
Hari ini cukup membuat Gael tersentak dalam pikirnya. Bagaimana bisa Tania rela disakiti hanya untuk menjaga perasaan dan hati banyak orang agar tidak terluka dan terseret dalam perasaan cemas mengenai Tania. Itu membuat Gael hari ini sangat berpikir keras, jika manusia seperti Tania pun memiliki hati sepolos itu, mengapa Gael tidak bisa melakukan apa yang Tania lakukan? Bukankah sebangsa Gael adalah makhluk yang tidak pernah lemah ketika diserang rasa sakit. Itu sebabnya, untuk hari ini, Gael memutuskan merubah wujud dirinya menjadi manusia, hanya untuk memberikan perhatian lebih untuk Tania. Tania adalah gadis yang layak diperlakukan sebaik mungkin---begitu pikir Gael saat ini.
Setelah beberapa menit Gael keluar mencari makanan, kini Gael kembali dengan sebuah kantung plastik berwarna hitam di tangannya. Gael memberikan itu pada Tania. Tania yang sempat memejamkan matanya sejenak, langsung membuka matanya saat mendengar langkah Gael yang sudah kembali.
"Nih. Gue pesenin lo makanan." Gael memberikan sekantung plastik berisi makanan pada Tania.
"Apa ini?" Tania menerima kantung plastik tersebut, lalu membukanya secara perlahan.
"Ketoprak?" Tania tersenyum ke arah Gael, saat setelah membuka isi dari kantung plastik tersebut. Ya, di dalam kantung plastik itu terdapat sebungkus ketoprak.
"Hm."
"Kok cuma beli sebungkus?"
"Cuma buat lo aja."
"Lo nggak mau gitu?"
Gael tersenyum, "kalau aja gue bisa makan makanan manusia, mungkin gue bakal pesen dua bungkus."
"Oh, hm. Jadi lo nggak bisa makan makanan manusia?"
"Iya."
"Btw, ini gue makasih banget sama lo. Lo udah mau beliin gue makanan. Tapi, lo bayar tukang dagangnya pake uang 'kan?"
"Yaiyalah, pake uang."
"Lo punya uang emang?"
"Nggak ada yang mustahil bagi gue."
"Oh."
"Udah lo makan aja." Gael berujar dengan wajah yang seperti menahan rasa sakit, karena sejak dari tadi, tangan kanan Gael memegang dada sebelah kirinya---tepat di bagian jantung. Seolah merasakan kesakitan yang menyerang jantungnya di sana. Namun, seakan rasa sakit itu tidak berarti apa-apa, saat melihat Tania dengan lahapnya menyantap ketoprak.
"Kok lo bisa tau sih, kalau ketoprak ini makanan kesukaan gue?" Tania berujar di sela-sela mengunyah.
"Gue sering lihat Udin, sarapan ketoprak. Kata dia, ketoprak itu makanan lintas generasi. Semua orang suka. Karena enak. Gue berpikir, lo juga pasti akan suka sama makanan ini."
"Oh, gitu. Gue kira karena lo sering nonton sinetron tukang ojek pengkolan. Di sana 'kan ada tukang ketoprak. Hehe."
"Nggak, lah. Gue nggak suka nonton sinetron."
"Kenapa?"
"Ribet."
"Ribet kenapa?"
"Susah dimengerti kadang sinetronnya. Mungkin karena beda alam, beda cerita juga."
"Oh, atau mungkin lo lebih cocoknya nonton GGS aja, lah."
"Hm. Udah lo makan aja. Jangan bahas apa-apa yang gue suka. Karena terlalu banyak hal yang gue nggak suka."
Tania mengangguk sambil tersenyum malu. "Oh, oke."
Gael semakin menahan erangan yang sedari tadi menyakiti tubuhnya. Ini adalah pengorbanan pertama kalinya yang Gael lakukan demi menjaga seorang manusia. Banyak kasus yang pernah Gael kerjakan untuk membantu manusia, namun kali ini, untuk pertama kalinya Gael menampakkan dirinya menjadi manusia. Mungkin pada hari ini, ada beberapa orang yang secara tidak sadar, mereka bertatap muka dengan sosok petinggi Dewa mimpi. Gael semakin erat menatap Tania, dengan tatapan yang cukup mendalam, namun Tania seperti tidak menyadari akan hal itu. Lalu, Gael mengubah posisinya menjadi duduk di salah satu sofa yang terdapat di ruangan ini. Rambut Gael berubah warna menjadi sedikit berwarna abu-abu, matanya juga berubah tidak lagi hitam. Warna kulitnya pun, menjadi putih pucat. Detik ini, Gael tidak bisa mempertahankan wujudnya menjadi manusia. Gael pun kembali ke wujud aslinya.
