
(Tania👆)
"Sampai gue mendapatkan cinta sejati?" Tania mengerutkan alisnya, seraya menatap datar ke arah Gael. "Kalau gitu, mungkin kisah gue ini bakal ngalahin serial drama India Uttaran, dong?" Tania berujar lesu.
Gael terkekeh kecil. "Nggak. Kisah lo hampir mirip kayak drama Korea, lah."
"Hm."
"Lo kelihatannya betah lama-lama di sini, ya." Gael mengalihkan pembicaraan, saat melihat raut wajah Tania yang memang terlihat teduh dan tenang saat di rumah ini. Berbeda ketika ia berada di rumah Uwanya. Gael mampu melihat dan menemukan raut ketenangan yang tersembunyi dari wajah Tania. Itu sebabnya, Gael melontarkan kalimat itu pada Tania.
Lantas Tania mengangguk pelan, disertai senyum tipis yang begitu manis, "Iya. Di rumah ini, gue seperti menemukan sisi lain dari diri gue yang sudah bertahun-tahun hilang. Gue ngerasa nyaman, nyaman dengan keadaan gue yang udah nggak seperti dulu lagi. Maksud gue, gue akan berusaha membuat semuanya nyaman, dengan kondisi keterpurukan gue, yang merindukan sebuah keluarga yang utuh. Dan selamanya mungkin gue akan tetap kayak gini. Bahkan gue bisa membuat seisi dunia tertipu, dengan keceriaan gue yang sama sekali nggak menunjukkan kalau gue terpuruk. Gue masih bisa tersenyum, walau terasa berat untuk dilalui. Gue masih bisa berdiri, walau lutut dan kedua kaki gue seakan rapuh untuk berjalan. Ditambah lagi, saat ini, relung hati gue udah terisi seseorang, yang gue sendiri belum tau pasti, apakah dia akan juga mencintai setulus hati." Tania berujar dengan sorot mata penuh arti, lalu tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya pelan. "Gue rasa ini terlalu konyol." Tania berujar, lagi. Dan menganggap semuanya tidak sebanding dengan apa yang diharapkannya.
"Semua orang punya kisah rumit. Sama kayak lo. Tapi, lo punya kisah yang beda." Gael bertutur teduh, Tania pun membalas tatapan mata Gael.
"Hm." Tania menghela napas pelan, "Gue nggak mau terlalu larut. Mending sekarang kita pulang. Lukisan ini udah gue ambil. Setidaknya, gue bakal majangin lukisan lo di dalem lemari baju gue, ya."
"Kok di lemari? Kenapa nggak di dinding kamar lo?"
"Gue trauma."
"Trauma kenapa?"
"Lo bisa aja ngintip gue waktu pas ganti baju. Jadi, gue simpen lukisan lo di lemari aja. Biar mata lo nggak ke mana-mana."
"Yaelah. Gue punya selera tinggi dalam hal begituan."
"Maksud lo apa?"
"Lo pikir aja sendiri." Gael tersenyum miring, lalu mengalihkan pandanganya ke segala arah.
Tania pun mendengus pelan melihat tingkah Gael yang selalu saja membuat hatinya sebal. Meskipun begitu, kini Gael memiliki tempat tersendiri di dalam kehidupan Tania. Tania merasa lebih baik dari yang sebelumnya, karena Gael memberikan warna tersendiri bagi kehidupan Tania. Jiwa periang yang kesepian, mungkin selogan itu yang tepat menggambarkan sosok seperti Tania.
Kehadiran Gael tentu sangat bermakna dalam kehidupan Tania.
***
Berbeda dengan Titan, yang kini menghabiskan waktu bolos sekolahnya untuk pergi ke tempat yang bisa dikatakan itu adalah tempat perkumpulan anak-anak brandalan. Titan tampak larut dalam situasi yang tampak buruk seperti ini. Baginya, ada saat di mana ia harus melupakan seluruh ingatan jahat dengan cara yang ia miliki sendiri. Bukan menjadi anak brandalan, pada dasarnya ia anak yang patuh pada peraturan. Hanya saja, beberapa tahun belakangan ini, Titan lebih susah diatur, dan Titan menganggap bahwa dirinya tidak begitu sempurna dan berguna bagi orang-orang terdekatnya. Orang-orang terdekatnya selalu dilukai, tapi Titan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berontak dengan keadaan yang selalu membuatnya menjadi tidak berguna.
"Lo bolos lagi, Tan?" Tanya salah satu teman brandalnya.
"Iya." Titan tersenyum kecut saat menjawab pertanyaan temannya itu.
"Yaelah. Kenapa lagi? Lo banyak masalah? Kenapa lo nggak ikut kita aja. Iya, nggak?" Salah satu temannya menimpal, dan teman yang lainnya mengiyakan perkataan itu.
"Yoi, Bro. Hidup kita bebas. Bebas dari pendidikan, bebas dari pelajaran sekolah, bebas dari aturan-aturan orangtua. Bahkan, kita aja nggak tau di mana orangtua kita. Haha." Sorak ria beberapa temannya itu membuat Titan hanya bisa tersenyum kecut dan tidak terlalu banyak bicara.
"Lo semua berhak memilih hidup yang kayak gimana. Gua hanya sedang protes pada situasi di mana—" Titan memberikan jeda pada kalimat yang diucapkan di dalam hatinya.
Titan lantas menghela napas pelan, "—saat gue nggak mampu menjaga orang-orang yang ada di sekeliling gue. Ditambah lagi, Nyokap sama Bokap telah memilih jalan yang salah, meskipun berulangkali gue mengingatkan, tapi tetap aja mereka lakukan. Dan pada akhirnya, gue harus bertengkar sama mereka—yang seharusnya itu nggak pernah terjadi. Gue nggak mau aja kedua orangtua gue terlibat kasus suap, hanya dengan alasan untuk bisa membahagiakan gue dengan fasilitas-fasilitas yang mahal. Padahal, gua nggak menginginkan hal itu. Kebahagiaan gue bukan diukur dari materi, tapi dari kenyamanan yang diciptakan oleh kesederhanaan," batin Titan berbicara. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh Titan, tapi ia berusaha untuk menyimpan kegelisahannya—agar orang lain tidak perlu tahu apa yang menjadi kelemahannya.
Meski ikut bergabung dengan beberapa brandalan, tapi di sini Titan tidak ikut larut dalam obrolan dan hal-hal receh yang teman-teman brandalannya lakukan, tapi ia larut dalam situasi seperti ini. Titan hanya sedang membutuhkan sebuah ketenangan. Lantas, ia pun memasang earphone ke telinganya, mendengarkan alunan musik yang disukainya dari ponselnya sendiri. Dengan begitu, Titan pun menyandarkan kepalanya—membuat wajahnya mengadah sedikit ke atas. Matanya tertutup menikmati suara musik yang tersalurkan oleh earphone ke telinganya. Dengan posisi berdiri, menyandarkan punggungnya, Titan tampak menikmati hal ini.
"Orang-orang nggak pernah tau. Betapa sakitnya hati gua." Batin Titan. Kemudian, dia larut dalam alunan musik itu.
Tiba-tiba ada beberapa notice di ponselnya, yang membuat Titan merasa terganggu. Titan pun membuka matanya dan langsung membuka beberapa pesan chat yang masuk ke dalam ponselnya.
Pura-Pura Gak Kenal (4)
Rega/Udin : Tes...
Rega/Udin : Tes...
Read by 3
Rega/Udin : woy! Diem-diem bae, ngopi napa ngopi! Jangan read doang!
Jonathan : Gilak, nama grupnya wakakkak *****.
Rega/Udin : ngapa masalah?
Rayn : Si Udin PA! Grup apa ini? Mau bikin arisan? Pake grup beginiaan lagi. Kurang kerjaan sia teh.
Rega/Udin : buat nyambungin silahturahmi, eh! Kita kan nggak satu sekolahan. Pada sewot ae pan. Lu berdua pada di mana? Bolos ya lu? Hayoo.
Rayn : gua di kelas. Elu doang ye yang misah. Gue, Jojon, sama Titan mah satu sekolah.
Jonathan : gue lagi di UGD.
Rayn : kampret! Lu kan di samping gue, Jon.
Jonathan : UGD, Unit Galau Darurat. Eaaak.
Rega/Udin : komplak jinjeng. Kakakkakkak.
Rayn : galau napa, Jon? Eh tapi kita kok kayak orang ****, Jon. Kita kan duduk bersebelahan, tapi ngobrol di chat. Wah anak jaman now.
Jonathan : pengen punya pacar aing teh. Bosen jomblo. Jadi galau deh.
Rega/Udin : ****. Miris idup lo.
Jonathan : hidup itu butuh wacana. Wahai para PASUKAN!
Rayn : Wacana apa, ***?
Jonathan : wacana (wanita cantik mempesona) wkwkwk.
Rayn : vangke!
Rega/Udin : itu yang dimaksud Pasukan apanya ya, Jon? Pasukan (pasukan pria suka makan) bukan? Wkwkwk.
__ADS_1
Jonathan : sa ae Udin.
Rega/Udin : grup ini kayak kura-kura ya. Eh.
Jonathan : maksud lo? Lambat kayak kura-kura?
Rega/Udin : Kura-Kura, kumpulan pria kurang gairah. Jiahaha.
Jonathan : Errrr...
Rayn : Titan cuma minyak aja, nih.
Jonathan : nyimak! Typo tuh typo.
Rayn : typo itu apa?
Jonathan : salah nulis kata. Setau gue itu juga.
Rayn : berarti kalau salah naro hati untuk seseorang juga typo dong?
Jonathan : jangan baper.
Rayn : ehlah, siapa yang baper?
Jonathan : elu Solikin!
Rayn : ****. Solikin dia kate.
Rega/Udin : Jon, semalem gua mimpiin anaknya Pak Rt. Yang waktu itu lo nunjukin ke gue tea yang cakep plus cantik orangnya. Semalem gue mimpiin dia.
Jonathan : perasaan nggak ada yang nanya deh.
Rayn : somplak! Kakakaka.
Rega/Udin : Jon, lu keluarga gua bukan?
Rayn : ....
Jonathan : amit-amit.
Rayn : imut-imut.
Jonathan : Rayn jangan ikut campur!
Rayn : tuh ditanya Udin. Lo keluarganya bukan?
Jonathan : Be-ubu-ka-akan. Bukan!
Rayn : Ge-igi-ge-igi. Huntu. Ngakak!
Jonathan : Te-iti-de-udur. Ngantuk!
Jonathan : Udin ngapain nanya kalau gue keluarga lo apa bukan. Jelas bukanlah!
Rega/Udin : ada yang mau daftar jadi keluarga lo.
Jonathan : siapa? Elu? Ogah!
Rega/Udin : Be-ubu-ka-akan. Bukan!
Jonathan : terus?
Rayn : terus? (3)
Rega/Udin : kasih tau nggak, ya. Hehe.
Jonathan : jangan rese, Din. Gue santet baru tau rasa lo.
Rayn : lo harus tau, Din. Si Jonathan kan kolektor boneka santet. Bisa-bisa lo disantet.
Jonathan : kalau nggak santet, lo gue kutuk Din!
Rega/Udin : wkwk. Santet aja. Tapi sebelum lo santet, lo boleh kutuk gue. Silahkan. Tapi gue request, gue mau dikutuk jadi ganteng ;v
Jonathan : kameha-meha. Jawab dulu pertanyaan aing eh.
Rega/Udin : Si Inem yang mau daftar jadi keluarga lo. Kata dia, dia bersedia jadi istri lo juga. Kabuuuuuuur. Wkwkwk.
Jonathan : sialan! Si Sarudin tak kudin-kudin. Emangnya gue nggak tau apa si Inem itu siapa. Hantu penunggu sekolah 'kan?
Rayn : ****. Hantu legenda Samantha itu kan? Udah Jon, terima aja. Walaupun gua dan elo belum pernah lihat wujud Inem. Tapi gua yakin, dia itu cewek. Bukan transgender.
Jonathan : cewek sih cewek. Ya jangan hantu juga kali. Kalau gue kawin ama hantu, mau jadi apa anak gue nanti?
Rayn : mau jadi anak lah. Wkwk.
Jonathan : laknat! Si Udin mana? Main ngilang aja dia. Woy!
Rayn : kabur dia. Abis ngatain elo langsung kabur. Wkwk.
