
Manakah yang lebih sulit. Mencintai atau dicintai?
Jika keduanya adalah hal yang sulit, maka akan menjadi sulit pula untuk melupakan cinta yang bersarang, ketika cinta yang ada di balik hati seseorang yang kita cintai mulai pudar dan menghilang. Titik tersulitnya adalah melupakan seseorang yang berhasil membuat kita mencinta tanpa kita merasakan indahnya dicinta. Namun, akan terasa sulit pula ketika dihadapkan oleh perasaan risau, gelisah, dan tidak tahu cara mengartikan sebuah rasa. Merasakan seperti jatuh, tapi tidak sakit dan hanya hati yang bisa mengerti rasanya. Dari hal tersulit itulah, menyadarkan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidak untuk dicari, tapi kita yang menciptakannya sendiri, dengan sendirinya kesulitan-kesulitan itu menjadi tidak akan pernah mau menghampiri.
"Titan!" Panggil seseorang dengan begitu lantangnya. Dengan santai, Titan langsung menoleh ke arah seseorang tersebut.
"Kenapa?" Tanya Titan, santai.
Seseorang tersebut menghampiri Titan---duduk di sebelah Titan dengan raut wajah yang datar-datar saja. "Gimana? Lo jadi nantangin si Tania buat main badminton lagi?" Tanyanya.
Titan menggeleng kecil seraya tersenyum miring. Titan mengulur waktu sejenak. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Titan langsung mengubah posisinya menjadi berdiri sambil bersandar di tihang tembok yang terdapat di kantin ini. Kedua tangannya melipat, tatapannya seolah sedang memikirkan sesuatu, namun bibirnya masih tersenyum walau terlihat samar. Titan sejenak menggaruk kecil alis sebelah kanan, dengan jemari telunjuknya, "Udah gua coba nantangin dia lagi. Dan sepertinya dia takut sama gua. Buktinya, dia udah mulai ngehindar sama gua," kata Titan, sambil menoleh ke arah seseorang yang mangajaknya untuk membicarakan hal yang biasa.
"Oh. Baguslah."
"Baguslah?" Heran Titan.
"Em, itu, em, ya, ya bagus. Itu tandanya lo nggak tertandingi oleh siapa pun. Termasuk Tania." Seseorang ber-nametag Rayn Mahardika itu tampak gugup saat menjawab pertanyaan Titan. Rayn seperti begitu senang ketika mendengar pernyataan Titan; kalau Tania sedang menghindar dari Titan.
"Oh."
"Pulang sekolah ada rencana mau ke mana, Tan?" Tanya Rayn, langsung mengalihkan pembicaraan.
"Biasa. Tanpa gue kasih tau pun, lo udah tau kan kebiasaan gue."
"Jemput pacar lo lagi?" Tanya Rayn.
Titan hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil dan senyuman yang terpasang begitu jelas kali ini.
Rayn dan Titan sudah bersahabat ketika mereka duduk di bangku kelas 10. Keduanya bahkan sangat akrab, tahu akan kebiasaan masing-masing. Selain keduanya tampan, Rayn dan Titan seringkali menjadi incaran para siswi-siswi di sekolah untuk dijadikan pacar. Rayn yang tampak memanfaatkan ketampanannya, sehingga jika ada siswi yang mengajaknya untuk bekencan, Rayn tidak akan pernah bisa menolak.
Berbeda dengan Titan. Titan justru cenderung lebih cuek. Cuek dalam artian; ia tidak terlalu suka mengurusi hal-hal yang berbau percintaan. Bahkan, kisah asmara Titan di sekolah ini pun sangat tidak terdengar rumornya. Bisa dikatakan, bahwa kisah asmara Titan terdengar seperti tidak ada kisahnya dan tidak pernah ada yang tahu kisah asmaranya. Namun, Titan dikenal sebagai murid yang senang ikut berdemo dengan para mahasiswa. Akan tetapi, dirinya telah berkomitmen bahwa ia memang anti tawuran. Meskipun di sekolah ini, Titan dicap sebagai anak bandel, ia tetap mengikuti peraturan sekolah. Bahkan, Titan sangat ketat mengikuti peraturan sekolah. Hanya saja, penampilan dan cara berpakaiannya yang tidak mencerminkan bahwa ia murid yang senang akan peraturan sekolah, malah terlihat seperti anak bandel yang susah diatur. Terkadang, penampilan bisa membodohi cara pandang seseorang. Karena penampilannya itulah Titan dicap sebagai anak bandel oleh segelintir warga sekolah.
Kemudian, suasana kantin ini semakin riuh ketika kedatangan sosok murid riweuh seperti Jonathan. Penampilannya yang mengundang gelak tawa, tidak menyurutkan rasa percaya diri yang teramat tinggi bagi seorang Jonathan. Celana cutbray yang ia kenakan, membuat semua orang yang memandangnya setengah ****** menahan tawa.
"I love you, Bebeh. Aku cinta kepadamu. Ooh, ooh." Jonathan bersenandung dengan percaya diri, sampai tidak memperdulikan suara cekikikan teman-temannya.
__ADS_1
"Gila tuh bocah. Makin hari makin gak karuan." Rayn langsung terpelongo melihat tingkah temannya ini. Sementara Titan hanya tersenyum remeh sambil menggelengkan kepala pelan.
"Kecintaannya sama Tria The Changcuters semakin menjadi-jadi. Udah biarin aja." Titan berujar santai, dan kembali duduk, sementara tangannya memberikan isyarat pada tukang bakso; untuk memesan semangkuk bakso. Tukang bakso tersebut memberikan isyarat mengangkat jempolnya; pertanda oke.
"Biar kata mirip buaya, bagiku kau Luna Maya. Oow, oow, I Love you Bebeh." Jonathan dengan santainya berjalan ala-ala Tria The Cangcuters ke arah Rayn. Namun di sana Rayn hanya berpura-pura tidak mengenal Jonathan. Rayn hanya menundukkan kepala, karena malu.
"Hey, leher lo encok?" Tanya Jonathan pada Rayn.
"Siapa lo? Kenal sama gua?"
"*****! Ai sia kunaon? Poho ka aing? Oke pokokna mah, sia aing enggesan!" ucap Jonathan dengan logat sundanya yang kental. (*****! Lo kenapa? Nggak kenal ama gua? Oke, kalau gitu, pokoknya, lo gue end!)
"Abisnya. Sia deui, sia deui." Rayn berujar malas. (Abisnya, lo lagi, lo lagi)
"Kenapa emangnya?"
"Malu-maluin."
"Eh, ngomong naon maneh tadi?" Jonathan sepeti kesal pada Rayn. (Eh, bicara apa lo tadi?)
"Udah. Kalian gak usah berantem. Mending pesen bakso sana. Biar gue yang traktir," ucap Titan sedikit melerai, namun tangannya masih sibuk dengan sendok dan garpuh yang ia gunakan untuk makan bakso.
"Lama-lama, kayaknya kita harus bawa dia ke rumah sakit jiwa, Tan. Gue jadi ngeri. Ih." Rayn menggidik geli.
"Lo harus maklumin." Titan menghentikan sejenak aktifitas makannya. "Kecintaan seorang fans sama idola itu kadang membuat kita pengin dilihat sama persis kayak idola kita," sambung Titan.
"Ya, nggak gitu juga kali."
"Contohnya gue; kecintaan gue sama Bang Iwan Fals, membuat gue berani untuk melakukan apa yang dia lakukan dalam berkarya. Gue suka karya-karyanya. Dan gue suka cara dia dalam berkarya. Menginspirasi anak muda," ucap Titan.
"Ah, terserah lo, deh. Gue mau pesen bakso dulu." Rayn pun beralih menghampiri si tukan bakso. Titan pun kembali melanjutan aktifitas makannya yang tertunda.
Kini Titan hanya fokus pada semangkuk bakso yang belum habis ia santap. Baginya, kebahagiaan kecilnya adalah memakan bakso bersama teman-teman. Hal yang mungkin tidak pernah ia dapatkan di dalam sebuah rumah mewah nan megah yang menjadi tempatnya pulang. Titan memang anak orang kaya, tapi ... Ia miskin akan kebahagiaan. Kedua orangtuanya telah sukses mengejar cita-cita dan impian. Ayahnya adalah seorang pengacara handal di kota Bandung ini. Sementara Ibunya adalah seorang pimpinan perusahaan besar yang berada di kota Singapura. Hidupnya cukup bergelimang harta, namun Titan seolah tidak menginginkan semua itu. Titan tidak membutuhkan semua apa yang telah Ayah dan Ibunya berikan dalam bentuk materi dan fasilitas yang berlebihan. Ia hanya haus akan kasih dan sayang. Mungkin itu yang menjadi titik kelemahannya. Namun Titan tidak pernah menuntut apa pun dengan keadaan yang seperti ini. Ia mampu menelan kisah pahit dengan cara seolah tidak pernah merasakan sakitnya.
Di sela-sela makan bakso, ponsel Titan berdering. Tertanda pesan masuk dari kontak yang ia namai 'Mama'
__ADS_1
Mama : Nak. Maaf dalam minggu ini Mama belum bisa pulang. Tapi, bulan depan Mama akan pulang, Mama akan menemani Papa dalam persidangan kasus yang ditangani Papamu. Sudah pasti bulan depan Mama akan pulang. Mama kangen.
Titan berdecak pelan pada saat membaca pesan tersebut. Nafsu makan yang sempat memuncak pun, kini seolah sirna begitu saja. Titan menggeser pelan semangkuk bakso itu ke meja samping kirinya.
"Tan," ucap Rayn, dengan membawa semangkuk bakso sambil mencari posisi duduk yang tidak jauh dari Titan. "Lo kenapa? Baksonya nggak diabisin?" Tanya Rayn lagi, pada saat duduk tepat di sebelah kanan Titan.
"Kenyang."
"Yaudah, buat gue aja, ya, baksonya." Rayn mengambil semangkuk bakso yang terlihat masih penuh dengan bakso, kuah dan mienya.
"Silahkan."
"Wey. Ternyata orang kaya bisa doyan sama makanan bekasan juga, ya?" Sindir Jonathan pada Rayn. Rayn langsung memasang wajah sebal.
"Gimana aing, weh," ucap Rayn datar. "Oh, iya, Tan. Pulang sekolah lo beneran sibuk?" Rayn justru mengalihkan pembicaraan dengan Jonathan. Rayn malah melemparkan sebuah kalimat tanya pada Titan.
"Iya. Gue harus jemput pacar gua." Titan berujar, sambil memasukan ponsel yang sedari tadi ia pegang ke dalam saku celananya.
"Rajin bener lo, jemput pacar lo," timpal Jonathan sambil menyeruput mie dalam semangkuk bakso tersebut.
Titan tersenyum tipis, "karena gua sayang sama pacar gua."
"Oh."
"Udah kalian berdua makan aja sampai kenyang. Biar nanti gua yang bayar."
"Asyik. Makasih banyak, Tan. Sering-sering ya lo kayak gini sama kita." Jonathan tampak riang gembira, Titan hanya tersenyum saja sambil mengangguk kecil.
"Makan gratisan itu emang paling enak sedunia. Karena kita kan nggak bayar," ucap Rayn.
"Yoi, Rayn. Nggak harus ngeluarin uang juga. Hehe."
"Ya, iyalah, Jon. Kan tadi gue bilang; nggak harus bayar, berarti nggak ngeluarin uang. Dodol!" Seru Rayn. Jonathan hanya cengengesan. Titan pun tersenyum saja melihat tingkah dua temannya yang menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Titan.
Namun ternyata, sedari tadi Tania duduk membelakangi Titan di bangku kantin yang berjarak kurang lebih lima meter dari jarak bangku yang di duduki Titan. Tentu Tania mendengar obrolan-obrolan kecil yang tercipta di antara Titan dan kawan-kawan. Tania menyempatkan untuk menoleh ke belakang---ke arah di mana Titan duduk. Sepertinya, pada saat Tania melihat ke belakang, kebetulan atau tidak, Titan melihat juga ke arah Tania, dengan segera Tania kembali ke posisinya yang semula. Sedikit malu, Tania pun memukul keningnya pelan sampai berulang-ulang kali.
__ADS_1
"Bodoh. Kenapa gue harus nengok ke arah dia, sih?" Dumel Tania dalam hati. "Tapi, ngedenger kalau Titan udah punya pacar, kok gue sedih, ya?" Tania kembali menoleh ke belakang, mencuri pandang pada Titan, namun kali ini Titan tampak sibuk tertawa-tawa kecil dengan dua teman akrabnya.
Tania kemudian berlalu dari kantin ini. Tingkahnya seperti tidak biasa, dan Titan seolah merasakan hal itu. Titan memandangi punggung Tania yang semakin berlalu, dengan tatapan seolah mencari jawaban atas tingkah Tania yang menurutnya sudah berubah belakangan ini. Karena ini kali pertama bagi mereka, ketika dihadapkan pada satu tempat, tapi mereka tidak bertengkar. Karena biasanya, hal sepele apa pun akan menjadi sebuah hal besar yang mendatangkan sebuah pertengkaran antara Titan dan Tania. Keduanya adalah musuh bebuyutan. Awal pemusuhan mereka terjadi karena ... Keduanya ingin menjadi ketua ekstrakulikuler badminton sewaktu kelas 10.