
(REGA👆)
Hari pun telah berganti. Saat ini, tepat di hari kamis, saat matahari mulai menampakkan sinarnya dan berhasil masuk menerobos celah jendala kamar, lantas pemuda berwajah oriental itu langsung bangun tanpa aba-aba. Sontak, melihat sekeliling kamarnya, berusaha mencari tahu jam berapa sekarang.
"******! Jam setengah 6!" Makinya.
Pemuda itu langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil handuk yang bertuliskan 'Rega sayang Mama'. Bukan malah masuk ke kamar mandi yang terdapat di dalam kamar tidurnya, Rega justru lari ngibrit keluar kamar. Ya, mungkin karena kamar mandi yang terdapat di kamar tidurnya sedang rusak, itu sebabnya ia mencari jalan lain. Setidaknya, ada satu kamar mandi dekat dapur, yang biasa dipakai cadangan jika kamar mandi lainnya sedang rusak atau sedang ada perbaikan.
"Woy! Siapa di dalem!" Teriak Rega saat harus terpaksa merutuk kesal karena sudah didahului seseorang untuk masuk kamar mandi.
"Ada bidadari di dalem! Jangan berisik!" Teriak seseorang dari dalam kamar mandi tersebut.
"Jadi, yang di dalem itu Teh Ochi? Aelah. Buruan keluar, Teh. Udah jam setengah 6! Gue 'kan harus tiba di sekolah lebih awal!" Teriak Rega.
"Gue lagi sabunan, Su. Emangnya kamar mandi lo nggak bisa dipake?" Katanya.
"Kamar mandi gua rusak. Buruan, Teh!"
"Masih jam setengah 6! Lo 'kan sekolah masuk jam 7! Buru-buru amat!"
"Gua 'kan anak basket. Gua ada janji sama anak-anak. Soalnya 'kan hari kamis itu emang jadwalnya gua latihan pas pulang sekolah, dan biasanya pagi-pagi kita itu selalu ada persiapan, atau nyempetin ngumpul."
"Eh, Su, lo mau jadi anak durhaka?!" Teriaknya menggema dari dalam kamar mandi tersebut.
"Durhaka kenapa?"
"Lo bilang tadi katanya lo anak basket. Gimana ceritanya lo anak basket? Lo 'kan jelas-jelas anaknya Bokap-Nyokap. Kalau Bo-Nyok tau, lo pasti dicap sebagai anak durhaka, karena lo nggak mau nganggep mereka adalah orangtua lo!"
"Lo ngomong apa, sih, Teh! Nggak jelas!"
"Orang cantik kayak gue mah bebas mau ngomong apa aja!"
Rega langsung merutuk tidak jelas. Rasanya ia ingin menelan sandal jepit yang saat ini ia pakai. Kalau bukan Rosi Prameswary itu adalah Kakak semata wayangnya, mungkin ia akan menggebrak pintu kamar mandi itu. Anehnya, memang, Kakaknya Rega itu tidak pernah memanggil nama Rega, kalau tidak menyebut Rega dengan panggilan Udin, yaa ujung-ujungnya mentok dengan nama panggilan Su-alias bungsu. Karena Rega adalah anak bungsu di rumah ini.
"Kamar mandi lo kenapa nggak lo pake, Teh?"
"Kamar mandi gua lagi direnovasi! Lagi dipakein tema hello kitty."
"Terus harus sampai kapan gue nungguin lo keluar?!"
"Sampai gue udah syantik."
"Aelah!"
"Tunggu setengah jam lagi aja!"
"Kelamaan!"
"Ya udah. Lo nggak usah mandi sekalian! Karena biasanya lo 'kan emang jarang mandi!"
"Oke! Cepetan! Gua tunggu setengah jam lagi!"
Usia Rega dan Rosi tidak terpaut terlalu jauh. Rosi yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas, dan akan segera mendaftar ke Universitas terbaik di kota Bandung ini. Itu sebabnya, Rega dan Rosi memang terlihat bukan seperti Kakak-Adik, tapi cenderung terlihat seperti musuh bebuyutan. Akan tetapi, ada pula moment di mana keduanya saling kompak satu sama lain, apalagi kalau di hadapan orangtua-biar terkesan sehati saja-padahal nyatanya, ibarat kucing dan anjing. Rosi tidak suka dipanggil Kakak, ia lebih senang dipanggil Teteh, itu sebabnya kadang-kadang Rega selalu meledek Rosi dengan sebutan Teh Poci. Karena memang, nama panggilan Rosi adalah Oci. Maka dari itu, Rega memplesetkan nama Oci dengan Poci.
