Titan'S 2

Titan'S 2
08


__ADS_3

Justru berbeda dengan Titan. Titan saat ini dengan gaya santainya memasuki kelas 11 IPS-1, tanpa sedikitpun rasa canggung dalam dirinya. Kemudian, semua warga kelas ini pun tampak menganga karena tanda tanya besar tentang kehadiran Titan di kelas ini. Tania yang tadinya duduk dengan tidak semangat, seketika saat Titan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Tania, langsung terkejut seraya mengernyit heran.


"Wey, lo siapa main nyelonong masuk kelas ini?" Tanya sang ketua kelas. Siapa lagi kalau bukan Ardi. Ardi di sana tampak memasang wajah marah karena wilayah kekuasaannya tiba-tiba dihadiri oleh seseorang yang bukan anggota kelas ini.


"Gue pindah ke kelas ini. Kenapa?" Ucap Titan santai.


"Pindah? Siapa yang nyuruh lo pindah ke sini?" Tanya Ardi.


"Bu Salma. Emangnya kenapa?" santai Titan.


"Bu Salma?"


"Hm. Kenapa?"


"Alasannya lo apa pindah ke sini?"


"Ya mana gue tahu. Coba lo tanya aja ke Bu Salma. Bu Salma itu wali kelas ini 'kan? Mungkin, karena gue selalu mendapatkan nilai matematika tinggi, jadinya gue dipindahin deh ke sini sama Bu Salma. Kalau emang nggak percaya, lo lihat sendiri aja di mading. Nama gue tertulis di absen kelas ini. Ngerti?" Ucap Titan panjang lebar.


Di sana, Ratu tampak mangap penuh dengan keterkejutan. Ratu yang duduk sebangku dengan Tania itu memasang wajah dengan sangat tidak percaya, bahwa Titan menjadi anggota kelas ini---yang artinya ia akan lebih sering bertemu. Kemudian, Ratu berbisik kecil pada Tania---yang juga terdiam dengan keterkejutan.

__ADS_1


"Lo bisa mati, Tan," bisik Ratu. Kemudian Tania menunduk, tidak lagi menengok ke arah Titan yang duduk di kursi urutan meja yang bersebelahan dengan meja Tania.


Tania berusaha untuk tidak antusias dengan kehadiran Titan dikelas ini. Tania seolah tidak terjadi apa-apa dengan hari ini, padahal mungkin jelas di dalam hatinya, bahwa ia menyimpan tanda tanya besar mengapa Titan pindah ke kelas ini. Tania akan lebih sering bertemu dengan Titan, apalagi posisi mejanya pun bersebelahan. Tania menjadi satu-satunya orang yang berusaha tidak menanggapi kehadiran Titan. Tania hanya mampu terdiam saja, dan memilih sibuk sendiri---bermaksud untuk mengalihkan perhatiannya.


"Eh, Tania. Lo kok cuek-cuek aja, sih? Si Titan, tuh!" seru Ratu.


"Kenapa?"


"Lo kok cuek aja?" tanya Ratu.


"Ya terus gue harus ngapain? Jingkrak-jingkrak gitu? Nggak banget."


"Ya gue nggak kenapa-napa, elo yang justru kenapa," ucap Tania pelan, lalu kembali sok sibuk seraya membuka buku-bukunya.


"Ini pertanda, bahwa sebentar lagi Tuhan pasti akan membuat kisah lo teramat sangat rumit, Tan," bisik Ratu lagi. Tania hanya berdecak kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan, detik kemudian pun Tania tidak lagi menggubris kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Ratu.


"Eh!" Titan pun melemparkan kertas yang digulung-gulung ke arah Tania. Tania tidak memperdulikannya, Tania kembali fokus menulis di buku catatannya. Entah tugas apa yang dikerjakan Tania. Pada intinya, Tania berusaha untuk tidak memperdulikan Titan.


Titan berdecak pelan, lalu kembali melemparkan gulungan kertas. "Lo denger gue nggak, sih?" ucap Titan.

__ADS_1


Tania pun gemas dengan perlakuan Titan yang tidak menyenangkan. Dengan perlahan, Tania pun menengok ke arah Titan dengan tatapan tidak suka. Tania menatap datar penuh ketajaman pada Titan. Tatapan biasa, namun seperti ada arti dalam sepasang retina milik Tania tersebut. "Lo bisa nggak lebih lembut dikit sama cewek?" sindir Tania pada Titan.


"Oh, jadi lo cewek. Gue kira cowok." Titan berujar remeh.


Tania menghela napas pelan, berusaha mengontrolkan emosinya. "Terserah lo mau ngomong apa. Yang jelas, gue nggak mau lagi berurusan sama lo. Jadi, jangan ganggu gue lagi," ucap Tania.


"Sayangnya gue nggak bisa, tuh."


"Nggak bisa apanya coba?"


"Gue masih belum puas buat gangguin lo," ucap Titan santai disertai gelengan kepala pelan dan senyum tipis yang remeh. Tania berdecak, lagi.


"Terserah lo! Gue nggak peduli lagi sama lo!" Tania pun kembali lagi pada aktivitas 'sok sibuk'-nya sendiri, tanpa memperdulikan Titan di sana yang berusaha mengganggunya dan membuat hatinya jengkel.


"Berarti dulu lo pernah peduli sama gue," ucap Titan remeh.


Berselang beberapa detik kemudian, seorang guru paruh baya berkumis tebal dan kepala yang pelontos pun datang memasuki kelas ini dengan begitu tegasnya. Seketika itu suara bisik-bisik tetangga pun sudah tidak terdengar. Seluruh warga kelas ini pun mengikuti pelajaran dengan sangat baik. Awalnya, Titan tidak terlalu suka dengan suasana kelas ini yang tampak jauh sekali perbedaannya dengan kelas sebelumnya. Namun, seketika perasaan itu seakan lenyap saat setelah Titan menoleh atau mencuri pandang ke arah Tania yang tidak memperdulikan kehadirannya. Wajah datar, tatapan datar, senyum datar, itu yang Titan tunjukan pada Tania---tanpa Tania sadari saat ini. Seperti memang, Titan sedang menyembunyikan sesuatu mengenai Tania. Semua itu Titan lakukan bukan karena rasa suka atau cinta atau hal-hal yang sejenisnya. Ini bukan serangkain cerita fiksi receh yang secara tiba-tiba dan begitu sangat cepat membuat si karakter A bisa jatuh cinta pada si karakter B. karena mustahil, tidak akan pernah mungkin Titan menyukai Tania. Bagi Titan, Tania hanya sebatas kata benci dalam hidupnya.


Titan hanya sedang menyusun strategi.

__ADS_1


Next? Coment!


__ADS_2