Titan'S 2

Titan'S 2
33


__ADS_3


"Kita akan tau, sebuah perjuangan dan pengorbanan cinta, di akhir kisah nanti."



Ketika malam tiba, Tania berjalan menuju ke rumah Rega. Saat di perjalanan, Tania hanya bisa mengikuti langkah kaki Gael, yang menuntunnya—menjadi petunjuk arah ke rumah Rega. Karena Tania, tidak mengetahui secara detail alamat rumah Rega. Sebentar lagi Tania akan sampai di rumah Rega. Namun, ada perasaan gugup yang membuatnya merasa tidak percaya diri. Atau mungkin, rasa gugupnya disebabkan oleh kehadiran Titan di rumahnya Rega?


Jelas. Ini membuat Tania cukup gugup.


Perasaan cintanya terkadang membuat Tania merasa seperti terserang hawa panas-dingin dadakan, disertai grogi yang sebenarnya bisa dinetralkan oleh Tania dengan cara diam dan berusaha agar tetap tenang. Tania harus bisa menjaga image di hadapan Titan.


"Lo kenapa?" Tanya Gael pada Tania, saat sudah berada di depan gerbang rumah Rega.


Tania diam, hanya menggelengkan kepala—sebagai jawaban tidak apa-apa, dari pertanyaan Gael.


"Kita udah sampai loh." Gael tersenyum miring. "Lo grogi?" Gael melontarkan pertanyaan dengan nada yang remeh disertai senyum yang seperti mau tak mau.


"Siapa yang grogi. Gue nggak grogi. Cuma perut gue mules doang."


"Perut mules? Itu tandanya lo grogi."


"Nggak, kok."


"Lo bener-bener lucu. Dan gue tau kok, lo lagi jujur apa lagi bohong."


"Jangan kayak Roy Kiyoshi!"


Gael hanya tersenyum remeh sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. "Simpan rasa groginya. Lo sisain buat malam pertama nanti, ya?" Gael berucap sambil terkekeh, menjahili Tania dengan lelucon yang sama sekali tidak lucu bagi Tania.


"Sialan. Gue sama sekali nggak ngerti, ya."


"Iya deh. Yaudah masuk gih ke dalem rumah Udin." Gael langsung memerintahkan Tania untuk masuk ke dalam rumah Rega.


"Assala—" belum sempat Tania melengkapi ucapan salamnya, Rega tiba-tiba nongol.


"—mualaikum," ucap Tania melanjutkan kalimatnya.


"Tan, masuk aja. Si Titan juga ada di dalem. Lo tenang aja. Jangan takut diapa-apain soalnya di dalem ada Teteh gue, kok. Harusnya Teteh gue nggak ada di rumah sekarang, tapi pas tadi sore dia mendadak pulang gitu, gue juga nggak tau apa alasan dia mendadak pulang. Yang penting gini sih, Teh Rosi, alias Teh Oci, Teteh gue yang super duper bawel, mau bantuin kasus lo sama Titan. Kita selesaiin bareng-bareng malam ini juga." Rega berujar panjang lebar. Tania hanya mengangguk saja.


Gael tersenyum tipis, pada Tania yang berjalan masuk ke dalam rumah Rega.


Detik kemudian, mata tajam Gael terarah pada Rega. "Lo nggak mempersilahkan gua masuk?" Gael berujar dengan nada datar dan ketus.


Rega cengengesan.

__ADS_1


"Masuk aja kali, lo kan udah terbiasa masuk ke rumah gue tanpa harus gue persilahkan. Lo sohib gue, Gael. Brader sejatinya gue. Hehe."


"Drama." Gael pun masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan Rega. Rega hanya mendumel, dan bibirnya terlihat berkomat-kamit ala mbah dukun baca mantra.


Saat di dalam rumah Rega—tepatnya di ruang tamu. Terdapat Titan, yang duduk begitu santai di sofa. Tania pun dipersilahkan duduk oleh Teh Oci. Tania bersikap layaknya tamu pada umumnya—sopan terhadap tuan rumah.


"Oh jadi elo yang namanya Tania," kata Teh Oci.


"Iya, Teh." Tania mengangguk dan tersenyum.


"Lo bisa feminim juga ternyata. Gue kira selama ini lo bukan cewek." Titan menyeletuk saat melihat Tania yang baru saja duduk di sofa. Tania langsung memasang wajah sedikit kesal.


"Tania cantik, Titan. Coba buka mata lo." Oci berujar dengan nada seolah membela Tania.


Tania tersenyum ke arah Oci. "Biasa aja, Teh. Aku nggak cantik."


"Sok manis," sindir Titan.