"Awwsh," ucap Gael, sedikit mendesah.
Tania menoleh ke arah Gael. "Lo kenapa?"
Gael menahan desahannya. "Ssh. Nggak. Gue nggak apa-apa."
"Lo kesakitan, ya?" Tania tampak khawatir dengan keadaan Gael. Namun, Gael berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlihat seperti menahan rasa sakit.
"Gue nggak apa-apa."
"Tapi lo tadi kayak kesakitan."
"Itu cuma sakit sedikit."
"Beneran?"
"Iya." Gael tersenyum.
"Cuma sakit sedikit aja?"
"Iya, Tania. Jangan terlalu mengkhawatirkan gue. Kalau pun rasa sakit itu luar biasa, lo nggak usah khawatir. Karena, gue nggak akan mati cuma karena rasa sakit ini. Gue 'kan makhluk keabadian. Gue akan mati, jika sudah tidak ada lagi kehidupan di dimensi manusia, dan pada saat bumi hancur. Baru gue akan mati."
__ADS_1
"Oh. Jadi, lo matinya pas nanti kiamat?"
"Hm."
"Oh, ya. Gue ke kelas dulu, ya. Gue rasa, gue udah agak mendingan." Tania menurunkan kakinya ke lantai.
"Lo kuat?"
"Iya. Gue udah nggak apa-apa."
"Oh. Oke. Kalau gitu, gue juga pamit. Lo jaga diri lo baik-baik. Gue pasti akan kembali dan menjaga lo dari hal-hal yang membuat lo terluka. Gue emang bukan sosok pembasuh dan penghilang rasa sakit yang menyerang hati lo. Gue nggak bisa jadi sosok kayak gitu. Tapi, setidaknya lo harus tau, gue akan selalu menjadi orang pertama yang bersedia memberikan pundak gue untuk menjadi sandaran kepala lo, saat lo merasa terluka." Gael berucap dengan senyum tipis yang memesona.
Tania tersenyum, seakan terharu mendengar kalimat Gael.
"Oke. Gue pamit."
Gael mulai memudarkan dirinya. Namun, Tania menahannya sejenak.
"Gael?"
"Hm?"
"Jangan kayak tadi lagi, ya."
"Maksudnya?"
"Lo nggak boleh jadi manusia lagi. Gue nggak mau lihat lo kesakitan kayak tadi."
Mendengar kalimat itu, Gael tersenyum disertai anggukan. Tanpa sepatah kata lagi, Gael menghilang, bayangannya terbang menyerupai butiran dandelion yang tertiup oleh angin. Tania pun tersenyum tipis, melihat kepergian Gael. Ada ketenangan tersendiri di hati Tania saat hari-harinya diwarnai dengan sosok Gael yang entah bagaimana cara Tuhan mempertemukannya dalam takdir yang konyol ini.

***
Deru napas Gael tersengal. Ia merasakan cambukan yang begitu perih pada tubuhnya. Ia berusaha agar tidak meringis kesakitan, namun ini benar-benar sangat menyakitkan. Sesekali bibirnya bergetar hebat, menahan pecutan-pecutan yang terasa menyakitkan untuk tubuhnya. Matanya memerah, dan beberapa kulitnya lebam memerah, seperti tergores pecahan kaca.
"Awwssssh."
Gael merintih lagi. Ini benar-benar memilukan. Ia berjalan tertatih menuju tempat gelap, tangan kanannya memegang bahu sebelah kiri, terasa berat mencekam menghantam bahu kirinya. Apa yang sedang Gael rasakan? Ini karena ia memaksakan berubah menjadi manusia.
Untuk itu, Gael sejenak menenangkan dirinya dan beralih ke dunia bayangan. Bukan malah mendapatkan ketenangan, Gael disambut ketus oleh Auriga alias Riga---Dewa kematian.
"Lo melakukan kesalahan fatal!" Ucap Riga menekankan kalimatnya.
"Dalam dimensi manusia, lo cuma boleh menampakkan wujud lo hanya di hadapan Rega dan Tania. Meski lo ditugaskan untuk membantu manusia lain, tapi manusia lain tidak diizinkan untuk melihat rupa lo. Kali ini, lo merasakan sakit karena ulah lo sendiri. Ada beberapa manusia yang sudah melihat rupa lo, rupa sang petinggi Dewa mimpi, yang seharusnya tidak boleh ada manusia lain yang tau rupa lo, selain Rega dan Tania!" Riga berujar tegas.