"Tapi gua masih lama!" Teriaknya, lagi.
"Ya lamanya sampai kapan?!"
"Sejam lagi!"
"Buset! Lo mandi apa konser, Teh?!"
__ADS_1
"Terserah gue! Orang cantik mah bebas mau ngapain juga!"
"Kampret!" Gumam Rega pelan, dengan wajah menahan kesal, akhinya Rega pun kembali ke kamarnya.
Terpaksa, Rega hari ini tidak mandi-Karena ia harus pergi ke sekolah lebih awal dari hari-hari biasanya. Setidaknya, wangi parfum bisa memanipulasi orang-orang di luar sana. Tidak akan ada yang tahu juga jika Rega tidak mandi hari ini. Rega selalu mempunyai senjata ampuh untuk memanipulasi pikiran orang-orang. Wajahnya memang tampan, tapi terkadang, perilakunya yang super absurd dan cara berpikirnya yang melebihi cara berpikir orang-orang normal pada umumnya. Tidak, bukan tidak waras. Hanya saja, Rega memiliki karakter yang unik.

Saat berada di kamarnya, Rega dengan santainya memakai baju seragam sekolah. Setelah selesai, ia pun menyisir rambutnya di depan cermin, seraya melihat pantulan dirinya di cermin.
"Wajah lo terlalu tampan, Rega." Rega berujar over percaya diri, pada pantulan dirinya di cermin.
"Sungguh mati, aku jadi penasaran. Sampai mati pun akan kuperjuangkan, memang dia yang paling manis di antara gadis yang lain, aku pun tak merasa heran, kalau dia jadi rebutan. Sungguh mati aku jadi pen-eh, ada elo ternyata." saat berbalik badan, Rega berhenti bernyanyi, ia malah nyengir kuda-menunjukkan deretan giginya. Lalu, Rega terlihat malu sendiri, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Lo dari sejak kapan di sini, Gael?" Tanya Rega.
"Suara lo nggak jelek-jelek amat. Tapi nggak bagus-bagus amat." Gael terkekeh.
"Sialan. Lo nggak tau sih rasanya jatuh cinta."
"Lo lagi jatuh cinta? Sama siapa?"
"Sama anaknya Pak RETE"
"RT mana?"
"RT kompleknya si Jonathan."
"Oh."
"Iya. Cantik banget orangnya. Jadi, gue naksir berat sama dia. Nggak bakal gue sia-siain, deh. Kalau sampai Tuhan mengizinkan gue untuk memiliki dia, maka cuma dia satu-satunya perempuan yang berhak atas seluruh hati gue."
"Tayi!" Gael justru malah meledek Rega. "Gue nggak nanya soal itu." Gael kembali berujar, Rega hanya berdecak pelan.
"Ada apa lo pagi-pagi ke sini?"
"Mastiin apa?"
"Lo mandi apa nggak?"
"Gue mandi, kok." Rega langsung berujar seperti orang yang benar-benar melakukan ritual membersihkan diri di pagi ini. Gaya bicaranya seperti sangat meyakinkan. Namun, Gael malah terkekeh.
"Mandi pake apa?"
"Pake air, lah."
"Pake air?"
"Iya, pake air. Pake air segelas. Hehe." Rega langsung menyeringai polos. "Ya, abisnya, gue hidup di rumah mewah, tapi kamar mandi semuanya lagi ada perbaikan, lah. Terus ada yang lagi direnovasi, lah. Ada yang rusak juga. Lo bayangin, rumah segede ini, cuma ada satu kamar mandi yang berfungsi. Gimana nggak menderitanya hidup gue ini, yang harus terpaksa nggak mandi pagi. Lagian, gue mah sih percaya, kalau kata orang, punya wajah ganteng mah bebas, mau diapain juga ganteng. Mau nggak mandi juga, ya tetap ganteng."
