Titan'S 2

Titan'S 2
34


__ADS_3


Aku mencintaimu, cukup sulit kupahami.


Aku mencintaimu, cukup sulit kumengerti.


Dan biarkan, aku menangis.


Merasakan rasa yang kian tak dapat kupahami.


Yang aku tahu, aku hanya mencintaimu.


Sebenarnya, Tania enggan berada di posisi yang seperti ini. Mencintai, tapi tak pernah dimengerti. Titan masih saja cuek, kadang kala pun Titan menunjukkan rasa peduli, atau tiba-tiba seolah peduli dan mengistimewakan Tania yang sama seperti gadis lain. Titan hanya gengsi, karena memang dahulu mereka berdua adalah musuh sejati.


Hingga tiba sebuah perasaan yang tanpa pamrih, mengetuk pintu hati Tania yang awalnya terkunci kuat dan rapi. Kini,  saatnya untuk Tania menyelesaikan masalahnya-masalah hati dan perasaannya yang entah akan menjadi seperti apa nantinya.


"Emang awalnya gimana, sih? Permasalahan kalian itu gimana?" Oci kembali membuka pembicaraan, saat beberapa hening tak ada suara dan jawaban.


"Sebenarnya nggak ada masalah, sih. Cuma ini semua disebabin oleh mimpi di siang bolongnya Tania. Juga ada kesalahan fatal yang dilakukan seseorang tanpa sengaja." Rega menjawabnya dengan enteng. "Kesalahan yang dilakukan Tristan." Rega kembali melanjutkan kalimatnya, awalnya ia tidak yakin untuk menceritakan semua ini. Namun, ia seperti mendapatkan persetujuan dari Gael—yang sedari tadi mengawasi Rega agar tidak salah bicara.


"Terus? Kenapa menyeret gua?" Titan langsung melemparkan sebuah pertanyaan.


"Inisial nama lo apa? TW, 'kan?" Bukannya menjawab, Rega malah melemparkan pertanyaan.


"Iya. Terus?"


"Nama lo mirip sama si Tristan. Itu masalahnya. Jangan tanya kenapa, soalnya emang kayak gitu ceritanya."


"Lah?"


"Udah, Din. Udah cukup lo jelasin semuanya. Perlahan Titan juga pasti ngerti. Gue nggak mau bertele-tele, kalau pun misalnya gue mati malam ini juga nggak apa-apa. Gue cuma mau masalah ini selesai, gue juga nggak mau kayak gini. Perasaan ini terlalu menguras kesadaran gue." Tania langsung menimpal, Titan hanya melihat Tania datar.


"Hm. Terus jadinya ini gimana?" Tanya Oci.


"Berikan Tania harapan, satu tetes darah yang mengalir dari jemari Titan, untuk bisa mengantarkan Tania bertemu pada Daviel-jodoh yang belum sempat bertemu, namun maut sudah menjemput Daviel. Tristan menunjuk Titan untuk menjadi jalan Tania bertemu Daviel, dan mungkin perasaan cinta yang tumbuh di hati Tania untuk Titan akan berakhir saat setelah Tania bertemu Daviel."


Suara samar itu terdengar seperti bisikkan. Oci dan Titan hanya bisa terdiam saat mendengar suara tersebut yang terasa begitu merinding. Jelas, karena Titan dan Oci tidak bisa melihat Gael. Ya, itu adalah suara Gael.


"Oh, jadi elo harus kasih setetes darah lo ke telapak tangan Tania mungkin," ucap Oci pada Titan.


"Buat apa juga? Omong kosong tuh tadi." Titan ngeyel, seperti enggan untuk mengakhiri kisah ini.


"Kenapa? Lo nggak mau kasih setetes darah lo buat gue?" Tanya Tania.


"Nggak."


"Gue rasa lo harus kasih deh setetes darah lo. Biar semuanya kelar. Jadi enak ke kaliannya, nggak terjebak cinta bertepuk sebelah tangan, 'kan? Si Tania jadi enak nggak usah ribet lagi sama perasaannya, si Titan juga enak nggak usah ribet dan risi sama perasaan Tania. Dan kalian bisa jadi musuh lagi, 'kan?"


"Ya nggak gitu juga, Teh. Siapa tau kan, Tania sama Titan jadi temenan. Hehe." Rega mencairkan suasana.

__ADS_1


"Tapi sori, kayaknya gua nggak mau."


"Nggak mau apanya?"


"Ngasih setetes darah gua buat Tania." Titan berujar sambil menatap datar ke arah Tania. Tatapan yang terlihat cukup santai, namun seperti ada sesuatu di baliknya.


"Kenapa?" Tanya Tania.


"Gua nggak bisa jelasi kenapa gua nggak mau. Intinya gua tetap nggak mau."


"Ya lo nggak bisa gitu, Tan." Rega menggaruk sebelah alisnya seperti mencari solusi dengan waktu sesingkat mungkin. "Gini aja deh, kita nggak bisa maksa lo juga kan, tapi kita pengen tau kenapa alasan lo ngeukeuh nggak mau ngasih setetes darah lo," sambung Rega.


"Ya gua nggak mau aja."


"Lo nggak mau masalah ini selesai?" Tania langsung menimpalnya dengan raut wajah yang seperti menjulang sebuah tanda tanya besar.


"Nggak harus gua kasih tau alasannya apa dan kenapa." Titan langsung berdiri. "Sori, gua nggak bisa lama-lama di sini, gua harus pamit." Titan berpamitan tanpa basa-basi dan enggan memberikan sebuah penjelasan pada Tania.


"Tan, tunggu. Lo nggak bisa kayak gitu, dong." Tania mencoba menahan Titan.


Menghentikan langkahnya sejenak dan setengah menoleh ke belakang. "Maaf, gua nggak bisa." Lantas, Titan pun langsung melanjutkan langkahnya.


Deg! Ada perasaan kacau di benak Tania. Mengapa seakan Titan enggan menyudahi jalan cerita yang semakin sesak ini?


"Din, gua harus kejar Titan." Tania berinisiatif ingin mengejar Titan.


Tania mengangguk.


"Tan, apa sebaiknya lo nggak usah lagi peduliin Titan? Karena menurut gue, Titan punya alasan besar kenapa dia nggak mau ngasih setetes darahnya. Apa sebaiknya lo sekarang temuin si Tristan di rumah sakit?" Rega memberikan sedikit solusi untuk Tania. Jelas, itu membuat Tania sedikit bimbang.


Tania menoleh ke arah Gael. "Gue harus apa?" Wajah Tania sudah jelas terlihat seperti menyedihkan. Matanya berkaca-kaca, ingin menyudahi semua ini namun Titan seolah menghalanginya.


Gael tersenyum tipis penuh ketenangan. "Titan udah tau segalanya, dia sudah tau siapa Tristan, siapa Daviel, dan siapa kamu, walau dengan penjelasan yang singkat. Aku sudah datang di mimpinya Titan untuk menceritakan apa saja yang terjadi dalam kisah ini. Dia hanya sedang, mencoba memahami apa yang dia rasakan."


"Kamu?" Tania terheran, karena kalimat Gael yang berubah menjadi kamu, padahal terbiasa lo.


Tania semakin merasakan hal aneh yang terjadi saat ini. Ataukah ada sebuah hal yang akan membuatnya sedih, atau bahkan terpuruk?


Rega hanya terdiam, dan menunduk seperti tau hal apa yang akan terjadi nanti.


"Lo kejar aja Titan," ucap Rega pelan, dengan wajah yang sama sekali menunduk ke bawah, tanpa berani melihat Tania. Rega seperti tau, namun tak tega untuk melihat raut wajah Tania yang begitu polos.


"Tapi kata lo tadi, gue harus ke rumah sakit."


"Lupain saran gue, lo kejar Titan."


"Tapi kenap—"


"Jangan tanya kenapa, lo kejar Titan apa lo mau nyesel nantinya?"

__ADS_1


Tania mengangguk.


Tania berlari kecil mengejar Titan. Sementara Rega menoleh ke arah Gael. Rega menjatuhkan air mata, hatinya seperti tertusuk ribuan duri, karena harus menyaksikan sebuah kesakitan yang membelenggu dalam pandangan.


"Gua nggak tau lagi, kenapa gue baper." Rega menghapus air matanya.


Akhir, berakhir, semua akan berakhir tanpa ada satu kata pun tertinggal, kecuali cerita cinta yang akan menjadi bukti abadi.


"Sebenarnya gue nggak tau apa-apa soal mereka. Tapi kok hati gue berasa nyes banget, ya. Kayak sedih-sedih gimana gitu." Oci berujar dengan nada yang seolah peduli dengan kisah ini.


"Lo bakal tau Teh, apa itu yang namanya arti cinta yang sesungguhnya." Rega tersenyum pada Oci.


Oci tersenyum saja, tanpa berkata lagi.



***


Tania berlari tertatih mengejar Titan. Dan akhirnya memang Tania mampu untuk mengejar Titan dan mencoba untuk menghentikan langkah Titan.


"Tan!"


"Titan!"


"Dengerin gue! Dengerin penjelasan gue! Dan gue mohon, izinin gue buat ngomong sama elo. Gue sayang sama elo, gue cinta sama elo, gue nggak tau kenapa gue kayak gini. Gue tau lo nggak suka sama gue! Gue tau lo benci sama gue! Gue tau, perasaan gue nggak mungkin elo bales! Tapi please, gue mohon, lo bantuin gue buat gue bisa lupain perasaan cinta gue ke elo, karena cuma elo satu-satunya yang bisa bikin perasaan gue ilang ke elo!" Tania meneriaki Titan dari belakang, dan berhasil membuat Titan menghentikan langkahnya, suasana jalanan yang sepi ini pun menjadi saksi bisu sebuah ungkapan yang dilontarkan Tania.


Titan membalikan badannya untuk menghadapkan dirinya ke arah Tania.


"Gua tetap nggak bisa!" Tegas Titan dengan suara pelan, namun penuh penekanan di setiap katanya.


"Kenapa?" Tania berujar dengan tatapan memohon pada Titan.


Titan menghela napas pelan, dan menundukkan wajahnya serta memejamkan matanya tak kuasa menerima kenyataan seolah ingin menghempaskan prasangka bahwa dirinya telah jatuh hati.


"Gue nggak bisa." Titan menggelengkan kepalanya pelan, matanya terlihat seperti menahan air mata.


Titan berjalan mendekati Tania untuk melihat raut wajah Tania lebih dekat lagi. Tatapan mata Titan terlihat frustasi tertuju lurus ke arah Tania.


Titan membuka telapak tangannya, dan memberikan sambutan genggaman untuk Tania.


"Perasaan gua berbalik. Tolong balas genggaman tangan gua, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Gua mohon." Titan berujar dengan suara yang terdengar berat.


Sepoian angin malam membuat suasana semakin dingin. Tania dan Titan saling menatap, dengan tatapan yang seperti menunjukkan bahwa mereka enggan untuk mengakhiri semuanya.


"Cinta datang terlambat." Tania membalas uluran tangan Titan. Keduanya saling menggenggam.



TBC!

__ADS_1


__ADS_2