Namun, Gael masih terlihat rapuh, seraya memegang bahu bagian kirinya yang luar biasa terasa sangat sakit. Gael menjatuhkan lututnya ke lantai, ia semakin terlihat sangat rapuh. Lalu, Gael mengarahkan pandangannya ke arah Riga---yang berdiri kukuh di hadapannnya.
"Ada hal yang sebelumnya nggak pernah gue tau. Tentang, ketulusan dan kepolosan hati seseorang, yang rela terluka hanya berusaha menjaga orang-orang sekelilingnya agar tidak merasakan sebagian dari rasa terluka yang ia rasakan. Ada hal yang sebelumnya nggak pernah gue tau, tentang arti sebuah kecemasan yang tidak berujung. Ada hal yang sebelumnya nggak pernah gue tau, bahwa menjaga senyuman seseorang agar terus terukir itu adalah hal tersulit." Gael mengalihkan pandangan matanya ke bawah, tatapannya kosong, menyiratkan sebuah bayangan seseorang dari mata Gael terlihat begitu jelas. Sepasang mata itu, kini menumpahkan setetes butiran bening. Gael menutup matanya sejenak, dan butiran air mata itu berhasil keluar dari mata indah Gael.
"Sebentar lagi, Tania akan mengetahui kebenarannya." Riga hanya berusaha membuat Gael tidak larut dalam perasaan cemasnya. "Lo nggak usah khawatir. Tania akan baik-baik saja." Riga pun berlalu, membiarkan Gael sendirian. Karena Riga tahu, Gael membutuhkan tempat sepi untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Gael memejamkan matanya, rasa sakit ini terlalu berharga untuk dirinya. Kemudian, terdengar suara langkah kaki, yang mendekat ke arah Gael. Gael cukup menyadari itu, tapi ia tidak peduli. Gael hanya sedang ingin meredakan rasa nyeri saja untuk saat ini.
"Lo harus bisa menjaga perasaan lo. Tania adalah gadis yang berbeda. Bisa jadi, lo akan berbalik haluan, lo tidak hanya akan membantu dia dalam kasusnya, mungkin lo akan mencintai dia, jika lo tidak pintar menjaga hati lo. Gue rasa, seorang Gael tidak akan pernah gagal dalam menjaga perasaannya," ucap seseorang.
Setelah Riga sudah benar-benar berlalu, kini ada seseorang yang menghampiri Gael.
"Daviel?" Gael mengernyit.
Lantas, seseorang yang Gael sebut namanya Daviel itu tersenyum. "Lo harus kuat. Lo harus jaga perasaan lo. Lo harus bantu Tania untuk bisa ketemu sama gue. Karena dengan mempertemukan Tania dan gue, itu akan membuat jiwa gue pergi dengan tenang."
Gael bangkit berdiri, perlahan rasa sakit itu semakin mereda. "Gue akan berusaha untuk bisa mempertemukan lo dengan Tania." Gael berujar dengan tersenyu tipis. Raut wajahnya kembali stabil, dan di sana Daviel pun hanya melemparkan senyumnya.
Gael pun membalikan badannya, dan berjalan meninggalkan Daviel. Tempat ini begitu dingin, sunyi, dan gelap, namun beralaskan lantai yang seperti bersalju. Udaranya pun cukup dingin mencekam. Hanya suara hembusan angin yang menjadi situasi bak senandung elegi yang memilukan. Ini bahkan terlihat seperti tempat atau gerbang pertama menuju dimensi keabadiaan yang sesungguhnya.
Gael berjalan tertatih meninggalkan tempat ini. Hembusan angin yang dingin, membuat rambutnya menari-nari, tapi Gael tidak peduli dengan hembusan angin tersebut.
Sedetik yang berharga. Perasaan luka akan menjadi tidak berarti apa-apa. Gue membenci perjalanan ketika menuju senja, segala jenis perasaan luka, dan berjuta kemelut yang menyerang dada. Kemudian gue mengerti, ada hati yang siap terluka hanya untuk tetap menjaga hati yang lain tetap tenang dan bahagia.
***
(Rega👆)
Saat malam tiba. Rega tengah bercermin merapikan dirinya dan menyisir rambutnya dengan gaya khasnya yang absurd. Sesekali ia menunjuk pantulan dirinya di cermin dengan sisir yang ia pegang, sambil berulangkali menyebutkan kata 'ganteng permanen' dari mulutnya.
"Gila, Din. Lo ganteng banget. Permanen lagi." Rega mengoceh pada pantulan dirinya di cermin.
