


Tepat pada saat jam istirahat. Tania berjalan menuju kantin dengan kedua tangan yang terlihat seperti memeluk sebuah buku black-violet. Tania merasa tidak kesepihan dalam sebuah rasa yang semakin hari semakin membuat waktu tega membuatnya nyaris terlihat sangat iba. Namun, Gael lah satu-satunya teman bicara yang terbaik saat ini untuk Tania. Dan, Gael lah yang bersedia membantu permasalahan Tania yang begitu rumit.
Saat sampai di kantin, Tania langsung memesan semangkuk bakso.
"Abang, baksonya semangkuk. Takarannya kayak biasa, ya. Jangan terlalu pedes."
"Siap, neng," kata si penjual bakso.
Sambil menunggu pesanan, Tania menaruh buku black-violet itu di atas meja dan mencoba membuka lembaran demi lembarannya. Tania tersenyum walau samar, bahagianya tidaklah terlalu menuntut ini dan itu. Hanya memiliki teman yang bisa diajak untuk membicarakan permasalahan yang ada, itu membuatnya jauh lebih bahagia. Tidak tahu lagi, bagaimana senangnya Tania mengenal Gael.
"Lo gak pegel jadi buku?" Bisik Tania pada buku tersebut.
"Pegel, sih. Pijitin, dong." Suara itu hanya dapat didengar oleh Tania. Orang lain tidak bisa mendengar suara tersebut.
"Eh kitab suci sunggokong. Lo mau minta gue pijit, hah?" Bisik Tania lagi.
"Iya, lah. Cuma minta pijit aja, kok. Bukan minta digrepe-grepein."
"Sialan, lo."
"Ngapa?"
"Mesum!"
Tak lama, si tukang bakso pun mengantarkan semangkuk bakso ke meja Tania. Tania langsung menutup kembali lembaran buku tersebut.
"Silahkan baksonya, neng."
"Makasih, Bang."
Tania melahap baksonya dengan santai. Tiba-tiba, ketika Tania asyik menyantap semangkuk bakso hangat, Titan pun datang menghampiri Tania. Dan duduk di depan Tania, hanya saja meja yang memberikan jarak di antara keduanya.
Tania menghentikan aktifitas makannya, dan melihat datar ke arah Titan.
"Mau apa lo ke sini?"
Titan menyengir nakal. Seperti meremehkan situasi yang seperti ini.
"Nggak usah kaget. Gua cuma mau bilang terima kasih." Titan berujar enteng dengan sorot mata yang seperti ada sesuatu di balik sorotnya itu.
Tania menaikkan alisnya sebelah. "Kesambet apa lo?"
"Ck! Nggak usah jutek. Gak pantes. Apalagi sama gua."
"Terus?"
"Ikut gue sekarang!" Titan dengan segera mengubah posisinya dan langsung menarik pergelangan tangan Tania tanpa izin dari pemiliknya.
"Lo mau bawa gue ke mana?!" Tania merintih kesakitan karena pergelangan tangannya dicengkram dan Titan membawanya menuju tempat yang lebih sepi daripada ini. Mungkin, Titan akan menyampai sesuatu yang sangat penting pada Tania.
Karena Titan menarik tangan Tania dengan secara paksa, Tania tidak sempat membawa buku black-violet---wujud lain dari seorang Gael.
Melihat itu, Gael langsung mengubah wujudnya kembali seperti sedia kala, dengan rupa yang memang sangat tampan. Gael menoleh ke arah di mana Titan membawa Tania pergi. Wajah Gael terpasang begitu santai, dan seolah menutupi rasa khawatirnya dengan sangat pandai. Gael harus bisa memberikan waktu luang untuk Titan dan Tania menyelesaikan permasalahan yang ada.
Gael tahu, ini adalah bagian dari tugasnya. Hanya saja, sulit untuk Gael menerima semuanya yang justru membuat Gael kembali berpikir; mengapa ia dilahirkan seperti ini? Mengapa ia ada dengan komposisi memiliki perasaan dan pikiran yang hakikatnya sama seperti manusia. Tapi, Gael tidak diizinkan untuk jatuh dan mencintai seseorang.
Gael tersenyum pahit.
***


"Kenapa lo ajak gue ke sini, Tan?"
Tania melepaskan cengkraman tangan Titan. Dan Tania langsung menanyakan hal yang sedari tadi merasuk dalam pikirannya. Lihatlah, tempat ini sepi dan gelap, nyaris seperti tidak berpenghuni, dan juga kotor berantakan seperti tidak terurus.
Ya, tempat ini adalah gudang sekolah yang telah lama kosong dan tak terurus. Tempat yang jauh dari jangkauan murid-murid yang ada di sekolah ini. Bahkan, para guru dan staff sekolah pun sangat jarang datang ke tempat ini.
