Titan'S 2

Titan'S 2
01


__ADS_3

Relung


Tania Alexandra.


"Gue nggak pernah tau. Bagaimana bisa gue mencintai lo yang seperti mimpi. Maksud gue, lo itu ada, lo itu indah. Tapi perasaan lo nggak pernah nyata untuk gue. Hanya sebatas mimpi."


Mengejar matahari. Sebuah pencapaian yang sangat sulit untuk diraih. Mencintai hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh nalar. Mengagumi tanpa direncanakan, dan menyayangi tanpa mengharap imbalan.


Aku ...


Hanya serpihan luka yang sangat kecil. Luka yang menari bersama bayang-bayang mimpi yang tak mampu kuraih. Aku selalu menceritakanmu pada Tuhan, tentang kamu yang pernah ada dalam mimpi, namun tak pernah nyata dalam hidupku.


Biarkan kuterbang menjauh dengan sepasang sayap yang sudah hancur dan rapuh. Biarkan rasa ini tersimpan dalam relung. Dan biarkan aku tetap mencinta walau takdir tak akan pernah menjadikanmu nyata. Biarkan aku tenggelam dalam semua mimpi yang pernah ada. Hingga aku semakin mengerti, cinta sejati akan tetap menanti.


Jika mencintaimu adalah sesuatu yang salah. Maka selamanya aku tidak ingin benar.


(Catatan: Bogor, 21 Februari 2018)


RELUNG.


Selalu ada kalimat, "Aku bahagia karena kamu." Di balik kalimat, "Yang fana itu kehidupan. Yang kekal itu perasaan. Dan, sesuatu yang berhubungan dengan kamu itu adalah kebahagiaan."


Selalu ada kalimat, "Nggak nyangka, ya. Kita bisa nggak sengaja ketemu gini." Di balik kalimat, "Ini bukan tentang senja. Tapi, tentang aku dan kamu yang dipertemukan tanpa sengaja."


Serangkaian kutipan yang mungkin akan membuat orang-orang di luaran sana merasakan tingkat kebaperan yang tinggi. Bukan kids jaman now rasanya, jika tidak tahu tentang sosial media yang saat ini jauh lebih tenar dibandingkan buku-buku yang terpajang di rak perpustakaan kota. Padahal, mungkin, berbagai tokoh dalam film layar lebar yang berhasil mengundang kebaperan itu terlahir dari tangan para penulis kreatif. Kalau tidak ada penulis, maka tokoh tersebut tidak akan pernah ada. Hanya hidup dalam bayang-bayang khayal yang menari-nari indah dalam angan yang semu. Tidak akan pernah jadi nyata, sama seperti dongeng---yang hanya menjanjikan kebahagiaan setelah merasakan pahitnya luka yang tertoreh di masa lalu.


Siapa yang tidak mengenal Dilan 1990?


Siapa yang tidak mengenal Rangga AADC?


Lantas, adakah yang tahu? Bahwa mungkin kisah panglima Tian Feng atau Cut Fat kay alias tokoh jelemaan **** dalam serial film Sunggokong, jauh lebih membuat siapa saja baper. Dengan kutipan yang ia lontarkan, "bahwa cinta memang begitu, derita tiada akhir." Panglima Tian Feng harus bereinkarnasi seribu kali untuk mendapatkan cinta sejati yang tak berujung pasti. Seribu kali juga ia harus mengalami patah hati. Segala usaha yang dilakukan, sampai pernah mengacak-ngacak roda waktu, hingga mendapatkan satu hukuman dari kaisar langit.


Di jaman now saat ini, mungkin para remaja lebih sibuk mementingkan kesenangan sendiri. Kalau tidak nongkong di warung kopi berlabel cafe kopi mahal, pasti nongkrong di layar tancep modern atau bisa disebut juga bioskop.


Namun, berbeda dengan gadis berwajah manis bernama Tania Alexandra. Ia lebih cenderung menyukai sejarah, membaca buku sejarah dan belajar sejarah. Mungkin, Tania ini adalah gadis satu-satunya yang begitu sangat cuek ke hal-hal yang berbau sastra picisan yang membuat hati terbaper-baper.


"Peristiwa yang menjadi sebab khusus terjadinya perang dunia I adalah Sarajevo Incident. Peristiwa ini berawal dari kunjungan putra mahkota Austria, Frans Ferdinand dan permaisuri ke kota Sarajevo di wilayah Bosnia-Herzelgovina pada 28 juni 1914. Kunjungan itu dimaksudkan untuk melihat kegiatan latihan perang tentara Austria-Hongaria. Ternyata, kegiatan tersebut dianggap menghina dan menakut-nakuti Serbia. Serbia kemudian membentuk gerakan Black Hand (Tangan Hitam). Dengan misi menggagalkan latihan perang. Ketika rombongan putra mahkota dan permaisuri memasuki Sarajevo, Gabriel Princip anggota Black Hand menembak keduanya hingga tewas seketika." Tania menuturkan penjelasan yang ia baca di buku yang ia pegang, dengan suara lantang ia menjelaskan materi itu pada teman sebangkunya.