"Aku ganteng, aku ganteng, aku ganteng, aku ganteng, aku ganteng, aku ganteng, aku ganteng, aku ganteng," Rega bersenandung dengan nada yang mengalun, namun liriknya hanya itu-itu saja. Rega menirukan seorang youtubers yang pernah menyanyikan lagu berjudul 'aku ganteng'.
"Woy! Ngapin lo? Rapi bener." Seseorang mengagetkan Rega. Ya, seseorang itu hanya berdiri di ambang pintu saja. Sontak Rega langsung menoleh sedetik ke arah seseorang tersebut, setelah itu kembali melihat ke cermin.
__ADS_1
"Suka-suka gue dong."
"Lo mau ke mana?"
"Kepo."
"Eh, Udin! Gue ini Teteh lo, ya. Sopan dikit kek ngomongnya sama gue. Lagian, kalau ada orang yang ngajak lo ngomong, ngelihatnya ke sini kek. Cermin malah lo pantengin, lo nggak nyadar apa, di dalam cermin itu ada si sarimin. Eak, sarimin pergi ke pasar." Rosi meledek Rega, Rega hanya mendengus kesal.
"****. Nista banget sih lo, jadi Kakak."
"Siapa suruh lo jadi Adek gue?"
"Judes banget sih lo, jadi cewek!"
"Bodo."
"Nggak akan ada cowok yang mau deketin lo, Teh. Kalau lo masih judes kayak gini."
"Yeeh, siapa bilang?"
"Gue yang bilang."
"Eh, Din. Jangan salah ya, lo. Cowok yang gantengnya kayak Chen EXO aja, bertekuk lutut sama gue."
"Chen? Chen-tong nasi maksud lo?" Rega terkekeh geli. Ia benar-benar meledek Rosi dengan candaan super receh ala-ala Rega.
Rosi mendengus kesal. "Sialan!"
"Lagian, lo duluan yang mulai."
"Adik keparat!"
"Kakak laknat!"
"Eh, dasar keset toilet!"
"Uh! Udah lo pergi sana!"
"Lo ngusir gue?!"
"Gue mau keluar! Ada janji! Biasalah, gue bukan jomblo yang bisanya cuma berdiam diri di rumah. Setidaknya, gue enggak semenyedihkan lo, Teh! Kerjaan lo apa? Kalau nggak nge-stalk akun-akun member EXO, ya ujung-ujungnya lo nonton drama Korea. Terus? Mana pacar lo? Lo mau bilang kalau lo akan tetap setia menunggu keajaiban saat bias nembak lo?! Duh, fangirl sejati banget ya, lo. Salut, euy." Rega berujar songong. Rosi lagi-lagi mendengus kesal.
"Kampret emang lo, ya!"
"Kenapa? Sirik lihat gue mau ngapel ke rumah pacar?"
"Bukan itu PA! Ini malam jum'at! Lo emang punya tradisi ngapelin pacar di malam jum'at, hah?! Apa jangan-jangan pacar lo hantu?"
"Parah. Jangan mentang-mentang gue ini indigo, lo bisa seenaknya bilang kalau pacar gue hantu, ya! Tolong kamu chamkan itu!"
"Jangan nyanyi, nyet. Suara lo kayak radio butut!"
"Oh aja, ya 'kan."
"Ck! Gue tanya, lo mau ke mana malam ini! Jawab yang bener!"
Rega menghela napas kasar. "Gue mau ketemu sama Tristan! Puas, lo?!"
"Hah?! Jadi, pacar lo namanya Tristan?!" Rosi memasang wajah meledek dengan raut yang tak berdosa sekalipun.
"Bukan! Gue ada janji mau jenguk Tristan yang lagi koma."
"Gue bilangin Mama loh! Kalau pacar lo cowok!" Ledeknya.
"Gue bilang bukan! Gue ke sananya juga sama Tania!"
"Ah, alesan!"
Rega langsung memasang wajah datar dan menarik napas, sampai kekesalannya naik ke level yang paling tinggi. Detik kemudian, Rega seperti cacing kepanasan, ia mengeluarkan jurus, sembari memegang sapu yang ia ambil di pojokkan kamar.
"@?y(/@@!!?#!!"
Rega menyemburkan mantra, mulutnya komat-kamit tidak jelas, Rosi hanya terkekeh lalu kabur meninggalkan Rega.
Setelah Rosi berlalu, Rega mengelus dada, dan mengontrol emosinya. "Sabar Rega sabar! Ini ujian buat lo!"
To be continued...
Author Notes :
Hai. Gimana sama part ini? Gue harap kalian suka, ya. Maafin kalau misalkan banyak kekurangannya. jangan lupa vote dan komentarnya, ya!
Selamat ulang tahun bagi kalian yang berulang tahun di hari ini.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter berikutnya!