
"aku berjalan mengikuti semua mimpi yang aku sendiri tidak tahu akan berujung seperti apa nanti."
Malam hari yang begitu sunyi, Tania merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Tania menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos tak bernoda sedikit pun. Tania menghela nafas pelan, saat mengingat semuanya. Ditambah lagi, kejadian aneh bertemu dengan Udin dalam dunia nyata hari tadi membuat ia semakin ingin mencari jawaban dari mimpinya yang berhasil membuat perasaannya tidak karuan. Tania bahkan tidak mengerti atas apa yang telah hadir dalam hidupnya kini. Secara sadar pun, ia mengiyakan perkataan beberapa temannya yang menganggap bahwa Tania berubah---lebih cenderung tak banyak bicara, padahal sebelumnya Tania adalah sosok yang bisa dikatakan riweuh dalam segala hal.
"Duh, Tania. Lo kenapa kayak gini, sih? Kenapa kayak orang ****? Lo mau jatuh cinta sama Titan? Lo seharusnya ngaca dong, Titan udah punya pacar. Kemungkinan sangat kecil untuk lo bisa dapetin hatinya Titan. Secara, lo itu musuh bebuyutan Titan. Nggak ada sejarahnya di dalam dunia nyata itu tikus sama kucing menikah," ucap Tania bermonolog. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia menyimpan berjuta tanda tanya besar.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tertanda pesan masuk.
[Nomer tidak diketahui: lo udah tidur belum, Tania? Gue harap lo bisa dateng ke acara gue.]
Tania mengernyit saat mendapatkan pesan dari nomer tidak dikenal itu. Tanpa pikir panjang lagi, Tania langsung bangkit dari ranjangnya---mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang, sementara jemarinya memencet gagang telepon berwarna hijau untuk menelpon nomer tersebut.
"Hallo?"
"Iya, Hallo?"
Suara itu terdengar seperti suara lelaki. Namun, tampaknya suara itu dikenali oleh Tania. Akan tetapi, Tania tidak sepenuhnya yakin dengan seseorang yang ia duga.
"Ini siapa, ya?"
"Gue Udin."
"Udin?"
"Iya. Si anak indigo."
"Eh tunggu-tunggu, kok lo tahu nomer gue, sih?"
"Nggak penting gue tahu dari mana. Lo bisa dateng ke acara gue, nggak? Malam ini."
"Lo harus jawab pertanyaan gue dulu."
"Kan tadi udah gue jawab. Nggak penting gue tahu dari mana. Lo ke sini aja, alamatnya ada di jalan tanjakan cinta nomer 14. Di sini banyakan kok yang hadir, ada Titan beserta anak tongkrongannya yang lain."
"Titan?"
__ADS_1
Tania langsung salah fokus ketika mendengar nama Titan.
"Iya, Titan. Lo ke sini aja. Banyak anak ceweknya juga kok di sini."
"Lo lagi ngadain acara apa?"
"Ke sini aja."
"Nggak. Gue harus tahu pasti dong itu acara apaan."
"Acara anak sekolah. Bakar-bakar jagung. Ini 'kan hari persahabatan internasional."
"Lo nggak lagi bikin maksiat, 'kan?"
"Ya, enggaklah. Anak sholehah kayak gue gini mana mungkin berani maksiat kasian mamah papah di rumah dong."
"Sholehah? Lo cewek apa cowok?"
"Eh, anu, maksud gue itu sholeh."
"Loh kenapa?"
"Nggak bisa aja."
"Ada Titan loh di sini."
"Apa hubungannya coba?"
"Lo mau tahu 'kan arti mimpi lo itu?"
"Ih, sebenernya lo itu siapa, sih? Roy Kiyoshi juga bukan."
"Yeh, emang gue bukan Roy Kiyoshi, siapa yang bilang kalau gue Roy Kiyoshi? Enggak ada, 'kan?"
"Intinya gue nggak bisa dateng."