Lantas, Tania pun melirik sejenak pada teman yang ia ajak belajar dadakan di kelas---sebelum ada guru yang datang mengajar dan memberikan selembaran kertas dengan judul; ulangan harian.


"Pertanyaannya adalah; bagaimana langkah Serbia dalam usaha menggagalkan latihan perang di Sarajevo pada 28 Juni 1914?" Ucap Tania.


"Eh tunggu-tunggu," lantas teman sebangkunya Tania itu malah asyik bermain instagram. "Si Titan upload foto kemenangannya di IG. Dan dia ngasih caption yang enggak banget soal lo, Tania." Ratu berujar dengan mata yang masih fokus ke layar ponselnya.


Tania menghela napas pelan, "lo bisa serius nggak belajarnya? Hari ini itu ada ulangan harian. Lo mau nilai lo jeblok lagi?"


"Lo nggak mau lihat postingannya si Titan di Instagramnya?" Ratu mengalihkan pembicaraan lagi.

__ADS_1


"Duh, gue lagi nggak mau bahas itu."


"Kenapa? Lo baper ya, sama mimpi di siang bolong itu?" Ledek Ratu.


"Please, Rat. Gue lagi nggak mau bahas itu."


"Hm. Gue tau, lo pasti baper, kan? Lagian lo mah ada-ada aja, baper sama mimpi. Baper itu harusnya sama si Dilan. Hehe." Ratu berujar meledek sambil cengengesan. Tania malah tidak memperdulikan ocehan Ratu.


"Tan, lo cek instagram deh. Si Titan kayaknya nantangin lo lagi," ucap salah seorang teman sekelas Tania.


"Iya, Tan. Mending lo cek instagram." Ratu menimpal.


"Emangnya ada apa, sih?" Tania pun seolah tidak mau menanggapi perintah teman-temannya.


"Lo cek aja instagram."


Dengan sangat malas, Tania langsung merogoh ponsel di saku baju seragam sekolahnya. Tania membuka akun instagram miliknya. Dan ...


"Untuk yang kedua kalinya gua mau nantangin Tania buat main badminton! Biar seluruh dunia tau, kalau gue nggak bisa terkalahkan," ucap Tania pada saat membaca caption postingan dari Titan.


Tania berdecak. "Maunya apa sih, tuh orang."


"Lo samperin aja," ucap Ratu.


"Gue nggak bisa."


"Kenapa?"


"Bilang aja kalau lo baper sama mimpi lo."


"Rat, please. Gue lagi nggak mau bahas itu. Bagi gue, mimpi itu adalah hal yang paling terbodoh dalam hidup gue."


"Tania, nih ya, lo harus dengerin gue. Tuhan pasti punya rencana, kenapa bisa lo mimpiin Titan sampai segitunya."


"Lo ngomong apa, sih? Sumpah gue nggak ngerti." Tania berlagak seolah tidak mau mengerti tentang ucapan Ratu tersebut.


"Yeh, dibilangin ngeyel. Jatuh cinta baru tau rasa lo. Kalau dipikir-pikir si Titan ganteng juga. Cewek mana coba yang nggak naksir sama dia. Udah keren, baik, cuek, ala-ala cowok-cowok korea gitu. Sayangnya, cuma penampilannya berantakan. Tapi mungkin dari penampilannya yang berantakan itu yang bikin auranya semakin bersinar-sinar. Titan itu kayak badboy-badboy ala-ala cerita fiksi gitu."


"Nggak, ya. Pokoknya gue lagi nggak mau bahas itu dulu," ucap Tania langsung mengalihkan pembicaraan. Karena Tania takut jika semakin dalam membicarakan Titan, ia semakin sulit untuk menghapus kisah yang ada dalam mimpinya tempo lalu. "Yaudah. Gue mau ke toilet dulu. Lo mau ikut?" Tanya Tania pada Ratu.


"Nggak. Lo aja. Gue lagi asyik main game."


"Oke."


Tania lantas berlalu meninggalkan kelas ini. Sejak bermimpi seperti hari kemarin, Tania sedikit berubah. Ia begitu sangat menjaga hatinya. Bahkan, Tania tidak begitu menanggapi kicauan-kicauan buruk yang dilemparkan Titan untuknya. Biasanya, Tania selalu marah kalau Titan meledeknya. Namun kali ini, Tania seperti takut. Bukan takut karena tidak berani melawan Titan. Tapi, Tania takut jika ia jatuh cinta dan jatuh hati pada Titan. Karena sosok Titan yang ada dalam mimpi Tania masih kerap menghantui pikiran Tania. Saat ini, Tania hanya sedang menjaga hatinya agar tidak jatuh. Jatuh cinta?


