
Jarak dari gapura menuju
pusat desa agak lumayan jauh. Karena itu, mereka semua masih harus
berjalan lagi beberapa ratus meter untuk sampai di pemukiman warga.
Dan setelah jauh berjalan, mereka mulai melihat beberapa bangunan rumah
yang berdiri di ujung sana. Akhirnya, Abil, Estu, Hagia dan Dian telah
sampai di pemukiman desa. Sebuah desa, yang suasananya terasa senyap.
Baru saja sampai, ke empat mahasiswa itu langsung diajak oleh Pak Tomo
menemui seseorang. Dengan nada yang ramah, Pak Tomo berucap, "Beliau ini
adalah sesepuh di sini. Namanya mbah Adanu. Saya ingin mengajak kalian
ke rumahnya." Dan dengan jawaban yang ramah pula, para mahasiswa itu
menurut.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sang sepuh, mahasiswa-mahasiswi itu menyapu
pandangan mereka ke sekitar. Mereka melihat, rumah-rumah warga yang
kusam nan rapuh di sana. Mereka juga tidak menemui satupun warga saat
jalan berkeliling. Suara aktivitas sehari-hari pun serasa menghilang.
Hari yang mulai gelap juga seakan menambah bumbu penyempurna, yang
membuat desa itu terasa senyap seperti kota mati.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, kini mereka telah sampai di rumah sang sepuh.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali sembari mengucap salam, kemudian pintu
rumah terbuka. Putra sang sepuh membukakan pintu lalu mempersilahkan
Abil dan yang lain untuk masuk. Setelah masuk ke dalam rumah, mereka
langsung dipertemukan dengan sang sepuh.
Sembari bersalaman, sang sepuh pun menyapa dengan bertanya, "Kalian mahasiswa
yang mau KKN itu?" Tutur sang sepuh dibarengi senyuman kecil.
Abil dan teman-temannya langsung mengiyakan pertanyaan tersebut secara bersama.
Setelah di persilahkan duduk, sang sepuh mulai mengajak ngobrol para mahasiswa.
Beliau memulainya dengan bertanya nama mereka masing-masing. Lalu
darimana mereka semua berasal. Secara bergantian, para mahasiswa itu
mulai menjawab satu persatu. Abil menjelaskan bahwa dirinya berasal dari
Jakarta. Hagia berkata bahwa ia berasal dari Jakarta pula. Dian berasal
dari Bandung, dan Estu yang berasal dari Malang. Dan secara tak
langsung, mereka kompak menegaskan memilih kuliah di luar kota yang jauh
dari keluarga.
Saat bercakap-cakap, menantu sang sepuh datang membawa beberapa cangkir teh.
Makanan ringan rumahan pun ikut disuguhkan olehnya. Keempat mahasiswa
itu dijamu baik oleh sang tuan rumah. Kemudian putra tunggal sang sepuh
mulai memantik api lalu menyambarkannya sebagai obor untuk menerangi
seisi rumah yang gelap. Dan mereka semua saling bercerita satu sama lain
dalam kondisi yang ala kadarnya.
Di sela-sela pembicaraan, Abil mengatakan bahwa mereka datang ke desa
tanpa ada perwakilan dari kampus. Kemudian Abil merogoh isi tasnya lalu
memberikan secarik surat izin KKN yang telah ditanda-tangani pihak
kampus. Anak sang sepuh yang bernama Bimo pun menerima surat itu lalu
menyimpannya. Lalu mereka semua saling bercerita dengan lebih intens.
Tak terasa 2 jam telah berlalu. Obrolan diantara mereka telah berakhir.
Selepas itu, sang sepuh mengatakan kepada Abil dan yang lain untuk
tinggal di sebuah rumah yang sudah disiapkan untuk mereka. Letaknya
tidak begitu jauh dari rumah sang sepuh berada. Tanpa berlama-lama lagi,
sang sepuh menyuruh Pak Tomo mengantar Abil dan yang lain menuju rumah
singgah yang akan mereka tinggali selama KKN.
Abil dan yang lain pun berpamitan kepada sang sepuh dan sekeluarga, lalu
mulai berjalan mengikuti Pak Tomo dari belakang. Dan mengenai 2 rekan
Pak Tomo yang sedari tadi mengikuti mereka, baru saja keduanya kembali
ke rumah masing-masing.
