
Saat langit berubah gelap. Semua bintang pun mulai memancarkan cahayanya yang gemilang. Hari sudah malam, saat di mana semilir angin malam siap menyusup masuk ke dalam celah jendela yang dibiarkan terbuka. Jangan tanya mengapa, karena angin adalah teman terbaik untuk angan-angan kosong. Dan malam-malam sepi adalah teman terbaik untuk mimpi-mimpi yang tak sempat terangkat menjadi kata dalam narasi. Setidaknya, bahagia itu akan tetap ada untuk hati yang selalu berharap bahwa cintanya akan tetap menanti di keabadian sejati.
Begitu dengan Tania, yang saat ini tengah fokus membaca buku sejarah kesayangannya. Ia akan menjadi lebih serius ketika hanyut dalam tumpukan buku sejarah. Tidak akan bisa ada yang mengganggu konsentrasi belajarnya, kalau memang bukan karena; ia memikirkan hal lain selain belajar.
"Gael?"
Tania memanggil Gael, karena malam ini pikirannya menjadi sulit untuk berkonsentrasi. Sesuatu telah merasuk ke dalam pikiran Tania.
"Iya?" Gael menampakan dirinya secara tiba-tiba. Lihatlah, Gael berdiri tampak santai yang menyandarkan punggungnya ke lemari, sedangkan kedua tangannya melipat. Sorot matanya pun mengarah pada Tania, namun kepalanya memang terlihat sedikit menunduk.
"Gue nggak bisa konsen."
"Kenapa?"
"Masih kepikiran sama yang tadi siang."
Gael menggaruk daun telinganya—yang sama sekali tidak gatal. Senyum tipis itu akhirnya mengembang di bibir Gael. Gael merasa kalau saat ini Tania sudah seperti seorang anak kecil yang merengek minta jawaban dari pertanyaan soal-soal ujian yang diberikan oleh guru TK. Lantas, Gael menghampiri Tania dengan langkah yang santai, Gael mencoba untuk menjelaskan semuanya lewat sepasang mata sayu Gael yang begitu sangat memesona itu.
"Biar gue yang nemenin lo belajar." Gael tersenyum seraya memegang bahu Tania.
"Tapi gue nggak bisa konsen."
"Kenapa? Karena Titan lagi?"
Tania mengangguk pelan.
"Hey. Lo nggak usah repot untuk memikirkan hal serumit itu. Karena untuk apa ada gue di sini, kalau emang lo masih aja bingung kayak gini. Semaksimal mungkin gue bakal bantuin lo. Apa perlu gue mewujudkan jelemaan para bintang untuk membantu masalah lo ini?"
Tania terdiam dan hanya mampu membalas tatapan Gael.
Gael langsung mengalihkan pandangannya pada buku sejarah yang sedari tadi terletak di meja belajar Tania. Gael pun meraih buku sejarah tersebut, lalu perlahan membuka lembaran demi lembaran buku itu.
"Lo suka sejarah?"
Tania mengangguk pasti. "Iya."
"Hampir semua rak buku lo semua judul bukunya sejarah."
"Iya. Gue emang penikmat sejarah banget. Ya, gue juga nggak tau alasannya kenapa. Tapi yang pasti hati gue selalu seneng kalau belajar sejarah atau hanya sekedar membaca-baca dan memahaminya, gue tetap suka. Dan, hampir setiap malam gue emang belajar sejarah walaupun misalnya besok itu nggak ada jadwal pelajaraan itu. Tapi, kalau yang sekarang gue belajar, emang buat besok. Karena besok ada pelajarannya." Tania berujar panjang lebar, dan tampaknya Gael berhasil mengalihkan pikiran Tania. Lalu, Gael tersenyum tipis-karena Tania sudah terpengaruh untuk mengalihkan pikiran-pikiran kacaunya.
"Oh. Kalau gitu, lo berarti tertarik buat mempelajari ilmu gue?"
"Ilmu lo? Ilmu apaan?"
"Gue 'kan termasuk makhluk yang hidup di jaman pra sejarah."
"What?!"
"Jangan kaget."
"Berarti, lo itu ... Manusia purba?"
