Thread Horror

Thread Horror
Bab 11 : Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam (Part 5)


__ADS_3

Jarak dari gapura menuju


pusat desa agak lumayan jauh. Karena itu, mereka semua masih harus


berjalan lagi beberapa ratus meter untuk sampai di pemukiman warga.


Dan setelah jauh berjalan, mereka mulai melihat beberapa bangunan rumah


yang berdiri di ujung sana. Akhirnya, Abil, Estu, Hagia dan Dian telah


sampai di pemukiman desa. Sebuah desa, yang suasananya terasa senyap.


Baru saja sampai, ke empat mahasiswa itu langsung diajak oleh Pak Tomo


menemui seseorang. Dengan nada yang ramah, Pak Tomo berucap, "Beliau ini


adalah sesepuh di sini. Namanya mbah Adanu. Saya ingin mengajak kalian


ke rumahnya." Dan dengan jawaban yang ramah pula, para mahasiswa itu


menurut.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sang sepuh, mahasiswa-mahasiswi itu menyapu


pandangan mereka ke sekitar. Mereka melihat, rumah-rumah warga yang


kusam nan rapuh di sana. Mereka juga tidak menemui satupun warga saat


jalan berkeliling. Suara aktivitas sehari-hari pun serasa menghilang.


Hari yang mulai gelap juga seakan menambah bumbu penyempurna, yang


membuat desa itu terasa senyap seperti kota mati.


Setelah berjalan beberapa ratus meter, kini mereka telah sampai di rumah sang sepuh.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali sembari mengucap salam, kemudian pintu


rumah terbuka. Putra sang sepuh membukakan pintu lalu mempersilahkan


Abil dan yang lain untuk masuk. Setelah masuk ke dalam rumah, mereka


langsung dipertemukan dengan sang sepuh.


Sembari bersalaman, sang sepuh pun menyapa dengan bertanya, "Kalian mahasiswa


yang mau KKN itu?" Tutur sang sepuh dibarengi senyuman kecil.


Abil dan teman-temannya langsung mengiyakan pertanyaan tersebut secara bersama.


Setelah di persilahkan duduk, sang sepuh mulai mengajak ngobrol para mahasiswa.


Beliau memulainya dengan bertanya nama mereka masing-masing. Lalu


darimana mereka semua berasal. Secara bergantian, para mahasiswa itu


mulai menjawab satu persatu. Abil menjelaskan bahwa dirinya berasal dari


Jakarta. Hagia berkata bahwa ia berasal dari Jakarta pula. Dian berasal


dari Bandung, dan Estu yang berasal dari Malang. Dan secara tak


langsung, mereka kompak menegaskan memilih kuliah di luar kota yang jauh


dari keluarga.


Saat bercakap-cakap, menantu sang sepuh datang membawa beberapa cangkir teh.


Makanan ringan rumahan pun ikut disuguhkan olehnya. Keempat mahasiswa


itu dijamu baik oleh sang tuan rumah. Kemudian putra tunggal sang sepuh


mulai memantik api lalu menyambarkannya sebagai obor untuk menerangi


seisi rumah yang gelap. Dan mereka semua saling bercerita satu sama lain


dalam kondisi yang ala kadarnya.


Di sela-sela pembicaraan, Abil mengatakan bahwa mereka datang ke desa


tanpa ada perwakilan dari kampus. Kemudian Abil merogoh isi tasnya lalu


memberikan secarik surat izin KKN yang telah ditanda-tangani pihak


kampus. Anak sang sepuh yang bernama Bimo pun menerima surat itu lalu


menyimpannya. Lalu mereka semua saling bercerita dengan lebih intens.


Tak terasa 2 jam telah berlalu. Obrolan diantara mereka telah berakhir.


Selepas itu, sang sepuh mengatakan kepada Abil dan yang lain untuk


tinggal di sebuah rumah yang sudah disiapkan untuk mereka. Letaknya


tidak begitu jauh dari rumah sang sepuh berada. Tanpa berlama-lama lagi,


sang sepuh menyuruh Pak Tomo mengantar Abil dan yang lain menuju rumah


singgah yang akan mereka tinggali selama KKN.


Abil dan yang lain pun berpamitan kepada sang sepuh dan sekeluarga, lalu


mulai berjalan mengikuti Pak Tomo dari belakang. Dan mengenai 2 rekan


Pak Tomo yang sedari tadi mengikuti mereka, baru saja keduanya kembali


ke rumah masing-masing.