Di saat perjalanan menuju rumah singgah, Hagia tiba-tiba bertanya kepada
Abil dengan berkata, "Abil, hape lu ada sinyal gak? Minjem dong. Mau
ngabarin orangtua gue di Jakarta." Tanya Hagia yang baru saja melihat
ponselnya tidak mendapatkan sinyal.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Hagia barusan, Abil pun langsung bereaksi dengan menjawab,
"Boro-boro. Kalo ada sinyal mah, gue udah nelpon ibu kost tadi, pas kita
lagi nyasar nyari desa ini sebelumnya." Tukas Abil dengan suara agak
terkekeh. Abil pun memang bicara apa adanya barusan. Lagi pula desa ini
adalah desa pelosok, yang dimana listrik saja belum ada. Mengharapkan di
desa ini ada sinyal? Sudah pasti mustahil.
Setelah beberapa langkah berjalan, akhirnya Pak Tomo memberhentikan langkahnya.
Abil, Estu, Hagia dan Dian yang mengekor di belakang pun ikut berhenti.
Dengan bantuan gestur tangannya, Pak Tomo pun memperkenalkan Abil dan
yang lain kepada rumah singgah di depannya dengan berkata, "Mas Abil,
Mas Estu, Mbak Hagia dan Mbak Dian, ini tempat tinggal kalian selama KKN
di sini." Kemudian Pak Tomo membuka pintu rumah itu yang tidak
terkunci.
Rumah singgah itu sendiri luasnya tidaklah besar. Hanya terdiri dari 3 petak
ruang. Yang sudah pasti 1 petak untuk kamar tidur Abil dan Estu. 1 petak
untuk kamar tidur Hagia dan Dian. Dan 1 petak sisanya adalah ruang
tengah yang menghubungkan 2 petak kamar tadi. Untuk kamar mandi sendiri
berada di luar rumah, dimana airnya tentu harus ditimba terlebih dahulu
dari sumur. Dari sini juga diceritakan oleh Pak Tomo, bahwa rumah ini
dulunya ditempati oleh adik sang sepuh serta keluarganya yang kini sudah
meninggal semua.
Setelah selesai memberikan pengarahan kepada Abil dan yang lain mengenai posisi
rumah serta sedikit sejarahnya, mengajari menyalakan api secara manual,
serta memberitahukan tentang apa yang akan mereka lakukan besok, Pak
Tomo pun pamit kepada mereka. Tapi sebelum Pak Tomo berderap pergi, ia
meminta agar Abil dan yang lain memaklumi kondisi desa mereka yang masih
tertinggal. Bermaksud menghargai ucapan Pak Tomo, Abil dan yang lain
bereaksi dengan tersenyum disertai beberapa kalimat sanggahan. Hingga
kemudian, Pak Tomo benar-benar pulang ke rumahnya dan meninggalkan
mereka berempat di rumah singgah nan tua itu.
Mulai malam ini, Abil, Estu, Hagia dan Dian harus bisa membiasakan diri
listrik. Tanpa adanya penerangan saat malam, yang hanya bermandikan
cahaya oranye dari api obor yang menyala-nyala. Jika membandingkan
dengan kehidupan mereka di kota, jelas ini benar-benar jauh dari apa
yang diharapkan.
@ @ @ @ @
Satu malam telah terlewati. Pagi ini, Abil, Hagia dan Dian sudah bersiap
menuju rumah sang sepuh lagi sesuai dengan arahan dari Pak Tomo kemarin
malam. Hanya tinggal menunggu Estu selesai mandi saja.
Sembari menunggu, Abil menaiki ayunan yang posisinya berada tidak jauh dari
depan rumah singgah. Ayunan sederhana yang dibuat dengan mengaitkannya
di sebuah pohon rimbun yang berukuran sedang. Dan saat menaiki ayunan,
Abil melihat Estu keluar dari kamar mandi. Lalu mereka berempat langsung
menuju rumah sang sepuh setelahnya.
Berbeda dengan kemarin malam, pagi ini Abil dan yang lain terkejut saat
berjalan menyusuri desa. Saat ke empat mahasiswa itu menyapu pandangan
ke sekeliling, mereka dikejutkan dengan melihat beberapa pintu rumah
warga yang tergelantung jari-jari manusia di sana. Dengan mengernyitkan
dahi, mereka saling memandang satu sama lain dengan wajah meringis dan
mulai bertanya-tanya. Contohnya adalah Hagia, ia bertanya kepada 3
temannya dengan berkata, "Itu yang digantung... jari manusia beneran?"
tanya Hagia barusan dengan perasaan ngeri.
Saat mereka datang ke sini kemarin, cahaya gelap malam perlahan menyelimuti
desa. Yang akhirnya membuat pemandangan kala itu menjadi samar. Dan saat
fajar telah membentang kini, barulah mereka bisa melihat pemandangan
sesungguhnya yang berada di desa itu. Dan salah satunya adalah
pemandangan jari-jari manusia yang terlihat jelas tergelantung di
beberapa pintu masuk rumah warga.