"Gua cuma mau bilang terima kasih."
"Bilang terima kasih? Kenapa ngajak gue ke sini?"
"Kenapa? Lo takut?"
Tania menunduk. Ia semakin lemah saat menatap mata sayu Titan yang berhasil meruntuhkan keteguhannya. Perasaan Tania tidak bisa dikendalikan berikut dengan perasaan takut; mengapa Titan mengajaknya ke tempat sepi seperti ini? Apakah memang ia akan membicarakan hal yang sangat serius pada Tania.
"Lo mau ngomong apa sampai harus bawa gue ke sini? Kalau emang lo cuma mau bilang terima kasih, oke gue terima. Selesai, 'kan?" ucap Tania.
Titan menghela napas pelan.
"Ya udah, kalau emang nggak ada yang mau dibicarain lagi. Gue cabut," ucap Tania, lagi. Tania melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat ini, karena ia memang terlihat gugup dalam situasi yang seperti ini. Entahlah, perasaannya bercampur aduk tak karuan, apalagi mendapati Titan dalam sorot mata yang menghipnotisnya.
__ADS_1
Saat beberapa langkah Tania berjalan, dengan santainya Titan kembali menarik tangan Tania, dan memojokan Tania ke sebuah tembok. Kedua tangan Titan mengurung Tania, sehingga Tania terlihat seperti terhentak seketika itu juga.
Tanpa memberikan jeda, saat itu juga Titan memiringkan wajahnya dan ... Mencium bibir Tania dengan sangat lembut. Tentu itu membuat Tania terkejut bukan main saat Titan menempelkan bibirnya di bibir Tania.
Tania merasakan gigitan kecil di bibirnya. Gila! Apa yang sebenarnya Titan lakukan saat ini?
Beberapa detik kemudian, Tania mendorong bahu Titan, membuat Titan terpundur beberapa langkah. Tania melihat Titan dengan raut yang seperti tidak menyangka jika Titan akan melakukan sesuatu yang di luar dugaan Tania.
"Apa yang barusan lo lakuin?" Mata Tania berkaca-kaca. Ia tidak mempercayai bahwa Titan akan merenggut ciuman pertamanya di tempat seperti ini.
"Itu adalah ucapan terima kasih, karena tadi pagi lo udah bantu gue kabur dari bodyguard bokap gue." Titan berujar pelan, dengan nada yang terdengar sepeti ada sedikit penekanan kecil dalam kalimatnya. Sorot mata Titan seperti berbicara lain.
"Ucapan terima kasih?" Air mata Tania berhasil jatuh, dengan segera Tania menghapusnya. "Lo bilang ucapan terima kasih? Apa dengan cara lo cium gue semuanya akan menjadi baik-baik lagi?" Sambung Tania, seperti tertahan.
"Itu adalah hal biasa menurut gue."
"Apa lo juga memperlakukan semua cewek sama? Seperti apa yang lo lakuin ke gue?"
"Jawabannya, seperti apa yang lo pikirkan." Sorot mata Titan tertuju tajam ke arah Tania. "Karena bisa jadi, gue akan berbuat lebih daripada ini." Titan berucap tajam.
Tania sangat terluka mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Titan itu. Karena Tania merasa kalau saat ini, Titan sedang membuat seluruh perasaan Tania hancur.
"Kenapa lo lakuin ini?" Ucap Tania getir. "Apa lo tau, betapa susahnya jadi gue. Gue sayang sama lo, gue cinta sama lo. Tapi lo perlakukan gue kayak gini. Otak lo di mana?! Iya gue sadar sebelumnya, kita itu musuh, sama-sama saling benci. Lo inget? Dari pertama kali kita sekolah di sini, terlalu banyak perdebatan yang pernah kita ciptain. Gue berusaha buat menjatuhkan elo, begitupun sebaliknya. Cuma karena kita terobsesi untuk menjadi ketua eskul badminton. Lo tau? Ini berat buat gue. Sulit untuk gue hadapi. Mungkin lo gak akan percaya, perasaan gue berubah, karena lo sempat hadir dalam mimpi konyol gue. Lo yang menjadi bagian terindah dari mimpi gue. Dan, harusnya gue nggak membawa kisah dari dalam mimpi gue itu ke dalam kenyataan. Karena sejatinya, lo yang ada di mimpi gue akan selamanya menjadi mimpi! Karena kenyataannya sangat berbeda!" Tania menitihkan air mata.
"Gue tahu."
Titan hanya berujar singkat dan seperti senang telah membuat Tania sangat terpuruk seperti ini.
"Salah gue apa?"
"Nggak perlu gue jelasin salah lo apa."