Gael langsung menghela napas, dan memasang wajah datar. "Dodol! Ya, nggak gitu juga kali. Gue bukan manusia purba. Mana ada manusia purba seimut dan seganteng gue."
Tania lantas langsung nyengir kuda. "Hehe. Iya, ya. Wajah lo emang nggak ada tampang-tampang manusia purba."
"Ya, iyalah."
"Kalau dipikir-pikir, lo mirip sama Kai."
"Kai?" Gael mengernyit.
"Iya. Kai. Kim Jong-in personil EXO."
Gael langsung terkekeh mendengar kalimat itu. Tampaknya Gael meremehkan perkataan Tania. "Masih gantengan gue kemana-mana, Tania. Lo nggak bisa bandingin gue sama si Kai Exo."
"Yeh, serius gue. Lo mirip sama dia."
"Nggak. Masih gantengan gue."
"Pede banget. Gue bilangin Kai lo, ya."
"Emangnya lo kenal dia?"
"Ya nggak, sih. Ketemu juga belum pernah." Tania cengengesan.
__ADS_1
"Mangkanya. Udah. Titik. Intinya, gantengan gue dibandingin si Kai yang lo maksud itu."
"Hm. Iya, iya." Tania akhinya menyerah, karena Gael seperti tidak ingin mengalah dalam perdebatan kecil ini. Gael tidak ingin dirinya disama-samakan dengan orang lain. Karena Gael akan tetap menjadi Gael—makhluk keabadian yang berjiwa sederhana, namun kesepian.
"Udah malam. Sebaiknya lo tidur." Gael menyuruh Tania untuk tidur lebih awal, karena memang besok Tania harus berangkat ke sekolah pagi-pagi.
"Iya."
"Kalau misalkan lo masih bingung. Besok setelah pulang sekolah, lo mampir dulu ke rumah bokap lo yang lama. Ambil lukisan gue di sana. Setelahnya, lo bisa jenguk Tristan di rumah sakit. Lo harus tau bagaimana keadaan Tristan sekarang. Karena, mungkin, Tristan hanya menunggu waktu untuk mati meninggalkan dunia ini." Gael berujar serius, Tania pun tak bisa berkutik apa pun selain menelan salivannya secara pelan—saat mendengar perkataan Gael itu.
"Ada rencana memang gue akan pergi ke rumah Bokap setelah pulang sekolah besok. Dan, gue akan jenguk Tristan di rumah sakit." Tania berujar pelan, tanpa berani menatap mata Gael. "Oke. Lo bisa pergi. Gue mau tidur. Selamat malam dan selamat tidur." Tania pun beralih ke tempat tidur untuk merebahkan tubuh lelahnya di sana. Gael hanya melemparkan senyum saja dan menghilang—larut terbawa bersama hembusan angin malam.
***
Saat malam telah terlewati, akhirnya mentari pun kembali menyapa di pagi hari. Suara kicauan burung dan ayam berkokok mulai menghiasi pagi. Tidak menjadikannya aral oleh segelintir orang, karena rutinitas pagi hari memang selalu seceria ini.
Lihatlah, saat ini Titan sudah rapi mengenakan pakaian seragam sekolahnya. Ia berjalan menelusuri jalanan kota dengan hati yang tampak tidak terbebani akan sesuatu hal-yang belakangan ini mengganggu pikirannya. Setiap pagi, Titan selalu menyempatkan diri untuk bertemu seseorang yang ia sebut 'pacar' itu sebabnya, Titan selalu mengawali pagi dengan setipis senyuman yang terukir di bibirnya.
Kini, Titan berdiri di halte bus. Bukan, bukan sedang menunggu bus berhenti. Tapi, ia sedang menunggu seseorang datang. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Dan pada akhirnya, setelah menunggu hampir 10 menit, seseorang itu datang menghampiri Titan.
"Nak,"
Titan langsung tertoleh pada saat seseorang memanggilnya dengan sebutan 'Nak.' Seseorang itu terlihat berwajah tua dan lemah. Hanya kursi roda yang membantu seseorang itu untuk bisa pergi ke mana saja yang ia mau. Rambut putih, dan deretan gigi yang sudah bercelah, membuat Titan menatap penuh arti pada seseorang itu. Jelas, Titan sangat menyayangi seseorang yang kini duduk di kursi roda yang mengarah pada Titan.