"Lo terlalu over percaya diri. Soal kamar mandi, lo harus sabar."
"Capek gue sabar mulu."
"Yaudah, kalau gitu, mati aja gih."
"Kampret! Gue belum kawin, coy."
"****. Pikiran lo jauh juga ternyata."
"Karena gue takut aja kalau mati muda, nanti arwah gue gentayangan."
"Gentayangan kenapa?"
"Gentayangan karena penasaran sama malam pertama pengantin." Rega berujar seperti bisikan, diiringi suara tawa yang ditahan-tahan.
__ADS_1
"Oh. Gue kira gentayangan karena banyak utang."
"Sialan!"
"Hehe."
"Ketawa?"
"Nangis."
"Oh."
"Ekhem. Ada yang mau gue kasih tau ke elo. Itu sebabnya gue pagi-pagi ke sini."
"Ngasih tau apa?" Rega memasang wajah datar sembari memakai dasi di kerah baju seragam sekolah yang ia kenakan.
"Gue udah ngasih pilihan ke Tania, untuk bisa menemui Daviel di dimensi lain. Cara pertama yang gue kasih itu adalah koma. Padahal itu adalah cara satu-satunya yang paling mudah. Tapi, Tania memilih pilihan terakhir."
"Oh, udah sejauh itu tahapnya, Gael? Emang pilihan terakhir itu isinya apa?"
"Dia harus siap patah hati."
"Serius? Dia milih pilihan itu?"
"Ya."
"Emang pilihan-pilihan sebelumnya apa?"
"Pertama, Koma. Kedua, memegang dan menggenggam tangan Titan sampai berjam-jam agar dia masuk ke dalam bayangan sosok Daviel, karena melalui tangan Titanlah, bisa menemukan semua jawaban-jawaban, soalnya Titan adalah sosok pemeran pengganti dari sosok Daviel. Ketiga, mendapatkan setetes darah dari jari telunjuk Titan untuk diteteskan di tangan kanan Tania, itu akan membuat Tania terantar ke dalam dunia bayangan untuk menemui Daviel. Kenapa bisa darah Titan? Ya, karena itu tadi, peran Titan di sini adalah tokoh utama yang menjadi pemeran pengganti. Dan yang terakhir, mengorbankan perasaan sendiri, atau berani patah hati dan terluka."
"Jadi?"
"Ya, Tania memilih pilihan terakhir."
"Dia kenapa pilih yang terakhir?"
"Karena dia nggak sanggup sama pilihan sebelumnya."
"Kenapa coba?"
"Lo tanya aja deh sendiri sama orangnya."
"Coba nanti gue tanyain, ya. Tapi kalau ketemu itu juga." Rega pun langsung meraih tas sekolahnya, dan mulai bergegas melangkah keluar kamar. Rega berlalu begitu saja, sementara Gael terlihat menggelengkan kepala dan terkekeh.
Saat baru saja keluar kamar, tiba-tiba secara kebetulan, Rosi melewati kamar Rega. Dan melihat Rega dengan tatapan aneh.
"Lo mau sekolah?" Tanya Rosi, sambil membenarkan handuk di bahunya sendiri.
"Ya, iyalah."
"Lo yakin udah siap untuk sekolah?"
"Yakin."
"Aduh, Udin, ini masih pagi. Nggak baik, ah."
"Gue 'kan ada janji sama anak-anak basket, jadi hari ini gue harus datang lebih pagi."
"Bukan itu maksud gue!"
"Apaan dong?"
"Hello! Lo mau bikin anak-anak cewek teriak histeris di sekolah lo, hah? Lo mau pamer kepemilikan lo? Lo mau dibilang sexy? Lo mau dibilang hot? Lo lihat ke bawah! Lo belum pake celana! Emang cara berpakaian ala-ala anak basket gitu, ya? Atasannya mah rapi, pake dasi, pake bagde logo sekolah, pake nametag. Eh, ke bawahnya vulgar, cuma pake kolor doang," cetus Rosi. Rega pun malu setengah ******, dan Rega langsung balik ke kamarnya tanpa sepatah kata lagi.
__ADS_1
To Be Continued....