Tania menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang tenang, namun pandangannya fokus ke depan. Sesekali ia berdecak, karena pikirannya masih saja dihantui oleh mimpi di siang bolong tempo lalu.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa bisa sih, harus mimpiin Titan segala? Kenapa dalam mimpi itu gue sama Titan pacaran? Kenapa juga gue sampai harus baper sama mimpi itu? Bisa mati berdiri nih kalau lama-lama kayak gini," batin Tania.


Pandangan Tania memang terlihat fokus lurus saat berjalan. Namun pikirannya sama sekali tidak fokus. Jika biasanya anak gadis di luar sana terserang baper pada saat setelah membaca sebuah novel dan atau menonton film layar lebar. Tania justru malah sibuk baper terhadap kisah yang terdapat dalam mimpinya di siang bolong tempo lalu. Tania kini bahkan sekuat tenaga untuk mengembalikan cara berpikir otak kecilnya, bahwasanya Titan yang ada dalam mimpinya itu hanya sekedar mimpi tidak untuk jadi nyata.


Tiba-tiba ...


DUG!


"Kalau jalan lihat-lihat, dong!" Sentaknya, sinis.


Tania tidak sengaja menabrak seseorang. Dengan segera ia langsung meminta maaf pada seseorang tersebut. "Maaf. Gue enggak sengaja."


"Emang lo kira minta maaf cukup?" Katanya sinis.


"Yaelah, Deby. Gue minta maaf. Kenapa harus diperpanjang? Gue kan nggak sengaja."


"Lo nggak tau sekarang lo lagi berhadapan sama siapa?" Ucapnya semakin sinis. Tania berdecak sebal pada seseorang ber-nametag Deby Gheana, siswi kelas 11 IPS 2 itu bersikap bak seorang ratu penguasa sebuah wilayah. Ya, Deby ini teman sekelasnya Titan.


"Ya tapi kan ...." Ucapan Tania terputus, karena seseorang datang menghampirinya dengan begitu santainya.


"Udah, Deb. Biar cewek judes ini jadi urusan gua. Lo pergi aja." Seseorang bersuara bas tersebut malah menyuruh Deby untuk pergi. Dan sialnya, Deby seperti terhipnotis oleh ucapan cowok itu.


Tania menghela napas, saat melihat Deby---cewek yang terkenal sangar itu justru malah takluk dan tunduk pada cowok yang kini berdiri tepat di hadapan Tania.


"Eh, cewek judes. Lo berhadapan sama gua. Kenapa lihatinnya ke sana?" Katanya, cukup santai. Namun tetap terdengar menyakitkan.


"Gu-gue ...." Tania tampak gugup. Ia seperti orang bodoh kali ini.


"Kenapa gugup? Lo grogi ngomong sama gua? Bisa grogi juga lo, ya," ucapnya sambil tersenyum miring meremehkan.


"Gue nggak tau lagi, entah mau sampai kapan gue terus dihantui bayang-bayang sosok Titan yang ada dalam mimpi gue," batin Tania saat melihat secara detail wajah cowok yang kini berada tepat di hadapannya.


"Oh, iya. Lo udah lihat postingan akun instagram gua?" Tanyanya.


"Kenapa?" Tania justru malah balik bertanya.


"Gue mau nantangin lo main badminton lagi," ucapnya. Sepasang matanya itu menatap lekat ke arah Tania. Tania seperti terpaku sendiri saat melihat mata itu. Mata yang sangat ia kenali.


"Mata itu," ucap Tania sangat pelan. Titan pun mengernyit heran.


"Mata?" Heran Titan.


Tania menutup matanya sejenak, lalu membukanya seraya mengeluarkan ucapan, "gue nggak bisa main badminton lagi. Gue nggak mau berurusan sama lo lagi. Gue capek berantem terus sama lo. Gue lelah, Titan. Pokoknya gue nggak mau berurusan sama yang namanya Titan Wirasena Rajendra! Camkan itu!" Tania berujar dengan suara penuh penekanan. Lalu, Tania berlalu tanpa sepatah kata lagi. Titan terdiam sejenak saat mendengar kalimat itu.


Namun, saat beberapa langkah Tania menjauh, Tania membalikkan badannya kembali menghadap ke arah Titan. "Satu lagi, lo bilangin ke si Deby, Kalau gue minta maaf. Dan gue nggak mau sampai jadi panjang masalahnya hanya karena gue nggak sengaja nyenggol dia. Dan buat lo, lo nggak usah repot-repot nyari masalah sama gue. Karena, hidup gue udah terlalu banyak masalah. Jangan lo tambah-tambahin lagi." Tania berujar sangat serius. Titan hanya menautkan alisnya sebelah. Kemudian, Tania kembali membalikan badan dan berjalan untuk berlalu.


Dengan tangan yang melipat dan tatapan santai tertuju lurus saat menyaksikan punggung Tania yang semakin berlalu, Titan hanya mengernyit aneh.

__ADS_1


__ADS_2