__ADS_1
Saat Abil, Estu, Hagia dan Dian sampai di rumah sang sepuh, mereka pun
langsung menanyakan perihal jari manusia itu kepada Pak Tomo yang
ternyata sudah berada di sana sebelum mereka datang. Tapi dengan santai
Pak Tomo menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "Ndak apa-apa.
Ndak usah dipikirkan. Itu cuma salah satu tradisi warga desa ini aja.
Orang-orang yang sudah meninggal biasanya akan dipotong jarinya sama
pihak keluarga, untuk dijadikan kenang-kenangan sebelum dikubur."
Adat getih mawar yang para mahasiswa ini lakukan sebelum memasuki desa saja
sudah janggal. Kini, mereka menemukan satu kejanggalan lain yang terjadi
di dalam desa. Tapi alih-alih mempermasalahkannya apalagi sampai
memperdebatkannya, Abil dan yang memilih acuh dengan hal tersebut. Bukan
mereka bersikap apatis, hanya saja mereka enggan untuk bentrok dengan
semua warga desa jika menentangnya. Jadi daripada mencari masalah,
mereka lebih memilih mencari aman. Dan kini, para mahasiswa itu mulai
berjalan mengikuti Pak Tomo untuk berkeliling desa.
Layaknya seorang pemandu wisata, Pak Tomo berkeliling sekaligus memberitahukan
Abil dan yang lain tentang semua hal yang ada di desa. Dian pun mencoba
berinisiatif mencatat semua informasi yang keluar dari bibir Pak Tomo ke
dalam sebuah catatan. Satu-satunya informasi yang luput dan membuat
Dian bertanya-tanya saat ini adalah tentang warga desa yang memandang
sinis saat melihat keberadaan Abil, Estu, Hagia dan Dian di sana.
Mungkin warga desa tidak suka jika ada orang luar yang masuk ke
lingkungan mereka. Dian mencoba memaklumi hal tersebut, lalu
berpura-pura tidak menyadarinya. Jikalaupun ada warga yang memberi kesan
baik, itu adalah seorang kakek tua yang baru saja tersenyum kepada
Dian. Tapi alih-alih membalas senyuman sang kakek, Dian justru
memalingkan wajahnya, karena takut dengan senyum kakek itu yang terlihat
mengerikan.
Dan saat mereka mulai meninggalkan pemukiman warga untuk masuk lebih jauh ke
dalam hutan, mereka disambut oleh sebuah pohon beringin yang sangat
besar di sana. Tinggi dan rimbun daunnya bukan main. Hagia dan Dian
mulai bergidik di sekujur tubuh saat memandang. Dan tidak jauh di
dekatnya tumbuh pohon beringin lain yang ukurannya belum begitu besar.
Tidak ada cerita khusus di sekitar sini, karena itu Pak Tomo langsung
melanjutkan perjalanan menuju belakang hutan yang sedikit lagi sampai.
Sesampainya mereka di ujung hutan, kini jurang yang seakan tak berdasar menyambut
kedatangan mereka. Dan apa yang dikatakan Pak Tomo dulu adalah benar,
bahwa satu-satunya jalan untuk masuk ke desa hanyalah dari sisi selatan.
Karena selain selatan, semuanya adalah jurang.
Singkat cerita, mereka akhirnya telah selesai berkeliling desa. Kini Pak Tomo,
Abil dan yang lain sudah berada kembali di dalam rumah sang sepuh.
Saat mereka kembali, menantu sang sepuh telah menyiapkan mereka sarapan
pagi. Meski hanya makanan seadanya, ke empat mahasiswa itu mulai
menyantap dengan lahap. Seteleh selesai menyantap sarapan, ke empat
mahasiswa itu mulai membahas program kerja mereka kepada Pak Tomo, Pak
Bimo, dan Sang Sepuh. Proposal yang sebelumnya Abil, Estu, Hagia dan
Dian buat, mulai mereka bahas di depan orang-orang penting desa ini.
Saling menyanggah pendapat satu sama lain tentu tidak dapat terelakkan. Tapi
pada akhirnya, kesimpulan dari rapat kali ini berjalan lancar dan
melahirkan sebuah agenda penting untuk ke depannya.
Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah sang sepuh, mereka semua
mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara teriakan disertai tangisan
yang membuat terkejut siapapun yang ada di sana. Dengan
berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat perkara, tak
terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw