
Gael terdiam menatap ke arah Tania dengan tatapan teduh. "Lo nggak usah bingung; kenapa dan ada apa. Semuanya bakal lo ketahui, semuanya bakal terbongkar. Rasanya akan menjadi sakit untuk lo. Tapi gue percaya, selain lo emang gadis polos, tapi lo juga gadis yang kuat. Maafkan, jika nanti gue pergi dalam kisah lo, setelah lo berhasil menemui jawaban atas semua jutaan pertanyaan yang berkeliaran dalam pikiran lo. Tugas gue emang sejahat itu, mau bagaimana pun akhir cerita lo, entah itu akan bahagia atau bahkan sangat menyedihkan, gue akan pergi. Dan lo cuma akan bisa menemui gue saat moment-moment tertentu." Gael membatin. Sudut bibir Gael tersinggung tipis.
Tania melihat kehadiran Gael di sana. Namun ia seolah tidak melihat apa pun. Karena jika Tania menyapa kedatangan Gael, bisa-bisa ia dianggap gila oleh semua teman-temannya karena bicara sendiri. Karena bagaimana pun, tidak ada yang bisa melihat Gael di sini. Tania pun kini mencoba untuk tertib dan membuka buku pelajarannya—mengulur waktu sambil menunggu guru datang di jam pelajaran pertama ini.
"Tidak ada yang membingungkan di dunia ini, selain kamu. Iya, kamu adalah hal yang paling membingungkan," batin Tania berkata-kata, seraya pikirannya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Lantas, Gael pun menyadari akan hal itu. Gael langsung mengambil posisi duduk di kursi yang mejanya bersebelahan dengan meja Tania. Ya, Gael duduk di bangku milik Titan, tepatnya. Gael mengetukkan jarinya ke meja. Tania langsung menoleh ke arah Gael. "Lo ngapain?" Ucap Tania teramat sangat pelan.
"Gue tau, Lo pasti lagi kebingungan." Gael menyeringai remeh.
"Bisa nggak, lo jangan sok tau dulu."
"Emang bener, 'kan?"
"Ya iya, sih. Tapi 'kan—"
"Eh, Tan. Lo ngomong sama siapa? Bisik-bisik nggak jelas. Bangku itu kosong loh, si Titan juga nggak ada. Lo ngomong sama siapa?" Tanya Ratu. Tania langsung mengambil ancang-ancang untuk memberikan alasan—agar Ratu tidak mencurigainya gila. Rasanya, jika Tania menceritakan yang sebenarnya pun, Ratu pasti tidak akan mempercayai hal ini.
"Eh, nggak. Gue lagi diskusi."
"Diskusi sama siapa?"
"Sama diri gue sendiri. Hehe. Eh udahlah jangan dibahas. Nggak penting. Hehe." Tania berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ratu pun kembali disibukan dengan bermain ponsel lagi.
Gael terkekeh. "Yaudah, gue cabut dulu. Gue kasihan aja kalau lo disangka gila karena ngomong sendirian."
"Gue nggak gila!" Kesal Tania di dalam hati.
__ADS_1
"Iya, gue tau lo nggak gila." Gael seolah tahu apa yang sedang dikatakan Tania di dalam hati.
"Lo tahu gue ngomong apa di dalam hati?" Bisik Tania.
Gael menggeleng pelan disertai senyum tipis miring yang memesona. "Nggak. Gue cuma bisa membaca pikiran lo aja. Kalau mendengar suara hati, gue nggak bisa. Membaca pikiran itu sangat amat mudah bagi gue. Bahkan, gue tahu semua isi pikiran temen-temen lo di kelas ini," ucap Gael dengan santainya. Tania langsung berpikir, ini bisa jadi menguntungkan untuknya. Tapi, Gael pasti tahu apa yang sedang Tania pikirkan saat ini.
"Lo kepo sama pacarnya Titan?" Tanya Gael meremehkan, dan tentu tahu apa yang saat ini Tania pikirkan.
"Ini orang—eh maksudnya makhluk keabadian, jago amat sih, baca pikiran orang." Tania mendumel di dalam hati, lagi.
"Jangan ngedumel, nggak baik. Yasudah, gue pergi dulu. Setelah pulang sekolah, kalau lo mau nemuin jawaban siapa pacarnya Titan, Lo harus pulang di sekitaran jam 2 siang, dan lo harus pulang lewat jalan belakang." Gael pun memberikan instruksi pada Tania. Dan, tanpa sepatah kata lagi, Gael menghilang entah ke mana.
Tania pun terdiam.
"Semakin gue kesel dan mau ngehindar dari si Titan, tapi justru itu semua bikin gue penasaran sama Titan. Ah udahlah, gue fokus belajar aja. Tapi, gak ada salahnya, kayaknya emang gue harus ikutin kata-kata Gael," batin Tania, dan langsung memokuskan pikirannya untuk belajar, belajar dan belajar. "Gue akan pulang lewat gerbang belakang," batin Tania bicara, lagi.
Setelah beberapa menit terbuang sia-sia. Guru jam pelajaran pertama tak kunjung jua datang. Jam pelajaran pertama hampir sudah habis. Tania sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rasa bosan menghantui hati Tania. Akan tetapi, Tania sempat mencuri pandang ke arah bangku Titan yang kosong tak ada yang menduduki. Kemana dia? Sejak perdebatan tadi, Titan tidak juga kembali.
"Tuh!"
Seseorang mengagetkan Tania. Sebuah buku kini berada di atas mejanya. Ya, seseorang tadi melemparkan sebuah buku catatan kecil di atas meja Tania. Tania langsung membulatkan matanya, saat buku catatannya itu dilemparkan oleh Titan tepatnya di hadapan Tania.
"Lo?!" Tania terkejut bukan main.
"Iya, kenapa?" Titan berujar pelan, namun nadanya begitu songong.
"Kenapa bisa buku catatan gue ada di elo?!"
__ADS_1
"Jawab aja sendiri."
"Eh, gue lagi nggak bercanda, ya!"
"Ya emang lo pikir gue lagi bercanda?"
"Lo emang ngeselin!"
"Seharusnya lo jangan ceroboh. Buku itu bisa ada di tangan gue karena kecerobohan lo! Lo sendiri yang jatuhin itu buku!"
"Terus?" Tania benar-benar takut jika Titan sudah membaca isi dalam buku catatan tersebut. Jika pun Titan sudah membacanya, Tania harus segera mengambil posisi setenang mungkin, agar bisa menjelaskannya secara detail—walau ini masih terlalu cepat untuk Tania menjelaskannya pada Titan.
"Lo tenang aja." Titan berujar santai, "gue belum baca buku catatan lo. Gue nggak terlalu kepo tentang lo. Gue nggak begitu hobby membaca, jadi kemungkinan sangat besar untuk gue nggak baca buku karangan lo itu. Kalau pun gue udah baca, gue nggak bakal care sama lo," ucapnya, meneruskan kalimat sebelumnya.
"Jadi intinya?"
"Intinya, gue belum baca buku catatan lo," tegas Titan, dengan wajah datar yang terpasang santai.
"Gue nggak yakin." Tania menatap Titan intens—berusaha mencari raut kebohongan dari wajah Titan.
"Lo nggak percaya? Masih untung bukunya gue balikin. Atau, Lo mau bukunya terus sama gue, supaya gue baca buku catatan lo gitu? Iya?"
"Oke-oke. Gue percaya sama lo. Buku catatan ini berharga buat gue. Gue nggak mau sampai orang lain baca buku ini. Karena apa? Ada alasan lain yang belum bisa gue jelasin."
"Oke. Lagian, gue sama sekali nggak minat buat baca buku catatan lo itu." Titan kemudian duduk dan menghentikan perdebatan kecil antara dirinya dan Tania.
Tania menghela napas lega, karena dari tingkah dan gaya bicara juga cara Titan menunjukkan sikap, sepertinya itu sangat meyakinkan Tania, bahwa Titan memang tidak membaca isi dalam buku catatan miliknya.
__ADS_1
Published | Bogor, 15 Juli 2018
Pukul 20.16 WIB