknya jauh lebih kuat untuk menekan
kutukan yang membelenggu kita, dibanding darah dan daging para
mahasiswa itu. Sekarang, bagaimanapun caranya, cepat buat si wanita
sialan itu hamil. Karena kita butuh keturunannya secepat mungkin.” Tegas
sang sepuh seakan sedang menghakimi.
Pak Tomo pun tidak membalas petuah sang sepuh barusan. Ia hanya menganggukan kepala seperti orang ketakutan.
Lantas… siapa ‘Wanita Sialan’ yang sedang dimaksud sang sepuh tadi?
Ya. Namanya adalah Mutih. Dia adalah cucu keturunan langsung dari sang
ketua sekte terdahulu yang memimpin desa. Sang ketua sekte… yang telah
mengutuk desa ini dan seisinya.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw