Titan'S 2

Titan'S 2
16


__ADS_3

"Jam berapa sekarang?"


"Masih jam 1 siang. Kenapa?" Gael menaikkan alisnya sebelah seraya menatap santai ke arah Tania.


"Oh. Nggak."


"Mau kepo soal pacarnya Titan?" Gael nyengir, sementara Tania menundukkan wajahnya dengan wajah yang seperti tidak bersemangat. Langkah kaki Tania pun berubah memelan—seperti ingin membuat waktu menjadi lebih lama lagi—untuk bisa mengobrol bersama Gael di sepanjang jalan.


"Ya pengennya gitu."


"Sekarang, lo dibutakan oleh cinta, Tania. Lo emang udah bener-bener tumbuh dewasa dan terjebak dalam urusan percintaan yang rumit. Bukan cintanya sih yang rumit. Tapi, kisahnya yang membingungkan. Gue harus bicara pahit sama lo, gue punya firasat buruk, kalau lo sama Titan nggak akan pernah bisa bersatu. Kecuali—"


"Kecuali apa?" Tania dengan sigap menanyakan hal itu.


"Kecuali kalau lo emang bersedia jadi pengagum rahasia."


"Pengagum rahasia?"


"Ya. Macam cewek-cewek yang ada di sinetron drama Korea. Mungkin jatohnya lo sama kayak si Oh Hani yang mengejar cintanya Baek Seun Jo, dalam serial naughty kiss. Tapi, lo jangan ngarep buat happy ending, ya." Gael terkekeh. Sementara Tania memasang wajah sebal.


"Lo pecinta Korea juga?"


Gael menggeleng pelan disertai senyum tipis yang memesona.


"Kalau emang bukan, kenapa lo tau kisahnya Oh Hani. Ah, iya, lo 'kan makhluk keabadian, ya. Mungkin dengan seenaknya, lo bisa loncat sana-loncat sini. Ya, 'kan? Bagi lo 'kan untuk menginjakkan kaki di Negara Korea cuma tinggal tuing aja. Ya, 'kan?" Tania berceloteh, membuat Gael tak henti-hentinya tersenyum gemas.


"Gue nggak bisa loncat sana-loncat sini seperti apa yang lo katakan barusan. Karena apa? Gue bukan pocong yang bisa loncat-loncatan."


"Yaelah. Itu 'kan pengibaratan."


"Oh."


"Oh doang?"


"Iya."


"Hm. Oke. Balik ke topik pembicaraan. Sebenarnya, apa lo tau akhir kisah gue ini akan seperti apa? Dan kenapa lo bilang kalau gue nggak akan pernah bisa bersatu sama Titan? Jujur, akhir-akhir ini gue emang ngerasa kayak orang gila baru karena yang ada di otak gue itu cuma Titan dan segala pertanyaan yang masih belum gue temuin jawabannya. Lo bisa bantu gue, Gael?" Tania berujar serius kali ini. Gael pun menanggapinya dengan serius, wajahnya terpasang seolah mendengarkan curhatan Tania dengan sangat baik dan berhati-hati.


"Gue adalah pendengar yang baik buat lo. Dan lo harus juga tau, apa pun yang gue ketahui tentang akhir cerita lo, gue nggak akan bisa menceritakannyasekarang. Lo cukup ikutin intruksi yang gue bilang. Supaya apa? Supaya hati lo tetap terjaga keutuhannya."


"Perasaan gue ke Titan udah terlanjur tumbuh, Gael."


"Kalau gitu, lo harus lebih ekstra untuk menjaga hati lo."


"Tapi, kalau pada dasarnya gue nggak dipersatukan sama Titan, buat apa cinta ini tumbuh?"


"Terkadang cinta seperti itu, ia hadir bukan hanya sekedar harus memiliki. Tapi cinta, terlalu kejam pada saat seseorang harus menerima bahwa cintanya tidak harus memiliki."


"Terus apa yang harus gue lakuin?"


"Ya itu tadi."


"Menjaga hati gue? Kalau gue nggak bisa gimana?" Ada perasaan ragu di hati Tania. Akan tetapi, Gael berusaha untuk meyakinkan Tania—agar Tania tetap tenang dan percaya terhadap dirinya sendiri.


"Lo akan menemukan jawabannya setelah lo ketemu sama Tristan."


"Tapi gue nggak tau di mana Tristan." Tania kembali menghentikan langkah kakinya—begitu pun dengan Gael.


Gael menghela napas pelan. Ia berpikir sejenak untuk melakukan sesuatu agar bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Tania. Seketika hembusan angin datang dari arah belakang, membuat anak rambut milik Tania menari-nari terhembus angin. Gael menoleh ke arah Tania, menatap Tania dengan tatapan biasa namun punya arti yang mendalam. Gael tersenyum tipis dan sangat terlihat samar ke arah Tania. Tania sama sekali tidak menyadari akan hal ini. Setelah beberapa menit, akhirnya Gael pun membuka suara. Gael memegang tangan Tania.


"Lo tunggu di sini. Gue akan berusaha mempertemukan lo dengan Tristan."


"Lo mau ke mana?"


"Pergi sebentar."


"Pergi untuk ketemu Tristan? Gue ikut aja sekalian."

__ADS_1


"Nggak. Lo pulang aja. Gue nggak akan lama."


Tanpa basa-basi lagi, Gael melebur menjadi butiran dandelion yang tertiup angin. Gael menghilang dan pergi sejenak untuk mencari tahu tentang hal yang tidak diketahui oleh Tania. Tania tersenyum tipis melihat Gael yang memudar dan menghilang. Lagi-lagi, perasaan Tania sedikit lebih tenang dan lega karena Gael selalu berusaha untuk membantunya dalam permasalahan yang cukup rumit ini. Mengenai Tristan, atau Titan, atau hal-hal yang tidak terduga. Cepat atau lambat, Gael akan memberikan jawabannya pada Tania. Namun, Gael selalu punya cara untuk menjelaskannya pada Tania. Cara Gael dalam penjelaskan adalah dengan cara perlahan tapi pasti, dan itu akan membuat Tania lebih cepat memahami dan mengerti.


Tak lama, ketika Tania hendak melanjutkan langkah kaki. Ponsel Tania berdering tertanda telepon masuk. Dengan segera Tania langsung memencet gagang telepon berwarna hijau pada layar sentuh ponselnya.


"Hallo?"


"Gue Rega. Lo di mana?"


"Udin?"


"Iya. Udin di sini."


"Ada apa, Din?"


"Lo di mana?"


"Lagi di jalan mau pulang."


"Lo bisa temuin gue dulu, nggak?"


"Lo di mana?"


"Di pemakaman umum yang ada di seberang komplek indah sari."


"Pemakaman?"


"Ya. Lo bisa ke sini?"


"Buat apa ke sana?"


"Ada yang mau gue jelasin."


"Kenapa harus ketemuan di pemakaman? Di cafe aja."


"Buruan ke sini, kalau emang lo mau tau soal mimpi lo."


Tania mematikan sambungan teleponnya dan langsung bergegas berlari menuju ke pemakaman yang berada di seberang komplek Indah Sari. Lokasi itu tidak terlalu jauh dari posisi Tania saat ini. Mungkin hanya naik angkot 10 menit saja sudah sampai. Tania akhirnya mengurungkan niatnya untuk membuntuti Titan di jam 2 siang nanti. Karena ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar rasa keponya pada pacar Titan.


Kisah rumit telah menyapa dalam kehidupan seorang Tania. Ia tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Namun kembali lagi, karena hati tidak bertulang, maka sebab itu hati mudah rapuh dan mudah untuk merasakan cinta kepada siapa saja yang berani singgah dan datang. Tidak ada benteng abadi yang bisa menjaga keutuhan hati agar tidak bisa satu orang pun yang menyakiti. Hanya diri sendiri dan keteguhan yang membuat hati akan terus bahagia dengan perasaan yang berhasil tumbuh dan membara. Itu yang dirasakan Tania. Semoga saja, ia tidak akan pernah lagi keliru dalam perasaannya. Dan Tania harus mengakui bahwa dirinya telah benar-benar jatuh cinta pada sosok seperti Titan.


***



(Gael)


Saat di pemakaman. Tania celingak-celinguk, mencari sosok Rega alias Udin di sana. Dan, akhirnya Tania menemukan sosok Rega yang tengah berdiri di dekat baru nisan yang entah itu milik siapa. Tania lantas langsung mendekati Udin.


"Lo kenapa ngajak ketemu gue di sini?" Tanpa embel-embel sapaan, Tania langsung bicara pada intinya.


"Ada yang harus lo tahu."


"Apa?"


"Tristan."


"Tristan?"


"Ya. Tristan. Ini kuburan Tristan. Tristan adalah Kakaknya Titan. Tristan menyuruh gue buat mempersatukan lo sama Titan dalam ikatan cinta. Lo tau? Titan nggak pernah tau kalau dia punya Kakak. Tapi, gue udah pernah ngasih tau ke dia."


"Tristan mau mempersatukan gue dengan Titan? Atas dasar apa?"


"Karena Tristan suka sama lo."


"Suka sama gue?"

__ADS_1


"Ya."


"Please. Lo jangan bikin gue bingung, Din. Gue nggak pernah kenal sama Tristan."


"Apa lo mengenal Riana?"