"Nenek." Titan langsung berlutut di hadapan neneknya. Sosok wanita yang ia sebut 'pacar' pada teman-temannya. Tentu, Jonathan dan Rayn mengetahui hal ini.
"Di mana kedua temanmu?"
"Jonathan sama Rayn udah berangkat duluan, Nek."
"Kamu kenapa masih di sini? Nenek tidak perlu kamu tunggu. Nenek 'kan udah ada Mbak Riana yang selalu mengantarkan Nenek ke mana pun yang Nenek mau. Setiap pagi, Nenek akan pergi ke rumah putih, di sana memang Nenek menemukan kebahagiaan Nenek. Tapi, Nenek akan tetap bersama kamu. Nenek menyayangi kamu," ucapnya dengan teduh. Titan tersenyum pada saat kedua tangan Neneknya menyentuh pipi Titan.
"Saya sangat menyayangi Nenek. Dan saya, menganggap kalau Mbak Riana adalah Kakak saya." Titan tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Nenek tersebut.
Lantas seseorang yang berdiri di belakang kursi roda Nenek itu, melemparkan senyumnya pada Titan. "Kamu langsung aja pergi ke sekolah. Udah siang. Nanti telat," katanya begitu manis.
"Baik, Mbak." Titan mengiyakan dengan sigap.
"Kalau soal Nenek, serahkan semuanya ke Mbak. Mbak pasti bantu."
"Itu karena, Mbak bisa menemukan keluarga baru di sini."
"Saya janji. Saya akan membahagiakan kalian berdua. Kalian berdua adalah wanita yang sudah sepatutnya saya jaga." Titan berujar dengan senyuman.
"Iya."
"Kalau gitu, Mbak jagain pacar saya ini dengan baik, ya. Kalau sampai lecet, saya akan marah sama Mbak." Titan berujar jahil, sementara Neneknya itu langsung mencubit pelan pipi Titan.
"Kamu selalu saja begitu, bilang kalau Nenek ini adalah pacarmu. Jangan bikin Nenekmu ini berasa ingin kembali ke masa muda dulu."
Titan terkekeh. "Di mata Titan, Nenek tetap kelihatan awet muda. Nenek cantik. Nenek adalah segalanya untuk Titan di saat Mama dan Papa udah nggak peduli lagi sama Titan."
"Sudah. Biar begitu, mereka adalah kedua orangtuamu, Dek. Kamu harus bisa menghormati kedua orangtuamu." Mbak Riana itu menasehati Titan, dan Titan langsung mengangguk disertai senyuman.
"Dengarkan Mbak Riana bilang. Sudah, Nenek dan Mbak Riana akan pergi, nanti jam 2 siang Nenek pasti akan pulang. Kamu sekolah yang baik, jadilah kebanggaan Nenek." Wanita paruh baya itu lantas langsung mencium kening Titan dengan penuh dengan sentuhan kasih sayang.
Beberapa detik kemudian, Titan memberikan jalan untuk Neneknya juga Mbak Riana. Mbak Riana memang sudah menjadi teman terbaik untuk Nenek, kemana pun Nenek ingin pergi, Mbak Riana selalu setia mendorong kursi roda Nenek dan mengantarkan Nenek.
Titan memandangi punggung Mbak Riana yang semakin berlalu dari pandangannya. Hanya dengan tersenyum, Titan mengekspresikan perasaannya pagi ini. Beberapa detik setelah itu, senyum Titan luntur, karena terbesit satu peristiwa yang terekam di memori otak Titan.
"Hari ini gua akan bolos sekolah," ucap Titan pelan.
Tanpa disadari oleh Titan, ternyata ada yang sedang memerhatikan Titan di kejauhan. Lantas, seseorang yang sedari tadi memerhatikan Titan itu langsung menghampiri Titan dengan berlari mendekat ke arah Titan berdiri saat ini.
Titan membalikan badannya. Dan, alangkah terkejutnya Titan pada saat seorang gadis tengah berdiri berhadapan dengannya dan menghalangi jalan Titan. Seketika itu, wajah Titan berubah datar, dengan tatapan seperti 'buat apa sih lo di sini?'
"Jadi, yang selama ini lo sebut pacar itu ... Nenek lo sendiri?" Katanya tanpa basa-basi.
"Kenapa?" Titan berucap malas. "Ada masalah buat lo?" Titan berujar, lagi.
"Ah, anu, itu, hm, anu. Maksud gue, ada hubungan apa lo sama Kak Riana?" Gadis ber-nametag Tania itu justru langsung gugup bukan main. Lalu, dengan spontan ia justru menanyakan Kak Riana. Yang entah mengapa dunia sesempit ini, wanita dewasa yang Titan sebut 'Mbak Riana' itu adalah 'Kak Riana' guru private Tania waktu SMP.
"Lo kenal Mbak Riana?"
"Iya. Jelas gue kenal. Dia guru private gue waktu SMP."
__ADS_1
"Terima-kasih."
Tania langsung terkejut dan terheran, mengapa Titan mengatakan kata terima-kasih untuknya. Tania benar-benar bingung dibuatnya.
"Terima-kasih buat apa?"
"Karena omongan lo tadi, membuat gue gak perlu repot mencari jawaban yang selama ini gue cari. Jadi, lo harus sadar. Kebencian yang tumbuh di hati gue itu karena hal yang lo lakuin ke orang-orang yang berarti dalam hidup gue. Ya, emang, Mbak Riana bukan bagian dari keluarga gue. Tapi, dia sudah gue anggap seperti bagian dari keluarga gue." Titan berujar panjang lebar, dan ini semakin membuat Tania kebingungan.
"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti."
"****! Jangan sok polos jadi cewek. Wajah lo terlalu menipu banyak orang. Lo 'kan yang udah membuat pernikahan Mbak Riana sama cowoknya gagal?" Perkataan Titan begitu sangat menyakitkan untuk didengar. Dan, Tania langsung terkejut mendengar perkataan itu.
"Lo tau soal cowoknya Kak Riana? Berarti lo juga tau kalau Trist—"
"Gue nggak mau banyak berdebat sama lo. Dan sekarang, alasan kenapa gue terlalu ngusik kehidupan lo, sampai gelar lo di eskul badminton gue rebut, itu bukan karena alasan gue berambisi sama eskul itu. Tapi karena, gue emang teramat sangat benci sama cewek yang bernama Tania Alexandria." Titan berujar dengan pelan namun terdapat penekanan-penekanan di setiap kata-katanya. Sorot matanya pun menajam terarah pada Tania.
Sepasang mata Tania berkaca-kaca seraya menatap tajamnya sepasang mata Titan yang terasa sangat perih.
"Lo salah paham." Tania berusaha menjelaskan.
"Salah paham?" Titan tersenyum kecut dan menggelengkan kepala pelan. "Seharusnya lo sadar, gue udah mengetahui semua tulisan-tulisan lo yang ada di buku catatan kecil milik lo. Tulisan itu lo dedikasikan untuk pacarnya Mbak Riana, 'kan?" Ucap Titan tajam.
"Apa? Lo udah baca isi buku catatan kecil gue?" Tania langsung meneteskan air matanya yang sedari tadi meronta ingin terjun bebas membasahi pipinya.
"Iya. Gua udah baca semuanya."
Titan mengulangi kata kalau ia telah membaca semua isi dari buku catatan kecil Tania-buku catatan kecil yang tempo lalu dikembalikan oleh Titan pada Tania. Saat itu juga, rasa merinding menyerang tubuh Tania, gemetar, seakan tidak kuat mendapatkan perkataan tajam yang terlontar dari mulut Titan.
Tania mengusap air matanya sendiri. "Apa lo tahu siapa cowoknya Kak Riana?" Tanya Tania berhati-hati.
"Apa perlu gue jawab?"
"Setidaknya, apa lo tahu siapa nama pacarnya Kak Riana?"
"Nggak ada yang harus dipertanyakan lagi. Semuanya udah jelas. Selamanya, gue akan tetap benci sama cewek kayak lo." Titan berujar tegas.
Titan pun berlalu meninggalkan Tania, seolah tidak peduli dengan air mata yang keluar dari sepasang mata indah Tania.
