Titan'S 2

Titan'S 2
04


__ADS_3

Sebuah alunan denting piano yang merdu terkalahkan oleh suara-suara kecil sang burung di pagi hari yang berkicau dengan syahdu, membangunkan mimpi indah semalam yang menelan sendu kelabu, lalu tertinggal rindu yang menggebu. Mata terbangun, mentari tersenyum, ada perasaan tulus dari sang embun, mampu membuyarkan setiap lamun.


Sudah pukul 7 tepat.


Beberapa meter lagi, Tania akan sampai ke gerbang sekolah. Dengan perasaan yang baik, Tania seolah mengawali hari dengan begitu baik. Tania bahkan ramah, sesekali jika ada temannya yang berpapasan, ia pasti tersenyum. Namun ... Dalam jarak sekitar lima sampai tujuh meter dari posisi Tania ke gerbang. Tania menghentikan langkah kakinya, pada saat melihat ke arah gerbang. Sebuah pemandangan yang tidak biasa ia lihat.


"Udin?" Ucap Tania, sangat pelan. Sesosok yang ia kenal itu berada di depan gerbang sekolah SMA Kejora.


Akan tetapi, siswa yang berwajah mirip dengan Udin alias Rega Darudin Prasetya itu tidak menggunakan badge logo sekolah SMA Kejora. Hanya terpasang badge logo sekolah SMA Neptunusa. Bukan hal itu yang membuat Tania tercengang, karena di sana sosok yang berwajah mirip dengan Udin sedang berbicara dengan Titan. Tania yang melihat itu dari kejauhan hanya terdiam saja. Pikirannya pun menerka-nerka. Kemudian, Udin pun berlalu tidak memasuki gerbang SMA Kejora. Titan pun berlalu, memasuki gerbang sekolah SMA Kejora, setelah berbincang-bincang dengan Udin.


Namun, bukannya Tania melanjutkan langkahnya untuk berjalan menuju gerbang, Tania justru malah mengejar Udin yang belalu ke arah timur.


"Udin!" Panggil Tania.


"Udin!"


"Udin!"


"Rega Darudin Prasetya!"


Tania berlari sekuat tenaga sambil meneriaki nama Udin. Alhasil, seseorang yang ia panggil tersebut menengok ke arah Tania. Dengan nafas yang tersenggal-senggal, Tania menghampiri seseorang yang dianggapnya adalah Rega Darudin Prasetya alias Udin.


"Lo-lo, lo Udin, kan?" Tanya Tania, nafasnya masih tersengal.


"Iya. Kenapa?"


"Nama asli lo Rega Darudin Prasetya, kan?"


"Iiiiyyaa. Ada apa? Kenapa lo manggil gue?" ucapnya santai. Tanpa berniat balik bertanya seputar; kok lo tahu nama gue, sih? Padahal nyatanya, kita nggak pernah ketemu loh. Saat ini justru Udin tampak biasa saja, sama sekali tidak menunjukkan tingkah; ini orang siapa, sih?


DEG! Tania langsung terdiam. Menatap serius pada seseorang yang kini berdiri di hadapan Tania. Tania tidak bisa berkutik apa pun. Sebuah kenyataan yang tidak bisa ia pahami. Sebuah mimpi yang sama sekali tidak tahu maksud dan tujuannya apa untuk kehidupan Tania.


"Lo kenal sama Titan?" Tanya Tania.


Udin mengangguk. "Kenal."


"Apa lo juga kenal sama gue?" Tanya Tania.


"Kenal."

__ADS_1


"Lo kenal juga sama gue?" Kali ini Tania bertanya dengan begitu semangat.


"Iya. Lo musuhnya Titan, kan?" ucapnya santai. Tania kembali melemas sambil menghela napas pelan.


Entah ada harapan apa yang terdapat di dalam hati Tania. Mengapa Tania seolah berharap besar bahwa mimpinya itu kelak akan menjadi sebuah kenyataan yang indah untuk dirinya. Tania harus bisa melupakan semuanya. Semua kisah romantis yang pernah terjadi itu hanya sebuah mimpi dan tidak akan pernah mungkin bisa menjadi nyata. Mimpi itu telah mengubah Tania, menjadikan Tania sesosok yang mudah menggantungkan sebuah harapan pada sesuatu yang tidak pasti. Padahal dahulu Tania tidak pernah melakukan hal tersebut, bahkan Tania sangat membenci sesuatu hal yang berhubungan dengan ketidakpastian.


Tania menutup matanya sejenak, ada perasaan kecewa menyerang ke dalam relungnya. "Ternyata semuanya hanya mimpi. Dan tetap akan menjadi mimpi," ucap Tania sangat pelan.


"Lo nggak usah khawatir. Gue mengenal lo lebih. Lebih daripada yang Titan ceritakan ke gue seputar lo. Titan cuma bilang dan ngasih tau ke gue, kalau dia emang punya musuh bebuyutan yang bernama Tania. Tapi gue tau hal lain selain itu," ucap Udin, seolah mengetahui semua apa yang dirasakan oleh Tania saat ini.


Tania mengernyit heran, "lo mengenal gue lebih? Maksud lo apa?"


Udin mengangguk. "Iya. Bahkan sangat lebih. Gue tau tentang semua mimpi lo."


