Titan'S 2

Titan'S 2
32


__ADS_3

Sebuah kebetulan yang hadir mewarnai kisah, dan betapa terkejutnya jika pernah ada pelangi walau tanpa hujan badai berkabut. Kamu memang sang peluka sejati, tapi Tuhan membuat rasa dan mataku seakan terus selalu melihat keindahan dalam dirimu. Seharusnya tidak begini, karena tidak ada luka yang begitu indah. Tiada gelap yang begitu terang. Tapi kamu selalu menjadi seorang pemenang. Memenangkan hati ini tanpa harus berjuang. Lantas aku ingin sekali mengatakan; bagaimana kalau kita bertukar posisi, kamu yang berjuang, aku yang menyianyiakan.



"Tania."


Seseorang memanggil lembut nama Tania. Tania yang tadinya sedang membereskan tumpukkan buku yang berserakan di meja belajarnya. Itu karena, semalam Tania menghabiskan waktu malam minggunya hanya membaca buku saja.


"Ada apa?" Tania menjawab santai.


"Nggak. Gue cuma kangen sama senyum lo." Gael berujar santai dengan posisi duduk di atas sofa, sembari melipatkan kedua tangannya. Sementara sorot matanya tertuju lurus pada Tania.


Tania langsung menoleh. "Kesambet Dilan?"


Gael terkekeh malas, seperti meremehkan lelucon Tania. "Dilan itu kurang menantang."


"Terus?"


"Gue itu... Dalan."


"Apa? Dalang?"


"Dalan, Tania."


"Dalang maksud lo?"


Gael menghela napas pelan, dan langsung mengubah posisi menjadi berdiri. Wajahnya terpasang malas dan gemas.


"Bisa dibuka dulu nggak earphonenya. Biar nggak budeg." Gael berujar malas.


Tania cengengesan dengan tampang yang sama sekali tidak berdosa.


"Sori, budeg kali-kali nggak apa-apa, 'kan? Lagian 'kan gue pake earphone. Wajar kalau budeg dadakan."


"Mangkanya kalau ngobrol dibuka dulu."


"Apanya yang dibuka, Gael?"


Gael tampak kesal, sembari menunjukkan ekspresi gemasnya. Tania hanya cengengesan.


"Iya-iya gue paham. Jangan greget gitu, ah. Gue ngeri, ternyata sebangsa malaikat kayak lo itu bisa kesel juga, ya? Yang gue tau, malaikat itu sifatnya ya baik-baik. Hehe."


"Terserah."


"Dih, gitu aja ngambek."


"Bodo ah."


"Ih, malaikat bisa ngambek juga?" Sindir Tania dengan ekspresi tersenyum. "Eh, ya. Tadi lo bilang kalau lo siapa? Dalan ya? Maksudnya apa?" Tania mengalihkan pembicaraan ke topik awal.


"Udah basi."


"Emangnya makanan bisa basi?"

__ADS_1


"Jadi nggak lucu lagi. Udah males."


"Ih, lo marahnya gitu amat, sih. Kayak cowok marah sama ceweknya aja deh. Kayak orang pacaran. Geli gue." Tania terlalu senang menjahili Gael. Setelah mendengar kalimat itu pun, Gael langsung terdiam.


Seandainya kalau gue manusia. Mungkin- Gael merutuk dalam hati, namun kalimatnya menggantung karena melihat Tania tersenyum ke arahnya.


Tiba-tiba, saat masih membereskan tumpukkan buku, ponsel Tania berdering tertanda pesan chat masuk. Tania dengan segera membuka pesan masuk tersebut.


Whatsaap


08126786xxx : P


08126786xxx : P


08126786xxx : Gua Titan.


(Tania mengernyit saat mendapatkan pesan tersebut)


Tania : Jangan bercanda. Gue nggak suka.


08126786xxx : gua Titan.


Tania : Sama sekali nggak lucu!


08126786xxx : Terserah mo bilang apa, intinya gua cuma mau ngasih tau. Nanti malem lo bisa datang ke rumah Udin?


Tania : lo beneran Titan apa bukan?


08126786xxx : iya.


08126786xxx : ga ptg!


Tania : o


08126786xxx : y


Tania : ada perlu apa lo nyuruh gue ke rumah Udin?


08126786xxx : ga usah bawel. Udah dateng aja.


Tania : gue nggak mau kalau gue ke sana, terus lo ngulangin kesalahan lo yang kayak kemarin. Lo kan iblis!


08126786xxx : iya. Kalau gue iblis, kenapa lo  cintai?


Tania : jangan rese jadi cowok.


08126786xxx : 😈 dasar cewek cengeng, beraninya cuma di chat. Ck.


Tania : o...


08126786xxx : lu cantik juga, ya. Sayang banget kalau dilewatin doang.


Tania : maksud lo apa?

__ADS_1


08126786xxx : nggak. Nomer lo gue save.


Tania : terserah.


08126786xxx : soalnya gua masih ada banyak perhitungan sama lo. Lo nggak usah GR dulu knp gue save no WA lo.


Tania : gue cewek, Tan. Lo masih aja jahatin gue? Gue nggak bisa gelut, gue nggak bisa nantangin lo berantem main tonjok2an. Gue nggak bisa lagi jadi musuh lo kayak dulu! Gue udah berubah. Gue nggak mau berantem!


08126786xxx : kenapa?


Tania : Gpp


08126786xxx : karena lo sayang sama gue?


(Tania terdiam, seakan tidak bisa membalas chat terakhir dari Titan yang melemparkan sebuah pertanyaan mudah, namun seakan sulit untuk dijawab oleh Tania. Lalu, Tania menghela napas pelan)


Tania : y


(Tanpa sadar, tangan Tania membalas chat dengan hanya melemparkan jawaban y yang berarti iya. Entahlah, mau disembunyikan serapi apa pun, Titan sudah mengetahui kalau Tania memang menyukainya)


"Siapa?" Gael bertanya, karena sedari tadi Tania seakan fokus pada layar sentuh ponselnya.


"Dari iblis."


Gael tersenyum miring. "Lo temenan juga sama iblis?"


"Hm."


"Dari Titan, ya?"


Tania mengangangguk. "Hm."


"Pantes lo sangat serius." Gael tersenyum mencibir.


Tania hanya diam.


"Akan ada masa di mana, dia akan memiliki perasaan yang sama, saat setelah perlahan perasaan lo sudah mulai lelah dengan keadaan." Gael berujar dengan sangat lapang, ia memberitahukan satu kebenaran.


"Maksud lo?"


"Karena rasa cinta, nggak akan pernah sia-sia. Sekali pun dia tetap memutuskan untuk pergi. Lo akan tau bagaimana caranya menghargai cinta."


"Apa itu berlaku untuk gue?"


"Iya."


"Apa itu juga berlaku untuk lo?"


Deg! Seketika itu Gael terdiam hening. Ia seperti menertawakan dirinya dalam kebisuan suara. Waktu pun seakan terbahak mencibir seorang Nero Abigael.



Tbc!

__ADS_1


Komennya dong. Biar nextnya cepet. Jgn lupa vote juga ya!


__ADS_2