
Sengaja Gael tidak mengikuti Tania ke sekolah. Jika memang sudah waktunya untuk dia menyusul Tania ke sekolah, maka ia akan segera ke sekolah. Gael saat ini tampak gusar, sesekali ia melirik jam dinding yang semakin lama semakin berjalan naik setiap detiknya. Ada kecemasan yang terlihat di wajah Gael, namun ia mencoba untuk mengontrol situasi hatinya yang semeraut.
Gael menghela napas pelan.
"Uh. Apa gua sanggup menyaksikan kisah pahit. Gue ngerasa kalau gadis itu emang bener-bener polos. Dia nggak tau, bahwa akan ada kenyataan pahit yang akan menimpanya. Apakah dia bisa kuat menerima semuanya? Gue rasa nggak." Gael bermonolog, dan berdiskusi dengan dirinya sendiri mengenai Tania.
Jika memang ini menjadi tugas terberat bagi Gael, mau sepahit apa pun kisah yang akan ia saksikan, ia harus bisa menyelesaikan tugasnya sampai tuntas. Sebagai Petinggi Dewa Mimpi, ia harus bisa memberikan sebuah penjelasan pada Tania dengan cara hal yang Gael punya. Jujur, untuk pertama kalinya bagi Gael mendapatkan tugas sangat berat, ditambah lagi, ia harus dilibatkan dengan Tania—yang jelas-jelas akan ada kisah yang belum diketahui oleh banyak orang. Kaisar mimpi—atasan Gael pun, sama sekali tidak memberitahu apa pun pada saat memberikan tugas ini. Dunia Gael memang gelap, semuanya berhubungan dengan malam dan sebuah mimpi.
Bisa diartikan, sebangsa kaum di dunianya Gael sehubungan dengan dunia para bintang, hantu, dan sampai ke Dewa Kematian. Dunia Gael memang berbeda dengan Tania. Lantas, mengapa Gael seperti dihadapkan pada sebuah kecemasan yang tidak berujung?
Untuk mengenal sosok Nero Abigael lebih jauh lagi, ia adalah pria tampan yang tidak bisa mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai makhluk bayangan. Dalam dunianya, ia dikenal sebagai sosok yang terbalut cahaya hitam di seluruh pakaian yang dikenakannya. Namun, ada sorot cahaya putih yang terpancar dari wajahnya dan kulitnya. Gael adalah sosok kesepian, bahkan ia lebih memilih ingin hidup layaknya seperti manusia. Akan tetapi, takdirlah yang membuatnya seperti ini. Ia terlahir tanpa Ayah dan Ibu—sama sekali tidak mengerti tentang arti kata Ayah dan Ibu. Bahkan, di dunianya, Gael disebut sebagai black child.
Ya, Gael adalah makhluk keabadian. Terkadang memang, ada saat di mana Gael sering mengeluh bahwa hal yang selalu mendatangkan rasa bosan itu bukan karena terjebak ke dalam ruang sepi. Tapi karena terjebak ke dalam keabadian, terlalu sering dihadapkan dengan sebuah kebosanan dan rasa sepi.
Seperti kosong, tak berwarna.
Dan, Gael pernah mengutuk dirinya sendiri yang tampak menyedihkan dan merasa kalau dirinya diemban tugas yang jahat. Dalam artian, ia selalu pergi jauh meninggalkan, pada saat setelah melihat orang lain tersakiti dalam kisahnya. Hanya sebatas itu, tugas Gael bukan untuk membantu orang lain sembuh dari patah hati, tapi Gael sering kali membantu orang untuk selalu mengerti, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, cinta bukan hanya sekedar kata 'aku dan kamu, menjadi kita.' tapi juga tentang sebuah 'pengorbanan, kesetiaan, harapan, dan perpisahan.' sekali pun itu adalah sebuah 'ketidakpastian, atau cinta yang bertepuk sebelah tangan.'
***
Tania berjalan memasuki gerbang. Ia sama sekali tidak memperdulikan teman-teman yang lain—yang tampak heboh dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Awalnya memang Tania tidak tertarik untuk mendengarkan ocehan beberapa temannya, namun seketika itu ia mengernyit dan memutuskan untuk membuka telinganya—yang tadinya terpasang earphone.
"Deby keluar dari sekolah!"
"Iya? Kata siapa lo?"
"Serius gue."
"Lah, akhirnya tuh bocah keluar juga dari sekolah ini. Jijik gue sama tingkah dia. Sok banget. Udah tau si Titan nggak suka sama dia. Masih aja dia deketin. Titan itu, cocoknya sama gue."
Tania terdiam saat mendengar dua orang siswi yang berdiri tak jauh dari posisinya saat ini. Lantas, Tania pun langsung berjalan cepat menuju kelasnya untuk menemui ratu segala informasi. Ya, siapa lagi kalau bukan Ratu—teman sebangku Tania, yang dijuluki ratu segala informasi.
Saat sampai di kelas, Tania langsung tanpa basa-basi menanyakan hal yang saat ini menjadi pembicaraan hangat di sekolah.
__ADS_1
"Rat, si Deby keluar dari sekolah?"
"Eh elo, Tan. Duduk." Alih-alih menjawab pertanyaan Tania, Ratu justru malah mempersilahkan Tania untuk duduk terlebih dahulu.
Tania pun duduk. "Jawab pertanyaan gue."
"Iya."
"Iya? Maksud lo?" Tania menautkan alisnya sebelah. "Jadi bener? Deby keluar dari sekolah ini?" Sambung Tania.
"Yap." Ratu tersenyum lebar.
"Oh."
Tania hanya bisa ber-oh datar saja. Tidak terlalu heboh menanggapi hal itu, Tania hanya ingin memastikan bahwa berita itu benar atau salah. Setelah mendapatkan jawabannya, Tania sudah merasa cukup.
"Woy!"
Seseorang yang baru saja datang—berdiri di ambang pintu kelas, melemparkan pensil tepat ke arah kepala Tania. Hingga Tania pun merasa sedikit sakit. Seseorang itu benar-benar membuat Tania naik darah. Namun, Tania berusaha untuk menahan emosinya saat tahu siapa orang yang sudah melemparkan pensil hingga mengenai kepalanya.
"Titan!" Dengus Tania pelan.
Titan tersenyum remeh dan duduk di kursinya sendiri. "Kenapa? Mau marah? Silahkan aja," katanya tanpa wajah berdosa sedikit pun.
"Lo nggak pernah berubah."
"Buat apa berubah?"
"Kenapa sih, lo hobby banget bikin gue kesel?!"
"Ya suka-suka gue, dong."
"Ngeselin, ya! Seharusnya, lo itu nyusul si Deby buat keluar dari sekolah ini! Sekolah ini nggak butuh orang kayak lo, lo itu bandel, lo itu cowok yang nggak berperasaan, lo itu cowok aneh, lo cowok super jahil, dan lo—"
__ADS_1
"Kenapa?" Titan berhasil memutuskan kalimat Tania. "Gue ganteng? Iya? Mau ngomong itu? Yaelah, basi!" Titan berujar songong.
"—seharusnya lo nggak ada dalam mimpi gue." Kalimat selanjutnya Tania ucapkan hanya di dalam hati.
"Diem juga lo?" Kata Titan.
"Ada yang lebih ganteng dari pada lo Sartitan! Jadi, lo jangan kepedean. Lo emang banyak digilai cewek-cewek di sekolah ini. Tapi gue nggak tertarik sama lo!"
"Ya iyalah, lo 'kan bukan cewek."
"Jangan sembarangan kalau ngomong!" Tania langsung berdiri.
"Fakta!"
"Kurang hajar banget sih, lo!"
"Udah jangan terlalu emosi. Gue takutnya lo malah jadi jatuh cinta sama gue." Titan tampak santai dengan ucapan-ucapannya. Namun di sana, Tania tampak memasang wajah kesal.
"Nggak akan mungkin!"
Titan yang tadinya duduk, langsung berdiri dan tersenyum kecut pada Tania. Sorot tatap mata Titan tampak menusuk dan seperti memancarkan binar yang cukup mendalam.
"Karena, nggak ada yang nggak mungkin. Gue bisa membuat lo, jatuh ... Cinta." Titan berucap penuh dengan keyakinan, raut wajah yang mantap dengan perkataan yang dilontarkan untuk Tania. Lagi-lagi, senyum remehnya yang memesona itu tampak sekali menunjukkan ketampanan yang nyaris sempurna.
Tania langsung terdiam. Hanya bisa melihat binar mata Titan yang menusuk. Lalu, tanpa kata lagi, Titan pun keluar kelas—mungkin ke toilet atau hanya sedang ingin ke kelas sebelah untuk menemui temannya.
Tania kembali duduk, saat punggung Titan telah hilang dalam pandangannya.
Dan ... Sudah ada Gael yang berdiri di ambang pintu kelas—saat Titan baru saja keluar kelas. Gael melihat raut penuh dengan tanda tanya di wajah Tania. Tania akan menyadari semuanya, saat setelah waktu dengan secara perlahan sudah mulai memberikan sebuah penjelasan dari apa yang saat ini dipertanyakan dalam relung hatinya yang terdalam.
Published | Bogor, 13 Juli 2018
Pukul 21.08 WIB
__ADS_1