Di saat perjalanan menuju rumah singgah, Hagia tiba-tiba bertanya kepada


Abil dengan berkata, "Abil, hape lu ada sinyal gak? Minjem dong. Mau


ngabarin orangtua gue di Jakarta." Tanya Hagia yang baru saja melihat


ponselnya tidak mendapatkan sinyal.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Hagia barusan, Abil pun langsung bereaksi dengan menjawab,


"Boro-boro. Kalo ada sinyal mah, gue udah nelpon ibu kost tadi, pas kita


lagi nyasar nyari desa ini sebelumnya." Tukas Abil dengan suara agak


terkekeh. Abil pun memang bicara apa adanya barusan. Lagi pula desa ini


adalah desa pelosok, yang dimana listrik saja belum ada. Mengharapkan di


desa ini ada sinyal? Sudah pasti mustahil.


Setelah beberapa langkah berjalan, akhirnya Pak Tomo memberhentikan langkahnya.


Abil, Estu, Hagia dan Dian yang mengekor di belakang pun ikut berhenti.


Dengan bantuan gestur tangannya, Pak Tomo pun memperkenalkan Abil dan


yang lain kepada rumah singgah di depannya dengan berkata, "Mas Abil,


Mas Estu, Mbak Hagia dan Mbak Dian, ini tempat tinggal kalian selama KKN


di sini." Kemudian Pak Tomo membuka pintu rumah itu yang tidak


terkunci.


Rumah singgah itu sendiri luasnya tidaklah besar. Hanya terdiri dari 3 petak


ruang. Yang sudah pasti 1 petak untuk kamar tidur Abil dan Estu. 1 petak


untuk kamar tidur Hagia dan Dian. Dan 1 petak sisanya adalah ruang


tengah yang menghubungkan 2 petak kamar tadi. Untuk kamar mandi sendiri


berada di luar rumah, dimana airnya tentu harus ditimba terlebih dahulu


dari sumur. Dari sini juga diceritakan oleh Pak Tomo, bahwa rumah ini


dulunya ditempati oleh adik sang sepuh serta keluarganya yang kini sudah


meninggal semua.


Setelah selesai memberikan pengarahan kepada Abil dan yang lain mengenai posisi


rumah serta sedikit sejarahnya, mengajari menyalakan api secara manual,


serta memberitahukan tentang apa yang akan mereka lakukan besok, Pak


Tomo pun pamit kepada mereka. Tapi sebelum Pak Tomo berderap pergi, ia


meminta agar Abil dan yang lain memaklumi kondisi desa mereka yang masih


tertinggal. Bermaksud menghargai ucapan Pak Tomo, Abil dan yang lain


bereaksi dengan tersenyum disertai beberapa kalimat sanggahan. Hingga


kemudian, Pak Tomo benar-benar pulang ke rumahnya dan meninggalkan


mereka berempat di rumah singgah nan tua itu.


Mulai malam ini, Abil, Estu, Hagia dan Dian harus bisa membiasakan diri


listrik. Tanpa adanya penerangan saat malam, yang hanya bermandikan


cahaya oranye dari api obor yang menyala-nyala. Jika membandingkan


dengan kehidupan mereka di kota, jelas ini benar-benar jauh dari apa


yang diharapkan.


@ @ @ @ @


Satu malam telah terlewati. Pagi ini, Abil, Hagia dan Dian sudah bersiap


menuju rumah sang sepuh lagi sesuai dengan arahan dari Pak Tomo kemarin


malam. Hanya tinggal menunggu Estu selesai mandi saja.


Sembari menunggu, Abil menaiki ayunan yang posisinya berada tidak jauh dari


depan rumah singgah. Ayunan sederhana yang dibuat dengan mengaitkannya


di sebuah pohon rimbun yang berukuran sedang. Dan saat menaiki ayunan,


Abil melihat Estu keluar dari kamar mandi. Lalu mereka berempat langsung


menuju rumah sang sepuh setelahnya.


Berbeda dengan kemarin malam, pagi ini Abil dan yang lain terkejut saat


berjalan menyusuri desa. Saat ke empat mahasiswa itu menyapu pandangan


ke sekeliling, mereka dikejutkan dengan melihat beberapa pintu rumah


warga yang tergelantung jari-jari manusia di sana. Dengan mengernyitkan


dahi, mereka saling memandang satu sama lain dengan wajah meringis dan


mulai bertanya-tanya. Contohnya adalah Hagia, ia bertanya kepada 3


temannya dengan berkata, "Itu yang digantung... jari manusia beneran?"


tanya Hagia barusan dengan perasaan ngeri.