__ADS_1
"Yaudah kalau emang lo nggak bisa dateng juga gapapa. Gue cuma mau minta izin nge-save nomer lo aja, ya. Lagian lo juga gak usah kuatir, soal mimpi lo itu aman di gue. Tapi, lo jangan punya pikiran kalau Titan udah pelet lo melalui mimpi itu, ya. Titan enggak sebejat itu, kok. Titan juga masih **** sih belum tahu apa-apa soal mimpi ini. Mungkin kalau dia tahu soal mimpi lo itu, dia pasti akan mencari kesempatan buat bikin lo tersakiti dengan perasaan cinta yang pelahan udah mulai tumbuh di hati lo. Gue bakal bantu permasalahan lo. Karena apa? Gue udah punya janji sama seseorang. Seseorang itu bukan Titan atau orang yang lo kenal. Gue bakal ngejelasin semuanya secara pelan-pelan, biar lo juga ngerti. Dan, lo jangan canggung sama gue, karena gue masih sama karakternya seperti apa yang ada dalam mimpi lo. Coba lo sebutin apa yang menjadi cita-cita gue? Lo pasti tahu."
Terdiam sejenak, Tania pun mulai mengingat sedikit tentang Udin yang terdapat di dalam mimpinya tersebut.
"Terobsesi ganteng, mungkin?"
"Yap. Betul-betul-betul."
"Terus gue harus ngapain, Din? Gue nggak ngerti sama hal ini."
"Oke, nanti aja kita sambungin lagi curhatannya di acara gue."
"Acara apa? Gue 'kan gak bisa dateng."
"Bukan acara malam ini."
"Terus?"
"Acara KURMA di hatimyu ...."
Terdengar suara cekikikan di sana, membuat Tania berdecak pelan. Tania hanya terdiam, mendumel sendiri. Udin selalu saja begitu, ia begitu mudahnya membuat Tania dihantui oleh sebuah tanda tanya besar. Sebanarnya, apa yang Udin sembunyikan.
"Oke-oke. Lo lanjutin aja istirahat lo. Nanti kapan-kapan gue kabarin lagi ke elo. Sorry, gue udah ganggu waktu istirahat lo. Nanti pasti gue sampein salam lo ke Titan. Bye!"
Tanpa menunggu aba-aba dari Tania, Udin menutup sambungan telepon tersebut dengan menyelipkan sebuah kalimat yang seakan-akan Tania memberikan salam untuk Titan. Tania kemudian terdiam. Ini adalah kejadian teraneh di dalam hidupnya, setelah bermimpi hal konyol kemarin. Berusaha semaksimal mungkin Tania menghindar dari Titan. Ternyata usahanya salah besar, semakin Tania berusaha menghindari Titan, justru ia semakin dibuat penasaran pada semua hal yang berhubungan dengan Titan. Dan, kembali lagi kenapa harus ada Udin dalam kisah ini?
Tania menaruh ponselnya di meja kecil yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya. Kemudian, Tania menaikan kembali kakinya ke atas ranjang---dengan memposisikan kakinya lurus ke depan, lantas punggungnya pun ia sandarkan ke ujung tempat tidur. Tania memeluk bantal kesayangannya dengan erat. Lalu, Tania melirik jam weker yang setia duduk di atas meja deket sebelah sofa. Kini jam menunjukan pukul 9 malam.
"Uwa sama Istrinya lagi keluar rumah. Gue cuma sendirian aja di rumah," ucap Tania pelan.
Yap, tidak seperti dalam mimpinya, Tania tidak tinggal bersama orangtuanya. Tania tinggal bersama Kakak dari Ibunya---atau bisa dibilang, Tania tinggal bersama Omnya. Sementara, kedua orangtua Tania sudah lama bercerai, dan sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tania tidak memilih Ibu ataupun Ayah, karena itu adalah pilihan yang sulit. Tania kemudian mengambil jalan tengah untuk ikut tinggal bersama sosok yang ia panggil dengan sebutan 'uwa'.
"Kenapa tadi gue nggak ngeiyain si Udin aja, ya. Gue juga bete sih di rumah. Tapi, kalau gue keluar rumah tanpa sepengetahuan uwa, yang ada nanti gue dimarahin uwa. Lagipula, buat apa juga gue ke acaranya Udin. Di sana ada Titan, dengan secara otomatis gue bakal ketemu sama dia. Nggak, deh. Gue harus bisa jauhin Titan demin kebaikan gue sendiri. Tania please, lo nggak boleh gila cuma karena lo mimpiin Titan sampe sedalem itu." Tania bermonolog, kemudian detik berikutnya ia mengubah posisinya menjadi berbaring sepenuhnya. Posisi tidur menyamping, dan perlahan ia pun mulai hanyut terbuai mimpi.
"Jangan datang lagi ke mimpi gue, please." Tania mengiggau dengan suara pelan. Ia terlalu kecapean sampai harus menginggau seperti ini.
__ADS_1
Next? Coment!