"Arti ciuman tadi itu apa?" Tania benar-benar tidak bisa menyembunyikan tangisannya. Ia benar-benar sangat terlukai saat ini.
"Hm." Titan menghela napas pelan. Kedua tangannya melipat, dan pandangannya tertunduk. Tampaknya Titan memang sedang menyepelekan semua ini.
"Lo nggak bisa jawab, 'kan?" Teluntuk Tania sedikit mendorong bahu Titan. Sontak Titan seperti tidak terima dengan tunjukkan tangan Tania.
"Lo terlalu lebay! Baru gue cium aja udah nangis! Ternyata lo cewek lemah! Di mana lo yang dulu?" Titan tertawa remeh di ujung kalimatnya. "Lo denger, ya. Gue udah tahu semuanya!"
"GUE BENCI SAMA LO!" Tania berujar dengan penuh penekanan.
"TERSERAH! Gue bahkan gak peduli seberapa besar rasa benci lo ke gue. Karena nggak ngefek apa-apa ke gue. Gue cuma mau ngasih tau ke lo. Kalau gue juga benci sama lo. Gue nggak suka sama lo yang tiba-tiba suka sama gue. Karena apa? Lo nggak berhak untuk jatuh cinta sama gue." Tatap mata Titan begitu sangat serius. Tania hanya menunduk menangis.
Tania pun memberanikan diri untuk membalas tatapan mematikan Titan.
"Kalau lo tau, kenapa lo masih biarin hati lo untuk jatuh cinta sama gua?"
Titan sangat serius. Begitupun dengan Tania.
"Karena ... Hati tidak bertulang, dia mudah rapuh dan tersentuh. Itu sebabnya, dia terlalu gampang untuk jatuh. Iya, jatuh cinta. Dan elo, lo nggak bisa salahin hati, lo nggak bisa salahin keadaan. Yang harus lo salahin adalah ... Diri lo sendiri! Yang udah lancang ngambil hati gue!"
"Terus?"
"Lo nggak perlu khawatir. Lo nggak perlu risi. Lo nggak perlu sewot. Perasaan ini, milik gue sendiri. Gue yang tau bagaimana seharusnya gue menjaga perasaan gue sendiri." Tania menghapus air matanya sendiri.
Titan membalikan badannya dan berjalan beberapa langkah, lalu kembali menoleh ke belakang---ke arah Tania yang sedang berdiri terisak.
"Karena sampai kapan pun permasalahan kita nggak akan pernah selesai." Sorot mata Titan begitu dalam dan serius, lalu Titan kembali kepada langkahnya untuk meninggalkan tempat ini.
Setelah Titan pergi, Tania tak kuasa dan langsung menjatuhkan lututnya ke lantai.
"Seharusnya ... Gue nggak jatuh cinta sama lo Titan! Lo nggak pernah ngertiin posisi gue sekarang. Ini semua bukan kemauan gue! Ya Tuhan, kenapa semuanya semakin rumit." Tania terisak miris.
"Karena ... Jika berjodoh, sekuat apa pun kamu menghindar, dia akan semakin mendekat dan enggan lepas dari kisah yang kamu miliki. Jika tidak berjodoh, sekuat apa pun kamu mencintainya, kamu dan dia tidak akan pernah bisa bersatu, tapi Tuhan akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik." Suara itu terdengar lembut dan menyentuh, Tania pun langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Lo siapa?" Tania mengernyit heran.
Orang tersebut hanya tersenyum tipis nan manis. Lalu, bayangannya memudar dan hilang tersempas angin.
Tania terdiam. "Dia siapa?"
"Daviel." Seseorang mengagetkan Tania, secara otomatis pandangan Tania langsung tertoleh kepada sosok yang melontarkan nama Daviel.
"Daviel?"
"Ya. Yang tadi lo lihat, itu bayangannya Daviel."
"Apa itu pertanda, kalau sebentar lagi gue bisa ketemu sama dia?"
"Hm."
"Kok jawabnya hm doang sih, Gael?"
"Terus gue harus jawab apa?"
Tania kembali menunduk, karena memang perasaannya masih terkoyak-koyak karena ulah Titan beberapa menit sebelumnya. Tania berusaha untuk bangkit berdiri, walau memang sebenarnya lututnya gemetar hebat, karena efek perasaannya yang hancur melebur.
__ADS_1
"Lo habis nangis?" Tanya Gael. Pertanyaan bodoh bagi Gael, ia mengetahui jawabannya tapi ia berpura-pura tidak tahu-menau soal keadaan Tania.
"Gue nggak apa-apa."
"Bohong. Lo habis nangis, 'kan?"
"Itu nggak penting."
"Itu penting buat gue," jelas Gael. "Karena sekarang, posisi gue itu ibarat guardian angel buat lo. Gue peduli sama lo," sambung Gael dengan serius.
