Titan'S 2

Titan'S 2
07


__ADS_3

"Eh, Tan. Jam berapa sekarang?" Tanya Rayn.


"Mau jam 8. Kenapa?" Jawab Titan.


"Yaudahlah, yuk. Cabut. Masuk kelas aja. Sekarang 'kan ada pelajaran Bu Salma. Bisa-bisa nanti kita malah disetrap di depan kelas," cerocos Rayn. Sementara Titan hanya tersenyum tipis meremehkan perkataan Rayn.


"Bukannya hal itu udah terlalu sering terjadi dalam hidup kita? Kenapa sekarang lo nggak mau lagi disetrap? Kapok atau insyaf? Yaudahlah, ya, biarin aja kita disetrap. Lagian gue males juga belajar sama Bu Salma, guru nyebelin kayak gitu. Lagipula, ini tuh udah jam 8, palingan sekarang juga Bu Salma lagi ngajar," ucap Jonathan yang tampak tidak mau untuk mengikuti jam pelajaran pertama yang menurutnya menyebalkan karena seorang guru matematika yang bernama Bu Salma itu kerap sekali membuat Jonathan sampai harus menyalin buku matematika yang tebalnya sama seperti kamus bahasa Indonesia, hanya karena hal sepele menurutnya---hal sepele karena tidak mengerjakan tugas pekerjaan rumah.


"Yaelah, Jon. Kenapa, sih? Kok kayak dendam amat lu sama Bu Salma. Masalahnnya gini, gue tuh kadang-kadang suka malu kalau bentar-bentar kena setrap, bentar-bentar kena setrap. Lagipula gue tuh bosen juga langganan disetrap mulu, dari pas jaman gue masih TK sampai sekarang. Tau gak, sih, lo?!"


"Punya malu juga lo ternyata?"


"Ih si PA malah ngalunjak. Yaudahlah, kalau emang lo nggak mau ke kelas. Biar gue aja," ucap Rayn.


"Iya, Jon. Ada benernya juga apa yang diomongin si Rayn. Sebenernya gue juga udah bosen disetrap. Yaudah deh yuk kita cabut aja ke kelas. Kalau si Jonathan emang masih tetap mau di sini, yaudah gapapa. Itu terserah dia," ucap Titan dengan segera mengaitkan sebelah tali tas ranselnya di bahu sebelah kanan. Kemudian berjalan menuju kelas dengan begitu santainya.


"Yaudah. Gue ikut!" Jonathan mengikuti Titan dan Rayn.


Titan seolah lupa dengan satu kejadian beberapa menit yang lalu. Bukan, bukan tentang candaan remeh bersama kedua temannya, juga bukan tentang soal pacar Titan. Tapi ... Yap, tentang buku catatan kecil yang Titan masukan ke dalam tasnya sendiri. Buku catatan kecil milik Tania. Mungkinkah Titan akan membaca catatan kecil itu sampai tuntas? Jika memang iya, maka apa yang akan terjadi dengan cerita selanjutnya.


Saat Titan dan kedua temannya masuk ke dalam kelasnya. Tampak riuh, tidak ada guru yang mengajar. Lihatlah, Jonathan pun langsung mengelus dada seraya menghela nafas panjang karena lega.


"Kenapa lo?" ucap Rayn, mengernyit pada Jonathan.


"Lega aja gue,"


"Lega kenapa? Habis lahiran?" sindir Rayn. Kemudian Titan yang mendengar itu hanya terkekeh saja.


Jonathan membuang tatapan tidak sukanya pada Rayn. Rayn hanya terkekeh. Tanpa basa-basi Titan pun langsung menghampiri tempat duduknya, begitu pun dengan Rayn dan Jonathan. Beberapa teman sekelasnya tampak sibuk dengan gadget, ada pula yang sedang bergosip ria di pojokan kelas sembari entah sedang menonton hal apa. Titan tampak acuh dengan situasi kelas yang seperti ini, karena Titan sudah terbiasa mendapati situasi kelas yang sepeti ini.


"Kok gue berasa ada yang lupa. Tapi apa, ya? Serasa ada yang ganjel, tapi apaan, ya?" Pikir Titan terus menerka-nerka tentang perasaanya yang mengganjal akan sesuatu hal yang entah itu apa.


"Eh, Titan!" Panggil seseorang dari arah belakang Titan, dengan santainya kemudian Titan menengok ke belakang.

__ADS_1


"Ada apa?" sahut Titan.


"Lo kenapa masih di sini?"


"Kenapa lo nanya kayak gitu?"


"Woalah, emangnya lu kagak tau?"


"Tau apaan?" Titan langsung merespon perkataan teman sekelasnya itu, dan Titan benar-benar menunggu kalimat selanjutnya dari temannya itu. Lantas, Jonathan dan Rayn pun mengernyit heran.


"Lo 'kan dipindahin," katanya.


"Dipindahin?" Rayn dan Jonathan tersentak heran.


"Iya. Lo dipindahin ke kelasnya si Tania. Emangnya lo nggak tau?"


Titan terdiam. Ia tidak mengerti. "Emangnya dengan alasan apa gue dipindahin?" Tanya Titan.


"Gue nggak tau pasti. Tapi kalau emang lo nggak percaya, coba lo lihat mading aja. Nama lo itu nggak tercantum di kelas 11 IPS-2 ini. Nama lo tercantum di kelas 11 IPS-1. Itu tandanya lo sekelas sama Tania, musuh bebutan lo," jelasnya.


"Lu mau pindah?"


"Hm."


"Lu mau gitu sekelas sama Tania?"


Titan terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan kedua temannya.


"Kalau emang lo nggak mau, ya kita bisa aja bantuin lo supaya lo nggak jadi pindah ke kelasnya si Tania. Lagian apa coba alasannya lo dipindahin ke sana. Iya, 'kan?" ujar Rayn.


"Iya. Bener kata Rayn, Tan."


"Untuk kali ini kayaknya gue nggak bisa ngebantah. Mau nggak mau, gue bakal pindah dari kelas ini. Karena gue tau apa alasannya kenapa bisa gue harus dipindahkan ke sana." Titan berujar dengan wajah yang terpasang serius.

__ADS_1


"Apa alasannya?" Tanya Rayn, seperti ingin tahu apa alasan kenapa Titan diharuskan pindah kelas.


"Kepo, lu!" seru Jonathan.


"Cicing sia, deuh!" Rayn seperti marah karena Jonathan membuat emosi Rayn menyala. Karena entah kenapa, Rayn selalu terlihat 'kepo' jika ada pembahasan yang menyeretkan nama Tania.


"Gue nggak bisa ngasih tau ke kalian apa alasannya. Yang penting, untuk kali ini kayaknya gue emang harus pindah. Dan lo berdua tetap di kelas ini," ucap Titan.


"Titan! Gue enggak mau lo pindah! Lo 'kan sohib kita. Apa jadinya kalau kelas ini tanpa elo?!" Jonathan berekspresi konyol, membuat Rayn menggidik.


"Lebay sia, ih!" seru Rayn.


"Kumaha aing, weh."


Titan hanya menggelengkan kepala, serta tersenyum tipis. Kemudian Titan kembali mengaitkan tali tas ranselnya, dan berjalan keluar kelas untuk beralih ke kelas 11 IPS-1. Jonathan begitu riuh dan lebay, memperagakan ekspresi kehilangan sesuatu, bahkan lucunya Jonathan terlihat menjulurkan sebelah tangannya ke depan---dengan ekspresi untuk melarang Titan pergi. Tapi Titan tidak menggubrisnya.


"Rangga, jangan tinggalin Cinta di sini," ucap Jonathan dengan tingkahnya yang alay itu membuat seluruh warga kelas terkekeh melihat tingkahnya.


"Eit, Jojon. Udah, ya. Jangan malu-maluin. Inget sekarang jam berapa?"


"Kenapa nanyain jam?"


"Ini 'kan waktunya lo minum obat," ledek Rayn.


"Kampret!"


Jonathan pun melemparkan sebuah buku ke arah Rayn, namun dengan sigapnya Rayn menghindar dari lemparan tersebut, sehingga lemparan buku tersebut melayang dan jatuh tepat di bawah kaki Bu Salma yang baru saja datang. Menyadari kedatangan Bu Salma, semua murid langsung mengambil ancang-ancang untuk duduk rapi di kursi masing-masing. Sementara kini, tatapan maut Bu Salma mengarah pada Jonathan. Jonathan pun memasang wajah setengah ******.


"Demi lauk asin ala emak gue, demi apapun juga gue nggak mau mati dipelukan Bu Salma," batin Jonathan merutuk.


"Jonathan! Kamu saya hukum! Bersihin toilet sekarang juga!" serunya, tegas.


"****** gue."

__ADS_1


next? Coment!


__ADS_2