Jonathan : kabur kemana. Jangan kabur dulu! Dia tadi ke WC belum bayar.
Rayn : ****.
Rega/Udin : sembarang! Siapa yang ke WC peak!
Rayn : tuh orangnya muncul lagi. Sendalnya ketinggalan kayaknya. Bhaks.
Jonathan : sudahlah lupakan.
Rayn : kau terlalu manis tuk dilupakan.
__ADS_1
Jonathan : najis!
Rayn : najis ada artinya loh.
Jonathan : apaan?
Rayn : naksir jiwa saya. Haha.
Jonathan : siapa?
Rayn : yang nanya.
Rega/Udin : woy, Jon, Rayn, kapan ada waktu kumpil lagi? Gue nggak sabar pengen ketemu sama anaknya Pak RT itu.
Rega/Udin : *kumpul
Jonathan : kalau lo lelaki sejati, lo samperin ke rumahnya, hadepin Bapaknya.
Rega/Udin : ngapain hadepin Bapaknya? Kan gue naksirnya sama anaknya, bukan Bapaknya.
Jonathan : tak tik, coy! Lu kudu deketin bapaknya dulu sebelum anaknya. Biar direstuin dan didukung.
Rega/Udin : nanti kalau bapaknya baper sama gue gimana?
Rayn : ya apa boleh buat. Jadian aja.
Rayn : Titan cuma nyimak aja. Eh.
Rega/Udin : gua masih normal. Gue nggak suka om-om.
Jonathan : lu bukan cuma normal lagi, Din. Lo bisa dikatakan di atas orang normal. Apalagi, kalau dilihat dari kemampuan indigo lo. Roy Kiyoshi bisa kalah sama lo.
Rayn : waduh, di atas orang normal. Penyebutan lainnya bisa dikatan jenius ya? Atau pinter, atau orang kelewat pinter. Sangkin kelewatnya, palanya botak. Terlalu banyak rumus di otaknya. Kayak profesor gitu bukan? ****. Jadi orang kaya lo Din nanti kalau udah tua.
Jonathan : bukan itu yang gua maksud Rayn! Si Udin nggak jago-jago amat dalam urusan pelajaran. Tapi kalau urusan dunia lain dia jagonya. Tau Dilan kan? Dia kan suka nanya ramalan ke si Udin. Wkwkwk.
Rayn : widih.
Rega/Udin : kembali ke topik pembicaraan. Kapan kita ketemu? Gue pengen ketemu anaknya Pak RT.
Jonathan : kan tadi gue bilang, temuin dulu bapaknya kalau lo suka anaknya.
Rega/Udin : takutt...
Jonathan : takut kenapa?
Rayn : Udin penakut juga?
Rega/Udin : biasanya, kalau cewek cantik, Bapaknya galak, cuy.
Jonathan : terus? Kalau cewek galak, Bapaknya cantik gitu?
Rayn : ****. Haha.
Rega/Udin : etdah. Bubar! Bubar! Bubar!
Titan : sorry, baru buka pesan. Kalian ngeributin apa? Cewek? Yaelah.
Rega/Udin : kita ngeributin kolor, Tan. Wkwkwk.
Titan : aelah.
Jonathan : kita lagi ngerebutin kutang emaknya Udin, Tan.
Titan : setdah.
Rayn : kita lagi ngomongin Tania, Tan.
Rega/Udin : sssst!
Rayn : kenapa, Din?
Jonathan : perasaan dari tadi kita nggak ngomongin Tania deh, Rayn.
Rayn : tapi bohong. Wkwk.
Rega/Udin : kalau Tania mah ada di samping gue, nih.
Rayn : hah?
Jonathan : serius?
Rayn : et et et, lo kenal Tania?
Rega/Udin : nggak gue bercanda. Gue nggak lagi sama Tania. Wkwkwk.
Rega/Udin : kenal. Tania Alexandra, 'kan? Kenal dong.
Titan : lo serius kenal Tania?
Rega/Udin : why?
Titan : cewek itu nggak baik. Seharusnya di antara kita nggak boleh ada yang deket sama dia.
Rega/Udin : why? Tania cewek baik, kalau menurut pandangan gue. Dia juga manis.
Rayn : ....
Jonathan : .
To Be Contineud....
__ADS_1