Mengapa rasanya sesakit ini? Jantung Tania seakan ingin berhenti untuk berdetak.
"Jangan bersedih. Setidaknya, lo udah tau siapa pacarnya Titan." Gael menampakkan dirinya di hadapan Tania. Tania langsung menangis—memperlihatkan kerapuhan hatinya di hadapan Gael.
"Tapi, Titan benci sama gue."
"Bukannya, selama ini yang lo tau itu kalau Titan emang membenci lo? Kalian musuh bebuyutan 'kan?"
"Tapi rasanya nggak sesakit ini, Gael."
"Itu karena cinta yang singgah di relung lo."
"Tapi, seharusnya Titan sadar, kalau tulisan gue itu bukan ditunjukkan untuk Tristan. Tapi tulisan gue itu ditunjukkan untuk Titan. Kenapa sih, gue nggak bisa mengerti dan memahami karakter Titan di dunia nyata ini? Kenapa coba? Rasanya buku sejarah lebih mudah untuk gue pahami ketimbang harus memahami karakter Titan. Karena Titan di dunia nyata sama Titan yang ada di dalam mimpi gue itu berbeda." Tania berceloteh, Gael hanya tersenyum tipis mendengarkan celotehannya.
"Lo nggak bisa samain Titan sama buku sejarah kesayangan lo, walaupun Titan juga termasuk ke dalam kesayangan lo." Gael berujar seraya menepuk bahu Tania pelan.
"Ya, tapi 'kan—"
"Lo tenang aja."
"Gimana mau tenang coba? Titan udah tau pacarnya Kak Riana. Pacarnya Kak Riana 'kan Tristan."
"Titan emang tau pacarnya Riana. Tapi dia nggak tau kalau pacarnya Riana itu adalah Tristan. Tristan yang Titan anggap adalah Kakaknya. Makanya, lo tetap bisa tenang. Karena kalau sampai Titan tau kalau ternyata calon suami gagalnya Riana adalah Tristan. Titan akan membenci lo jauh lebih dalam lagi. 'Kan gue udah memperingatkan lo juga Udin, jangan sampai Titan tau keberadaan Tristan, atau status Tristan yang pernah menjadi calon suami Riana. Karena perlu lo tau, Titan menyayangi Riana selayaknya Kakak kandung." Gael berujar panjang lebar.
Tania terdiam. Ia mengerti apa yang dikatakan Gael. Lalu, Tania menghela napas pelan dan menghapus air matanya sendiri.
"Gue harus bolos sekolah hari ini." Tania memantapkan hatinya untuk bicara seperti itu.
"Kenapa? Bukannya hari ini ada pelajaran sejarah?" Gael terheran.
"Ini adalah pertama kalinya dalam hidup gue, gue bolos. Dan ini juga hal pertama kalinya bagi gue bolos di saat ada jam pelajaraan sejarah. Ada hal yang harus gue selesaiin. Gue harus ketemu sama Tristan. Ya, gue harus ketemu Tristan di rumah sakit, sekarang juga."
Tanpa memberikan kesempatan Gael untuk bicara, Tania pun pergi dan berlari ke arah utara menuju rumah sakit yang pernah Gael katakan tempo hari. Tania sangat nekat hari ini, entah hal apa yang telah merasuk ke dalam dirinya. Dalam hidupnya, Tania akan mengutuk hari di mana di hari itu ada pelajaran sejarah, akan tetapi ia melewatkan hari itu dengan sengaja. Ini kali pertama untuk Tania mengabaikan pelajaran sejarah—yang menjadi pelajaran favoritnya. Yang pasti, Tania sedang dihadapkan oleh perasaan 'takut' jika Titan membencinya jauh lebih dalam lagi.
"Percuma saja, lo akan sia-sia aja nantinya." Gael menatap punggung Tania yang telah menghilang dalam pandangannya. Ada perasaan iba di hati Gael, namun Gael harus tetap menjalankan tugasnya sampai Tania benar-benar mengerti tentang perasaan rumit yang kini menyerang relung hati dan palung jiwanya.
Published | Bogor, 22 Juli 2018
__ADS_1