"Lo tau tentang mimpi gue?" Tania amat sangat terkejut ketika mendapatkan sebuah pernyataan yang terlontar dari mulut Udin, "Gimana bisa lo tau? Gue kan belum pernah menceritakan secara detail semua mimpi gue itu ke semua orang, kecuali mungkin ke si Ratu. Ratu pun nggak tau secara detail mimpi itu. Dan lo, lo termasuk orang yang baru aja gue kenal di dalam dunia nyata ini, kan? Kenapa bisa lo tau semuanya?" Tania melontarkan sebuah tanya yang berlapis.


"Gue tau. Tentang kisah yang sudah terjadi dalam mimpi lo."


"Apa yang lo tau?" Tanya Tania serius. "Please, kalau ngomong jangan bertele-tele, deh. Jangan bikin gue bingung," sambung Tania.


Udin menghela napas pelan, "Tentang sebuah ketulusan. Ketulusan seorang Titan yang berusaha bertahan dalam posisi yang teramat pedih. Lo, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Titan dalam mimpi itu. Mimpi yang saat ini merubah lo menjadi sesuatu yang nggak pernah lo bayangkan sebelumnya."


Udin tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaan Tania.


"Sekarang gue mau tanya sama lo, apa maksud dari mimpi itu? Kenapa bisa gue mimpiin hal itu? Dan buat apa harus ada kisah yang ada dalam mimpi tersebut? Kalau pada kenyataannya mungkin gue bakal dihadapkan dengan perasaan kecewa. Tentu akan ada hati yang terluka dalam kisah ini. Tolong jawab pertanyaan gue ini," ucap Tania, seperti memohon untuk Udin menjelaskan semuanya.


"Mimpi itu berkisah. Dan kisah itu ... Bakal lo pahami di akhir cerita nanti."


"Kenapa nggak sekarang aja lo kasih tau ke gue."


"Nanti aja. Nanti juga lo akan tau semua jawabannya di akhir kisah yang baru saja dimulai ini," ucapnya. Kemudian Udin pun membalikan badan, dan berlalu meninggalkan Tania. Tania hanya pasrah, dan hanya bisa menyaksikan punggung Udin yang semakin berlalu dalam pandangannya.


"Din! Apa Titan tau soal ini?!" Teriak Tania pada Udin. Lalu Udin menoleh sejenak ke arah Tania dan menggelengkan kepala disertai senyuman---menandakan bahwa Titan tidak tahu-menau tentang kisah yang terdapat dalam mimpi Tania.


Lalu, setelah mendapatkan sebuah jawaban isyarat dari Udin. Tania menghela napas lega. Yang terpenting bagi Tania adalah Titan tidak pernah tahu tentang sebuah kisah ada dalam mimpi Tania. Karena tentu Tania masih belum siap jika Titan mengetahui semuanya. Dan mungkin, Tuhan memang punya rencana lain dan maksud tertentu mengapa Tania sampai harus bermimpi tentang Titan yang berbanding terbalik dengan kisah nyatanya. Sementara Udin? Ada satu pertanyaan besar yang ada dalam pikiran Tania, mengapa Udin tahu akan semuanya? Siapa Udin sebenarnya? apakah Udin yang ada dalam mimpinya itu tetap sama seperti Udin yang sesungguhnya?


Jika memang karakter Udin tetap sama. Mengapa semua malah berbanding terbalik?


Tania membalikan badannya dan melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang sekolah. Namun, pada saat beberapa langkah saja berjalan, di sana Ratu berlari menghampiri Tania.

__ADS_1


"Tania!" Seru Ratu saat menghampiri Tania.


Tania menoleh, "Apa?"


"Lo kok di sini? Belum masuk?" Tanya Ratu. Tania dan Ratu pun berjalan seiringan menuju masuk ke gerbang sekolah.


"Belumlah, kan gue masih di sini."


"Eh, iya, Tan. Gue penasaran, nih."


"Penasaran kenapa?"


"Penasaran sama tulisan lo."


"Kenapa harus penasaran?"


"Gue pengen tau dong. Tentang karakter Titan yang lo masukin jadi tokoh pemeran utama yang ada dalam novel lo. Em, gue nggak yakin lo bisa bikin novel, secara kan lo itu anti banget sama novel-novel kisah klasik masa putih abu-abu. Eh sekarang, nggak ada angin, nggak ada guludug pun lo malah terjun ke dunia tulis-menulis." Ratu mengoceh tak jelas. Tania hanya tersenyum memaksa.


"Semua orang bisa berubah."


"Ya tapi kan nggak secepat itu,"


"Ya terserah lo, sih."


"Tan-tan, kasih bocoran dong ke gue gimana karakter pemeran utamanya, sifat-sifatnya. Gue kepo banget." Ratu memohon pada Tania.


"Nanti, ya. Kalau udah berbentuk novel."


"Yah, lo nggak asik, ah."


"Yaaaa lo asikin aja." Tania pun berjalan lebih cepat dan mendahului langkah Ratu. Di sana Ratu mendumel, karena Tania tidak mau memberikannya jawaban yang cukup puas.


"Tania tungguin!"


"Tungguin gue, Tania!"


Ratu pun mengejar Tania, dan berjalan berusaha mengimbangi langkah Tania. Tania terlihat seperti enggan untuk menceritakan mimpinya itu pada siapa pun---sekalipun pada Ratu. Untuk saat ini, Tania hanya sedang menyembunyikan semuanya dengan rapi, sampai Tania benar-benar sadar kalau dirinya telah jatuh hati, pada sosok Titan yang entah dalam nyata atau mimpi.


Next? Coment!

__ADS_1


__ADS_2