"Perasaan gue lagi nggak jelas, Gael."
"Kenapa?"
"Yaaa kenapa gue harus jatuh cinta sama Titan? Kalau ternyata dia itu hobbynya cuma bisa nyakitin hati gue doang. Kenapa harus Kak Tristan menunjuk Titan sebagai pengganti Daviel? Kenapa harus ada pilihan itu? Harusnya ada pilihan juga di mana gue harus menyusul Daviel dan ninggalin kisah yang konyol ini! Lo tahu gak, Gael? Gue tersiksa punya perasaan ini! Nggak gampang bagi gue mencintai orang yang dulunya itu gue anggap dia musuh terbesar dalam hidup gue. Ini nggak adil buat gue!" Tania berujar seperti haus akan sebuah penjelasan yang masuk akal.
Gael tersenyum. Berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Lo tau, letak otak orang yang sedang jatuh cinta dan siap atas segala resikonya itu ada di mana?"
"Letak otak? Ya di kepala, lah. Emangnya menurut lo di mana?"
"Letak otak yang sedang jatuh cinta itu ada di lutut. Kenapa gue bilang di lutut? Karena, dia selalu kuat bertahan dalam berjalan, walau sebenarnya dia lelah." Gael berujar dengan senyum tipis.
"Beda tipis sama bodoh, ya?"
"Maksudnya?"
"Orang di luar sana 'kan suka ngatain orang bodoh itu otaknya di dengkul. Dengkul itu lutut, 'kan?"
Gael terkekeh. "Apa mereka punya alasan kenapa orang bodoh otaknya di dengkul? Nggak ada, 'kan? Bahasa lo udah dengkul-dengkulan, jadi kebayang seblak ceker sama seblak dengkul gue tuh."
"Gaeeeel! Serius, kek."
"Hidup ini nggak perlu diseriusin, lo nggak takut pala lo botak? Jangan terlalu serius. Biar profesor aja yang serius di dunia ini."
"Jangan terlalu dibercandain. Hidup itu nggak selalu tentang candaan!"
"Terus?"
"Apanya yang terus?"
"Nggak hanya tentang candaan, terus tentang apa aja?"
"Tentang goreng!" ketus Tania. Gael terkekeh.
"Kentang, woy!"
"Bodo amat!"
"Judes!"
"Bodo amat!"
"Lagi PMS, ya?"
Tania mengernyit heran saat Gael bertanya seperti itu. "Lo emang ngerti apa itu PMS?"
"Tau, kok."
"Coba jelasin."
"PMS. Peringatan Mantan Sedunia." Gael terkekeh. Terlihat wajah Tania yang langsung datar dan kesal.
"Sialan."
"Hehe. Maaf, bikin lo kesel. Gue cuma lagi berusaha ngalihin rasa sakit yang ada di relung hati lo. Gue harap lo jangan nangis lagi, ya." Seketika Gael berubah menjadi manis. Keadaan pun membuat Tania kembali mengingat perasaannya.
"Iya."
"Oh, yaudah. Gue berubah lagi jadi buku, ya. Tapi lo janji, jangan main tinggal-tinggalin gue lagi. Soalnya di dunia ini, buku black-violet itu sangat langka, bisa-bisa diincar oleh banyak orang. Karena cuma ada satu di dunia." Gael langsung merubah wujudnya menjadi buku dan langsung terletak di lantai, Tania pun segera mengambilnya.
"Sok ngartis hidup lo, dasar buku kitab suci sunggokong!" Dumel Tania.
"Gue buku kitab sucinya, lo sunggokongnya." Suara itu samar terdengar dari buku tersebut.
Tania langsung menepuk sampul buku tersebut. "Stop! Jangan ngoceh!"
Tania pun berlalu meninggalkan tempat ini. Setidaknya, meskipun perasaannya terluka sangat parah, Tania masih beruntung memiliki Gael yang paling bisa membuat perasaan Tania teralihkan. Gael belum sempat menjelaskan mengapa bayangan Daviel tiba-tiba menampakkan di hadapan Tania? Atau memang mungkin, ini pertanda bahwa tinggal selangkah lagi Tania akan menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Entahlah.
Kisah ini akan menjadi jauh lebih rumit, ketika Titan berubah sikap menjadi seperti itu terhadap Tania. Apa yang sebenarnya yang terlintas dalam pikian Titan?

To be continued...
Sepertinya akan dua chapter yang di up hari ini. Tapi satu chapter lagi insya Allah malam ini. Maka dari itu, ayo dong komenntarnyaaaa. Vote-nya juga jangan lupaa. Biar aku nggak lupaaa buat up satu chapter lagi nanti malam. Hihi...
See u, ya!
__ADS_1