"Riana siapa?"


"Pacar Tristan."


"Riana yang lo maksud itu Kak Riana yang menjadi guru private gue waktu SMP?"


"Ya. Betul."


"Ada hubungan apa sama Kak Riana?"


"Lo harus tahu. Tristan dan Riana udah lama pacaran, dan mereka akan menikah. Akan tetapi, entah apa yang membuat Tristan menggagalkan acara pernikahan itu, tapi yang jelas alasannya karena lo."


"Karena gue?"


"Ya."


"Gue kenapa?"


"Bisa dibilang Tristan memilih lo ketimbang Riana yang udah dipacarinya selama 4 tahun."


"Tapi 'kan waktu itu gue masih SMP. Mana mungkin pacarnya Kak Riana suka sama gue."


"Nggak ada yang mustahil di dunia ini."


"Tapi, nggak ada yang sekonyol itu, Din." Tania meragu atas kenyataan yang telah Rega beritahu pada Tania. Tapi di sana, Rega seolah meyakinkan Tania untuk bisa menerima kenyataannya.


"Lo salah. Gael bilang, Tristan masih hidup. Jadi nggak mungkin ini kuburan dia." Tania berucap, lagi.


"Jadi, lo udah ketemu sama Nero Abigael?"


"Ya. Dan sekarang Gael lagi nemuin Tristan." Tania berujar tegas, meski kini matanya berkaca-kaca.


Rega pun tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya terdiam. Jika Rega sudah mendengar nama Gael, maka ia tidak akan bisa berkutik apa pun. Yang ada dipikiran Rega saat ini adalah; mengapa Gael tidak sependapat dengan Rega. Biasanya, Rega dan Gael selalu memiliki pendapat yang sama.


"Hm." Seseorang tiba-tiba datang, tanpa terdengar suara langkah kakinya—sebelumnya. "Udah gue bilang, lo nggak boleh ceroboh. Tadi 'kan gue nyuruh lo pulang," ucapnya pada Tania.


"Nero?" Rega mengernyit.


Gael menoleh ke arah Rega. "Panggil gue Gael aja, Din. Karena Tania yang ngasih nama panggilan Gael ke gue. Dan gue suka sama nama panggilan itu." Gael tersenyum.


"O-oke."


"Lo udah ketemu Tristan?" Tanya Tania pada Gael.


Gael mengangguk pelan. "Ada hal yang harus kalian berdua tau. Tristan masih hidup."


"Nggak mungkin, Gael. Gue sering nemuin arwahnya Tristan dan dia minta bantuan ke gue buat mempersatukan Tania dan Titan. Jadi, gue narik kesimpulan bahwa Tristan suka sama Tania, dan penyebab mimpinya Tania itu adalah karena Tristan."


Gael tersenyum miring, "lo udah salah narik kesimpulan. Ada beberapa hal yang nggak lo tau, Din. Arwahnya Tristan bisa aja mendatangi lo. Tapi, tubuh Tristan belum terkubur. Dia masih hidup. Dan, kalian bisa temuin dia di rumah sakit Cahaya Sehati. Tristan terbaring koma di sana. Dia membutuhkan bantuan lo, Din. Soal kuburan ini, ini akan menjadi misteri. Karena orang yang berada di dalam kuburan ini bersangkutpaut sama mimpi Tania." Gael berucap panjang lebar.


"Ini kuburan siapa, Gael?"


"Kalau waktunya udah tepat, gue pasti bakal kasih tahu lo."


"Jadi, selama ini analisis dan kesimpulan gue salah?" Tanya Rega.


"Yap. Dan, lo juga harus tahu. Kalau Tristan sama sekali nggak ada hubungan darah sama Titan. Teka-teki ini baru dimulai, dengan seiring bertumbuhnya rasa di relung hati Tania. Gue nggak bisa menjamin ini akan bahagia di akhir cerita. Tapi, kalian berdua nggak boleh ngasih tahu Titan tentang keberadaan Tristan saat ini. Karena Titan sudah mengambil persepsi kalau Tristan adalah Kakaknya. Bisa jadi, kalau dia tahu keberadaan Tristan, Titan akan membenci Tania jauh lebih dalam lagi." Gael berujar serius, tatapannya tertoleh pada Tania.


"Lo tenang aja, Tania. Gue pasti bakal ngasih penjelasan baru ke si Titan. Gue pasti bantuin lo. Lo tenang aja. Maaf kalau gue udah ngasih info yang salah." Rega meminta maaf pada Tania. Dan Tania hanya mengangguk—tertanda memberikan maafnya pada Rega.


Tbc!

__ADS_1


Published | Bogor, 20 Juli 2018


Pukul 15.12 WIB


__ADS_2