Saat mereka datang ke sini kemarin, cahaya gelap malam perlahan menyelimuti


desa. Yang akhirnya membuat pemandangan kala itu menjadi samar. Dan saat


fajar telah membentang kini, barulah mereka bisa melihat pemandangan


sesungguhnya yang berada di desa itu. Dan salah satunya adalah


pemandangan jari-jari manusia yang terlihat jelas tergelantung di


beberapa pintu masuk rumah warga.

__ADS_1


Saat Abil, Estu, Hagia dan Dian sampai di rumah sang sepuh, mereka pun


langsung menanyakan perihal jari manusia itu kepada Pak Tomo yang


ternyata sudah berada di sana sebelum mereka datang. Tapi dengan santai


Pak Tomo menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "Ndak apa-apa.


Ndak usah dipikirkan. Itu cuma salah satu tradisi warga desa ini aja.


Orang-orang yang sudah meninggal biasanya akan dipotong jarinya sama


pihak keluarga, untuk dijadikan kenang-kenangan sebelum dikubur."


Adat getih mawar yang para mahasiswa ini lakukan sebelum memasuki desa saja


sudah janggal. Kini, mereka menemukan satu kejanggalan lain yang terjadi


di dalam desa. Tapi alih-alih mempermasalahkannya apalagi sampai


memperdebatkannya, Abil dan yang memilih acuh dengan hal tersebut. Bukan


mereka bersikap apatis, hanya saja mereka enggan untuk bentrok dengan


semua warga desa jika menentangnya. Jadi daripada mencari masalah,


mereka lebih memilih mencari aman. Dan kini, para mahasiswa itu mulai


berjalan mengikuti Pak Tomo untuk berkeliling desa.


Layaknya seorang pemandu wisata, Pak Tomo berkeliling sekaligus memberitahukan


Abil dan yang lain tentang semua hal yang ada di desa. Dian pun mencoba


berinisiatif mencatat semua informasi yang keluar dari bibir Pak Tomo ke


dalam sebuah catatan. Satu-satunya informasi yang luput dan membuat


Dian bertanya-tanya saat ini adalah tentang warga desa yang memandang


sinis saat melihat keberadaan Abil, Estu, Hagia dan Dian di sana.


Mungkin warga desa tidak suka jika ada orang luar yang masuk ke


lingkungan mereka. Dian mencoba memaklumi hal tersebut, lalu


berpura-pura tidak menyadarinya. Jikalaupun ada warga yang memberi kesan


baik, itu adalah seorang kakek tua yang baru saja tersenyum kepada


Dian. Tapi alih-alih membalas senyuman sang kakek, Dian justru


memalingkan wajahnya, karena takut dengan senyum kakek itu yang terlihat


mengerikan.


Dan saat mereka mulai meninggalkan pemukiman warga untuk masuk lebih jauh ke


dalam hutan, mereka disambut oleh sebuah pohon beringin yang sangat


besar di sana. Tinggi dan rimbun daunnya bukan main. Hagia dan Dian


mulai bergidik di sekujur tubuh saat memandang. Dan tidak jauh di


dekatnya tumbuh pohon beringin lain yang ukurannya belum begitu besar.


Tidak ada cerita khusus di sekitar sini, karena itu Pak Tomo langsung


melanjutkan perjalanan menuju belakang hutan yang sedikit lagi sampai.


Sesampainya mereka di ujung hutan, kini jurang yang seakan tak berdasar menyambut


kedatangan mereka. Dan apa yang dikatakan Pak Tomo dulu adalah benar,


bahwa satu-satunya jalan untuk masuk ke desa hanyalah dari sisi selatan.


Karena selain selatan, semuanya adalah jurang.


Singkat cerita, mereka akhirnya telah selesai berkeliling desa. Kini Pak Tomo,


Abil dan yang lain sudah berada kembali di dalam rumah sang sepuh.


Saat mereka kembali, menantu sang sepuh telah menyiapkan mereka sarapan


pagi. Meski hanya makanan seadanya, ke empat mahasiswa itu mulai


menyantap dengan lahap. Seteleh selesai menyantap sarapan, ke empat


mahasiswa itu mulai membahas program kerja mereka kepada Pak Tomo, Pak


Bimo, dan Sang Sepuh. Proposal yang sebelumnya Abil, Estu, Hagia dan


Dian buat, mulai mereka bahas di depan orang-orang penting desa ini.


Saling menyanggah pendapat satu sama lain tentu tidak dapat terelakkan. Tapi


pada akhirnya, kesimpulan dari rapat kali ini berjalan lancar dan


melahirkan sebuah agenda penting untuk ke depannya.


Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah sang sepuh, mereka semua


mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara teriakan disertai tangisan


yang membuat terkejut siapapun yang ada di sana. Dengan


berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat perkara, tak


terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2