Ini orang kenapa, ya. Sensi amat sama gue. Batin Tania mendumel, dengan sorot mata melihat Titan.


"Taraaaa!" Rega datang dengan membawa sebuah gayung yang terbuat dari batok kelapa.


"Lo bawa apaan?" Oci bertanya pada Adiknya yang datang dengan begitu mengejutkan.


"Ini namanya Jailangkung."


"Iya-iya." Rega mengangguk pasrah. "Tapi maksud gue bukan itu, Teh. Kita nggak bakal main Jailangkung, kok. Ini cuma gue nggak sengaja aja nemu ini di depan, ya udah gue bawa ke sini. Tapi ini bukan barang sembarangan, ternyata ada penunggunya juga. Tadi gue sempet berdialog sama penunggunya."


"Terus?"


"Lo tau nggak, Teh? Asal muasalnya itu, nama dulunya Jailangkung itu Jailani."


"Ai sia sok aneh-aneh wae, Udin." Oci mulai gemas dengan tingkah Adiknya tersebut.


"Gua serius, Teh." Rega mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga membentuk huruf v.


Ada Gael yang berdiri di samping Rega. "Percuma, Kakak lo nggak bakal ngerti sama apa yang lo bilang. Dunia hantu cuma lo yang ngerti, Kakak lo nggak bakal ngerti, mau sehebat apa pun cara lo ngejelasinnya. Tapi, apa lo yakin dulunya Jailangkung itu namanya Jailani?" Gael berujar dengan sedikit terkekeh.


"Diem lo, bacot. Gue kesel, nih. Nggak ada yang mau percaya sama apa yang gue omongin." Rega menggerutu dengan raut wajah kesal ke arah Gael.


"Lo ngomong sama siapa?" Oci langsung respon dengan tingkah Rega yang bicara ke arah yang sama sekali tidak terlihat ada orang di sana.


Titan langsung mengernyit aneh pada Rega. "Iya, lo ngomong sama siapa?"


"Sama temen yang nggak kelihatan," jelas Rega.

__ADS_1


"Udin bicara sama Gael, Teh." Tiba-tiba Tania tanpa disuruh, ia menjawab pertanyaan Oci.


Oci menoleh ke arah Tania. "Lo bisa ngelihat hantu juga?"


Tania tersenyum dan menggelengkan kepala. "Nggak, Teh."


"Terus?"


"Gael itu bukan hantu."


"Kalau bukan hantu, terus apa?"


"Dia adalah sesosok makhluk bayangan, dan dia punya peran penting dalam hidup aku."


"Tuh, kan. Selama ini gue nggak gila, karena sering ngobrol sendiri. Buktinya apa yang Tania bilang?" Rega membela diri.


"Peran penting?" Titan melontarkan kalimat tersebut pada Tania, dengan tatapan yang intens terarah pada Tania.


"Iya. Dia yang selama ini membantu gue untuk terus bertahan dengan keadaan gue yang cukup sulit." Tania berujar serius, dengan membalas tatapan Titan.


"Oh."


Titan hanya ber-oh ria.


Gael hanya tersenyum samar ke arah Tania. Dengan percaya diri, Tania mengenalkan sosok Gael dengan sangat sederhana di hadapan Oci dan Titan. Dan juga, Tania dengan jelas mengatakan kalau Gael termasuk ke dalam hal yang terpenting dalam hidup Tania. Itu jelas membuat Gael bahagia. Bahagianya terasa sederhana.


"Terus kita udah ngumpul di sini, apa yang mau kita lakukan? Untuk bisa menyelesaikan permasalahan dan kesalahpahaman ini?" Oci mulai membuka topik permasalahan.


"Tapi, gue ... Hm, kasihan sama Tania." Rega meragu dengan semua ini. Seraya melihat Tania.


"Gue kenapa?"


"Gael udah bilang ke elo, 'kan? Tentang cara lo bisa ketemu sama Daviel?"


"Iya. Gue akan terima resikonya, Din."


"Sebentar, lo berdua ngomongin apa, sih? Gua nggak ngerti?" Tanya Titan.


"Lo termasuk orang yang beruntung, Tan." Jelas Rega pada Titan


"Beruntung? Maksud lo?" Titan tidak mengerti.


"Nanti juga lo akan tau."


Titan menerka dengan apa yang diucapan Rega. Kemudian, Tania terlihat menundukan wajahnya. Apa pun risikonya, Tania harus bisa membuktikan bahwa yang ia lakukan selama ini, tentu beralasan.

__ADS_1


Tbc!


Jangan lupa vote! Koment ya!!!! <3


__ADS_2